Disclaimer: Masashi Kishimoto

Someone to Remember: Side Story

Ini adalah meet and greet keduanya. Gadis itu menggunakan blus warna biru gelap dan celana panjang berwarna senada, dengan sepatu ber-heels rendah warna krem. Rambut pendeknya yang mulai panjang ia biarkan tergerai.

"Itachi-kun, kau akan datang nanti?" tanya gadis itu lewat ponselnya.

"Tentu saja. aku harus menangani beberapa pasien sebelum bisa hadir meet and greetmu. Bersabar, ya, sayang." kata Itachi diseberang sana.

"Oke. Rawat pasienmu seperti kau merawatku dulu." ucap gadis itu lagi, "Aku harus bergegas."

"Tentu."

Kemudian, gadis itu segera pergi keluar rumah setelah hubungan ponsel terputus. Ia menaiki taksi untuk pergi ke acara meet and greetnya, supaya lebih cepat. Dia tidak ingin banyak orang terlalu lama menunggu.

Dan gadis itu tentu saja, Hinata.

-X-

"Aku berterima kasih atas dukungan kalian semua, yang masuk via email disetiap waktu. Berkat kalian, aku dapat sembuh dari leukimia itu." ucap Hinata, suaranya terdengar melalui setiap speaker yang ada di ruangan itu. "Karena kesibukanku berobat, jadi aku hanya bisa menyelesaikan cerpen, itu juga waktu yang cukup lama."

Beberapa orang bersorak, mengucap tidak apa-apa. Ada juga suara-suara lain yang Hinata tak jelas mendengarnya, namun ia tetap tersenyum.

"Terima kasih telah menunggu novelku." kata Hinata lagi. "Aku sama sekali tak menyangka bahwa cerpen-cerpenku akan dijadikan buku dan disukai banyak orang. Aku juga tak menyangka, ketika aku mengabarkan akan membuat novel, banyak dukungan positif yang masuk kedalam email."

"Novelnya bercerita tentang apa?" tanya MC meet and greetnya, namanya Musaki.

"Kurang lebih tentang kehidupanku, sisanya dibentuk sebagai cerita fiksi." ujar Hinata. "Tentang pertemuanku dengan orang dikehidupan lama yang membuatku kembali bimbang, namun ternyata ada seseorang yang telah dekat denganku... ada didepan mataku. Yah, walau judulnya belum terpikirkan, sih."

Semua bersorak gembira, terbesit pertanyaan mengenai sosok itu.

"Nanti, ia akan datang," kata Hinata lagi, "Mungkin akan sedikit terlambat, karena dia seseorang yang sibuk, ia seorang dokter."

"Bagaimana caramu tahu, bahwa orang itu adalah cinta sejati?" tanya Musaki dengan senyuman lebar, yang disambut dengan sorak-sorai.

"Tidak tahu juga," tukas Hinata. "Bagiku, sejak bertemu dengannya adalah hal yang membahagiakan. Itulah yang membuatku mengira, jika sejak awal adalah bahagia, bukankah akan selalu begitu?"

Musaki mengangguk-angguk paham, ratusan pengunjung meet and greet juga terpana mendengar kata-kata itu dan bertepuk tangan meriah.

"Dia adalah orang yang mau memperjuangkanku untuk hidup, juga menjadi alasanku untuk terus menginginkan hidup. Dia adalah orang yang membuatku selalu memiliki hal-hal baru, dan hal menyenangkan untuk dilakukan." kata Hinata, senyumannya terlihat manis.

Seseorang melambaikan tangan diantara kerumunan itu, hendak bertanya. Setelah sebuah mikrofon sampai pada orang itu, dia bertanya, "Apa kakak akan segera menikah? Umur kakak udah pantas untuk menikah."

"Yup," jawab Hinata, "Sebulan lagi."

Sorakan dan tepuk tangan terdengar lagi, membuat wajah Hinata memerah.

Acara selanjutnya adalah pemberian tanda tangan pada buku kumpulan cerpen Hinata yang diberikan judul Story of Us. Pengunjung mulai mengantri dengan tertib. Hinata memberikan tanda tangan satu per satu, sambil menjawab pertanyaan mengenai menulis dari para pengunjung. Kemudian, akhirnya dia melihat seorang lelaki berdiri didepan pintu masuk ruangan, dengan napas terengah dan senyum lebar.

Hinata segera berdiri, tersenyum.

Itachi ada disana.

Itachi berlari menemui Hinata, dan sesaat mereka berpelukan, diiringi dengan seruan pengunjung yang masih terkaget-kaget.

"Ini kekasihku," bisik Hinata kepada Musaki yang berdiri didekat mereka.

Itachi merangkulkan tangannya pada pinggang Hinata, tersenyum lebar pada para pengunjung yang sibuk memotret mereka.

"Ini adalah kekasih dari penulis kita, Himawari!"

"Uh-oh, kau masih menggunakan nama pena itu, ya?" tanya Itachi pada Hinata.

"Iya." Lalu Hinata menoleh, "Mengapa? Boleh, kan. Aku bertemu denganmu gara-gara kau menyukai cerpenku."

Itachi menepuk ringan kepala Hinata. "Sesungguhnya gara-gara reunian Sasuke."

"Aku tak peduli. Yang terpenting kau memang suka pada karyaku bahkan sebelum kita bertemu." kata Hinata sambil tertawa kecil.

"Maaf, saya datang terlambat," ujar Itachi ketika dia disodorkan sebuah mikrofon. "Sederhana saja, yang ingin kukatakan, aku mencintai gadis ini."

Wajah Hinata memerah kembali. "Kau..."

"Hehehe."

"Bagaimana menurutmu tentang novel yang mau dikerjakan gadismu?" tanya Musaki.

"Oh, novel yang bercerita tentang kami itu, ya?" ujar Itachi, kemudian tertawa. "Bagus. Kisah kami dapat diabadikan. Sejujurnya, sebelum aku bertemu dengan gadis ini, aku juga salah satu penggemarnya."

"Gadismu belum menentukan apa judulnya, jadi menurutmu bagaimana?" tanya Musaki. "Apa ada judul yang tepat?"

Itachi berdeham. Sejenak dia memandangi Hinata, lalu tersenyum. "Ada."

Hinata menatap Itachi tak setuju, karena selama ini Itachi sama sekali tak menganggu gugat soal kepenulisannya. Tetapi sepertinya Itachi tak peduli mengenainya.

"Someone to Remember."

"Mengapa?" tanya Musaki.

Dalam hati, Hinata merasa judul itu cukup keren.

"Karena aku ingin, bagi siapapun yang membacanya akan selalu ingat akan Hinata dan kisahnya, sampai kapanpun." ucap Itachi lembut, mengusap rambut Hinata pelan, kemudian tersenyum memandang para pengunjung. "Semoga kisah kami kan selalu abadi. Um, Hinata nama aslinya, kalian tahu, kan."

Beberapa pengunjung langsung nyengir tak jelas mendengar ucapan terakhir Itachi.

"Itu judul yang keren." Hinata mengaku kepada Itachi. "Kurasa tak ada salahnya."

Itachi mengangguk. "Benar, kan."

"Jadi judulnya, Someone to Remember?" tanya Musaki.

"Ya."

Tepuk tangan mulai terdengar lagi, membuat Hinata tak bisa berhenti tersenyum.

"Ah, omong-omong, namamu siapa?" tanya Musaki lagi sambil tersenyum kecil. "Sepertinya kau lupa menyebutkan nama, ya?"

"Itachi Uchiha."

Tepuk tangan terdengar lagi dipenjuru ruangan.

"Ah, sepertinya gara-gara saya, meet and greetnya tertunda. Mari lanjutkan lagi. Baru sampai sesi tanda tangan, kan?" ucap Itachi tenang.

"Baru katamu? Sesi tanda tangan adalah sesi terakhir, tahu." sungut Hinata.

"Oke, oke. Maafkan aku." ujar Itachi sambil nyengir. "Dokter tak bisa menunda."

"Aku mengerti."

Akhirnya, meet and greet itu dilanjutkan juga.

-X-

"Aku benar-benar tidak menyangka bahwa kekasihku adalah seorang yang aku idolakan. Kau tahu, aku tak pernah bermimpi akan menjadi kekasihmu." ucap Itachi.

Saat ini, mereka berdua ada didalam mobil, sedang dalam perjalanan pulang. Atap mobil dibuka lebar, membuat hembusan angin menjelang musim dingin menerpa wajah mereka. Dingin.

"Aku juga tidak menyangka, bila kekasihku yang menyelamatkan hidupku." Hinata tersenyum. "Tanpamu, mungkin kini aku sudah tiada."

"Shh, jangan bilang begitu." Itachi menyela, tersenyum. "Karena kita telah sama-sama jatuh kedalam cinta, kita akan bahagia."

"Begitu?"

"Bagiku, cinta adalah hal yang membuatku bisa bahagia. Dan itu adalah kau, Hinata." ucap Itachi.

Wajah Hinata menghangat. Kemudian, dia mengangguk.

"Aku mencintaimu, Hinata." ucap Itachi. Lelaki ini sering mengucapkannya, tetapi sampai kapanpun Hinata tak pernah terbiasa, dan wajahnya selalu merah ketika mendengarnya.

"Itachi-kun," suaranya melembut, "Aku juga mencintaimu."

Selama angin masih berhembus, mereka akan selalu saling jatuh cinta, dan merasakan kebahagiaan.

-X-

Fuu! Bagusnya cerita ini disebut apa, ya? Sekuel? Side story? Epilog?

Aku sebagai penggemar novel sih lebih mengenal istilah side story, hehehe. Kalau epilog... sepertinya kurang pas, karena ini cukup panjang. Sekuel... aku mengupdatenya setelah chapter, sedangkan pada umumnya di ffn sekuel dibuat terpisah dari cerita. Ya sudahlah, terserah mau menyebutnya sebagai apa, yang terpenting ini telah update! ^^

Ah, aku suka fanfict ini / *lagi-lagi bilang hal yang sama* karena itu, aku setuju ketika ada yang minta epilog, sekuel atau side story, dan jadinya seperti ini deh (: terima kasih banyak atas review positifnya, juga yang follow favorite cerita ini *yang tak dapat disebut satu per satu* ^.^ padahal cerita ini crack pairing dan paling pendek chapternya dibandingin fanfictku yang lain... *menundukkan kepala meminta maaf*

Aku membuat side story ini dua hari sebelum aku UTS! *curhat* sedangkan banyak fanfict chapter lainnya yang belum kelar juga karena yah... sibuk sekolah, biasa, lah, hehehe. Jadi, aku membuat fanfict ini sambil sesekali nengok buku pelajaran *peace*

Oke, maaf kali ini authornya curhat kepanjangan, (?) mungkin karena mau melampiaskan dilema yang bikin nunda bikin fanfict mulu, hehehe xD Terima kasih banyak karena telah mampir dan membaca fanfict Someone to Remember ini ya ^o^

Sampai jumpa di fanfict lainnya!

-Himawari Natalia-