~SasoDei FanClub: Reloves, Chapter 7~

.

.

Seorang pria berambut putih keperakan terlihat tengah turun dari mobilnya kemudian melangkah masuk ke dalam sebuah gedung yang bentuknya menyerupai rumah. Diketuknya pintu rumah tersebut. Selang beberapa detik pintu tersebut terbuka dan menampakan seorang gadis berambut coklat.

"Ho! Hidan-san sudah kembali? Konan-san sudah menunggu di dalam!"
"Terimakasih emm...siapa namamu?" tanya Hidan.

"Tenten desu!"

"Ah ya, terimakasih Tenten."
Gadis bernama Tenten itu segera mengangguk kemudian mempersilahkan Hidan untuk masuk ke dalam. Di dalam ruangan yang menyerupai bentuk ruang tamu, terlihat seorang gadis berambut biru pendek sebahu tengah duduk di sofa dengan melipat kaki kanannya.

"Selamat datang kembali, anggota baru. Bagaimana laporanmu?"

Anggota baru? Ah ya, ini bermula tadi pagi saat...

Flashback

"K-konan senpai!" panggil Ino yang tiba-tiba saja masuk ke ruangan Konan tanpa izin. Wajah gadis berambut pirang itu terlihat panik. "Ada yang mencarimu di luar!"

"Siapa?"

"H-h-hidan!"

Mata Konan melebar mendengar nama yang baru saja disebutkan oleh Ino. Bergegas ia menuju tempat di mana sang tamu sudah menunggu. Ternyata memang benar Hidan yang Ino maksud memang Hidan yang pernah mereka jadikan korban! Astaga apakah Hidan datang untuk meminta pertanggung jawaban reloves? Bagaimana cara Konan untuk mengatasinya?

"Ada perlu apa?" tanya Konan ketus seraya duduk di sofa yang berhadapan dengan sofa di mana Hidan duduk.

"Galak sekali. Bagaimana Pein-san bisa tahan ya?" tanya Hidan seraya terkekeh.

Konan melempar deathglare terbaiknya pada Hidan.

"Tenang, tenang. Aku kesini karena kurasa kelompok kalian ini menarik sekali. Menurut dugaanku, kelompok kalian ini adalah kumpulan orang-orang yang mendukung hubungan Sasori dan Deidara yang lebih dari sekedar manager sementara dengan artisnya kan?" Seringaian muncul di bibir Hidan.

Konan melipat kedua lengannya di depan dada kemudian menyandarkan punggungnya di sofa. "Ya, lalu?"

"Semua anggota kelompok kalian perempuan?"
Konan memutar bola matanya. "Tentu saja. Cepat katakan intinya."

"Intinya aku ingin..."

"Ingin?!" Konan bertanya, sedikit berseru bahkan. Satu hal yang terdengar sangat pasti dari caranya bertanya adalah ia ingin segera mendengar apa yang Hidan bicarakan agar ia bisa kembali melanjutkan kegiatannya untuk membuat fanart dari pairing kesukaannya.

"Ingin bergabung dengan kalian," sahut Hidan santai seraya menyandarkan punggungnya di sofa. Kedua tangannya ia lipat di depan dada, dan sebuah seringaian nakal menghiasi bibirnya.

Ino yang sedari tadi berdiri di sebelah Konan kini menatap Hidan dengan mulut yang terbuka lebar karena tak percaya.

"Huh? Kau pikir semudah itu? Untuk menjadi seorang anggota, kami harus memastikan loyalitasmu dan seberapa besar keinginanmu untuk mempersatukan Sasori dan Deida—EEEHHH? KAU INGIN JADI ANGGOTA?"

Hidan menutupi wajahnya dengan telapak tangan kanannya saat melihat betapa lambatnya kerja otak Konan untuk mencerna kata-kata Hidan dengan benar. Sesaat mata Amethys miliknya melirik Ino yang masih berdiri mematung dengan mulut terbuka. Astaga, ia tak habis pikir mengapa ia memutuskan untuk bergabung dengan kelompok dengan anggota yang unik-unik ini. Hidan hanya mampu menghela napas dan menggelengkan kepalanya.

"T-t-tapi tapi kau seorang laki-laki. Apakah ini berarti...kau seorang..." Konan memiringkan kepalanya.

Hidan mengangkat kanannya—menginterupsi. "Jangan berpikir macam-macam. Satu-satunya alasanku untuk ikut adalah karena aku ini sahabat Deidara. Aku hanya ingin menolongnya untuk menemukan cinta sejatinya. Itu saja."

"Hoo?" Konan meletakkan kedua sikunya di atas meja kaca di hadapannya kemudian menggistirahatkan dagunya di kedua telapak tangannya. Seringaian nakal kini tersungging di bibirnya. "Dan kenapa kau yakin cinta sejati Deidara itu adalah Sasori?"

"Hmm..." Hidan menggaruk pipinya dengan telunjuknya. "Karena insting Hidan tidak pernah salah."

Jawaban yang tidak logis, memang. Hanya saja jawaban tersebut cukup untuk membuat Konan dan Ino menatapnya kagum.

"SELAMAT BERGABUNG DENGAN RELOVES!"

.

Jadi seperti itulah mengapa Hidan kini kembali ke markas Reloves untuk memberikan laporannya kepada sang ketua yang sudah menatapnya bagai seorang aparat kepolisian yang tengah menginterogasi seorang kriminal.

"Hubungan mereka tidak sebaik yang kalian pikir," sahut Hidan santai seraya duduk di sebelah Konan.

Mata Konan melebar karenanya. "A-apa maksudmu? Apa yang kau lihat?"

"Aku ti—hey! Gambar apa itu?" Mata Hidan kini tertuju pada layar laptop Konan yang menunjukkan sebuah gambar yang sepertinya belum Konan selesaikan. Sekilas Hidan melihat gambar itu seperti coretan-coretan tak berarti. Awalnya Hidan menganggap gambar tersebut seperti lukisan abstrak, tak berbentuk. Akan tetapi, semakin lama memperhatikannya, Hidan mulai dapat menerka-nerka bentuk apa yang Konan buat di gambar tersebut. "Jangan katakan itu gambar Sasori dan Deidara."

"Aa—Bukan apa-apa." Dengan gesit Konan menutup laptopnya dengan wajah memerah. "Cepat jawab pertanyaanku!"

"Amatiran," bisik Hidan meledek dengan mata menyipit hampir terpejam.

Raut wajah mengejek tersebut jelas saja membuat Konan gusar. Dengan wajah makin memerah, Konan mengguncang-guncang pundak Hidan seraya berseru, "Cepat jawab saja pertanyaanku!"

"Huh?" Hidan berkedip saat Konan bergenti mengguncang bahunya. "Oh? Apa tadi pertanyaanmu?"

"Kenapa kau mengatakan hubungan Sasori dan Deidara tidak baik, dasar bodoh!" seru Konan yang dengan kekuatan penuh mencekik leher pemuda albino tersebut.

"L-l-lepaskan..."

"Konan Senpai! Ini gawat!"

Matsuri berlari ke arah Konan dengan napas terengah dan wajah panik. Kontan Konan menjauhkan tangannya dari Hidan dan otomatis memberi kesempatan bagi pemuda albino itu untuk bernapas.

"Ada apa?" tanya Konan.

"Deidara-san! Deidara-san...sakit!"

Hidan terdiam menyaksikan gadis muda itu memberikan kabar dengan raut wajah yang begitu panik bagai sehabis melihat rumahnya terbakar. Hidan mengira berita yang dibawakannya akan sama hebohnya dengan berita rumah kebakaran, ternyata hanya berita tentang Deidara yang jatuh sakit. Bukannya Hidan tak peduli pada keadaan sahabatnya. Hanya saja, Deidara itu juga manusia biasa dan wajar bagi seorang manusia untuk jatuh sakit, bukan?

Gadis itu terlalu berlebihan, batin Hidan. Ia yakin sebentar lagi Konan akan mengatakan hal yang sama dengan pikiran Hidan.

"Apa katamu? DEIDARA SAKIT?"

...ternyata tidak juga.

"Cepat panggil dokter! Sakura, hubungi dokter segera! Ino, beli sebuket bunga! Matsuri, beli separsel buah! Lalu...Lalu siapa yang mau menjenguk Deidara? Apa yang harus kita lakukan? Astaga!"

Hidan menepuk dahinya dengan telapak tangannya seraya mengamati Konan yang masih memberikan perintah dengan nada panik dan semua anggota yang berlarian sana-sini untuk melaksanakan perintah Konan secepatnya.

Kelompok macam apa ini? Batin Hidan yang meratapi nasibnya atas pilihannya sendiri.

.

.

Sasori menatap tak percaya pintu besar di hadapannya. Ia tak percaya dirinya kembali ke sebuah rumah yang sebenarnya tidak ingin ia kunjungi lagi. Tapi, yah, mau bagaimana lagi? Peralatan lukisnya masih tertinggal di dalam sana dan Sasori tidak ingin membeli yang baru karena hal itu hanya akan menghabiskan uangnya yang berharga.

Pemuda berambut merah itu mengusap-usap bagian belakang lehernya selagi batinnya berkutat untuk mengambil keputusan.

Berkali-kali ia menyakinkan diri mengenai tujuannya datang ke rumah ini. Ia datang hanya untuk mengambil peralatannya lalu pulang tanpa melihat keadaan Deidara terlebih dahulu. Ya, Sasori sudah yakin.

Ia menghela napas kemudian menekan bel yang terpasang di dekat pintu. Ia tak sengaja menahan napasnya saat ia membayangkan Deidara-lah yang akan membuka pintu untuknya dengan wajah pucat dan tubuh lemas, lalu pingsan dan jatuh ke pelukan Sasori, dan Sasori akan—

Hey, itu mustahil kan?

Sasori menggelengkan kepalanya, kemudian kembali menekan bel.

Dan tidak ada yang membukakan pintu.

"Tch."

Merasa mungkin saja bel tidak terdengar oleh pemilik rumah atau mungkin saja belnya tidak berfungsi, Sasori memutuskan untuk mengetuk pintu dengan tidak sabaran.

Tak bisa menunggu lebih lama, akhirnya pemuda tampan itu mencoba membuka pintu rumah tersebut. Ia sedikit terkejut saat mendapati pintunya tidak terkunci.

"Itachi?" panggilnya, namun tak menerima jawaban.

Ia memasuki rumah yang tak asing lagi baginya. Setenang mungkin ia melirik ke segala arah untuk menemukan si pemilik rumah. Sesaat ia berpikir apakah ia harus menghubungi Itachi atau tidak, tetapi setelah mengingat tujuannya yang hanya datang untuk mengambil peralatan lukisnya, Sasori hanya mengangkat bahu dan mengurungkan niatnya untuk menghubungi Itachi.

Sekarang ia mencoba mengingat-ingat di mana ia meletakkan peralatan lukisnya semalam.

Ruang tamu? Ia berpikir ulang. Sepertinya tidak.

Ruang keluarga? Tidak.

Dapur? Tidak mungkin.

Ruang...

Sasori tersentak.

Oh, tidak.

Sasori menekan-nekan pelipisnya dengan dua jarinya untuk mengurangi penat yang tiba-tiba saja menyerangnya. Bagaimana tidak? Sasori yang semula berkeinginan untuk tidak bertemu dengan Deidara, kini harus bertemu dengannya karena—

—peralatan lukisnya berada di kamar tidur Deidara!

Bukannya ia tak ingin melihat wajah Deidara lagi. Hanya saja ia tak tahu apa yang harus ia katakan pada Deidara jika Deidara menanyakan pertanyaan ini dan itu lalu meminta maaf berkali-kali dan memohon-mohon pada Sasori. Sasori belum siap menghadapinya. Tapi kalau ia berbalik pulang sekarang, tidak lucu juga sepertinya.

Akhirnya—setelah menimbang-nimbang cukup lama—Sasori memutuskan untuk menggerakkan kakinya perlahan-lahan menuju kamar tidur Deidara.

Waktu begitu cepat berputar bagi Sasori. Mau tak mau, dirinya kini sudah berdiri tepat di depan pintu kamar Deidara. Tangan kanannya sudah menggenggam handel pintu, sudah siap untuk membuka pintu tersebut. Sejenak dirinya membayangkan bagaimana keadaan di dalam ruangan. Yang terbayang di pikirannya adalah Deidara yang terbaring di tempat tidur dengan Itachi yang duduk di tepi tempat tidur untuk menemani Deidara.

Sasori menghela napas. Ia hanya perlu mengatakan pada Itachi bahwa ia datang hanya untuk mengambil peralatan lukisnya, lalu mengambil benda-benda tersebut, pamit pulang, dan akhirnya pergi dari rumah itu. Semoga saja semua berjalan lancar, ia berharap demikian.

Perlahan namun pasti, Sasori membuka pintu kamar Deidara.

Begitu pintu terbuka, Sasori tertegun saat mendapati Deidara yang terbaring di atas tempat tidur seorang diri. Tak terlihat Itachi atau orang lain di ruangan gelap tersebut. Pemuda bermata coklat Hazel itu masih berdiri di depan pintu, tangan kanannya pun masih menggenggam handel pintu, sedangkan matanya terfokus menatap tubuh ramping yang terkulai lemas di tempat tidur—berlindung di bawah selimut tebalnya.

Perlahan menjauhi pintu tanpa berniat menutupnya, Sasori perlahan mendekati Deidara yang kedua matanya terpejam. Rambut pirang panjangnya tergerai berantakan membingkai wajahnya yang pucat dan berpeluh. Sepasang bibir yang biasanya berwarna merah alami itu kini memutih. Dahinya tertutupi oleh handuk kecil basah yang terlipat.

Deidara yang biasanya enerjik dan penuh daya, kini hanya bisa terbaring di atas tempat tidurnya tanpa mampu melakukan apa-apa. Hal ini sedikit banyak membuat Sasori merasa iba dan bersalah.

Sasori mengambil handuk basah dari dahi Deidara kemudian menyelupkannya pada sebaskom air yang telah tersedia di atas meja. Setelah meremasnya dan melipatnya kembali, Sasori menempelkan handuk hangat tersebut di dahi Deidara.

"Lihat apa yang kau lakukan pada dirimu sendiri," bisiknya.

Deidara tak menjawab. Tentu saja ia tak menjawab. Menyadari keberadaan Sasori saja tidak.

Mengabaikan tujuan utamanya, Sasori mengambil sebuah kursi di dekatnya kemudian meletakkannya di sebelah tempat tidur Deidara. Tanpa pikir panjang Sasori duduk di kursi tersebut dan mendekatkan dirinya pada Deidara. Ditatapnya Deidara yang terbaring lemas tak berdaya. Sasori berpikir amarah dan rasa kesal yang tadi sore ia rasakan bisa bertahan sampai beberapa hari. Tapi pada kenyataannya, hanya dengan melihat keadaan Deidara yang memprihatikan seperti ini, segala amarah dan rasa kesal Sasori lenyap habis tak bersisa.

Bagaimana pun juga Deidara memang masih kekanak-kanakkan, wajar saja ia suka bermain-main, batinnya, mencari sebuah pembelaan bagi Deidara agar akal sehatnya juga ikut memaafkan Deidara.

Sasori meraih tangan kanan Deidara secara perlahan kemudian menggenggamnya, berharap panas tubuhnya dapat menghangatkan tangan Deidara yang begitu dingin. Pemuda tampan itu menunduk menatap tangan Deidara yang digenggamnya secara menerka-nerka apa yang akan terjadi setelah Deidara terbangun nanti. Jelas saja Sasori bukan manager Deidara lagi, itu berarti mereka tidak memiliki sebuah kepentingan yang memaksa mereka untuk tetap bersama.

Mereka akan kembali pada keadaan di saat mereka belum saling mengenal. Mereka akan jarang bertemu, dan...

Sasori menghela napas, kenapa semua yang ia bayangkan itu terasa begitu berat baginya? Sasori tidak mengerti. Tentu saja ia tidak mengerti. Pasalnya ia tak pernah merasakan ini sebelumnya. Ingin tetap bersama dengan seseorang yang bukan orang tuanya dan tak ingin berpisah, terasa begitu asing baginya.

Memang Deidara begitu menyebalkan. Ia berisik, tidak bisa diam, keras kepala, dan kekanakkan, tapi Sasori merasa nyaman bersamanya.

Begitu tenggelam dalam lamunannya, Sasori tidak mendengar suara-suara yang berasal dari luar kamar. Suara yang semakin lama semakin mendekat.

Bunyi 'jepret' yang rupanya berhasil menarik Sasori dari lamunannya. Segera ia menoleh ke arah pintu, mendapati tiga orang gadis berdiri di dekat pintu. Dua orang yang berdiri di sebelah kiri dan kanan—seorang gadis berambut pirang dan coklat gelap—menatapnya dengan mata melebar. Sedangkan gadis yang berdiri di tengah—gadis berambut merah muda sebahu—berdiri dengan sebuah kamera yang membidik ke arah Sasori. Seringaian terpampang jelas di bibir gadis itu.

Sasori terkesiap, dan segera berdiri dari kursinya—otomatis genggaman pada tangan Deidara pun terlepas karenanya. Reaksi Sasori tersebut berhasil membuat dua gadis di dekat pintu terbangun dari keterkejutan mereka.

"KYAAA ROMANTISSS!"

Meski masih terkejut, Sasori berhasil melempar sebuah tatapan tajam kepada para gadis yang berteriak dengan suara nyaring yang kemungkinan besar bisa membangunkan Deidara. Namun saat ia melirik Deidara dan mendapati Deidara masih tertidur, ia menghela napas lega.

"Kau mendapatkan foto yang bagus kan, Sakura?" tanya gadis pirang yang membawa sebuket bunga di tangannya.

Gadis berambut merah muda yang tengah membawa kamera itu mengangguk puas dan tersenyum lebar seraya menunjukkan layar kameranya kepada temannya. "Tepat saat Sasori-kun memegang tangan Deidara-kun. Kyaaa~"

"Sugoii Sakura-nee!" seru gadis berambut coklat yang mendekap separsel buah-buahan segar di dadanya. Pipinya dihiasi oleh rona kemerahan kala menatap foto di layar kamera yang ditunjukkan Sakura.

"Sepertinya kekuatan Konan turun kepadamu, ya!" seru Ino penuh semangat.

Sasori hanya menatap para gadis di hadapannya dengan tatapan heran. Ia seperti tengah berada dalam sebuah imajinasi yang gila, tapi rupanya tidak.

"Siapa kalian? Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Sasori dingin, secara refleks mendekati Deidara untuk melindunginya dari para gadis yang kemungkinan besar akan menyerang Deidara kapan saja.

"Oh! Kami hanya penggemarnya yang datang untuk menjenguk. Kau sendiri sedang apa di sini, Sasori-san~?" tanya Ino seraya menyeringai.

Sasori kehilangan kata-kata. Bagaimana ia harus menjawab pertanyaan penggemar Deidara itu? Mengatakan bahwa ia hanya ingin mengambil peralatan lukisnya? Sama saja bunuh diri. Ia tahu jika ia menjawab demikian, ia akan diserbu dengan ribuan pertanyaan mematikan, seperti 'kenapa peralatanmu berada di kamar Deidara?' atau 'mengambil peralatan? Tapi yang kami lihat, tadi kau sedang menggenggam tangan Deidara' dan mungkin Sasori bisa mendapat pertanyaan yang lebih parah dari itu.

Sebelum Sasori memikirkan bagaimana cara ia untuk menjawab pertanyaan tadi, ia terkejut saat melihat seorang perempuan dewasa menerobos masuk ke dalam kamar Deidara setelah menyingkirkan tiga gadis tadi dari pintu masuk.

"Ah, Tsunade-sama sudah datang rupanya!" seru Sakura.

Perempuan berambut pirang pucat yang mengenakan jas putih itu mendekati Deidara, namun dengan cepat Sasori menghalangi jalannya.

"Aku dibayar untuk memeriksa keadaan anak ini, jadi jika kau ingin dia sembuh, segera menyingkir," ucap Tsunade dingin pada pemuda yang menghalangi jalannya.

"Siapa yang memanggilmu untuk datang kesini, dokter?" tanya Sasori tak kalah dingin.

"Itachi-san yang memanggil Dokter Tsunade kesini!" seru Ino.

Tsunade hanya terdiam.

"Kalian mengenal Itachi?" Sasori kini bertanya pada Ino.

"Oh tentu saja! Kami berteman baik dengan Itachi-san~" sahut Ino berbohong.

Setelah menimbang-nimbang, akhirnya Sasori menggeser posisinya, memberikan akses bagi Tsunade untuk memeriksa keadaan Deidara. Namun selama Tsunade memeriksa keadaan Deidara, Sasori tak pernah melepaskan tatapannya dari mereka berdua. Berjaga-jaga kalau saja dokter yang tidak dikenal ini melakukan sesuatu yang dapat melukai Deidara.

"Sasori-san." Sasori terpaksa melepaskan tatapannya dari Deidara saat suara yang halus memanggilnya. Menoleh ke arah datangnya suara, Sasori mendapati gadis berambut coklat tadi menyodorkan separsel buah kepadanya. "Sasori-san pasti akan sering mengjenguk Deidara-san, 'kan? Itu berarti Sasori-san tidak keberatan menyuapi Deidara-san dengan buah-buahan segar ini sampai dia sembuh, 'kan?" tanya gadis bernama Matsuri tersebut dengan wajah memelas.

Sasori menerima parsel buah yang diberikan kepadanya kemudian meletakkannya di atas meja—di sebelah sebaskom air hangat. "Itachi yang akan merawatnya," sahut Sasori datar.

"Yaaaah." Terdengar desah kecewa dari Sakura dan Ino.

"Tapi Sasori-san menyayangi Deidara-san, ne? Aku bisa lihat dari tatapan yang Sasori-san berikan saat Sasori-san menggenggam tangan Deidara-san," ucap gadis mungil itu. Matanya sedikit berkaca-kaca untuk menunjukkan betapa seriusnya ia dengan ucapannya.

"Dia bisa menjadi aktris terkenal," bisik Sakura pada Ino dengan suara yang sangat pelan.

"Ssstt!" Ino menyikut lengan temannya itu memintanya untuk diam.

Sasori terdiam. Lagi-lagi ia tak tahu bagaimana ia harus menjawab pertanyaan yang diberikan padanya. Mudah saja ia lepas dari situasi yang sedang dihadapinya ini dengan mengatakan ia sama sekali tidak peduli dengan keadaan Deidara. Tapi sayang, Sasori tak pandai berbohong, apalagi membohongi dirinya sendiri. Sasori benci pembohong, dan ia tidak ingin membenci dirinya sendiri.

Tetapi Sasori juga belum berani mengatakan ia menyayangi Deidara, karena ia sendiri masih bingung dengan perasaannya terhadap Deidara. Mereka baru bertemu beberapa hari yang lalu, dan bisakah perasaannya ini disebut dengan rasa sayang? Sasori tidak berani mengambil kesimpulan secepat itu.

"Ini hanya demam biasa." Kalimat dari Tsunade membebaskan Sasori dari suasana aneh yang tadi menggelutnya. "Siapa yang akan ikut denganku untuk mengambil resep obat? Aku akan menulisnya di ruang tamu."

"Ah biar aku saja!" seru Sakura bersemangat.

Setelah dua perempuan itu turun ke ruang tamu, Matsuri kembali beraksi.

"Benar 'kan, Sasori-san?" tanyanya lagi.

Sasori menggelengkan kepala kemudian mengambil peralatan lukis yang tergeletak di sudut ruangan. Dengan mengabaikan tatapan Matsuri dan Ino, Sasori melangkah menuju pintu, siap meninggalkan kamar Deidara.

"Eh? Deidara-san?"

Langkah Sasori terhenti saat ia mendengar Matsuri memanggil nama Deidara. Memberanikan dirinya untuk menoleh ke belakang, ia mendapati Deidara yang tengah menatapnya dengan sinar mata yang redup.

"...Danna..."

Suara serak yang memanggilnya membuat Sasori ingin segera menghampiri Deidara, namun sepertinya situasi tidak memungkinkan.

Oleh karenanya, setelah memberikan sebuah senyuman kepada Deidara, Sasori melangkah meninggalkan kamar tidur Deidara dengan langkah cepat dan tergesa. Ia bahkan mengabaikan tatapan Tsunade dan Sakura saat ia melewati ruang tamu.

Saat ia membuka pintu rumah Deidara, ia terkejut karena mendapati Itachi tengah berdiri di hadapannya—dengan wajah yang menunjukkan raut terkejut yang sama.

"Sasori?" tanya Itachi heran, kemudian melirik kedua tangan Sasori yang membawa peralatan lukisnya. "Kau datang untuk mengambil peralatan lukismu?"

Sasori mengerutkan dahinya. Tanpa menjawab pertanyaan Itachi, ia balas bertanya, "kemana saja kau? Kenapa meninggalkan Deidara sendirian?"

"Tadi aku mendapat panggilan mendadak dari sutradara. Jadi aku terpaksa meninggalkan Deidara sendirian. Ada apa? Ia baik-baik saja kan?"

Sasori menghela napas. "Sebaiknya kau cepat masuk karena ada empat perempuan aneh di dalam sana," ujarnya sebelum melangkah pergi tanpa berpamitan pada pemilik rumah.

Itachi hanya menatap temannya hingga pemuda berambut merah itu masuk ke dalam mobil hitam yang terparkir di depan rumah. Menggeleng pelan, Itachi segera masuk ke dalam rumahnya.

"Ah! Itachi-kun sudah pulang rupanya!" sapa Sakura dengan wajar berseri.

Itachi mengerutkan dahinya, "Siapa—"

"Reloves!"

"Oh."

Sedangkan di dalam kamar Deidara, keadaan benar-benar berbeda. Ino dan Matsuri yang tadi begitu bersemangat dan riang seperti fangirls pada umumnya, kini hanya mampu untuk menatap Deidara dengan mata berkaca.

Bagaimana tidak?

Setelah Sasori pergi, Deidara terlihat begitu sedih. Berkali-kali ia berbisik memanggil nama Sasori berharap suaranya dapat didengar oleh pemuda yang sudah pergi jauh itu. Ia bahkan mencoba untuk turun dari tempat tidurnya untuk menyusul langkah Sasori, tetapi untung saja Ino dan Matsuri berhasil mencegahnya.

"Sasori...Danna..."

Matsuri dan Ino tidak berteriak-teriak kegirangan setelah mengetahui Deidara menginginkan Sasori untuk tetap berada di sisinya. Sebaliknya, mereka merasa jantung mereka diremas-remas saat melihat Deidara yang begitu sedih, lemah, dan terluka.

_TBC_

Yay! Akhirnya update setelah beberapa bulan gak dilanjutin ;A;

Makasi banyak buat reader yang masih sabar menunggu. Chapter selanjutkan akan saya buat setelah event SDRD nanti.

Oh, ya, jangan lupa ikut event SasoDei Romantic Day 2014 ya!