Title:Winter In Seoul [REMAKE from Novel Winter In Tokyo]
Author:Rillakyuming97
Cast:
- Lee Sungmin
- Cho Kyuhyun
- Other Cast
Genre: Romance, Hurt/Comfort, Angst.
Rating: T
Disclaimer:Alur, cerita, ide, dan jalan cerita ini murni milik Ilana Tan. Saya hanya meminjam ceritanya untuk di jadikan fanfiction—walaupun ada perombakan di sana sini. Cast milik diri mereka sendiri, Tuhan YME, dan serta ELF semua. Saya hanya meminjam nama, dan meminjam ide. Fanfiction ini milik saya walaupun remake=)) Kyuhyun dan Sungmin saling memiliki. Kyuhyun milik Sungmin, dan Sungmin milik saya-_-v *kabur
Warning: Newbie, AU, OOC, REMAKE, Gender Switch, Typo(s), dan hal-hal yang tidak berkenan lainnya. No Bash, No Flame! Anda boleh memflame/membash fanfiction dan authornya, tetapi tidak membash jalan cerita dan cast-nya:)
Summary:
"Mereka pertama kali bertemu di awal musim dingin di Seoul. Selama sebulan bersama, perasaan baru pun terbentuk. Lalu segalanya berubah ketika suatu hari salah seorang dari mereka terbangun dan sama sekali tidak mengingat semua yang terjadi selama sebulan terakhir, termasuk orang yang tadinya sudah menjadi bagian penting dalam hidupnya…"
-oOo—Winter In Seoul—oOo—
SAMBIL duduk bersandar di sofa, Kyuhyun terpekur menatap layar laptop di hadapannya. Ia sudah terlalu sering memandangi foto-foto yang muncul silih berganti memenuhi seluruh layar laptop itu. Foto-foto yang dipotret dengan tangan dan kameranya sendiri. Foto-foto dengan objek yang sama. Foto-foto wanita itu.
Ia tahu seharusnya ia tidak boleh lagi membenamkan diri dalam kenangan tentang wanita di foto itu. Ia tahu ia tidak pantas, tetapi ia merasa belum sanggup menghapus bayangan wanita itu dari pikiran, ataupun menghapus foto-fotonya dari laptop. Sampai sekarang.
Lamunannya buyar ketika bel pintu apartemennya berbunyi. Tangannya otomatis menurunkan layar laptop, lalu bangkit dan berjalan ke pintu.
"Annyeong."
Kyuhyun mengerjapkan mata melihat Lee Sungmin berdiri di hadapannya dengan senyum lebar tersungging di wajah manisnya.
"Oh, annyeong." Kyuhyun minggir sedikit ketika gadis itu berjalan masuk ke apartemennya sambil menggigil. "Kau sudah pulang?" Biasanya Sungmin belum pulang pada jam-jam segini.
"Ya, aku diizinkan pulang cepat karena flu. Biarkan aku masuk dulu. Dingin sekali di koridor ini." Sungmin melepaskan sepatunya dan berganti mengenakan sandal Hello Kitty yang tersedia di jajaran sepatu dan sandal di samping pintu. Tadi pagi sebelum berangkat kerja, Sungmin mampir lagi untuk menaruh sepasang sandal yang sudah lama tidak dipakainya di apartemen Kyuhyun. Biar praktis saja, ia punya sandal ganti di apartemen tetangganya itu.
Kyuhyun menyadari suara Sungmin yang sengau dan baru teringat gadis itu sedang flu. Ia cepat-cepat menutup pintu dan mengikuti Sungmin ke ruang tengah. Ia juga menyadari langkah gadis itu agak timpang.
"Hari ini kita tidak jadi makan gado-gado," kata Sungmin sambil berputar ke arah Kyuhyun. Tanpa menunggu jawaban ia melanjutkan, "Tadi aku ketemu Nenek Osawa di bawah. Beliau masak bibimbap dan kita disuruh ikut makan bersama. Dan ngomong-ngomong, kau punya soju? Persediaan soju Kakek sudah habis. Aku disuruh minta padamu, makanya langsung ke sini begitu pulang."
"Punya," sahut Kyuhyun setelah mencoba mengingat-ingat. Tiba-tiba ia mengalihkan pembicaraan. "Kau sudah menuruti saranku dan pergi ke dokter?"
Sungmin mengangkat sebelah alis. "Sebelum aku menyebarkan virus ke mana-mana?" Ia tertawa kecil. "Tentu saja sudah. Ayo cepat cari soju-nya dan kita turun. Aku sudah lapar nih."
Kyuhyun tertegun. Ia menatap gadis di depannya dengan bingung. Tiba-tiba saja ia menyadari sesuatu. Tiba-tiba saja ia tahu kenapa kini ia sanggup melepaskan kenangan masa lalu itu.
-oOo—Winter In Seoul—oOo—
Sungmin menatap Kyuhyun berjalan ke lemari dapur dan mulai mencari-cari soju simpanannya. Ternyata tetangganya itu tidak memerhatikan kakinya yang diperban. Yah, tentu saja Kyuhyun tidak menyadarinya karena pergelangan kaki Sungmin sendiri tertutup celana panjang. Tapi memangnya Kyuhyun tidak menyadari langkahnya agak timpang? Sebenarnya Sungmin ingin laki-laki itu bertanya, sehingga ia bisa menceritakan kejadian di rumah sakit tadi siang. Memikirkannya saja sudah membuat Sungmin tersenyum-senyum. Nah, siapa yang menyangka ia bisa bertemu kembali dengan cinta pertamanya setelah tiga belas tahun?
Laptop yang setengah tertutup di meja menarik perhatiannya. Karena tidak tahu apa yang mesti dilakukannya sambil menunggu Kyuhyun, Sungmin iseng-iseng menegakkan layar laptop dan melihat apa yang sedang dikerjakan laki-laki itu sebelum ia membunyikan bel pintu.
Foto seorang wanita berambut panjang sebahu terpampang jelas di layar. Wanita yang tersenyum lebar ke arah kamera itu jelas orang Asia, tetapi di latar belakang foto itu terlihat patung Liberty.
Siapa wanita itu?
Sebelum Sungmin sempat berpikir lebih jauh, fotonya lenyap dari layar dan digantikan foto lain. Masih wanita yang sama, namun di lokasi yang berbeda. Sungmin mulai heran ketika melihat foto-foto selanjutnya juga menampilkan wanita yang sama.
Apakah wanita ini model?
Lalu foto berikutnya muncul dan Sungmin tertegun. Kali ini wanita itu tidak sendirian di dalam foto. Cho Kyuhyun juga ada di sana. Sepertinya foto itu diambil di restoran. Mereka berdua duduk berdampingan dan tersenyum. Hanya saja si wanita tersenyum ke arah kamera seperti foto-foto sebelumnya, sedangkan Kyuhyun tersenyum memandang wanita itu. Dan itu bukan senyum biasa. Di dalam foto itu Kyuhyun tersenyum seakan-akan…
"Ketemu!"
Sungmin tersentak mendengar suara Kyuhyun. Wajahnya terasa panas dan ia merasa seakan ia tertangkap basah mengintip rahasia orang lain. Perasaannya tidak enak.
"Hanya ada satu botol," kata Kyuhyun sambil berjalan mendekatinya. "Tidak apa-apa, bukan?"
"Tentu," kata Sungmin tergagap. Ia melirik laptop di meja dengan pandangan bersalah.
Kyuhyun mengikuti arah pandang Sungmin dan melihat layar laptop-nya sudah terangkat. Ia tersenyum. "Kau sudah melihatnya, eoh?" tanyanya.
Sungmin mengangkat bahu serbasalah. Sebaiknya ia tidak berpura-pura bego. "Siapa wanita itu?" tanyanya.
Kyuhyun menghampiri laptop dan mematikannya. "Wanita yang pernah kusukai," jawabnya.
"Oh."
"Tapi dia lebih menyukai sahabatku."
"Ah…?"
"Mereka akan menikah," kata Kyuhyun lagi.
Sungmin membuka mulut ingin menanyakan sesuatu, tapi tidak jadi. Ia tidak tahu apakah pertanyaan yang ingin ditanyakannya itu terlalu pribadi.
"Geurae," gumam Kyuhyun tiba-tiba sambil tersenyum samar, seakan bisa membaca pikiran Sungmin. "Karena itulah aku datang ke Seoul. Konyol sekali, bukan?"
Sungmin menggeleng. "Molla." Ia berhenti sejenak, lalu bertanya ragu, "Lalu bagaimana sekarang?"
Jeda sesaat sementara Kyuhyun berpikir-pikir. "Semenjak aku datang ke Seoul, aku jarang memikirkannya. Dan akhir-akhir ini aku hampir tidak pernah memikirkannya."
"Bukankah itu bagus."
"Ya, kurasa itu bagus," gumam Kyuhyun dengan nada melamun.
Melihat laki-laki itu agak murung, Sungmin buru-buru mengalihkan pembicaraan. "Baiklah. Ayo, kita turun sekarang. Mereka pasti sudah menunggu kita."
Ketika Sungmin akan berjalan ke pintu, ia mendengar Kyuhyun bertanya, "Kakimu kenapa?"
Akhirnya! Sungmin tersenyum dan berputar kembali menghadap Kyuhyun, lalu menunduk dan menarik ujung celana panjangnya ke atas, memperlihatkan pergelangan kaki kirinya yang diperban.
"Terkilir sewaktu di rumah sakit," sahutnya dengan nada gembira. "Tidak parah."
Kyuhyun mengamati kaki Sungmin yang diperban. Kali ini keningnya berkerut. "Tidak sakit?"
"Tentu saja sakit."
"Bagaimana kakimu bisa terkilir?" tanya Kyuhyun. Matanya kembali ke wajah Sungmin.
"Aku menabrak seseorang di rumah sakit," jawab Sungmin cepat dan penuh semangat. "Ya, kau mau tahu siapa yang kutabrak?"
"Siapa?"
"Cinta pertamaku."
"Oh?" Hanya itu reaksi Kyuhyun, tapi Sungmin tidak peduli. Ia sedang bersemangat dan ingin bercerita.
"Dia sudah banyak berubah… Yah, itu memang sudah pasti. Lagi pula aku sendiri sudah lupa wajahnya tiga belas tahun yang lalu itu. Aku hanya ingat dia memakai topi biru." Sungmin terdiam sejenak, seperti sedang melamun. "Aku tidak akan mengenalinya kalau perawat itu tidak memanggil namanya."
Kyuhyun membuka pintu dan Sungmin mengikutinya keluar. "Kau yakin memang dia orangnya?" tanya Kyuhyun sambil menutup pintu.
"Ya, sudah kutanyakan langsung padanya."
"Dia juga masih ingat padamu?"
Sungmin tertawa pelan. "Tidak, dia tidak ingat. Kami dulu memang bukan teman sepermainan dan dia memang tidak mengenalku. Aku tahu tentang dia karena dulu dia pernah membantuku dan aku terpesona. Dia sangat ramah."
Kyuhyun tidak berkomentar.
"Lihat." Sungmin mengayunkan kaki kirinya ke depan. "Dia juga yang membalut kakiku. Dia dokter! Keren, kan?"
Kyuhyun menatap kaki kiri yang diacungkan itu, lalu beralih menatap tangga di depannya. Setelah berpikir sejenak, ia menyerahkan botol soju kepada Sungmin, lalu berjalan ke tangga dan duduk di anak tangga teratas, memunggungi Sungmin.
"Apa?" tanya Sungmin tidak mengerti.
Kyuhyun menoleh dan menepuk punggungnya sendiri. "Kajja, biar kugendong sampai ke bawah. Kau pasti susah naik-turun tangga dengan kaki seperti itu."
Sungmin ragu-ragu. Alisnya terangkat. "Kau yakin?"
"Tentu."
"Aku lumayan berat."
"Kelihatannya memang begitu."
Sungmin berkacak pinggang. "Nah, apa maksudmu sebenarnya?"
"Oh, ayolah. Aku hanya bercanda," sela Kyuhyun sambil tertawa kecil. "Aku mulai kedinginan, jadi tolong cepat."
Sungmin menarik napas. "Sebaiknya kau tidak menyesal," gumamnya sambil berdoa dalam hati semoga laki-laki itu tidak ambruk karena berat badannya. Setelah memantapkan hati, Sungmin merangkulkan kedua lengannya di leher Kyuhyun dan membiarkan laki-laki itu menggendongnya.
"Wah, ternyata kau…"
Sungmin memukul bahunya. "Sudah kubilang!"
Kyuhyun tertawa dan berdiri tanpa kesulitan. "Aku hanya ingin bilang ternyata kau tidak seberat yang kuduga."
"Tidak seberat yang kauduga?" tanya Sungmin sambil mengerutkan kening. "Jadi maksudmu aku terlihat gemuk?" Suaranya agak melengking.
Kyuhyun menggumamkan sesuatu yang tidak jelas dan menuruni anak tangga dengan hati-hati.
"Apa katamu?" tanya Sungmin sambil bergerak-gerak ingin melihat wajah Kyuhyun.
Kyuhyun memperbaiki posisi Sungmin di punggungnya sambil mendesah, "Kau sadar aku sedang menggendongmu turun tangga? Kalau kau tidak mau kita jatuh terguling sepanjang jalan, sebaiknya kau tidak bergerak-gerak."
"Tadi kau bilang aku tidak berat," protes Sungmin.
"Kau memang tidak berat. Setidaknya tidak seberat yang kuduga."
Sungmin kembali mengernyitkan kening tidak mengerti. "Lalu kenapa kaubilang kita bisa jatuh terguling kalau aku memang tidak berat?"
"Karena kalau kau bergerak-gerak, aku bisa kehilangan keseimbangan. Itu masalahnya," sahut Kyuhyun dengan nada seperti sedang menjelaskan kepada anak kecil berumur lima tahun kenapa manusia tidak bisa terbang seperti burung.
"Tidak mungkin," balas Sungmin, masih tidak puas. "Kalau aku memang seringan bulu, meskipun sekarang aku berjumpalitan, kau tidak mungkin jatuh."
Kyuhyun tertawa. "Siapa bilang kau seringan bulu?"
Sungmin mengguncang-guncang bahu Kyuhyun. "Jadi menurutmu aku gemuk?" pekiknya. "Ayo, bicara yang jelas!"
Tawa Kyuhyun semakin keras. "Aduh, kau mencekikku."
Sungmin tidak bisa menahan diri untuk ikut tertawa, tapi ia tetap merangkul leher Kyuhyun erat-erat dan mengancam, "Jadilah pria sejati dan bicara yang jelas. Aku gemuk atau tidak?"
Dan pembicaraan tentang cinta pertama Sungmin pun untuk sementara terlupakan.
-oOo—Winter In Seoul—oOo—
Kyuhyun tidak bermaksud memulai perdebatan tentang berat badan. Sebenarnya topik itu juga bukan topik yang suka dibicarakannya. Terlebih lagi dengan wanita. Tetapi lebih baik berdebat tidak jelas tentang berat badan daripada mendengarkan gadis itu bercerita tentang cinta pertama yang baru dijumpainya setelah bertahun-tahun.
"Ngomong-ngomong, foto yang kaukirimkan padaku itu foto apa?" tanya Sungmin.
Kyuhyun tersenyum kecil mengingat foto yang dikirimkan ke ponsel Sungmin tadi siang. "Kau tidak tahu?" ia balas bertanya. "Belum tahu?"
"Sepertinya foto langit malam dan bintang," jawab Sungmin ragu-ragu.
"Kau akan tahu saat kau akan tidur nanti. Tapi kau harus memadamkan lampu. Kau bahkan tidak boleh menyalakan lampu kecil di samping tempat tidurmu itu."
"Eh? Wae?"
"Karena sesuatu yang indah akan terlihat saat gelap," sahut Kyuhyun penuh teka-teki.
"Aku masih tidak mengerti," gerutu Sungmin.
Kyuhyun tertawa dan mengalihkan pembicaraan. "Semua lampu di apartemenmu sudah bisa menyala, bukan?"
"Sudah," sahut Sungmin lega.
"Berarti kau tidak akan bermalam di tempatku lagi hari ini?" tanya Kyuhyun ketika mereka tiba di depan pintu apartemen Kakek dan Nenek Osawa.
"Bermalam…?" Sungmin terdengar kaget. "Apa maksudmu? Kau membuatnya terdengar seperti…" Lalu gadis itu mulai mengomel dalam bahasa ibunya sambil mengguncang-guncang bahu Kyuhyun sekali lagi.
"Aduh, tunggu…," kata Kyuhyun susah payah di sela-sela tawanya.
Tepat pada saat itu pintu apartemen 101 terbuka dan Kim Heechul berdiri di sana sambil memandangi mereka dengan mata lebar dan alis terangkat heran.
"Turunkan aku," gumam Sungmin kaku dan buru-buru turun dari gendongan.
Kyuhyun menurutinya, walaupun ia tidak mengerti kenapa sikap Sungmin tiba-tiba berubah.
"Eonnie, aku sudah membawa Kyuhyun-ah dan juga soju-nya," kata Sungmin riang begitu kakinya kembali menginjak lantai. Ia bergegas menghampiri Heechul sambil menyodorkan botol soju Kyuhyun.
"Oh ya, bagus," kata Heechul sambil memandang Kyuhyun dengan senyum lebar penuh arti. "Ayo, masuk, Kyuhyun-ah. Semua sudah berkumpul dan sedang mengobrol di dalam. Mungkin kau bisa menyumbang obrolan menarik?"
-oOo—Winter In Seoul—oOo—
"Siapa yang kaupilih?"
Sungmin sedang membantu Nenek Osawa di dapur ketika Heechul menghampirinya dan berbisik dengan nada mendesak. Sungmin menoleh dan melihat mata tetangganya berkilat-kilat penasaran.
"Apa maksud Eonnie?" gerutu Sungmin salah tingkah, lalu kembali berkonsentrasi pada tugasnya memotong sayur.
"Kau sangat mengerti maksudku," sela Heechul tanpa ampun, masih dengan suara berbisik mengingat Nenek Osawa sedang mencuci sayur tidak jauh dari mereka. Heechul menyiku Sungmin. "Tadi saat menelepon, kau bercerita panjang-lebar padaku tentang cinta pertamamu yang sudah jadi dokter itu. Kau begitu gembira dan tersenyum begitu lebar sampai kukira mulutmu bakal robek. Lalu tiba-tiba kau tertangkap basah sedang gendong-gendongan dengan Kyuhyun-ah."
Mata Sungmin melebar kaget. "Gendong-gen…?" Teringat Nenek Osawa ada di dekat mereka, ia merendahkan suara. "Eonnie!"
Heechul menatapnya dengan mata disipitkan. "Kau suka yang mana?"
Sungmin membuka mulut ingin membela diri, tapi tidak jadi. Tidak ada gunanya mengikuti permainan Heechul. Jadi ia hanya mendesah dan menggeleng-gelengkan kepala.
"Tapi menurutku Sungminnie dan Kyuhyun cocok sekali."
Sungmin dan Heechul serentak menoleh ke arah suara bernada kecil dan ramah itu. Nenek Osawa memandang mereka berdua sambil tersenyum cerah. Matanya berkilat-kilat senang. "Bukankah begitu?"
"Tapi," Sungmin mencoba menyela, "kami sungguh tidak ada hubungan apa-apa."
"Ada hubungan juga tidak apa-apa," timpal Heechul cepat.
"Benar sekali," dukung Nenek Osawa. "Senang sekali melihat kalian berdua bersama."
Sungmin mengerjap-ngerjapkan mata. "Tapi... tidak, maksudku..." Kenapa dua orang itu tiba-tiba berkomplot melawannya?
"Tentu saja kau tetap harus memilih salah satu," tambah Heechul, mengingatkan Sungmin pada topik awal.
"Menurutku Kyuhyun itu anak baik," kata Nenek Osawa ringan sambil mengangkat bahu.
Sungmin mengembuskan napas dan menggeleng-geleng lagi. "Tapi aku tidak punya perasaan apa pun padanya. Aku tidak… menyukainya."
"Siapa? Kyuhyun-ah?"
Sebelum Sungmin sempat menjawab pertanyaan Heechul itu, terdengar suara Nenek Osawa menyela, "Jangan berkata begitu kalau kau sendiri tidak yakin, Sungminnie."
Sungmin tertegun. Nah, apa maksudnya?
Nenek Osawa memandangnya dengan ramah dan senyum yang seakan menyatakan ia tahu lebih banyak daripada Sungmin sendiri. "Kita tidak mau mengatakan sesuatu yang nantinya akan kita sesali, bukan?"
Untungnya Sungmin tidak perlu menjawab karena tepat pada saat itu lagu Bonamana-nya Super Junior terdengar.
-oOo—Winter In Seoul—oOo—
Sementara para wanita sibuk di dapur, para pria duduk mengobrol di ruang duduk. Kakek Osawa sedang bercerita tentang masa mudanya dulu ketika ia masih bekerja sebagai petugas keamanan di sekolah menengah, salah satu topik yang paling disenanginya. Kyuhyun berpikir tidak mungkin semua kejadian yang diceritakan orang tua itu benar. Mungkin ada beberapa bagian yang dilebih-lebihkan. Tetapi baik ia maupun Ryeowook tidak keberatan karena Kakek Osawa pintar bercerita dan selalu berhasil membuat mereka semua terhibur.
"Hari Natal selalu membuat anak-anak senang. Anak-anak perempuan sibuk merajut syal atau topi untuk anak-anak laki-laki yang mereka sukai. Bahkan dulu ada satu anak perempuan yang merajutkan syal hangat untukku," kenang Kakek Osawa.
"Mungkin sebenarnya syal itu dirajutnya untuk anak laki-laki yang disukainya, tapi ternyata anak laki-laki itu menolak hadiahnya. Akhirnya karena tidak tega membuang syal itu, anak perempuan itu memberikannya kepada Haraboji," gurau Ryeowook.
Kyuhyun tertawa.
"Kalian ini," gerutu Kakek Osawa sambil mendecakkan lidah, lalu ia ikut tertawa kecil dan bertanya, "Lalu apakah kalian punya rencana istimewa pada Hari Natal tahun ini?"
Ryeowook mengangkat bahu. "Kalau aku tidak ada yang benar-benar istimewa. Paling-paling hanya berkumpul dengan beberapa temanku."
"Tidak ada kencan istimewa?" Kakek Osawa terkekeh. "Tidak ada gadis yang cukup cantik untuk menarik perhatianmu di kampus?"
Ryeowook mendesah dan menggeleng kecewa.
"Bagaimana denganmu?" Kakek Osawa beralih ke Kyuhyun. "Ada kencan istimewa?"
Kyuhyun mengangkat wajah. "Aku? Hmm, aku belum tahu."
"Belum tahu?" tanya Ryeowook. "Kenapa?"
"Aku belum mengajaknya." Kyuhyun berhenti sejenak, lalu meralat, "Sebenarnya sudah, hanya saja tidak secara langsung. Dia juga tidak menanggapi dengan serius."
"Hyung, seharusnya bertanya langsung," kata Ryeowook memberi saran. "Zaman sekarang ini semuanya harus serba langsung. To the point. Benar tidak, Haraboji? Hyung harus bergerak cepat sebelum direbut orang lain. Lagi pula yeoja juga tidak berbasa-basi kalau mau menolak kita."
"Jadi kau pernah ditolak mentah-mentah?" tanya Kakek Osawa.
Sementara Ryeowook menceritakan salah satu kisah cintanya, Kyuhyun berpaling ke arah dapur. Ia melihat Sungmin sedang memotong-motong sayur sambil mengobrol dengan Heechul dan Nenek Osawa. Bertanya langsung, ya? Bergerak cepat sebelum direbut orang lain. Hmm…
Kyuhyun masih tetap mengamati Sungmin ketika gadis itu tiba-tiba merogoh saku celana dan mengeluarkan ponsel yang berbunyi nyaring. Lalu gadis itu sedikit terkesiap dan menjauh dari Heechul dan Nenek Osawa. Kyuhyun tidak bisa mendengar apa yang dikatakan Sungmin, tapi ia berhasil menangkap satu patah kata ketika Sungmin menjawab telepon. Sunbae.
Kemudian pandangan Kyuhyun terhalang ketika Heechul menghampiri meja sambil membawa piring dan sayuran.
"Sayuran sudah siap. Kita bisa mulai makan," kata Nenek Osawa yang menyusul dari belakang.
"Di mana Sungminnie?" tanya Kakek Osawa.
"Oh, dia sedang menerima telepon di dapur," kata Heechul sambil tersenyum lebar. "Telepon dari si dokter cinta."
"Dari siapa?" Kyuhyun bahkan tidak menyadari ia mengucapkan kata-kata itu dengan lantang dan jelas.
"Si dokter cinta," Heechul mengulangi. "Cinta pertamanya yang sekarang sudah menjadi dokter. Sepertinya si dokter berencana mengajaknya kencan. Menyenangkan sekali."
Kyuhyun menoleh kembali ke dapur. Ia teringat kata-kata Ryeowook tadi. Hyung harus bergerak cepat sebelum direbut orang lain.
-oOo—Winter In Seoul—oOo—
"Terima kasih banyak," kata Sungmin riang sambil menepuk-nepuk pundak Kyuhyun ketika laki-laki itu menurunkannya di depan pintu apartemennya.
Kyuhyun menegakkan tubuh dan mendesah. "Kau bertambah berat setelah makan."
Sungmin tersenyum lebar. "Itu wajar, bukan? Lagi pula aku memang makan banyak tadi."
Kyuhyun mengangkat alis. "Aneh sekali. Kau tidak uring-uringan walaupun kubilang bertambah berat." Ia menatap Sungmin sejenak. "Sepertinya kau sedang gembira."
"Aku memang gembira."
"Karena mendapat telepon dari si dokter cinta?"
"Dokter apa?" Sungmin memandangnya tidak mengerti.
"Cinta pertamamu itu."
Sungmin mengangkat bahu, kembali tersenyum. "Ya, itu salah satu alasannya." Ia menunduk menatap kaki kirinya, lalu kembali menatap Kyuhyun sambil tersenyum. "Ia menanyakan keadaan kakiku."
Kyuhyun diam sejenak, seakan sedang berpikir-pikir. "Cepatlah masuk," katanya tiba-tiba. "Nanti flumu bertambah parah."
Agak heran, Sungmin mengiyakan dan membuka pintu.
"Sungmin?"
Kepala Sungmin berputar. "Ne?"
Dengan tangan memegang pegangan pintu apartemennya sendiri, Kyuhyun menoleh menatap Sungmin. "Jangan lupa matikan semua lampu saat kau tidur nanti."
Kening Sungmin berkerut samar. "Kau tahu aku tidak suka gelap."
Kyuhyun mengangkat bahu. "Coba saja dan kau akan lihat nanti."
"Lihat apa?"
"Kalau kau tidak mencoba kau tidak akan tahu, bukan?" kata Kyuhyun sambil tersenyum, lalu masuk ke apartemennya, meninggalkan Sungmin yang kebingungan sendiri.
Tiba-tiba lagu Bonamana terdengar dan membuat Sungmin tersentak. Ia menggigil, lalu bergegas masuk ke apartemennya sendiri sebelum mengeluarkan ponsel.
"Yeoboseyo?"
"Sungmin?"
Mendengar suara ibunya di ujung sana, Sungmin secara otomatis langsung berbicara dalam bahasa Indonesia. "Halo, Ma!" Ia mengenakan sandal rumah dan mengempaskan diri ke sofa empuk, bersiap-siap mengobrol panjang-lebar dengan ibunya.
Dua jam kemudian, ketika ia keluar dari kamar mandi setelah mencuci muka, bersiap-siap tidur, Sungmin baru teringat kata-kata Kyuhyun tadi.
"Matikan lampu?" gumamnya pada diri sendiri sambil berdiri di kamar tidurnya. Sungmin berpikir sejenak, lalu mengangkat bahu. "Tidak ada salahnya dicoba."
Ia berjalan ke sakelar lampu. Sebelah tangannya memegang dinding supaya ia tidak merasa tersesat dan tangan yang satu lagi menggapai sakelar lampu. Dengan sekali jentikan, lampu kamar tidurnya pun padam. Seketika itu juga Sungmin mengerjap-ngerjapkan mata dan terkesiap. Langit-langit kamar tidurnya bertabur bintang! Bintang-bintang besar dan kecil memancarkan nyala kuning kehijauan yang samar.
"Eommo!" gumamnya pelan. Perlahan-lahan tangannya terlepas dari dinding dan ia melangkah ke tengah-tengah kamar, masih tetap mendongak menatap langit-langit kamar tidurnya dengan takjub. "Ottokhae…? Eommo," gumamnya sekali lagi.
Kemudian ia menyadari foto yang dikirimkan Kyuhyun ke ponselnya adalah foto langit-langit kamarnya. Ternyata sementara mengawasi tukang listrik memperbaiki kabel, Kyuhyun melukis langit-langit kamar tidurnya menjadi langit bertabur bintang dengan cat khusus yang bisa menyala dalam gelap. Siapa yang menyangka laki-laki itu juga pandai melukis?
Sungmin teringat tulisan yang tertera di bawah foto yang dikirimkan Kyuhyun tadi siang: Kenapa harus takut gelap kalau ada banyak hal indah yang hanya bisa dilihat sewaktu gelap?
Sungmin masih tercengang. Kemudian ia meraih ponsel dan menekan beberapa tombol. Setelah menunggu sesaat, hubungan tersambung. "Kyuhyun-ah?" Ia mendongak menatap bintang-bintang yang menghiasi langit-langit kamarnya. "Kau apakah langit-langit kamarku?" Ia berhenti sejenak, lalu tersenyum. "Indah sekali. Gomawo."
.
.
.
To Be Continued.
Preview Next Chapter…
"Hyung sudah mengajaknya?"
"Aku akan mengajaknya malam ini."
"Hyung sudah lupa kata-kataku tentang bergerak cepat?"
.
.
.
"Dan tentang perempuan jalang ini, dia yang menggodaku lebih dulu."
"Kyuhyun-ah!"
.
.
.
"Bisa kulihat kau sangat gembira. Aku juga ikut senang."
"Sunbae mengajakku menonton pertunjukan balet pada malam Natal nanti, Swan Lake."
"Kuharap kau bersenang-senang nanti."
-oOo—Winter In Seoul—oOo—
Hari ini updatenya agak lama-_- Mianhaeeee~~ T_T sebenarnya mau ngupdate tadi sore, tapi ternyata tugas mind mapping belum selesai, jadi harus diselesai sama kelompok-ku tercuyung:)) Ini baru aja pulang, dengan tangan penuh krayon^^
Anyway, gamau basa-basi, udah banyak bacot dan udah ngantuk…-_- Mau lansung to the point dan menjawab review yang masuk di kotak review:
- Heldamagnae: Iya, katanya Sungmin cinta pertamanya Kim Jongwoon^^ Terimakasih sudah mereview^^
- NurLarasati13: Iya ini udah update sayang^^ Terimakasih sudah mereview^^
- dewi. : Setiap aku nulis nama eonnie, pasti dia kepotong jadi 'dewi.' Doang di post-annya. Mianhae eonniee:(( Ah, iya dia belajar dari noona-nya dan belajar dari Mingie juga-_- /eeeh/ Bukan sibuk, tapi asyik-_- :p Mungkin karena usia Jongwoon yang sudah hampir kepala 3, jadi suka lupaaa~ /dilempar cangkang ddankoma sama Yesung/
- zaAra evilkyu: Ehehe iya udah mulai eksis Jongwoonnya^^ Ehm, mungkin bukan salah satu personel SNSD, tapi tetep salah satu personel girlband Korea juga^^ Pasti ada kok, tapi munculnya nanti, setelah… Ah? Apakah ada typo Kazuto disitu? =.=a Terimakasih sudah mereview^^
- PaboGirl: Iyaaa, kayaknya ada yang mulai cembuyu cembuyu nicch ^^ Wkwk iya ya, kalau gitu Kyu untuk eonnie ajadeh, biar Ming untuk aku^^ /simpen Ming/ /ajak makan ayam chubby/ Aduh pengen, ada di daerah mana kira-kira ayam chubby itu, eon? Di palembang ada nggak? -_-a Terimakasih sudah mereview^^
Chaaa! Selalu saya berterimakasih kepada lovely readers yang menyempatkan waktu luang untuk membaca dan mereview cerita ini. Nggak pernah habis-habisnya untuk berterimakasih kepada kalian:'') Siders setia juga terimakasih, walaupun kalian tidak menunjukkan jati diri kalian^^ It's okay^^9
And last,
Mind to Review?
_Rilakkyuming_
