Ahjussi, I Love Your Son!
.
.
Boy x Boy
.
Lee Family : Lee Sungmin, Shim(Lee) Changmin, Kim(Lee) Junsu.
Cho family : Cho Kyuhyun, Jung(Cho) Yunho, Kim(Cho) Jaejoong.
Cast yang lain nyusul^^
.
.
Warning : Chibi!KyuMin for this chap. Typo(s) dimana-mana, humor gagal. No Bash and Flame,please!
.
.
Disclaimer : Cerita ini murni milik saya. Jika terjadi kesamaan tokoh, itu jelas bukan sebuah kesengajaan^^. Dilarang meng-copy paste tanpa sepengetahuan saya, okey?
.
.
.
Langit tak selamanya cerah...
Sama seperti angin yang tak selalu berhembus kencang ditempat yang sama...
dan saat kisah kita menemui koma, aku harap kau ada untuk membantuku menemukan titiknya.
Sudah beberapa hari ini Seoul diguyur hujan lebat di malam hari. Biasanya baru akan mulai turun pada saat menjelang jam makan malam yang juga merupakan waktu pulang ke rumah bagi sebagian besar masyarakat Korea selatan, namun sepertinya malam ini hujan akan turun lebih awal dari biasanya. Membuat udara malam yang sudah –amat- cukup dingin menjadi lebih dingin lagi. Menurut perkiraan cuaca setempat, hal seperti ini masih akan terus berlangsung hingga beberapa minggu ke depan. Dan itu artinya peran payung akan sangat dibutuhkan terutama bagi mereka yang baru akan usai bekerja disaat menjelang waktu makan malam. Atau mereka harus rela berlari di bawah rinai hujan demi mencapai halte-halte bus terdekat dan masih harus menunggu dalam kondisi basah kuyup hingga transportasi umum itu datang dan mengantarkan mereka ke tempat tujuan masing-masing.
opsi yang tak mengenakkan bukan?
"Kau belum pulang Sungmin-ah?" Pandangan seorang namja manis dengan postur tak terlalu tinggi yang sebelumnya mengamati butiran hujan yang mengalir dari dinding kaca disebelahnya segera teralihkan. Menengok ke sisi kiri dimana seorang pemuda seusianya tengah merapikan beberapa barang di atas meja kerja miliknya. Sepertinya pria itu sudah akan pulang.
"Ya, aku sedang menunggu Kyuhyun. Kau sudah mau pulang Eunhyuk-ah?"
Yang ditanya mengangguk tanpa menoleh, meraih long coat coklat miliknya untuk kemudian dikenakan. "Ibuku sedari tadi terus menghubungiku dan menyuruhku cepat pulang sebelum hujan semakin deras. Ia mungkin lupa bahwa aku bukan lagi bayi kecilnya yang selalu terkena demam setiap kali bermain di bawah guyuran hujan." Sungmin tertawa renyah mendengar gerutuan Eunhyuk yang saat ini tengah melilitkan syal berwarna senada dileher jenjangnya. "Ah- iya, kau apa masih lama menunggu kekasihmu itu? Tak mau ikut sekalian saja denganku?"
'Kekasih? kami bahkan bingung menyebutnya apa sekarang'
"Aniyo Eunhyuk-ah, kurasa saat ini dia sudah dalam perjalanan kemari." Sungmin menolak dengan halus. Tak lupa senyum manis yang sengaja ia uraikan sebagai tambahan untuk meyakinkan pria itu. Berusaha menutupi sesuatu yang tengah bergejolak di dalam dirinya.
"Hah~ baiklah.. baiklah. Tunggulah pangeranmu itu datang dan aku akan segera pergi agar tak mengganggu kalian bermesraan. Hahahaha~~ Jja, aku pulang dulu Sungmin!" Eunhyuk melambaikan tangan setelah sebelumnya memberikan satu kedipan mata pada Sungmin. Kebiasaannya jika tengah menggoda seseorang dan Sungmin adalah korban terseringnya sejak 3 tahun mereka bekerja bersama.
"Ku rasa hujan akan semakin lebat." Sungmin mengalihkan kembali atensinya ke dinding kaca di sebelahnya.
Pria manis yang sudah menginjak usia 26 tahun itu lalu bangkit dari kursi 'nyaman'nya dan berjalan mendekat. Menyaksikan pemandangan malam Seoul dari lantai 9 gedung kantornya. Tampak beberapa orang di bawah sana –yang lebih terlihat seperti semut- tengah hilir mudik berlari menghindari tetesan hujan yang dipastikan akan semakin lebat mengguyur Seoul malam ini.
"Apa yang kau lihat di sana Sungmin?"
"Kyu?" Sungmin berbalik dan melihat sosok pria yang sedari tadi ia tunggu. Pria tampan dengan stelan jas hitam pekat dengan aksen sedikit mengkilap di bagian kerahnya itu tengah berjalan mendekat kerahnya.
Kyu atau lebih tepatnya Kyuhyun mengedarkan pandangan menelisik ke segala penjuru ruangan. Semua karyawan di sana sepertinya sudah pulang semua. Terbukti dengan hanya tersisanya sekat-sekat kosong dengan tumpukan berkas dan note tempel dimana-mana. "Apa aku terlambat? Maaf karena kau harus menunggu lebih lama, Sungmin." Kyuhyun maju dan mengecup kening Sungmin sekilas sebelum menarik lembut pemuda itu mengikuti langkahnya. Jam makan malam sudah lewat setengah jam yang lalu dan Kyuhyun jelas harus segera memulangkan Sungmin jika tak ingin pria mungil itu sakit. Lagipula seluruh badannya pun tak kalah pegal dan bayangan kasur empuknya di rumah sudah cukup menggodanya untuk segera beristirahat.
Sungmin meraih coat merahnya saat mereka melewati meja kerja miliknya. "Tak apa, Kyuhyun. Kau juga pasti sangat sibuk."
"Um, Appa melimpahkan dua proyek sekaligus dan itu cukup menguras tenaga."
"Harusnya kau tak usah menjemputku saja. Aku bisa membawa mobil jika kau mau." Sungmin berujar sambil membungkukkan sedikit badannya saat berpapasan dengan beberapa karyawan di divisi lain yang kebetulan belum pulang. "Selama aku masih ada, kenapa kau harus melakukannya huh?" Kyuhyun berujar santai sembari menarik Sungmin memasuki lift. Menekan tombol menuju lantai dasar dimana mobilnya terparkir.
Sungmin tersenyum kecil dan entah mengapa lebih terlihat seperti senyum yang mengambang. Pandangannya beralih menyapu lantai lift dengan jemari yang kini bertaut dengan milik Kyuhyun. Kalau boleh jujur, ada banyak sekali hal-hal yang tengah ia pikirkan tentang pria disampingnya itu dan kebersamaan mereka tiap harinya nyatanya membuat Sungmin makin tersiksa batin.
Ting~!
Lift terbuka dan Kyuhyun dengan gentle menggandeng tangan Sungmin menuju deretan mobil yang berada paling dekat dengan pintu lift bassment.
"Kau ingin makan diluar atau langsung pulang, Sungmin-ah?" Kyuhyun bertanya saat mereka telah memasuki mobil hyundai sonata putih miliknya.
"Aku tau kau lelah Kyu. Lebih baik kita langsung pulang saja." Sungmin merasa Kyuhyun sudah cukup lelah dengan menjemputnya dan tak pantas rasanya jika ia masih harus menunda waktu istirahat pria itu meski tak dipungkiri perutnya tengah dalam keadaan lapar.
"Tak masalah jika kau ingin makan dulu, Sungmin-ah. " Kyuhyun menghidupkan mesin mobilnya sembari menatap sekilas pada Sungmin.
"Aku bisa pergi sendiri jika aku memang mau Kyuhyun dan nyatanya aku sedang tak ingin makan diluar." Sungmin tau sekeras kepala apa Kyuhyun jika sedang memiliki kemauan dan itu juga yang membuatnya berani mengeluarkan kalimat seperti itu yang demi Tuhan sama sekali tak bermaksud menyakiti harga diri pria tampan tersebut. Hanya saja, Sungmin merasa jika ia tak mengucapkan kalimat tegas seperti itu Kyuhyun tak akan berhenti mendesaknya seperti sebelum-sebelumnya. Dan berakhir dengan Sungmin yang harus mengalah dan Kyuhyun yang memaksakan diri.
"Kenapa Sungmin? Apa aku tak boleh mengantarmu kemanapun kau mau?"
"Bukan be—"
"Apa karena aku bukan kekasihmu?"
Seperti mendengar suara bom. Kalimat terakhir Kyuhyun sempat membuat Sungmin terkejut, namun itu semua segera terganti dengan tatapan sendu yang ia lemparkan pada Kyuhyun yang kini tengah menatapnya dari samping dengan pandangan datar yang menyiratkan luka. "Kyuhyunnie... Aku benar-benar tak ingin kita kembali bertengkar karena hal ini–"
"Benar. Mari tak usah membahasnya lagi. Bagimu sepertinya tak begitu penting." Kyuhyun berujar cepat memotong kalimat Sungmin yang wajahnya makin pias. Pria itu memutuskan kontak mata mereka dan segera melajukan mobilnya dengan kondisi diam.
Pemuda satunya yang memiliki paras manis memilih mengalihkan pandangannya ke arah kaca jendela. Berusaha sebisa mungkin agar tidak menatap Kyuhyun dan menyembunyikan air mukanya yang pucat pasi menahan sesak yang selalu hadir setiap kali topik ini mereka bahas.
Dulu sekali...
Sungmin pikir Kyuhyun akan mengerti, namun nyatanya 8 tahun ini berlalu dengan banyak hal yang membuatnya tak lagi seceria Sungmin yang dulu. Tak ada yang tau bagaimana pemuda manis ini menyimpan semuanya seorang diri dan berharap ada seseorang –ia berharap itu Kyuhyun – yang akan mengerti arti dari semua tindakannya ini. Namun nyatanya semua tak sesuai harapan Sungmin, dan perlahan harapan itu justru berbalik menjadi bumerang untuk dirinya sendiri. Bagaimana dirinya digerogoti oleh perasaan bersalah yang membuatnya menjadi seorang pesakitan yang menyedihkan meski ia juga tau Kyuhyun pun sama menderitanya. Tapi sekali lagi, Sungmin bisa apa jika ini menyangkut orang tuanya? Menyangkut ayahnya dan juga impian hidupnya?
.
.
.
Sungmin turun dari mobil Kyuhyun tanpa kecupan selamat malam yang biasanya selalu Kyuhyun tinggalkan di dahinya. Pemuda bermarga Cho itu hanya diam sepanjang perjalanan menuju rumah Sungmin dan pergi begitu saja sesaat setelah Sungmin turun dari mobilnya.
Sungmin menghela nafas berat, dirinya masih berada disana sembari menatap mobil Kyuhyun yang semakin menghilang dari pandangan. Entah mengapa situasi seperti ini selalu mempersulit keduanya bahkan hingga usia mereka cukup dewasa. Siwon bahkan tak henti menanyakan ada apa sebenarnya dengan hubungan mereka berdua yang mengambang pada satu titik saja.
"Aku pulang~"
Sungmin melangkah dengan gontai saat memasuki kediamannya. Tak ada suara yang menyambutnya seperti biasa karena ayah-ibunya tengah berada di Busan dan entah mengapa kali ini Sungmin justru bersyukur karena setidaknya ibunya tak perlu melihat matanya yang memerah dan tubuhnya yang basah karena guyuran hujan.
"Apa yang harus aku lakukan..." Sungmin melempar tas kerjanya ke arah kasur dan melenggang ke kamar mandi. Ia ingin berendam lebih lama malam ini untuk menghilangkan pikirannya yang tengah kacau karena Kyuhyun.
"Haruskah aku seperti ini selamanya..." Gumaman lirih Sungmin berubah menjadi suara gelembung air saat pemuda manis itu memilih menenggelamkan seluruh tubuhnya di dalam bathup. Berharap perasaan sesaknya turut menghilang –atau setidaknya berkurang- bersama dnegan gelembung-gelembung air yang berlomba-lomba muncul dipermukaan.
...
Sungmin bangun pagi-pagi sekali untuk membuat sarapan. Semalam, seusai berendam ia justru tertidur di kasur empuknya dengan hanya mengenakan bathrobe saja. Melupakan perutnya yang kosong karena melewatkan makan malam.
Dan pagi ini ia benar-benar berada dalam kondisi kelaparan terlebih saat makan siang di kantor kemarin ia hanya mengisi perutnya dengan sebuah burger dan hot latte. Mengingat itu Sungmin menggeleng pelan. Sepertinya ia harus mulai menghindari junk food seperti itu jika tak ingin kesehatannya terganggu.
Sungmin tersenyum melihat salad apel madu dan bacon panggang yang selesai ia masak. Melihat salad sayur dan apel itu membuat Sungmin seketika teringat pada Kyuhyun. Biasanya saat melihat salad, pria tampan itu akan menunjukkan wajah horor dan beringsut menjauhi dirinya yang selalu terobsesi membuat Kyuhyun menyukai sayur.
Hatinya kembali berdenyut. Ia merindukan Kyuhyun saat ini, tapi seperti yang sudah-sudah, mereka mungkin baru akan bertemu 2 atau 3 hari setelahnya ketika kondisi hati mereka berangsur membaik. Dan itu artinya hari-hari Sungmin akan kosong untuk beberapa saat.
Saat hendak mengangkat mangkuk salad dan baconya ke meja makan, tiba-tiba sebuah ide melintas begitu saja di benak pemuda kelahiran Januari tersebut. Senyumnya melengkung dan jemarinya dengan cekatan kembali mengeluarkan beberapa bahan makanan dari dalam lemari pendingin. Hatinya mendadak riang membayangkan apa yang tengah melintas di benaknya.
Hari ini ia akan berkunjung ke kantor Kyuhyun dan membawakan pria itu bekal makan siang. Meski tak sepintar sang umma dalam urusan dapur tapi jika hanya membuat bekal Sungmin yakin ia bisa melakukannya dengan baik. Dan setelahnya keadaan akan membaik seperti sedia kala. Setidaknya itulah yang tengah berada dalam kepala cantiknya. Ugghh.. Rasanya ia sudah tak sabar berbaikan dengan teman masa kecilnya itu.
.
.
.
Sungmin tiba dikantor Kyuhyun tepat pada jam 12 siang. Pemudia itu tersenyum ramah pada beberapa karyawan Kyuhyun yang tak sengaja berpapasan dengannya. Dirinya memang lumayan sering berkunjung kemari sejak Kyuhyun di angkat menjadi CEO dua tahun lalu. Jadi tak heran jika banyak dari mereka yang mengenal Sungmin sebagai salah satu teman dekat atasan mereka tersebut. Terlebih beberapa kali Sungmin memang turut hadir dalam beberapa perayaan perusahaan mereka bersama Kyuhyun dan beberapa teman Kyuhyun yang lain.
Sungmin merogoh saku jas abunya saat ponsel pintar miliknya bergetar. Sedikit tersenyum saat melihat nama Hyukkie tertera pada ID call ponselnya.
"Ne Hyukkie? Mianhae meninggalkanmu. . Aku sedang berada di kantor Kyuhyun. Kau makan dengan Jimin nonna saja okey?"
"..."
"Ck! Aku kan sudah minta maaf. Ne, ne, ne.. Kau ini jadi cerewet sekali sih. Sudah dulu ya Eunhyuk-ah, bye!"
Sungmin menggeleng. Eunhyuk kadang-kadang benar-benar berpotensi merusak gendang telinganya. Namun meskipun begitu Sungmin tetap merasa bersyukur memiliki teman seceria Eunhyuk. Bukan hanya karena sifat Eunhyuk yang menyenangkan, tapi juga karena temannya itu tau bagaimana caranya membuat seseorang merasa nyaman berada di dekatnya.
DEG.
Saat hendak berbelok menuju lift, dirinya di kejutkan dengan dua orang yang baru saja keluar dari pintu lift yang hendak ia tuju. Lebih tepatnya pada namja yang ada disana. Merasa harus segera sembunyi –entah dorongan dari mana, Sungmin bergerak mundur dan bersembunyi di balik dinding tak jauh dari tempatnya berdiri.
Genggaman tangan pada tas makanannya mengerat begitu saja. Beberapa meter di depan sana ia melihat Kyuhyun tengah berjalan dengan seorang wanita cantik yang mengenakan kemeja putih berenda dengan rok span kuning menyala. Sesekali mereka terlihat tertawa bersama dan entah tengah membicarakan apa. Mesra sekali...
Bohong jika Sungmin tengah baik-baik saja. Beragam spekulasi tengah memenuhi kepalanya perihal apa yang baru saja ia lihat. Sungmin yakin ia tak mengenal wanita berambut lurus sepinggang itu dan Kyuhyun pun tak pernah sama sekali mengenalkannya sebagai teman ataupun patner kerja. Padahal sejak masih sekolah dulu, Kyuhyun tak pernah menyembunyikan apapun darinya termasuk teman sekalipun. Tapi ini? mereka bahkan seolah telah kenal bertahun-tahun lamanya...
Fakta ini membuatnya dirundung perasaan sesak yang membuat aliran darahnya seolah berhenti di beberapa titik. Walaupun sudut hatinya berusaha menyangkal dan berfikir jika mungkin wanita itu hanya rekan kerja Kyuhyun, tapi toh semua itu sia-sia juga. Pikiran buruknya kian menjadi-jadi. Terlebih bukankah selama ini Kyuhyun bilang pria itu mencintainya? Lalu apa yang tengah ia lihat tadi? Kyuhyun bahkan tak menampakkan raut terpaksa sama sekali seperti halnya ketika pria itu di dekati seorang gadis.
Lalu- apa ini pertanda jika Kyuhyun sudah menemukan sosok lain selain dirinya yang nyatanya hanya bisa menyakiti pria itu? Apa setelah ini Kyuhyun akan pergi meninggalkannya dan membangun keluarga kecilnya bersama wanita itu?
BRUK~
Tas berisi makanan itu jatuh begitu saja. Bersamaan dengan pandangannya yang mulai tak fokus. Demi tuhan hatinya tengah sakit dengan apa yang ia pikirkan dan yang tengah ia hadapi.
"Kyuhyun- " Suaranya tercekat.
Dengan jarak yang lebih dekat ia bisa melihat bagaimana tangan Kyuhyun melingkar di pinggang wanita itu dengan sesekali masih bersenda gurau.
Dibekapnya bibir semerah Cherry itu kuat. Menghalau isakan yang mungkin bisa kapan saja keluar. Tidak, ia namja dewasa saat ini! Menangis sama saja dengan merendahkan harga dirinya.
Seketika ia teringat tentang doa-doanya selama ini. Tentang ia yang selalu meminta jawaban terbaik atas apa yang selama ini mengganggunya dan hari ini Sungmin seolah ditampar keras. Begitu keras hingga rasanya ia tak sanggup menopang berat badannya sendiri. Tangannya bergetar dan perutnya melilit. Mungkin kah... Mungkinkah ini jawaban dari Tuhan perihal kelanjutan hubungannya dengan Kyuhyun? Jika memang iya, sanggupkah ia merelakan Kyuhyun?
Dengan wanita itu?
Pemuda manis itu makin mundur ke belakang. Bersandar pada dinding yang melindunginya saat Kyuhyun dan gadis itu lewat tepat di hadapannya. Ia bahkan bisa mendengar tawa renyah Kyuhyun dari jarak sedekat itu.
"Nona Seohyun cantik sekali ya? Aku yakin ia pasti selalu mengikuti perawatan kelas mahal."
"Dia kan anak orang kaya, wajar saja jika melakukannya. Dan lagi sepertinya ia tengah menjalin hubungan dengan Tuan Kyuhyun. Hidupnya pasti lebih terjamin."
"Kau benar. Mereka memang nampak begitu serasi."
Dua orang karyawan wanita yang bergerak melewatinya justru makin memperburuk keadaan. Sungmin merasa dirinya begitu kecil jika dibandingkan dengan wanita yang mereka sebut-sebut bernama Seohyun itu. Ia hanya seorang pria biasa yang bekerja di perusahaan yang tak lebih besar dari milik Kyuhyun. Ditambah hubungan rumitnya dengan Kyuhyun yang entah bisa disebut apa.
Setetes liquid bening mengalir turun dari manik beningnya. Tanpa isakan wajah itu perlahan basah oleh air mata. Sungmin memandang lurus. Tatapannya terkesan datar meski aliran itu masih tak berhenti. Di tariknya nafas dalam-dalam, merasa sesak itu masih mendominasi disana.
Mungkin lebih baik ia segera pergi dari sana dan menenangkan hati. Menunggu sampai ia siap untuk menghadapinya secara nyata.
.
.
.
Eunhyuk mengernyit saat melihat ekspresi Sungmin yang nyaris pucat pasi. Dirinya yang hendak memarahi temannya itu karena meninggalkan dirinya sendiri di kafetaria kantor harus mengurungkan niat. Ia yakin Sungmin baik-baik saja pagi ini. lalu mengapa sekarang wajah pemuda itu murung seperti itu? Yang ia tau Sungmin tadi mengatakan dirinya tengah berkunjung ke kantor Kyuhyun yang Eunhyuk tau sebagai kekasihnya. Mungkinkah terjadi sesuatu disana?
"Hey Sungmin-ah, wajahmu terlihat sangat menyeramkan." Eunhyuk sebenarnya hanya berniat bercanda saja dan berharap Sungmin akan memukulnya seperti yang sudah-sudah. Namun agaknya ia sedikit menyesal telah mengatakan hal tersebut karena Sungmin nyatanya hanya diam saja dan berjalan lesu menuju meja kerjanya. Melewati Eunhyuk yang makin merasa tak enak hati.
"Eiihh.. Aku hanya bercanda Sungmin. Wajahmu makin terlihat menyeramkan jika diam begitu." Sungmin masih diam. Jemarinya dengan lesu mengambil salah satu pulpen di pen-holder miliknya. Terlihat tengah menulis sesuatu meski nyatanya Eunhyuk tau jika pemuda manis itu hanya mencoret-coret saja.
"Hey Min. Bicaralah sesuatu, ini benar-benar tak nyaman kau tau?" Pemuda penyuka pisang itu mendekat. Melewati meja Jimin nonna yang menjadi penghalang diantara meja kerja mereka. Menarik sebuah swivel chair dan duduk dihadapan meja kerja Sungmin. "Aku tidak melakukan kesalahan kan?" Ucapnya sembari menatap Sungmin.
Sungmin menyerah. Ditaruhnya pulpen itu di atas kertas hasil coretannya dan menggeleng pelan. "Aniyo Eunhyuk-ah."
"Lalu kau kenapa eoh? Kita sudah lama menjadi teman Sungmin-ah. Tak ada salahnya jika kau bercerita." Pemuda itu masih terus berusaha membuat Sungmin bicara. "Apa ini ada hubungannya dengan Kyuhyun?"
Sungmin menghela nafas. Mendengar nama Kyuhyun disebut entah mengapa membuat dirinya seperti disengat aliran listrik. Dan bayangan bagaimana Kyuhyun dan wanita itu terlihat begitu mesra membuatnya merasa kerdil. Pria itu terlihat begitu pas bersanding dengan wanita secantik dan se-elegan tadi ketimbang dirinya yang hanya karyawan biasa. Terlebih gender mereka sama walau hubungan seperti ini sudah tak asing lagi dikalangan masyarakat Korea. Namun tetap saja, jika dibandingkan dengan hubungan 'normal' hubungan sesama gender kalau jauh dalam segi jumlah. Dan biasanya banyak terjadi hanya di kalangan remaja saja. jarang sekali yang berlanjut hingga tahap pernikahan. Jadi masihkah ia bisa bersama dengan pemuda tampan itu?
"Lihat. Kau jadi melamun seperti orang bodoh sekarang."
"Eunhyuk-ah?"
"Hm?"
"Apa perasaan seseorang akan mudah berubah pada orang yang dicintainya?"
"Huh? Kau bicara apa sih Min? Sekalinya bicara kau malah ngelantur begini.." Sungmin tak berniat menanggapi pertanyaan Eunhyuk. Ia bertopang dagu dan memandang lurus ke depan.
"Aku melihat Kyuhyun dengan seorang wanita. Mesra sekali." Ucapnya lamat-lamat.
"Jinjjayo? Ah, mungkin itu hanya rekan kerjanya saja!"
"Apa rekan kerja akan melingkarkan lengannya di pinggang rekan kerja wanitanya, Hyuk-ah?"
Mata Eunhyuk membulat dengan ekspresi terkejut. "Hoooo? Benarkah kekasihmu yang kerap memasang wajah dingin itu melakukan hal seperti itu, Min? Aku bahkan tak yakin dia akan menggandeng tangan wanita lain."
Sungmin menghela nafas berat. Kata 'kekasih' yang Eunhyuk ucapkan membuatnya makin sadar diri jika mereka memang tak memiliki hubungan spesial. "Eunhyuk-ah... Sebenarnya..."
Sungmin menghentikan ucapannya sejenak dan menatap pria di hadapannya dengan pandangan serius. Mungkin inilah waktunya ia harus mengatakan yang sebenarnya pada Eunhyuk. Tak ada salahnya berbagi bersama teman, bukan?
"Sebenarnya aku dan Kyuhyun..."
.
.
.
Sungmin mengernyit saat dirasa seseorang tengah menyentuh dahinya lembut. Tak urung matanya perlahan terbuka. Dan saat itu ia seperti tengah bermimpi saat melihat wajah rupawan Kyuhyun tepat berada di atasnya.
"Kau sudah bangun, hmm?"
Suara berat Kyuhyun membuat Sungmin seratus persen sadar jika lelaki itu memang tengah berada di kamar tidurnya. Bukan hanya mimpi belaka. "Kyuhyun? Kau disini? "
Lelaki itu menarik wajahnya, membantu Sungmin bangkit untuk kemudian bersandar pada kepala ranjang. "Eommonim menelponku dan memberi tahu jika kau sedang sakit. Mengapa tak menghubungiku eoh?"
Sungmin tersenyum kecut. Bagaimana ia bisa menghubungi pria itu jika mereka bahkan tak saling bertukar pesan sejak insiden di dalam mobil empat hari yang lalu?
Belum lagi Eunhyuk yang mengomelinya habis-habisan karena tak menyangka jika selama ini Sungmin telah menyembunyikan fakta itu darinya yang sudah seperti saudara sendiri. Mereka bertemu hampir setiap hari dan mengetahui perihal kebiasaan masing-masing seperti kucing yang selalu tau dimana ikan asin di letakkan. Namun nyatanya Sungmin justru menyembunyikan itu semua dan membuat Eunhyuk seperti orang bodoh yang tak bisa membantu pria manis itu dalam menghadapi masalahnya dengan Kyuhyun.
Hell, kepala Sungmin kembali pening mengingat kata-kata pemuda penyuka pisang tersebut.
Flashback
"Kau yang memberinya kesempatan untuk lari darimu, Sungmin! Aku tak habis pikir bagaimana kepala cantikmu itu bisa berfikir seperti itu!"
"Dia bilang mencintaiku sejak dulu, jadi ku pikir dia tak akan- "
"Mencintai itu kadang sama seperti berlari Sungmin. Secepat dan sekuat apapun mereka berlari, suatu saat akan ada garis finish yang menanti mereka. Kau akan kehilangan dia jika tak mengajaknya kembali berlari bersama."
"Garis akhir,Sungmin! Tentukan garis akhir dari pemikiranmu jika kau tak ingin penyesalan datang pada akhirnya."
End Flashback
Sungmin menelan ludah, "Kau pasti sedang sibuk. Dan lagi kita tak saling bertukar pesan sejak -"
"Mari tidak membahas itu lagi, Sungmin-ah."
Sungmin mendongak. Menatap lurus pada obsidan tajam milik pemuda yang tampak makin tampan dengan long coat hitamnya. "Aku tau. Kau pasti lelah. Denganku." Ia berbicara dengan intonasi yang cukup pelan meski nyatanya Kyuhyun masih dapat mendengarnya dengan jelas.
"Apa yang tengah kau bicarakan, Sungmin? Aku rasa kau memang sebaiknya dirawat di rumah sakit saja." Pria rupawan itu menggapai satu jemari Sungmin dan mengenggamnya lembut. "Aku rindu padamu, princess. Tidakkah lebih baik kita membicarakan hal lain saja hem?"
"Maafkan aku Kyuhyun. Aku memang egois." Sungmin tertunduk dan merasakan kembali genggaman Kyuhyun yang mengerat.
"Dan nyatanya aku mencintai orang yang egois ini." Pria itu mendekatkan wajahnya. Berujar pelan dan dalam tepat di depan wajah pucat Sungmin untuk kemudian meninggalkan kecupan lembut di dahinya. "Cepat sembuh, nae Princess..." dan itu cukup membuat Sungmin kembali tersenyum manis setelah seharian terbaring lemas di atas tempat tidur karena prasangka buruknya sendiri.
.
.
.
"Hati-hatilah di jalan, Sayang. Sampaikan salam Eomma pada Kyunnie."
"Ne Eomma. Jja, aku akan berangkat sekarang."
Sungmin merasa tubuhnya sudah cukup fit untuk kembali bekerja hari ini. Walau badannya masih hangat, tapi setidaknya demamnya sudah turun, sama dengan prasangka buruknya yang makin menipis setelah Kyuhyun menjenguknya semalam.
Mengingat semalam, Sungmin kembali mengembangkan senyum terbaiknya. Semalam Kyuhyun menemaninya tidur meski hanya sebentar karena pemuda itu harus segera kembali ke apartemennya sendiri. Dan saat bangun pagi ini, Sungmin justru menemukan dompet Kyuhyun yang tertinggal di meja nakas di samping tempat tidurnya. Ia menduga jika pria februari itu pasti lupa mengambilnya kembali saat akan pulang.
Kyuhyun memang masih sering sembrono hingga saat ini.
Dan pagi ini ia berniat mengunjungi Kyuhyun di apartemennya sekaligus menyerahkan dompet pemuda itu. Meski harus merengek dulu pada sang Appa agar di izinkan membawa mobil sendiri, tapi pada akhirnya ia bisa juga membawa mobil fiesta berwana merah menyala hadiah ulang tahunnya lima tahun yang lalu itu untuk dikendarainya menuju apartement Kyuhyun di daerah jung-gu shindang-dong.
Namun bayangan indah yang sejak semalam menghiasi benaknya hancur begitu saja seperti api yang menghanguskan kayu bakar saat dengan mata kepalanya sendiri ia melihat Kyuhyun keluar dari pintu apartemennya dengan seorang gadis yang sama dengan yang ia lihat di kantor Kyuhyun tempo hari. Gadis cantik yang kini tengah berjalan beriringan dengan pria tampan itu layaknya sepasangan kekasih yang tengah dimabuk asmara.
Kyuhyun- dan gadis itu tinggal bersama? Benarkah yang tengah ia lihat ini?
Tamparan kedua yang Sungmin dapat membuat hatinya beku seketika. Ia tak menangis karena hatinya nyatanya telah menangis jauh-jauh hari sebelum hal ini terjadi. Saat ia harus bergulat dengan konflik batinnya sendiri bertahun-tahun lamanya karena memilirkan pemuda itu dan hubungan mereka.
Dan hari ini..
Detik ini...
Mungkinkah ia harus memutuskan garis akhir dari pemikirannya seperti yang Eunhyuk katakan?
Apa ini juga merupakan jawaban atas doa-doanya yang kemarin sempat ia sangkal?
Tentang akhir dari takdir yang harus mereka jalani.J uga tentang perasaan yang selama ini mereka rasakan.
Mempertahankan..
Atau mengakhirinya sesuai garis normal kehidupan..
.
.
.
TBC
.
Annyeooooooooooong!
Bogoshipo chingudeul...!
Mianhae aku sempet menghilang beberapa waktu belakangan ini dan meninggalkan ff aku yang harusnya udah pada dirampungin. T_T
Aku terhalang kesibukan dan faktor kesehatan juga. Apalagi aku udah semester 4, tugas makin numpuk aja tiap harinya. Rencana post di hari ulang tahunku tanggal 6 kemaren juga gagal gegera itu. Hueeee... (/.\)
Dan yang bertanya apa aku masih bertahan, Hey hey -,- apa harus dijawab lagi? Kalian kayaknya udah pada tau jawaban Queen deh! Masalahnya sekarang hanya aku yang ngerasa kagok tiap mau ngetik ff ku lagi... #pundung
Okelah... ini juga aku nyuri waktu buat post chapter tujuh bagian pertamanya disela ngerjain tugas. Harap maklum ne. Queen rasanya udah mau botak gegara tugas yang menggunung. #lebeeee
Tunggu aja moga chap depan(ending) bisa cepet bisa aku posting. Yang nanya kenapa bisa ada sad-sad gini.. yaaa karena Queen mau^^v #dirajam
Gak kok, sengaja.. Biar imbang gitu perjuangan cintanya. Lagian mereka kan udah dewana, konfliknya tentu beda level. hohoho
Baiklahhhh... akhir kata sorry for typo(s). Feelnya kalo kurang, beli diwarung aja dulu yee...
See you bye bye~~~~
Eiiiitttt... Jangan lupa repiuuuu pliissssss(-,- )b
