"Ohayou gozaimasu, Master."
"Mari kita berdoa sejenak untuk keluarga Shion, dan Shion-kun, kami semua berharap lukamu cepat sembuh agar kau bisa mengikuti pelajaran kembali bersama kami, di sini."
"Kau seperti hewan peliharaan yang nakal,"
Bandaged Melody
Chapter 7 – Growling Tone
-Monday, February 5th, Morning
Gakupo mengerang kecewa ketika melihat papan pengumuman, di sana tertempel kertas pembagian kelas untuk masing-masing tingkatan siswa Vocalo High. Ia kecewa karena namanya tidak berada dalam kelas yang sama dengan Taito dan Luka.
"Sudahlah, nggak akan seburuk yang kau pikirkan!" ujar Taito yang sedari tadi mendampinginya. Ia sendiri akan sekelas dengan Lily, si rambut blonde yang terkenal di sekolah karena ia model. Sempat beredar kabar kalau dulu Lily menyukai Kaito, tapi mendiang kakaknya itu tak pernah menghiraukannya. Lily terlalu agresif, kata Kaito waktu itu.
Luka yang kebetulan baru saja datang langsung menghampiri Gakupo dan Taito. Gakupo yang melihat pantulan sosok pacarnya itu dari papan pengumuman yang terbuat dari kaca, langsung membalikkan badan dan mengecup cepat bibir Luka.
"Heeei…" wajah Luka memerah, namun tersenyum malu-malu.
"Aku nggak sekelas denganmu dan Taito lho." kata Gakupo akhirnya.
Luka melepas rangkulan Gakupo untuk melihat ke papan pengumuman. Beberapa saat kemudian ia mendesah kecewa. "Sou ne, tadinya aku berharap kalian sekelas lagi. Aku ingin kau menjadi mata-mataku untuk memastikan dia nggak main mata dengan cewek lain, Shion-kun."
Taito melirik penuh arti ke arah Gakupo.
"Hei, kenapa kalian- apakah wajahku terlihat seperti playboy atau sejenisnya?"
"Oh, kau tentu masih ingat dengan mantan-mantanmu di SMP dulu, honey." ledek Luka.
Gakupo mengatupkan giginya. "KAU! TAITOOOOO!"
"Megurine-chan memaksaku untuk bercerita, makanya aku..."
Namun pembelaan dirinya tak berguna, kini kepalanya menjadi korban jitak-usap Gakupo. Luka otomatis tertawa melihat kelakuan kedua sahabat itu.
Gakupo menghentikan kegiatannya setelah melihat rambut Taito yang sekarang terlihat mengerikan. "Percayalah, kau yang terakhir! Pleasee.." digenggamnya tangan Luka serius.
"Tentu saja…," Luka mendengus. "…tentu saja aku nggak akan percaya sebelum…"
Ucapannya terhenti. "Baiklah, aku percaya. Ayo masuk kelas."
Gakupo mendadak nyengir, lalu memandang Taito yang hanya mengendikkan bahu.
.
.
"Di mana Lily-chan?"
"Belum datang. Dia bilang padaku untuk menandai kursinya di situ."
"Cih, hanya karena dia sempurna bukan berarti dia mendapatkan segalanya, kan? Kursi paling tengah, pula. Oke, aku mengakui dia cantik dan cerdas. But she's a queen bee for real."
Taito tak sengaja mendengar percakapan – atau lebih tepatnya gosip – kedua teman sekelasnya, Hina dan Kaoru. Mereka berdua bergosip seakan tak ada Taito di sana. Kelas sudah ramai namun belum ada guru yang masuk. Taito sedang mendengarkan musik menggunakan headset, ia menyetelnya dengan volume rendah sehingga suara Hina dan Kaoru terdengar.
"Yaah, dengar-dengar sih," Hina melanjutkan pembicaraannya atas reaksi Kaoru barusan, "Dia sedang mengincar seseorang."
"Aku tahu. Kakaknya Shion-kun, kan? Kaito-senpai? Sayang sekali dia sudah meninggal."
"Bukan! Ini kabar terbaru, aku dengar dari mulutnya sendiri."
"Ah, ya. Kau teman dekat sekaligus tetangganya."
"Tepat. Sini, mendekatlah."
DEG.
Taito spontan menengok ke arah Hina dan Kaoru begitu mendengar Hina berkata, "Hiyama-sensei. Hiyama Kiyoteru-sensei, guru musik yang charming itu. Dengar-dengar juga beliau akan jadi wali kelas kita tahun ini."
Dan tentu saja kedua gadis itu kaget.
"…kau… mendengar… kami?" Kaoru terbata-bata.
Salah reaksi, Taito berusaha tenang. "…dengar apa? Aku…" ia menelan ludah. "…aku hanya teringat, apa kalian punya file silabus materi pelajaran hari ini? Kurasa aku mengunduh materi yang salah karena.. uh.., masih kurang fokus."
Kedua gadis itu mengubah ekspresi kaget mereka menjadi ekspresi berkabung.
"Oh, ya, tentu. Nyalakan bluetooth tab-mu. Akan kukirimkan." Kaoru tersenyum maklum.
Taito berusaha tersenyum sealami mungkin. "Thanks."
Kaoru tersenyum manis. "Jaga kesehatanmu, Shion-kun. Kami selalu ada buatmu, kok."
Taito tertawa garing. "Terima kasih banyak, Hanamiya-chan."
Hina kembali membuka topik, membiarkan Taito ikut bergabung dalam kegiatan ngobrolnya dengan Kaoru. "Oh ya, kau tahu nggak kalau wali kelas kita itu Hiyama-sensei?"
Taito menggeleng bohong. "Masa? Kupikir dia wali kelas sebelah."
"Harusnya aku yang bilang 'masa?' padamu. Kau 'kan satu tempat tinggal dengannya sekarang. Dia nggak memberi tahumu di awal?" Hina memancing, Taito kembali menggeleng.
"Mungkin beliau nggak mau ada kecemburuan sosial seperti, yah, kalian tahu, 'siswa kesayangan'. Jadi beliau menganggapku sama dengan siswa lain." – meskipun memang ia sedikit heran, mengapa masternya tak memberi tahu soal ini.
Penuturannya barusan membuat Hina tutup mulut.
"Okay, everyone to your seats!" tiba-tiba suara yang berasal dari sosok berkacamata itu menggema memenuhi kelas.
"Uwaa, benar itu dia!" Kaoru menepuk pundak Hina yang duduk di depannya, lalu melirik Taito di sebelah kirinya dengan tersenyum girang. Taito hanya mengacungkan jempol.
"Satu kursi yang masih kosong, siapa?" Hiyama-sensei membetulkan letak kacamatanya.
Lily.
"Si Kakak Model kita, Sensei.." nada bicara Piko meledek, membuat seisi kelas tertawa, termasuk Hiyama-sensei. "Mungkin kelelahan sehabis photo session atau apalah itu."
"Oh, ya, ya. Megupo Lily. Ada yang bisa mengontaknya?"
Hina membuka suara, "Lily bilang pada saya kalu ia terjebak macet, Sensei. Mungkin sekitar lima belas menit."
"OHAYOU GOZAIMASU!"
Mata seluruh siswa kelas menengok ke arah suara – pintu belakang kelas terbuka dan menampilkan sesosok gadis cantik bertubuh sempurna, berambut panjang sepunggung dan berwarna pirang keemasan. Tampangnya kelelahan pertanda ia habis berlari.
Hiyama-sensei menepuk dahinya. "Ya ampun, kami baru saja membicarakanmu karena kau belum datang." seisi kelas kembali terkekeh. "Duduklah. Salah seorang temanmu sudah berbaik hati mau menandai tempat untukmu, Megupo-san."
Lily langsung melesat ke kursinya dengan wajah bersemangat. Taito yang duduk di baris paling kiri dekat jendela, bersandar malas pada dinding selama memperhatikan Lily.
Selama pelajaran berlangsung, Lily-lah yang paling bersemangat dalam merespon apapun yang terlontar dari mulut Hiyama-sensei. Taito menatap gadis itu tajam. Kalau ini adegan dalam anime atau komik mungkin akan keluar aura hitam dari tubuh Taito sekarang.
"Baiklah, pengenalan lanjutan not balok hari ini cukup. Siapapun yang ingin bergabung ke klub vokal dan musik, silahkan datang ke auditorium hari ini- Senin, Rabu dan Kamis." mata Hiyama-sensei sekilas melirik ke arah Taito, kemudian Lily, bergantian dari balik kacamatanya.
Ia seperti mengerti sesuatu.
"Oke, waktunya istirahat. Pastikan kalian menggunakan tiket makan siang kalian, ya! Menu hari ini lasagna dan pudding jeruk, lho."
"Haaaai, Sensei! Arigatou gozaimashita!"
Sebentar saja setelah Hiyama-sensei keluar ruangan, seisi kelas berkasak-kusuk gembira tak terkecuali siswa laki-laki. Tentu saja membicarakan wali kelas mereka yang sekarang itu.
Hina menepuk pundak Lily. "Sepertinya waktu ketika Hiyama-sensei masih jadi guru bidang studi dan belum jadi wali kelas kita, reaksinya nggak se-heboh ini, Ly-chan."
"Hmm, santai saja. Sebentar lagi aku pasti bisa dekat dengannya."
"Cih, iya ya, dengan tubuh sempurna itu, siapa yang nggak mau?" ledekan Hina barusan terdengar keterlaluan, tapi kelihatannya Lily sudah biasa.
Lily yang malang, ia menganggap Hina sebagai teman dekatnya tapi terlihat sekali Hina sebenarnya kurang menyukai Lily. Mereka bertetangga, itulah satu-satunya yang membuat mereka terlihat dekat.
"Ya, ya, terserah saja, deh." Lily mengibaskan tangannya. "Oke, kalau gitu sepulang sekolah nanti aku harus ke klub."
Hina tertawa mengejek. "Sejak kapan kau pegang instrumen?"
"Ck, itu klub vokal, tidak harus berarti 'musik', kan?! Dan kau kan tahu kalau aku bisa mempelajari segalanya dengan cepat, Hinaho."
"Hei! Jangan panggil aku 'Hinaho'!"
Karena 'Hinaho' adalah akronim dari nama depan Hina sendiri, 'Hina', dan 'ho' diambil dari kata 'aho' yang berarti 'tolol' atau 'dungu'. Lebih kasar dari 'bodoh'.
"Ahaha, gomen, gomen. Habisnya pikiranmu pendek sekali, sih." Lily mengelus rambut Hina seakan mereka sahabat dekat yang sudah kenal lama sekali. Lily tak tahu.
"Lihat saja nanti…" gumamnya pelan.
Taito yang memperhatikan segalanya dari belakang, tak berhenti memainkan kuku-kukunya – menjentikkan mereka satu sama lain.
.
.
Jam pelajaran hari itu berakhir. Taito segera menuju auditorium mendahului Lily yang masih mengobrol. Nafasnya terengah, ia sengaja tak meminum obatnya hari ini.
Hingga sesampainya di auditorium, ia membuka dan menutup pelan pintu auditorium yang terbuat dari kaca, berusaha terlihat normal. Terlihat Hiyama-sensei sedang asyik memainkan sebuah simfoni dengan sebuah pulpen terapit di bibir.
"Oh, hei," katanya singkat, melepas pulpen dari bibirnya dan menaruhnya di dekat lembaran partitur. "Kau terlihat sedikit pucat."
Taito tidak berkata apapun, menaruh tas sembarangan, dan langsung mengambil duduk di sebelah masternya itu.
"Wow, kau-" Hiyama-sensei terkekeh. Tumben anak ini, pikirnya. "Baiklah. Apa yang akan kita mainkan? Simfoni Mozart? Moonlight Sonata?"
Lagi, tanpa berkata, jemari Taito mulai menekan tuts piano… dan mulai bernyanyi.
Kabosoi hi ga kokoro no hashi ni tomoru,
Itsunomanika moe hirogaru netsujou…
"Tunggu. Kenapa lagu ini?"
Akhirnya Taito tersenyum. "Lagu ini terdengar manis."
Hiyama-sensei melongo sejenak. "Right." tangannya menepuk kepala Taito lembut.
Sebentar saja Hiyama-sensei sudah larut dalam permainan bersama anak murid sekaligus kekasihnya itu…
Watashi no chou fukisoku ni tobimawari, anata no te ni rinpun wo tsuketa
Karami au yubi hodoite, kuchibiru kara shita he to
Yurusarenai koto naraba naosara moe agaru no..,
Dakiyosete hoshii, tashikamete hoshii, machigai nado nain da to omowasete,
Kisu wo shite, nurikaete hoshii,
Miwaku no toki ni yoishire oborete itai no~
KRIET…
Permainan piano mereka terhenti ketika pintu dibuka seseorang. Lily.
"Ah! Megupo-san, masuklah." Hiyama-sensei berdiri dari duduknya, ia kembali bersikap alami setelah tadi perasaannya sempat terhanyut. Taito pun tersenyum menyambut Lily.
"Hanya ada kau di sini, Shion-kun?" selidik Lily disambut anggukan Taito.
"Sini, duduk di sebelahku. Aku baru saja akan pulang, malas, tidak ada teman lain untuk kolaborasi. Tapi ternyata ada kau, hahaha…"
Hiyama-sensei tersenyum mendengar jawaban Taito. "Sebetulnya anak-anak memang jarang berkumpul hari Senin, biasanya penuh di hari Kamis karena auditorium ini dibuka agak sore, pukul 4. Jadi kalian bisa beristirahat dulu sebelum memulai kegiatan klub."
Namun Lily terlihat canggung. Ia terus mencuri pandang ke Hiyama-sensei, sampai akhirnya ia memberanikan diri menghadap ke arah Hiyama-sensei dan membelakangi Taito. "Sebenarnya saya tidak mahir piano. Dan kebetulan hari Kamis ada jadwal pemotretan pukul 3."
Taito memutar matanya kocak. Hiyama-sensei seperti paham, senyumannya tertahan.
"Sou ka, jadi minggu ini kau hanya bisa berkumpul pada hari Senin dan Rabu? Oke. Shion-kun, tolong minggir… aku akan langsung mengajari nona ini."
"Hai haiii~" Taito bergerak enggan.
Ekspresi senang Lily terlihat jelas. Nah, sekarang Taito benar-benar benci pada gadis ini.
Hampir satu jam mereka di sana, dan Taito mengakui kalau permainan piano Lily sangat buruk, bukanlah 'pembelajar yang cepat'. Hiyama-sensei sudah membantunya menekan tuts dengan lembut, bahkan dengan cara menempelkan jemarinya pada jemari Lily, tapi entah kenapa Lily selalu menekannya terlalu kasar sehingga nada yang dihasilkan tidak sesuai.
Kau grogi, ya?
Lily berhasil membuat Hiyama-sensei terbawa dalam kegiatan 'latihan' itu.
.
"Uhuk…" Taito terbatuk, nafasnya tersengal. Hiyama-sensei otomatis menengok ke arahnya dan seketika melupakan Lily. Ia segera menghampiri Taito.
"Kau sudah minum obatmu?" bisiknya halus.
Taito mengangguk bohong, nafasnya mulai sesak.
"Shion-kun… mau kutelepon ambulans, Sensei?" seru Lily dengan nada prihatin.
Ambulans, pikir Taito kesal setengah mati. Supaya kau bisa bersenang-senang berdua bersama Master sementara aku di rumah sakit, kan?
"Maaf, Megupo-san, latihan hari ini kita sudahi dulu. Tidak usah telepon ambulans, terima kasih. Shion-kun hanya perlu istirahat. Ini biasa terjadi, kok." papar Hiyama-sensei sambil menempatkan Taito dalam rengkuhannya karena sesak nafasnya bertambah parah.
"Oh," Lily hanya bisa pasrah, kecewa. "Baik, Sensei. Terima kasih banyak."
"Dan kau sebaiknya pulang juga, ya? Aku akan minta tolong Pak Yamada untuk mengunci auditorium dan membuat pengumuman dadakan kalau latihan klub hari ini ditiadakan. Kita akan bertemu kembali hari Rabu."
-Thursday, February 8th, Morning
"Shion-kun, bisa kau berikan ini pada Hiyama-sensei nanti?" Lily menjulurkan kantong plastik mini berisi empat buah biskuit imut. "Aku 'kan nggak bisa ikut klub hari ini, jadi aku ingin memberikan ini padanya sebagai ucapan terima kasih pertama, hehehee…"
'Ucapan terima kasih pertama'? Apa lagi itu?
"Mm… maksudnya?"
"Seperti 'yoroshiku onegaishimasu' – 'mohon bantuannya'! Semacam itulah." pipi Lily memerah malu. "Karena aku merasa sangat terbantu dengan latihannya."
"Kenapa nggak kau saja yang memberikannya sejak hari Rabu kemarin?" Taito masih ingat dirinya yang amat-sangat kesal karena Lily mulai berani sejak kemarin; ia selalu menawarkan diri setiap Hiyama-sensei butuh bantuan.
"A-aku…" Lily terbata. "Aku baru terpikir untuk membuat yang semacam ini, dan… aku malu!" tangannya meremas tangan Taito yang tergeletak di meja. Terasa dingin.
Apa-apaan ini, kenapa jadi sok akrab dengan memegang tanganku begini?!
"Oh, jadi ini buatanmu?" Taito membiarkan tangannya dalam genggaman Lily, berusaha seperti teman laki-laki yang asyik meskipun hatinya dongkol. "Buatkan aku juga, dong."
"Hm! Kapan-kapan, ya!" Lily lalu tersenyum manis, melepaskan tangannya dari Taito lalu duduk kembali di kursinya. "Makasih, Shion-kun."
.
.
Jam sekolah usai, pukul 2. Taito baru saja akan melancarkan rencananya saat Gakupo melambaikan tangan ketika keluar kelas.
"Hey, kau mau ke mana dulu sementara menunggu klub dimulai? Luka mengajakku makan tiramisu di kafe depan, kau gimana?"
"Perpustakaan saja, aku mau tidur."
"Sleepyhead. Tapi nilaimu tetap saja A." Gakupo berdecak. "Kau memang… Mr. A!"
"Maksudmu 'Excellent'? Tentu saja!"
"A! ANEH!" Gakupo keburu berlari kabur sebelum Taito sempat bertindak membalas.
Gakupo-kun, kau sialan. gumamnya tulus dalam hati memandang sosok sahabatnya itu.
Sekarang, aku harus ke sana. Semoga dia belum jauh.
.
.
-Megupo Lily's house
Lily terheran ketika mengintip dari lubang kaca di pintu dan melihat sosok yang bertamu adalah Taito. Bagaimanapun, ia lantas membukakan pintu.
"Terima kasih. Maaf mengganggu…"
Lily mempersilakan, lalu menutupnya kembali. "Kau tahu rumahku dari mana?"
"Bertanya ke Furukawa-san." bohongnya menyebut nama Hina. Padahal ia membuntuti Lily dari belakang. "Kau sendirian?"
"Ya, begitulah. Ayah dan ibuku ada urusan bisnis di luar kota, dan pembantuku baru saja kusuruh ke supermarket untuk belanja." Lily menghela nafas. "Ada perlu apa, Shion-kun?"
Oh, baguslah. Tapi berarti aku harus cepat.
"Aku ingin kau membantuku tugas aransemen musik. Aku bawa laptop, kok."
"Ow, tentu saja! Sejak diajari Hiyama-sensei, aku merasa tambah ahli, hehehe…" lelucon dan tawa itu terdengar sangat menyebalkan di telinga Taito. "Kau mau minum apa?"
"Apa saja, terima kasih. Aku harus cepat kembali ke sekolah untuk klub. Lagipula kau nggak ingin biskuitmu menjadi sia-sia karena aku lupa memberikan pada Sensei, kan?"
Tawa Lily terdengar dari dapur di belakang. "Kalau gitu jus jeruk, ya!"
Taito mengiyakan. Ia mulai memposisikan laptopnya sesuai rencana; yakni dengan menghadap area depan rumah.
"Hai, douzo…" Lily meletakkan dua buah gelas berisi jus di atas meja.
Sepuluh menit berlalu dan mereka berdua – terutama Lily, asyik dalam kegiatannya…
"Maaf, aku… mau pipis." Taito berkata malu-malu. Lily yang mengerti, hanya menunjukkan letak toilet dengan jarinya pada Taito sambil tetap memainkan kursor laptop.
Tak perlu waktu lama bagi Taito untuk melaksanakan rencananya. Saat keluar dari toilet yang tentu saja hanya alibi, ia mengambil sebuah benda dari dapur.
Dan apa yang akan terjadi berikutnya, harusnya menjadi sangat mudah bagi Taito karena posisi tubuh Lily yang membelakangi seluruh penjuru rumah.
.
SRUTT-
Lily mendesis kesakitan, tubuhnya ambruk ke belakang. Benda yang diambilnya dari dapur itu tampaknya sukses menembus bagian ginjal Lily, sehingga saat Taito menarik kembali benda itu keluar, darah muncrat ke mana-mana.
"UOHOKKK!" Lily terbatuk kencang. "Shi—on.."
Taito menduduki tubuh Lily yang kini terlentang lemas, "Kau jalang."
Lily tentu saja bingung. Di luar dugaan Taito, Lily yang tampak lemas tiba-tiba menerjangnya hingga posisi mereka berdua terbalik – Lily menduduki tubuh Taito, dan secepat kilat pisau di tangan Taito berpindah ke tangannya.
"Jangan remehkan aku," nafasnya tersengal. "Apa maksudmu dengan sebutan itu, hah?!"
"Kau menyukainya, tapi dia milikku."
"Dia?-" Lily menyeringai, rupanya ia cepat paham. "Kau menjijikkan!"
Perkataan barusan begitu menghunjam perasaan Taito, mereka berdua saling bergumul – Lily berusaha menyerang Taito dengan pisau sementara Taito meronta-ronta hingga pada suatu kesempatan, lututnya berhasil mengenai area luka tusukan Lily. Gadis itu kembali roboh, terbatuk-batuk… hingga kini batuknya bercampur darah.
Namun Taito sedikit terkejut karena Lily masih sanggup berdiri dengan terhuyung-huyung, tangannya hampir saja menyentuh ponsel di atas meja kalau saja Taito tak langsung melempar ponsel itu jauh-jauh. Lily kehabisan kesabaran, didesaknya Taito ke dinding.
"Ternyata kau kuat juga," Taito sedikit tertawa geli.
Lily tersenyum merendahkan. "Dan kau gay." tambah didesaknya Taito sambil menahan sakit. "Kau tahu, aku BENCI sekali laki-laki kotor macam kau."
"Aku adalah aku, kau adalah kau." gigi Taito mengatup, perasaannya terluka. "Aku mencintainya. Bahkan kau tahu, dia duluan yang menyatakan perasaannya padaku."
Seringai Lily bertambah. Ia menggerakkan pisaunya ke mata kanan remaja laki-laki itu,
"Aaaawwh…" dilepasnya eyepatch Taito dengan kasar menggunakan ujung pisau. "Kau nggak hanya cacat fisik, tapi juga cacat kepribadian, Shion-chan. Oh, di mana Hiyama-sensei sekarang, ya? Kau nggak berusaha minta tolong pada pacarmu itu?"
Taito tak dapat menahannya lagi.
SET.
Tangannya menempelkan sebuah alat penghantar listrik bertegangan sedang tepat ke bagian perut Lily ketika gadis itu hampir menggores pisaunya ke leher Taito.
ZRRRTTTTTT
Sambil mengerang, Taito mendorong tubuh Lily yang mengejang dari hadapannya.
Kali ini Lily terkapar telak. Nafasnya hampir-hampir tak ada.
"Kau tahu, Furukawa-san dan Hanamiya-san sebenarnya membencimu. Kakakku pun nggak suka padamu. Kau pikir bisa dengan mudah mengambil satu-satunya kebahagiaanku sekarang?" Taito menyeringai puas, dadanya penuh emosi. "Dia Masterku."
"Kalian… berdua… abnormal."
Rupanya Lily masih sanggup bicara.
Tak perlu berlama-lama, Taito berjongkok,
meraih pisau yang masih berada di genggaman Lily,
dan menyayat bagian nadi leher gadis itu, perlahan sekali.
Darah mengucur deras dari sana.
"Just die, you fucking bitch."
.
Lima menit.
"Oh, kau sudah menghilang, ya…" Taito bergumam sendirian. "Cepat sekali."
Ia menghela nafas lelah memandangi tubuh Lily yang sudah tak bernyawa.
Hah! Sekarang saatnya aku membereskan semua ini sebelum jam 3.
Dan begitulah, Taito segera beranjak merapikan kekacauan yang dibuatnya; memasukkan laptopnya kembali ke tas, mencuci tangan yang sedikit berdarah dan mencuci gelas yang tadi digunakan untuk jus jeruk lalu menaruhnya kembali di rak, mengelap bersih segala sesuatu di sana, kemudian menginvasi seluruh sudut rumah untuk memastikan adanya kamera CCTV. Setelah agak lama dan hasilnya nihil, ia kembali menghela nafas, lega.
Dengan langkah riang, Taito mengambil tasnya lalu berjalan ke luar rumah.
Ia melihat jam, pukul 3.10, lalu kembali memandangi mayat Lily.
Ternyata memang nggak bisa secepat itu, ya. Sedikit molor dari rencana, tapi biarlah.
Perlahan bibirnya mengulaskan senyum tipis.
Hiyama Kiyoteru, masterku, dia hanya milikku.
a/n:
Aku jadi ngebayangin betapa sweetnya Kiyoteru-sensei sama Taito kalo duet beneran XD
Dan Lily-chan, gomen, honey, aku harus membuatmu jadi tokoh antagonis di sini :"3
RnR please, minna~ :3
==Rin==
