Aku hanya tertawa sebelum menggodanya lagi. Serius, mukanya yang memerah itu lucu sekali. Aku tahu bercanda seperti ini lumayan bahaya, tapi setidaknya rasa tegang dan cemas kami mulai menghilang. Walaupun aku cemas kalau-kalau ada 'tempat' lain yang menegang.
Err.. Tadi aku bilang apa?
Serius kak, terlalu sering menguping pembicaraanmu, Tonio dan Gilbert benar-benar meracuni pikiranku.
~Another~
Setelah kejadian dikejar-kejar itu, seminggu terlewati tanpa terasa.
Aku dan Mei sempat bertukar e-mail sebelum kepergiannya, orangtuaku pulang membawa oleh-oleh yang aku yakin setengahnya tidak berguna dan hanya akan jadi sampah—mereka tak terkejut menemukan kenyataan kafe yang tutup seminggu. Lalu, dengan pengurangan kegiatan sementara di jadwalku—yang sekarang hanya rumah-kampus-rumah—aku benar-benar jadi gadis kurang kerjaan. Seperti saat ini, aku memutuskan berjalan melalui taman saat menuju rumah dari kampus dan.. Bingo!
Ada dia di sudut taman.
Aku terduduk di bangku. Terhalang oleh beberapa orang yang berdiri menonton dia memainkan Rondo Veneziano, 'Colombina'. Entah kerasukan apa dia. Dari celah tubuh beberapa orang yang menontonnya, kulihat matanya terpejam, dahinya mengkerut, berkonsentrasi. Menggesekkan biolanya sepenuh hati, kembali membuat suasana hening yang sanggup menghentikan napas. Aku mendengarkannya dengan seksama, berusaha jatuh dengan damai dalam melodinya yang berombak, menggetarkan sekitar.
Setelah permainannya selesai dan beberapa orang tersingkir, dia melihatku dan berkata, "Ah, kebetulan. Bantu aku satu lagu, kutraktir kau makan malam."
Apa-apaan?
Aku bangkit, kudekati dia sambil mengerenyit dan bertanya, "Bantu? Dengan cara?"
Dia memutar bola matanya dan berkata, "Tahu 'Secrets' dari One Republic?"—aku mengangguk—"Nyanyikan liriknya."
Aku bengong.
"Aku tidak menerima penolakan. Taruh tas mu." Ucapnya penuh perintah.
Seperti orang bodoh kuletakkan tasku didekat pot bunga. Ketika otakku sudah kembali berfungsi, kukatakan padanya, "Pastikan makan malamnya sungguhan atau kukunci kau satu malam bersama Tonio."
"Lelaki baik tidak pernah mengingkari janjinya nona, dan tidak. Kau akan lihat Italian beast memakanmu duluan sebelum ancamanmu terjadi." Balasnya diakhiri seringai penuh sugesti. Sial.
Dia mengangkat biolanya dan aku menarik nafas.
.
"Masakanku lebih enak dari restoran-restoran itu. Ayo belanja, kepang desa."
Adalah jawaban Lovino saat kutanya akan makan dimana kami. Jadi disini aku sekarang, melangkah keluar dari toko roti van Jansen dengan tasku di bahu kanan dan biola Lovino ditangan kiri, sedangkan dia membawa semua kantung belanjaan.
"Fratello!" Tiba-tiba terdengar panggilan, dan aku menoleh. Kulihat, seorang pemuda mirip Lovino lah yang memanggil.
"Sial! Ayo, Emily!" Lovino memindahkan semua belanjaan ke satu tangan, menggandeng tanganku dengan tangannya yang bebas, dan menarikku berlari.
"Eh tunggu!"
"Tunggu! Fratello!" Pemuda itu mengejar kami. Perlu kutambahkan, dia punya bakat jadi pelari. Kami lari duluan tapi dia bisa menyusul hingga jarak memungkinkan dia bicara pada kami.
"Tunggu! Kumohon, jangan lari!" Ujarnya.
"Lo, Lovi? Kupikir kita berhenti saja?" Mana tega aku melihat wajah pemuda itu yang sepertinya putus asa sekali.
Lovino tidak menjawab, hanya menggigit bibir dan terus berlari, pemuda itu teriak, "Aku kesini karena keinginanku! Bukan sebagai suruhan kakek!" dan berhenti.
Kakek? Dia…
Lovino berhenti dan berbalik. Ekspresinya marah bercampur sedih. "Lalu untuk apa kau disini, adik bodoh!"
Ternyata benar. Aku menatapnya sekali lagi, kali ini lebih mendetil. Dia mirip Lovino. Sangat. Hanya rambutnya cokelat terang dan warna matanya seperti madu. Dengan kemeja, dasi, dan celana bahan, dia seperti pekerja kantoran yang baru pulang. Tunggu, jangan bilang dia menyelinap dari kakeknya kesini?
"Aku cuma ingin bertemu denganmu. Apa itu salah? Kita saudara, kan?" Jawabnya sedih.
Kutatap Lovino yang menggeratakkan gigi. Ini jelas bukan waktunya aku ikut campur.
"Bohong! Pulang sana! Aku tidak mau kakek punya alasan tambahan untuk mengirim lebih banyak suruhannya!"
"Tidak mau! Kau suruh aku pulang sekarang, berarti kau ikut denganku!"
Well? Keras kepala itu genetik ternyata.
"Pulang kataku! Kau mau bisnismu berantakan? Atau memang itu rencanamu? Biarkan bisnismu hancur, lalu kakek akan menyalahkanku karena kau kesini, dan menyuruh anak buahnya menempelkan revolver dikepalaku?"
Lovino kau keterlaluan.
Kulihat Feliciano sedikit shock dengan perkataan kakaknya, namun masih bisa membalas, "Kakek sudah tidak berharap kau masuk di bisnisnya"—kulihat alis Lovino berkedut—"dia hanya berharap kau pulang. Kami menyayangimu dan berharap kau cepat kembali. Bukankah dua tahun sudah cukup lama untuk kau pergi?"
"Heh. Katakan padanya, kalau baru sampai situ, berarti dua tahun belum cukup untuk aku pergi." Lovino berbalik, menarik tanganku lagi, "Ayo Emily."
"Aku tak mengerti. Sebenarnya, apa maumu?" Kudengar suara Feliciano melembut.
"Mauku? Kau tanya mauku? Mauku mereka tak perlu ikut campur lagi di urusanku, di keluargaku, di kehidupanku." Balasnya tanpa berbalik.
"Baik. Tunggu dan lihat. Aku bisa melakukan itu semua dan membuatmu pulang."
"Suit yourself." Dan Lovino mulai beranjak pergi sambil menyeretku.
Pemuda yang dipanggil Feliciano itu masih menatap kami dengan tatapan kecewa. Apa begini akhirnya? Apa saudara benar baik-baik saja untuk berpisah? Aku, tidak pernah bisa membayangkan bagaimana rasanya terpisah dari kakak sampai selama itu. Lovino, apa kau lupa kasih keluarga? Atau sebenarnya itu yang kau cari tapi kau hanya tak mengerti?
Aku menatap wajahnya dari samping, ekspresinya tidak terbaca.
"Tunggu." Kataku menghentikan langkahnya. "Setidaknya biarkan dia makan bersama kita." Lanjutku saat dia tidak menjawab.
Aku berbalik dan melangkah menghampiri Feliciano, tetapi tertahan oleh tangan Lovino.
"Lakukan itu dan berdoalah pada Tuhan agar aku bisa menahan diri tidak melakukan hal buruk padamu." Ucapnya dingin sambil menatapku tajam. Aku tahu itu bukan gertak sambal seperti biasanya.
"Jangan egois. Dia hanya ingin bertemu kau. Coba buka hatimu sedikit saja tentang hal itu." Balasku sambil menarik tanganku dari genggamannya. Persetan dengan ancamannya.
Kudekati Feliciano dan berkata, "Ayo, setidaknya makanlah dulu sebelum pulang."
"Ve?"
Ve?
"Err.. Kalau kau tak keberatan?" Kok suasananya jadi anti-klimaks gini.
"Tentu saja aku mau, terimakasih. Namaku Feliciano, siapa namamu nona?" Tanyanya sambil mensejajarkan langkah denganku.
Aku mengangkat alis sebelum menjawab pendek, "Emily. Sedang bertemu denganmu."
"Ah! Jadi kau ya, Emily itu!" Ujarnya antusias, sambil mengambil tas biola dari tanganku, "Biar kubawakan, sayang kalau nona cantik harus bawa barang-barang." Katanya saat kupandang dia penuh tanda tanya.
Aku de javu.
Tapi perasaan itu langsung menghilang saat aku bertatapan dengan Lovino.
"Don't screw with me woman." Desisnya, mukanya mengeras karena entah amarah atau rasa sedih yang membuncah, "Kau pikir ancamanku main-main?"
Dia melangkah memperpendek jarak denganku.
Aku menelan ludah, dan ada perasaan cemas menggelayut. Apa yang akan Lovino lakukan padaku?
Aku belum sempat bereaksi saat Feliciano maju satu langkah didepanku, membuatku menatap punggungnya.
"Kak, dia tidak salah apa-apa. Kalau kau memang sampai seperti itu karena aku ada disini, aku dengan senang hati pergi saat ini juga. Tapi aku menghormati dia, aku janji, setelah makan malam, aku pergi." Ucapnya.
Yang kulihat dari balik punggung si adik adalah mereka saling menatap. Tidak terlalu lama, lalu Lovino berbalik, kembali berjalan sambil berkata, "Terserah."
Aku menatap balik Feliciano yang mengedip padaku sambil tersenyum riang, seolah tak terjadi apa-apa. Aku beralih menatap punggung Lovino dengan perasaan lega, dan tanpa sadar tersenyum tipis. Sebenarnya.. dia juga ingin adiknya disini, kan?
"Ayo cepat, damn it!"
Aku saling menatap dan bertukar cengiran dengan Feliciano saat mendengar umpatan dari Lovino yang mukanya sedikit memerah.
.
Note: Ini tadinya mau saya satuin sama chapter selanjutnya, tapi bakal kepanjangan kayaknya, jadi saya potong :I Terimakasih btw, untuk yang mau baca, apalagi sampai sini :D
.
.
