LeChi's project proudly presents

.

.

.

CAFEIN for CAFEE: Everyday

.

.

.


Kuroko no Basuke (c) Fujimaki Tadatoshi

Kuroko no Basket milik Fujimaki Tadatoshi. Kami tidak mengeruk keuntungan materil atau komersil sama sekali dalam membuat fanfiksi bersama ini.


Seventh Ever Drabble:

.

.

Paper and Litle Kouki (c) Giri-giri(Kageyama Akira Tobio-Facebook)

.

.

.

genre: Family/Friendship

warning: OOC, Shota!Kouki.

.

.

Akashi Seijuuro tidak pernah bisa dekat dengan anak kecil. Lebih tepatnya, anak kecil lah yang tak bisa dekat dengan Akashi. Selalu saja anak kecil yang dihadapankan dengannya menangis dan berlari ke arah orang tua mereka—padahal Akashi yakin, ia tak melakukan hal buruk. Hal ini sontak membuat pewaris tunggal Akashi itu kesal dan memilih untuk tidak berurusan lagi dengan anak kecil—yang menurutnya, selalu membuatnya kesal.

Tapi entah kenapa, di hari libur yang biasanya dipakai Akashi untuk duduk di ruang baca sambil menyelesaikan tugas sekolah atau menyusun menu latihan bagi tim basketnya. Dia harus dihadapkan dengan sesosok manusia pendek berusia tiga tahun yang mengekor di belakang ibunya.


"Sei, kenalkan. Ini Furihata Kouki, anak dari paman Furihata. Dan Kouki, ini Seijuurou-nii, ayo beri salam." Ibunya berkata lembut sambil memapah anak kecil yang dipanggilnya Kouki. Terlihat tubuh anak itu langsung gemetar begitu bersitatap dengan manik heterokrom Akashi.

Akashi bersiap menutup telinganya.

"Fu-furihata Kouki de-desu. Yo-yoroshiku ,Se-sei-nii."

Akashi berkedip sekilas mendengar salam perkenalan dari si kecil Kouki. Sedikit kaget karena anak bersurai coklat kayu itu sama sekali tidak mengeluarkan tangisan –seperti anak kecil lainnya-, dia hanya menundukkan kepala dalam dengan tangan yang meremat erat rok panjang ibunya.

"Sei, ibu titip Kouki sebentar, ya? Ibu dan ayah ada pembicaraan penting dengan paman dan bibi Furihata."

Akashi menatap ke arah Kouki dan mengangguk—mengiyakan permintaan ibunya.

Wanita itu tersenyum lembut, mengusap pelan surai merah anaknya, "Baik-baik dengan Kouki ya, Sei." Sang ibu mengecup singkat dahi Akashi sebelum keluar dari ruang baca.


Sepeninggal sang ibu, Akashi memilih kembali duduk di kursinya dan melanjutkan kegiatannya—mengerjakan tugas. Ia membiarkan Kouki melakukan apa yang ia mau disana –selama tidak berisik. Karena jujur, Akashi tidak tahu harus bersikap bagaimana menghadapi sosok kecil bermata coklat yang terus-terusan mencuri pandang dari balik kursi seberang meja.

Beberapa menit berlalu dalam keheningan, Akashi mendongak untuk mengecek keadaan Kouki , memastikan anak bersurai coklat kayu itu masih di tempatnya. Tapi yang ia lihat membuatnya mengangkat sebelah alis, bingung.

"Kau sedang apa?" Pertanyaan dari Akashi membuat Kouki ,yang tengah menungging dengan setengah badan masuk ke bawah meja berjengit. Kouki cepat-cepat keluar dari bawah meja dan menatap Akashi takut. "Go-gomen, Se-sei-nii," lirih Kouki, tangannya terjulur meletakkan gumpalan kertas didekat kaki Akashi kemudian kembali bersembunyi.

Melihat tingkah Kouki, Akashi menarik kesimpulan kalau anak kecil itu sepertinya tertarik dengan gumpalan kertas tadi dan berniat mengambilnya.

"Untukmu saja. Aku sudah tidak ingin gumpalan itu." Akashi meraih gumpalan kertas itu dan melemparnya pelan ke arah bocah kecil itu.

Akashi dapat melihat binar senang di mata Kouki saat menangkap gumpalan kertas yang dilemparnya ,menggelindingkan ke lantai atau melempar-lempar gumpalan kertas itu ke udara. Untuk saat ini, Akashi bisa tenang, sepertinya Kouki kecil bukan tipe yang rewel dan membuatnya repot.


.

.

.


PYUK

Suara benda jatuh ke air membuat Akashi yang masih berkutat dengan buku tugasnya menoleh. Menemukan Kouki kecil, menatap nanar ke arah akuarium yang menjadi sarang dari gumpalan kertas yang tadi sempat dimainkannya.

Pemilik surai merah itu menghela napas, melihat gumpalan ke tiga yang mengapung. Membalik bukunya, ia merobek kertas paling akhir dari buku tugasnya. Kouki yang mendengar suara robekan familiar itu langsung mengalihkan pandangan. Sedetik kemudian, mata coklat Kouki berbinar takjub melihat bentuk pesawat yang dibuat oleh kakak bersurai merah.

Akashi menerbangkan pesawat di tangannya tinggi melewati kepala penuh surai coklat Kouki, sedikit berputar-putar di udara dan berhenti depan kaki kecil. Serentak tangan Kouki mengambil pesawat kertas itu dan mencoba menerbangkannya—seperti yang dilakukan si kakak.

PYUK

Akashi sweatdrop melihat pesawat yang baru dibuatnya mendarat di dalam Akuarium. Entah kenapa, Akashi yakin kalau Kouki memiliki bibit bakat penembak jitu seperti temannya—Midorima.

"Go-gomen, Sei-nii." Kouki menggigit bibir bawahnya, kepalanya tertunduk dengan kedua tangan meremas kuat ujung bajunya—merasa bersalah.

Melihat gelagat Kouki yang hampir terisak, otak Akashi langsung bekerja mencari cara untuk menenangkan anak tersebut. Matanya menjelajahi seisi ruangan, mencari benda apapun yang bisa mencegah isakan Kouki.

Manik matanya terhenti ke arah kertas coretan di mejanya, ia menyunggingkan senyum tatkala mendapatkan sebuah ide.

"Kouki," panggil Akashi.

Akashi beranjak dari kursinya dan mendudukkan diri di lantai sembari menaruh lembaran kertas di sampingnya. Ia mengambil selembar kertas dan mulai melipatnya. Dari sudut mata, Akashi dapat melihat Kouki menatap penasaran ke arah kertas di tangannya.

Sebuah origami berbentuk kodok terbentuk dalam waktu tidak sampai tiga menit, Akashi menunggu reaksi Kouki. Dan kembali, mata Kouki berbinar takjub melihat bentuk kodok yang dibuat Akashi.

Akashi menyodorkan kodok itu pada Kouki. Manik coklat Kouki berkedip kaget, ia menatap Akashi dan kodok kertas itu bergantian—ragu.

Akashi masih menyodorkan kodok kertas itu.

Merasa kalau kertas itu untuknya, Kouki melangkah mendekat dan mengambilnya dari tangan Akashi.

Akashi tersenyum tipis, melirik pada Kouki yang tersenyum senang.

Ia melipat kertas, Kouki kecil melongokkan kepala.

Sebuah burung bangau berdiri manis di lantai, membuat Kouki kembali takjub.

"Mau Sei-nii ajari cara membuatnya?"

Kouki menatap Akashi dan bangau kertas bergantian, "Ma-mau," sahut Kouki kecil gugup.

Akashi tersenyum tipis, menepuk karpet di sampingnya. Ia meletakkan selembar kertas di hadapannya dan si kecil Kouki. Melakukan lipatan pertama dan berhenti untuk menunggu Kouki melakukan hal yang sama. Cukup puas melihat Kouki dapat membuat lipatan pertama dengan baik. Ia melanjutkan lipatan kedua dan kembali menunggu Kouki.


Mereka hanyut dalam kegiatan melipat kertas hingga terbentuk berbagai macam origami yang berserakan. Biasanya , Akashi langsung merasa kesal melihat ruang favoritnya berantakan. Tapi kali ini pengecualian, karena entah kenapa ia sama sekali tidak merasa terganggu melihat beragam origami yang dibuatnya bersama Kouki.

"Sei-nii."

Akashi menoleh, menemukan perahu kertas terjulur ke arahnya. "Bu-buat Sei-nii." Kouki berucap malu-malu, "Yang ini ti-tidak akan te-tenggelam kalau di air." Lanjutnya sambil melirik gumpalan kertas yang sudah tenggelam di dasar akuarium.

Tangan Akashi terangkat dan mengambil perahu kertas tersebut, ia menatap perahu kertas itu lama. Akashi menyunggingkan senyum ke arah Kouki dan menepuk kepala kecil itu pelan, "Arigatou, ne. Kouki."

Akashi sama sekali tidak tahu kalau melakukan hal-hal remeh –seperti kegiatannya barusan- dengan anak kecil bisa semenyenangkan ini. Mungkin lain kali ia akan meminta ibunya agar membujuk Nyonya Furihata agar mengizinkan Kouki bermain di tempatnya, atau mungkin—Ia yang akan bermain ke tempat Kouki.

Owari

Ramblingan panitia:

Sorry buat dipersingkat super compressnya ya Ini manis banget lho ficnya, gimana Akashi bersikap lembut dan Koukinya unyu banget. Tapi berhubung lebih dari 1000 word terpaksa ku compress dulu. GOMENNNE. TTwTT.

Sedikit tambahan:

Untuk Guest, gomenne, tapi di akun kami review dari anonymous akan muncul dua atau tiga hari setelah kalian mereview kami. Maaf atas ketidaknyamanan ini. *ojigi.

Hayuu atuh, yang lain juga ikutan buat ramein CAFEE kita. Kalau kaliat mau ikut, silakan submit drabble everyday di Menu yang ada di grup CAFEIN. Atau silakan hubungi auhor "Hi Aidi" via PM akun FFN ataupun akun Facebook. :)

Atau buka saja profil akun ini. :)

Special thanks: Giri-giri(Kageyama Akira Tobio)

Readers and Reviewers, mind to give review? ;)