Pairing : KaiSoo/KaiDo

Genre : Gatau nanti tentuin sendiri aja ._.

Rate : T

Main Cast : Kai dan Kyungsoo

Tapi seiring berjalannya FF ini, pemain lain bakalan banyak berkeliaran~~

WARNING! Newbie, GS Typo. Kalo gaksuka disarankan klik CLOSE segera :)

.

.

.

Because You're Just For Me

by : Ernas

.

.

.

Jongin memarkirkan motor besarnya di supermarket dekat dengan appartementku.

"Tunngu ne?" Kataku yang dijawab dengan anggukan kecil dari Jongin.

Hanya butuh sekitar 25 menit, aku sudah keluar lagi dengan tangan yang penuh dengan bungkusan.

"Jongin, kajja pul-"

BRUUUKKK!


[Chapter 7]

*Kyungsoo pov*

"Maaf. Permisi." Ucapku lirih. Semua barang belanjaanku terjatuh. Aku melihat Jongin sedang mengecup puncak kepala serang yeoja.
Itu pasti Krystal. Sangat cantik. Sangat pantas dengan Jongin. Ucapku dalam hati sambil berlalu dihadapan keduanya. Membiarkan airmata mengalir begitu saja tanpa isakan. Aku tersenyum. Senyum yang paling menyedihkan yang pernah ada.

Kau bodoh Kyungsoo…

Aku berlari kecil sambil menghapus jejak airmataku. Aku tidak ingin menangis. Aku berjanji pada Jongin untuk tidak menangis. Tapi apa ada alasan agar aku tidak menangis?

BRUKK!

Untuk yang entah keberapa kalinya. Hari ini aku menabrak seseorang lagi.

"Mian." Kataku dengan suara purau ku.

"Kyungsoo? Apa itu kau?"

Aku mendongakkan kepalaku. Aku mengenal suara ini. Bukan! Ini bukan suara Jongin. Ini suara…

"Chanyeol?"

"Masuklah. Kita bicara didalam." Kataku saat aku membuka pintu appartementku. Masih ada Luhan disana ternyata.

Aku memang sengaja mengajak Chanyeol kesini. Chanyeol bilang ia butuh bicara padaku. Oleh karena itu aku membawanya kemari.

"Eh? Chanyeol? An-annyeonghaseyo." Ucap Luhan ragu. Luhan menatap mataku intens. Manik matanya yang berwarna cokelat seolah-olah mengatakan 'ada apa?'.

"Lu, tunggu dikamarku ne? Setelah aku bicara dengan Chanyeol oppa, aku yang akan bicaramu. Arraseo?" Kataku seolah-olah menjawab pertanyaan yang keluar dari matanya. Luhan hanya mengangguk pelan lalu masuk ke kamar. Ah tidak. Luhan tidak masuk ke kamar. Luhan tetap ada diambang pintu. Aku tahu. Luhan tak bisa menunggu.

"Ah sudah sangat lama sekali kita tidak bertemu, Kyung." Suara berat Chanyeol memecahkan keheningan diantara kami. Aku hanya mengangguk kecil sebagai jawaban.

Aku tidak bisa memikirkan apapun sekarang. Mengapa semuanya terlalu cepat? Aku bertemu yeoja bermarga Byun yang aku yakini sebagai istri Chanyeol. Lalu, mengetahui seberapa peliknya hidup Jongin yang membuat aku berjanji pada diriku sendiri agar terus menjaganya dan menyalurkan rasa sayangku kepadanya. Bagaimanapun caranya. Tapi saat aku mulai berjanji, Tuhan membangunkanku dengan kenyataan bahwa sebenarnya Jongin bukanlah milikku. Jongin tidak bisa selalu disampingku. Dan Tuhan menyadarkan ku bahwa Jongin… tidak merasakannya. Kenyataan pahit belum berhenti sampai disitu. Saat aku baru saja mendapat luka baru, luka lamaku terbuka kembali karena sekarang aku bertemu dengan Chanyeol. Oh Tuhan, kau benar-benar tak bisa membiarkan aku senang? Sekali saja sungguh.

"Kyung? Gwenchana?" Suara berat itu memecahkan lamunanku. Dan untuk kedua kalinya aku hanya mengangguk sebagai jawaban.

"Mianata." Kata Chanyeol lirih.

"Mwo? Untuk apa meminta maaf?"

"Karena telah membuatmu menangis."

Aku tersenyum kecil. Chanyeol masih sama. Akan selalu meminta maaf ketika melihatku menangis. Walaupun aku menangis bukan karena dirinya, Chanyeol akan tetap meminta maaf.

"Maaf aku meninggalkanmu waktu itu, Kyung. Dan rasanya aku tidak perlu menjelaskan alasanku mengapa aku melakukan itu bukan? Mianhae.. Jeongmal mianhae." Lanjutnya lagi.

"Oppa, aku telah mengikhlaskannya. Aku telah mengikhlaskan semua ini. Aku tidak boleh egois bukan?"

"Kau masih sama seperti dulu, Kyung. Rela membiarkan dirimu sendiri tersiksa asalkan orang lain bahagia. Aku selalu bangga padamu, Kyung."

Aku tersenyum. Dan meneteskan airmataku. Jadi sudah tahu mengapa aku bicara bahwa aku sangat bodoh? Sungguh, aku ingin memiliki sifat egois sekarang.

"Kalau kau sudah mengikhlaskannya, mengapa kau menangis, Kyung? Seseorang membuatmu menangis?" Tanya Chanyeol dengan senyuman lembutnya. Aku menangguk pelan.

"Nugu? Siapa orang beruntung itu karena berhasil membuatmu jatuh cinta hingga akhirnya kau bisa melupakanku dan mengikhlaskanku?"

"Aku baru mengenalnya, Oppa. Aku—"

"Panggil aku Chan, Kyung. Aku merindukan kau memannggilku begitu." Ucapanku terputus karena suara berat itu tiba-tiba saja mengelak. Aku menangguk kecil sebagai jawaban 'iya'.

"Aku bertemu dengannya karena sebuah ketidak sengaajan, Chan. Aku sedang menangis saat itu lalu dia datang dan memberiku sebuah saputangan. Sejak saat itu, aku selalu bertemu dengannya. Dia bilang, bahwa entah karena apa dia benci melihatku menangis. Dan aku juga benci untuk terus menangis. Jadi aku dengannya memutuskan untuk bersama demi satu tujuan. 'Aku tidak menangis'." Ucapku lirih. Aku menangis tanpa isakan.

"Tapi Chan, saat aku mulai merasakan 'hal itu', Tuhan membangunkanku dengan satu kenyataan pahit. Dia, telah memiliki seorang kekasih. Hiks.. aku harus apa Chan? Hiks.. dia yang membantuku melupakan dan mengikhlaskanmu. Lalu siapa yang akan membantuku melupakannya? Hiks.. aku.. hiks.. aku mencintainya, Chan. Sungguh, sangat mencintainya.. hiks.." Akhirnya isakanku lolos dari bibirku.

"Ulljima Kyungie." Suara berat Chanyeol menyapa lembut gendang telingaku.
Chanyeol melanjutkan ucapannya saat aku sudah mulai menenang.

"Kyung, kejarlah dia kumohon. Jangan biarkan dirimu terus terusan mengalah, Kyung. Kali ini saja. Aku mohon bersikaplah sedikit egois. Bilang kepada namja beruntung itu bahwa kau mencintainya. Dan buktikan bahwa cintamu jauh lebih besar dari apapun.
Kyung aku mohon, kali ini saja. Jangan pasrah dengan keadaan. Cukup kau menyerah dengan keadaan saat aku meninggalkanmu waktu itu. Itu.. sangat sakit, Kyung. Aku sangat menderita saat melihat kau pasrah dan rasa bersalah selalu menyelimutiku.
Kyung, ku mohon. Kejar dia. Walaupun pada akhirnya cintamu tak terbalas, tapi percayalah, saat kau mengungkapkan semua perasaanmu, kau akan merasa lega. Kumohon Kyung…"

Aku diam. Tidak berusaha meng'iya'kan atau pub menolaknya. Aku terlalu kalut sekarang. Aku tidak bisa berfikir jernih. Aku.. butuh eomma. Sungguh, aku sangat membutuhkannya.

"Kyung, ini sudah malam. Aku pulang dulu ne? Pikirkanlah perkataanku tadi. Annyeong." Chanyeol mengambil nafas berat lalu berdiri dan berjalan keluar.

"Lu, aku sud—"

"Nugu?"

"Eh?"

"Siapa namja yang telah membuatmu seperti ini?"

"Tadi kau melihatnya."

"Jangan bercada, Kyung!"

"Aku tidak bercanda. Kau tadi melihatnya, Lu. Namja yang datang untuk mengajakku pergi makan malam. Jongin. Kim Jongin. Adik tiri dari Kim Chanyeol."

Malam itu akhirnya aku habiskan dengan menceritakan semuanya. Dari awal sejak aku bertemu dengannya, sikap sialannya yang menjailiku, lalu bertemu lagi di halte bus, lalu didepan club, bertemu Sehun, ceritanya tentang Chanyeol, tentang kehidupannya yang sangat pelik, rasa yang tiba-tiba muncul dan aku menyukai perasaan itu. Semuanya.. aku menceritakan semua yang tentang aku dan Jongin dengan alur yang sama tanpa aku kurangi atau aku lebihkan. Luhan terligat senang sekaligus sedih. Luhan senang pada akhirnya aku bisa melupakan Chanyeol. Tapi, Luhan juga sedih. Mengapa semua penyikasaan perasaan itu masih berlanjut karena Jongin dan kenyataan bahwa Jongin adik dari Chanyeol. Meskipun hanya berstatus adik tiri.

Hari ini tepat hari ke-7. Setelah kejadian yang kulihat malam itu, aku mengurung diriku dikamar appartementku. Aku keluar hanya untuk mengangkat telfon, mandi dan makan. Aku bahkan meninggalkan jadwal kuliahku. Aku tidak tahu bagaimana kabarnya beasiswaku. Aku sedang tidak memikirkannya. Lagi pula, selama aku kuliah, baru kali ini aku membolos. Apa salahnya?
Aku juga menjauhi Jongin. Tidak mengangkat telfonnya, mengabaikan pesannya, juga menghindar darinya saat ia datang. Untunglah selama seminggu ini Luhan menginap. Jadi, setiap kali Jongin datang, Luhan akan keluar dan melakukan kebohongan kecil seperti "Kyungsoo belum pulang" atau "Ah Kyungsoo sedang tidur. Kasian jika aku membangunkannya" atau kalimat-kalimat lainnya yang berfungsi mengusirnya secara halus.

Ting Tong..

Aku mengerutkan keningku saat mendengar bel appartementku berbunyi.

Siapa yang datang sepagi ini?

Luhan baru saja berangkat. Apa dia balik lagi? Tapi kalau memang harus kembali lagi mengapa harus membunyikan bel? Bukankah Luhan sudah tau passwordnya? Apa mungkin staff appartement? Tapi ini bukanlah awal bulan untuk meminta biaya.

"Nugu?" Akhirnya aku membuka suaraku karena rasa penasaranku yang berlebihan.

"Seseorang yang selalu datang untuk menemuimu setiap hari namun selalu kau tolak."

DEG!

Suara itu. Suara berat itu…

"Jo-Jongin?" Lirihku dengan suara yang purau. Sial. Rasa sakit itu kini kembali menyapaku. Aku merasakan airmataku mulai terjun bebas sekarang. Aku menangis lagi. Dan semuanya terasa menyakitkan karena aku menangis dalam diam.

"Kyungsoo, aku tahu kau didalam. Bukalah. Kita butuh bicara, Soo."

CUKUP KIM JONG IN!

Aku berteriak dalam hatiku sendiri. Cukup! Aku tak ingin mendengar sepatah katapun keluar dari bibir manismu, Jongin! Aku tidak mau! Buru-buru aku mengambil sepucuk surat yang berwarna ungu dipadukan dengan biru muda dan silver. Tiga warna kesukaanku. Ah sudahlah, tak seharusnya kita membicarakan warna kesukaanku kan?

Memang selama seminggu ini aku menjauhi Jongin. Itu karena aku terlalu takut dan terlalu bingung dengan apa yang harus aku lakukan. Jadi aku menulis semua perasaanku dalam surat itu. Tak perduli apa balasnya nanti. Tuhan, apakah aku egois kali ini?

Aku mengirim surat itu lewat celah kecil antara pintu dan lantai. Mendorongnya pelan keluar.

"Lihat arah sepatumu. Pergilah. Aku menjelaskannya disurat itu." Kataku dengan suaraku yang dipaksakan. Sungguh, dengan suara yang seperti itu seluruh dunia pasti tahu bahwa aku sedang menangis.

Tap.. tap.. tap..

"Kau benar-benar pergi, Jongin?" Kataku saat mendengar langkah kaki yang menjauh dan tak lama setelah itu, tangisku pecah.

*Kyungsoo pov end*

*Jongin pov*

Mengapa ada derita?
Bila bahagia tercipta?
Mengapa ada sang hitam?
Bila putih menyenangkan?

Hai, Jonginnie. Bogoshipo. Bagaimana keadaanmu sekarang? Keadaanku? Buruk. Sangat amat buruk.

Jongin, Krystal-ssi. Ah yeoja itu sangat cantik. Sangat pantas denganmu. ^^

Aku tak mau terlalu bertele-tele.

Jongin maafkan aku jika atas sikapku selama ini. Maaf jika aku selalu bersikap egois selama ini. Maaf karena telah membawamu kedalam hidupku yang sama sekali tak indah. Maaf karena harus mengusik kehidupanmu dan mengganggu kebahagianmu bersama Krystal.

Seharusnya aku tahu diri. Memangnya siapa aku huh? Aku hanya yeoja cengeng dan lemah karena percaya dengan hal yang disebut 'CINTA'. Bodoh, memang sangat bodoh. Hahahaha.

Jongin, maaf aku bersikap egois kali ini. Tapi sungguh.. Saranghae Jongin. Jeongmal Saranghae. Aku ingin kau tetap disisiku apapun keadaannya. Tak perduli dunia menentang keputusanku ini. Aku hanya ingin kau, Jongin. Maaf aku egois. Tapi inilah yang terjadi sekarang.

Jongin, pergilah. Keluar dari kehidupanku sekarang sebelum kau menyiksaku lebih parah lagi. Kau bilang kau benci melihatku menangis bukan? Jika kau yang menyebabkan diriku menangis apa yang akan kau lakukan, Jongin? Pergilah Jongin. Bahagialah bersama Krystal-ssi. Kalian sangat cocok. ^^

Jongin, Saranghae. Jeongmal Saranghae.

Tertanda

Seseorang yang telah mencintaimu entah sejak kapan.

Do Kyungsoo

Mengapa aku sangat bodoh?

*Jongin pov end*

*Kyungsoo pov*

Aku berdiri lunglai saat benar-benar tahu, Jongin pergi. Hey! Lagipula bukankah itu kemauan ku? Aku tersenyum getir. Sungguh ini sangat menyiksaku. Ini jauh lebih menyakitkan daripada saat aku tahu bahwa Chanyeol akan menikah.

Aku duduk di tepi ranjangku sambil memeluk boneka pororo kesukaanku. Menangis entah karena rasa sakit ini atau karena keputusanku yang menyuruh Jongin pergi dariku.

Drrt.. drrtt.. drrttt..

Jonginnie Calling

Drrt.. drrtt.. drrrtt…

Ponselku bergetar dan mengalunkan bunyi bahwa ada telefon masuk kesana. Aku menatap sendu nama yang sedang menelfonku ini. Aku bingung harus menjawabnya atau mengabaikannya.

1 missed call…

Ternyata aku malah mengabaikannya karena kebingunganku sendiri. Aku tersenyum bodoh.

Drrrt.. drrtt… drrtt.

From : Jonginnie
Angkat telefon ku atau aku akan bunuh diri!

Aku tersontak kaget saat melihat isi pesan Jongin.

To : Jonginnie
Jangan bodoh.

From : Jonginnie
Lihat keluar appartementmu!

Buru-buru aku keluar kamar dan menuju balkon. Betapa kagetnya aku melihat Jongin berada ditengah-tengah jalan raya yang mulai ramai. Jongin tersenyum manis seolah-olah sedang tidak terjadi apa-apa. Buru-buru aku masuk ke dalam dan menelfonya.

"Yeob—"

"PERGI DARI SITU BODOH! KAU INGIN MATI HUH?"

"Kyungsoo, lebih baik aku mati daripada harus didiami olehmu lebih lama lagi."

"…"

"Yeoboseyo? Soo? Gwenchana?"

"Apa yang ingin kau bicarakan?"

"Ku jemput nanti jam 3 ne? Dandanlah yang cantik."

"Kau bisa bicara di—-"

Pip.

Jongin memutuskan sambungan telefon itu secara sepihak.

"Kyung? Dimana kau?"

Aku hampir loncat kaget saat mendengar suara Luhan diluar. Ini baru jam 12 dan Luhan sudah pulang? Tidak biasanya.

"Aku dikamar, Lu. Waeyo?" Kataku sedikit teriak agar Luhan tahu aku berada didalam.

"Ah, Kyung ini. Aku menemukannya didepan pintu."

Luhan datang sambil memberikanku sebuket bunga mawar merah yang indah. Beberapa diantaranya ada yang berwarna putih juga merah muda. Aku menciumnya dengan indra penciumanku sambil terpejam. Wangi mawar memang selalu menjadi penenang yang baik.

Aku melihat sebuah kertas kecil didalam bunga mawar itu. Ragu, aku buka lipatan kertas itu perlahan.

Mianhae. Jeongmal mianhae..

Dari : Seseorang yang telah percaya bahwa cinta itu ada. Dan itu karenamu

Kim Jong In

Aku tersenyum malu melihat isi kertas itu. Oh, Jongin kau benar-benar membuatku gila.

"Nampaknya aku tahu dari siapa bunga itu, Kyung." Goda Luhan sambil berjalan keluar setelah melihat diriku yang tersenyum sendiri.

"Kau selalu tahu apapun tanpa aku beritahu, Lu." Kataku lalu menutup mataku lagi sambil menghirup aroma khas dari mawar ini.

Kau punya caramu sendiri untuk membuatku tak bisa melepasmu, Jongin..

Ting.. tong..

Aku sedang duduk diruang TV bersama Luhan sambil menonton acara Reality Show. Dahiku berkerut saat mendengar bel appartementku berbunyi.

"Nugu?" Teriak Luhan. Kami cukup malas untuk membuka pintu.

"Jongin. Kyungsoo ada noona?"

DEG!

Buru-buru aku lari ke kamarku. Mengganti bajuku seadanya dan lari kearah pintu. Aku hanya mengganti celana pendekku dengan jins belel yang digantung dibelakang pintu. Masih menggunakan kaos yang sama. Oh Tuhan, aku bahkan belum mandi.

"Yak! Kyungsoo! Pelan-pelan!" Bentak Luhan saat melihat aku mulai menabrak laci dan meja.

"Lu, aku pergi dulu ne? Ann-"

"Yak! Kau belum mandi."

"Tidak sempat!"

Aku berlari dari kamar menuju pintu dan sedikit mendorong Luhan untuk menjauh dari pintu kamarku. Aku menbuka selot pintu dengan keringat dimana-mana.

"Ann— OMONA KYUNGSOO ADA APA DENGANMU?!" Teriakan Jongin menyapa telingaku. Buru-buru aku menetup telingaku.

"SUDAH KU BILANG DANDAN YANG CANTIK. DAN OMO! LIHAT DIRIMU BODOH! INI SANGAT— AHHHHH!" Jongin memutuskan ucapannya terputus dan mengusap kasar rambutnya sendiri.

"Jo-Jongin mian. Aku lupa tadi. Jadi aku belum sempat mandi dan berdandan tapi kau sudah datang terlebih dahulu. Aku tidak ingin membuatmu menungu, jadi—"

Ucapanku berhenti saat jari telunjuk Jongin sudah berada dibibirku.

"Mandilah. Aku tunggu di lobby bawah. Jangan terlalu lama ne? DAN INGAT DANDAN YANG CANTIK!" Jongin menatapku horor kali ini.

Aku sudah berada didalam mobil Jongin sekarang. Berjalan kesuatu tempat yang aku sendiri tidak tahu dimana. Aku menghirup dalam aroma mobil ini. Sudah lama sekali rasanya tidak mencium wangi Jongin. Campuran wangi mint dan coklat yang sangat aku suka.

Setelah kejadian bodoh di appartement tadi, akhirnya aku memutuskan untuk mandi dan membiarkan Jongin menungguku di lobby appartement. Aku menggunakan dress berwarna ungu dan memberi make up tipis dengan warna senada. Lagipula ini perintah Jongin agar aku berdandan hari ini. Padahal, ini masih siang. Hhh entah apa yang ada difikirannya.

"Sedang apa?" Suara Jongin membuatku berhenti menghirup udara sekitarku ini dan secara bersamaan lamunanku terbuyar.

"Menurutmu?" Jawabku singkat. Tak bisa aku pungkiri bahwa aku sedikit gugup sekarang.

"Melamun dan memikirkanku."

Pipiku merona seketika saat mendengar jawaban dari Jongin.

"Aku benar kan?" Godanya.

Sial aku tidak bisa menyembunyikan senyumku didepan Jongin sekarang.

"Soo, kita sampai. Sampai kapan kau akan tersenyum seperti itu hanya karena perkataanku?"

Aku menutup mukaku dengan kedua telapak tanganku. Menutupi muka merahku karena tersipu malu dan sungguh ini terlihat sangat bodoh.

"Palli turun." Perintahnya lembut.

Aku akhirnya membuka seatbelt ku dan turun dari mobil. Jongin sudah berada di sampingku. Dan betapa kagetnya aku, bahwa aku berada di…

Panti Asuhan.

.

.

.

.

TBC