L for Light
Aku akan menjadi cahaya dalam gelap malammu, memberikan kehangatan dan menggantikan keindahan lampu lampu kota juga gemintang. Memanja inderamu dan memelukmu hangat
Lembar demi lembar kertas telah disibak dan kata kata pucat juga deretan huruf mati berjajar, menunggu waktu untuk lebih ditelusur, disimak dan dijamah oleh pikir. Baris baris telah dilewati dalam hening dan sesosok manusia berakhir terbaring dengan mata terpejamnya yang damai. Tidak, ia tidak mati, hanya sedang tertidur lelap karena lelah. Wajah manisnya terkena bias bias cahaya lampu yang temaram, mungkin sebentar lagi mati. Pada hidungnya yang mungil, bertengger kacamata bulat manis dengan lensa bening yang setengah memantulkan sinar lampu yang kini tiba tiba padam. Tak apa, rembulan memancarkan sinarnya begitu lembut menembus kaca kaca raksasa disisi ruangan. Gelap? Entahlah. Mungkin tidak akan datang.
Senyum seorang pemuda berparas tampan melengkung tipis penuh paham dan kasih sayang. Ia—pemuda tampan itu—melangkah pelan menuju meja kayu ditengah ruangan yang dipenuhi buku buku tebal. Ia tidak panik, tidak pula gusar. Lampu kehabisan tenaga memang sudah umum disini karena lampu lampu dirumah ini sudah bertahan lebih dari sepuluh tahun. Membingungkan? Ya memang tulisan ini membingungkan macam hubungan kompleks dua insan yang telah disebut diatas. Mereka, seolah tengah terhubung oleh benang merah tak kasat mata, saling menyalurkan gelenyar hangat melalui tautan jemari yang dimulai oleh si tampan. Si manis mengucek matanya karena terusik, melirik kearah jemarinya yang hangat kemudian memandang lurus kedepan.
"hei"
Si manis terlonjak, lampu terakhir dirumah ini telah padam. Raut wajahnya yang terkejut tertutup kegelapan, matanya yang berlinang terselimuti gulita.
"ijinkan aku untuk mengenalmu kali ini, ijinkan aku tidak berbuat konyol lagi, ijinkan aku mengganti lampu-lampu ini dan menciptakan kehangatan yang lain"
Si manis terdiam, detakan jantungnya yang kurang ajar tak mau melunak. Ia berpikir.
"lampu terakhir dirumah ini sudah mati"si manis berujar pelan, Taeyong mencelos, hatinya seperti ditusuk duri dan jarum.
"tentu saja, apabila sesuatu telah mati, sesuatu itu tidaklah berakhir, ia hanya menunggu dihidupkan kembali, awal yang baru, yang lebih bersinar dan putih"
"cahaya terakhir dirumah ini telah padam"si manis menunduk dalam, Taeyong memberanikan diri dan mengulurkan tangannya untuk membelai pipi kekasih atau apanya itu.
"masih ada cahaya yang lain dimatamu"
"sinar terakhir dirumah ini telah sirna"dan kali ini Taeyong menghela napasnya yang berat seberat beban dihatinya
"percayalah padaku kita akan menghidupkannya lagi"pemuda itu berlutut sambil menggenggam tangan pujaan hati yang telah ia sia siakan dengan janji konyolnya yang bodoh. Janji konyol yang ia mulai sepuluh tahun yang lalu.
Flashback On (when he was fourteen, ten years ago)
Taeyong berdiri jauh dari kerumunan orang yang merubung jasad kedua orang tuanya yang hendak dikebumikan. Wajah tenang keduanya terlihat pucat dan pias, biasanya akan ada bulir keringat karena kerja keras yang meluncur perlahan dikening dan pelipisnya. Namun hari ini, dihari yang tidak akan terulang. Kening mereka bersih dan pelipisnya mengkilat, ada sedikit keriput namun tidak mengganggu di wajah peruh baya mereka. Keduanya orang baik dan senang berderma. Ada ribuan pelayat yang datang,suasananya haru dan sendu. Tetapi bumi seolah begitu bahagia hingga begitu terang dan bersinar. Ada apakah gerangan?
Taeyong berdiri duaratus meter dari perkuburan dan payung payung hitam mengembangkan duka. Taeyong tidak terlihat berduka, ia memang tidak terlalu peduli dengan kematian.
Mati?
Sesaat saja, kemudian hidup lagi. Entah neraka atau surga, yang penting hidup lagi.
Taeyong masih berdiri dengan payungnya dan kacamata hitam supaya sedikit yang sadar ialah Lee putra yang tak mau mendekat keperkuburan orang tuanya. Taeyong menatap sepatunya sendiri lalu mengetuk-ngetukkannya ketanah.
"hei! Kau tidak mendekat?"
Taeyong menoleh.
'iakah malaikat? Yang akan menjemputku pada kematian? Kenapa ia datang sekarang? Akahkah ia benar malaikat? Malaikat mana yang memiliki wajah bingung dan keheranan semanis ini?'
"kau tidak apa apa?"tanya 'malaikat' itu. Tangannya melambai lambai didepan wajah Taeyong.
"a-aku?"
"tentu saja kau?"
"bukan, tidak apa apa, aku...baik baik saja"
"oh begitu, lalu kenapa kau ada disini? Tidak mendekat?"
"i-itu, aku, keramaian, anak anak dan dunia luar itu musuh. Kau tahu?"
"ooh, nama-"
"ayo tinggal denganku! Kita akan bicara saat semua lampu dirumahku mati!"
"aku? Maksudmu? Kita? Hei! Kita bahkan belum saling mengenal!"serunya. Taeyong manatap wajah 'malaikat' yang ternyata 'lebih manusiawi' dari yang dia pikirkan.
"hei! Ayo kembali ke panti! Matron bisa marah nanti"seru sebuah suara pada 'malaikat' yang ternyata memang 'manusia' itu. Anak itu datang sambil berlari dan menunjuk sebuah bis panti yang Taeyong kenali.
"tidak! Dia tidak akan kembali! Dia akan denganku!"seru Taeyong tidak senang kepada orang itu.
"memangnya kau siapa? Seenaknya saja!"
"aku Lee Taeyong! Keluargaku yang mendanai panti asuhanmu itu! Kau pikir aku ini siapa?"
"..."anak itu bungkam. Taeyong menyeret 'malaikat'nya pulang, memasuki mobil dan mengabaikan semua rontaan dari...
Flashback Off
"aku sudah duapuluhempat dan aku sudah dapat berpikir jernih untuk tidak mengulangi hal hal konyol itu lagi"
*sigh*
"aku sudah duapuluhempat dan aku sadar bahwa lampu lampu ini menjadi saksi. Bodohnya aku yang sepuluh tahun lalu. Membiarkanmu sendirian. Berpapasan denganku, menemani tidurku dan memberiku sarapan tapi tak pernah kusapa, tak pernah kutahu namanya, tak pernah kupandang wajahnya sekalipun aku merasa bergetar tiapkali berada disisinya. Sudah sepuluh tahun dan aku ingin-"
"ssst"
"hm?"Taeyong mengernyit, berusaha mendalami kilau mata yang terkena pantulan cahya rembulan biru itu. Jari telunjuk kurus menyentuh bibir Taeyong. Samar terlihat gerakan kepala menggeleng dari malaikat Taeyong.
"namamu?"
"Lee Taeyong, dan kau?"
"entahlah, aku tidak ingat. Kau tidak menanyakan dan membutuhkannya. Kupikir itu tidaklah penting"
Hening sesaat
"baiklah, lalu apa kau mau menyalakan lampu lampu ini denganku?"
"beri aku nama! Untuk kuingat"
"aku?"
"ya! Beri aku nama!"
Taeyong berpikir lama dalam keheningan. Dan ketika dingin hendak menghinggapi, Taeyong berkata...
"baiklah. Yuta. Nakamoto Yuta. Namamu Nakamoto Yuta"
"Yuta? Nama yang indah! Apa yang harus kubayar untuk nama itu?"
"tinggallah...
"...disini selamanya"
Kemudian lampu-lampu itu menyala.
Fin
L for Light
By Caca
Has been complete
Caca is Back Gurls!
Miss me? Pastilah! Pasti pada kangen sama saia. Caca kan ngangenin, ngegemesin dan butuh civok cinta dari readernim dalam bentuk review hahahahah
Nah setelah kembali, caca akan menjelaskan panjang lebar mengenai SAMAEL yeay
SAMAEL itu adalah malaikat yang terjatuh (fallen angel) salah satu dari tujuh bangsawan neraka.
Nah disini my Johnny yang akhirnya debut di NCT 127 (udah liat limitless, limitless kek cinta saia ke abang Johnny*plakk) itu adalah seorang manusia, dan ketika kita baca cerita ini, Johnny nya ajha belom lahir! Ekstrim? Ya memang Caca ekstrim.
Johnny ngirim surat dari masa depan ke masa kita alias masa lalu supaya kita tahu tentang kisah cintanya yang suram. Supaya kita bisa menundanya atau seenggaknya bikin dia nggak ketemu doinya atau malah bikin Johnny nggak lahir sekalian!
Johnny pada masa itu kan dia bilang bakal ngehancurin 'Tuhan' dan memberontak pada 'Tuhan' itu maksudnya selain dia nggak mau ngakuin 'Tuhan" gegara Tuhan nggak adil sama dia, itu karena Johnny emang dilahirin dikeluarga yang percaya 'Tuhan' kasarnya sih ATHEIS
Johnny kehilangan ortu dan seluruh keluarganya gegara bencana dan bencana itu kalau dibahasa kasarkan akan menjadi 'tangan Tuhan' misal "Tangan Tuhan merenggut jiwa saudaraku" itu artinya Tuhan udah ngambil a.k.a ngebunuh sodara elu.
Johnny disebut kek iblis soalnya dia yang udah menghina Tuhan dari bayi dibikin lebih marah sama Tuhan. Terus akhirnya dia ngebenci Tuhan makin parah padahal dia udah mau tobat pas ngeliat si doi tapi Tuhan ngambil doinya cepet banget. Terus akhirnya Johnny ambil kesepakatan sama SAMAEL, si fallen angel buat bikin Johnny itu bagian dari neraka. Supaya Johnny bisa ngambil doinya dan ngebawa doi yang amat ia cintai itu sama sama bareng dia selamanya—dineraka! Gitu! SO SWEET~
Dan kepada pemenang saya ucapkan selamat!
Eh. Jawaban benernya aja belom dikasih. Jawaban yang bener adalah...
Jeng jeng jeng
SESUAI IMAJINASI KALIAN! ITU BENER SEMUA!
Yaahhh nggak seru...yaudah kalo nggak seru, pake imajinasi Caca aja
Jawabannya adalah...
/suara genderang/
Saya sendiri yeay eh maksudnya Ji Hansol! Yeay!
Jadi yang jawab A
Pasti bener. SELAMAT YA! BURUAN REQUEST LAGI, ntar saia kabulkan!
Ini saia update selain dikarenakan review sudah lebih dari lima, saia juga udah bosen nunggu review nambah. Caca mau UN nih! Doain ya, kalo nilainya bagus, Caca langsung comeback deh! Buat bagi civok satu satu ke kalian semua. Nggak juga sih. Ntar pada kesenengan. Intinya tolong doain ya! Caca cinta kalian.
CHAPTER KALI INI MENUNGGU 8 REVIEW YA~
Kalo udah lebih dari 8, CACA COMEBACK!
Tebakan CHAPTER ini...
Apakah chapter ini adalah bagian dari chapter 1 dan chapter 5?
Jika iya, sebut alasannya. Soalnya saia juga bingung. Kalo nyambung, nyambung dimananya?
Yaudah ya...
Doa'in saya lolos UJI NYALI dengan nilai bagus. AMIEN
Pyong!
