Tittle : Hold Me Tight

Author : Kim Joungwook

Pairing : NamJin

Length : 7 of

Genre : Romance

Summary :

Warning : Shounen-ai, BoyXBoy. Typo(s). Don't Like Don't Read!

.

.

.

BTS

.

"hah~"

Seokjin sekali lagi menghela nafasnya panjang. Hari ini menjadi hari yang panjang dan melelahkan baginya. Bagaimana tidak? Ia tidak beranjak dari kursinya sejak pagi hingga jam 3, menyelesaikan project yang sudah mendekati deadline. Belum lagi ponselnya yang mendapat pesan dari bank mengenai kartu reditnya yang beum ia bayar, bahkan semakin menumpuk karena sang eomma masih saja memakainya. Beruntung masalah di rumah aka Namjoon sudah ia lupakan, ia biarkan saja anak itu berbuat sesukanya.

"Kau terlihat sangat kacau hari ini, hyung."

Seokjin menoleh, tersenyum miris menanggapi kalimat Yoongi, "terima kasih pujiannya, Yoongi ya."

"sama-sama, hyung."

Seokjin berdecak sebal sebelum memukul bahu Yoongi yang entah sejak kapan duduk disampingnya. "Pergi sana!" usir Seokjin.

Yoongi mengangkat kedua bahunya acuh dan justru semakin mendekat ke meja Seokjin, ia melihat apa yang tengah dikerjakan oleh teman satu divisinya itu.

"Kudengar kau sudah memasukkan surat pengunduran dirimu." Kali ini Seokjin berbalik dan saling berhadapan dengan Yoongi.

Namja Min itu mengangguk, "ya. Aku sudah memasukkannya untuk bulan depan. Jika diterima, berarti ini menjadi bulan terakhir aku bekerja disini."

"Kau sudah serius berpikir mengenai ini? Sudah membicarakannya berdua dengan Jimin?" Tanya Seokjin khawatir, karena sepanjang ia mengenal Yoongi, namja itu bukan seseoang yang mudah beradaptasi dengan lingkungan barunya.

Yoongi mengangguk, "ya. Jimin juga sudah mendukung. Mungkin aku bisa lebih focus terhadap pasionku di music setelah keluar."

"Kau mencoba menjadi composer?"

"setelah keluar dari sini aku ingin mencoba mengirimkan demo lagu yang kubuat ke beberapa studio rekaman. Bagaimana? Apa menurut hyung itu akan berhasil?"

"iya, Yoongi. Kemampuan bermusikmu memang sangat baik. Lupakan soal menyanyi, jangan pernah mencoba bernyanyi, oke?"

"Kau cukup jahat ternyata hyung. Lagipula aku juga tidak tertarik dengan bernyanyi, aku lebih suka rap."

"aku sudah tahu sejak dulu. Suaramu sangat cocok untuk raping."

Yoongi tiba-tiba tersenyum lebar, "Ngomong-ngomong soal rap, hyung belum pernah melihat converse tampil kan?"

Seokjin mengernyitkan keningnya, "Converse? Ah! Grup underground mu itu?"

"ya. Nanti malam ya, di Tunnel."

Raut wajah Seokjin langsung berubah begitu mendengar nama salah stau pub terkenal di Seoul itu, "Aku punya kenangan buruk di Tunnel."

"aku tidak melihat, dimananya kehilangan keperawanan menjadi kenangan buruk?"

"Mulutmu, Yoongi, mulutmu!"

Yoongi terkekeh melihat wajah Seokjin yang merengut kesal, "datang ya, hyung? Bahkan Jimin selalu datang tiap aku tampil."

"Kau merajuk sekarang? Dan Jimin kekasihmu, tentu saja ia harus datang." Seokjin memandang ragu ke arah Yoongi.

"tidak! Aku tidak merajuk. Aku hanya ingin hyung melihat penampilanku."

Seokjin menghela nafasnya panjang, "baiklah, aku akan datang. Lagipula namja yang menjadi tersangka berada dalam pengawasan."

"Hah?! Hyung melaporkan kejadian itu ke polisi?"

Seokjin langsung menggeleng cepat, "tidak! Maksudku berada dalam pengawasanku!"

Kali ini giliran Yoongi yang memandang bingung ke arah Seokjin, "maksud, hyung?"

"Huft~ jadi, tiga hari yang lalu namja itu tiba-tiba muncul di rumahku. Dan dia memaksa untuk menginap. Bahkan ia membeli seluruh perabotan baru untuk rumahku."

"waw! Just waw!"

Seokjin memutar bola matanya malas, "Dia itu sangat menyebalkan Yoongi. Mungkin kau harus bertemu dengannya dan kau harus menggunakan mulut kejammu untuk meredakan kenakalannya."

Yoongi mengerutkan keningnya bingung, "Nakal?"

"ya. Dia memang sangat nakal. Menurutmu, apa pekerjaannya?"

"Woah! Apa ia seorang artis? pengusaha? Pejabat? Mafia? Seorang namja yang 'nakal'?"

Seokjin memukul kepala Yoongi, "Nakal bukan dalam artian seperti itu, Yoongi! Aish! Dia memang nakal dalam artian sesungguhnya."

"memang apa pekerjaannya?"

"kau tak akan percaya. Dia masih anak SMA."

Yoongi membelalakkan matanya, benar-benar kaget atas fakta yang baru saja dikatakan oleh Seokjin, "Waw! Hyung mendapat jackpot!"

Seokjin mengerang kesal, "apa maksudmu jackpot, huh? Dia hanya remaja labil yang nakal menghabiskan malam di pub, ok?"

"Dan sekarang anak itu tinggal dirumah, hyung?"

"dia tidak tinggal Yoongi! Dia hanya menginap beberapa hari."

Yoongi memutar bola matanya malas, "ya, ya, ya, menginap. Kalau begitu hyung ajak saja dia nanti malam! Aku jadi ingin melihatnya."

"Kau gila?! Dia masih anak SMA! Tidak mungkin boleh masuk ke pub!" Seokjin sedikit meninggikan nada suaranya.

Yoongi agi-lagi memutar bola matanya melihat bagaimana hyungnya itu begitu ehm, bodoh, "Hyung lupa? Bahkan dia bisa masuk dan menghabiskan malam di pub saat itu, saat hyung mabuk dan ditiduri olehnya. Berarti, malam ini pun dia ke pub juga tak apakan?"

"Ah~ kau benar juga. Tapi aku tak janji."

"aku tak sabar ingin bertemu dengan anak SMA yang sudah mengambil keperawananmu hyung."

"Argh! Berenti mengucapkan kata itu! Aku bukan seorang yeoja!"

.

.

.

Seokjin berjalan malas dari mobilnya menuju gerbang rumahnya. Tenaganya seakan habis sampai benar-benar tak bersisa seharian di kantor. Pertutnya apalagi, ia hanya sempat memasukkan sebungkus roti melon dan kopi tadi pagi, selain itu tak ada yang ia makan.

"Ouh sweetheart, you look so terrible." Tiba-tiba sebuah lengan melingkari pinggangnya, hampir-hampir membuatnya terjungkal kedepan.

Namjoon hanya terkekeh dan malah dengan senang hati menahan tubuh Seokjin yang limbung, "Kau terlihat sangat kelelahan, princess." Bahkan sempat-sempatnya mengambil kesempatan untuk mencium pelipis Seokjin.

Seokjin dengan malas menyikut pinggang Namjoon, "menyingkir, Namjoon. Aku sangat lelah." Gumamnya pelan. Namjoon mengangguk singkat dan tanpa mengatakan apapun, bahkan tanpa mengambil persiapan langsung menangkat tubuh Seokjin bridal style, membuat Seokjin memekik kaget.

"Astaga! Apa yang kau lakukan?! Turunkan aku!"

Namjoon tertawa renyah dan justru sengaja bermain seakan-akan berniat menjatuhkan Seokjin, dan hal itu membuat namja cantik dalam gendongannya memekik keras dan memeluk lehernya erat-erat.

"berhenti bermain-main, Namjoon! Hentikan! Hahahahah~" namun ia justru ikut tertawa saat Namjoon memutar tubuhnya. Perasaan mengelitik di perutnya membuat ia tak bisa menahan untaian tawa keluar dari mulutnya begitu saja. Bahkan pelukannya di leher Namjoon semakin erat.

Namjoon tersenyum lembut mendengar tawa Seokjin. Ia memberikan satu putaran penuh sekali lagi sebelum menurunkan tubuh Seokjin. Namja cantik itu sedikit limbung dan tetap beregangan erat pada lengannya.

"Begitu kan lebih cantik." Gumam Namjoon pelan. Tangannya yang kosong merapikan rambut Seokjin yng berantakan akibat kegiatan mereka barusan.

Seokjin masih mempertahankan senyum lebarnya dan sedikit mendongak, balas menatap Namjoon yang juga tengah memandangnya. Tanpa sadar tanganya ikut terangkat dan merapikan rambut Namjoon, bahkan ia sedikit terpesona dengan warna baru rambut Namjoon.

"merah." Gumam Seokjin. Namjoon mengangguk dan tanpa ragu mencium ujung hidung Seokjin, membuat namja cantik itu seakan tersadar dan mengambil dua langkah menjauhi Namjoon.

Namjoon menarik sebuah senyuman lebar, tidak, bukan senyuman, namun lebih terlihat seperti seringai kemenangan, "Kurasa perasaanmu jauh lebih baik setelah bertemu denganku."

Seokjin terlihat salah tingkah dengan pipinya yang merona dan segera berbalik untuk melangkah, sedikit berlari menuju pintu rumahnya.

Namjoon menggelengkan kepalanya sembari berdecak senang, "well, well, lihat siapa yang mulai jatuh."

.

.

.

Setelah membersihkan tubuhnya, Seokjin merasa lebih segar dan tidak merasa terlalu lelah. Baju kantorny sudah ia ganti menjadi sepasang kaos dan celana pendek. Dan sekarang ia siap untuk membuat makan malam. Tiba-tiba moodnya berganti, dari yang tadi ingin delivery saja, kini ia ingin membuat sup ayam. Beruntung di kulkas bahannya masih utuh.

"hyung ingin membuat makan malam?" Tanya Joungkook yang tengah duduk di kursi ruang makan dengan segelas jus dan makanan ringan didepannya.

Seokjin mengangguk, "ya. Hyung ingin membuat sup ayam. Tak apa kan?"

Joungkook menagngguk cepat, "ya, ya, ya! Aku juga ingin sup ayam. Nasi goreng kimchi juga hyung~"

Rengekan Joungkook membuat Seokjin tertawa, ia menyempatkan untuk mengacak asal rambut Joungkook sebelum mengambil bahan-bahan untuk makan malamnya di kulkas. Ia tidak mempedulikan dimana keberaaan Namjoon sekarang, yang entah kenapa justru kepikiran.

"Dimana Namjoon?" bahkan Seokjin menyempatkan untuk bertanya pada dongsaengnya itu. Joungkook mengangkat salah satu alisnya ragu, "Namjoon hyung?" ulangnya. Seokjin mengangguk, "ya, aku tak melihatnya sejak masuk. Bukannya tadi dia datang bersamaku?"

"Ha? Aku bahkan belum melihat Namjoon hyung sejak pulang."

Seokjin mengernyitkan keningnya bingung, "brerati ia tidak masuk ke rumah tadi setelah kutinggal." Gumamnya. Ia mengangkat kedua bahunya acuh, biarkan saja, nanti kalau pingin kesini juga akan balik.

Joungkook menatap Seokjin lekat-lekat sebelum berdehem keras, "sampai kapan hyung akan membiarkan Namjoon hyung menginap disini?" tanyanya tiba-tiba.

Tubuh Seokjin sedikit berjengit mendengar pertanyaan yang tak ia sangka akan ia dapat sekarang, karena sejujurnya ia juga tak tahu sampai kapan.

"Memang kenapa? Keberadaannya mengganggumu?" Seokjin balik bertanya. Meski tangannya masih sibuk mengolah makan malamnya.

Joungkook mengangkat kedua bahunya, "tidak juga sih. Lagipula aku juga berhutang pada namja itu."

"Kau berhutang apa, Joungkook? Bukankah hyung sudah bilang untuk tidak berhutang pada orang lain? Jika kau butuh uang, kau minta saja pada hyung." Seokjin menatap tajam ke arah Joungkook, ia tak suka adiknya itu berhutang tanpa memberitahunya.

"aku tidak berhutang uang, hyung. Aku berhutang well, satu pekelahian dengan Namjoon hyung. Kemarin itu Namjoon babak belur dan di skors sekolah karena menyelamatkan Taehyung yang dikepung geng dari sma lain." Jelas Joungkook singkat.

Seokjin mengangguk paham, "ternyata dia tidak senakal yang kupikir."

"memang hyung berpikir bagaimana? Dia anak nakal yang sering bolos dan berbuat onar dengan selalu berkelahi dengan siapapun yang ia temui?"

Seokjin terkekeh sembari mengangguk singkat, "Well, dia bahkan bisa masuk klub malam dengan bebas, jadi, senakal apa dia disekolah?!"

"Namjoon hyung setahuku tak pernah memulai perkelahian. Dia tak suka cari masalah, tapi senang berkelahi. Dan soal suka membolos, Namjoon hyung memang suka membolos."

"tidak terlalu buruk. Bahkan dia mau membantu taehyung. Kau mungkin perlu berterima kasih padanya nanti." Ucap Seokjin, sedikit banyak pandangannya terhadap Namjoon berubah lebih positif.

Lalu kedua kakak beradik itu tak ada lagi yang bersuara, sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Seokjin dengan masakannya dan Joungkook serius dengan ponsel pintar ditangannya.

"Ah, iya Joungkook ah. Nanti malam sepertinya hyung akan pergi"

Joungkook memicing curiga, "Kemana?"

"Ke tunnel. Hyung akan melihat Yoongi tampil disana."

Joungkook mengerutkan keningnya tak setuju, "kenapa harus malam sih?"

Seokjin berdecak, "memang kau pikir kenapa dinamai klub malam? Karena memang dipakai malam! Kau ini! Lagipula hyung sudah dewasa, dan Namjoon juga tinggal disini, jadi, tak ada yang perlu dikhawatirkan lagi kan?"

Joungkook menatap Seokjin lekat-lekap, dan balas ditatap oleh sang kakak, hingga mereka hanya saling pandang selama beberapa detik sebelum Joungkook akhinya menghela nafasnya, menyerah.

"Terserah hyung saja. Kuharap hyung bisa menjaga diri dan pulang sebelum tengah malam."

Seokjin tertwa renyah, "Kau pikir hyung cinderella harus pulang sebelum tengah malam? Dan apa apaan itu?! Kau bersikap seakan kau kakakku!"

Joungkook mencibir, "karena sering kali hyung memang tidak sadar umur."

Dan Seokjin menyempatkan diri untuk memberikan satu pukulan penuh di kepala Joungkook, "dasar adik kurang ajar!"

.

.

.

Seokjin berjalan memasuki sebuah pub dengan plat nama besar bertuliskan Tunnel didepannya. Ia serasa de javu sepeti malam itu, saat ia pertama kali bertemu dengan Namjoon. Dan kini ia berdiri lagi ditempat yang sama.

Sebenarnya sejak sore tadi ia pulang dari kantor, ia bertanya-tanya dimana Namjoon. Karena setelah kejadian di halaman rumahnya tadi, Namjoon menghilang dan pergi entah kemana, bahkan sampai malam ini dimana jam di tangannya sudah menunjukkan pukul 10.30 ia belum melihat sosok Namjoon lagi.

"Ayo hyung masuk."

Dan seperti kata Yoongi tadi diteleponnya, ia sudah meminta Jimin untuk menjemputnya didepan pintu masuk klub, dan ia iyakan saja. Lagipula malam ini ia juga tidak berniat untuk meminum alkohol setetespun. Niatnya hanya untuk melihat penampilan Yoongi lalu pulang.

Jimin menarik lengannya, menuntun Seokjin agar tidak tenggelem diantara lautan manusia yang memenuhi klub malam ini.

"Yoongi ingin mengenalkan anggota converse pada hyung." Ucap Jimin berbisik, mencoba mengalahkan suara musik yang menghentak. Seokjin hanya mengangguk, terlalu malas untuk berteriak menjawabnya.

Jimin menuntunnya memasuki lebih dalam dari klub malam ini hingga mencapai sebuah pintu disamping panggung sederhana disalah satu sisi klub.

Jimin dengan santai membuka pintu itu, yang dianggap Seokjin mungkin basecamp atau backstage dari panggung diatas.

"Yoongi hyung, ini Seokjin hyung sudah datang." Ucap Jimin setengah berteriak.

Yoongi segera berdiri dari duduknya dan menghampiri Seokjin yang masih mematung didepan pintu yang baru saja ditutup Jimin, membuat musik dari luar sedikt teredam.

"Ayo hyung! Kukenalkan pada beberapa temanku, well mereka converse. Kurasa hyung sudah pernah mendengar beberapa stage name mereka."

"Rapmon, Jhope, ini teman yang kuceritakan tadi."

Dan kedua nama yang dipanggil oleh Yoongi segera berbalik, membuat ketiga namja disana membelalak tak percaya.

"Namjoon? Hoseok?"

"Seokjin hyung?"

"Waw, princess, ternyata kita memang ditakdirkan bersama."

Jimin dan Yoongi yang tak tahu apa-apa saling berpandangan bingung, "Tunggu-tunggu, jadi, kalian sudah saling mengenal?" tanya Yoongi.

"Yoongi ya! Apa kau tahu kalau dua orang itu masih SMA?!" bukannya menjawab pertanyaan Yoongi, ia justru melontarkan pertanyaan baru.

Yoongi dengan ragu mengangguk, "ya. Lalu? Bagaimana hyung bisa mengenal dua orang itu?"

Seokjin mengacak rambutnya asal, mengabaikan raut wajah Hoseok dan Namjoon yang tertawa melihat Seokjin yang bingung.

"Kau sudah kuceritakan tentang bocah SMA yang memaksa untuk menginap di rumahku kan? Yang malam laknat itu meniduriku? Dia Namjoon! Kim Namjoon yang berdiri didepanmu itu!"

Yoongi dan Jimin membuka mulut mereka, terkejut akan apa yang baru saja dikatakan Seokjin, "Dunia memang sempit." Komentar Jimin. Sedangkan Yoongi justru tertawa, ikut tertawa bersama Hoseok dan Namjoon, "Astaga hyung~ kalau beginikan aku tak perlu jauh-jauh mencari namja yang sudah mengambil keperawananmu."

Yoongi menghampiri Namjoon dn menepuk pelan pundaknya, "Selamat Namjoon, kau sudah mendapatkan first time Seokjin hyung."

Namjoon menyeringai lebar, "Sama-sama, hyung."

Seokjin mengerang keras, ia memandang sebal ke arah Namjoon dan Yoongi yang masih tertawa bersama Hoseok, sedang Jimin yang berdiri disampingnya hanya menepuk pundaknya pelan, mencoba untuk tidak ikut tertawa.

"aku tak menyangka, ternyata kehidupan kita saling berhubungan. That's what we call fate, isn't it?"

Seokjin berdecak sebal dan memukul keras bahu Namjoon, "aish, kalian menyebalkan!"

"Okay, kita lanjutkan nanti. Kalian harus segera naik ke panggung, sudah waktunya tampil." Ucapan Jimin menghentikan tawa semua yang disana, dan disambut dengan helaan nafas lega oleh Seokjin.

"kita bertemu dirumah, babe." Bisik Namjoon saat melewati tubuh Seokjin untuk keluar dari ruangan ini, karena tanpa sadar sejak masuk, Seokjin belum beranjak dari depan pintu.

Seokjin mendengus dan melirik Namjoon tajam, "Don't babe me!"

Namjoon hanya mengangkat kedua bahunya acuh dan mengedipkan sebelah matanya, yang dibalas dengan pelototan tajam oleh Seokjin.

"Dia cukup seksi, rapnya juga keren." Seokjin berbalik untuk melihat Yoongi yang berdiri tepat disebelahnya.

"Apa?" tanya Yoongi saat balik menatap Seokjin yang memandangnya intens.

"Apa maksudmu berkata seperti itu?" Seokjin bertanya penuh curiga. Yoongi mengangkat kedua bahunya santai, "Maksudku, tak salah juga mengencani Namjoon."

Lalu Yoongi berlalu begitu saja, meninggalkan Seokjin seorang diri di dalam ruangan itu.

"Hah~ Yoongi dan pikiran bebasnya. Apa maksudnya tak apa mengencani Namjoon? Itu artinya aku mengencani anak dibawah umurkan? Ataga! Apa yang kupikirkan?! Aku sedang tidak berkancan dengan Namjoon! Aku tidak akan berkencan dengan Namjoon."

"Well, setidaknya belum."

Seokjin menoleh, mendapati Jimin yang berdiri didepn pintu. Jimin tersenyum lebar mendapati tatapan Seokjin yang tak bersahabat mengenai ucapannya barusan.

"Hyung tak ingin melewatkan penampilan Yoongi hyung lagikan?"

Seokjin mengerjapkan matanya cepat sebelum mengangguk dan mengikuti langkah Jimin keluar, mencari tempat yang strategis untuk melihat ke panggung. Mengabaikan apa yang baru saja dikatakan Jimin barusan.

Ia dan Namjoon tak mungkin berkencankan?

Err, atau belum sepeti kata Jimin?

.

.

.

Seokjin tak pernah melihat grup hiphop underground satu kalipun, bahkan setelah berteman dengan Yoongi bertahun- tahun, dia belum pernah melihat sahabatnya itu tampil di atas panggung bersama dengan orang lain. Ia hanya pernah sekali menemani Yoongi ke sebuah studio rekaman dan mendengarkan mixtape yang dibuat oleh Yoongi sendiri.

Mungkin, karena ini pertama kalinya ia melihat live concert selain grup pop idolnya. Atau mungkin karena ada Yoongi disana dan mengetahui fakta bahwa apa yang diawakan oleh converse adalah hasil ciptaan mereka sendiri. Atau mungkin karena pencahayaan klub yang cukup baik dan tata suara yang luar biasa. Entah karena apa, tapi Seokjin mendapati dirinya begitu terpesona dengan penampilan converse.

Atau jika Seokjin mau jujur sedikit saja pada perasaannya sendiri, ia terpesona pada penampilan Namjoon. Dengan rambut baru namja itu yang berwarna merah, dengan setelan luar biasa seksi yang dipakai namja itu, dengan suara beratnya yang begitu mempesona saat membawakan rap bagiannya. Ia benar-benar tak menyangka bisa melihat sisi Namjoon satu ini. Sisi Namjoon yang membuatnya benar-benar terpesona, jatuh begitu saja kedalam pandangan mata Namjoon saat tatapan mereka bertemu. Seakan-akan Namjoon melakukan seluruh rap, melompat, bahkan mengerling untunya, hanya untuknya.

"Tutup mulutmu, hyung. Tidak perlu terlalu terpesona oleh Namjoon."

Kali ini Seokjin tak mengelak dan hanya menuruti ucapan Jimin untuk menutup mulutnya yang tanpa sadar terbuka saking terpesonanya.

Bahkan ia sampai tak sadar kalau Yoongi sudah selesai tampil dan kini berjalan ke mejanya dan Jimin. Ia buru-buru memperbaiki posisi duduknya dan berpura melupakan keterpesonaannya terhadap Namjoon tadi.

"Bagaimana hyung penampilan kami?" tanya Hoseok semangat, ia berniat mendudukkan dirinya disamping Seokjin, tapi tak jadi karena Namjoon lebih dulu duduk disana, sedikit mendorong tubuhnya menjauh.

Seokjin tersenyum lebar, bahkan ia mengangkat kedua ibu jarinya, "Luar biasa! Kalian benar-benar keren!"

Yoongi dan Hoseok tersenyum lebar, bahkan sempat untuk ber high five sebelum duduk disana. Sedangkan Namjoon yang belum bersuara sejak turun dari paggung tiba-tiba berdiri. Ia menarik pergelangan tangan kanan Seokjin, "Ikut aku sebentar, princess." Ucapnya tepat ditelinga Seokjin, mengingat musik kembali mengalun keras disana.

Seokjin memandang Namjoon bingung, meski tetap mengikuti kemana Namjoon membawanya, mengabaikan tatapan tak mengerti dari yang lain.

"Kita mau kemana, Namjoon?" tanya Seokjin saat Namjoon membawanya menjauhi keramaian dan menuju sebuah lorong disamping meja bartender, sebuah lorong panjang yang cukup sepi, dan Seokjin tak tahu apa fungsi dari lorong ini dan kenapa Namjoon menariknya kesini.

"Nam – "

Seokjin belum sempat menyelesaikan ucapannya, karena Namjoon sudah lebih dulu memepetnya ke tembok, membuatnya terjebak diantara dinding dan Namjoon, bahkan kedua tubuh mereka menempel hingga nafas keduanya menjadi satu.

Nafas Seokjin sedikit terengah, efek karena tadi sedikit kewalahan mengikuti tarikan Namjoon dan menyadari bagaimana posisinya saat ini. Siku Namjoon berada diatas kepalanya, sedangkan tangannya yang lain berada disisi pinggangnya, bersentuhan langsung dengan kulit Seokjin karena kaosnya yang tersingkap. Dan kedua tangan Seokjin hanya terkulai lemas begitu saja dikedua sisi tubuhnya, terlalu kaget untuk melakukan hal apapun saat ini.

"Hmph!" Seokjin membelalakkan matanya saat Namjoon tanpa mengatakan apapun menciumnya, melumat bibirnya dengan kasar dan sedikit terburu-buru. Seokjin dengan cepat menutup mataya erat-erat, membiarkan Namjoon mencium bibirnya sesuka hatinya, karena sejujurnya Seokjin juga tidak membenci kegiatan mereka sekarang. Karena namjoon terlalu seksi dan mempesona untuk ditolak saat ini. Karena ekspresi dan gerakan bibir Namjoon saat dipanggung tadi sejujurnya sudah mendapar perhatian khusus darinya.

Seokjin membuka bibirnya Cuma-Cuma saat tangan Namjoon yang tadi hanya berada disisi pinggangnya mulai bergerak dan mengusap lembut pinggang dan perutnya di balik kaos yang ia pakai. Ia mencoba membalas sebisanya ciuman ganas dari Namjoon, mencoba balas mencium bibir atas Namjoon saat namja itu mencium bibir bawahnya. Membalas permainan lidah Namjoon, bahkan melenguh saat lidah Namjoon menyentuh langit-langit mulutnya, membuat kakinya terasa lemas dan ia bisa jatuh jika saja tangan Namjoon tidak dengan cepat memeluk pinganggnya.

Setelah sekitar 10 menit mereka berciuman, saling melumat hingga meninggalkan jejak air liur yang mengalir di sudut bibir Seokjin, akhinya Namjoon yang berinisiatif pertama kali untuk melepas tautan bibir mereka, membuat sebuah benang tipis diantara bibir keduanya yang langsung diputus oleh jemari Namjoon. Ibu jarinya menyapu sudut bibir Seokjin, mencoba menghilangkan jejak air liur mereka disana.

Seokjin hanya diam, mulutnya masih terbuka, mencoba meraup oksigen sebanyak mungkin yang mungkin masih bersatu dengan nafas Namjoon, mengingat jarak wajah keduanya yang belum berubah.

Namjoon memberikan 2, 3 kecupan di bibir terbuka Seokjin sebelum mengambil satu langkah menjauh, meski salah satu lenganya masih menahan tubuh Seokjin agar tidak terjatuh.

"You are too sexy, princess. Sorry, I cannot hold this any longer." Bisik Namjoon. Seokjin menatap Namjoon dan tersenyum tipis. Untuk apa marah dan menendang Namjoon menjauh kalau faktanya ia juga menikmati ciuman mereka barusan?

Mungkin, ini hanya mungkin, ia sedikit terpesona dengan Namjoon.

"You are still an underage." Seokjin memang mengatakan kalimat itu, tapi bibirnya kembali mencari bibir Namjoon dan memberikan beberapa kecupan disana. Bahkan kedua lengannya kini melingkari leher Namjoon erat. Persetan dengan harga diri! Jantungnya berdebar kencang, dan pipinya memanas mendapati keadaan intim dirinya dengan Namjoon. Detik saat bibir Namjoon menyentuh bibrnya tadi, pertahannya sudah hancur.

Terserah apa kata orang nanti. Karena fatanya, kini hatinya tengah menginginkan bocah SMA bernama Kim Namjoon.

Namjoon menyerigai mendapati Seokjin yang menimkati ciumannya.

"Kita bisa melanjutkan yang tadi."

Seokjin dengan cepat menahan bibir Namjoon yang sudah akan mencari lehernya, ia menarik kepala Namjoon hingga kembali sejajar dengannya. Ia tersenyum kecil, "Easy Namjoon. Easy~ we have plenty of time, right? Let's take our time slowly, shall we?"

Namjoon terkekeh, memberikan sebuah kecupan basah di sudut bibir Seokjin, "As you wish, princess."

.

.

.

Seokjin mengerjapkan matanya perlahan, mendapati bias sinar matahari yang menembus celah gorden. Ia mengerang pelan dan tangannya terangkat untuk mengusap matanya, mencoba membiasakan dengan cahaya yang cukup terang. Ia melirik jam di atas meja nakas di samping ranjang, masih jam 6, setidaknya ia belum terlambat untuk ke kantor hari ini.

Ia bisa merasakan lengan yang sejak semalam memeluk pinggangnya semakin erat, yang berarti pemilik lengan disampingnya ini sudah bangun.

Seokjin berbalik, berhadapan langsung dengan wajah Namjoon yang masih memejamkan matanya erat, meski bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman tipis.

Seokjin berdecak dan semakin merapatkan tubuhnya ke arah Namjoon, yang dibalas dengan sebuah pelukan hangat. Ia tersenyum lebar, mendapati paginya menjadi menyenangkan dengan menerima kehadiran Namjoon disisinya.

Semalam, setelah kejadian di pub, Namjoon dan Seokjin langsung pamit pulang pada Yoongi dan yang lain. Meski diiyakan dengan diikuti tatapan menyeledik karena tautan tangan keduanya yang sangat erat dan tidak terlepas sampai mobil Seokjin. Sampai rumah cukup beruntung, karena Joungkook sudah tidur, atau setidaknya sudah dikamar dan tidak mempertanyakan tautan tangan mereka.

Dan sampai kamar –

Jangan bayangkan yang tidak-tidak! Mereka hanya tidur, benar-benar memejamkan mata dan mengarungi dunia mimpi berdua. Dengan Seokjin berada dalam pelukan Namjoon. Dengan –

"Sleep well, princess."

– bisikan lembut tepat di telinga Seokjin disertai kecupan singkat dipelipisnya.

Seokjin merona mengingat semalam, betapa lembutnya Namjoon memperlakukan dirinya. Mereka memang tidak melakukan apapun. Tapi malam tadi ia seperti baru menyadari, betapa Namjoon sebenarnya memperlakukannya dengan baik. Jadi, jika ia bisa menerima Namjoon dengan hati terbuka, Namjoon juga akan menerimanya dengan hati terbuka kan? Ia berharap tidak mendengar suara otoriter Namjoon lagi mulai sekarang. Itu cukup menakutkan menurutnya.

"Morning, princess." Namjoon akhirnya memilih untuk membuka mata dan menyapanya duluan. Seokjin balas tersenyum, "Pagi juga, Namjoon."

Namjoon memajukan wajahnya, berniat memberikan sebuah ciuman selamat pagi untuk namja cantik yang semalam tidur dalam pelukannya. Namun, rencananya harus berantakan karena Seokjin sudah lebih dulu menutup bibirnya.

"Aku belum sikat gigi. And i have a morning breath if you wanna know."

Namjoon terkekeh, ia tetap maju dan memberikan kecupan ditelapak tangan Seokjin yang menutupi mulutnya sendiri. Dan hal itu membuat wajah Seokjin memerah, bahkan sampai kedua telinganya. Ia menganggap apa yang dilakukan Namjoon barusan sangat manis, dan well, menggairahkan. Bahkan Seokjin tak tahu kenapa pikirannya selalu mengarah ke bagian dewasa setiap kali mengingat Namjoon.

"A – aku harus menyiapkan sarapan."

Seokjin dengan cepat bangun dan menjauhi ranjangnya, ia terlalu malu untuk menatap Namjoon dengan segala pikiran mesum yang ia miliki.

Sedangkan Namjoon hanya terkekeh geli melihat Seokjin yng setengah berlari keluar kamar. Ingin mandi katanya. Entahlah, tadi bilang ingin membua sarapan, sekarang mandi. Tapi Namjoon biarkan saja, ia sudah cukup menikmati waktu berdua dengan princessnya semalam penuh.

"Well, Seokjin berkali lipat lebih manis jika bersikap lunak seperti ini."

.

.

.

"semalam hyung pulang jam berapa? Bersama Namjoon hyung lagi dari klub?"

Pertanyaan yang langsung dilontarkan Joungkook begitu ia duduk di kursi makannya. Seokjin yang lebih dulu duduk disana mengangguk pelan, "Hyung pulang sebelum tengah malam kok. Dan ya, bersama Namjoon. Hyung bertemu dengannya di klub. Dan kau mau tahu fakta yang lebih mencengangkan?"

Joungkook mengangkat salah satu alisnya, "Apa?"

"Namjoon dan Hoseok adalah anggota Converse. Kau tahu kan? Grup underground yang dibentuk Yoongi." Ucap Seokjin sedikit terlalu bersemangat, bahkan membuat Joungkook tertawa kecil melihat kekonyolan hyungnya itu.

Ia mengangguk, "Iya hyung, iya. Converse yang sering diceritakan Yoongi hyung itukan? Aku tahu kok. Aku jadi penasaran ingin melihat Namjoon hyung melakukan rap."

Dan Seokjin berusaha sekuat yang ia mampu untuk tidak melompat dan berteriak didepan Joungkook tentang betapa amazing nya seorang kim Namjoon di atas panggung semalam.

"Apa aku melewatan sesuatu?" tanya Namjoon sembari mengambil duduk disampng Seokjin. Seokjin menggeleng, sedangkan Joungkook mengangguk, membuat Namjoon mengerutkan keningnya bingung, "jadi?"

"Seokjin hyung bercerita kalau hyung bagian dari converse. Iya?"

Namjoon mengangguk, "iya. Kenapa?"

Joungkook berteriak pelan, "Waw! Aku juga ingin bergabung hyung! Aku ingin melihat penampilan hyung dan converse."

Namjoon menyeringai, "datang ke klub akhir pekan ini." Yang dihadiahi sebuah jitakan sayang dikepalanya dari Seokjin.

"Apa?! Kau ingin mengajak Joungkook untuk ke klub malam? Sadarlah! Kalian berdua itu masih dibawah umur!" bentak Seokjin. "dan lagi, converse itu grup hip hop rap, Joungkook. Kau hanya pandai bernyanyi, tapi tidak untuk rap."

"aku bisa belajar. Iyakan Namjoon hyung?" ucap Joungkook mencoba mencari dukungan Namjoon. Sedangkan Namjoon hanya mengangkat kedua bahunya acuh, "Aku tak yakin, brat."

Dan sekarang Joungkook ikutan menatap tajam ke arah Namjoon, "Hyung menyebalkan."

"ya, terima kasih."

Seokjin tertawa melihat wajah cemberut Joungkook.

"Nikmati saja masa SMA mu Joungkook, jangan buat masalah." Ucap Seokjin bijak. Joungkook hanya mendengus kesal dan tak menanggapinya.

"dengarkan apa kata kakakmu. Cypher juga ja – "

Namjoon tidak menyelesaikan kalimatnya karena Joungkook sudah lebih dulu maju dan menutup mulutnya dengan telapak tangan kanannya. Ia melotot penuh ancaman pada Namjoon.

"hei, hei! Apa yang kau lakukan Joungkook? Kita tengah makan. Dan kau mau bicara apa Namjoon?"

Namjoon memandang tajam ke arah Joungkook, lalu menoleh dan tersenyum tipis ke arah Seokjin, "Tak apa, priincess, tak ada apa-apa."

Lalu ketiganya kembali melanjutkan sarapannya dengan Namjoon yang masih mempertahankan tatapan membunuhnya ke arah Joungkook. Ia berbicara tanpa suara pada namja Jeon didepannya itu.

Awas kau nanti, brat!

.

.

.

Namjoon mengantar Seokjin hinga depan pintu. Joungkook sudah keburu kabur duluan sebelum Namjoon melakukan apapun pada namja itu. Sedangkan Seokjin yang tak tahu apa-apa hanya bisa menatap Namjoon bingung, karena namja itu terlihat sangat kesal pada Joungkook.

"Princess, mungkin beberapa hari ini aku tidak akan tidur disini." Ucap Namjoon. Seokjin memandangnya bingung, "Kenapa?" lalu raut wajahnya yang tadi kecewa cepat-cepat ia ubah dengan sebuah seringaian, "Ah, maksudku syukurlah. Kau memang harus pulang kerumah dan berhenti bermalam disini."

Namjoon yang melihat Seokjin yang ragu dengan ucapannya sendiri hanya mengulum senyumnya geli, "Tenang saja, begitu urusanku dirumah selesai, aku akan kembali kesini."

Seokjin mendengus, "Tidak perlu kembali kesini." Jawabnya ketus.

Namjoon terkekeh dan mencolek dagu Seokjin, "Kenapa kau ketus sekali, hm? Siapa yang semalam membalas ciumanku?"

Wajah Seokjin memanas dengan cepat, ia yakin pipinya pasti berwarna merah sekarang. Ia tak menjawab godaan Namjoon dan hanya memalingkan pandangannya, "Semalam aku hanya khilaf." Gumamnya malu.

Namjoon mengacak rambut Seokjin dan terkekeh, "Khilaf saja setiap saat, princess. Setahuku, khilafmu semalam sesuai dengan kata hatimu."

"Jangan mengada-ada. Memang apa kata hatiku?!" Seokjin kembali menatap sengit Namjoon. Wajahnya maasih panas, dan ia berusaha mengumpulkan keberaniannya untuk membalas tatapan Namjoon.

Namjoon sedikit menundukkan dan menempelkan bibirnya ke daun telinga Seokjin, "Hatimu berkata, bahwa kau menginginkanku." Lalu kembali berdiri tegak setelah membisikkan kalimat penuh godaan itu.

Wajah Seokjin semakin merona parah, bahkan sampai ke kedua telinganya. Dan Namjoon kembali tertawa melihat betapa manisnya ekspresi Seokjin saat ini.

"jangan mengada-ada. Terserahlah! Aku mau berangkat sekarang."

Dan sebelum Namjoon melakukan hal-hal yang lebih parah padanya, Seokjin sudah lebih dulu membuka pintu depan dan setengah membantingnya saat menutup.

"Dia sangat imut, membuatku harus pintar-pintar menahan diri untuk tidak menyerangnya."

Lalu Namjoon berjalan masuk lagi ke dalam rumah. Ia berencana untuk pulang hari ini. Ia sedang tak ingin mencari malasalah dengan appanya yang baru saja pulang dari negara entah mana itu.

"Hah~ tuan Kim benar-benar menyebalkan." Gumamnya sembari memsuki kamarnya dan Seokjin. Kkk, ia sendiri yang mengklaim ruangan itu menjadi kamarnya juga.

Namjoon tiba-ttiba mengerutkan keningnya saat melihat sebuah benda berbentuk persegi di atas meja nakas samping ranjang, "Dasar ceroboh." Ia bergumam geli saat mengenali ponsel Seokjin.

Seringai Namjoon muncul begitu saja, ia memiliki sebuah kegiatan bagus untuk membunuh waktu sebelum pulang, "Sepertinya melihat ponsel Seokjin tidak ada salahnya."

Dan 15 menit penuh dilakukan Namjoon untuk menjelajahi ponsel Seokjin. Membuka folder, foto, video, kontak, riwayat browser, riwayat panggilan, bahkan sampai pesan masuk.

"Wah, dia tega menamaiku hanya Kim Namjoon."

Namjoon kembali menyeringai dan mengganti namanya di ponsel Seokjin menjadi Namjoonie~3 dengan emoticon love disampingnya. Ia tersenyum bangga melihat hasil kerjaannya. Ia memang pintar mengambil kesempatan.

"Ah, tidak seru. Aku tidak menemukan appaun yang bisa membut Seokjin malu. Bahkan riwayat browsernya tidak aneh-aneh dan dia tidak menyimapan satupun video porno. Aku jadi semakin meragukan kelelakiannya."

Tapi tiba-tiba Namjoon jutsru menyeringai semakin lebar, "Ah, Aku lupa. Aku sudah pernah menjadi saksi mata kalau dia memang seorang namja tulen."

Namjoon kembali membuka ponsel Seokjin, kali ini sasarannya pesan masuk disana. Dan yang ia dapati bukan sesuatu yang bisa membuatnya membully Seokjin, tapi justru membuatnya semakin mengasihani hidup namja cantik itu. Belum puas dengan ibu yang meninggalkannya bersama Joungkook, sekarang, bahkan yeoja itu memakai kartu kredit Seokjin hingga tagihannya membengkak. Puluhan pesan peringatan dari bank membuat Namjoon penasaran berapa jumlah uang yang harus dibayar Seokjin untuk menutup kartu kreditnya.

"Aku harus pergi ke suatu tempat sebelum pulang."

.

.

.

END

Kalau sesuai dengan plot awal, mungkin 3-4 chap lagi sudah end. Hehe~

Dan sepertinya langsung saja. Gomawo sudah membaca sampai chapter ini, aku terharu, hiks.

Terima kasih bnyk atas waktu dan review nya~ Sselamat bertemu chapter depan~~