Love More

Disclaimer : I do not own Naruto. Naruto © Masashi Kishimoto

Story by ts the dj

Genre : Romance / Humor

Warning : AU, Highschool, Absurd Teenager, OOC, Typo Everywhere,

Chapter 7

.

.

.

.

"Oi," ujar si rambut perak lagi, kali ini sambil menendang-nendang kecil kaki sesuatu yang tergeletak itu.

"Herrmhh!"

Dengan sabar guru perak itu pun berjongkok menatap sesuatu itu dalam diam. Ia pun merogoh saku belakang celananya untuk mengambil sesuatu.

"Psstt! Lihat Kakashi-sensei sudah mengeluarkan benda itu!" bisik seorang murid.

"Wah ternyata benda itu memang ada ya!"

"Lihat benda itu bersinar sekali!"

Something that is orange, square, glamour, exciting, and ADDICTING.

Guru itu pun menyeringai dibalik masker hitam yang dikenakannya, ICHA-ICHA PARADISE.

BUAGH!

Love More

"Jadi begitu kesimpulannya, bagaimana sejarahnya Jepang bisa bekerjasama berkelanjutan dengan Indonesia. Mereka mempunyai wilayah laut yang tidak main-main, kita biasa melakukan berbagai jenis perdagangan dengan mereka-" Guru bermasker itu memperhatikan seluruh ruangan kelas yang berubah menjadi senyap tersebut. Iris onyx-nya menatap lagi-lagi kejanggalan di baris kedua dari belakang tempat seseorang yang habis terkena bogem mentahnya. Ia pun tersenyum dengan penuh dosa.

"Yup. Begitu kira-kira," lanjutnya lagi. Murid kelas itu tampak terbengong-bengong menyikapi sikap Guru Elit berkedok Mesum itu. "Yah kira-kira penjelasanku sudah cukup jelas, aku sudah memberikan yang terbaik untuk kalian, oh oh no question ask—" lagi-lagi seorang murid berambut blonde diabaikan dan hanya bisa mendengus.

Guru sialan, gumamnya.

Kakashi—nama guru itu lalu memberikan senyuman lagi dibalik maskernya tersebut. "Sebaliknya ada hal yang ingin kutanyakan kepada kalian hm,"

Terdengar desahan malas dari seluruh kelas, semua protes.

Ino sendiri hanya menatap malas guru berambut perak tersebut, kentara sekali dia adalah tipe guru gaul yang lupa akan apa yang telah ia pelajari semasa waktu belajarnya. Ia lalu melirik ke sebelah kanannya tempat seseorang yang habis kena bogem mentah-mentah dari Guru Kakashi. It must be hurt, gumamnya. Ia pun menatap band-aid yang sedari tadi ia pegang di saku jasnya.

"Ah kau sungguh bertele-tele Kakashi-sensei! Sudahlah baca saja Icha-Icha mu dan tinggalkan kami" seru pemuda blondie dengan menggebu-gebu. Kakashi mengabaikannya.

"Tenang saja anak-anakku sayang—"

Huek

"What?! Sayang? Cuih eh Sensei!" seru Sakura seraya menggebrak meja dengan kekuatannya yang infinity. Tak lama setelah itu terdengar berbagai macam komentar nista dari para murid yang tak terima dibilang sayang oleh guru mereka. Tampaknya topik ini jadi menarik sampai Shikamaru terbangun dari tidur paginya.

"Hoi Sensei" suasana kelas tiba-tiba senyap seraya seorang pemuda berambut merah bata mengangkat tangannya. Seluruh perhatian tertuju padanya. "Ya, Sabaku" Kakashi memusatkan seluruh perhatiannya pada pemuda tersebut.

"Kheh" Gaara hanya memejamkan matanya, terlihat sudut bibirnya mulai naik sedikit sekali, apakah smirk?

"Apa kau mau minta saran dating lagi dengan—siapa namanya? Aku lupa"

"Aaa Yuka maksudmu eh" timpal Sasuke nyengir.

"Aaah ya-ya bagaimana kita bisa melupakan nama itu" koor Gaara seraya melipat tangannya di depan dada.

Kakashi melotot.

BRAK!

"HEI HEI SIAPA ITU YUKA?! KAKASHI-SENSEI KAU MENUSUKKU DARI DEPAN! KAU MEMINTA SARAN DENGAN BAJINGAN INI?! MENGAPA AKU TAK TAUU" semprot pemuda blondie, berdiri, menggebrak meja dengan amukan macannya.

"Hei Naruto saranmu itu payah, tak heran jika dia lebih suka mendiskusikannya pada kami," seringai Sasuke makin lebar. "So bagian mana yang ingin kau tanyakan Sensei, cepatlah. Kami sedang free-time" lanjutnya bengal.

"SASUKEEE"

Kelaspun seketika menjadi gaduh.

Brengsek sekali anak-anak ini, gumamnya seketika ia menyesal membawa bocah kedalam permainannya. Apalagi ini seorang Uchiha dan Sabaku yang jelas-jelas lebih pro dibanding dirinya untuk urusan wanita. Heck.

Dia pun menghela nafas panjang sebelum menjawab serentetan pertanyaan yang diajukan murid-murid kesayangannya. Kira-kira seperti ini ringkasannya:

"Sensei kau sudah punya pacar?!"

"Ya"

"Sensei pacarmu gendut tidak?!"

".."

"Sensei berarti kau sudah tidak jomblo lagi dong?!"

Bhakk dia jomblo juga, tawa Ino dalam hati.

Kakashi terjungkal beberapa cm kebelakang begitu mendengar pertanyaan yang sangat menusuk harga dirinya.`

Ini akan menjadi hari yang panjang..

Love More

Bunyi langkah heels ankle-boots berwarna black-gold keluaran Gucci terbaru itu terlihat soft disepanjang koridor KHS siang itu. Sang pemilik, Yamanaka Ino tampak berjalan dengan cerminan 'i walk, i slay'. Terlihat rambut pirang platinum nya yang diikat pony-tail trademark seorang Yamanaka bergoyang mengikuti langkah kakinya. Koridor cukup ramai dipenuhi murid KHS yang bergerombol dengan squadnya masing-masing didepan loker. Gadis pirang itu mengambil arah yang berlawanan dari Cafetaria, padahal ini merupakan jam makan siang bagi seluruh murid KHS. Sejak hari pertamanya menginjakkan kaki digedung super mewah ini, bisa dibilang ia tidak tau bagaimana rupa Cafetaria karena ia sendiri belum pernah memasukinya. Bayangan-bayangan buruk yang menyebalkan kembali merasuki akal sehatnya jikalau ia masuk ke Cafetaria.

Disana ada pink, disana ada chicken butt, dan disana ada panda, etcetra done. Well said, ia sudah malas memikirkannya. Tapi ternyata takdir berkata lain,

Kriieek

Shit, perutnya sedang tidak berpihak pada gadis blonde ini sekarang. Ia lapar, sangat lapar. Ia bangun kesiangan dan tidak sempat makan sepotong cookies atau oatmeal tadi pagi, inilah imbasnya. Berbagai macam pikiran mulai berkecamuk dalam benaknya, haruskah ia ke Cafetaria?

Hell, dia bukan tipe gadis penggila berat badan ataupun diet, dia suka makan dan dia tidak akan membiarkan apapun atau siapapun menganggu ia makan atau apa yang ia makan. Human beings.

Dengan langkah ragu ia berbalik arah menuju Cafetaria jahannam tersebut. Setidaknya ia hanya akan membeli sandwich, yoghurt, atau susu dan keluar. Yap, that's the plan.

Suasana Cafetaria yang ramai jadi hening seketika ketika menyadari kehadiran sesosok makhluk berambut pirang memasuki ruangan megah untuk makan para siswa. Cafetaria KHS terdiri dari dua lantai dimana satu lantai memuat 20-25 meja bundar berwarna cokelat klasik, terdapat 5 buah jendela besar yang langsung menghadap ke lapangan utama dan taman. Glek, Ino menelan ludahnya sendiri. Ia merasakan berpuluh pasang mata berbagai warna menatap dirinya dalam sebuah keheningan bisu. Keep your head up, swag must go on, gumamnya seraya berjalan sesuai prinsipnya 'i walk, i slay' menuju counter makanan.

Sementara itu tepat ditengah Cafetaria, segerombolan anak populer yang sedang bercengkrama tiba-tiba heran karena suasana jadi agak hening.

"Yeap ada apa ini?" tanya Naruto seraya menengok kanan kiri. "Hey people, party must go on!" seraya mengangkat coke nya tinggi-tinggi.

"Cih, Gaara-kun kalau kau tidak suka makan ditempat seperti ini kita bisa makan di taman. Kau mau kan?" ujar Matsuri seraya memegang lembut lengan Gaara. Yang bersangkutan hanya menepis dengan halus dan melajutkan acara makannya. Matsuri bersungut. Itu merupakan hal biasa yang diterimanya setiap hari dari Gaara. Meskipun kedua keluarga mereka sudah dekat tetapi perlakuan Gaara selalu dingin dan acuh tak acuh kepada Matsuri. Karura selaku ibu tersayang dari Gaara-pun hanya bisa mengelus dada karena perbuatan anaknya.

"Ne, Gaara-kun. Mama menyuruh kita untuk makan malam bersama dengan kedua orang tuamu. Kudengar Ayahmu baru pulang dari perjalanan bisnis di Spanyol kan? Pasti melelahkan dan hampir selama 3 bulan itulah keluarga kita belum bertemu."

Sasuke yang mendengar kejadian itu langsung memutar bola matanya dengan jengah. Lagi-lagi keluarga, gumamnya sarkas. Naruto pun mengalihkan pandangannya dari Gaara menuju objek berambut ceplakan seperti dirinya yang sangat mencolok di counter makanan. Iris sapphirenya membulat sempurna. Ia menarik senyuman tipis, "Ooh jadi DIA main attentionnya."

Semua mata di meja spektakuler itu mengalihkan pandangannya pada objek yang Naruto maksud.

"Emm.. sorry Ma'am, aku tak mengerti apa yang kau maksud.." melas gadis berambut pirang itu pada koki perempuan bertubuh gemuk di counter makanan. Ia mengerti bahasa Jepang tapi sepertinya koki ini memakai aksen yang sulit ia mengerti dari orang Tokyo kebanyakan.

"Aaahh! Kau pasti orang luar! Uuuh i love Outsiders!" seru koki itu histeris seraya mengangkat spatulanya tinggi-tinggi. Ino hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

"Please, speak english with me, Miss!" pinta koki tersebut. "My name is Kurumi, i'm a senior chef in KHS." Aah i see, gumam Ino.

"Hi Ma'am Kurumi, I'm Ino" ujarnya tersenyum manis.

"You're really pretty and polite. How can i'm not seeing you in KHS? Are you a new student? Ah i missed old days when i was in Paris for my training there are so many sexy outsiders man out there." Ujarnya seraya menatap langit langit dengan mata mendamba.

"Uuhm.. i'm a new student here, and well yeah.. You're the actual cool here. Cooking training in Paris is absolutely a big deal, you're amazing" komentar Ino, mencoba mengabaikan rasa laparnya yang kian merajalela mengingat ia sedang berada di counter makanan.

"Aaw thank you Miss, i'm so honoured" seraya tersenyum manis, Kurumi menatap Ino. "Aahh! You're not taking your lunch?! Oh my god! let me take it for you, beautiful" serunya seraya mempersiapkan beberapa meal yummy untuk Ino.

"No no no, Ma'am i'm only asking for light meal, like um.. sandwich or yoghurt you know.." kata Ino, mata aquamarinenya menjelajahi setiap makanan yang terlihat enak tersebut. Tetapi sayangnya hal itu disambut dengan gelengan kepala cepat dari Kurumi.

"No, no, and no. First, there is no sandwich for lunch. Second, you have to try my cook, and third, you have to eat. No question ask." Secepat kilat ia menyiapkan makanan terbaiknya di nampan untuk Ino.

"But—i"

"Here, i made a special apple pie. I hope you like it sweetie" Kurumi menyodorkan nampan makanan tersebut dengan bonus plus pie apel yang terlihat yummy tersebut. Sigh.

Dengan berat hati, Ino menerima nampan tersebut dengan tangan lemas, "Thank you Kurumi-san" setelah memberi senyuman singkat ia bergegas mencari tempat duduk di Cafetaria sialan ini.

"Please enjoy your food, Miss Ino!"

Ino mengedarkan mata Aquamarinenya diseluruh penjuru Cafetaria tampaknya ada bangku kosong dekat jendela besar itu. Ia pun mempercepat langkahnya tanpa menghiraukan berpasang mata menatapnya dengan kekaguman aneh, termasuk sang Jade dalam keheningan yang tajam.

Matsuri yang menyadari hal itu langsung mengepalkan tangannya dalam kekesalan, "I'll be back Gaara-kun. Excuse me for a second" lanjutnya halus seraya meninggalkan meja spektakuler itu. Gaara sama sekali tak mengindahkannya, ia sibuk menatap objek yang sangat menarik dengan background sinar matahari yang menembus jendela Cafetaria. Melihat kilauan Aquamarine yang lembut bersinar dalam diam. Namun, dahinya mengkerut tatkala melihat seorang gadis yang dikenalnya—Matsuri menghalangi objek yang sangat ia sukai tersebut. Mau apa dia?

Gaara mendengus. Ditatapnya tajam objek kesukaannya itu jikalau ia menunjukan tanda-tanda tak suka atas kehadiran Matsuri. Gaara sendiri pun sudah ambil posisi go menyeret Matsuri atau mungkin dia jika sewaktu-waktu Matsuri menunjukan tindakan kekurang-ajarannya didepan objek itu. Pemuda merah bata itu mengepalkan tangannya. Ia benci tidak bisa mendekati gadis itu dan melindunginya. What? Apakah dia tidak salah dengar?

Ino—sedang menikmati hidangan siangnya dengan hikmat dengan terpaan sinar matahari yang tak terlalu panas menurutnya siang itu saat tiba-tiba seseorang dengan santai duduk didepannya. Gadis itu berambut cokelat sebahu dengan poni rata dan memiliki bola mata hitam, tipikal muka cute Japaneese lokal. Ino tersenyum, "Hai" sapanya ramah. Setidaknya buatlah satu teman disini, jangan cari musuh.

Gadis berambut cokelat madu itu, menyilangkan kakinya seraya menatap Ino seolah-olah akan memakannya bulat-bulat. "Matsuri Kumamoto." Ujarnya singkat.

Ino tersingkap, well.. "Uhm, Ino Yamanaka. Nice to meet you" tak ada jawaban selanjutnya dari Matsuri. "Maaf kulanjutkan makanku" katanya seraya membelah pai-nya. "Apple pie?" tawarnya ramah.

Matsuri mendengus. "No thanks"

"Okay.. so what's up, Matsuri" lanjut Ino seraya mengigit pai-nya, enak.

"Hm, kelihatannya kau murid baru disini eh. Wow, hebat sekali. Apa pekerjaan orang tuamu, apakah aku mengenalnya?" sosor Matsuri cepat dengan penekanan disetiap suku katanya.

Ino mendengus, "Interesting,"

Mata Matsuri membulat, "Apa kau bilang?!"

"Something interesting that you don't have to know about my parents and what they are doing. " State Ino tajam. Ia paling membenci jikalau seseorang membawa bawa nama keluarganya dalam hal personal, meskipun keluarganya dibilang sangat berada, menurutnya itu sangat tidak penting dan.. childish. Yah setidaknya hanya 2 kata tersebut yang masuk akal untuk saat ini.

"Let's talk about something else, make me laugh" lanjutnya.

"Wow.." komentar Matsuri. "Jawaban yang cepat dan tegas untuk ukuran anak baru" lanjutnya sarkas.

"Thanks by the way.. rambutmu bagus" puji Ino seraya menyeruput ice tea-nya.

"Lebih dari beratus stylists profesional kutemui tapi none of them impressed me. Aku lebih memilih kualitas, thanks to you Missy" balasnya sombong. Ino hanya memutar bola matanya bosan, tipikal Manja Kiddy.

"Look blondie mari kita luruskan saja disini. Aku tidak suka bicara denganmu dan tampaknya kau pun begitu—"

"Go ahead, i'm listening" balas Ino tanpa intonasi. Matsuri bersungut sebal, "Jauhi Gaara-kun kalau kau ingin hidup dengan tenang." Dengan nada penuh ancaman, tersirat nada kebencian dalam setiap perkataannya.

"Ooh jadi itu masalahnya, ngomong dong daritadi." Akhirnya Ino balas menatap menantang bola mata hitam malam itu. "Dengar ya Miss Kumamoto Matsuri, aku tidak pernah punya urusan apapun dengan Gaara-kun tersayang mu itu satu. Dua, jikalau kau benar-benar punya affair dengan dia itu adalah urusan kau, bukan urusanku. Ketiga, segeralah enyah dariku kau sangat membuat selera makanku hilang." Balas Ino sarkastik, ia sama sekali tidak menyangka bahwa alasan orang-orang membencinya hanyalah karena ia terlibat masalah dengan pemuda pemuda populer itu.

Sudut bibir berlapis lipgloss pink itu terangkat, "Bagus kalau kau sudah mengerti. Aku percaya kau bukan siswi sembarangan hm, dan ingat saja Gaara-kun sama sekali tak tertarik padamu kau tau, he's a player and i'm the one who can control him."

Matsuri tersenyum puas, "Welcome to KHS, Miss Yamanaka Ino. I'm Matsuri Kumamoto of KHS' Cheers" dengan nada menyebalkan.

"So long, bitch, bye" dan Ino meninggalkan Matsuri duduk sendiri di bangku itu dalam kekesalan.

"Ooh you must really regret it, Yamanaka Ino."

Love More

"Shit girl dia pikir dia siapa huh? Kate Middleton? Heck no itu gue, and please God, why is this school full of fake bitches?!" dan gadis itu meraung raung sendiri di koridor seraya mengutuk nama Matsuri Kumamoto dalam hati. Ia tidak boleh sebut merk.

"Huuh sabar Yamanaka, fabulous people love haters. Haters gonna hate." Dengan satu tarikan nafas panjang ia pun mencoba rileks kembali.

You have a message

Gadis pirang itu merogoh iPhonenya disaku jas, dahinya merengut. Unknown number.

From: +81345xxxxx

To: +8167888xxxxx

Hey, maaf kemarin aku melupakannya. Kutunggu di gerbang sekolah seusai jam.

"Hm? Siapa?" dan beberapa menit kemudian gadis pirang ini mengutak-atik handphonenya, berpikir keras.

"Ah paling fans, forget it. Aku akan ganti nomor baru." Ujarnya cuek seraya meneruskan langkah kaki menuju lokernya.

BRAK!

"Auww Goddamnit!" kutuk seorang pemuda di depan mading sekolah tiba-tiba. Tampaknya kakinya baru saja tertimpa pembolong kertas yang sangat berat, Ino pun tampaknya mengenali rupa pemuda ini.

Gadis pirang itu pun menghampiri pemuda tersebut, mengambil pembolong kertas itu, dan menyodorkannya. "Ini abad 21, kurasa pembolong kertaspun telah berevolusi menjadi sesuatu yang kecil dan yeah.. ringan" ujarnya. "Inuzuka Kiba" lanjut Ino tersenyum.

Kiba yang saat itu masih mengaduh seraya memegang kakinya hanya bisa melongok dan 3 detik kemudian dia hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, salah tingkah. "Ahahahah, kurasa yang original lebih berharga daripada yang sudah ditingkatkan ke level selanjutnya" katanya garing seraya memamerkan barisan gigi-giginya.

Pemuda dengan tato taring dikedua pipinya pun tersenyum, "Maaf untuk yang tadi pagi Ino-chan" katanya lagi seraya mengambil pembolong kertas yang keterlaluan beratnya itu dari tangan Ino.

"Hm, no problem. Anggap saja itu sebagai perkenalan kita, ne Kiba-kun" balas Ino disertai dengan senyuman manis yang tulus. Terdapat semburat merah di kedua pipi bertato pemuda tersebut sekilas demi didengarnya suffix –kun diakhir namanya. "Ahahahah, kau bisa saja Ino-chan"

"By the way kau sedang apa? Kau tampak kacau dan ribet...yeah ribet, uncontrol, unlike you"komentar Ino, sekilas ia masih bisa melihat bekas bogem Kakashi-sensei disudut pipi kiri Kiba. Ia pun mengalihkan pandangannya menuju tumpukan sekitar 10 kertas yang digenggam pemuda tersebut. Ino pun menyadari bahwa Kiba membawa kamera yang sepertinya keluaran terbaru menggantung dilehernya.

"Aaah ini" Kiba menatap tumpukan kertas tersebut. "Ini kertas promosi klub, Ino-chan. Aku ini kan ketua klub siaran sekolah heheheh" katanya bangga seraya membentuk tanda peace. Mata Ino membulat, "Benarkah? Boleh kulihat?"

Kiba tergagap, "Ya-ya tentu saja boleh.. kenapa tidak?" seraya menyerahkan satu lembar kertas pada Ino.

Bola mata Aquamarine itu pun membaca setiap kata pada kertas itu dengan teliti, tersirat rasa ketertarikan terhadap apa yang dibacanya. Sempurna.

Kiba yang melihat pemandangan langka ini pun langsung tersadar akan tujuan utamanya, "Ah ya Ino-chan! Bergabunglah! Ini klub siaran radio sekolah, merangkap jurnalistik, dan fotografi. Bisa kau lihat kan ini sangat menarik! Kami sedang mencari pembawa berita untuk siaran siang" jelas Kiba semangat.

Ino menatap Kiba sekilas dan kembali beralih pada kertas digenggamannya, ini menarik. Tapi akan kudiskusikan dulu dengan Hinata, aku takmau jika harus satu klub dengan Matsuri ataupun Sakura. "Hm! Baiklah, akan kupertimbangkan. Terima kasih Kiba-kun. Arigatou" kata Ino seraya ber-ojigi.

Kiba-pun makin salting dan melting dibuatnya, "No big deal Ino-chan! Jika ada yang ingin kau tanyakan dikertas itu ada nomor HP-ku ah maksudku contact personnya eheheh" cengirnya lagi seraya menunjukkan letak yang dimaksud.

"Aah ya-ya, baiklah Kiba-kun. Apa kau melihat Hinata?" tanya gadis pirang itu lagi. "Aku belum melihatnya dari tadi pagi."

"Aah Hinata-chan sedang di perpustakaan sedari pagi Ino-chan, ia sedang membantu Principal Tsunade menyortir dokumen sekolah sepertinya. Aku tidak ingin mengganggu dia, sepertinya dia sibuk" kata kiba seraya memijat dagunya bak seorang rentenir.

"Oh baiklah kalau begitu.. Mmm oh iya" Ino pun merogoh saku jasnya. "Ini Kiba-kun, tutupi lukamu dan semoga berguna. Lekas sembuh," ucap Ino seraya menyerahkan band-aid itu pada Kiba. Kiba menganga, diambilnya band-aid tersebut dengan cepat dan menatapnya dengan sukacita.

"Ino-chan tolong pegang kertas ini sebentar"

"O-okay..kenap—"

CKLEK!

Kiba memotret band-aid itu dengan kamera terbarunya, ia pun menatap hasil jepretannya dengan sukacita. Ino melongo. "Huaa terimakasih Ino-chan kau sangat baik seperti malaikat aku jadi ingin memelukmu sekarang juga nee" ucap Kiba terharu sembari menatap dalam dalam band-aid murah tersebut. Ino menatap salting plus keheranan melihat tingkah Kiba.

"Ba—ba maksudku de—"

"Kiba!" seru seseorang tiba-tiba. Ino reflek melirik dibelakang badannya. Itu Naruto. Dengan Gaara, Sasuke, serta Neji dibelakangnya. Sasuke memasukkan handphonenya ke saku celananya dan menatap Ino dalam diam. Begitupun Gaara yang sudah selesai mengetik sesuatu di text messager handphonenya. Suasana berubah drastis. Aura dingin memancar dari segala penjuru arah.

Gadis pirang itu membuat eye-contact dengan pemuda merah tersebut. Entah karena suatu hal, perasaan gadis ini menjadi..bersalah. Tidak, ya. Gadis pirang ini memancarkan rasa bersalah kepada refleksi pemuda merah ini dimatanya. Kenapa?

Gaara disatu sisi menatap kedua Aquamarine itu dengan afeksi yang berbeda. Memancarkan berjuta kepingan possesiveness dari seluruh tubuh, seluruh yang ia punya pada gadis itu. Ia ingin tahu, ia ingin tahu apa saja yang sudah dialami gadis itu setelah beberapa hari menginjakkan kakinya di gedung penuh kesombongan ini. Apa yang menjadi ketakutannya, apa yang membuat ia nyaman. Ingin rasanya pemuda ini menjedukkan kepalanya berkali kali di ring basket. Kenapa?

Uh oh.

Gadis ini tersadar dari lamunannya dan melepaskan pandangan tersebut dari Gaara. Ia mengedipkan matanya berkali-kali, perih. Sorot mata itu terlalu tajam, ia sendiri pun tak mengerti kenapa.

"Well Kiba-kun sepertinya aku harus pergi, jaa ne" Ino pun mengambil langkah cepat setelah menyerahkan tumpukan kertas itu pada Kiba lagi. Ino hanya bisa menundukan kepalanya dalam-dalam meninggalkan kelima pemuda menatap kosong punggungnya sebelum hilang di belokan koridor sekolah.

"Dadahh Inoo-chaan my lovee" Kiba pun melambai-lambaikan tangannya penuh sukacita.

Naruto hanya memiringkan kepala pirangnya dengan rambut mencuat kesegala arah dengan muka heran, "Kau habis kepentok apa ne Kiba" ia pun maju selangkah dan memegang dahi Kiba "Ujujuu kau demam nee"

BLETAK!

"WOYY JANGAN JITAK JUGA DONG" racau Naruto setelah terkena bogem dari Kiba diatas kepalanya.

"Kau sangat merusak suasana Naruto, tak bisakah kau membiarkan aku senang sedikit huh? Ujujuu sakit nee Naruto-chan baby" balas Kiba dengan nada kasihan seraya mengelus kepala pirang Naruto.

"SHUT IT UP KIBAA"

Gaara hanya menghela nafas pendek, ia hendak mengatakan sesuatu tapi sepertinya Neji menyelanya duluan. "Kau lihat Hinata tidak?"

"Huh? Oh Aah Hinata-chan sedang di perpustakaan sedari pagi Ino-chan, ia sedang membantu Principal Tsunade menyortir dokumen sekolah sepertinya. Aku tidak ingin mengganggu dia, sepertinya dia sibuk" racaunya tak jelas seraya mengalihkan perhatiannya pada band-aid tersebut sambil senyam-senyum sendiri.

"Wait sepertinya hari ini banyak yang mencari Hinata-chan yah? Sepertinya aku baru saja menjelaskan hal yang sama dalam 10 menit terakhir.. ne band-aid-chaann uuu"

Naruto hanya memandang Kiba ngeri. Gaara yang menyadari Kiba kelewat batas langsung mengutip perkataan salah satu teman sintingnya itu, "Band-aid-chan katamu?" ulang Gaara, mata Jadenya menelusuri sebuah benda kecil berwarna cokelat yang ia ketahui sebagai plester. Plester?

Setahu yang ia tahu, Kiba adalah berandal sepertinya. Tak jauh berbeda seperti ia, Sasuke, Neji, ataupun Naruto. Tumben sekali hanya karena satu tinju ia menutupinya dengan sebuah plester.

"Tentuu sajaa lihat? Bukankah ini cute ne Gaara. Uuu kau pasti iri denganku nee, Ino-chan yang memberikannya padaku—" Kiba pun menirukan gaya bicara Ino dengan lemah gemulai.

"Ini Kiba-kun..."

"Tutupi lukamu..."

"Semoga berguna..."

"Lekas sembuh..."

PLAK!

Ditamparnya Kiba sekuat yang Naruto bisa dengan sekuat tenaga. "KIBA ITU SANGAT MENJIJIKAN OOH SHIIT AKU TIDAK PERCAYA AKU MENDENGAR HAL ITUU AAA" Naruto menjerit histeris tak terima seraya menjambak rambutnya dengan frustasi.

Sasuke hanya diam ternganga, Ino memberikan Kiba sebuah plester? Heck kenapa bukan dia yang mendapat bogem dari Kakashi? Ia pun rela jika harus terkena bogem setiap hari demi mendapat plester dari Ino. Shit.

Gaara merasakan panas dihatinya. Tidak, ini bukan panas dalam seperti yang Kankuro sering alami. Rasanya sangat panas, hampir seperti ia ingin meninju dan membunuh orang dengan kepalan tangannya sendiri. Right here, right now. Pemuda merah bata itu hanya menatap dingin ke arah Naruto dan Kiba yang lagi-lagi beradu fisik dengan tumben tumbennya dikompori Neji. Sepertinya Neji juga merasa mual mendengar kalimat Kiba barusan. Ia pun memutuskan untuk meninggalkan mereka dalam diam seraya kembali memakai headphone hitam beats by dre yang sudah lama ia abaikan menggantung di lehernya. Don't Stay by Linkin Park terputar secara shuffle yang membuat pemuda berambut merah bata ini mengukir senyuman sinis.

Jealous?

Kheh.

Never.

Love More

KRINGG!

Bel sekolah tanda berakhirnya pelajaran pun bergaung dengan riangnya membuat seluruh siswa berseliweran dari kelasnya masing-masing. Kebanyakan dari mereka langsung menuju loker, menaruh barang yang tidak diperlukan dibawa, dan pulang. Ada juga yang langsung bergegas masuk ke ruangan klub masing-masing dan sibuk dengan kegiatannya. Ada yang langsung menuju perpustakaan, mengembalikan buku yang sudah melewati batas tenggang, ataupun berkumpul kembali didepan loker, mendiskusikan ditempat mana mereka akan hangout kali ini.

You have a message

From : Papa

Hey darling my lovey dovey sweetheart. Bagaimana sekolahmu? Kuharap kau tidak menghancurkan apapun itu dikelas karena kita bisa dituntut untuk menggantinya hehe. Sayang, Papa baru saja mendapat info bahwa Takeo-san supirmu tidak bisa menjemputmu selama seminggu ini lantaran kucingnya baru saja melahirkan. Kuharap kau tak keberatan untuk naik taksi atau..barangkali kau ingin pulang bersama pacarmu ne? AHAHAHAH jangan kau berani nee Ino-hime. Naik taksi saja yah, aishiteru. I love you

Ino hanya tersenyum masam demi dibacanya SMS dari Papanya yang kelewat tradisional itu. Hellooo jangankan pacar, teman saja aku baru punya Hinata. Dengan langkah berat Ino mengambil coat biru skylinenya di sampiran bangkunya dan memakainya. Cuaca sore ini cukup dingin, ingin rasanya pulang dan meminum cokelat hangat dan yah tidur.

Ia pun bergegas menuju gerbang utama yang lumayan sepi, cepat sekali anak-anak ini melangkahkan kakinya pulang, gumamnya. Ia pun hanya menghendikkan bahunya dan melanjutkan jalannya.

Angin sore menerpa dedaunan kering yang berserakan di trotoar lingkungan sekolah. Angin tersebut juga menerpa rambut pirang platinumnya hingga menjadi sedikit berantakan.

"Aaahh!" hembusan angin cukup besar menerpa rambutnya, ia pun menutupi kedua matanya dengan lengannya. Setelah mereda barulah ia membuka matanya. Ia membulatkan matanya.

Di gerbang utama, Sasuke Uchiha.

"Baguslah, apa kau ingin berkeliling Tokyo? Kau baru sampai disini kan?"

"Baiklah, kutunggu di pintu utama seusai jam sekolah."

"Hey, maaf kemarin aku melupakannya. Kutunggu di gerbang sekolah seusai jam."

Di gerbang utama, Sasuke Uchiha.

"Hai, kuharap kau tidak melupakan janji kita. Ino Yamanaka,"

Mata Aquamarine itu membulat sempurna, "Sa-sasuke?"

Pemuda berambut raven itu terlihat mengecek pergelangan jam tangannya, "Kau telat 15 menit" komentarnya singkat. Ino—masih tidak percaya, ia pun mengucek-ucek matanya untuk yang kesekian kalinya.

"Ka-kau sedang apa disini?" racaunya panik.

"Apa kau lupa? Aku sudah berjanji akan mengajakmu keliling Tokyo." Sasuke, maju selangkah mendekati paras pemilik bola mata Aquamarine itu. Dari jarak sedekat ini, Ino dapat mencium bau parfum yang dikenakan Sasuke. . Ino tersentak.

Bayangan Gaara yang sedang menggendongnya langsung muncul dalam pikirannya. Shit apa ini?!

Ino mengerjapkan matanya lagi. Sasuke—menyibakkan poni yang menutupi sebelah mata Aquamarine kesayangannya itu dengan lembut. Ia meniupnya dengan pelan. "Sepertinya ada debu, kau terus mengerjapkan matamu"

Deg!

"Sasuke.."

"Hoi Sas! Kau mau kemana?Parkiran mobil kan sebelah sana" seru Naruto begitu mengetahui Sasuke pergi ke arah yang berlawanan dari mereka bertiga.

"Aku bawa motor." Jawabnya singkat.

Neji menyeringai pendek, "Tumben sekali kau bawa motor eh, apa kau tidak ikut bersenang-senang malam ini?" tanyanya sarkas.

"Aku capek. Kalian bersenang-senanglah."

Gaara hanya menatap Sasuke dalam diam, ia pun bergerak balik badan menuju parkiran mobilnya, "Kalau begitu jaa na, aku ada janji dengan seseorang." Seraya mengangkat tangannya. Naruto dan Neji menatap kedua pemuda itu dengan mata keheranan.

Iris Amethyst Neji menajam, seringai tipis terbentuk dibibirnya. "Sungguh aku bingung dengan apa yang akan mereka perbuat." Komentarnya pendek.

"Aah aku suka sebagai anak SMA." Lanjutnya.

Naruto mengerlingkan Sapphirenya pada Neji, terpancar beberapa poin kegugupan dalam matanya. "Semoga saja. Aku merasa ada yang akan datang, sesuatu yang buruk."

Neji terdiam, ia lalu berjalan ke parkiran mobil setelah mendapati mobil Gaara yang melesat dengan kecepatan tinggi meninggalkan pekarangan sekolah didepan matanya, "Apa kau lupa, sejak terlahir di dunia yang penuh noda ini kita selalu didatangi oleh sesuatu yang buruk. Apapun itu—"

"Pada dasarnya kita adalah sekumpulan brengsek. Kau ingat itu Naruto"

"Kheh. Dasar." Menyeringai.

Love More

Hey everybody! What's up?! How are youu?! I hope ya'll doin ok and still want to read my new update of Love More Chapter 7! Hey guys... i'm so sorry for taking it too fucking long.. okay i'm so sorry. I was confused, i was irritated, and i was frustrated how and when this fic will be updated but here it is! Heheheh

Guys thank you for always cheering me to continue this boring fanfiction for almost one year:"))) i read all of your comments and it really makes me happy to the moon and back3 i really enjoy it and i hope ya'll still accepted this fanfic as a part of your daily reads. I love ya'll and i miss ya'll so muchh i love you.

Love More

Gaara : (peluk dj)

Ino : (peluk dj)

Kankuro : (peluk dj)

Temari : (peluk dj)

GD : (peluk dj)

DJ : THIS ONE FOR YOUUUUUU OOOOO OOOOOOOOO

Gaara : plis jangan nyanyi dulu, gue masih demam UEFA

DJ : WEEWW SAPA LOEE OOOOO OOOO THIS ONE FOR YA GAARA-CHAANNNN I LOVE YOUU FOREVER GAAINO.

Gaara : nyesel gue meluk lo je, nyesel.

DJ : (sedih)

Gaara : (usap pala dj) jangan ilang lagi ya, ganbatte ne DJ. I love you.