Gundam Seed/Destiny © Bandai, Sunrise—Matsuo Fukuda and team

Tidak ada keuntungan material yang didapat dari cerita ini

SEMBILAN ©2015 Vereinigte Autoren


Kota Orb, 2025

Yuuna berekspresi gembira sambil menonton ending pernikahan hero dan heroin dalam drama jadul Love Sun. Oh, lihatlah kemeja yang dikenakan mempelai pria dan gaun mempelai wanita. Luar biasa cantik. Ketika ia menikah dengan Cagalli, ia akan membuat pernikahannya seperti itu, tapi pastinya lebih grand dan luar biasa. Pesta akan diadakan di atas bukit, dikelilingi bunga-bunga dan patung-patung emas. Ia akan mengenakan tuksedo kuning cerah, sementara Cagalli mengenakan gaun berumbai selutut warna pink yang cocok dengan rambut pirangnya.

Pasangan Ken dan Barbie pun kalah jauh. "My Honey, sooo beautiful."

Yuuna menggeleng-gelengkan kepala dengan sepasang mata menutup rapat. Tangannya bertangkup di depan dadanya, dan senyumnya semakin lebar. Membungkuk di atas meja dan mengambil buah ceri di atas es krim jambunya, pemuda itu kemudian duduk menyandar pada sofa, mengunyah buah merah kecil itu. Sepasang matanya menatap layar hitam yang diisi daftar aktor dan produser Love Sun, lagu romantis mengiringi di belakang.

Ponselnya bergetar di atas meja, di samping mangkok es krim favoritnya.

Mengulurkan tangannya, pemuda yang asyik bersantai mengisi waktu liburannya itu mengambil ponsel mahal berhias baluran emas itu. Sebuah pesan baru pada aplikasi LiningApp-nya. Mengernyitkan dahinya, ia membuka pesan terbaru dalam grup alumninya. "Hmm?"

[(12.02 p.m.) Clotho B: hei, kalian datang besok?]

[(12.02 p.m.) Hoofman C: Dtg kmna?]

[(12.03 p.m.) Koofman C: …]

[(12.04 p.m.) Clotho B: tentu saja acara pertunangan Athha. ]

[aku sudah RSVP. aku hanya perlu tumpangan.. mobilku rusak.]

'Acara pertunangan Athha? Siapa? My Honey punya saudara?' pikir Yuuna dengan serius, masih belum memberikan responnya pada thread yang sedang ramai itu.

[(12.06 p.m.) Jackie T: Pertunangan Miss Orator? Ah, sayang sekali, aku tidak bisa karena ada perjalanan bisnis hingga lusa :( ]

Dahi Yuuna berkerut-kerut, bertanya-tanya siapa Miss Orator yang dimaksud oleh mantan seniornya di universitas itu. Sepanjang empat tahun masa kuliahnya dan bergabung dalam organisasi, ia hanya tahu satu Miss Orator: Cagalli-nya. Dan, serius, ia belum merencanakan pesta pertunangan untuk mereka berdua. Jadi, tentu saja ada Miss Orator lain, kan?

[(12.07 p.m.) Garcia G: Cagalli jadi bertunangan? Serius? Aku kira itu cuma gosip..? *cry* ]

[(12.07 p.m.) Clotho B: dummy, tentu saja bukan gosip. mereka sudah mengadakan presscon kemarin. pesta tertutup untuk para undangan saja.]

[(12.08 p.m.) Jackie T: Kau tidak dapat undangan, G? Aku sudah terima sejak sebulan yang lalu :P ]

[(12.09 p.m.) Garcia G: Aku sudah pindah ke rumah baru! Mungkin undangannya dikirim ke alamat lama? *cry* Cagalli tidak mungkin melupakan kakak cantiknya ini *cry* Aku ingin melihat Cagalli dengan gaun! Kirimi aku foto Cagalli! ]

[(12.10 p.m.) Clotho B: jadi? ada yang mau memberiku tumpangan? aku tidak mau naik kereta ke quintilis :( ]

[(12.11 p.m.) Hoofman C: Ak tdk prgi, hnya titip hadiah pd Koofman.]

"Cagalli? Tapi… aku di sini…?"

Oke, tahan. Semuanya hanya salah paham saja. Pasti ada Cagalli yang lain. Pasti mantan presiden Uzumi punya anak perempuan lain yang diberi nama Cagalli juga. Atau mungkin Cagalli Honey-nya punya kembaran yang punya nama sama dengannya juga. Pasti, pasti ada penjelasan yang bagus yang tidak terpikir olehnya.

Yuuna pun bergegas mengetikkan pesan pada grup itu.

[(12.11 p.m.) Yuuna RS: My Honey? Bertunangan? Tapi aku sekarang ada di Orb? ]

Menggigiti ujung kukunya, pemuda itu menunggu-nunggu respon dari anggota grup LiningApp -nya, yang tidak memberikan respon bahkan setelah beberapa menit berlalu.

[(12.15 p.m.) Yuuna RS: Halllooo?]

[(12.16 p.m.) Koofman C: besok pagi aku jemput di rumahmu, Clotho. Eileen dan aku akan pergi bersama.]

[(12.19 p.m.) Clotho B: kau penyelamatku, koooof~ *chuuu*]

[Attach: CagallisInvitation. jpg]

[acaranya besok malam, yuuna. kenapa kau masih di orb?]

[ps: dan kalau kau tidak dapat undangan, kau tidak bisa masuk area =.=]

[(12.20 p.m.) Yuuna: Aku tidak tahu sama sekali tentang ini.]

Yuuna membuka file dari senior yang kini sudah membuka kantor advokat di Kota Oktober itu. Rasa bingung dan keingintahuannya membuncah di dada. Tidak mungkin kan, calon tunangan pria tidak diberitahu bahkan sehari sebelum acara pertunangan? Memperbesar gambar itu, ia melihat detil hiasan pada undangan elegan itu. Mengangguk puas dengan motif bunga yang menghiasi undangan, ia membaca konten undangan. Lalu menjerit.

"ATHRUN?! Athrun Zala?!"

Suaranya menggema di manor Seiran yang cukup sepi pada siang itu.

"Ap –apa? Bag… My Honey dengan Polisi Rendahan itu?! Apa?!"

Dan di sana, jelas-jelas tertulis nama calon pasangan Cagalli Yula Athha dan Athrun Zala. Oh, tidak, tidak, tidak. Yuuna menutup mata lalu membukanya, menutupnya lagi, lalu membukanya lagi, percaya tulisan itu hanyalah ilusi optik yang tercipta akibat menatap layar televisi selama enam jam non-stop menonton drama favoritnya.

Tulisan itu tidak berubah. Tetap Athrun Zala. Dan satu-satunya pewaris kerajaan bisnis Seiran itu pun menjerit keras.

"Aaarrrrgggghhhhh!"


Chapter 7 - Yuuna

Slipping Into The Right Place


Kota Oktober, 2017

Yuuna berjalan santai melewati koridor Universitas Kota Oktober setelah menyelesaikan kelas terakhirnya hari itu. Seperti biasa, penampilannya luar biasa, fashion paling up-to-date dibandingkan teman-teman sekelasnya. Jaket bulu bermotif macan tutul dan topi baret bermotif serupa menjadi poin utama penampilannya hari itu. Siapa peduli dengan panas menyengat yang membuatnya terasa seperti dipanggang di oven… Yang penting menjadi makhluk paling fashionista.

Memberikan sapaan ke kanan dan ke kiri, semua orang yang melihat akan menyangka jika Yuuna adalah makhluk paling populer di kampus.

Pemuda yang lumayan tinggi dengan otot-otot yang membuatnya nampak seperti calon polisi itu memberikan julukan pada dirinya sebagai Makhluk Paling Populer, Raja Fashion, dan la la la la la. Julukan yang ia buat sendiri itu bukan tanpa alasan.

Adakah mahasiswa lain yang menjadi pusat perhatian hanya dengan berjalan seperti biasa saja? Tidak.

Adakah mahasiswa lain yang mengenakan pakaian serupa dengannya? Tidak.

Tentu saja, hanya seorang Yuuna Roma Seiran.

(Setiap orang akan menyetujui jawaban-jawaban itu, meskipun tidak seorang pun menyetujui kesimpulan yang diambil oleh pemuda penggemar fashion asia itu, karena satu-satunya alasan Yuuna menjadi pusat perhatian hanya dengan berjalan seperti biasa dan tidak seorang pun mengenakan pakaian serupa adalah fashion-nya yang terlalu di luar imajinasi manusia.)

Maka, seorang Yuuna melanjutkan perjalanannya, tidak mengindahkan bisik-bisik (yang ia prediksi berisi komentar penuh rasa iri) teman sekampusnya setelah ia menyapa mereka. Orang keren memang memiliki banyak haters. Mengedikkan bahunya tak perduli, ia mengeluarkan kunci mobilnya lalu memutar-mutarkannya sambil berjalan.

"…tik uang! Kita harus berani mengambil langkah maju, melawan ketidakadilan ini! Kita harus membantu me…."

Suara wanita yang terdengar melalui pengeras suara mengambil alih perhatian Yuuna. Pemuda itu berhenti berjalan, menengok ke arah kerumunan orang di salah satu sudut. Berjinjit sedikit, pemuda itu kemudian melihat seorang gadis pirang yang berorasi dengan suara berapi-api. Beberapa orang lain yang ia kenali sebagai anggota dewan mahasiswa berkeliling menyebarkan kertas-kertas.

"Oi, Yuuna," panggil Clotho sambil menghampirinya. "Kami akan berunjuk rasa besok. Kau tahu kan? Kasus penggusuran di dekat…."

Yuuna menggangkat tangannya dengan gestur menyuruh seniornya itu berhenti berbicara. "Clotho, siapa itu?"

"Siapa?"

"Yang sedang berorasi."

Clotho menengok sebentar lalu menjawab, "Cagalli. Kau tahu, anak Presiden Orb? Aku kira kau dari Orb?"

Yuuna hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Dalam area pandangnya, hanya ada seorang puteri pirang berkemeja hijau kotak-kotak yang membakar semangat kerumunan di sekitarnya itu. Dan dalam dua puluh tahun masa hidupnya, ia tidak pernah merasa melihat seorang yang lebih indah dari sang puteri pirang. Yuuna tersenyum lebar.


Setelah menyemprotkan penyegar napas, Yuuna bergegas menghampiri Cagalli yang duduk di antara anggota dewan mahasiswa lainnya di depan kantor mereka. Ia sudah berusaha menemui mahasiswi semester awal itu sejak tiga minggu sebelumnya, namun gagal karena kesibukan gadis itu. Dengan rasa pede yang tinggi, pemuda itu duduk menjejerinya, mengulurkan tangannya.

Cagalli memandangi uluran tangan pemuda itu dengan heran. Sementara itu, anggota dewan mahasiswa yang sebelumnya riuh berbincang-bincang menjadi hening seolah memperhatikan keduanya.

"Ya?"

Tersenyum lebar, Yuuna memperkenalkan dirinya sambil menarik tangan Cagalli dan menyalaminya. "Yuuna Roma Seiran. Pewaris tunggal kerajaan bisnis keluarga Seiran. Aku bangga bisa berkenalan denganmu, My Honey."

Cagalli menarik lepas tangannya dari genggangam Yuuna. "Huh?"

"Mungkin kita bisa bertemu lagi kapan-kapan di pesta? Ayahku juga bagian dari dewan Orb. Aku yakin orang tua kita bisa memberikan kesempatan bagi kita untuk saling mengenal satu sama lain?"

"Huh?"

Yuuna tersenyum lebar, bangga pesonanya bisa menaklukkan hati Cagalli sampai membuat gadis itu kehilangan kata-kata.

Cagalli tiba-tiba berdiri sambil berkata jika ia ada urusan penting lalu meninggalkan Yuuna, melambai kecil pada anggota-anggota dewan yang lain. Sepeninggal gadis itu, para anggota dewan yang Yuuna ketahui kebanyakan adalah seniornya itu segera meledak dalam tawa.

Garcia menepuk-nepuk bahu Yuuna. "Kau… ha…ha… lucu sekali. Ehem. Bagaimana kau bisa sepede itu? Yuuna?"

"Kau tidak bisa melakukan perkenalan dengan cara yang normal?"

"That was Introduction of The Year! Aku enggak bisa ngomong apa-apa, man," Clotho berkata sambil menghapus air matanya.

Si kembar Koofman dan Hoofman datang dengan dua plastik belanjaan mereka. Hoofman memberikan miliknya pada Garcia sambil mengernyitkan dahinya heran. "Ada apa? Kenapa kalian tertawa seperti itu?"

Menarik napas panjang lalu berdehem beberapa kali, Jackie merangkul Yuuna yang masih tersenyum lebar. "Yuuna memperkenalkan dirinya pada Miss Orator. Kalian juga pasti terawa kalau melihatnya. Adik kelas kita ini benar-benar gokil!"

"My Honey benar-benar mengagumkan."

Mendengar ucapan Yuuna, juga raut wajah yang dipasangnya, membuat para anggota dewan itu kembali tertawa. Penuh simpati, satu-satunya wanita di kelompok itu menepuk bahu Yuuna. "Kau benar-benar tidak dapat tertolong lagi, Yuuna."


Sudah sebulan, Yuuna mencari-cari informasi mengenai pujaan hatinya itu. Mulai dari jadwal kuliahnya hingga jadwal kegiatan orasinya. Dan ia pun bangga, mengetahui betapa Cagalli peduli dengan lingkungan sekitarnya, sangat cocok untuk menjadi calon isteri seorang politikus/pebisnis sepertinya. Ayah dan ibunya bahkan mendorongnya agar terus mengejar puteri presiden Orb itu, membuatnya lebih bersemangat ketika berusaha menaklukkan hati gadis yang ternyata cukup gigih menghindari Yuuna itu.

Sudah berapa kali, ia menunggu Cagalli di depan kelas gadis itu, agar bisa mengajaknya makan siang bersama. Atau mengajaknya pergi berjalan-jalan di sela-sela waktu luangnya.

"Cagalli!" serunya ketika melihat Cagalli keluar kelas dengan seorang temannya. "Ayo kita makan siang bersama."

Cagalli menundukkan kepalanya, lalu bertanya, "Bukankah kau ada kelas setelah ini?"

"Kau peduli sekali padaku. Aku tersanjung."

Pemuda yang selera fashion-nya tidak juga membaik itu nyaris menangis karena bahagia diperhatikan oleh Cagalli.

"Uh, Yuuna, tapi aku sudah ada janji dengan temanku."

"Aku akan menemanimu."

Ujung bibir Cagalli berkedut. "Tidak perlu, Yuuna. Ah, lihat! Itu temanku yang kumaksud. Ia pasti sudah menunggu. Oke. Aku pergi dulu. Kau makan sendiri saja," ujar gadis pirang itu dengan tergesa ketika ia melihat salah seorang gadis berambut hitam yang berdiri di samping mading sambil menulis di bukunya.

Meskipun sedikit kecewa, Yuuna tetap mengantar kepergian Cagalli dengan senyuman lebar dan lambaian tangan. "Hati-hati di jalan, My Honey! Aku akan segera makan siang agar tidak membuatmu khawatir!"

Cagalli-nya peduli dengan kesehatannya. Dan itu sudah cukup bagi Yuuna.


Yuuna menyempatkan diri mengunjungi Kota September, tempat Cagalli dan anggota dewan mahasiswa mengadakan acara penyuluhan yang terbuka untuk umum. Materi mengenai pentingnya kehidupan berpolitik dan bagaimana melakukan hidup berpolitik pun disampaikan kepada partisipan yang terdiri atas golongan menengah ke bawah yang tergolong masih awam.

Koofman yang menjadi ketua penyelenggaraan kegiatan itu sempat mengundang Yuuna untuk turut serta, namun ia tidak bisa karena ia harus mengikuti acara pembukaan cabang baru perusahaan Seiran, yang untungnya dilaksanakan di Kota September, hanya terletak di ujung lain tempat diadakannya acara penyuluhan.

Maka, seusai acara, masih dengan pakaian formal jas berwarna violet dan rambut yang licin klimis, pemuda itu menyuruh supirnya mengantarkan hingga tempat penyuluhan, berharap masih bisa menyusul Cagalli dan mengajaknya makan malam bersama.

Tapi…

"Ehh? Siapa dia?" pikir pemuda yang baru saja keluar dari mobilnya itu.

Tidak jauh dari tempat parkir, Cagalli menerima helm dan mengenakannya. Gadis itu memukul bahu seorang pemuda yang duduk di atas motor, memutar kontak motor itu. Tertawa kecil, ia kemudian duduk di belakang pemuda itu. Belum sempat Yuuna bergerak dari sisi mobil, kedua orang itu sudah keluar melewati gerbang yang baru saja dilewati oleh mobil Yuuna.

"My Honeeey..." raung pemuda itu.

"Hei! Yuuna?! Apa yang kaulakukan di sini?" tanya Clotho yang keluar berbarengan dengan Garcia. "Kami sudah selesai sejak satu setengah jam yang lalu! Kau telat, man."

"Cagalli juga baru saja pulang," tambah Garcia.

"My Honeey…" pemuda itu meraung lagi. Kali ini diimbangi dengan setetes air mata.


Kota Oktober, 2018

Tahun berganti. Sudah belasan bulan berlalu sejak Yuuna mengenal Cagalli. Dan setiap ada kesempatan, ia selalu mengejar adik tingkatnya itu. My Honey! My beautiful wife! My lovely girl!

Setiap kalangan di UKO sudah tidak kaget atau pun berbisik-bisik ketika mereka mendengan gema suara Yuuna memanggil Cagalli dari kejauhan. Mereka juga sudah biasa melihat Cagalli yang segera bersembunyi di ruangan terdekat ketika menangkap bahkan hanya sehelai rambut Yuuna di dalam pandangannya.

Oh, the horror.

Yuuna tidak pernah berkecil hati. Ia cukup tahu Cagalli menghindarinya. Tapi ia tidak mau berputus asa. Ibunya mengajari untuk terus mengejar apa yang ia mau tanpa berputus asa. Dan itu juga berlaku pada Cagalli. Ia sudah berjanji tidak akan mudah putus asa dalam mengejar cintanya.

Maka, ketika sore itu ia selesai kuliah dan melihat Cagalli di kejauhan, ia segera berteriak memanggil Cagalli, "Cagalli, My Honey! Tunggu!"

Dan Cagalli pun langsung berlari tanpa menengok terlebih dahulu.

"Ah, tingkahnya manis sekali~"


Yuuna menggenggam pergelangan tangan Cagalli dengan erat, tanpa mau melepaskannya meskipun gadis itu sudah menggeliat berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Yuuna. Pemuda itu tidak menghiraukan gadis itu. Ia berdiri dengan pandangan menantang pada Athrun Zala.

Athrun Zala, putera Walikota Zala, yang sudah berulang kali Yuuna lihat berdekatan dengan Cagalli. Pemuda yang hobi mengenakan pakaina berwarna terang itu tidak suka dengan keberadaan pemuda yang menuntut ilmu di Kota September itu. Ia sudah sering melihat ia menjemput Cagalli dengan motor yang sama, membawa helm yang sama. Keberadaannya di luar gerbang Universitas Kota Oktober itu sering menarik perhatian para mahasiswi jurusan hukum itu. Dan alasan itu saja sebenarnya sudah cukup membuat Yuuna naik darah.

"Aku yang akan mengantar Cagalli pulang ke apartemennya."

Athrun mengernyitkan dahinya. "Tidak perlu. Cagalli dan aku sudah ada janji denganku."

"Tidak. My Honey tidak boleh naik motor. Dia bisa kedinginan!"

Ujung mata Cagalli berkedut-kedut mendengar ucapan Yuuna itu.

"Lagipula kau siapa?" tanya Yuuna dengan nada menantang. "Aku yang paling dekat dengan Cagalli. Dan aku yang pantas mengantarkannya pulang! My Honey pasti setuju. Iya kan?"

"Yuuna, aku tidak setuju dengan ucapanmu barusan."

Yuuna memberikan pandangan bertanya-tanya pada Cagalli. Ia merasa bingung dengan ketidaksetujuan gadis itu.

"Tapi, Sayaaang, kau akan lebih enak jika naik mobilku. Nanti kau bisa sakit jika naik motor."

"Terima kasih, Yuuna. Tapi aku lebih suka naik motor dibandingkan mobil."

"Ehhh? Kau lebih suka motor? Kenapa tidak bilang? Aku akan membeli motor jika kau lebih suka naik motor."

"Tidak perlu."

"My Wifeee, kenapa?"

"Tidak kenapa-kenapa."

Cagalli masih berusaha merenggangkan genggaman tangan Yuuna. Ia tidak menyangka kekuatan genggaman pemuda yang ia rasa terlalu feminim itu cukup kuat untuk menahan kekuatannya. Cagalli masih sering berolahraga. Dan terakhir kali ia memukul Kira yang membuatnya sedikit emosi, lebam di pipinya bertahan hingga hampir dua minggu.

(Cagalli cukup merasa bersalah kala itu. Tapi ia menjustifikasi perbuatannya itu sebagai salah Kira yang menjadi keras kepala pada saat yang salah, yang perlu disadarkan dari kekeraskepalaannya itu dengan sebuah pukulan.)

Yuuna masih merengek-rengek pada Cagalli. Tidak mengindahkan keberadaan Athrun yang mengepalkan tangannya melihat perlakuan Yuuna terhadap Cagalli itu. Pemuda yang sudah cukup sering menangani kasus di berbagai wilayah meski belum menamatkan pendidikannya itu kemudian menyentak tangan Yuuna sehingga genggamannya terlepas.

Cagalli hampir saja terjembab jika bukan karena Athrun menahan tubuhnya dan langsung menyempilkan badannya di antara Cagalli dan Yuuna.

Pemuda itu menatap Yuuna dengan pandangan menantang.

"Aku kekasih Cagalli. Kau ada masalah jika aku yang mengantarkannya pulang?"

Cagalli membuka dan menutup mulutnya di belakang Athrun. Kaget dengan ujaran pemuda yang sudah bersahabat dengan adiknya selama bertahun-tahun itu. Di depannya, Yuuna juga tidak berbeda jauh dari Cagalli. Pemuda itu nampak hendak mengatakan sesuatu, namun ucapannya tertahan di tenggorokan.

"Aku kekasih-nya. Lalu kau siapanya?"

Yuuna terhenyak. Masih cukup terpukul dengan ucapan Athrun itu. Ia benar-benar tidak menyangka Athrun adalah kekasih wanita incarannya itu.

Athrun mengangguk puas melihat Yuuna. Pemuda itu kemudian menarik tangan Cagalli dan memakaikan helm pada gadis yang hening itu. Menaiki motornya, pemuda itu menyalakan mesin lalu menggestur agar Cagalli segera memboncengnya. Dan dengan salam terakhir pada pemuda yang masih megap-megap layaknya ikan di darat itu, motor itu melaju.

Vroooom…


Yuuna patah hati.

Setiap kali ia melihat Cagalli, hatinya terasa diiris-iris.

Kesedihan yang dirasakannya sangat luar biasa.

Ia bahkan tidak sanggup memejamkan mata hingga beberapa hari hanya karena patah hati.

Clotho, yang entah bagaimana menjadi salah seorang yang dekat dengannya itu, meledeknya, memanggilnya Yuunda, singkatan Yuuna Panda hanya karena sepasang matanya dihiasi kantong mata kehitaman yang akan susah dihilangkan jika tidak segera ditangani. Selama beberapa hari, pemuda yang selalu berpakaian cerah itu bahkan bertransformasi mengenakan pakaian-pakaian berwarna gelap (yang kadang tag harganya masih terpasang).

Hampir sebulan diliputi duka karena syok dengan penemuannya tentang hubungan Athrun dan Cagalli, Yuuna akhirnya bangkit lagi.

Hari-hari pengejarannya telah dimulai kembali. Ia tidak peduli bila Athrun adalah keaksih Cagalli. Yang ia tahu, ia masih menjadi calon kekasih Cagalli. Yang perlu dilakukannya hanyalah merebut rasa suka Cagalli pada Athrun. Dan tahdaaa, ia menjadi kekasih Cagalli.

Yuuna tersenyum lebar.

"Cagalli, My Honey! Tunggu! Biar aku membantumu membawa tas itu!"

Sekali lagi, Cagalli berlari tergesa begitu mendengar suara Yuuna.

"Ahhh, Cagalli masih sangat manis seperti biasanya.


Yuuna mengambil dokumen yang dititipkan oleh supirnya di pos satpam. Sedikit sapa menyapa dengan satpam paruh baya itu, Yuuna tidak sengaja melihat kotak yang terbungkus kertas cokelat dengan nama tujuan Cagalli Yula Athha.

"Eh? Ini paket milik Cagalli?" tanyanya pada pria itu.

Pria yang keseluruhan rambutnya hampir putih itu mengangguk mengiyakan. "Iya, tadi dititipkan oleh Nona Cagalli. Ia baru saja mengambilnya di kantor pos."

"Oh."

Mengikuti rasa penasarannya, Yuuna mengambil paket itu, mengguncang-guncangkannya hingga menimbulkan suara-suara. Namun ia tidak dapat menebak apa isi paket itu. Di depannya, Pak Satpam panik memperhatikan pemuda itu, khawatir benda yang dititipkan gadis itu rusak karena diguncang-guncang.

Mengedikkan bahunya, Yuuna meletakkan paket itu di tempatnya semula. Matanya kemudian memicing melihat nama pengirim paket itu.

Athrun Zala,

Emerald 27, Point A, Kota A

Liberia, 9876765


Kota Oktober, 2019

Yuuna memberengut kesal melihat Athrun dan Cagalli yang duduk berhadap-hadapan di restoran di seberang. Ia ingin menghampiri kedua orang yang asyik menyantap makanan yang mereka pesan di restoran di seberang jalan itu. Namun sayang, pertemuannya dengan calon kliennya kali itu terlalu penting untuk dilewatkan.

Pemuda yang duduk menghadap jendela itu sesekali mengepalkan tangannya dengan kesal ketika kedua orang itu saling tertawa setelah berbincang beberapa patah kata. 'Apa yang lucu, sih?'

"Tuan Seiran?" panggilan dari wanita paruh baya yang duduk di seberangnya membuat Yuuna mengalihkan pandangannya dari jendela.

"Ah, maafkan saya."

Pria yang datang bersama wanita itu bertanya penuh perhatian, "Apakah Anda sedang tidak enak badan? Kita bisa membahas ini di lain hari jika Anda sedang tidak enak badan."

Sedikit merona, Yuuna menggeleng kecil. "Saya tidak apa-apa. Mari kita lanjukan pembahasan kita."

Mengirimkan tatapan terakhir pada restoran di seberang, Yuuna menatap bagaimana Cagalli menyeka sudut bibir Athrun dengan tisu. Menahan tangis pilu, pemuda yang harus aktif mengurus perusahaan Seiran itu memaksa dirinya untuk fokus pada dokumen di depannya dan membahas kerja sama yang akan perusahaan mereka lakukan.

Ketika diskusi mereka berakhir, tempat duduk di restoran seberang telah diisi pasangan yang berbeda, membuat Yuuna menggigit jari.


Sekali lagi, Yuuna menguntit instapiece Cagalli. Tentu saja dengan akun palsu, karena akun asli pemuda berambut ungu muda itu sudah di-block berulangkali, membuatnya tidak bisa melihat foto-foto yang dipublikasikan gadis itu jika ia login dengan akun aslinya.

Hampir setiap kali Cagalli meng-update akunnya, ia akan merasa gembira, karena melihat foto-foto Cagalli yang tertawa lepas. Kadang bersama-sama dengan teman sekampusnya. Tapi kadang sendiri saja. Kadang-kadang, gadis itu juga mempublikasikan foto-foto unik hewan-hewan lucu, yang menurut Yuuna membuat gadis itu terlihat feminim.

Tapi… kali ini, Yuuna tidak merasa gembira.

Bagaimana tidak?

Cagalli mempublikasikan tujuh foto baru. Dan semuanya adalah foto-fotonya bersama Athrun!

(Yuuna tidak menghiraukan beberapa orang yang juga ada di foto itu. Yang ia tahu, ada Athrun dan Cagalli di dalam foto itu. Orang-orang lainnya tidak penting. Oh, tapi memang ada dua foto yang hanya diisi dengan Athrun dan Cagalli yang tertawa dengan latar belakang taman bunga.)

Dan dalam tiga tahun kebersamaannya bersama Cagalli, ia bahkan belum punya satu foto pun yang hanya diisi dirinya dengan Cagalli.

"My Honeeey, kenapa kau melakukan ini padaku?"


Yuuna diwisuda hari ini. Bangga dengan IPK-nya yang 3.5, ia tersenyum lebar ketika melangkah turun dari podium, resmi seresmi-resminya menjadi seorang sarjana setelah empat tahun menuntut ilmu. Mengikuti rangkaian acara yang lumayan melelahkan, akhirnya setiap mahasiswa bertoga itu dibebaskan. Satu per satu dari mereka keluar gedung, menggandeng teman-temannya dan berdiri mengambil foto kenang-kenangan.

Pemuda itu memperhatikan mereka menerima rangkaian buket bunga dari orang-orang terdekat mereka. Ia sendiri hanya menunggu kedatangan Cagalli (yang kedatangannya tidak dapat dipastikan), karena kedua orang tuanya di Orb masih sibuk meresmikan cabang baru perusahaan mereka di pinggir kota. Namun keduanya menjanjikan sebuah Porsche baru setibanya di Orb.

Celingak-celinguk kesana-kemari, ia mengharapkan kedatangan Cagalli.

"Oi, Yuuna, ayo bergabung untuk foto angkatan kita!"

Seru salah seorang yang samar-samar ia ingat pernah menjadi teman sekelompoknya ketika mengerjakan tugas makalah Hukum Bisnis Internasionalnya di semester tujuh. "Oke."

Sedikit kecewa, pemuda itu berdiri di tengah-tengah deretan kolega yang lulus bersamaan dengannya. Namun matanya masih mencari-cari sosok berambut pirang yang tak jua muncul.

"Oke, hitung mundur, lima…empat…tiga…"

"Ah, Cagalli!" panggil Yuuna ketika ia melihat Cagalli muncul di seberangnya. Ketika gadis itu mendongak dari buku yang dibacanya, Yuuna segera melambai-lambaikan tangannya penuh energi.

"…dua…satu!"

Bruk.

Dan kamera pun menangkap gambar tepat ketika Yuuna nyaris terjatuh karena kakinya menginjak ujung toga bersamaan dengan dirinya yang berusaha berlari mendekati Cagalli. Pengalaman di wisuda itu tidak akan terlupakan oleh 162 orang koleganya yang lain dalam waktu dekat.


Kota Quintilis, 2025

Mengenakan pakaian pelayan, yang berbahan hanya dari kain katun kualitas rendah, yang membuat kulitnya gatal, Yuuna menggerutu kecil. Ia harus merelakan semua lembaran uang di dompetnya berpindah tangan ke seorang pelayan agar ia dapat menyusup masuk ke gedung pertunangan. Yuuna tidak pernah membayangkan dirinya mengenakan pakaian seperti itu. Apalagi pakaian itu terdiri dari kemeja putih dan rompi hitam yang sangat tidak keren. Tapi, demi My Honey-nya, ia rela.

Rambut panjang berwarna cerahnya ia tutupi dengan topi putih yang menjadi bagian dari seragam pelayan itu. Oh, dan demi kesempurnaan penyamarannya, ia juga membuat sebuah tahi lalat di dagu kirinya. Sebuah kacamata berbingkai ungu membingkai matanya.

Ia mendorong troli berisi beberapa botol minuman dingin, menawarkannya kepada para tamu dengan sedikit enggan, tidak biasa melayani orang lain. Ia hanya berharap tidak bertemu seorang pun yang ia kenal di pesta berisi ratusan tamu undangan itu.

"My Honey…."

Yuuna ingin menangis tiap kali ia mendengar para tamu berkomentar tentang betapa serasinya pasangan Athrun Zala dan Cagalli Yula Athha, karena seharusnya pasangan yang dimaksud adalah Yuuna Roma Seiran dan Cagalli Yula Athha. Hatinya menjerit pilu.

Menyeka air mata yang nyaris jauh, pemuda itu menengok mencari-cari pujaan hatinya itu, mengira-ira dimana gadis itu karena setelah berkeliling dengan pakaian pelayannya selama hampir satu jam, ia belum juga melihatnya. Padahal, ia sudah melihat orang-orang yang dekat dengan Cagalli seperti Tuan Uzumi, Tuan Homura, Lacus Clyne dan suaminya, lalu Miriallia sahabat Cagalli.

Well, ia bahkan sudah melihat Athrun yang berdiri berbincang dengan dua orang temannya yang Yuuna tahu sama-sama dari kepolisian. Pemuda bermarga Zala itu, berpakaian cukup rapi dengan kemeja biru tua sederhana yang diberi korsase mawar merah. Rambutnya masih acak-acakan seperti biasa dan tidak berubah sejak terakhir kali ia melihat anak tunggal Walikota Patrick itu.

Yuuna mencibirkan bibirnya. 'Dia? Bertunangan dengan Cagalli? Benar-benar tidak sepadan!'

Dalam kepalanya, ia membandingkan dirinya dengan pemuda yang usianya lebih muda beberapa tahun darinya itu. 'Tinggiku dan dia tidak berbeda jauh, tapi jelas-jelas aku lebih kekar. Dia gendut dengan lemak seperti itu,' pikirnya sambil melihat pemuda itu, yang tingginya setara ketika Yuuna tidak sengaja berdiri di samping pemuda iru. Dan lagi, pipinya cenderung gembil, dibandingkan pipi tirus Yuuna, membuatnya menyimpulkan jika pemuda itu lebih gemuk dibandingkan dirinya.

Yuunamemperhatikan model rambut Athrun, yang ia rasa tidak pernah berubah bahkan sejak pertama kali ia melihat pemuda itu makan bersama Cagalli di sebuah restoran. 'Rambutku lebih indah dan lebih panjang. Warnanya juga lebih indah dibanding warna biru kehitaman yang membosankan seperti itu.'

'Harta? Tentu aku punya lebih banyak. Perusahaan Seiran mempunyai pundi-pundi yang tidak akan habis hingga tujuh turunan.' Terakhir kali Yuuna mengecek laporan keuangan kerajaan bisnis yang kini ia pimpin itu, ada dua puluh empt digit angka yang tercetak pada laporan itu. Dan itu belum termasuk pemasukan dari bisnis-bisnis yang dijalankan di luar negeri. Dibandingkan pemasukan seorang detektif, tentu saja ia menang jauh, bahkan meskipun Athrun menerima warisan dari ayahnya yang walikota.

'Soal ketampanan? Tentu saja aku lebih tampan. Aku heran kenapa My Honey mau dengan laki-laki cantik seperti dia.'

Lengkap sudah. Dari segi mana pun, Yuuna superior dibandingkan Athrun.

"…gaunku."

"Maaf, Meer, aku tidak sengaja. Ayo kita bersihkan," seorang gadis berambut hitam memohon maaf sambil menggiring temannya yang berambut merah mendekati Yuuna. "Permisi, bisa tunjukkan dimana letak kamar mandi?"

Yuuna tidak tahu dimana letak kamar mandi, dan ia tidak ingin tahu. Sedikit kesal karena kedua gadis itu menghampirinya, Yuuna pun menjawab asal, "Lurus lewat pintu itu, lalu belok kanan."

"Terima kasih," gadis berambut hitam itu berterima kasih sambil mendorong Meer.

"Mia, ayo, jangan sampai nodanya menempel!"

Yuuna memperhatikan kedua gadis itu melewati pintu yang ia tunjuk. Ah, ada sedikit rasa bersalah yang merasuk di dalam dada pemuda itu, yang kemudian langsung ditepisnya jauh-jauh. Seorang Yuuna Roma Seiran tidak pernah salah.

Pemuda itu membetulkan posisi kacamatanya, kemudian melanjutkan kegiatan pentingnya mencari gadisnya.

"My Honey…," sebut pemuda itu ketika tiba-tiba di sana seorang Cagalli sudah berdiri menggandeng seorang pemuda dan menghampiri Athrun. Napas pemuda itu tertahan memandangi gadis manis itu.

Rambutnya dibiarkan tergerai sebahu, dengan bandana mutiara putih sebagai satu-satunya pemanis kepalanya. Gaunnya berwarna hijau gadung, panjangnya hingga mencapai mata kaki. Lehernya dihiasi kalung mutiara. Seperti pertama kalinya Yuuna melihat Cagalli, kali ini pun, ia dibuat terpesona. Seolah Cagalli bersinar seperti bidadari. "My Honey…"

Melepaskan topi putihnya, rambut ungunya bebas. Ia kemudian melepaskan pegangannya pada troli, membiarkannya di tengah ruangan kemudian berjalan menuju Cagalli yang sudah berpindah menggandeng Athrun. Namun, belum sempat ia mencapai Cagalli, dua orang pemuda tiba-tiba saja mengunci lengannya. Ia terkejut ketika tiba-tiba ia diseret keluar, tidak sempat berkata-kata, terlebih ketika ia melihat Cagalli mengecup pipi Athrun, yang mengundang ledekan teman-temannya yang berdiri di sekitar keduanya.

Ia terdiam, tanpa sadar memudahkan kedua penculiknya membawanya keluar. Dua orang pemuda yang menggeretnya keluar itu membawanya ke salah satu sudut.

"Yuuna," panggil Miriallia.

Yuuna berkedip. Melihat gadis di depannya, sahabat Cagalli.

Salah satu pemuda yang menggeretnya kemudian berdiri di samping Miriallia. Sementara pemuda lainnya masih berdiri di sisi Yuuna.

"Bagaimana kau bisa masuk?" tanya pemuda di sampingnya dengan mata menyipit curiga. "Kau tidak mendapatkan undangan."

"Kuzzey." Miriallia menggelengkan kepalanya. "Jangan memulai. Kita tidak boleh membuat keributan. Sebentar lagi Paman Uzumi akan mengumumkan pertunangan Athrun dan Cagalli."

"Aku hanya bertanya, Milly," ujar Kuzzey, menggigit bibir.

Yuuna melipat tangan di depan dadanya. Kemudian dengan percaya diri ia memandang Kuzzey dengan remeh. "Sayang sekali, tidak ada yang bisa menghalangiku masuk ke sini."

"Dengan meminjam pakaian pelayan?" pemuda di samping Miriallia bertanya. Salah satu alisnya naik dengan heran. "Ide yang menarik."

Kuzzey mendengus.

Yuuna membuang muka. Mendengar orang lain berkata begitu membuatnya berpikir idenya cukup konyol. Ia harus membayar dengan seluruh lembaran uang yang jumlahnya tidak kurang dari sepuluh ribu gilla, lalu harus mengenakan kain berkualitas rendah dan menggambar sebuah tahi lalat palsu. Belum lagi ia harus diseret-seret keluar ruangan oleh dua orang tidak dikenal, mengundang beberapa pandangan penasaran dari tamu undangan. Ia bahkan belum sempat menemui pujaan hatinya.

Malangnya.

Tapi ia masih beruntung tidak ada yang mengenalinya. Hingga Miriallia dan kedua orang itu tentunya. Mungkin ia harus mempertimbangkan untuk pindah ke jalur keartisan bila bisnisnya gagal? Pencapaian besar hanya dengan penyamaran murah dan sederhana, ia bisa menyelinap bebas di ruangan selama dua jam. Tentu semua itu karena kemampuan aktingnya yang bagus.

(Ah, tapi cukup banyak koleganya dari UKO yang mengenalinya. Mereka hanya menyimpan pengetahuan mereka di dalam hati, mengingat apapun yang dikatakan pada si rambut ungu itu hanya akan masuk lewat telinga kanan dan keluar lewat telinga kiri. Mereka juga sudah terlalu familiar dengan tingkah laku antik Yuuna. Jadi, yah, biarkan saja. Lebih aman dan nyaman jika berpura-pura tidak tahu.)

Miriallia mencubit lengan masing-masing pemuda itu sebelum kemudian ia mendekati Yuuna, memintanya agar segera pergi dari lingkungan pesta karena kehadirannya tidak diharapkan. Yuuna, tentu saja tidak terima jika harus pergi begitu saja, terutama dengan alasan seperti itu.

"Kenapa aku harus pergi?"

"Karena kau tidak diundang."

Jawaban jelas dan pasti tepat sasaran.

Tidak, Miriallia tidak membenci Yuuna, ia hanya tidak mau Yuuna mengganggu jalannya acara. Mengingat bagaimana pemuda berambut ungu itu bertingkah di sekitar Cagalli, bahkan setelah keduanya sama-sama move-on dengan kehidupan masing-masing. Tapi, ia masih ingat dengan jelas, bahkan beberapa bulan sebelumnya, ketika Cagalli mengunjungi Rumah Sakit Quintilis, Yuuna membuat geger dunia dengan memeluk gadis itu.

Beritanya menyebar di berbagai media masa, menimbulkan beberapa kritikan bagi pendiri Yayasan Akatsuki itu. Untungnya, setelah beberapa saat, berita itu mereda. Tapi, tetap saja, Miriallia harus menyempatkan satu jam waktunya mendengarkan protes dan amarah Cagalli tentang pemuda yang bertahun-tahun menyukainya itu.

Gadis yang sukses dalam dunia fotografi itu sedikit kasihan dengan pemuda yang jelas-jelas melakukan banyak hal hanya demi masuk dalam gedung pertunangan itu. Tapi ia benar-benar tidak ingin kebahagiaan sahabatnya terusik di hari bahagianya itu. Maka, sekali lagi, Miriallia meminta Yuuna meninggalkan lingkungan pesta.

"Aw, man, kau tidak ingin kami memanggilkan petugas keamanan, kan?" tanya Kuzzey tiba-tiba.

Bayangan dirinya yang diseret petugas keamanan, lalu penyamarannya dibongkar di depan para tamu undangan membuat bulu kuduk pemuda itu meremang. Bisa hancur harga diri Seiran jika kejadian itu benar-benar terjadi. Ia bahkan mungkin akan diturunkan dari posisi pewaris tunggal kerajaan bisnis Seiran. 'Tidak.'

"Oke. Aku akan pergi."

Kuzzey mengangguk-anggukkan kepalanya. "Bagus."

Kehilangan kepercayaan dirinya, Yuuna berjalan tanpa semangat meninggalkan ketiga orang itu. Bahunya membungkuk ke depan. Samar-samar, suara pembawa acara mengatakan guyonan yang tidak Yuuna ketahui. Ia tidak peduli ketika suara tawa menggelegar dari gedung itu.

Ponsel di dalam saku celananya bergetar. Meskipun ia sedang dalam suasana hati yang buruk, pemuda itu tetap membuka ponselnya. Ada pesan baru di aplikasi LiningApp-nya. Tidak terkejut lagi, ia membaca pesan yang masuk itu. Menyesali keputusannya membaca pesan baru itu, suasana hatinya semakin memburuk.

[(07.45 p.m.) Garcia G: Jangan lupa attach foto Cagalli! Sampaikan salamku juga! *cry*]

[(07.46 p.m.) Koofman C: ok.

[(07.50 p.m.) Jackie T: Sampaikan salamku juga! Sial, aku ingin liat Miss Orator pakai gaun!

[(07.58. p.m.) Clotho B: there you go. cagalli salam balik!]

[Attach: AsuCaga. jpg]

[Attach: Together1. jpg]

[Attach: Together2. jpg]

[Attach: Together3. jpg]

[ia juga minta alamat barumu, garcia.]

[(08.01 p.m.) Garcia G: Kyaaah, love you, Clothe! Ya ampun ya ampun, dia cantik sekali. Aaaah, aku ingin ke sana. *cry* Zala boy semakin tampan saja sejak aku terakhir kali bertemu dengannya! ]

Memang, Cagalli terlihat sangat cantik dalam foto yang dikirimkan oleh Clotho itu. Tapi, Yuuna tidak bisa mendorong dirinya untuk menuliskan kesannya itu. Mendesah kecil mengamati foto Athrun dan Cagalli pada ponsel di tangan kirinya, tangan kanannya sibuk melepaskan kancing-kancing rompinya. Dan tanpa ia sadari, ia berjalan tepat menuju seorang gadis yang menundukkan wajahnya menatap layar ponselnya juga.

Bruk.

"Demi Singa Orb! Tidak bisakah kalian membiarkan aku berduka sedikit?!" Yuuna berdesis ketika pantatnya mencium lantai.

Ponsel di tangan kirinya terlempar entah kemana. Pemuda yang masih sangat kesal dengan kejadian itu mendongak ketika mendengar desisan gadis di depannya. 'Oh.'

"Kau!" Gadis berambut merah itu membelalakkan matanya. "Kau pelayan yang membuatku tersasar! Lihat! Kau membuat nodanya menempel di bajuku! Kau mau tanggung jawab? Gaun ini harganya sepuluh ribu gilla, tahu!"

"Huh. Asal kautahu saja, baju yang aku kenakan ini harganya lebih dari itu."

Mendengus, gadis itu melipat lengannya di depan dada. "Mustahil. Kain murahan seperti itu? Sepuluh ribu gilla? Kaukira aku sebodoh itu?"

"Terserah kau mau percaya atau tidak. Aku tidak peduli."

Gadis itu membuang muka. "Aku juga tidak peduli!"

Kedua orang yang bertemu kali kedua malam itu kemudian saling terdiam tanpa memandangi satu sama lain. Yuuna yang menatap ke arah kirinya, menemukan sebuah ponsel pink mencolok dengan gantungan haro merah. Merasa ponsel itu bukan miliknya, ia menatap sekitarnya, mencari-cari ponselnya. Tepat di belakang gadis yang masih terduduk di lantai itu, ia melihat sekilas ada emas yang memantulkan cahaya. Ponselnya.

Maka, dengan gerutuan kecil, ia meminta ponselnya pada gadis itu. "Hei, kau. Ambilkan ponselku. Di belakangmu."

"Kau juga, ambilkan ponsel pink-ku itu," tungkas gadis itu.

Yuuna mengedikkan bahunya, mengambil ponsel di samping kirinya lalu berdiri menggenggam ponsel pink yang ukurannya kurang lebih sama dengan ukuran ponselnya itu. Ia membersihkan debu yang menempel di celananya, lalu membalikkan ponsel pink gadis itu, membuat layarnya menatap atas. Nampaknya, ia harus memeriksakan matanya, karena ia sekali lagi melihat foto Athrun di sana. Demi koleksi dramanya, ia tidak pernah membayangkan ilusi optik membuatnya melihat rival cintanya itu bertebaran dimana-mana seperti poster orang hilang!

Suara tak-tak-tak hak sepatu berhenti dua langkah di depan Yuuna.

Gadis yang gaun lavendernya itu terkena bercak noda merah di bagian pinggang itu memicingkan matanya, lalu bertanya, "Kau kenal Cagalli?"

"Kau kenal Athrun?" tanya Yuuna balik.

"Athrun mantanku," jawab gadis itu lirih.

"Oh. Kau masih menyukainya?"

Gadis itu memberikan ponselnya. "Sangat. Aku sangat menyukainya. Kau?"

"My Honey adalah satu-satunya," jawab Yuuna tanpa sungkan pada gadis itu sambil menerima ponselnya.

Keduanya terdiam. Masing-masing memberikan perhatian pada ponselnya masing-masing. Sementara itu, dari dalam gedung, sayup-sayup suara tepuk tangan meriah menandakan puncak acara pertunangan kedua orang keturunan Athha dan Zala itu. Tepuk tangan meriah itu membuat kedua insan yang patah hati itu merasa hati mereka terpecah dalam kepingan yang lebih kecil lagi.

Tiba-tiba, gadis itu menyentuh ujung rompi Yuuna lalu berkata dengan mata yang berkerling. "Hei, bagaimana menurutmu jika kita melakukan sesuatu?"

"Maksudmu?"

"Kau masih menyukai Cagalli, kan?"

Yuuna menganggukkan kepalanya.

"Dan aku masih menyukai Athrun. Aku yakin Athrun masih memiliki perasaan padaku. Mungkin kita bisa… kautahu? Saling bantu atau sesuatu?"

Yuuna itu pandai.

Ia seorang pebisnis handal yang sudah paham dengan lika-liku dunia bisnis, mengerti bagaimana mencium aroma persekongkolan yang akan membawanya pada kerugian. Ia juga mengerti bagaimana membuat plot yang dapat membuat bisnisnya berkembang semakin besar. Ia sudah biasa membuat plot-plot untuk mencapai keinginannya, plot-plot yang membuat kerajaan bisnis Seiran aman dari ancaman gulung tikar. Tapi…ia tak menyangka jika ada orang lain yang mendahuluinya dari membuat plot untuk mendapatkan Cagalli-nya.

"Maksudmu…?"

Gadis di depannya mengangguk. "Selama sumpah belum diucapkan, aku masih ingin berusaha. Bagaimana menurutmu?"

"Kau… hebat!"

Malam itu, di sisi koridor utara Gedung Kuin, yang menjadi gedung terbesar di Kota Quintilis, sebuah aliansi baru untuk menggagalkan berlanjutnya hubungan Athrun-Cagalli pun terbentuk.


To be continued…


Demi Singa Orb, tenang, kita udah lewat puncak klimaks, lho. Jadi, buat Guest yang nggak nyangka bakal seserius ini, rest assured! Setelah ini nggak serius sampai bikin rambut rontok, kok.

Kakak, adek, senior, junior, newbie, oldie, laki-laki, perempuan, author, reader, reviewer, passer-by, semuanya yang mau nyoba nulis Round Robin~ Ayo gabung! Kami orang baik, kok (meskipun Ritsu suka komen ajaib plus emot nano-nano, CloudxLightning kadang timbul-tenggelam dalam deretan konten tret, dan nom yang susah ngumpulin nyawa pas pagi hari, tapi iya iya iya kami baik kok) *kedip*

Kapan lagi hayo ada kesempatan nulis bareng sesama penikmat gs/d? Kan? Bisa dapat temen baru, terus bisa fangirlingan bareng sampe puas. Daaan, bisa dapet pengalaman. Nyoba enggak ada salahnya, koook. *kedip-kedip*

Kami tunggu kalian~

Hohoho, jangan lupa juga dengan guess the author challenge! Nanti yang sukses nebak lengkap berurutan dari chapter 1-9 disertai alasan dan punya akun di sini (login pas review), dapet hadiah. Hadiahnya apa? Stay tuned chapter depan! Kesempatan menebak di chapter sembilan~


Omake


Yuuna tidak pernah menyangka, semuanya berakhir seperti ini. Diawali dengan pertemuan tak terduga dengan seorang gadis brilliant, pemuda itu kini menatap deretan mobil-mobil mewah yang satu per satu memasuki halaman manor Seiran. Ratusan kenalan dan selebritis terkenal diundang dalam acara perayaan pernikahannya dengan Meer Campbell, gadis paling sempurna di galaksi, setelah mereka saling bertukar janji suci di gereja pada pagi harinya.

Meer Campbell, gadis berambut merah panjang bergelombang yang ia temui pada saat pesta pertunangan Athrun dan Cagalli, benar-benar gadis yang menakjubkan. Persekongkolan untuk menggagalkan kelanjutan hubungan Athrun dan Cagalli berubah menjadi ajang pendekatan. Siapa sangka, ada gadis yang bisa menyamai kehebatan seorang Yuuna Roma Seiran!

Mulai dari mode fashion hingga hal-hal kecil, semuanya sempurna!

Berapa banyak jam yang mereka lewatkan bersama untuk membeli berbagai pakaian yang sesuai dengan selera mereka. Berapa banyak tempat yang mereka kunjungi bersama. Berapa banyak gilla yang berputar di negeri ini hanya karena kegiatan keduanya. Yuuna tidak menyesal. Ia malah sangat bahagia.

"Yuuna," panggil Meer sembari mendekati suami seharinya itu.

Pemuda itu terperangah.

My Queen-nya sangat cantik. Bahkan melebihi kecantikannya dalam balutan gaun pernikahan. Gadis itu mengenakan kostum puteri duyung dengan sisik berwarna emas. Rambutnya dibiarkan tergerai dengan hiasan butir-butir mutiara dan bintang-bintang laut. Pergelangan tangan dan kakinya dihiasi gelang-gelang kerang yang bergemerincing setiap kali digerakkan.

Dan di jemarinya, ada cincin emas berbatu bintang yang harganya setara dengan dua ponsel emas yang masih setia menemani pemuda berusia dua puluh akhir itu. Cincin pernikahan yang serupa dengan cincin di jemari wanita itu ia kenakan di jarinya, menandakan hubungan suami-isteri mereka.

"My Queen… cantik dan indah," puji Yuuna.

"Kau juga tampan, Sayang."

Oke, keduanya sudah saling puji berjuta kali. Tapi pujian yang sering dilayangkan pada satu sama lain itu tidak pernah tidak membuat kedua pipi mereka bersemu merah. Yuuna, penuh kasih, memeluk isterinya itu, mengecup ubun-ubunnya. "Kau siap?"

Meer tersenyum lalu mengangguk pada pemuda yang mengenakan kostum pangeran inggris lengkap dengan pedangnya itu. Ia menyambut uluran tangan suaminya itu. Lalu keduanya keluar ruangan, menuju ruang pesta di manor Seiran itu.

Ruangan berbentuk melingkar itu sudah disulap indah menjadi ruangan unik dan tidak biasa, terlebih dengan tambahan berbagai macam lampu seolah dalam pub, berkelap-kelip membuat orang-orang kagum. Para tamu undangan yang usinya tidak jauh dari usia kedua pasangan baru itu mengenakan kostum-kostum serupa. Hari pernikahan yang mendekati perayaan Halloween membuat perayaan pernikahan bertema Halloween, mengundang tamu untuk datang dengan kostum-kostum unik dan menarik.

Dua orang fotografer-yang eksklusif merekam perayaan itu-memotret ruangan yang megah dengan hiasan-hiasan unik dan menarik itu dengan terpesona. Ketika sepasang muda itu memasuki ruangan, sekejap perhatian semua orang tertuju pada keduanya. Seruan-seruan takjub terdengar di sana-sini. Cahaya-cahaya dari lampu kedua fotografer itu nyaris membuat kedua orang itu mengernyit. Tapi mereka puas.

Operasi Pesta Terhebat Tahun Ini akan tercapai dengan mudah. Saling memandang dengan tatapan penuh konspirasi, keduanya sudah memperkirakan akan mengalahkan rekor pesta pernikahan Athrun-Cagalli yang bertahan selama dua minggu pada daftar teratas berita populer di seluruh negeri.

Kali ini, Seiran akan menguasai kolom berita selama sebulan penuh.

Pasti.

Dan sedikit demi sedikit, Yuuna-Meer akan menggeser posisi Athrun-Cagalli dari daftar Pasangan Abad Ini.

Pasti.