Nightwish: Treasure

Chapter 7

o0o—

Disclaimer: Cerita ini milik saya, semua karakter Inuyasha milik Rumiko Takahashi, saya hanya meminjam nama mereka. Saya tidak mengambil keuntungan dari penulisan cerita ini, tulisan ini hanya sebagai hiburan semata.

Warn! Typo(s) gaje ide yang mainstream OOC AU diksi tidak tepat dll.

Author : Emma Griselda ‖ Editor : Sky Yuu ‖ Cast : Sesshomaru, Kagome, Inuyasha, and Kikyo

Lenght: chaptered ‖ Rating : PG-17 ‖ Genre : drama, romance, hurt, comfort

o0o—

"Sesshomaru!" teriakku dengan keras.

Suaraku yang serak karena menangis pun menggema. Aku kira teriakanku akan membuat perkelahian mereka mereda. Namun, nyatanya perkelahian malah semakin menjadi. Aku tak tahu apa yang ada di pikiran mereka. Apakah aku yang memancing perkelahian mereka?

Walaupun Sesshomaru dan Inuyasha saudara se-ayah, namun Sesshomaru yang tidak menyukai adiknya yang seorang hanyou membuatnya sering berkelahi dengannya hanya karena masalah sepele. Biasanya aku bisa menghentikan mereka, tapi kali ini mereka benar-benar bertarung layaknya bertarung dengan musuh abadi —Naraku. Apa yang harus aku lakukan?

"Aku sudah memberimu kesempatan untuk tidak melukainya bahkan membuatnya menangis!" ujar Sesshomaru dengan memberi penekanan di akhir kalimatnya.

Inuyasha nampaknya tak mau kalah dari Sesshomaru. Ia menghujani Sesshomaru dengan kaze no kizu andalannya. Namun, dengan mudah Sesshomaru menghindarinya.

"Kau berkata akan menjaga dan melindunginya. Namun, yang kau lakukan hanya meninggalkannya sendiri dan membiarkannya tenggelam dalam kesedihan." Sesshomaru menghujani Inuyasha dengan dokkasou miliknya.

Aku mengalihkan pandangan pada Kikyo, dia melihat dari kejauhan sama denganku. Dia menangis sambil memanggil nama Inuyasha berulang kali. Kulihat Sango dan Miroku mencoba membantu untuk melerai Sesshomaru dan Inuyasha, tapi nihil. Aku melihat ke arah Inuyasha, ia sudah terluka. Akan tetapi, Sesshomaru seperti tidak ada niat untuk menghentikan perkelahian itu.

"Sesshomaru, kumohon hentikan?" pintaku dengan suara serak. Ia tidak bergeming, hanya melirikku dan kembali fokus pada Inuyasha.

Jaken hanya meneriakkan dukungannya pada Sesshomaru dan berharap tuannya bisa menghabisi nyawa Inuyasha. Ini bukanlah hal yang tepat, hal semacam inilah yang membuat Naraku semakin bahagia. Pikiranku kalut, dan aku hanya menangis sambil berpikir bagaimana mengakhiri semua ini. Aku tak tahu untuk siapa tangisanku ini. Untuk Inuyasha atau untuk Sesshomaru? Atau untuk keduanya atau justru untuk diriku sendiri?

Hanya ada satu cara. Akan tetapi, bagaimana dengan Inuyasha? Jika kulakukan itu dia akan semakin terluka. Namun, hanya itu jalan yang bisa dilakukan. Aku kembali menoleh pada Sesshomaru. Tatapannya mengisyaratkan akan menghabisi nyawa seorang hanyou di depannya.

"OSUWARI!" teriakku.

Tubuh Inuyasha langsung menghantam tanah dengan keras. Aku langsung berlari ke arah Inuyasha dan Sesshomaru. Yang lain juga menghambur ke tempat yang sama denganku. Tapi, mereka mendekat ke arah Inuyasha. Aku pikir akan percuma jika aku menghambur ke arahnya walaupun dia terluka. Aku menghampiri Sesshomaru. Saat aku melirik Inuyasha, Kikyo melotot padaku. Dia marah padaku, mungkin karena aku menggunakan mantra yang biasa aku ucapkan pada Inuyasha.

"Keh, Kagome!" Inuyasha berteriak.

Aku menoleh ke arahnya, tapi badanku menghadap Sesshomaru. Aku memegang tangan Sesshomaru untuk mencegah mereka berkelahi kembali.

"Naniyo?"

"Kenapa kau menghentikan pertarunganku dengan Sesshomaru?"

"Sekarang bukan waktu yang tepat. Kau terluka dan harus diobati."

"Itu alasanmu saja, 'kan?"

Tangan Sesshomaru mengepal, dia sudah siap menghajar Inuyasha kembali. Aku menatap Sesshomaru dengan tatapan nanar. Aku berharap dia mau mendengarkanku untuk berhenti berkelahi dengan Inuyasha, semuanya akan sia-sia.

"Hentikan Sesshomaru, kumohon?" gumamku lirih pada Sesshomaru.

Ia menundukkan kepala untuk menatapku dengan seksama.

"Kenapa? Kau mengkhawatirkan hanyou bodoh itu?" tanyanya dengan memandang Inuyasha yang mulai bisa berdiri dengan bantuan Miroku dan juga Kikyo.

Bukan. Aku hanya mengkhawatirkan dirimu.

"Bukan waktu yang tepat." Air mataku menetes. Aku mengalihkan pandangan dan pergi dari hadapan Sesshomaru.

Aku berjalan meninggalkan kerumunan yang membuatku sesak. Dengan deraian air mata, aku hanya mendengar samar-samar apa yang dikatakan Inuyasha dan rombongannya maupun apa yang dikatakan Sesshomaru. Yang kudengar hanyalah, Inuyasha maupun Sesshomaru sama-sama memutuskan untuk istirahat di situ malam ini. Rombongan Inuyasha dengan alasan luka yang ada ditubuh Inuyasha harus disembuhkan dan Sesshomaru membuat alasan atas namaku yang kelelahan. Apa Sesshomaru sengaja melakukan ini? Apa dia menjebakku? Atau sebenarnya apa alasannya?

Aku berjalan ke arah Rin yang masih menunggangi A-Un. Dia menatapku kebingungan. Melihat kebingungan yang tergambar jelas di wajahnya, aku langsung menghapus sisa air mata yang ada di pipi dengan paksa.

"Rin-chan?" aku menengadahkan tanganku ke arahnya. Aku berharap dia mau turun dari punggung A-Un dengan bantuanku. Aku ingin menggendongnya. Hanya dia obatku untuk saat ini. Sepertinya percuma kekhawatiranku tadi, bahkan untuk apa aku menangis juga?

"Kagome onee-sama, daijoubu?" Rin membuat gerakan untuk turun dari punggung A-Un dan aku langsung membantunya lalu menggendongnya.

"Hmm." Aku mengangguk dan tersenyum.

Dia menghapus sisa air mata yang ada di pipi. Ia tersenyum manis. Ia mengajariku tersenyum lebar bahkan saat terluka. Aku menggendongnya dan berjalan menuju ke kerumunan itu. Sesshomaru hanya berdiri menatap kedatanganku dengan Rin yang diikuti oleh Jaken dan A-Un.

Sango dan Miroku mempersiapkan segalanya untuk istirahat malam ini. Suasana masih dalam keadaan tegang. Bahkan Shippo yang biasanya tak kalah ceria dari Rin pun juga terdiam di samping Kirara. Inuyasha duduk dengan bersandar pada pohon dan di sampingnya ada Kikyo yang masih mengobatinya.

Aku duduk di samping Inuyasha berjarak beberapa langkah dengan Rin di sampingku. Sesshomaru berada di belakangku dengan posisi berdiri. Jaken terus menggerutu dengan mengatakan semuanya ini karena ulahku. Rin membelaku. Setiap perkataan yang keluar dari mulut Jaken ditanggapi oleh Rin, dan ia tak kalah pedas membalas perkataan Jaken yang mencemoohku.

"Jaken."

"Hai, Sesshomaru-sama."

"Diamlah!"

Lagi-lagi, Jaken diam setelah ia ditegur oleh Sesshomaru. Sepertinya hanya sosok Sesshomarulah yang ditakuti oleh Jaken.

"Inuyasha, daijoubu?" tanyaku padanya.

"Keh, tak perlu mengkhawatirkanku. Tubuhku ini berbeda dengan tubuhmu." Jawabnya dengan menyombongkan kekuatannya padaku.

Bahkan di depan Kikyo, Inuyasha tetap bercanda seperti biasanya padaku. Kikyo melirik tajam padaku. Aku hanya tak ingin membuatnya berpikiran yang tidak-tidak padaku.

Deg.

Pecahan shikon no tama milik Kikyo tercemar sedikit demi sedikit. Aku menoleh pada Kikyo untuk mendapatkan penjelasan lebih. Ia tak menggubrisku, mungkin dia tak menganggapku ada. Sepertinya dia benar-benar membenci kehadiranku di dekat Inuyasha.

Srek srek ...

Dedaunan yang gugur dan menutupi tanah terdengar berisik. Seseorang menginjak dedaunan. Aku mengedarkan pandanganku untuk mencari sumber suara. Seseorang itu berjalan menjauh dari tempat istirahat yang sudah disiapkan. Sesshomaru pergi entah ke mana. Ia berjalan menuju ke dalam hutan.

"Makan malam sudah siap." Sango mengumumkan pada seluruh anggota.

Semuanya langsung berebut ke arah Sango untuk mendapatkan jatah makan malam yang sudah disiapkannya. Bukannya berjalan menuju Sango yang sudah siap dengan makanan untuk dibagi rata ke seluruh anggota yang ada, aku bangkit mengikuti Sesshomaru yang berjalan menembus gelapnya hutan.

Aku sudah berusaha untuk berjalan secepat mungkin agar bisa menyusul Sesshomaru. Kenyataannya, aku masih tertinggal jauh dari Sesshomaru. Dia benar-benar mengambil langkah dua kali lipat dari manusia normal. Sebenarnya kemana dia pergi? Kenapa di berjalan menembus hutan? Apa ada musuh yang datang? Sekelebat, aku melihat baju hangat yang tergantung di bahu Sesshomaru. Baju hangat itu bergoyang diikuti rambutnya yang panjang itu.

"Sesshomaru?" panggilku sambil berlari kecil.

Sepertinya dia tidak mendengarku. Jika dia mendengarku bukankah seharusnya dia berhenti dan menungguku? Sesshomaru hanya terus berjalan tanpa mendengar teriakanku yang memanggil namanya. Apa dia memang sengaja tidak mendengarku? Bahkan seorang hanyou seperti Inuyasha mempunyai pendengaran dan penciuman yang sangat tajam. Tapi, dia tidak mendengarku? Rasanya mustahil. Apa dia mengabaikanku? Kenapa aku menjadi gelisah sendiri dan membuat praduga yang konyol tentang Sesshomaru.

Aku berlari untuk mengejar Sesshomaru yang jauh di depan. Walaupun dia mengambil lagkah santai, namun langkahnya sungguh berbeda dengan yang kuambil. Sepertinya dia memang sengaja melakukan ini. Napasku mulai tak beraturan karena berlari di malam hari.

Bukk

Aku jatuh saat mencoba mengejar Sesshomaru. Kaki dan tanganku lecet dan mengeluarkan darah.

"Aishh ..." Aku menepukkan tanganku agar noda darah itu hilang.

Aku mencoba bangkit dan berdiri kembali. Namun, aku salah mengambil pijakan. Kakiku menginjak sebuah ranting kecil dan membuatku kembali terjatuh. Betapa bodohnya aku? Mengalami kesalahan untuk kedua kalinya di tempat yang sama.

"Ceroboh." Seseorang berada di depanku dengan mengulurkan tangannya. Aku mendongak untuk melihat tangan siapa itu.

Mungkinkah?

Sesshomaru ...

Aku menggapai tangannya. "Kau yang membuatku jatuh."

"Aku tak memintamu untuk menyusulku."

"Tapi aku harus."

"Kenapa?" Sesshomaru membantuku untuk berdiri. Kami saling berhadapan.

"Ada sesuatu yang ingin kukatakan."

"Nani?"

"Kenapa kau melakukan hal itu?"

"Nani?"

"Kenapa harus memukul dan berkelahi dengan Inuyasha?"

"Karena Inuyasha?" alisnya terangkat.

Aku mengabaikan apa yang ditanyakan balik olehnya. "Tidak adakah cara lain selain bertengkar dalam menyelesaikan masalah? Kalian bisa saja terluka." Aku menekankan pada kalimat 'kalian bisa saja terluka'.

"Tubuh keturunan inu daiyoukai berbeda dengan manusia." Ia mebalikkan badan dan berniat melanjutkan perjalanannya.

"Berbeda bukan berarti tidak bisa merasakan sakit." Aku berteriak ke arahnya.

Sesshomaru diam. Hening. Dia sama sekali tak menjawabku. Kami sama-sama dalam posisi mematung dan berkutat pada pikiran masing-masing. Akhir-akhir ini membuatku sakit hanya untuk memikirkan nama Sesshomaru saja. Bahkan hanya di dekatnya saja sudah membuatku bingung dan gugup. Mungkinkah ini cinta? Secepat itukah ia bisa berpindah hati? Air mataku mulai membasahi pipiku.

Kumohon berhentilah untuk keluar. Aku tidak ingin menangis di hadapannya.

"Berhentilah menangis, miko." Suara Sesshomaru memecahkan keheningan yang tercipta.

Ia kembali melangkahkan kaki panjangnya itu entah kemana. Ia berjalan santai menembus bayangan. Aku hanya menatap kepergiannya dan meninggalkanku di tengah hutan yang sudah jauh dari rombongan. Apa benar dia akan sama seperti Inuyasha dan meninggalkanku begitu saja?

"Sesshomaru!" aku meneriakkan namanya dengan suara serakku setelah menangis dalam diam.

Bahkan saat ini aku menangis hanya untuk memanggil namanya?

Apa aku takut dia meninggalkanku sendirian?

Sesshomaru menghentikan langkahnya. Dia berbalik dan menatap ke arahku yang hanya berjarak lima langkah dari posisinya. Aku masih menangis saat ia sudah berbalik dan berhadapan denganku. Rasanya sesak saat ia meninggalkanku sendirian.

"Tak bisakah kau berhenti membuatku khawatir?" ia berteriak padaku.

"Tak bisakah kau percaya dengan apa yang dilakukan oleh Sesshomaru ini? Bahkan semua yang kulakukan selama ini hanya untuk melindungimu, Kagome." Sesshomaru membalikkan badannya dan berjalan pelan.

Deg.

Melindungiku? Apa maksudnya? Selama ini aku telah membuatnya khawatir? Apa aku tak salah dengar? Bahkan dia memanggil namaku bukan dengan sebutan miko seperti biasanya. Pikiranku kembali kalut. Semua kenangan yang melibatkannya kembali terputar dalam memoriku. Air mataku kembali menetes.

Aku langsung berlari untuk mengejar Sesshomaru yang sudah berjalan kembali. Sekuat tenaga aku mengerahkan semuanya dan aku berusaha untuk menyeimbangi langkah kakinya.

Grep.

Aku langsung memeluknya dari belakang dengan erat. Tubuhku menabrak tubuhnya yang kokoh. Sesshomaru ikut memantul karena gerakanku yang cepat dan spontan. Napasku tak beraturan dan dia terlihat kaget dengan apa yang kulakukan padanya.

"Maafkan aku." Ucapku sambil mengatur irama napasku yang sudah tak karuan.

"Maafkan aku." Aku mengulanginya.

Tak ada jawaban. Dia diam dan membiarkan aku memeluknya lebih lama.

"Maafkan aku."

Sesshomaru berbalik dan menatapku. "Sedetik pun aku tak melihatmu, aku sudah mengkhawatirkanmu."

"Maafkan aku."

"Aku sudah memberi kesempatan pada Inuyasha untuk menjaga dan melindungimu, karena melihatmu yang sering menangis karenanya, membuatku terganggu. Itulah alasanku menyerangnya selama ini dan aku ingin mengambil pedang Tessaiga untuk melindungimu. Aku menginginkan pedang itu bukan semata-mata untuk kekuatan saja, tapi untuk melindungimu. Walaupun, pada akhirnya kekkai yang ada pada pedang itu menolakku." Ia menjelaskan panjang lebar seolah aku menuntut penjelasan yang lebih darinya karena sikapnya pada Inuyasha.

"Maafkan aku."

"Berhentilah meminta maaf dan jangan pernah menangis karena orang lain selain Sesshomaru ini. Menangislah di depanku." Ia menghapus air mataku pelan.

"Aku tak bisa mengatakan apapun selain permintaan maaf."

Sesshomaru tak menjawab. Ia menarik pinggulku untuk mendekat ke arahnya. Tubuh kami hanya berjarak beberapa senti. Tangannya yang satunya menarik tengkuk leherku untuk mendekatkan wajahku dengan wajahnya. Hidungnya menyentuh hidungku. Ia mulai melumat bibirku pelan dan lembut. Bibirku membuka dan menerima itu dengan bahagia. Ia terus menghujaniku dengan ciuman-ciumannya.

Kurasa aku benar-benar mencintainya. Saat ia menciumku, rasa sesak dan semua rasa pahit dan sedih terhapuskan begitu saja. Napasku memburu dan beradu dengan napasnya yang menggelitik. Kami saling menatap satu sama lain dengan hangat. Bayanganku kembali memutar saat aku pertama kali masuk ke zaman feodal ini, orang yang pertama kali kutemui adalah dia bukan Inuyasha, walaupun saat itu dia mengabaikanku.

"Aku mempunyai banyak pertanyaan yang ingin kutanyankan padamu."

"Aku bisa menjawabnya kapanpun, tapi tidak untuk sekarang." Dia tersenyum dan menciumku kembali.

"Sessh—" ujarku masih dalam ciuman.

"Hm?"

"Kita harus kembali, mereka akan khawatir."

"Kau benar. Mereka akan mengkhawatirkanmu."

Dia melepaskan ciumannya dan napas kami yang terengah-engah berbaur dalam dinginnya malam. Dia memegang erat tanganku dan mengajak berjalan menuju ke arah rombongan yang sudah cukup lama kami tinggalkan.

Aku tak pernah menyangka bahwa aku akan jatuh hati padanya. Aku tak pernah menyangka bahwa ia akan menyukaiku, tak pernah sedikit pun terpikirkan olehku bahwa ia akan khawatir denganku. Aku baru mengetahuinya hari ini. Jika saja aku tadi tidak berteriak karena rasa marah dan sebal karena dia begitu keras kepala yang membuatku khawatir, aku takkan pernah tahu tentangnya yang selalu memperhatikanku selama ini. Bahkan selama ini aku selalu mengatakan betapa bodohnya Inuyasha yang tidak kunjung peka akan perasaanku, nyatanya aku sendiri juga tidak peka dengan perasaan Sesshomaru terhadapku.

Tangannya terus menggenggamku erat, bahkan lebih erat daripada waktu pertama kali ia menggenggam tanganku. Aku tersenyum padanya. Kami berjalan dengan santai menuju rombongan. Namun, seseorang menghadangku saat hendak pergi ke rombongan bersama Sesshomaru. Aku melepaskan tanganku yang terpaut. Sesshomaru menatap tajam ke arahku untuk memprotes karena aku melepas genggaman tangannya. Jarak yang tidak jauh dari rombongan.

"Inuyasha baka, baka, baka, baka!" Shippo berteriak pada Inuyasha.

Tangan Sesshomaru mengepal dan siap menghajar orang yang berada di hadapanku ini kapanpun ia mau. Aku menggenggam tangan Sesshomaru seolah berkata 'jangan melakukannya'.

Plakkk

Seseorang yang berada di hadapanku menampar pipiku dengan keras. Pipiku terasa panas saat setelah ia menamparku dan membuat wajahku bergerak sesuai dengan gerakan tangannya saat menamparku.