Title : Still Have All of Me

Genre : Hurt/ Comfort, Romance

Length : Captered

Cast : Kris, Tao, and others

Warning : Yaoi, abal, typos, plot pasaran.

.

Cinta bukanlah cerita yang selamanya akan berakhir bahagia. Saat kau kehilangannya, dibalik bukit yang ditumbuhi Krissan indah itu, seseorang tengah menantimu. Siap mengulurkan lengannya, dengan senyum tulus yang terkembang tanpa noda.


.

.

Dibalik kalbu yang tengah membeku, gada raksasa seakan menghantam kepala pemuda itu. Dia diam dengan mata melotot tajam, seolah oksigen menjauhinya, dan langit runtuh tepat dikepalanya.

Mata itu, onyx kelam yang diwariskan padanya, Kris yakin sang ayah sedang tidak bercanda. Dan dengan mata telanjang, kau akan menyadari satu hal, bahwa kalimat terakhir yang terlontar dari pemilik senyum menawan itu sungguh menggelapkan dunia Kris seketika itu juga.

Dia bagai raga kehilangan nyawa, yang dicabut paksa Sang Perenggut jiwa.

.

.

Still Have All of Me —

Chapter 6

.

.

Sendu, satu kata yang dapat kau serat kala memandang pemuda itu. Entah apa yang diperhatikannya, gores biru muda di cakrawala sana, atau embun pagi yang tak mau beranjak dari dedaunan yang hijau merata?

Entahlah…

Dia tidak bicara, atau bergumam tentang apa yang diperhatikannya.

"Apa yang sedang kau pikirkan?" satu pertanyaan mengalihkan perhatian.

Pemuda itu, Park Chanyeol, menatap sang kekasih yang berjalan dengan bathrobe putih melekat pada tubuh mungilnya.

"Tidak ada," balasnya.

Konyol jika Baekhyun percaya begitu saja, dia tahu seperti apa kekasihnya, bukan hal sulit membaca kesungguhan yang terpancar nyata pada bola mata Chanyeol. Baekhyun memilih diam, bukan karena dia tak peduli, namja cantik itu menghargai adanya sisi dimana Chanyeol membutuhkan privasi diri.

"Kau ingat tiket konser yang kita beli minggu lalu? Bukankah tepat hari ini diadakannya konser itu?"

Chanyeol mengerjab sekali, teramat lupa pada planing akhir pekan yang telah ia rencanakan. Sampai gembungan kedua pipi bulat Baekhyun mau tak mau membuat senyum kaku tersemat nyata pada paras tampannya.

"Err… yah, tentu aku ingat!" kilahnya.

Membuang muka, Baekhyun menyembulkan peach cerah itu begitu saja. "Benarkah? Lalu, apa kau sudah menghubungi Kris?"

Inilah tujuannya. Lihat bagaimana reaksi pemuda bertubuh tinggi itu. Sekali melihat saja, Baekhyun tahu sosok itulah yang tengah membebani Chanyeol detik ini. Pada kenyataannya kejadian dua hari lalu masih membekas dalam hati.

"Sudah kau hubungi?"

Sekali lagi bibir Baekhyun meminta adanya jawaban. Tatapannya masih lurus kedepan. Hanya ekor matanya yang sesekali melirik sang namja tampan.

"Aku butuh waktu, Baekki-ah." satu kata yang terucap dari bibir Chanyeol. Nyaris teredam riuh angin yang berhembus pagi itu.

"Kris tidak menyentuhku, Yeol. Dia berhenti atas kemauannya sendiri. Sudah kukatakan hal ini kepadamu berkali-kali."

"Aku tahu, aku sama sekali tidak membencinya. Aku justru marah pada diriku sendiri, seolah kau tidak berharga bagiku. Jika bukan dia yang melakukannya padamu, aku sangat yakin sudah mengirim pria itu ke neraka. Tapi Kris, aku justru memaafkannya begitu saja. Baekki ah… apa ada yang salah denganku? Katakan apa itu…"

Baekhyun menatapnya, memandang dalam tepat pada mata sendu yang membingkai dunianya. Dia mencintai pemuda ini, namja yang beberapa bulan lebih muda darinya, namja tinggi dengan sifat hangat yang senantiasa membuat Baekhyun terengkuh dalam surga fana, dunia dimana kebahagiaan fatamorgana menjadi nyata ditangannya. Baekhyun merasa Chanyeol begitu sempurna, meski kenyataannya kesempurnaan itu hanya milik Sang Kuasa.

"Tidak ada yang salah, Yeollie…" ujar Baekhyun dengan senyum tulus. "Aku mencintai segala hal yang ada pada dirimu. Kehangatanmu, kepedulianmu, bahkan perasaanmu pada Kris. Aku tahu dimana aku hanya seorang Byun Baekhyun bagimu, Byun Baekhyun dengan tempat tertentu dimana aku tidak dapat meleburkan diri diantara kalian. Kalian memiliki ikatan khusus, ikatan berbeda saat kau bersamaku. Itulah yang membuatmu begitu peduli padanya. Dan asal kau tahu, tak hanya kentalnya darah yang mengikat seseorang menjadi saudara."

"Baekki-ah…"

"Kemarilah," pinta Baekhyun pada sang kekasih, membuka lengannya lebar-lebar. Dan tak butuh waktu lama, raga namja yang lebih tinggi darinya itu terasa dalam dekapnya.

Chanyeol balas memeluknya, menenggelamkan paras tampan khas bangsawan itu dalam ceruk leher Baekhyun. Menghirup wangi tubuhnya dalam-dalam. Mencari titik dimana ketenangan akan selalu ia dapatkan.

Lama keduanya berada dalam posisi yang sama, sampai bunyi bel menggema tiba-tiba. Memaksa Chanyeol melepas pelukannya. Dengan kesal dipandanginya pintu kamar Baekhyun. Seolah disana berdiri sosok yang telah mengganggu kebersamaannya dengan kekasih tercinta.

Di satu sisi, Baekhyun hanya mengulum senyum. Tahu pasti pribadi pemuda tinggi itu telah kembali. Inilah Park Chanyeol yang biasa.

"Kini kau tahu apa yang paling kubenci saat menginap ditempatmu?"

.

.

Kenyataan yang tenggelam dalam sedu-sedan belasan tahun silam telah terbawa dalam ucapan. Satu janji yang harusnya ia tepati kini tergerus emosi, meluapkan kebenaran yang sengaja dikubur dalam-dalam.

"Kaulah yang membuat umma Tao meninggal, Kris. Tentu kau tak dapat mengingatnya. Usiamu bahkan belum genap 3 tahun saat peristiwa itu terjadi."

"Peristiwa? Peristiwa apa? Sebenarnya apa yang ayah bicarakan?"

Nada tak sabar mulai berdengung liar. Tak lama, langkah Siwon menggema diantara gemuruh yang meletup dalam dada. Kris tak sabar mendengar penjelasannya, dia tahu itu. Menghela nafas, kedua telapak tangannya bertengger pada bingkai jendela. Membiarkan surai gelap yang ia miliki terbawa hembus angin pagi detik ini.

"Tao putra dari sahabat dekatku, Huang Hankyung, dan cinta sejatinya, Kim Heechul. Mereka memutuskan untuk tinggal di China setelah menikah. Aku bahkan masih mengingat bagaimana wajah sedih ibumu saat mengantar mereka berdua di bandara."

Siwon memejamkan mata saat mulai bercerita. Menggali kembali saat-saat bahagia dimana segalanya terasa begitu sempurna. Pernikahan, perpisahan, dimana segala hal yang mendewasakan diri mulai dijajaki. Sampai pada satu peristiwa yang membuat dunia sang sahabat hancur dalam sekejap mata.

"Musim semi lima belas tahun yang lalu, ibumu bersikeras membawamu menemui keluarga Huang. Itu kali kedua Kibum membawamu kesana. Huang Heechul sudah seperti hyung baginya. Kibum juga bilang jika dia sangat merindukan bayi mungil Heechul. Saat itu banyak hal yang harus ayah urus di perusahaan, satu hal yang membuat ayah tak bisa menemani ibumu."

Menarik nafas sejenak, bibir pria dengan ketampanan yang diwariskan pada putra tunggalnya itu kembali terbuka.

"Ayah tak tahu apa yang terjadi. Ditengah rapat penting ponsel ayah tak berhenti berdering. Ruang rapat terbuka, sekertaris ayah berdiri dengan wajah panik. Satu hal yang diucapkannya membuat ayah tak dapat berkata-kata. Kau, ibumu, hanya itu yang ayah pikirkan. Terjadi sesuatu pada kalian. Dan tanpa pikir panjang, ayah pergi menyusul kalian."

Itu bukan akhir dari cerita masa lalu, bibir pria itu masih setia melantunkan bait-bait kata akan kisah yang coba dilupakannya. Dengan mata yang masih terpejam, nyeri pada hati dan kepala diabaikannya.

[ Flashback ]

Masih dalam hari sama seperti apa yang dikisahkannya, Siwon Wu memilih terbang membelah udara. Memecah angkasa dengan burung besi kebanggaan Korea. Tak peduli pada surya keemasan yang telah lengser keperaduannya, pria itu merasa tak sanggup menunggu lebih lama.

Kala raksasa penguasa angkasa itu kembali memijak bumi, debam kaki tergesa menyusuri lorong yang tak hanya Siwon tempati, menulikan diri pada umpatan tak suka penumpang lainnya, merangsek memasuki taksi membawa diri melaju menuju tempat yang dituju. Dalam kecemasan semacam itu, kesepuluh jarinya saling bertautan, meremas satu sama lain. Lama, hingga kalimat sang pengemudi taksi menyadarkannya bahwa ia telah tiba.

International Medical Center, Chaoyang, Beijing. Siwon tak peduli seperti apa penampilannya saat ini. Satu pria paruh baya yang ditempatkannya di China telah menunggu kedatangannya di gerbang utama. Apa yang diucapkan pria itu tak didengarnya, ia begitu diburu waktu.

Lorong demi lorong yang dilewatinya bak taman sesat yang tak ada ujungnya. Sampai pada satu kamar VIP yang membuat langkah pria bermarga Wu itu terhenti seketika. Dibukanya pintu bercat putih susu itu perlahan. Gema langkahnya bak dentam jam dinding pada masa tua. Hal pertama yang Siwon lihat kala itu adalah punggung kawan karibnya, Huang Hankyung. Pria yang telah lama ia kenal, pria yang menjadi saudara sekaligus rekan bisnis dalam dunia usaha yang dijajakinya, berdiri dengan bibir bungkam tanpa sepatah kata.

Hendak menghampiri dan bertanya apa yang terjadi, namun urung mendengar isak tangis namja yang begitu Siwon cintai. Diujung sofa tepat dipojok ruangan, Kibum tersedu hingga tak menyadari keberadaan suaminya itu. Siwon berjalan menghampiri sang istri. Tubuh Kibum bergetar, kedua lengannya mendekap bayi mungil yang turut terisak, menggeliat tak tenang dalam pelukan yang Kibum berikan.

"Kibummi…"

Satu kata itu membuat Kibum menolehkan kepala, menatap raga sang suami yang berdiri nyata dihadapannya. Dan tak menunggu waktu lama ia jatuhkan tubuhnya dalam dada bidang Siwon.

"Wonni…Wonnii…"

"Hey, ada apa ini? Katakan apa yang terjadi, Darl. Dan… dimana Kris?"

Mencoba memberikan ketenangan, diusapnya punggung bergetar Kibum. Pria itu teringat pada putra tunggalnya kala memandang bayi yang berada dalam rengkuhan lengan Kibum.

"Hiks… Kris dirawat diruangan lain."

"Apa? Bagaimana—"

"Aku takut, Wonnii. Aku takut…"

"Kibummi… tenanglah. Tenanglah dan jelaskan perlahan."

Tanpa kontak mata, Kibum mulai bercerita. Memberikan detail peristiwa mengerikan yang dialaminya. Taman kota, tempat Kibum dan Heechul bercengkrama. Kibum begitu terpesona pada bayi Heechul yang menggemaskan, dia menimangnya, tertawa bersamanya, menyibukkan diri sampai melupakan keberadaan Kris yang turut andil dalam cerita ini. Hingga kelebat gerak tubuh Heechul tertangkap ekor matanya, pekikan yang menyusul setelahnya, sampai satu hantaman membuat bola mata Kibum melebar sempurna. Dentum bola karet menyadarkan Kibum pada apa yang telah terjadi.

Meski berbarengan dengan deru tangis yang tak juga habis, Siwon mendengar dengung kata itu dengan seksama.

"Heechul hyung… Huks… Ini salahku, salahku…" Kibum menggelengkan kepala, menyalahkan diri pada sikap lalainya. Andai ia tak melepas pandangan dari Kris, Heechul tidak akan… ahh… Kembali, tangisnya yang menyayat hati mendominasi ruangan ini.

Untuk kedua kalinya Siwon memusatkan perhatian pada sang kawan lama. Nafasnya tercekat kala melihat pria itu menjatuhkan satu kecupan pada bibir Heechul, lama… beriringan dengan tebah permata yang terasa mengiris jiwa. Dan Siwon tak sanggup melihat lagi, saat-saat terakhir dimana lengan Hankyung menarik lembaran kain menyelimuti raga sosok yang menjadi poros hidupnya.

Huang Heechul telah tiada. Meninggalkan bayi tanpa dosa yang bahkan belum sanggup mengeja namanya.

[ End of Flashback ]

"Heechul mengorbankan nyawanya untuk menyelamatkanmu. Kini kau mengerti apa yang membuat ayah begitu peduli pada mereka? Harta, kedudukan, apapun akan ayah berikan jika Hankyung menginginkannya."

Siwon masih bersuara, menatap langit dari bingkai jendela dengan senyum sayu dikala mengingat masa lalu.

"Jika kau berpikir Hankyung menggantikan posisi Heechul dengan orang lain, kau salah besar, Kris. Sampai akhir hayatnya, hanya Kim Heechul yang ia cintai. Terdengar egois, saat Tao begitu membutuhkan sosok umma dalam hidupnya. Tapi mereka dapat melewati segalanya bersama-sama."

Dalam penggalan kalimat terakhir yang hendak dikatakannya, pria itu menoleh pada titik dimana sang anak tengah berada. Angin pagi masih setia menari untuknya. Tinggalkan sekeping luka yang tak juga hilang dalam dada. Mengulas senyum lembut, ia kembali membuka belahan bibirnya.

"Kau tahu, Kris… saat kau benar-benar menemukan cinta sejatimu, kau tidak akan pernah dapat menggantikannya."

Dan dengan kalimat terakhir itu keangkuhan Kris hilang dalam satu kedipan mata, saat bulir-bulir nyata penuh rasa menghancurkan keegoisannya. Kris diam, tak satupun kata keluar dari indera pengucapnya. Tapi tangis tanpa suara itu menunjukkan hantaman pada pertahanannya. Meski tanpa isakan, tanpa raungan, dia seolah dapat merasakan luka Tao selama berada disisinya, takdir yang harus Tao lalui, dan perlakuan keji yang Tao terima darinya.

Tanpa menyeka jejak nyata gores luka akan cerita pada masa ia balita, Kris pergi begitu saja. Meninggalkan sang ayah yang memilih diam memandang punggungnya. Gema sepatu yang ia kenakan mengisi kensunyian pagi ini. Tak lama, mobil pribadi yang kerap ia tunggangi membelah udara menginggalkan kediaman megahnya.

Kris tak tahu harus mencari Tao kemana, semua yang ada dalam kepalanya begitu gelap dan tak terbaca. Dan diantara laju mobil mewah itu, kelebat memori seolah nyata berputar di depan mata. Bergerak berurutan, berputar perlahan, tanpa cela memperlihatkan pada dirinya seberapa keji sifatnya selama ini.

'K-Kris gege… pelan sedikit… sekolah sudah diujung jalan… aku takut ge… kumohon…'

'Kenapa gege tega sekali…'

'Sakit ge…'

'Tidak… hentikan…'

Bayangan bagaimana Tao menangis, bergetar, dan meringkuk tak berdaya dihadapannya membuat Kris menginjak rem begitu saja. Kris benturkan dahinya pada kemudi mobil yang ia tunggangi. Tak peduli pada klakson bersusulan para pengguna jalan. Rapalan nama Tao terus tergumam hingga menciptakan gema dalam telinga. Menutup suara-suara yang ada di sekitarnya.

Dalam tundukan kepala itu, lelehan air mata sarat akan penyesalan tak berhenti mengalir dari sudut mata Kris. Tak ada satupun kata yang sanggup menjabarkan penyesalannya. Tak ada pula narasi yang dapat membuatmu mengerti sesakit apa hati Kris saat ini.

.

.

TBC!

.

.

HUAAAA… readers ssi~ Zhii teramat bahagia gegara akun lama udah bisa diakses lagi, huhuhuuu… ini terjadi secara enggak sengaja, nyoba doang akses pake akun FB dan… BINGGO! akun ini balik lagi *mewek*.

Nggak ada yang bisa Zhii katakan, rasanya… Uhh… Intinya Zhii bakal ngelanjutin FF Zhii tetep di akun ini. Terimakasih banyak untuk dukungan readers selama ini ^_^

Dan maaf buat chapter ini yang terlalu lama, Zhii baru pulang touring soalnya, tepat kemarin jam 3 sore. Satu minggu berada dalam bus bikin badan Zhii remuk, untung chapter ini udah selesai sebelum Zhii berangkat. Jadi maaf buat review yang belum Zhii balas *nundukin kepala delem-dalem*.

Semoga readers mau mengerti.

oraurus, scarleciazeal, are, KT in the house, Mrs. EvilGameGyu, Arvitakimkim, fitriws 21, Uchiha Tachi'4'sora, panda, Christal Alice, Jin Kin Tao, ristyanmw, Athena Chesloock, guest, KaiWufan Kafan, fuxian, alexandrabunga, XiuBy PandaTao, PrinceTae, , adette, Kopi Luwak, Catch Your xx, taoris shipperr, aninkyuelf, Nurfadillah, Fly21, Qhia503, githa, Jewelintheocean, dhikafarianty, Viivii-ken, Pembantunya TaoyesungNaru, AinesHMJ, NicKyun, ajib4ff, Huntao Shipper EXOST, Yujacha, KyuKi Yanagishita, LeeAn, TaoKYU, Reezuu Kim, meyy-chaan, guest, Lee Eunsook, Milky Andromeda, Emaknya Panda, ayulopetyas11, vickykezia23, 11 13ginger, RynKrisMe, paprikapumpkin, sycarp, Vic Sayang Panda, diitactorlove.

'Thank you so much'