Hari ini aku mengunjungi rumah Ino, bukan untuk berkumpul seperti yang terakhir kali kami—aku dan teman-teman wanitaku—lakukan. Siang ini aku datang membawa sebuah undangan pernikahan, tidak perlu bertanya lagi itu undangan pernikahan siapa kalian pasti sudah tahu. Dari sofa yang kududuki, dapat kulihat ayah Ino dan ayah Shikamaru sedang bertanding permainan shogi di teras rumah, permainan yang sampai detik ini tidak jua kumengerti cara bermainnya. Saking asyiknya aku memerhatikan kedua bapak-bapak itu bermain, aku tidak sadar Deidara sudah duduk manis di sebelahku. Ia membuka sekaleng soda dingin, terdengar bunyi mendesis begitu ia menarik tutup kaleng, tangannya menjulur mengambil undanganku, membolak-balik dan memerhatikannya seksama.
"Akhirnya kau menikah juga dahi."
Aku merengut, Deidara dan Ino sering memanggilku dahi karena dahiku yang terbilang cukup lebar ini (padahal menurutku dahiku ini seksi) dan hanya mereka berdua yang berani menggunakannya di tempat umum. Alasan sederhana, kami sudah berteman saat usia kami beranjak remaja, sementara aku, Tenten, dan Temari baru bertemu di awal perkuliahan. Deidara adalah kakak laki-laki terbaik yang pernah ada, dia mungkin kelihatan tidak berguna tapi ia tidak pernah sekalipun mengecewakan Ino maupun kedua orangtuanya. Penampilannya kurang meyakinkan, dengan rambut panjang urakan dan cara berpakaian yang awut-awutan, namun Deidara sanggup memboyong beberapa penghargaan atas kerja kerasnya merakit bom, begitu-begitu Deidara bekerja sama dengan pusat militer Konoha. Aku sendiri sudah menganggapnya sebagai brother from another mother.
"Tentu saja, kau pikir aku akan menjadi perawan tua selamanya," cibirku, dasar orang sok dewasa. Berbicara seolah dia kakek-kakek tua saja, cih. Deidara mengacak rambutku,"kakak tidak bisa membayangkan betapa malang nasib calon suami yang akan menikahi wanita barbar sepertimu." Aku menarik salah satu bantal, memukulnya tepat di wajah Deidara,"sialan, aku tidak pernah menggunakan kekerasan." Si pirang mengaduh,"kau baru saja melakukannya dahi!" tanpa memedulikan rintihan Deidara, aku melayangkan pukulan dengan bantal secara bertubi-tubi padanya, sampai ibu Ino menyela kami, membawakan beberapa cemilan di wadah bundar dari kaca transparan. Ino? Dia sedang pergi di antar Shikamaru membeli keperluan rumah tangga atas suruhan ibundanya. Mereka baru saja pergi ketika aku tiba di rumah kediaman Yamanaka. Meski tanpa Ino, aku menikmati bersama dengan keluarganya yang sudah kuanggap sebagai keluarga keduaku, ibu dan ayah Ino sangat baik padaku. Saking dekatnya kami, aku di suruh memanggil ibu dan ayah Ino dengan panggilan mom dan dad oleh kedua orangtua Ino sendiri, terdengar aneh eh? Soalnya ayah Ino berambut pirang seperti turis asing yang biasa berlibur ke Konoha.
"Saki, kemarin mom baru saja merubah tatanan rambut, bagaimana menurutmu?" Mom mengibaskan rambut cokelatnya yang sekarang bergelombang. Memasang pose berpikir, aku mengamati rambut beliau,"mm, bagus. Sekali-kali berganti gaya mom, merubah suasana." kami tertawa, mom mengambil tempat di sampingku dan menepuk lututku pelan,"mom langsung merubahnya hari ini juga demi hari penikahanmu nanti," beliau mengambil undanganku dari atas meja, membuka lalu membacanya seksama,"apakah tiga hari lagi tidak terlalu cepat?" Aku menggeleng,"persiapannya sudah hampir selesai, tidak ada masalah." Deidara mendesah sehabis menyeruput soda dinginnya,"tipikal orang yang dimabuk cinta adalah ingin cepat menikah." satu pukulan diarahkan ke kepala Deidara, ibunya berdecak sebal,"diamlah. Kau sampai sekarang belum membawa pulang seorang gadis. Seringkali kau pulang berdua saja dengan Sasori," wanita paruh baya itu mengurut dadanya sabar,"salah didik apa ibu, kenapa sekarang kau jadi begini nak?"
Deidara mengerang,"bu, aku masih normal. Aku hanya belum tertarik untuk menikah."
"Umurmu sudah hampir kepala tiga Dei!" jeda sejenak,"kapan aku bisa menimang cucu."
Aku tertawa kecil,"tenang saja mom, kurasa tak lama lagi Ino akan menyusulku."
Mom baru saja berkata 'serius?' sebelum sebuah suara mengalihkan pembicaraan kami,"Kalian membicarakan apa sampai membawa-bawa namaku?" Suara nyaring terdengar dari belakang kami. Ino berdiri menenteng beberapa kantung belanjaan ketika kami menoleh ke arahnya, Shikamaru menyusul sambil membawa beberapa kantung plastik juga. Aku tersenyum jahil,"aku bilang pada ibumu kalau tidak lama lagi kau akan menyusulku di pelaminan."
Mereka meletakkan kantung-kantung plastik di meja dapur yang tak jauh dari ruang keluarga. Ino mendengus keras, ia seperti kerbau yang hidungnya baru saja dicucuk,"ha! Yang benar saja. Buktinya sekarang aku masih single." Mataku bergerak seirama dengan Shikamaru yang berpindah-pindah dari memilah sayur dan membawanya ke lemari pendingin, aku tersenyum memerhatikan mereka,"tapi aku sudah melihat gambaran keluarga bahagia di depan mataku."
Ino menghentikan aksinya, mencerna kata-kata yang baru saja kuucapkan, detik berikutnya ia tersadar, ia mengangkat tangan dengan sebuah timun di genggamannya, matanya memicing ke arah kami yang tengah memerhatikannya dan Shikamaru,"apa kau sedang bermimpi dahi? Kau mau aku membenturkan kepalamu di bak cucian supaya kau bangun?" Aku tertawa, ada kesenangan tersendiri dalam membuat Ino kesal. Sebelumnya ia sering sekali membuatku kesal, jadi ini pembalasanku. Entah mengapa ia tidak senang disandingkan bersama Shikamaru, padahal menurutku mereka berdua adalah satu dari sekian banyak pasangan paling serasi di muka bumi, aku yakin ayah ibunya akan sependapat denganku, lagipula keluarga mereka sangat dekat, ditambah keluarga Akimichi tentunya.
"Ada urusan apa kau kemari dahi?" Ino kembali berkutat dengan kantung plastik berlogo pasar swalayan dihadapannya. Ibunya menyusul mereka di dapur, ikut membantu memindahkan buah-buahan ke lemari pendingin. Aku mengangkat selembar kertas berwarna krem dan melambaikannya di udara,"aku kemari mengantarkan undangan pernikahanku kepada sahabatku tercinta, nona Yamanaka Ino." tak lupa memasang senyuman manis yang dibuat-buat pada wajahku. Wajah ayu-nya terkejut, mulutnya terbuka lebar, Ino berlari menghampiriku, mengambil tempat di antara aku dan Deidara; mengabaikan omelan kakaknya tentang betapa menganggunya ia.
"Oh Tuhan," Ino membaca undanganku,"Uzumaki—Naruto? Terdengar familiar," mata birunya menatapku, dahinya berkerut, tampaknya ia berusaha mengingat sesuatu, pandangannya menuntut padaku memaksaku mengingat sesuatu dari memorinya. Aku merespon,"tentu saja, ia seorang pengacara, kau ingat? Mungkin kau pernah mendengar namanya di suatu tempat?" jawabanku lebih mengarah ke sebuah pertanyaan. Ino mengedikan bahu,"mungkin saja. Wah, calon suamimu cukup terkenal juga rupanya." Jempol dan telunjukku bersatu mengusap daguku, aku terkekeh bangga. Rupanya punya calon suami seorang pengacara layaknya Naruto banyak keuntungan juga. Shikamaru lewat disampingku, mengambil tempat duduk tepat sebelah Deidara, merentangkan kedua tangannya di sandaran sofa, lelaki berkuncir itu menghela napas, terlihat lelah.
"Ah, aku sudah memberikan undangan pada ayahmu Shika." Mendengar namanya kupanggil, Shikamaru menaikkan kepalanya, bergumam sesaat padaku setelahnya kembali merebahkan kepala. Aku mengambil tasku,"aku harus pulang, jangan lupa datang membawa hadiah spesial untukku!" Ino turut bangkit bersamaku, ia mengantarku sampai depan gerbang rumahnya, tak lupa aku berpamitan dengan seluruh penghuni yang berada di rumah Ino. Bau mawar langsung menyapa indera penciumanku begitu aku berada di halaman depan rumah, salah satu hobi keluarga Yamanaka adalah berkebun, jadi tidak heran apabila melihat berbagai macam bunga tumbuh di halaman rumah mereka. Kami bercengkrama sampai aku berpamitan lagi pada sahabatku, Ino membalas lambaianku sebelum aku beranjak pergi dari kediaman Yamanaka.
.
.
.
.
Naruto dan aku tidak pernah bertemu lagi, terakhir kali kami bertatap muka adalah ketika ia menjemputku dari rumah Ino dalam keadaan mabuk. Setelah itu kami menjalani kehidupan masing-masing, beberapa kali bertukar kabar melalui pesan, lagipula kami juga dilarang bertemu oleh kedua orangtua kami, dan kami mematuhi tradisi turun temurun itu. Belum lagi tumpukan laporan keuangan yang harus kuselesaikan malam ini sebelum kuserahkan pada bosku membuatku sangat sibuk sehingga tidak bisa meluangkan waktu bahkan hanya sekedar bercengkrama, sekarang aku duduk manis di depan meja belajar dengan laptop yang menyala serta segelas susu cokelat (aku tidak suka mengkonsumsi kafein). Mungkin terdengar aneh bagi beberapa orang, bukankah harusnya seorang pengantin bersiap-siap menjelang hari pernikahannya? Itulah yang kulakukan selama beberapa hari menjelang hari H, tapi selama aku masih bujang masih beberapa hari lagi sebelum margaku berganti—laporan ini harus kuselesaikan malam ini juga jika aku masih belum siap mendengar kata 'kau dipecat', setidaknya aku ingin keluar dengan caraku sendiri. Telepon genggamku bergetar menimbulkan getaran lanjutan pada seluruh meja, aku melirik nama yang terpampang di layar, Ino menelepon di waktu tidak tepat. Saat ini aku tidak punya waktu untuk berbicara panjang lebar, laporan ini harus diselesaikan, aku ingin sekali bercerita dengan Ino tapi sayang bukan malam ini. Aku mengabaikan panggilan Ino meski ia mencoba menghubungiku berkali-kali. Ada apa? Apakah ada sesuatu yang penting? Ah tidak, kalau ada sesuatu yang amat penting, Ino akan mengirim pesan atau menelepon ke rumah. Telepon genggamku berhenti bergetar, suasana mendadak hening, hanya ada bunyi lagu jazz yang kuputar dari laptop. Tidak ada dering telepon rumah, sepertinya bukan hal mendesak, Ino pasti hanya ingin sekedar bercerita melepas rindu sebelum temannya ini menikah. Aku tertawa kecil, pikiranku makin mengada-ada. Berikutnya sebuah pemikiran mendadak muncul dari dalam kepalaku, akankah Naruto menelepon? Sekedar menanyakan kabarku dan bagaimana perasaanku beberapa hari ini. Seperti yang biasanya dilakukan sepasang kekasih ketika mereka tak diperbolehkan bertemu sebelum pernikahan, mengatakan betapa rindunya calon pengantin pria pada wanita yang tak lama lagi menjadi pendamping hidupnya. Satu pukulan mendarat di kepalaku, bagaimana bisa aku berkhayal sementara bekerja. Bodoh! Bodoh! Membayangkan Naruto mengatakan rindu padaku? Heh, siapa kau pikir dirimu Haruno Sakura, kau bahkan tidak punya rasa apa-apa padanya, dan kau membayangkan skenario dengannya di dalam kepalamu, harusnya kau malu! Ingatkan aku untuk menampar diriku sendiri jikalau aku membayangkan hal-hal semacam itu. Otakku pasti mulai lelah, sebaiknya aku cepat-cepat menyelesaikan pekerjaan ini, aku tergoda untuk segera tidur, memikirkan tidur semakin membuatku ngantuk, dengan berat hati jemariku mulai bergerak melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda.
.
.
.
.
Malam sudah berganti pagi, menandakan aku harus pergi bekerja. Lalu disinilah aku sekarang, berkutat dengan adonan roti dan kue. Seharusnya waktu pagi menjelang siang ini aku berkutat dengan laptop dan laporan di ruang kerjaku, bukannya sibuk mencampur terigu dan mentega. Sialnya chef utama sakit sehingga posisi teratas dapur digantikan olehku atas suruhan pemimpin toko bakery tempatku bekerja, karena ia tahu bahwa dulunya aku lulusan sekolah kuliner, hmm, kupikir dia menerimaku bekerja di bagian manajemen dengan maksud tersembunyi, si bos pasti menaruhku di bangku cadangan apabila chef utama tidak dapat hadir; pantas saja ia mengiming-imingiku dengan gaji yang lumayan, barangkali ia menantikan hari ini sejak lama agar tidak merasa rugi. Hampir setengah hari berada didapur membuatku tak tahu-menahu apa yang terjadi diluar, tapi aku yakin staff penjaga showcase disibukkan oleh banyaknya pembeli, dapat dilihat dari banyaknya adonan yang kami buat lagi karena kue-kue di showcase kembali kosong dalam waktu sebentar. Membutuhkan banyak kesabaran serta pengorbanan demi mendapatkan satu jam kebebasan, begitu ada jeda untuk beristirahat aku langsung keluar mencari asupan makanan, perutku terasa sangat lapar mengingat aku hanya mengganjalnya dua buah pisang sebagai sarapan tadi pagi. Tidak banyak waktu tersisa, setelah mendapatkan makan siang aku sesegera mungkin menghabiskannya, suapan pertama terasa nikmat luar biasa, aku mendesah lega. Ponselku bergetar, aku meraba kantung apron yang tak sempat kulepaskan lagi, noda putih terigu tercetak dimana-mana, memberi warna lain selain warna hitam apron. Tanganku merogoh ponsel, ada panggilan dari Ino. Ada apa lagi ini? Kenapa si pirang tidak ada henti-hentinya meneleponku?
"Ada apa Ino?" Tanyaku to-the-point sambil melirik jam dinding sementara tanganku tidak berhenti menyuap makanan.
Omelan berpadu suara nyaring muncul dari seberang telepon,"Saki! Kemarin kenapa tidak mengangkat teleponku?"
"Ino, aku sangat sibuk. Kalau kau tidak punya sesuatu yang penting untuk disampaikan aku akan—"
"Ada yang ingin kuberitahukan padamu. Penting! Menyangkut Uzumaki Naruto. Dia—"
Tut!
"Halo? Ino? Haloooo." Layar ponsel dalam keadaan gelap saat aku memindahkannya dari telingaku, aku lupa mengecasnya semalam. Alisku turun sebelah, ada apa dengan pengacara muda itu? Suara bel diluar menarikku kembali ke kenyataan. Suapan terakhir mengiringiku kembali bekerja, meski tak dapat kupungkiri aku masih penasaran akan apa yang hendak Ino sampaikan. Biarlah, akan kutelepon dia nanti malam usai bekerja. Tapi nyatanya aku lupa, pulang kerja, setibanya aku di rumah ponsel segera ku-cas, logo apel muncul kemudian menampilkan gambar sketsa ayah dan ibuku. Sebuah notifikasi pesan muncul, dari Naruto,
Semoga harimu menyenangkan—ada tanda senyum di akhir kalimat.
Pesannya sudah dari sore tadi, kalau kubalas rasanya terlambat. Terkesan pesan biasa, namun entah mengapa sanggup membuatku tersenyum. Aku mulai membuat pesan baru,
Semoga hari esokmu juga menyenangkan, selamat malam. *tanda senyum*
Kuletakkan ponselku dimeja setelah mengaktifkan mode getar. Aku merayap naik ke tempat tidur, merebahkan tubuh yang terasa letih. Tak butuh waktu lama supaya aku terlelap ke alam mimpi.
.
.
.
.
.
.
Tbc.
.
.
.
Notes:
Setelah dibaca kembali saya gak tau kenapa, tapi saya kurang suka sama chapter ini. -_-
Tapi karena alurnya—ya, gak harus kayak gini sih—begini jadi yah, udah stuck sampe di sini saja.
Maaf kalau kesannya bertele-tele dan kurang panjang. Terimakasih bagi yang sudah mereview chapter kemarin, kecup jauh untuk kalian :*
