#NulisRandom2015

(Tanggal 7/Hari ketujuh)

Fem!loli!Akashi, 12yo!steward!Kuroko, OOC parah, AU

.

.

"Seirai-sama, jangan lari-lari, nanti jatuh!"

Bunyi sepatu anak-anak sahut-menyahut. Beberapa meter di belakangnya, seorang anak berusia 12 tahun berjalan cepat dengan sepatu pantofel yang mengaduh.

Anak perempuan berusia 4 tahun yang ia kejar seolah tuli, malah asyik berlari-lari lucu dengan rok lebar yang berkibar-kibar. Decit sepatunya memang mengganggu telinga, namun senyum lebar khas anak kecil itu membayar kebisingan.

Lorong yang keduanya lewati relatif sepi. Hanya ada mereka yang melangkah, mengingat tempat yang mereka pijak saat ini adalah sayap kanan mansion—daerah tempat Akashi Masaomi menghabiskan waktunya untuk bekerja.

Kuroko Tetsuya, putra semata wayang butler keluarga Akashi saat ini mendapat tugas untuk menjaga putri sang Tuan Besar. Perintah pertama yang dikeluarkan langsung oleh kepala keluarga untuk dirinya itu membuatnya lebih berhati-hati dari sebelumnya.

Sebetulnya Tetsuya enggan. Sudah banyak pelayan yang ditugaskan menjaga sang pewaris namun tak ada yang mampu memuaskan hati Tuan Besar. Siapa pun yang berurusan dengan Nona kecil itu berakhir naas—namun Tetsuya berusaha menepis firasat buruknya.

Sejak matahari terbit, titah langsung ia laksanakan. Ia telah membangunkan Akashi Seira, menunggunya selesai dimandikan dan dipakaikan pakaian, lalu menemaninya makan, bermain, dan menyiapkan kasur untuk tidur siang.

Sejauh itu, tak ada masalah.

Sayangnya jadwal tidur siang dilanggar. Seira kabur dari kamarnya dan berlari sejauh mungkin dari Tetsuya.

"Seira-sama, Anda tidak boleh bermain ke lorong ini—"

Bocah yang ia panggil masih tidak menggubris. Putri majikannya itu malah tertawa seakan mengajak Tetsuya untuk mengejarnya.

Baru saja ia tertawa, kakinya tersandung. Karpet lorong yang tidak biasanya menyembul ke atas membuatnya jatuh terjerembab.

Tetsuya panik. Ia bisa dihukum seharian kalau ketahuan tidak bisa menjaga Seira dengan baik. Pikirannya sudah campur-aduk membayangkan hukuman mulai dari bersih-bersih dua kali lipat sampai dikurung tiga hari.

"Seira-sama! Apa ada yang sakit?"

Seira menggeleng. Karpet yang ia injak cukup empuk untuk membuat kulitnya bebas dari lecet.

Ketika Tetsuya nyaris bernafas lega mendengar Nona-nya baik-baik saja, matanya disuguhi pemandangan celana dalam anak kecil warna putih dengan motif kucing merah.

Tetsuya mungkin masih 12 tahun, namun ia sudah paham benar dengan struktur tubuh manusia dan kegunaannya. Wajah datarnya sontak memerah.

"S-Seira-sama! Gaun Anda!"

Seira hanya menatapnya aneh. Ketika ia sadar apa yang dimaksud, tangan kecilnya berusaha menurunkan rok yang tersingkap—hanya untuk jatuh ke belakang.

Merah malu hilang, diganti pucat pasi horor yang menghias.

"NONA—!"

Tetsuya langsung membantu Seira berdiri. Ketika mengetahui gaun Nona-nya kusut dan masih menampakkan celana dalam ke mata dunia, ia berusaha untuk membenahi pakaian pewaris Akashi dengan menahan rasa malu, sekali pun perempuan di hadapannya hanyalah bocah 4 tahun.

Setelah selesai, sang pelayan cilik berdehem. Menampakkan wajah sok serius dan perangai profesional padahal masih doyan main layangan. "Sekarang Seira-sama tahu kan alasan mengapa saya berusaha mencegah Anda berlari di lorong?"

Yang ditanya mengangguk. Pipi gembulnya membuatnya terlihat menggemaskan. Tetsuya harus menahan keinginan untuk tidak mencubitnya sebelum kejadian beberapa detik sebelumnya kembali dicerna otak.

"Satu lagi; anda tidak boleh membiarkan pakaian dalam Anda terlihat."

Bocah yang dinasihati bingung. Seira memiringkan kepalanya—membuat rambut merah dikucir dua itu bergoyang manja. "Kenaapaa?"

Dalam hati Tetsuya membenturkan kepala. Kalah dengan keimutan.

"Itu—" apa yang harus Tetsuya katakan? Pendidikan seks dini? Peringatan akan pelaku pelecehan? Atau hal lain?

Akhirnya Tetsuya menyerah. Ia memilih jujur dalam bentuk halus sehalus-halusnya. "—karena... yang boleh melihatnya hanya Seira-san, Nyonya Shiori... Dan suami Anda nanti?"

Bocah di hadapannya mengerjap tak paham. Seira menatapnya heran. "Kalu para med?" ("Kalau para maid?")

Ukh, "Itu... masalah lain... mungkin." Sang Nona hanya mengangguk, sebelum menatap Tetsuya.

"Kalu Techuya?" ("Kalau Tetsuya?")

Oh crap.

Tetsuya kehabisan jawaban. Modus cerdas seakan tak ada. Akal bulus anak-anak lenyap entah ke mana padahal muka tetap datar. Lidahnya terlanjur kram diajak bicara, sampai akhirnya pita suaranya berhasil digetarkan.

"Tidak boleh—benar-benar tidak boleh. Saya hanyalah pelayan rumah ini."

"Taapi tadii Techuya liyat?" ("Tapi tadi Tetsuya lihat?")

"Tadi saya tidak sengaja..."

Tak ada balasan. Seira hanya menatapnya dalam diam sedangkan Tetsuya gemetar ketakutan (tetap dalam ekspresi datar). Bola disko yang menerangi bayangan otak mengajaknya berdansa dalam kekalutan.

Akashi muda itu lantas tersenyum. Binar matanya memancarkan ide yang baru datang. Tangan Tetsuya ditariknya dan ia kembali berlari.

"Kita mau ke mana, Seira-sama?"

"Ke tempat papa!"

Dalam hati Tetsuya mempercepat irama disko horornya.

"Untuk apa?" dag-dig-dug-serr.

"Kan tadi Techuya udah telajur liyat, makana Ceira mau minta Papa agar Techuya jadi cuamiku caja!" ("'Kan tadi Tetsuya sudah terlanjur lihat, makanya Seira mau minta Papa agar Tetsuya jadi suamiku saja!")

Sesenang apa pun hati Tetsuya, kalau mendengar kalimat tadi pasti takut juga.

.

.

Balasan Review—

Erry-kun: yepyep, ini KuroAka~ masa'? Padahal saya sempat ngira penduduk fandom KnB Indonesia bosen liat nama saya saking kerajinan update (setiap hari) ._.)v

Soal itu... Biarlah menjadi rahasia mereka— /oi hehehe terima kasih atas reviewnya~