Title: My Pretty Girl

Author : Dae Lee Moon

Genre : Romance, Family dan nyrempet ke Drama xD

Rate : T (GS)

Cast :

Do Kyungsoo a.k.a Kim Kyungsoo

Kim Jongin a.k.a Kim Jongin

And others!

.

.

.

.

.

Warning: GS (mianhae for DKS), Typo's Bertebaran, Cerita Pasaran, GAJE, Alur Kecepetan, OOC.

Summary :Apa salah jika aku jatuh cinta padanya?/ "Aku tidak pernah berbohong padamu Kim Jongin!"-Kyungsoo/ "Mianhae.. jika aku harus menyingkirkanmu"- Jongin/ "Apa dia benar-benar ingin membunuhku..hiks"/ Bad Summary/GS!/KaiSoo in here. RnR plis!^^

.

.

.

.

.

Don't be a plagiator!

.

.

.

.

Tidak terima bash

.

.

.

Just my imajination

.

.

.

.

NO SILENT READER

.

.

.

.

.

.

YAKSOK?

.

.

.

.

.

.

Let's be a good reader and happy reading^^

.

.

My Pretty Girl

#Chapter 7#

.

.

.

.

"Kim Jongin... mulai saat ini dia adalah tunanganku"

Semua orang yang hadir di sana ternganga setelah Kyungsoo mengungkapkannya. Tak terkecuali Jongin. Bahkan dia tidak berani membayangkan jika Kyungsoo sampai berbuat nekat seperti ini.

Kesempatan mereka untuk membuat Kyungsoo mundur dari jabatannya telah pupus karena Kyungsoo akan semakin kuat dengan adanya Jongin di sampingnya.

Dan lagi kesempatan mereka untuk menjadikan Jongin sebagai menantu idaman juga telah sirna.

Kyungsoo berdiri. Kemudian mengajak Jongin yang masih syok untuk ikut berdiri di sampingnya.

"Will you marry me?" kata Kyungsoo sembari menunjukkan dua buah cincin di tangannya.

Jongin masih tidak percaya. Dia terus menatap Kyungsoo yang juga sedang menatapnya mantap.

"Chagiya.."

Jongin tersadar dan menatap mata Kyungsoo lebih dalam. Apa yang baru saja ia dengar?

Benarkah dia adalah Kyungsoo yang selama ini telah membuat jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya.

Apa yang harus ku lakukan? Jongin bertanya melalui tatapan matanya.

Dan Kyungsoo mengangguk dengan mantap. Memberi jawaban bagi pertanyaan Jongin yang tidak dapat diucapkan.

Jongin langsung meraih kotak hitam itu dan memakaikan cincin itu di jari manis Kyungsoo. Begitu pun sebaliknya.

Suara riuh tepuk tangan mengakhiri rapat siang itu. Para anggota dewan pun tak henti-hentinya membicarakan pasangan muda itu di luar ruangan.

"Dia benar-benar wanita yang tangguh. Daebak!"

"Will you marry me.."

Seseorang juga mempraktekkan bagaimana Kyungsoo melakukannya.

"Ahh.. aku berharap bisa dilamar oleh wanita sepertinya" kata salah satu direktur yang terlihat masih single.

.

.

.

.

.

.

.

Setelah acara di kantor pusat selesai, Kyungsoo tidak langsung ingin pulang ke rumah. Kyungsoo meminta Jongin untuk menemaninya mengunjungi makam kakek mereka terlebih dahulu.

"Haraboji.. Kyungsoo waseo.."

"Apa haraboji bahagia di sana? Aku membawa bunga lily kesukaan haraboji"

Kyungsoo berjongkok dan meletakkan karangan bunga lily itu di atas makam kakek yang berada di sebuah pohon.

Hwuaacihh!

"Meskipun sedikit menyusahkan untuk membawanya sampai ke sini kkk~. Haraboji masih ingat bukan jika aku sedikit alergi dengan serbuk bunga lily. Keundae.. eomma dan haraboji johae.. tapi tidak apa untung saja Jongin mau membawakannya"

"Haraboji annyeong, Jongin imnida.."

Jongin membungkukkan badannya lalu ikut berjongkok di samping Kyungsoo.

"Haraboji, apa aku melakukan hal yang benar? Apakah cara yang ku ambil ini benar haraboji?"

Kyungsoo kembali bersuara setelah tersenyum menatap Jongin yang berjongkok di sampingnya.

"Aku tidak tahu harus melakukan apa lagi. Mereka tidak akan menerimaku jika aku sendirian. Keuronika.. aku harus meminta bantuan dari Kim Jongin untuk mendapatkan kekuatan ketika menghadapi mereka. Apa haraboji senang?"

Kyungsoo kembali melanjutkan curhatannya. Sedangkan Jongin masih tetap memperhatikannya.

"Tentu saja dia akan senang. Bukankah sejak pertama kakek ingin kita menikah" timpal Jongin.

"Hahaha.. benar juga"

Kyungsoo membenarkan perkataan Jongin disertai dengan gelak tawa yang sengaja dibuat-buat.

"Tapi dia akan lebih bahagia jika kau benar-benar menginginkanku, bukan sebagai kekuatan untuk menghadapi mereka" kata Jongin menatap Kyungsoo intens.

"Kim Jongin-ssi. Apa ada yang salah denganmu?" Kyungsoo berdiri.

"Apa kau tidak terima jika aku hanya membutuhkanmu sebagai kekuatanku untuk menghadapi mereka? Kau ingin yang lebih dari itu? Ku pikir kau yang selama ini tidak menginginkanku"

Kyungsoo beranjak pergi dari pohon itu.

"Tidak seperti itu Kyung.. sudah kubilang aku akan melindungimu meskipun itu artinya juga harus dengan menikahimu!"

Jongin juga beranjak dari sana. Menyusul Kyungsoo lalu meraih tangannya agar Kyungsoo berhenti dan mendengarkan perkataannya.

"Tidak Kim Jongin"

Kyungsoo melepaskan tangannya dari cengkraman tangan Jongin.

"Aku tidak memintamu untuk menikahiku. Aku tidak ingin memaksakan perasaanmu. Aku hanya ingin kau ada di sampingku. Itu saja.."

Lanjut Kyungsoo yang kemudian memalingkan wajahnya. Tidak mau bertatapan dengan kedua mata Jongin.

"Tapi aku tidak merasa seperti itu NOONA!"

"Jongin-ssi. Jangan membuatku lebih banyak berhutang padamu. Jangan berpura-pura bersikap manis di depanku. Itu memberatkanku"

Kyungsoo kembali melanjutkan langkahnya yang sempat terpotong karena perkataan Jongin.

"Lalu ini apa NOONA!"

Jongin meraih sebelah tangan Kyungsoo dan menunjukkan padanya sebuah cincin yang tadi telah disematkan olehnya di sana.

Kyungsoo melepaskan tangannya dan menyembunyikan tangan itu di balik punggungnya.

"Kau boleh menikahiku. Tapi bukan karena ingin melindungiku dari para dewan. Bukan itu.."

Kyungsoo menatap Jongin dalam. Mencoba memberitahu Jongin apa yang ia inginkan melalui tatapan itu.

"Soo-ya.. nan..." Jongin ingin mengatakannya.

Dia ingin mengatakan pada Kyungsoo perasaannya yang sebenarnya. Tapi bibirnya tiba-tiba saja menjadi kaku. Tidak bisa bersuara.

"Datanglah padaku jika kau sudah benar-benar menyukaiku" Kyungsoo memalingkan wajahnya.

"Kajja kita pulang" dan dia mencoba untuk kembali bersikap seperti biasanya.

Jongin mengekor di belakang Kyungsoo, merutuki dirinya sendiri kenapa begitu lemah di depan Kyungsoo. Kenapa jantungnya selalu tidak bisa terkontrol saat menatap Kyungsoo.

Dan pada saat itu Jongin berpapasan dengan seseorang. Orang itu membisikkan sesuatu tepat di telinga Jongin.

"Apa kau benar-benar akan menikahi perempuan itu, uri Kim Jongin?"

Jongin berhenti. Mencerna kembali perkataan yang baru saja di dengarnya. Tadi orang 'itu' menyebut namanya.

Jongin tersadar dari lamunannya setelah Kyungsoo memanggilnya.

Orang yang baru saja berpapasan dengannya dan membisikkan kata padanya, dia adalah orang yang sama dengan orang yang mengamatinya di upacara pemakaman kakek.

Sama seperti kemarin, orang itu telah menghilang begitu saja. Tapi kali ini Jongin berhasil mengingat orang 'itu', dia pernah melihatnya.

"Yak Kim Jongin! apa yang sedang kau pikirkan. Palliwa!"

"Uh!"

Jongin berlari menghampiri Kyungsoo yang sudah jauh di depannya.

"Apa kau memikirkan perkataanku barusan?" tanya Kyungsoo.

Mereka berjalan beriringan menuju mobil yang terparkir di depan gerbang tempat pemakaman.

"Ani"

"Geuraeseo.."

Pikiran Jongin masih terngiang dengan orang 'itu'. Kenapa dia muncul. Dan kenapa orang 'itu' hanya mengamatinya dari kejauhan.

Masih banyak pertanyaan yang bersarang di kepala Jongin. Pertanyaan yang tidak tahu siapa yang akan menjawabnya.

Jongin sedikit takut. Takut jika orang 'itu' juga sedang mengawasi Kyungsoo. Jongin takut jika orang 'itu' berani menyakiti Kyungsoo, gadis yang telah membuatnya jatuh...

...CINTA. Jongin merasakannya. Setidaknya ia sudah berani jujur pada dirinya sendiri.

"Ya. Kau melamun lagi. Tidak usah memikirkan perkataanku. Ayo cepat masuk. Kau tahu mulai sekarang aku adalah orang sibuk Kim Jongin. Waktuku sangat berharga"

Kata Kyungsoo sambil membuka pintu mobil untuk dirinya.

Namun sebelum Kyungsoo masuk, Jongin lebih dulu menutup pintu itu kembali.

"Wae? Kau tidak mau pulang?"

"Soo-ya.."

Jongin menatap Kyungsoo dengan tatapan memuja.

"Aigoo.. apa yang kau lakukan Kim Jongin!" Kyungsoo mulai takut-takut.

"WASEO!"

"Aku datang padamu Soo.." katanya kemudian masih dengan tatapan yang sama.

"Yak!" Kyungsoo hendak memukul Jongin.

Tapi Jongin menghentikan tangan Kyungsoo dan meletakkannya tepat di dadanya. Hingga Kyungsoo dapat merasakan detak jantung Jongin yang cepatnya seperti baru saja lari maraton.

"Kau bisa merasakannya? Ini semua terjadi karenamu Soo.."

Lama Jongin menatap Kyungsoo yang juga sedang menatapnya penuh selidik.

"Yak! Sudah kubilang jangan memaksakan perasa—."

Belum sempat Kyungsoo menyelesaikan perkataannya, bibirnya sudah dibungkam oleh bibir tebal Jongin.

Kyungsoo membelalakkan matanya. Kedua matanya menatap mata Jongin yang terpejam saat mengecupnya. Sangat dekat.

Beberapa detik kemudian kedua mata itu terbuka dan bertabrakan langsung dengan mata bulat Kyungsoo.

Tatapan Jongin padanya menyiratkan bahwa perasaannya pada Kyungsoo memang benar-benar nyata. Hanya saja Jongin baru menyadarinya.

Seolah terhipnotis oleh tatapan Jongin, Kyungsoo memejamkan kedua matanya.

Tangannya bisa merasakan detak jantung Jongin yang amat sangat melebihi ambang batas.

Tangan itu kemudian meremas jas Jongin kala Jongin dengan berani mengecap bibirnya merasakan manisnya bibir Kyungsoo.

Jongin mulai lebih berani melumat bibir Kyungsoo dengan lembut dan penuh kasih sayang.

Kyungsoo bisa merasakan ada sesuatu yang menggelitik di dalam perutnya. Tapi dia mencoba untuk mengimbangi permainan Jongin.

Kedua tangan Jongin menangkup pipi Kyungsoo untuk lebih memperdalam ciumannya. Tapi sebelum itu, Kyungsoo segera melepaskan tangan Jongin bersamaan dengan berakhirnya ciuman pertama mereka.

Keduanya sama-sama terengah-engah karena hampir saja kehabisan pasokan oksigen.

Wajah Kyungsoo merona tatkala menerka kembali apa yang baru saja ia lakukan. Kyungsoo menundukkan wajahnya karena merasa sangat malu.

Untung saja ini bukan hari libur sehingga tidak banyak orang yang berkunjung ke makam.

Jongin mengangkat dagu Kyungsoo, kembali menakup kedua pipi Kyungsoo lalu mengecup bibirnya sekilas kemudian membawa Kyungsoo ke dalam pelukan hangatnya.

"Malu hm?"

"Yak. Itu ciuman pertamaku!"

Kyungsoo memukul dada Jongin dengan sebelah tangannya.

"Itu juga yang pertama untukku"

Kyungsoo mendongakkan kepalanya begitu mendengar pernyataan Jongin. kyungsoo menatapnya tak percaya.

"Wae? Kau tidak percaya padaku?"

"Jeolttae andwae!" jawab Kyungsoo sambil menggeleng-gelengkan kepalanya di dada bidang Jongin.

"Jika kau tahu, saat aku berada di Amerika Krystal selalu menempel padaku. Karena itu tidak ada satu yeoja pun yang berani mendekatiku"

Kyungsoo melepaskan dirinya dari pelukan Jongin. kyungsoo cemberut, hingga harus mempoutkan bibirnya.

"Wae? Kau cemburu?" goda Jongin.

"Ya! Siapa yang cemburu. Aku hanya tidak habis pikir kenapa ciuman pertamaku berada di tempat seperti ini" elaknya.

Walaupun Kyungsoo sudah berusaha menutupi kecemburuannya tapi sorot matanya tidak bisa membohongi seorang Kim Jongin.

"Ahh.. bergitukah. Kkk~" Jongin terkekeh.

"Sudah ku bilang aku tidak cemburu!"

"Memangnya aku mengatakan sesuatu. Tapi kau tidak akan melupakan apa yang terjadi barusan bukan?"

"Molla. Ayo pulang"

..

"Uri Jongin ternyata sudah besar" kata seseorang yang mungkin seusia dengan Jongin.

"Aku sudah memperingatkannya. Tapi rupanya dia tidak memperdulikan perkataanku. Kita tunggu saja Kim Jongin. Seberapa lama kau akan terus melindungi perempuan itu!"

Suara ini.. sama seperti suara bisikan dari orang 'itu'.

.

.

.

.

.

.

Jongin dan Kyungsoo kembali ke rumah mereka. Sesampainya di rumah, Jongin tidak langsung menyuruh Kyungsoo untuk beristirahat setelah melewati hari panjangnya.

Jongin justru membawa Kyungsoo kembali ke ruang belajar seperti sebelum-sebelumnya.

"Tidak bisakah kita beristirahat kali ini? Argh.. kakiku pegal sekali"

Kyungsoo memijat kakinya sendiri. Mencoba bersikap memelas di depan Jongin.

"Maldo Andwae! Kau tidak boleh bersantai-santai sekarang. Bukankah kau ingin menunjukkan pada mereka jika kau mampu duduk di kursi haraboji?"

Kyungsoo tidak menjawab. Memang benar dia ingin menunjukkan pada semua orang jika dia mampu memimpin perusahaan.

Tapi hari ini Kyungsoo benar-benar lelah. Persendiannya terasa kaku. Dia ingin merilekskannya terlebih dahulu.

"Kau ingatkan jika setiap minggu kau harus memeriksa perkembangan perusahaan. Berkas-berkas yang kau butuhkan sudah aku siapkan di atas meja. Jangan keluar sebelum kau mempelajari itu semua"

"Ye? Yang benar saja!"

"Shireo?"

"Jongin-ah.. bukankah aku kekasihmu sekarang?"

"Geuraeseo?"

"Aku lelah. Bukankah masih ada besok pagi. Aku akan menyelesaikannya besok pagi juga!"

"ANDWAE!" tegas Jongin pada Kyungsoo.

"Yak! Kau mau kemana?"

Kyungsoo menggedor-gedor pintu yang telah tertutup.

"Jangan keluar sebelum kau menyelesaikan semuanya!" teriak Jongin dari luar pintu.

Huh. Kyungsoo menghela nafasnya kemudian duduk di hadapan berkas-berkas yang harus dipelajarinya untuk kegiatan lusa.

Sedangkan di luar sana, Jongin sibuk berpindah sari lemari satu ke lemari lain, dari loker satu ke loker dua yang ada di ruang tengah seperti sedang mencari sesuatu.

..

..

Setelah berjam-jam Jongin mencari tapi benda itu tidak ada di manapun. Akhirnya dia menyerah juga.

Jongin kembali ke ruang belajar berniat untuk menyuruh Kyungsoo beristirahat karena sudah hampir melewati tengah malam.

Jongin mengintip Kyungsoo dari balik pintu yang sedikit terbuka. Namun Jongin mengurungkan niatnya saat melihat Kyungsoo yang sadang serius mempelajari berkas-berkas di hadapannya.

Jongin tersenyum senang melihat Kyungsoo yang belajar dengan keras. Jongin kembali menutup pintu itu lalu kembali ke ruang tengah sambil menunggu Kyungsoo selesai dengan berkasnya.

Dia tidak ingin mengganggu Kyungsoo dengan masuk ke ruang belajar sekarang.

..

..

Tengah malam sudah terlewati dan Kyungsoo sudah mulai mengantuk.

Dengan takut-takut Kyungsoo mengendap-endap keluar dari ruang belajar sambil membawa berkas yang belum ia selesaikan.

Kyungsoo berencana menyelesaikan berkas itu di kamarnya. Meski kemungkinan besar ia akan langsung tertidur begitu sampai di kamarnya.

.

.

.

.

.

Kyungsoo terkejut saat melihat Jongin yang sedang terlelap di sofa ruang tengah. Kepalanya bersandar di tangan sofa dengan kaki yang menjuntai ke lantai. Posisi yang sangat tidak nyaman menurut Kyungsoo.

Kyungsoo masuk ke dalam kamarnya mengambil sebuah bantal dan selimut lalu memakaikannya pada tubuh lelap Jongin.

Sebelumnya Kyungsoo terlebih dahulu membenarkan posisi kaki Jongin dan meluruskan dengan tubuhnya hingga pada posisi nyaman, menurutnya.

Kyungsoo menarik selimut itu sampai di atas dada Jongin lalu menumpukkan kedua tangan Jongin di atasnya.

Kyungsoo belum ingin beranjak dari sana. Dia masih ingin menemani Jongin sambil duduk di dekatnya.

Meski lantai itu terasa dingin namun ketika melihat wajah Jongin yang sedang tertidur membuat hati Kyungsoo menjadi hangat.

Kyungsoo berharap ketika nanti Jongin terbangun, dia akan tetap membuat hati Kyungsoo hangat seperti sekarang ini.

Kyungsoo menyeka keringat yang ada di dahi Jongin dengan telapak tangannya. Laki-laki ini berkeringat dan tubuhnya terasa panas.

Kyungsoo mulai dilanda kepanikan.

Jongin sedikit menggerak-gerakkan kepalanya. Mengerang tertahan seperti sedang menahan rasa sakit.

Kyungsoo semakin panik. Tangannya yang bebas mengusap punggung tangan Jongin. Mungkin dengan begitu Jongin akan lebih tenang.

"Kau bermimpi buruk...semoga mimpimu tidak akan menjadi kenyataan. Kau terlihat sangat ketakutan.."

Kyungsoo menepuk-nepuk tangan Jongin hingga Jongin kembali pulas dan Kyungsoo pun akhirnya ikut tertidur dengan kepala yang berada di lengan Jongin.

Ibu kepala yang datang untuk mematikan lampu tidak sengaja melihat mereka berdua.

Dia berlalu pergi tapi kemudian datang kembali dengan membawa sebuah selimut di tangannya.

Ibu kepala menyelubungi Kyungsoo dengan selimut yang ia bawa. Kemudian tersenyum bahagia sebelum ruang tengah menjadi gelap gulita.

.

.

.

.

.

.

.

Jongin mengerutkan keningnya ketika bias cahaya matahari dengan sialnya mengusik tidur nyenyaknya. Jongin mencoba menggerakkan tubuhnya tapi tertahan karena beban berat yang bertumpu di lengan kirinya.

Jongin baru menyadari bahwa dia sedang tidak berada di dalam kamarnya. Dan beban berat yang mengganggu pergerakannya adalah Kyungsoo! Yang masih tertidur dilantai.

Jongin tersenyum melihat Kyungsoo yang tertidur di lengannya. Kulit wajahnya terasa sangat halus seperti bayi.

Jongin menelusuri setiap lekuk wajah Kyungsoo dengan jemarinya. Kemudian dia membenarkan selimut Kyungsoo hingga menutupinya dengan sempurna.

Tapi pergerakannya itu membuat Kyungsoo sedikit terusik sehingga terbangun dari tidurnya.

Kyungsoo membuka matanya dan langsung disambut oleh tatapan hangat dari Kim Jongin. kyungsoo tersenyum dan menutup matanya kembali.

Tertidur dalam posisi seperti itu membuat seluruh tubuhnya terasa pegal.

"Ireona~"

Jongin mengguncang-guncangkan bahu Kyungsoo. Tapi Kyungsoo tetap diam.

"Chagiya~~ ireona haejji..."

Kali ini Jongin membangunkan Kyungsoo dengan penuh kelembutan. Dan hasilnya..

"Yak! Siapa yang mengijinkanmu memanggilku seperti itu eoh?"

Kyungsoo langsung berdiri. Menutupi wajah Jongin dengan selimutnya lalu memukul-mukul kepala Jongin menggunakan tangan mungilnya.

Kyungsoo melakukannya karena malu denganpanggilan sayang Jongin padanya. Wajah Kyungsoo memerah.

"Apa yang kalian lakukan di sana huh!"

Pekikan seorang yeoja menghentikan aktivitas mereka berdua.

.

.

.

.

.

"Siapa yang menyuruhmu datang eoh?" tanya Jongin menjurus pada seorang yeoja yang duduk di kursi penumpang mobilnya.

Sekarang Jongin sedang berada dalam perjalanan menuju kantor pusat bersana Kyungsoo juga yeoja tadi.

"Naega! Aku yang menyuruhnya kembali Kim Jongin. Dia tidak bersalah"

"Tapi kenapa kau juga mengajaknya ke kantor Kyung?"

Jongin tidak percaya dengan tindakan Kyungsoo ini.

"Dia butuh pekerjaan untuk pengobatan ibunya. Jung ahjumma sekarang berada di rumah sakit jiwa. Arra?"

"Geuraeseo?"

"Dia akan menjadi sekretarismu mulai besok"

Kyungsoo tersenyum ke arah Krystal yang duduk di belakang. Tentu Krystal membalasnya dengan senyuman semanis mungkin di depan Kyungsoo.

"Mwo! Kenapa kau tidak membicarakannya terlebih dahulu?"

"Mian. Aku tidak sempat"

Jongin tidak habis pikir Kyungsoo bisa membuat keputusan gila seperti ini. Siapa yang telah berhasil meracuni pikirannya..

.

.

.

.

.

Kyungsoo meminta dokumen yang sudah ia siapkan sebelumnya pada sekretaris Choi yang sekarang telah menjabat sebagai sekretarisnya.

"Saya akan membacakan beberapa putusan yang sudah saya pertimbangkan dengan matang sebelumnya"

"Pertama mengenai jabatan direktur utama. Sebelumnya yang berada di posisi ini adalah Kim Jongdae ahjussi selama kurang lebih 7 tahun sebelum beliau meninggal dunia"

"Dan sekarang posisi ini dipegang oleh wakil direktur Park Seong Hoon. Telah saya putuskan bahwa mulai hari ini saya mengangkat saudara Kim Jongin sebagai dirut, meneruskan tanggung jawab ayah angkatnya, Kim Jongdae"

"Dan untuk tuan Park, kembali pada posisi semula. Saya harap handa bisa menerima keputusan yang telah saya buat, Tuan Park"

Kyungsoo menatap Tuan Park untuk memastikan bahwa keputusannya ini dapat diterima.

"Anda tidak perlu khawatir. Saya akan menerima apapun keputusan Anda. Tuan Kim Soo Man pasti sudah mengajarkan kepada Anda dengan sangat baik"

"Terimakasih. Saya sangat senang mendengarnya. Jika Tuan Kim masih hidup beliau pasti sangat bangga memiliki rekan bisnis seperti Anda"

"Anda terlalu banyak memuji sajangnim"

Dan pertemuan di kantor pusat pun berakhir dengan diangkatnya Krystal sebagai sekretaris Dirut Kim Jongin.

.

.

.

.

.

.

.

"Untuk apa kau menyewakan apartement untuknya"

Jongin berbisik pada Kyungsoo dengan Krystal yang masih berada di sana menikmati suasana apartement barunya.

"Anggap saja sebagai fasilitas kantor" jawab Kyungsoo dengan berbisik pula.

"Apa kau sudah gila?"

"Wae?"

"Kau sama saja membeli kandang harimau dengan harimaunya juga!"

"Tidak masalah. Toh ada penjinaknya di sini" jawab Kyungsoo menyindir.

"Yack!"

"Ah.. appa, boggoshipeo..."

Kyungsoo tidak ingin lagi mendengar protes dari Kim Jongin.

"Bisakah kau mengantarku ke rumah appa?" pintaya.

..

..

Diam-diam Krystal menelfon seseorang setelah tadi ia sedikit mendengar perbincangan antara KAISOO.

"Ahjussi sepertinya Jongin akan membawa Kyungsoo menemui appanya"

"..."

"Aku mengerti"

"..."

"Baiklah"

Krystal mengakhiri percakapannya yang sangat singkat tapi penuh rencana itu.

.

.

.

.

.

.

Kyungsoo dan Jongin kembali ke rumah mereka. Tanpa Krystal.

Karena mulai hari ini Krystal akan tinggal di apartement yang baru saja Kyungsoo sewakan untuknya.

Sesampainya di rumah, Kyungsoo langsung masuk ke dalam kamarnya untuk membersihkan diri.

Sementara Jongin sibuk wara-wiri di ruang tengah seperti yang telah ia lakukan tadi malam. Sepertinya dia tidak akan berhenti sebelum apa yang ia cari telah ditemukan.

"Apa yang sedang kau lakukan? Belum ketemu juga?"

Kyungsoo mengintrupsi Jongin yang masih saja mencari barangnya hingga malam hari. Jongin sampai tidak ada waktu untuk mandi karenanya.

"Oh"

"Sebenarnya apa yang kau cari?" Kyungsoo menghampiri Jongin.

"Sebuah barang.." jawab Jongin tanpa memperhatikan Kyungsoo.

"Mwo" Kyungsoo bingung dengan jawaban Jongin yang ambigu.

Jongin berhenti sebentar dari aktivitasnya lalu menatap Kyungsoo yang sedang berdiri tidak jauh darinya.

"Sebuah foto" jawab Jongin ragu.

Kemudian Jongin kembali mencari 'sebuah foto' itu.

"Apa foto ini yang kau maksud?" Kyungsoo mengeluarkan sebuah foto dari saku baju tidurnya.

"Dari mana kau mendapatkannya?"

Jongin langsung mengambil foto itu lalu menyimpannya.

"Kau yang meninggalkannya di ruang kerja appa malam itu"

"Oh, benarkah.."

Kyungsoo merasa ada sesuatu yang mengganjal melihat perilaku Jongin yang tiba-tiba menjadi waspada.

Jongin masuk ke dalam kamarnya mengunci pintu itu rapat-rapat tanpa memperdulikan Kyungsoo yang masih berada di ruang tengah.

Jongin duduk di sudut ranjang miliknya sembari memperhatikan foto yang sejak kemarin dicarinya.

"Apa kau benar-benar akan menikahi perempuan itu, uri Kim Jongin?"

Jongin teringat dengan bisikan orang 'itu'. Orang yang sama dengan seseorang yang berada di dalam foto itu.

Orang itu, dia...

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

Annyeong chingu, reader-nim, viewer.

Annyeong yeoreobun~~

Huwaa... kira-kira siapa yah orang 'itu'. Ada yang bisa menebak?

Siapa hayo?

Tulis jawabanmu di kolom .. *modus

Maaf gue belom bisa menikahkan KAISOO di chap ini. Tunggu sampe gue lulus sarjana KEPENGHULUAN ne. Kkk~

Tapi kalian bisa membantu gue dengan cara memberikan review yang banyak.

Siapa tahu dosen gue liat review kalian. Terus bisa bantu nikahin KAISOO di chap depan.

Ngomong apa sih gue. -.-

Intinya bagi kalian yang udah review khamshamida... review again ne^^

Dan bagi para viewer or silder gue butuh suara kalian. *puttakhe

Gomawo~

Brigitta Bukan Brigittiw

humaira9394exindira | kyungiee

ruixi1 | yixingcom | kaisoo jongsoo | kyungie love

aulaulya230114

Gomawo~

:* saengil cukkhae hamnida~ 2x.. saranghanda JONGIN-ie.. saengil cukkhae hamnida... :*

***Happy JONGIN Day***

KADO apa yang sudah kalian persiapkan untuknya?

.

.

See You

:|

2015-01-14