THE ENGINEER pt. 7
.
.
BarbieLuKai
.
.
A/n : woncoups; jeongcheol; meanie yang ternistakan; dan lain-lain
.
.
~Happy Reading~
.
.
.
Mingyu mengumpulkan lembar jawabannya ke depan. Ujian baru dimulai sekitar 45 menit dan anak jenius itu sudah selesai. Teman sekelasnya menatap kagum tetapi ia tidak mengindahkan, melainkan keluar kelas untuk berjalan-jalan sebentar.
Di kelas sebelah, ada Jungkook yang sedang berusaha menyontek, karena ia berdiri di dekat jendela sebelah namja berambut cepak itu, ia mengetuknya.
Jungkook menoleh dan menatapnya girang. Yap, Kim Mingyu dan otak encernya memang bisa membuat orang iri setengah mati. Apalagi kalau dia baik dan memberimu contekan.
"Apa kau mau jawaban?"
Sudah jenius, baik hati lagi. Jungkook mengangguk cepat lalu melirik pengawas yang tertidur. Kemudian, ia membuka jendela sedikit dan menerima kertas kecil dari Mingyu. Berisi angka-angka yang merupakan jawaban ujian tersebut.
"Pulang sekolah kau akan kutraktir!"
Mingyu mengangguk seraya menyengir. Dia menjauhi kelas Jungkook dan kembali berdiri di depan kelasnya. Terlihat Seokmin dan Soonyoung sedang berbincang.
"Kau darimana, Ming?" tanya Soonyoung melihat namja tampan itu mendekat.
"Kelas Jungkook, memberinya contekan,"
Seokmin berdecak, "Aku ingin mengatakan tidak adil, tapi kau juga memberiku contekan jadi ya begitu,"
Mingyu tertawa seraya menepuk bahu namja bermarga Lee itu pelan. Dia memandang ke sosok namja pendek berambut merah muda yang terlihat ragu-ragu menghampiri mereka.
"Young.." ia mengisyaratkan namja berambut biru untuk menoleh. Soonyoung menoleh dan melihat Jihoon berdiri tak jauh dari mereka sambil mengigit bibir.
"Aku ke sana!"
"Ne.." sahut mereka memandang namja berambut biru tersebut yang berlari menghampiri, kekasihnya? Entahlah, Mingyu tidak tahu.
"Besok sudah terakhir saja, Gyu.." gumam Seokmin diikuti anggukan temannya. Selama ujian berlangsung, Mingyu memfokuskan untuk belajar dan melajari dua temannya. Dia tidak bertemu Wonwoo ataupun memandang ke arah bangunan yang sedikit mau jadi tersebut.
"Katanya sehabis kita lulus, adik-adiknya akan dipindahkan ke sekolah SMA Hanlim 2 daerah Hongdae," cerita Mingyu teringat desas-desus yang beredar sebelum bell ujian berdering tadi pagi.
Seokmin mengangguk, "Kau tahu SMA Donggan kan? Pemerintah Korea menggantinya menjadi SMA Hanlim karena angkatan terakhir mereka sudah lulus tiga tahun yang lalu jadi sekolah itu terabaikan,"
SMA Donggan? Seperti pernah dengar? Mingyu tampak mengingat-ngingat.
Ah iya. Sekolahnya Wonwoo!
"Jadi, sekolah kita pindah ke sana?"
"Rencana sih sehabis kita benar-benar lulus. Jadi, maret ini adik-adik kita yang naik kelas langsung ke sana untuk melanjutkan," Seokmin melongo ke kelas sebelah, pasti ingin mencari Seungkwan.
Namja berambut abu-abu tersebut menghela napas, kenapa disaat seperti ini dia merindukan Wonwoo ya? Baru beberapa hari tidak bertemu.
"Merindukan Wonwoo hyung ya?" tebak Seokmin membuyarkan lamunan Mingyu, namja itu memandangnya saja. "kenapa kau tidak ajak dia makan siang saja?"
Mingyu mengangkat bahu, "Entahlah, dia sedang sibuk, apalagi proyeknya sebentar lagi memasuki tahap akhir,"
Namja bermarga Lee tersebut menghembuskan napas panjang. Dia sangat mengerti keadaan sahabatnya sekarang. Memiliki kekasih yang super sibuk membuat dia kesepian.
"Ayo temui Soonyoung! Habis ini kita ke restoran ayam,"
Namja berambut abu-abu itu tersenyum kecil dan mengikuti langkah Seokmin.
.
.
.
.
Ketiga sekawan, sebenarnya sih masih ada dua, karena dua dari mereka sudah pada menikah dan tidak tinggal di Seoul lagi. Jadinya, reunian kelima sekawan itu hanya ada Wonwoo, Jun, dan Jeonghan.
"Tsk, sudah kupastikan Seungcheol merusak semuanya," ujar Jun sambil menyesap soda yang ia pesan. Jeonghan dan Wonwoo saling tertawa kecil. "bagaimana kau bisa bertemu Jeonghan, Won?"
"Yah, di saat aku sedang perang mulut dengan namja bodoh tadi, tiba-tiba saja Jeonghan muncul dari pintu, kupanggil saja dia. Awalnya aku tidak mengenalnya, habisnya kau potong rambut sih!" cerita namja bermarga Jeon itu mengerucutkan bibir.
Jeonghan merapikan sedikit rambut yang menutupi pandangannya, "Otte? Bagus tidak?"
Jun menatapnya sebentar, menimang-nimang apakah style temannya yang tinggal di LA itu bagus atau tidak. Kemudian, ia berdecak, "Kau mau pakai rambut apapun tetap cantik tahu!"
Wonwoo terkekeh, "Walaupun aku lebih suka rambut panjangmu waktu SMA, tapi yang ini juga bagus kok, lebih kelihatan anggun,"
"Tumben rambutmu tidak emo, Won, hahaha.." balas Jeonghan bercanda. Wonwoo yang mendengar itu ingin mencekik Jeonghan rasanya.
"Iya kali aku harus emo terus-terusan, umurku sudah hampir 30, tahu!"
Jun ikut tertawa kecil, "Jadi kalau umurmu belum hampir 30, kau masih ingin berpenampilan emo? Dasar Wonmo!"
"YAK!" Namja cantik tersebut mengutuki sahabatnya yang asyik menertawakan dirinya. Lagipula, apa salahnya dengan style emo? Bukankah itu bagus ya?
Di saat mereka sedang bercanda lagi, Jun tak sadar melihat ke sebuah meja yang tak jauh dari mereka. Segerombolan anak SMA baru saja masuk berdesakan sambil tertawa keras. Salah satu dari mereka, ia merasa familiar.
"Yah." namja tampan itu terkejut, kedua temannya menghentikan obrolan, "itu Mingyu!"
Wonwoo yang mendengar nama kekasihnya disebut menoleh seketika dan benar saja, namja berambut abu-abu yang sedang diam menatapi kegilaan teman-temannya tampak di situ.
"Mingyu? Mingyu siapa?" tanya Jeonghan tidak mengerti. Jun berbisik padanya.
"Kau lihat namja berambut abu-abu itu? Dia kekasihnya Wonwoo,"
Namja cantik itu membelalakkan mata, "JINJJARO? YAK! JEON WONWOO, APA KAU SUDAH GILA?!"
.
.
.
.
Mingyu tersadar mendengar teriakan namja dengan nama kekasihnya. Dia mengalihkan pandang pada tiga sosok orang dewasa yang duduk tak jauh dari mereka, salah satunya berambut bob menghadap ke arahnya, dan berambut hitam membelakanginya. Seokmin ikut mengedarkan pandang.
"Aku mendengar nama Wonwoo hyung disebut,"
Soonyoung mengangguk, "Apa kau tidak mau menemuinya, Gyu?"
.
.
.
.
"Neo pabboya! Bisa-bisanya kau mengencani anak SMA, kau tahu resikonya nanti Jeon Wonwoo. Pantas saja kau bertuna-"
Belum Jeonghan mengucapkan kata laknat tersebut, Wonwoo sudah membekapnya.
"SSSTTTT! Kalau sampai Mingyu dengar, bagaimana? Dia tidak tahu aku bertunangan, sialan!" balas Wonwoo mengancam Jeonghan. Namja cantik itu mengatupkan mulutnya.
Wonwoo tidak berani menolehkan kepala, meskipun ia tahu Mingyu sedang menatapnya. Dia juga bisa melihat wajah Jun yang melunak dan hawa-hawa hangat menghampirinya.
"Hyung?"
Aduh, suara berat yang ia rindukan itu terasa sangat tentram di telinganya, ia akhirnya menoleh dan tersenyum senang melihat namja jangkung yang menatapnya.
"Hai, Gyu. Mau kencan?"
Jun tak sengaja membenturkan kepala di atas meja, benar-benar pertanyaan bodoh yang diutarakan Wonwoo. Sedangkan Jeonghan berusaha untuk tidak tertawa.
Mingyu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ia mengangguk pelan, "Kajja!"
"Araseo, semuanya!" Wonwoo mengerlingkan mata menggoda mereka, "terima kasih sudah mengajakku makan siang!"
"Kembalilah sebelum sesuatu terjadi padamu, bodoh!" balas Jun mencibir, Jeonghan sudah tertawa keras. Wonwoo hanya menjulurkan lidah lalu berjalan bersama Mingyu.
Keluar dari restoran ayam, namja cantik itu tersadar akan sesuatu.
"Jeon Wonwoo dan otakmu yang dangkal. Bukankah sudah kubilang banyak mata-mata di sini?"
Mingyu menyadari kejanggalan dari Wonwoo, karena genggaman mereka terlepas begitu saja. "Kenapa, Hyung?"
Wonwoo menggeleng pelan, ia tersenyum lembut, "Bagaimana kalau kita kencan di mobil saja?"
Namja tampan itu hanya menaikkan alis. Apa lagi rencana kekasihnya sekarang?
.
.
.
.
Selama perjalanan menemukan mobil Wonwoo, namja cantik itu terus memandang ke sana kemari untuk memastikan mereka masih aman. Mingyu menatapnya bingung tetapi tidak begitu peduli.
Wonwoo menjerit tertahan saat melihat mobilnya, ia menarik Mingyu cepat-cepat dan masuk ke dalam.
"Ada apa, Hyung?"
Namja bermarga Jeon itu menghembuskan napas panjang, "Aku dikejar orang,"
Alis Mingyu tertaut, "Dikejar orang?"
"Ne, mereka selalu membuntutiku kemanapun aku pergi, jadi biasanya aku bersembunyi di mobil," bohongnya tanpa menatap ke Mingyu karena masih sibuk memandang ke luar mobil. Siswa tampan itu mengangguk paham.
"Araseo, bogoshippo.." balasnya seketika. Wonwoo yang mendengar itu langsung tersenyum senang. Dia mengecup pipi Mingyu tiba-tiba membuatnya mematung.
"Nado, Mingyu-ya.."
Mingyu tersadar, lalu membawa wajah Wonwoo mendekat, ia begitu merindukan kekasihnya. Mereka saling menatap bibir masing-masing sampai akhirnya Mingyu menempelkannya duluan.
Berjuta kupu-kupu terasa melesak di dada Wonwoo. Begitu pula Mingyu, ia terus menyalurkan rasa rindunya lewat ciuman mereka.
Namja berambut hitam itu memutuskan tautan mereka karena merasa pasokan udara mulai menipis. Keduanya saling tertawa kecil tanpa ingin memisahkan jarak. Ah, Wonwoo sangat mencintai Mingyu sampai-sampai tidak rela menyakitinya.
Mingyu tersenyum lembut, menatap namja yang lebih tua darinya itu sayang.
"Saranghae, Gyu.." ucap Wonwoo pelan dan miris. 'Mianhae, Mingyu-ya..' Kenapa rasanya pahit gini ya?
Namja berambut abu-abu itu malah menciumnya lagi.
.
.
.
.
"Aku ingin ke SMA Hanlim!" ujar Wonwoo menompakkan kaki. Tn. Jeon menatap putranya bingung.
"Kenapa kau mau ke sana? Kau ada kencan dengan Seungcheol, Sayang.." balas sang ayah. Wonwoo tetap kekeuh.
"Bukannya SMA Hanlim sedang merayakan kelulusan? Jungkook membutuhkanku, Appa!"
"Tsk, Jungkook punya keluarga sendiri, Wonwoo-ya, untuk apa dia membutuhkanmu,"
"Sudahlah.." Ny. Jeon berucap, menengahi pertengkaran mereka, beliau tersenyum lembut, "kau bisa saja ke sana sekarang, Won.."
Wonwoo tampak berbinar-binar, "Jinjjayo, Eomma?"
Ny. Jeon mengangguk, ia mengusap surai hitam Wonwoo sayang, "Adiknya Seungcheol lulus juga kan hari ini di sana. Kalian bisa kencan sehabis itu,"
'Aku ke sana ingin mengucapkan selamat pada Mingyu, bukan untuk menemui Seungcheol, huh!' batin namja bermarga Jeon tersebut memutar mata. Tetapi ia tidak membantah perkataan sang Ibu, dengan langkah cepat ia kabur sebelum Tn. Jeon mencegatnya lagi.
.
.
.
.
"Apa dia akan datang?" tanya Soonyoung pada Mingyu yang diam menatap kepala sekolah mereka memberi sambutan. Dia juga bisa melihat keluarga Jungkook yang begitu banyak duduk di tempat donatur.
"Itu yang kumaksud keluarga Jungkook!" tunjuk sahabatnya. Mingyu mengangguk paham. Seorang pria Korea dengan wanita yang mungkin Ibunya Jungkook berwajah barat duduk penuh kharisma.
"Keluarganya Jungkook, kan?" tanya Seokmin. Soonyoung mengangguk.
"Dia memang terkenal dengan saudaranya yang banyak, bahkan adiknya saja sampai 4," cetusnya kagum.
Kepala sekolah menyelesaikan pidatonya, kali ini giliran Tn. Jeon (orangtuanya Jungkook) yang berbicara. Gayanya begitu santai tapi tetap berwibawa sehingga para hadirin tampak kagum padanya.
Mingyu melirik Jungkook yang menghembuskan napas lelah, kemudian menatap sekeliling tanpa minat. Sejak kapan anak itu jadi tak bersemangat gini?
"Baiklah, saya akan membacakan murid terbaik dari peringkat 5 sampai peringkat 1," kemudian, sebuah surat diberikan pada pria itu dan ia mulai membacakan.
"Hong Jisoo, peringkat 5"
Para hadirin bertepuk tangan saat namja manis yang berambut oranye itu berdiri untuk berada di atas panggung. Beberapa temannya tampak menepuk-nepuk pundaknya.
"Choi Seunghee, peringkat 4,"
Mingyu, mendengar nama mantan kekasihnya dipanggil langsung celingak-celinguk untuk melihat sosok yeoja itu. Yap, tetap cantik seperti biasa, bahkan di hari kelulusan seperti ini ia tampak menawan.
Tolong tampar Mingyu karena sudah mengkhianati Wonwoo.
"Kupikir Seunghee hanya bermodal menyontek," bisik Seokmin di sebelah Mingyu. Siswa jenius itu mengangkat bahu, "kudengar, kakaknya yang melarang kalian balikan itu sudah kembali ke Korea,"
"Aku sudah punya Wonwoo."
Seokmin mengangguk-ngangguk, "Mian, Gyu. Aku pikir Wonwoo hyung hanya pelampiasanmu,"
Mingyu tidak menjawab. Dia menyukai-ani, lebih tepatnya mencintai insinyur manis itu karena sifatnya yang garang dan menggemaskan setengah mati. Apalagi gengsinya setinggi langit. Mengingat kekasihnya yang tak nampak itu, Mingyu tersenyum kecut.
"Kalian pasti sudah bisa menebak kan siapa peringkat pertama," Jeon Junghoon tersenyum. Sorai-sorai nama 'Kim Mingyu' terdengar. "Araseo, mari kita panggil sang juara kita, Kim Mingyu!"
Mingyu mendapat tepuk tangan yang paling keras dari kedua temannya, ia melangkah maju dengan mantap menuju panggung dan berdiri di samping peringkat kedua. Setelah menerima penghargaan dan medali, ia turun dari panggung dan memeluk kedua temannya.
"Sampai jumpa di Kyunghee, chingudeul!"
"Yah, meskipun aku peringkat 7, tak apalah," ucap Soonyoung melihat penghargaannya. Dia melirik Jihoon yang asyik mengobrol tak jauh darinya. "dan dia mendapat peringkat 6, bayangkan!"
Seokmin tertawa lebar, "Dia kan lebih pintar darimu!"
"Setidaknya peringkatku lebih tinggi darimu," cibir Soonyoung mengejek sehingga namja tinggi bermarga Lee tersebut langsung memitingnya pelan. Mingyu terkekeh kecil, ia mengedarkan pandang dan melihat Taeyong sedang mengarah padanya, tersenyum penuh bangga.
Baru kali ini ia melihat kakaknya tersenyum, buru-buru ia menghampiri sang kakak.
"Hyung!" panggilnya, Taeyong memeluk adik bungsunya tersebut lalu mengacak surai abu-abunya. "Kukira kau tidak akan datang,"
"Yak!" omel namja berambut putih itu kesal, "kau tidak suka melihatku, hah?"
Mingyu menyengir, "Aniya, Hyung. Gomawo sudah datang," mereka berpelukan lagi setelah sekian lama tidak begini.
"Eomma dan Appa pasti bangga padamu, Gyu.." gumam sang Kakak di telinganya. Siswa jangkung tersebut diam sejenak. Ah, meskipun orangtuanya tidak melihat kelulusannya lantaran sudah tiada, ia yakin mereka pasti bangga. "tenang, kau masih punya aku,"
Mingyu mengangguk seraya mengeratkan pelukan mereka. Taeyong mengusap surai adiknya sayang. Kemudian, ia menatap namja berambut hitam yang berdiri di belakang Mingyu.
"Aku harus pergi."
"Mau ke mana, Hyung?" tanya Mingyu menyeringitkan dahi. Taeyong tersenyum kecil lalu mengacak surai adiknya kembali.
"Ada seseorang yang ingin menemuimu. Tengoklah ke belakang,"
Si bungsu menoleh ke arah yang dimaksud kakaknya, matanya terbelalak melihat sosok yang ia kira takkan datang tengah tersenyum padanya dengan sebuket bunga di tangan.
"Wonwoo hyung?"
Taeyong terkekeh melihat tingkah Mingyu yang masih melongo, ia menepuk-nepuk bahu adiknya lalu pergi begitu saja. Wonwoo menyodorkan sebuket bunga itu pada Mingyu.
"Kukira kau tidak datang," gumamnya tidak percaya, sedangkan Wonwoo menyengir memperlihatkan kilat-kilat jenaka. "gomawo.."
"Sekarang kau sudah lulus! Aku tidak akan malu untuk berkencan denganmu lagi," ujarnya sambil mencubit kedua pipi Mingyu yang protes.
"Sudah kubilang jangan cubit!"
"Habisnya kau imut, sih!"
Keduanya asyik bercengkrama tanpa sadar seseorang melihat mereka. Jungkook membelalakkan mata dan melirik sang ayah yang sibuk mengobrol dengan orang dewasa yang lain. Cepat-cepat ia mengambil ponsel dan menelepon Wonwoo.
"Kenapa kau meneleponku, Bodoh?" tiba-tiba Wonwoo menatapnya dari jauh.
"Hyung, ada paman di sini! Kau tidak mau tertangkap sedang bermesraan dengan anak SMA kan?" desis siswa yang baru lulus tersebut mengisyaratkan lewat matanya.
Di sisi lain yang tak jauh dari Jungkook, Wonwoo mengeratkan pegangannya pada ponsel, benar juga anak ini. "Araseo,"
Sambungan terputus, namja yang lebih tua tersebut menghembuskan napas panjang. Sementara kekasihnya menatap bingung, "Jun hyung ya?"
Mau tak mau, ia harus berbohong dan mengangguk. "Aku harus mengurus proyek yang lain, mian Gyu-ah.."
Sangat nampak jelas kalau Mingyu harus menelan kekecewaannya bulat-bulat. Ia mengangguk paham. "Yang penting kau sudah datang, Hyung.."
Wonwoo menatap sekeliling yang tidak peduli dengan mereka, cepat-cepat ia berjinjit dan mengecup pipi Mingyu. "Annyeong, aku akan mengabarimu kalau tidak sibuk,"
Siswa berambut abu-abu itu hanya mengangguk tanpa berkata apa-apa, ia menatap figur Wonwoo yang mulai menghilang di antara orang-orang di auditorium tersebut. Hembusan napas panjang bahkan terdengar sangat nyaring.
.
.
.
.
Kali ini Wonwoo melangkahkan kakinya berat. Setelah berpisah dengan kekasihnya, ia malah bertemu tunangannya yang sedang bersama adik yang sama-sama menyebalkan juga.
"Oh, kau."
Wonwoo mengepalkan tangan. Dia ingin pergi tetapi Seungcheol mencegatnya duluan.
"Aku harus membawamu kencan,"
Entah kekuatan apa yang merasukinya, ia melepas lengan Seungcheol di bahunya, "Kencan saja sendiri!" ia beringsut menjauh karena pikirannya penuh. Tak peduli dengan ancaman namja bodoh tersebut, kakinya berjalan cepat ke mobil yang sudah terparkir.
Sialan! Sialan!
Wonwoo berteriak senyaring-nyaringnya di dalam mobil sambil memukul stir kemudi. Dia terisak keras, perasaan marah, kesal, jengkel dan bersalah terus menghantui setiap detiknya.
Aduh, kalau Mingyu sampai tahu, Wonwoo tidak tahu harus melakukan apa.
.
.
.
.
tobecontinued
Terima kasih sudah membaca, ditunggu reviewnya :* Maaf kalau lama baru apdet :)
THANKSEU~~ ^^
