EXO SHS akan mengadakan kemah di bumi perkemahan yang ada di Busan.
Sehun benci berkemah, dia tidak suka dengan hal-hal yang merepotkan. Membawa perlengkapan yang banyak memasang tenda, bahkan memasak.
Oh Tidak, mimpi buruk.
Sebenarnya ia tidak ingin ikut kemah yang menurutnya sangat menyebalkan, bahkan membahayakan bagi identitasnya.
Salahkan pamannya Lee Sooman yang menyebalkan itu. Sang paman tidak memberikan toleransi, Sehun harus ikut dikarenakan sang paman tidak ingin membuat yang lainnya merasa iri, karena program ini wajib bagi semua murid termasuk guru.
Dan disinilah Sehun versi wanita, yakni Sehan. Ia sedang duduk di bis bersama dengan guru tampan yang kelewat cantik bernama Luhan.
Salahkan teman-temannya yang tak ingin duduk dengannya karena ingin berdekatan dengan kekasih mereka.
"Sialan kalian semua." Batin Sehan.
.
.
Tak ada yang memulai pembicaraan diantara keduanya, baik Sehan dan Luhan diam, mereka sama-sama bingung ingin bicara apa.
Sampai sesuatu yang Sehan kenal, terlihat dimatanya.
"Saem." Panggil Sehan.
"Ne.." Balas Luhan.
"Darimana Saem dapatkan saputangan itu?" Tanya Sehan yang tak sengaja melihatnya. Sehan tahu jika itu adalah saputangan miliknya.
"Oh ini, saputangan ini? Saem menemukan ini ditempat kos Saem. Mungkin teman Saem tak sengaja menjatuhkannya." Ucap Luhan.
'Oh." Hanya balasan gumaman dari Sehan. Dan sekali lagi tak kata yang keluar dari mulut mereka.
Perjalanan masih jauh. Luhan yang sejak dari semalam begadang gara-gara shif malam ditambah ia harus mulai menyicil membuat laporan magang, karena itulah ia harus begadang.
Luhan menguap, ia mulai mengantuk dan kepalanya sudah terantuk-antuk.
Sehan yang melihat Luhan terantuk-antuk disebabkan oleh kantuk merasa tak tega. Ia lalu menyandarkan kepala Luhan dibahunya. Ia membiarkan Luhan Saem tidur dipundaknya dan Sehan menyandarkan kepalanya di kursi.
OIOIOIOIOIOIOIO
Bis yang mereka naiki sudah sampai di Busan. Chanyeol, Baekyun menghampiri bangku HunHan. ChanBaek cengo, mereka merasa jika Sehan dan Luhan sangat cocok.
Sehan dan Luhan tertidur dengan kepala mereka saling bersentuhan.
Tanpa mereka sadari Baekhyun diam-diam memfoto mereka.
"Aigoo... lihat ini Yeolie, mereka manis kan... aku suka couple ini. Hehehe..." Kata Baekhyun riang dan disetujui oleh Chanyeol.
Sehan merasa terganggu, ia pun mengerjap-ngerjap matanya. Setelah kesadarannya benar-benar terkumpul Sehan melihat pasangan ChanBaek tersenyum idiot -menurut Sehan.
Pandangan Sehan tertuju pada Luhan. Luhan masih tertidur dibahunya, tampaknya Luhan adalah pria yang cepat sekali tertidur dan mudah tidur dimana saja.
"Saem, Lu saem." Panggil Sehan membangunkan Luhan.
Merasa ada yang mengganggu tidurnya, Luhan mengerjap-ngerjap matanya imut.
Ehhhh...
"Apa kita sudah sampai Hun." Igau Luhan.
Deg.
Sehan tersentak kala Luhan memanggil namanya dengan panggilan "HUN"
"Mian Saem, aku bukan Hun, aku Sehan." Balas Sehan datar.
"Ah mianhae." Sesal Luhan.
Bodohnya Luhan, ia tidak mengenali muridnya sendiri. Ia merasa malu, dan hatinya tiba-tiba saja berdebar-debar kala bayangan Sehun muncul didalam tidurnya. Ia seakan-akan duduk dengan Sehun, merasakan tangan pria itu mengusap pipinya yang gembil, dengan tangan hangat yang ia rindukan. Bahkan ia merasa jika ia sedang bersandar di bahu bidak pria itu.
Tapi semua hanya mimpi kala yang dia lihat sosok wanita yang sangat dingin.
Catat wanita. Hahahaha...
Luhan tertawa dalam hati. Tawa masam nan aneh yang iner-nya lakukan.
"Sudalah, ayo kita turun." Ajak Sehan dengan nada seperti biasa —Dingin.
"Plak!" Satu jitakan sayang Baekhyun berikan pada Sehan.
Sehan berbalik menatap Baekhyun -melotot. Ia protes, menyapa pria pencinta eyeliner ini memukulnya?
"APA! KAU INGIN PROTES!" Hardik Baekhyun.
Sehan mendengus, ia tak bisa membalas ataupun protes kepada pria mungil itu.
.
.
.
Inilah yang Sehan benci. Ia harus tidur di tenda wanita. Sehan intrupsi, ia ingin dispensasi. Ia ingin tidur sendiri, ditenda pribadi.
Awalnya sang guru pembimbing merasa keberatan dengan perkataan Sehan yang baginya sangat tidak adil.
Mentang-mentang Sehan adalah kerabat dari pemilik sekolah, Sehan bisa se-enaknya sendiri.
"Tidak Sehan, Saem sudah putuskan kau tidur dengan kelompokmu!" Tegas Song Saem.
"Tapi Saem!" Protes Sehun tak terima.
Sehun/Sehan tidak suka. Bisa gawat ia satu tenda dengan wanita, bisa-bisa malam harinya ia bisa digebuki oleh para wanita yang ada ditenda. Itu pikiran pertama Sehun. Pikiran keduanya, bisa-bisa ia diperkaos berjamaah oleh para wanita yang ada ditenda karena melihat tubuh serta paras tampan miliknya.
Gleg!
Membayangkan pikiran keduanya. Sehun merinding, ia tak ingin jika pikiran baik pertama ataupun kedua terwujud.
"ANDWE! AKU TIDAK INGIN TIDUR DENGAN ORANG-ORANG! BIARKAN AKU TIDUR DI TENDA SENDIRI!" Bentak Sehan pada sang guru.
"OH SEHAN...!" Teriak sang guru marah.
"CUKUP!"
Kali ini Lee Sooman selaku kepala Sekolah angkat bicara. Semua diam, kala kepala sekolah EXO SHS ini angkat bicara.
Sooman tahu apa permasalahan keponakannya ini. Sehun tidak ingin jatidirinya terbongkar.
"Khusus Sehan aku berikan dispensasi, biarkan dia mendapat tenda pribadi, dan perkataanku ini adalah final." Tegas Lee Sooman memberitahukan keputusannya.
Sehan tersenyum mengejek ke arah saem-nya yang bernama Song Joong ki. Salah satu guru dengan wajah tampan.
OIOIOIO
Semua bubar dan para murid, guru membuat tenda masing-masing. Kelompok sahabatnya juga sibuk membuat tenda begitu pula dengan yang lainnya kecuali Sehan.
Sehan bak ratu yang menunggu para dayang-dayang atau pembantu membuatkannya tenda.
Selagi menunggu teman-temannya membuat tenda, mata Sehan tak lepas dari guru cantiknya bernama Luhan.
Pria mungil kelewat cantik itu sedang memasang tenda dibantu oleh beberapa guru disana. Tapi Sehan tidak suka melihat Luhan dekat dengan guru olahraga bernama Song Joong ki, guru yang bertugas membagi para siswa menjadi beberapa kelompok tadi.
Melihat senyum dan tawa Luhan yang malu-malu kala guru bernama Song Joong ki membantunya membuat tenda, sesekali keduanya saling berbicara, mengobrol. Entah membahas apa, yang jelas mereka tampak akrab.
Sehan tidak suka! Ia ingin berjalan kesana sambil melayangkan protes. Tapi itu tidak mungkin. Ia tidak mau dicap gila.
"Hai Hun, kau tidak membuat tendamu?" Tanya Jongin yang dari tadi melihat Sehan diam saja.
"Sebentar lagi." Jawab Sehan dingin.
"Terserah kau, tapi nanti jangan menyuruh kami ya." Balas Kai dan Sehan tak membalas ucapan Kai.
Seperginya Kai, Sehan terpaksa membuat tenda. Demi Tuhan! Sehan tidak tahu cara memasang tenda dan itu menyebalkan bahkan merepotkan.
"Ada yang bisa saem bantu, Sehannie?" Tanya Luhan yang kala itu merasa kasihan melihat wanita dingin ini kesusahan memasang tenda.
Sehan mendongak menatap wajah Luhan. Sehan tidak membalas melainkan mengangguk setuju.
Luhan tahu kode gerakan itu. Sehan mengangguk tanda ia mau dibantu. Tanpa banyak bicara Luhan membantu Sehan.
Sehan termangu kala Luhan membantunya memasang tenda, jika ini malam hari pastilah ia akan menyerang Luhan. Luhan dihadapannya sungguh cantik. Bagai bidadari yang turun lagi langit.
"Nah, tendamu sudah jadi." Ucap Luhan senang.
"Hn, gomawo." Balas Sehan.
"Hms, tak masalah. Ah, tunggu sebentar." Luhan mengambil saputangan biru laut itu dari kantung celananya. Ia lalu menyeka keringat yang menetes di kening Sehan.
"Kau berkeringat. Cuaca disini cukup panas."
"Hn..." Balas Sehan singkat.
.
.
.
.
TBC.
Maaf semuanya. Jika chap ini pendek sekali. Memang di akun sebelah begini. Maaf jika banyak sekali typo bahasa yang gak jelas sekali lagi maaf.
Oke sampai berjumpa di next chap. Oke bye, Pyong! ^^
