Brother
LeoN
Hakyeon, Taekwoon, Jisoo
Hyuk, Wonshik, Jaehwan
Hongbin, Sojin
Yaoi
M
Romance and Hurt
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Taekwoon terdiam menatap kedepan, dia tau Jisoo, adik Hakyeon, memiliki perasaan kepada Hakyeon. Anak seumuran Jisoo yang terbilang masih sangat muda, memiliki perasaan seperti itu pasti akan sulit menerima kenyataan yang bertolak belakang dengan keinginannya. Akan sangat sulit untuk membuat Jisoo mengerti, akan sulit untuk membuatnya menerima semua ini. Yang Taekwoon takutkan bukan soal perasaan Jisoo terhadap Hakyeon, tapi apa yang akan Jisoo lakukan kepada Hakyeon. Hal nekad bisa saja dia lakukan karena anak muda selalu tidak terkendali.
"Taekwoonie~"
Taekwoon menoleh dan menatap kedua mata Hakyeon khawatir.
"Hakyeon-ah, Anak itu ingin memilikimu"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Suasana kantor Starlight Company masih seperti biasanya, para pegawai terlihat sibuk dengan pekerjaannya masing - masing, mereka berkutik dengan dokumen mereka dan computer dihadapan mereka. Setumpuk dokumen terus saja masuk dan keluar disalah satu ruangan yang terlihat paling besar dan paling spesial dari yang lainnya. Ruangan itu bahkan berada di lantai paling atas Perusahaan yang terdiri dari 20 lantai. Walaupun tidak terlalu tinggi, namun gedung ini sangat luas, bahkan anak - anakpun bisa berlarian kesana kemari, membawa sepedapun bisa jika di perbolehkan. Kembali ke topik sebelumnnya, didalam ruangan itu ada seorang namja yang tegah sibuk melihat, memilih dan bahkan mencatat sesuatu pada berkas - berkas diatas mejanya. Diatas meja terdapat papan nama yang berdiri elegan, bertuliskan "Cha Sajangnim". Namun, yang duduk dimeja itu bukanlah pemilik dari nama itu, melainkan kekasihnya, Jung Taekwoon. Dia menggantikan Hakyeon sementara untuk menyelesaikan pekerjaan kantornya yang semakin hari semakin menumpuk. Taekwoon menganjurkan Hakyeon untuk beristirahat dirumah, karena dia sudah sangat kewalahan dengan semua hal yang menimpanya. Itulah kenapa Taekwoon sekarang menjadi sangat sibuk disini.
TOK TOK TOK
Taekwoon menoleh kearah pintu yang terbuka dan memperlihatkan Hyuk yang tengah membawa berkas dan sekarang berjalan kearahnya.
"Lagi?!" Taekwoon meletakkan kasar berkas yang tengah dia pegang, dia menjatuhkan tubuhnya kebelakang kursi hingga sedikit terdorong kebelakang.
Hyuk yang melihat Taekwoon kewalahan tersenyum menyindir. "Kau pikir mudah menjadi Cha Sajangnim, dia bahkan tidak pernah mengeluh dan membanting berkas seperti dirimu, ckck" Hyuk meletakkan berkas yang dibawanya keatas meja. "Ini.. tolong diselesaikan Sa_jang_nim" sindir Hyuk dengan menekankan kata sajangnim nya.
Taekwoon menatap tajam Hyuk, dia kembali duduk tegap dan melihat dokumen yang baru saja diterimannya. "Ini yang terakhir kan?" tanya Taekwoon seraya membolak - balikkan berkas itu.
"Terakhir kepalamu" Hyuk berbalik dan berjalan meninggalkan Taekwoon. "Semua laporan itu baru dari kantor administrasi, bagian yang lain akan menyusul" Dengan ucapan itu Hyuk melambaikan tangannya dan menghilang dibalik pintu.
Taekwoon hanya melongo melihat semua dokumen yang menumpuk diatas mejannya. Dari tadi pagi hingga jam 2 siang, semua laporan ini masih dari satu bagian Perusahaan. Berarti Taekwoon harus mengerjakan bertumpuk - tumpuk dokumen lagi dari bagian yang lain.
"Aiiishh! Jinja!" Taekwoon menjambaki rambutnya frustasi. Ternyata tidak semudah yang dia perkirakan.
"Kau benar-benar hebat Cha Hakyeon" gumam Taekwoon dengan senyum tampannya yang tengah menatap kagum sebuah foto yang diletakan diatas meja itu. Foto CEO Starlight Company.
DRRRRTTT DRRRTTT
Ponsel Taekwoon bergetar diatas meja dimana dia sedang sibuk mengerjakan tugasnya. Pandangannya yang sebelumnya mengarah ke sebuah foto kini harus berpindah kesebuah ponsel yang tengah menjerit minta diangkat.
Di layar ponsel itu tertera nama sahabat yang telah dia anggap sebagai saudaranya sendiri. Namun ada sebuah perasaan yang tidak mengijinkannya untuk mengangkat panggilan dari Kim Wonshik itu. Hingga panggilan itu berakhir, Taekwoon tidak mengangkatnya dan hanya terdiam menatap ponsel yang sekarang ikut terdiam.
DRRRTTT DRRRTTTT DRRRTTT
DRRRTTT DRRRRTT DRRRRRTTT
Ponselnya kembali bergetar, namun seperti tadi Taekwoon masih menatapnya dengan pandangan yang terlihat seperti "Angkat tidak ya ?"
DRRT DRRT
Kali ini ponselnya bergetar menerima sebuah pesan, masih dengan orang yang sama. Taekwoon mengambil ponselnya dan mengusap layar itu perlahan hingga pesan dari Kim Wonshik terbuka.
"Hyung, Eodisseo ? Aku tunggu di bawah, kita makan siang bersama ne"
Taekwoon melihat jam pada ponselnya yang menunjukan pukul 2 siang, matanya kembali bergerak dan kini menatap kearah perutnya yang mulai bergemuruh. Dia menghela nafas dan mengusap kasar wajahnya. Taekwoon lantas membalas pesan Wonshik dan dia berdiri menata berkas - berkas yang berantakan diatas meja itu sebelum pergi keluar menemui sahabatnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Wonshik membawa nampan berisi nasi dengan berbagai lauk pauk yang tampak lezat, tidak lupa dengan segelas es cappuccino kesukaannya. Kepalanya menoleh kekanan dan kekiri untuk mencari meja yang kosong, ketika matanya menemukan tempat paling pojok yang tampak sepi dia segera berlari menuju meja tersebut. Tanpa aba - aba pantat Wonshik langsung terduduk dikursi dan meletakan makannya. Namun kepalanya masih sibuk kesana kemari mencari seseorang.
PUUK
Wonshik tersentak saat pundaknya disentuh seseorang dari belakang, reflek saja dia menoleh dan menatap sebal pelaku yang nampaknya tak merasa bersalah dan langsung duduk begitu saja di depan Wonshik.
"Aiishh ! Saeki-Ya !",
"Tidak biasanya kau mengajakku makan" ucap Taekwoon seraya menggeserkan makanan Wonshik kearahnya. Dan entah dia sadar atau tidak, Taekwoon malah memakannya dengan PD nya.
"Ya Ya ! Itu makananku !" Wonshik menarik sendok berisi nasi yang hendak masuk kemulut Taekwoon.
Namun, Taekwoon menariknya kembali dan mendelik menakutkan kepada Wonshik. "Kau bisa ambil lagi, apa susahnya" Suruh Taekwoon seraya memasukan makanan kedalam mulutnya.
"Aahh! Brengsek kau Hyung. Kau kan bisa ambil sendiri"
"Ya ! Kau ini pelit sekali. Pantas tidak ada yg mau denganmu" ucap Taekwoon entengnya yang masih menyuapkan makanan kemulutnya sendiri.
"Aku ini bukannya tidak laku, aku hanya malas saja punya kekasih. Merepotkan. Sini, itu makanku !"
Taekwoon cemberut melihat makannya hmmm tepatnya makanan Wonshik diambil kembali oleh pemiliknya. Wonshik menunjukan kepalan tangannya kepada Taekwoon yang masih mengemut sendok milik Wonshik.
"Hyung! Ambil sendiri makananmuuuuu!" Teriak Wonshik yang sudah jengah dengan perilaku Taekwoon yang begitu amat menyebalkan ketika berhubungan dengan makanan.
"Dasar pelit" umpat Taekwoon lantas berdiri dari tempatnya untuk mengambil makan siangnya.
Wonshik mengekor mata melihat Taekwoon yang semakin menjauh. "Dasar maniak makanan" gumam Wonshik seraya melanjutkan makannya yang sekarang sudah tidak lengkap lagi.
Tidak berselang lama, hanya beberapa menit saja, Taekwoon datang bersama makanannya yang bertumpuk gunung itu. Wonshik melongo menatap makanan yang diletakan Taekwoon tepat didepannya.
"Jinja, Hyung.." Wonshik menatap Taekwoon yang sepertinya sedang siap - siap untuk memakan semua yang ada didepannya. "Tidak salah ? Ini banyak sekali. Kau seperti tukang bangunan" sindir Wonshik menatap ngeri Sahabatnya itu yang tampak asik melahap makanannya tanpa memperdulikan ucapan Wonshik.
"Ooh Hyung.. aku tidak melihat Sajangnim"
"Dia dirumah"
"Tidak masuk kerja ? lalu pekerjaannya bagaimana ?"
"Aku yang tangani"
Wonshik tersenyum mendengar jawaban Taekwoon. "Hmm Hyung, kenapa kau tidak menikah dengannya saja ?"
Taekwoon melirik Wonshik yang tengah meyangga dagunya dan menatap Taekwoon tajam.
"Kau kan bisa mengambil alih semuannya. Jadi, Hakyeon-mu itu tidak perlu cape - cape berkerja lagi, pasti sulit kan untuk dia mengerjakan semua ini, terlebih lagi dia itu buta"
Taekwoon menghentikan acara makannya dan menatap focus ke Wonshik.
"Aku dengar dia juga harus segera melakukan operasi, dia juga tengah mencari adiknya. Pasti berat jika semua dia yang melakukan. Kalau Hyung menikah dengannya perusahaan Hyung yang urus, jadi dia bisa focus untuk mencari adiknya dan melakukan operasi"
Taekwoon terdiam mendengarkan ucapan Wonshik yang panjang lebar, namun matanya menunjukkan keraguan.
"Kenapa tiba - tiba kau jadi baik padanya, ada yang kau rencanakan ?"
"Aku ? aku tidak baik padanya, lagi pula aku hanya kasian terhadapnya" Wonshik meletakkan kepalanya diatas meja. "Dan juga, memiliki banyak uang dengan cara yang tidak baik menyebabkan kesialan. Haaaahhhh," Wonshik menujukkan wajah memelasnya didepan Taekwoon.
Melihat Wonshik yang sudah tidak berniat mengambil harta Hakyeon lagi, membuat senyum Taekwoon berkembang lega. Dia merasa Sahabatnya sudah kembali seperti semula.
"Anak baik" ucap Taekwoon seraya mengusak rambut Wonshik.
Namun, disisi lain Wonshik menyembunyikan wajahnya yang tengah tersenyum evil. Dia sudah berhasil melangkah kedepan, rencana awalnya berhasil.
"Lalu.." Wonshik menyangga dagunya kembali. "Kapan kau menikahinya"
"Aku tidak bisa"
Wonshik terkejut mendengar jawaban Taekwoon yang sekarang telah melanjutkan makannya.
"Wae ? neo sarangiya ?"
"Aniyo.. Aku ingin Hakyeon mendapat adiknya kembali dan penglihatannya, aku ingin dia bahagia terlebih dahulu sebelum akhirnya aku bisa membahagiakannya"
Wonshik terdiam mendengar penjelasan Taekwoon. Ada raut kekecewaan disana.
"Terlalu lama"
"Mwo ?" Taekwoon menatap Wonshik curiga.
"Maksudku..Terlalu lama karena harus mencari adiknya dulu. Kau juga harus memikirkan perasaanmu sendiri."
"Dia sudah ketemu"
Alis Wonshik bertaut mendengar perkataan Taekwoon. "Adiknya ketemu ?"
"Hm. Nanti malam aku dan Hakyeon akan menemuinya" ucap Taekwoon sambil meminum es cappuccino yang sama dipesan Wonshik tadi.
Wonshik memperhatikan Taekwoon yang tengah meneguk minumannya dengan raut wajah yang tampak bahagia. Senyum itu terbesit lagi dan tampak sangat menakutkan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jarum jam menunjukkan pukul 9 malam, dan Taekwoon masih saja berkutat dengan berkas - berkas yang menumpuk di mejanya. Satu persatu dia buka dan baca, dia kerjakan secara bertahap agar berkas selesai secara urut. Sesekali Taekwoon melirik kearah jam dinding yang menggantung di ruangannya. Dia seharusnya ada urusan dengan Hakyeon sekarang namun pekerjaannya hari ini sangatlah banyak, kalau dia tidak menyelesaikannya, berarti Hakyeon yg harus menyelesaikan semuanya besok. Dia tidak bisa membuat Hakyeon mendapat banyak pekerjaan.
TOK TOK TOK
Hyuk masuk kedalam ruangan dengan setumpuk berkas lagi ditangannya. Taekwoon yang melihat itu hanya menghela nafasnya lelah.
"Cepat kemarikan, aku harus segera menyelesaikan semuanya"
"Tidak perlu" Hyuk meletakkan berkas diatas meja, dan duduk di kursi tempat Taekwoon duduk sebelumnya. "Sajangnim sudah menunggu dibawah,"
Taekwoon tersenyum mendengar ucapan Hyuk. Entah kenapa Hyuk akhir - akhir ini menjadi baik padanya, dia tidak lagi marah - marah dan tidak lagi ingin mengusirnya dari Hakyeon.
"Hm, aku pergi" Taekwoon mengambil jas nya dan memakainya dengan rapi.
"Hmm" Hyuk mulai membuka pekerjaanya satu demi satu. "Hyung,"
Taekwoon menoleh kepada Hyuk yang terlihat masih sibuk mengerjakan dokumen itu.
"Aku percayakan Jisoo padamu"
Taekwoon mengangkat kedua alisnya, dia berjalan mendekati Hyuk yang masih berlagak sibuk.
"Kau... memanggilku apa ?"
"Sana pergi, aku sibuk"
Taekwoon tersenyum miring melihat Hyuk yang berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Gomawo ne, Hyukie" Ucap Taekwoon seraya mengusak rambut Hyuk gemas, dia langsung berlari meninggalkan ruangan itu. Meninggalkan Hyuk yang sekarang tengah menatapi foto Hakyeon yang terletak di atas meja tersebut. Dia tersenyum seraya mengusap kaca bingkai itu.
Disisi lain Taekwoon yang baru saja keluar dari lift langsung berlari menuju luar.
"Sajangnim eodiya ?" tanyanya kepada salah satu bodyguard yang berdiri didepan Perusahaan.
"Beliau ada di dalam mobil, silahkan" Bodyguard itu memberikan kunci mobil kepada Taekwoon.
"Kalian meninggalkannya didalam. ?" pekik Taekwoon dan langsung berlari tanpa mendengar jawaban dari bodyguard tersebut. Dia menuju kesebuah mobil hitam mewah, yang biasa dikemudikan Hyuk untuk membawa Hakyeon. Sesampainya disana Taekwoon mengintip kedalam mobil, disana dia melihat Hakyeon yang tengah terduduk dalam diam. Dan segera dibukannya mobil itu.
"Hakyeon-ah, kenapa kau disini sendirian ?"
Hakyeon menoleh kepada Taekwoon dan tersenyum "Aku menunggumu"
"Ck, kau kan bisa ikut masuk kedalam. Jika aku tidak segera kemari kau bisa mati tau kan ! Didalam mobil tidak ada oksigen, kau bisa mati keracunan !"
Hakyeon tertawa renyah mendengar celotehan dari bibir Jung kekasihnya itu. Tangannya meraba hingga berhasil menyentuh tubuh Taekwoon.
"Tapi kau segera menemuiku" Hakyeon memeluk tubuh Taekwoon yang sangat dia rindukan. Seharian dia hanya dirumah terdiam menunggu kekasihnya pulang, tapi Hakyeon tau bagaimana pekerjaan dikantor. Jikapun tidak dijemput, Taekwoon tidak akan pulang secepat ini.
Taekwoon membalas pelukan Hakyeon dan mendekapnya lebih erat.
"Bagaimana kau bisa bertahan dengan semua ini ?"
"Lelah kah, hmm" Hakyeon mengusap lembut rambut belakang Taekwoon. Taekwoon merapatkan tubuh Hakyeon hingga benar - benar menempel seutuhnya pada dirinya.
"Bogoshipda" Taekwoon mengusapkan hidungnya pada area leher Hakyeon yang terekspos.
"...Jibe kajja. Kita bisa menemui Jisoo besok"
Pelukan mereka terlepas, Taekwoon menatap Hakyeon yang tengah tersenyum begitu manis.
CUUPP
Tanpa meminta ijin, Taekwoon langsung mendaratkan bibirnya pada bibir ranum Hakyeon. Bukan ciuman dewasa, hanya kecupan singkat.
"Aku sudah janji padamu"
Kedua mata Hakyeon bergerak gusar, disana genangan air sudah terlihat, dia terus memandang kearah Taekwoon yang juga menatap Hakyeon.
"Kajja. Kita jemput Jisoo" ucap Taekwoon meyakinkan Hakyeon. Taekwoon lantas menghidupkan mesin mobilnya setelah melihat senyum manis diwajah Hakyeon.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sebuah mobil terparkir didepan rumah Jisoo, rumah yang sebelumnya telah didatangi oleh Hakyeon itu kini tengah didatangi pemilik mobil mewah berwarna silver yang sudah berada didalam rumah.
Kedua sahabat Jisoo yang tengah duduk diruang tengah dengan beberapa botol soju dan jajangmyun yang menjadi teman perbincangan mereka. Ketiga orang itu tertawa begitu lepas, tanpa memperdulikan masing - masing masalah yang tengah menimpa mereka. Terlebih lagi dengan Jisoo, yang begitu riangnya tertawa mendengar celotehan dari Hongbin sahabat kecilnya. Mereka sudah bersama sejak kecil, hal seperti ini sering mereka lakukan saat tengah mendapat masalah.
"Ya Ya, Kau ingat dulu kita sering sekali menjahili tetangga. Kita menekan tombol pintu dan lari ketika mereka keluar" Singgung Hongbin
"Ahahaha,, iya iya aku ingat. Bahkan sekarang aku masih sering ingin melakukannya"
"Ya!" Sojin memukul lengan Jisoo dan Hongbin bergantian. "Kenapa kalian tidak mengajakku, Aiiishh!"
"Ya! Nuna, kau kan sudah tua, tidak asik mengajakmu lagi" sindir Jisoo dan berhasil membuat Hongbin tertawa hingga terbahak - bahak. Keasikan mereka ini begitu tulus dan lepas, tidak melihat perbedaan ekonomi yang ada diantara mereka. Walaupun tingkat derajat amat berbeda tapi persahabatan mereka terjalin begitu kuat nan indah.
GREEEEKK
"Aku pulang"
"Annyeonghaseyo Ahjumma" ucap Hongbin dan Sojin bersamaan, saat melihat Ibu Jisoo telah kembali dari tempatnya bekerja.
"Eoh Eomma, neo wasseo.." Jisoo segera berlari menghampiri Ibunya dan mengambil beberapa barang yang dibawa oleh Ibu dari tempat kerjanya.
"Sojin-ah, Hongbin-ah sudah lama tidak melihat kalian. Bagaimana keadaan kalian selama ini ?" sapa Nyonya Kim kepada kedua tamu yang tengah duduk disana.
"Kami baik Ahjumma, setelah dibawa ke Jepang keadaan Hongbin menjadi sangat baik"
Nyonya kim menyentuh tangan Hongbin dan tersenyum lega. "Bagus~ aku senang mendengarnya. Tidak apa - apa, mereka pasti mendapatkan hukuman,"
Hongbin membalas tangan Nyonya kim yang menggenggam erat tanganya. "Khamsahamnida Ahjumma"
"Kalian sudah seperti anakku sendiri. Jadi, datanglah kapanpun kalian mau"
Sojin dan Hongbin terharu mendengar ungkapan dari Nyonya Kim, mereka merasa bersyukur masih ada seseorang yang berada dipihak mereka. Dan yang terpenting mereka masih memiliki keluarga yang harus mereka jaga agar tidak kehilangan untuk kedua kalinya
"Kalian bersenang - senanglah, Ahjumma istirahat lebih dahulu"
"Ne Ahjumma," ucap Hongbin seraya memeluk Bibi Kim. Begitu juga Sojin.
"Selamat malam Ahjuma"
Nyonya Kim masuk kedalam kamarnya meninggalkan ketiga anak muda yang masih asik berbincang - bincang. Namun pembincaraan mereka terganggu karena bunyi ponsel milik salah satu dari mereka.
"Angkat itu ! berisik sekali" Suruh Sojin kepada Hongbin.
Hongbin lantas mengambil ponselnya yang terkapar dilantai dan pergi keluar untuk menerima telepon.
"Wae Kim Wonshik ?"
"Dia sudah ditemukan"
"Jinja ? Eodi ?"
"Sebaiknya kalian cepat kesana sebelum mereka bertemu dengan Jisoo terlebih dahulu."
"Jisoo ?"
"Mereka akan menjemputnya malam ini, aku akan mengirimkan alamat lengkapnya. Jangan sampai gagal, dia adalah kunci kemenangan kita"
"Hmmm, Arasseo"
Hongbin masuk kembali kedalam rumah dan menatap Jisoo yang tengah bercanda tawa dengan kakaknya.
"Nugueyo ?" tanya Sojin saat adiknya telah duduk kembali. Namun, pandangan mata Hongbin masih tertuju kepada Jisoo yang tengah meneguk segelas soju.
"Jisoo-ya" panggil Hongbin pelan.
Jisoo lantas menoleh kepada Hongbin yang tengah menatapnya serius. Sojin mengamati Hongbin yang berubah aneh ketika menerima telepon tadi.
"Hmm ? Ada apa dengan wajahmu itu, ?" tanya Jisoo masih dengan candaannya
"Aku ingin bertanya sesuatu padamu"
"Ada masalah apa Hongbin-ah, siapa yang meneleponmu ?" tanya sang kakak yang mulai khawatir.
"Keluargamu.." Ponsel miliknya yang berada ditangannya bergetar, Hongbin meliriknya sebentar dan mendapati satu pesan masuk. "kau sudah menemukannya kan ?"
Sojin membulatkan matanya dan langsung menatap terkejut Jisoo yang juga memasang raut wajah yang sama.
"Jisoo-ya benarkah itu ? Kenapa kau tidak menceritakannya"
Kedua mata Jisoo bergerak gusar, dia meneguk paksa air liurnya. Tanpa mampu menjawab pertanyaan kedua sahabatnya itu Jisoo hanya mampu terdiam dengan ketakutan yang terus menyerangnya. Dia tidak bisa membiarkan kedua sahabatnya tau siapa keluarganya, itu akan menyebabkan masalah besar.
"Jisoo-ya..?" Hongbin melirik keponselnya untuk membuka pesannya terlebih dahulu sebelum mengatakan sesuatu kepada Jisoo. Tangan itu mengusap layar ponsel dan membuka satu pesan baru. Mata itu terbuka lebar bersamaan dengan bibirnya ketika membaca sebuah alamat yang baru saja dikirim Wonshik kepadanya, alamat adik Cha Hakyeon, alamat yang sekarang dirinya tengah berada didalam rumah tersebut. Mata Hongbin bergerak perlahan, kembali menatap Jisoo, namun bukan tatapan tajam seperti tadi. Sekarang pancaran mata itu terlihat begitu nanar, menatap tidak percaya kepada sahabat didepannya yang tengah terdiam dengan pikirannya sendiri.
"Ji..Jisoo-ya"
Jisoo mengangkat kepalanya memberanikan dirinya untuk menatap sahabatnya yang sekarang semakin terlihat ingin menangis. "Kim Jisoo~" ucap Hongbin parau.
Sojin yang tidak mengerti dengan Hongbin menjadi bingung, kedua namja didepannya ini terus saja memasang raut wajah yang tidak menggembirakan, suasana bahagia yang tercipta beberapa saat yang lalu hilang begitu saja.
"Hongbin-ah, Wae geurae ?!"
"Jisoo-ya,"
"..."
"Cha Jisoo"
Sojin membulatkan matanya ketika mendengar ucapan dari Hongbin namun tidak dengan Jisoo, dia malah menutup kedua matanya begitu erat.
"Hyung-mu, Cha Hakyeon. Benarkan ?"
"Hong..Hongbin-ah, ada apa ini sebenarnya?!"
Hongbin menatap Sojin yang tampak panik, kemudian beralih lagi menatap Jisoo yang masih memejamkan matanya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Mobil yang dikendarai Taekwoon melaju menuju pedesaan yang pernah mereka datangi sebelumnya. Kedua tangan mereka saling bertautan diantara persneling mobil, sesekali Taekwoon melirik Hakyeon yang tengah tersenyum manis. Tanpa Hakyeon sadari raut wajah kekasihnya itu menatapnya penuh khawatir, ada yang mengganggu pikiran Taekwoon sedari tadi.
Taekwoon menghadapkan kembali pandangannya kedepan, kembali focus untuk mengemudi.
"Woonie~"
"Hmmm"
"Apa menurutmu Jisoo akan pulang ?"
"..."
"Woonie~"
"Kita sudah sampai" Taekwoon mematikan mesin mobilnya dan melepas sabuk pengamannya. Dia keluar dari mobil dan beranjak menuju tempat Hakyeon untuk membukakan pintu. Hakyeon menghentakan tongkatnya dan keluar perlahan di bantu Taekwoon.
Taekwoon menatap sebuah rumah yang tampak sepi dan tenang itu. Dia membimbing Hakyeon berjalan menuju rumah tersebut.
TOK TOK TOK
Baru tiga kali ketukan pintu itu sudah terbuka dan menampakan pemilik rumah. Jisoo, membuka pintu rumah itu dan menatap sejenak Hakyeon sebelum menatap Taekwoon tajam.
"Kita.."
"Aku ingin bicara dengamu" ucap Jisoo to the point kepada Taekwoon yang hanya menatapnya datar.
"Kita juga ingin bicara denganmu"
"Hanya kita berdua" ucap Jisoo kembali.
Taekwoon melirik Hakyeon sebentar sebelum pandangannya kembali kepada Jisoo. "Aku tidak akan pernah meninggalkan Hakyeon sendiri"
"Dia bisa menunggu didalam rumah"
"Aku tidak akan membiarkannya menunggu sendirian"
Jisoo menatap Taekwoon tidak suka, giginya tergretak marah dengan kedua tangannya yang terkepal.
"Kita bisa bicara ditempat yang lebih ramai"
Taekwoon membimbing Hakyeon berjalan kembali ke mobil. Jisoo mengikutinya dari belakang masih dengan tatapan tajamnya kepada dua orang didepannya.
Taekwoon kembali mengendarai mobilnya. dimana Hakyeon duduk disampingnya dan Jisoo dibelakang. Taekwoon menatap kaca spion yang memperlihatkan penumpang dibangku belakang. Disana terlihat Jisoo yang terus menatap Hakyeon dengan mata sendunya.
Taekwoon lantas menggenggam tangan Hakyeon dan berhasil membuat kekasihnya itu menoleh. tidak hanya Hakyeon, Jisoo juga melihat kedua tangan mereka yang tautan, dan Jisoo juga melihat bagaimana senyim merona Hakyeon saat tangannya di genggam erat Taekwoon. Jisoo tersenyum pedih melihat sepasang kekasih didepannya. Air matanya tergenang dan kedua mata itu langsung menata kesamping, menjauhkan pandangannya dari hal yang menyakitkan.
Mobil yang dikendarai Taekwoon berhenti disebuah cafe disekitar kota yang tidak jauh dari desa tempat Jisoo tinggal. Ketiga manusia itu turun dan masuk kedalam cafe. Jisoo dan Hakyeon duduk terlebih dahuli sedangkan Taekwoon memesankan tiga coffee dan lantas menaruhnya diatas meja.
"Kita bicarakan disana" ucap Taekwoon seraya menolehkan kepalanya kearah balkon yang tidak jauh darisana.
Jisoo bangkit dari duduknya dan berjalan terlebih dahulu meninggalkan Taekwoon yang masih ingin berbicara dengan Hakyeon.
"Chankamanyo" Ucap Taekwoon seraya mengusap lembut rambut Hakyeon. Hakyeon menoleh dan tersenyum bersamaan dengan anggukannya kepada Taekwoon.
Taekwoon lantas beranjak menghampiri Jisoo yang tengah bersandar dipembatas balkon. Jisoo terus menatap Taekwoon tajam dari dia bersama Hakyeon sampai Taekwoon berada didepannya sekarang.
"Apa yang ingin kau katakan ?"
"Kau duluan" ucap Taekwoon datar.
Jusoo menghembuskan nafasnya berat. "Geurae." Kedua tangan Jisoo masuk kedalam saku celana Jean yang dia kenakan. "Aku tau tujuanmu menemuiku, dan jawabanku 'Aku tidak mau' , Kau seseorang yang cerdik Jung Taekwoonin, namun tidak bagiku. Kau orang yang sangat bodoh. Daripada kau memikirkan ku, lebih baik kau pikirkan keselamatan Hakyeon"
"Dia Hyung-mu"
Jisoo tertawa sinis, "Hyung? Aniya~" Senyum evil itu muncul diwajah Jisoo, untuk pertama kalinya. "Its Mine. Aku akan merebutnya darimu"
Taekwoon menghembuskan nafasnya lelah, dia berusaha tenang "Kapan kau akan bersikap dewasa? Dia tidak akan pernah mencintaimu"
"Lantas kau ini dewasa begitu,,,, Aaahh~ aku baru tau jika orang dewasa itu membohongi seorang pengusaha tunanetra hanya demi uang. Ckckck kau lebih memalukan Jung, kau bahkan mencintai korbanmu sendri"
"Apa maksudmu?" Emosi Taekwoon mulai terpancing.
"Ayolah~ tidak ada yang perlu ditutupi disini, aku tau apa yang kau sembunyikan darinya. Sesuatu yang akan membuatnya membencimu jika dia tau,"
"Hakyeon sudah tau itu"
"Jinja?" Jisoo tersenyum menyindir, "Kejadian Cheongsam 4 tahun lalu. Pabrik batu bara, dia sudah tau ? "
"Kau-" mata Taekwoon bergerak gusar, kedua tangannya terkepal kuat.
Jisoo tersenyum sinis "Wae~ Walaupun saat itu kau tidak mengenal Hakyeon, namun itu juga kejahatan. Hmmm mungkin kau bisa dipenjara 12 atau 15 tahun"
"Apa yang kau inginkan saeki-YA!"
Senyum Jisoo semakin lebar . "Ikuti rencanaku"
.
.
.
.
.
Jisoo dan Taekwoon kembali kemeja bergabung dengan Hakyeon yang tengah meneguk secangkir coffee nya.
"Kalian...sudah selesai" ucap Hakyeon gugup.
Jisoo melirik Taekwoon yang duduk disamping Hakyeon, Taekwoon hanya menatap datar Jisoo dan langsung mengusap lembut tangan Hakyeon.
"Hakyeon-ah, Jisoo setuju untuk kembali kerumah"
"Jeongmalyo? " Hakyeon terlihat begitu girang mendengar kabar dari mulut Taekwoon.
"Hmm, aku akan pulang terlebih dahulu, supir akan datang kemari untuk menjemput kalian"
Hakyeon menganggukan kepalanya semangat, dengan cepatnya tangan yang tengah digenggam itu terlepas untuk meraba tangan seseorang didepannya.
"Jisoo-ya"
"Ne Hyung" Jisoo tersenyum, namun pandanganya tidak kepada Hakyeon, namun untuk menyindir Taekwoon.
Taekwoon lantas berdiri dan meninggalkan kedua orang yang tengah bergembira disana. Kedua tangan Taekwoon terkepal erat.
Setelah masuk kedalam mobil, Taekwoon meraih ponselnya dan mencari nama seseorang di kontak ponselnya. Dia menekan salah satu kontak yang dinamainya 'Sekretaris Han'
Sambil menunggu panggilannya tersambung. Taekwoon menyalakan mesin mobilnya dan pergi dari cafe tersebut.
"Yoboseyo"
"Datanglah kerumah Jisoo dan jemput mereka"
"Wae ? Musuniriya ?"
"Jisoo orang yang licik. Hanya kau yang tidak bisa dia lawan. Firasatku buruk tentang Jisoo"
"Sajang-nim, gwaenchana ?"
"Gwaenchana, aku akan menceritakannya nanti. Cepatlah kesini"
"Ne, arasseo"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jisoo dan Hakyeon berjalan santai ditengah sunyinya malam, hanya ditemani kicauan serangga dan teriknya lampu jalan. Dengan tongkat jalannya dan tangannya yang digenggam Jisoo erat, Hakyeon tidak mengalami kendala dalam berjalan. Senyum bahagia diwajah Hakyeon tak pernah pudar sedari tadi. Begitu pula dengan Jisoo, dia bahkan selalu memperhatikan Hakyeon, tanpa sekalipun menolehkan wajahnya.
"Jisoo-ya"
"Hmm"
"Aku, sangat bahagia"
"Waeyo ?"
"Karena kita akhirnya bisa bersama. Bagaimana dengan mu?" Hakyeon menolehkan kepalanya menghadap Jisoo
Jisoo terdiam dengan senyumnya, dia menggenggam kedua tangan Hakyeon dengan tangannya, menghadapkan tubuh Hakyeon kearahnya agar dia dapat melihat dengan jelas wajah kesayangannya itu.
"Aku .." Jisoo mengusap lembut wajah Hakyeon dengan sebelah tangannya. "Melebihi rasa bahagiamu" Sebelah tangannya yang tengah menggenggam tangan Hakyeon beralih mengampit pinggang Hakyeon. Jisoo menarik Hakyeon hingga benar - benar menempel pada tubuhnya.
"Ji..Jisoo-ya" Hakyeon meletakan kedua tangannya didada Jisoo, memberikan jarak diantara kedua tubuh mereka. Hakyeon tersentak saat Jisoo menarik pinggang Hakyeon, merapatkan tubuh mereka. Mata Hakyeon bergerak gusar, dia tidak suka dengan situasinya saat ini. Kedua tangannya berusaha mendorong tubuh Jisoo untuk menjauh, namun sayang kekuatan Jisoo lebih besar dari miliknya.
"Ji..Jisoo-ya, jangan seperti ini?"
Jisoo mengangkat dagu Hakyeon agar menatap kearahnya. "Wae? kau tidak suka padaku?" Jisoo melepaskan tubuh Hakyeon dan bergeser memberi jarak diantara mereka. "Mianhae Hyung, aku tidak tau jika kau sebenci itu padaku" Jisoo memasang raut sedihnya didepan Hakyeon.
"Bukan seperti itu Jisoo-ya, aku sangat bahagia bertemu denganmu" Hakyeon merabakan tangannya mencari keberadaan sang adik.
"Tapi kau tidak ingin dekat - dekat denganku" Jisoo menatap Hakyeon yang tengah mencarinya. "Dulu kita bahkan sering tidur bersama, mandi bersama. Hiks tapi sekarang kau berubah Hyung" Jisoo berusaha mengecoh Hakyeon dengan suaranya yang dia buat seperti sedang menangis.
"Mianhae Jisoo-ya, mianhae"
BRUUUKKK
Hakyeon tersandung tepat didepan Jisoo, dia berusaha berdiri. Namun, Jisoo menggenggam tangannya dan berada didekat Hakyeon kembali.
"Jisoo-ya, mianhae" Kedua tangan Hakyeon terangkat dan menangkup wajah tampan Jisoo.
Jisoo tersenyum melihat wajah menyesal Hakyeon. "Jangan tinggalkan aku lagi Hyung" Jisoo menyandarkan kepalanya didada Hakyeon, memeluk tubuh mungil itu. "Aku takut, aku tak ingin kehilanganmu lagi" ucapnya parau. Namun tidak sesuai dengan pendengaran Hakyeon yang dia dengar Jisoo seperti menangis sedih, namun akan berbeda jika Hakyeon melihat wajah Jisoo yang kini tengah menunjukan senyum evilnya dan mata tajamnya.
"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, Jisoo-ya" Hakyeon mendekap tubuh Jisoo erat, "Aku akan selalu disisimu"
Tbc
.
.
.
.
.
Chapter 7 Up !
[GaemGyu92] Hahaha iyaa masukin aja mereka ke kawah eonni, kalau perlu dicincang - cincang dulu baru dimasukin, trus eonni yang makan tuh wkwk , si Jisoo bisa gila itu karena terlalu sayang sama Hakyeon eonni wkwkw
[Hakyeon Jung] Cieeeilahh iyaa lah eonni, lagi ada waktu libur ya untuk nulis - nulis FF hehe eonni tuh, selalu tak tungguin loh updatetannya. Janganlah eonni, si Jisoo buat eonni aja nggak papa kok wkwkwk halaaahh eon, nggak papa uda biasa dengan review eonni yang paling panjang, pertahankan ya eon reviewnya wkwk *Hug :*
[Kim Eun Seob] yeeeeyy dibilang bagus sama eonni, makasiih eonni muaach :* iyaa siap eonni ,
[aiiuukirei] setelah berabad-abad ya baru di update hhehe, iya makasih kembali, maaf juga karena updatenya kelamaan hehehe
[TJungN] Nah ini dia satu-satunya yang bisa ngalahin review terpanjangnya Hakyeon Jung eonni, wkwkw hadiahnya diambil di toko terdekat ya hehe, Maafkan saya karena terlalu lama updatenya hehe ini sudah up chap 7 nya semoga enggak ternanti nanti lagi hehehe, itu kalau Taekwoon kalau dijadikan dinding kasian juga hehe
[zoldyk] Hehe terimakasih juga karena selalu ikutin ceritanya hehehe
Tunggu chap selanjutnya yah, terima kasih yang sudah mampir untuk membaca dan jangan lupa reviewnya hehehe
N-nnnyeooooong~
