I do not own the story!

copyright © 2012 I Couldn't Care Less by fantasy_seoul (AFF)

translated by Xiao Wa (Jan 13, 2014)

Enjoy~


Ch. 6: The Deal

o

o

o

(*Sehun*)

Aishh. Jam weker bodoh... Sehun yang masih mengantuk memukul jam weker kecil di mejanya. Dia berputar ke kiri, tidur dengan posisi itu berharap mendapatkan beberapa detik lagi untuk menutup mata. Ia menghempaskan tangannya, berharap merasakan kasurnya yang lembut, tapi malah tangannya mendarat pada sesuatu. Sesuatu yang padat. Apa ini? Rasa penasaran melanda dirinya, dia membuka kelopak matanya perlahan. Pandangannya kabur, tapi ada sesuatu di depannya, sangat dekat dengan wajahnya. Apa itu? Berusaha keras untuk membuka matanya. Sehun mulai melihat garis-garis kabur mulai menjadi fokus, memunculkan sebuah wajah..wajah yang terlihat halus. Orang itu sedang tidur. Tunggu...orang?! Mata Sehun tiba-tiba terbuka lebar, berkedip cepat seperti dia tidak bisa percaya apa yang dia lihat. Luhan.

Setelah mengerti penuh situasinya, Sehun melompat dalam ketakutan, membangunkan anak yang lebih tua. "Ap–apa yang kau lakukan di kasurku?!"

"Asfkdge..." Luhan komat-kamit.

"Apa? Bangun!" Sehun mulai menggoyangkan anak yang lebih tua, yang sembunyi di balik selimut.

"Hei jawab aku! Bagaimana kau bisa ada di tempat tidurku? Kau diam-diam–"

Luhan melempar selimutnya, matanya terbuka lebar sekarang. Kepalanya berputar-putar. Ini sebenarnya masih terlalu pagi untuk berdebat. Ia duduk dengan malas dan menoleh pada teman sekamarnya yang kebingungan.

"Aku tidak tahu bagaimana bisa aku di sini.." Luhan masih pusing menjawab sambil menggosok matanya. Itulah kenyataannya –hal terakhir yang ia ingat adalah jatuh di sofa.

"Nah kau pasti tidur sambil berjalan kesini karena tempat terakhir aku melihatmu sedang ada di–"

Anak yang lebih tua mulai tertidur lagi, kepalanya jatuh ke samping. Dia tidak menangkap kalimat terakhir tentang apa yang Sehun katakan. Lupakan ini. Sehun bangun, mengambil bajunya, dan berjalan keluar kamar; dia harus bangun dan terjaga untuk berurusan dengan teman sekamarnya yang mustahil.

Luhan masih tidur ketika Sehun kembali dari kamar mandi. Sehun melempar baju kotornya pada Luhan, membuatnya tersentak bangun.

"Ewww. Ini bau!" Anak yang lebih tua membuat wajah jijik. Sehun menyeringai.

"Itu yang kau dapatkan karena tidur di kasurku." Sehun berjalan ke lemarinya. Dia sedang mencari jaket untuk dipakai ketika dia mengingat sesuatu–

"Apa Chanyeol mengembalikan kantung tidurnya?" Dia menoleh untuk menghadap Luhan yang matanya tiba-tiba menjadi cerah.

"Um..belum." Sangat jelas kau berbohong Bambi.

Sehun bergerak mendekat dan Luhan dengan cepat menambahkan, "Oke dia mengembalikannya, tapi aku lupa di mana menaruhnya." Sehun mengejek. Luhan pikir dia bodoh atau apa?

"Tidak masalah, aku hanya akan membelinya lagi."

Luhan mengerang. "Ayolah Sehun-ah. Tidak bisakah kita berbagi tempat tidur ini?" tanya anak berambut madu berantakan yang mempunyai mata coklat besar memohon pada Sehun.

"Tidak akan–"

"Aku tidak menggigit..Sehun-ah," Luhan menyakinkan dengan suara lembut. Ia mulai berkedip cepat dan menggigit bibirnya, matanya mulai basah.

Oh tuhan. Dia menggunankan aegyo untuk melawanku. Aegyomu tidak mempan untukku Bambi...–Luhan mengerucutkan bibirnya, menjulurkan bibir bawahnya –oke mungkin sedikit, tapi lebih baik aku mati daripada mengakuinya.

"Baik–" Luhan melempar tinjunya ke udara "–tapi aku tidak mau berbagi tanpa mendapatkan apa pun sebagai balasan," Sehun menambahkan.

Luhan, mencoba untuk terlihat kebingungan, dengan nakal bertanya, "Berbagi tempat tidur denganku tidak cukup?"

Sehun hampir tersedak salivanya sendiri. Apa dia serius?

Mendapatkan kembali ketenangannya, Sehun merespon dengan kejam, "Tentu saja tidak denganmu! Jangan buat aku mengubah pikiranku–"

"Oke oke. Hmmm...bagaimana jika aku menggantikan tempatmu kapan pun giliranmu mencuci piring?"

"Tidak. Hyung yang lain pasti akan tahu ada sesuatu jika mereka melihatmu mencuci piring untukku."

"Benar." kata Luhan melamun. Dia terlihat sedang mempertimbangkan sesuatu. Sehun menyilangkan tangannya. Ini akan menjadi bagus.

Akhirnya Luhan bicara, "Nah..bagaimana dengan aku membelikanmu bubble tea kapan pun kau mau?" Dia menggigit bibirnya dan tersenyum pada Sehun.

"Bagaimana bisa kau–"

"Chanyeol bilang padaku. Jadi bagaimana dengan itu Sehun-ah?" ia bertanya, tersenyum lebar seperti orang gila. Luhan tahu Sehun terobsesi sangat suka dengan minuman populer itu. Dia sudah memberikan tawaran terakhir yang tidak mungkin dia tolak –bubble tea gratis kapan pun dia mau.

"Baik, tapi aku tidur di sebelah kiri."

"YAY!" seru Luhan sambil melakukan tarian selebrasi (Sehun memutar bola matanya).

Luhan merampas ponsel Sehun dari meja dan mulai mengetik sesuatu. "Tinggal kirim hyung pesan kapan pun kau mau." Dia menyerahkan ponsel Sehun dan berjalan keluar dari kamar (lebih seperti melompat dengan gembira).

Sehun melihat layar teleponnya.

Kontak Baru – Luhan hyung (012-690-0420)

Sehun mendengus. Dia mengetik di ponselnya dan menulis sesuatu yang lain sebelum meninggalkan kamar untuk bergabung sarapan dengan hyungnya .

Kontak Baru – Bambi

(*LUHAN*)

Sisa pagi itu berjalan lancar. Sehun masih menghiraukan Luhan di depan yang lain (apa lagi yang baru?), tapi itu tidak masalah karena Luhan bisa tidur di tempat tidur seperti orang biasa sekarang.

Luhan duduk di kelas dengan senyum permanen tergores di wajahnya. Semangatnya sedang naik dan tidak ada yang bisa mengacaukan–

Zzzzz Zzzz. Ponselnya bergetar. Luhan mendapatkan pesan masuk dari nomor tidak dikenal. Dia membuka pesannya secara diam-diam di bawah meja, isi pesannya:

Chocolate bubble tea. Sekarang.

Mata Luhan melebar pada kalimat di layar. Anak ini! Dia mengirim kembali sebuah balasan cepat.

Aku sedang di tengah-tengah pelajaran sekarang jadi tunggu!

Profesornya sedang bicara tentang bagaimana media mentargetkan perbedaan gender dan kelas sosial ketika ponselnya kembali bergetar.

Harusnya pikirkan soal itu sebelum menawariku untuk membelikan bubble tea kapan pun.

Sekarang chop chop! Aku mudah marah ketika aku harus menunggu.

Luhan memutar bola matanya. Kapan anak ini tidak pernah marah? Profesor tiba-tiba berdeham, mendapatkan perhatian Luhan. Dia ketahuan. Si bodoh Sehun! Luhan memberikan profesornya senyuman minta maaf dan mematikan ponselnya.

Di seberang kampus, di gedung departemen musik, Sehun yang sangat marah menendang sebuah meja karena bubble tea yang ia inginkan belum juga muncul.

"Ini! Satu chocolate bubble tea," kata Luhan sambil memberikan minuman dingin itu. Sehun mengambil minumannya tanpa terima kasih dan mulai minum, menghiraukan Luhan seperti biasa.

"Kau tahu aku hampir mendapat masalah karenamu. Setidaknya katakan terima kasih hyung," Luhan menunjuk sambil duduk di depan Sehun. Para perempuan yang mengikutinya berbisik dengan jelas dan gembira ke sesama dari seberang kafetaria. Mereka pasti akan memulai "memasangkan" dirinya dengan Sehun.

"Kau terlambat," kata Sehun tanpa ekspresi. Luhan duduk dengan mulut terbuka.

"Aku lari keliling kampus mencari tempat yang menjual bubble tea dan hanya ini yang bisa kau katakan?" tanya Luhan tak masuk akal.

Sehun tidak peduli. Merasa sedikit sakit, Luhan bangun (dengan dramatis) dan meninggalkannya, yang masih menikmati bubble tea.

Sisa dari minggu pertama Luhan di sekolah berjalan dengan baik, minus saat-saat menyebalkan ketika Sehun memerintah Luhan membelikannya bubble tea. Luhan mulai curiga bahwa Sehun tidak benar-benar menikmati minum bubble tea berkali-kali dalam satu hari, tapi lebih menikmati untuk menyiksa Luhan.

Dia bahkan akan mengirimi Luhan pesan ketika anak yang lebih tua sedang bekerja. Luhan akan memberinya balasan yang panjang dan mematikan ponselnya. (Dia masih membawa pulang bubble tea, untuk kepuasan Sehun) Perjanjian adalah perjanjian.

Kapan pun Luhan ingin mengutuk anak yang lebih muda, dia memikirkan tentang tempat tidurnya di rumah. Tempat tidur yang lembut dan hangat. Dia lalu mengambil napas dalam-dalam dan pergi mencari toko bubble tea terdekat.

Berbagi tempat tidur dengan Sehun sangat jauh lebih baik dibandingkan tidur di kantung (Luhan masih menolak untuk mengatakan pada Sehun di mana dia menyembunyikannya).

Mereka masing-masing mengambil sebuah sisi, Sehun di kiri dan Luhan di kanan, dan di tengah adalah bantal untuk memisahkan mereka berdua. "Karena aku tidak mau kau dengan ceroboh menyentuhku sewaktu tidur," pendapat Sehun.

Ini Jum'at malam dan anak-anak memutuskan untuk menonton film. Luhan berjalan ke luar dari kamar mandi tanpa atasan, handuk mengeringkan rambutnya, ketika dia dengar Lay berteriak dari lantai bawah, "Luhan hyung, Sehun cepatlah! Kami akan mulai."

"Aku akan segera kesana," Luhan berteriak kembali dan berlari ke kamarnya untuk cepat-cepat mengambil baju.

BAM!

Dia menabrak sesuatu dan jatuh tepat di atasnya. Mata tertutup, masih kaget dengan tabrakan tiba-tiba, Luhan menyadari bahwa sesuatu yang membantalinya jatuh bernapas. "Arghh..."

Luhan mendongak dan melihat sepasang mata coklat. S-Sehun?

~Deg deg deg deg deg deg~

Kenapa jantungnya tiba-tiba berdetak sangat cepat? Pasti karena jatuh.

Kenapa kamarnya menjadi lebih hangat? Pendingin ruangan pasti mati.

Kenapa dia merasakan pipinya menghangat? Pasti karena malu.

Kenapa–

"Uhhh...apa kau bisa menyingkir sekarang?" Sehun mengerang di bawahnya.

o

o

o


A/N: Kekeke. Bagaimana bagian ini? Menyenangkan? Lucu? :)

Bagian berikutnya: Luhan mencoba "menolong" Sehun tapi berakhir mempermalukan dirinya sendiri (ketika aku mencari foto untuk chocolate bubble tea, foto Sehun muncul. Lol!

x.w: uhuuk, Luhan shirtless /muntah pelangi/?

update selanjutnya 1-2 hari lagi jika tidak ada halangan~ Jangan lupa review :3

XOXO buat readers ^^