Sudah lama menunggu apdetan? XD.
Dislcaimer : D GRAY MAN by Hoshino Katsura. DARREN SHAN SAGA by Darren Shan.
"Allen! Bantuin dong!" Madarao berteriak padaku untuk membantunya mengangkat gundukan daging yang telah diikatnya. "Eh, sebentar," Aku berlari ke arahnya untuk segera turut membantu.
"Apa tiap hari memang sesibuk ini?" tanyaku pada Madarao. "Apa boleh buat… Penghuni sirkus ini kan tidak sedikit, belum lagi para little people yang makannya nggak tanggung-tanggung itu," Madarao mengangkat bahu.
Sudah 2 hari aku tinggal di Cirque Du Freak. Sekarang aku tinggal setenda dengan Madarao dan ular-ularnya –yang membuatku merinding- dan mendapat tugas yang sama : mengurusi makanan.
Ternyata mengurusi makanan untuk para penghuni sirkus bukan urusan yang mudah. Tetapi yang membuatku heran adalah para little people, mereka makan apa saja, bahkan daging yang sudah busuk sekalipun. Tetapi nafsu makan mereka besar sekali, aku sampai jadi pusing.
"Para little people itu nggak pernah berekspresi, ya? Mereka nggak pernah bicara atau apapun, kan?" Aku bertanya pada Madarao sambil menyeret gundukan daging yang beratnya minta ampun. "Yep.. Tapi….. Kau pernah dengar tentang Ozuchi Kozuchi?" Madarao berhenti sebentar, menatapku dengan serius.
"Hah?" aku mengernyitkan mata, bingung. "Ozuchi Kozuchi dulunya anggota sirkus ini. Dia punya kemampuan membesar-kecilkan tubuhnya sendiri, dan dia suka sekali mengganggu little people," Madarao bercerita sambil melemparkan daging yang diangkatnya ke dalam panci super besar.
"Lalu?" Aku penasaran, "Uhh… Dia agak keterlaluan, cara dia mengganggu agak sadis. Misalnya melempar salah satu makhluk kerdil itu ke dalam sungai," Madarao menghela nafas.
"Dan… suatu hari.. dia tiba-tiba menghilang tanpa jejak.. Dan aku berani bersumpah kalau aku menemukan gelangnya," Madarao menunjukkan gelang emas yang melingkar di tangannya. "Tapi tidak ada seorang pun yang percaya padaku. Mereka bilang Ozuchi meninggalkan gelangnya sebelum kabur dari sirkus dan aku memungutnya,"
Aku sepertinya tahu kelanjutan cerita ini…, "Kemana perginya Ozuchi?"
Madarao mengangkat bahu, "Aku juga tidak tahu. Tapi aku menemukan gelang ini dalam keadaan berlumuran darah… jadi… dugaanku…. Dia DIMAKAN,"
"…." Ekspresi Madarao tampak sangat serius.
"…. Kamu bercanda kan?" ujarku agak shock.
"….aha… ha…." Madaro menahan tawa melihat wajahku yang pucat pasi.
"WAUAHAHAAHAHAHAHAHAHHAAHAHH!"
Kami berdua malah tertawa terbahak-bahak. "Ma-masa, sih?" Aku terkekeh. "Entahlah, tapi yang jelas, lebih baik jangan membuat little people marah. Kau tahu sendiri kan betapa cepat dan kuatnya Lefty? Dan aku yakin semua little people sangat gesit dan kuat," Madarao tersenyum, sambil masih tertawa kecil.
Aku mengangguk, menyeka airmataku yang menetes gara-gara ketawa, "Ya… ya," Lefty, satu-satunya Little People yang agak berekspresi memang sangat kuat dan cepat. Dia kerap sekali membantu kami mengangkat panci besar berisi air yang dugaanku, beratnya tak mungkin kurang dari 100 kg.
"Eh, omong-omong, cerita dong, soal kemarin itu?" Madarao memasang muka minta dikasihani. "Hah? Yang mana?" Aku sudah berhenti tertawa sekarang. "Itu lho, soal yang di tenda Tuan Crowley kemarin, setelah Baka Bak-Chan mengusirku,"
"Eh… itu….,"
Sebenarnya aku heran mengapa kalian masih mau membaca kisah ini. Kalian pasti berpikir bahwa aku gila dengan semua kisah omong kosong ini. Tapi aku tidak berbohong.
Namaku Allen Walker, dengan ajaib dirubah jadi akuma, bertualang dengan Akuma senior bernama Tyki, dan akhirnya…. Terdampar di sirkus gila ini.
Kemarin hari yang sangat melelahkan. Baru saja aku datang, langsung disambut dengan aksi pencopetan dari makhluk kerdil aneh buruk rupa yang kemudian dihentikan oleh bocah ular, Madarao.
"Oh, Well, Allen Walker, senang berkenalan denganmu," Madarao tertawa, dan mengulurkan tangannya.
Aku menyambut tangannya dengan ragu-ragu, "Kenapa bisa tahu namaku?"
"Kau sangat terkenal, setengah akuma. Sejak Millenium Earl datang, semua penghuni sirkus membicarakanmu,"
"Hah?"
Madarao tersenyum, "Ayo ikut aku!"
Aku menurut, menggandeng tangannya dan membiarkannya menuntunku.
"Woi, semua! Allen Walker yang terkenal ini datang!" Madarao bersiul sangat keras sampai menghentikan semua orang yang sedang beraktivitas.
"Wah.. selamat datang, Allen," seorang wanita sangat cantik tiba-tiba mencium pipiku. Kontan saja wajahku memerah seperti tomat. "Anita! Curang, ih! Aku juga mau dicium!" Madarao merengek, tertawa melihat ekspresiku yang kaget setengah mati. "Kalau mau, kucium kau sampai kuremukkan dengan gigiku," seorang wanita bertubuh sangat besar tersenyum pada Madarao.
"Euuuh.. No, thanks, Mahoja," Madarao terkekeh. Oh! Aku ingat! Mereka adalah Anita yang mampu menumbuhkan rambutnya dalam sekejap dan Mahoja yang mampu mematahkan besi dengan giginya!
"Well.. Hello, Walker!" dua pria yang kukenali sebagai Toma dan Cyril.
"E.. eh.. halo…" aku gugup dan bingung mau menjawab bagaimana.
"Kalian jangan mengeroyoknya seperti itu. Tuh, dia jadi bingung, kan?" Seorang lelaki berperut besar menepuk pundakku dari belakang.
Mereka semua tertawa. Aku jadi salah tingkah, bingung mau menanggapi apa.
"Santai saja, nak. Mau minum?" Cyril menyodorkan botol minuman keras padaku.
"Cyril! Dia masih anak-anak!" Toma mengernyit pada Cyril. "Madarao saja sudah berani minum. Ya, kan, Madarao?" Cyril tertawa, mengibas-ngibaskan tangannya.
"Maafkan mereka ini, ya. Jarang lihat orang terkenal, sih, ha ha ha!" Madarao terkekeh.
"Eh.. memangnya akuma itu jarang, ya?" tanyaku bingung.
"Sebenarnya tidak. Aku sudah bertemu… satu.. dua.. umm.. kira-kira 5 akuma sepanjang hidupku. Dan masih banyak akuma lain," jawab Madarao.
"Lalu apanya yang terkenal?"
"Umurmu, Allen. Kau masih 14 kan? Tidak ada akuma yang berusia semuda itu. Akuma memang tidak langka. Tapi anak-anak akuma itulah yang sangat langka. Gosipnya bilang, dalam 5 abad terakhir, tidak ada akuma anak-anak,"
"Heeeeh? Memangnya sehebat itu ya?" aku terbelalak. Kaget juga mengetahui kalau aku akuma anak-anak pertama setelah 500 tahun.
"Nggak tahu juga sih. Itu kata Bak-Chan dan Kanda," Madarao mengangkat bahu.
"Siapa lagi itu?" tanyaku tambah bingung.
"Nanti juga kau akan lihat. Mereka datang ke sini 2 minggu lalu," Madarao menenggak minuman keras yang tadi diberikan Cyril.
"Hmm… Tyki pergi ke mana, sih? Lama banget?" aku melirik jam Timcanpy-ku.
"Mungkin di tenda Mr. Crowley,"
"… Antarkan aku ke sana,"
"Eeeh?"
Kami berdesakan di balik pintu tenda .
"Psst… Nanti kalau kita ketahuan gimana?" Madarao menatapku dengan pandangan panik.
"Sssshh! Diamlah!" Aku berbisik dan memusatkan pendengaranku. Tenda Mr. Crowley paling besar diantara yang lainnya, mengingat tinggi badan Mr. Crowley yang luar biasa.
Di dalam tenda ada beberapa orang.
Mr. Crowley, Tyki, seorang pria berambut pirang, wanita berambut panjang, dan seorang pria gemuk berwajah menyeramkan.
"Alleeeen… Ada Earl Millenium… aku nggak mau, ah! Ayo pergi!" Madaro menyeretku menjauh. Tapi aku lebih kuat darinya.
"Sebentar saja deh! Aku mau dengar mereka ngomong apa," ujarku tak mempedulikan rengekan Madarao.
"… Aku tahu,"
"Tetap saja perbuatanmu itu bakal mengundang pro-kontra,"
"Aku bisa membayangkan Pangeran Zokaro menentangnya,"
"Jadi, dia akan ikut pertemuan berikutnya? Ke Black Order?"
"Ya…. Bagaimana denganmu, Kanda?"
"Hnn. Tidak tahu,"
Aku sama sekali tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Madarao sudah berkeringat dingin saking cemasnya.
Aku bergerak sedikit, mencari posisi mengintip yang lebih pas.
"Omong-omong, Walker, Madarao, kalian masuk saja," Mr. Crowley tiba-tiba membuka pintu tenda, membuat aku dan Madarao jatuh terhempas ke depan.
"Allen," Tyki menatapku tajam.
"Eh.. umm… ehhh….," aku nggak tahu harus bilang apa, sementara aku meringis kesakitan karena Madarao yang sedang gemetar ketakutan tidak sengaja menghujamkan kuku tajamnya ke bahuku.
"Baka," ujar suara bass seorang wanita cantik berambut panjang …eh? tunggu.. wanitaa? Kenapa suara-nya nge-bass?
"Sudahlah, Kanda.. Umur segitu memang sedang masa-masanya ingin tahu," si rambut pirang menepuk pundak wanita-atau-pria itu.
"Eh… cowok ya?" aku bertanya spontan.
Kebisuan menyambut.
"Ano… Allen…," si rambut pirang tersenyum panik.
"JELAS AKU INI LAKI-LAKI! MATAMU DI MANA, HAH? BAKAAA!" bentak laki-laki berambut panjang itu keras sekali sampai aku terlonjak kaget.
Tyki menepuk dahinya, mendesah.
"Ohohohoho.. Bocah pemberani, rupanya," Si pria gemuk tertawa.
"Earl… maafkan kelancangan anak ini," Tyki menunduk hormat.
"Tak apa-apa, Hohohohho. Aku suka anak yang bersemangat. Nah, Bak Chan-ku, ajaklah Master Walker muda kita ini jalan-jalan sebentar supaya dia tidak mengganggu pembicaraan kita," Earl Millenium tersenyum menyeramkan.
"Ayo Allen, Madarao," si rambut pirang yang bernama Bak-Chan menggandeng kami dan menyeret kami keluar dari tenda.
Sempat kulihat sekilas tatapan tajam dari pria berambut panjang- Kanda.
"Bak-Chan curang!" Madarao ngambek.
"Bukan begitu, Madarao, ini urusan antar akuma," Bak Chan terkekeh melihat tingkah Madarao yang marah-marah sendiri, "Kembalilah ke tendamu," perintah Bak Chan dengan lembut.
"Akan kukirim ular ke tendamu nanti, Baka Bak Chan," geram Madarao seraya beranjak pergi meninggalkan aku dan Bak Chan berdua saja.
"Eh.. kau mau bicara soal apa..?" tanyaku ragu. Pria berambut pirang di depanku ini terlihat seperti pria muda berusia 25-an, tapi aku yakin umurnya pasti ratusan.
"Pertama, aku kagum padamu karena ini pertama kalinya aku melihat akuma anak-anak!" Bak Chan mengamatiku dari kepala sampai kaki, membuatku agak risih, "Kedua, aku kagum padamu karena ini pertama kalinya aku melihat Tyki mengambil murid," Bak Chan terkekeh.
"Memangnya sebelum ini tak pernah…?" Bak Chan menggeleng, "Tyki itu orangnya agak aneh, sih. Pria hebat, mantan jenderal. Apalagi umurnya sudah 270 tahun,"
Aku terperangah, "Dua ratus tujuh puluuuh? Tunggu, akuma itu tidak bisa menua, ya?"
"Masih bisa, tapi penuaannya sangat lambat… Jadi kemungkinan dalam seratus tahun, kamu hanya bertambah tua kurang dari 10 tahun. Enak kan?" Bak Chan tersenyum melihat ekpresiku yang baru mengetahui hal ini.
"Dengan tubuhku yang seperti ini.. aku baru akan dewasa beberapa abad lagi, dong…," ujarku shock.
"Itulah salah satu penyebab mengapa akuma anak-anak sangatlah jarang, karena jelas mereka akan mengalami pertumbuhan yang sangat lambat," Bak Chan menepuk pundakku.
"Begitu ya…," desahku agak kecewa. Astaga, aku akan tetap bertubuh seperti ini dalam waktu yang sangat sangat sangat lama!
"Jangan pikirkan yang jelek-jelek, Allen. Pikirkan saja kamu meniup kue ulang tahun dengan 100 lilin di atasnya, keren kan?" Bak Chan menghiburku.
"Eh… lalu.. apa yang tadi mereka bicarakan?"
Bak Chan berpikir sejenak sebelum menjawab, "Ummm…. Seperti yang kubilang tadi, sudah lama sekali kami tidak memiliki akuma anak-anak. Tapi… kelihatannya alasannya lebih dari itu,"
"Maksudnya?" aku mengernyitkan dahi.
"Entahlah. Sepertinya sedikit berhubungan dengan para Noah,"
"Noah…?" aku tambah bingung.
"Kau terlalu banyak bicara, Baka Bak," sergah suara seorang pria yang terdengar kesal.
Aku menoleh dan mendapati wanita -maksudku pria- bersuara nge bass yang tadi membentakku habis-habisan.
"Maaf, Yuu, bukan maksudku begitu sih..," Bak Chan tampak kebingungan mencari kata-kata.
"Kita pergi malam ini," si rambut panjang itu melewatiku dengan cuek. Hei, menyebalkan sekali!
"Eeeeh? Sekarang?" Bak Chan terperangah.
Pria iru tidak menjawab dan malah terus melenggang pergi.
"Uukkh. Kenapa aku masih tahan sih, pergi bersamanya….," Bak Chan menghela nafas panjang pasrah, kemudian berbalik menatapku, "Nah, Allen, maaf ya, tapi aku harus pergi sekarang!"
Aku hanya mengangguk saja, tidak paham apa yang terjadi.
Dan dalam waktu sekejap mata, siluet kedua pria itu langsung menghilang, lenyap di tengah kegelapan malam…
"Allen," ujar Tyki yang tiba-tiba muncul di belakangku.
"E-eh?"
"Tadi kalian membicarakan apa?" Tanya Tyki curiga. "Umm… cuma ngobrol-ngobrol.. dan aku baru tahu umurmu 270! Astaga.. sudah kakek-kakek…" Aku terkekeh geli mengingat pernyataan Bak-Chan.
Tyki mendengus, "Dasar bocah itu. Selalu saja omong yang tidak-tidak. Tapi begitu-begitu juga, anak itu termasuk jendral. Bersikaplah sopan padanya, Allen,"
"Jendral?" aku mengernyit heran. Oh, iya… Bak Chan tadi menyebut kalau Tyki mantan jendral…
"Itu semacam 50 akuma berbakat yang kuat dalam pertempuran, sehingga diberi gelar dan kekuasaan untuk memerintah para akuma," jelas Tyki sambil menggiringku kembali ke perkemahan.
"Ehh? Sehebat itu?" aku kaget. Sepertinya hari ini aku terlalu banyak kaget. Bagaimanapun juga, Bak Chan itu berwajah lembut dan memiliki aura ceria. Sulit untuk mempercayainya bahwa dia adaah orang yang kuat ataupun sangat terhormat. Berarti, kalau Tyki mantan jenderal….
"Tyki, Bak Chan bilang kalau kau mantan jenderal, berarti kau orang hebat dong?" aku berusaha memancing reaksi Tyki.
"Tidak juga," jawab Tyki datar.
Sial. Pancingan gagal.
"Nah, selamat tidur, Allen," Tyki menepuk kepalaku sekilas, lalu pergi dengn cepat ditelan kegelapan.
Aku menyentuh rambutku yang tadi ditepuknya. Baru sadar kalau aku sudah berdiri di depan tenda Madarao.
"Apa cuma begitu? Kau tidak menyembunyikan sesuatu?" Madarao berusaha mengorek informasi dariku lebih jauh lagi. "Tidak! Dasar, curigaan amat sih,"
Kami berjalan kembali ke perkemahan, tapi kemudian dicegat oleh Anita. "Eh, anak-anak, kalian sudah selesai dengan pekerjaan kalian?"
Kami mengangguk bersamaan.
"Bagus! Sekarang, kalian ambil air di dekat sungai ya," perintah Anita.
"Okeee," ujarku sambil menghela nafas panjang. Madarao pasang muka masam. Baru aja selesai satu kerjaan, nambah lagi deh.
Sungai nya terletak agak jauh dari perkemahan. Dan sangat melelahkan kalau mengambil air. Syukurlah aku ini akuma, jadi kekuatan bukan masalah besar untukku.
Sungai di daerah sini memang airnya sangat jernih. Aku mendekat dan menatap pantulan wajahku. Rambutku putih. Dan itu membuatku risih. Pentagon merah lambang akuma-ku terlihat sangat jelas, dihias dengan goresan pisau dari Lavi. Dan wajahku…. Sangat pucat. Seperti mayat saja.
SRAKK
Aku mendengar sesuatu…
SRAKKKK!
Ada sesuatu di balik semak-semak!
"Madarao," Aku menarik Madarao mendekat kepadaku.
"Hah?"
"Kau dengar sesuatu? Ada seseorang di balik semak-semak!" Ujarku curiga.
"Apa iya?" Madarao memicingkan mata.
"Beneran! Aku yakin!" Aku berjalan mendekati semak-semak.
Madarao lebih cepat. Dia mengeluarkan ular dari balik pakaiannya –apa?- dan melemparnya masuk ke dalam semak-semak.
"HWAAAAAAAAAAAA!" Jeritan anak perempuan terdengar keras sekali.
Aku kaget dan segera menyibakkan semak-semak. Aku mendapati seorang anak perempuan berambut panjang tergeletak pingsan. Ular Madarao membelit kakinya.
Madarao jadi panik,"Waaa! Mati ya?"
"Pingsan, bego," sergahku sebal. Enak saja vonis mati anak orang.
Anak itu berambut pirang keputihan. Wajahnya tampak pucat. Lucu, dia tampak seperti boneka.
"Gimana nih? Gimana nih?" Madarao masih saja panik.
"Tenang, dong! Masih bernapas kok, tenang aja! Yang penting, ambil ularmu dulu!"
Madarao cepat-cepat melepas ularnya dari kaki anak itu.
"Terus gimana?"
"Kita tunggu dia siuman aja"
"Siram air aja,"
"Edan,"
"Kalo mati shock?"
"Nggak mungkin!"
Kami terus berargumen sampai aku menyadari bahwa gadis itu tiba-tiba lenyap.
"Hiiii! Anak tadi mana, Len?" Madarao kaget. "Jangan-jangan hantu..?" ujarku ikut bingung. Aneh.. kenapa bisa tiba-tiba…..
"WHUAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!"
"!"
Sebuah suara tiba-tiba menyentakku dan Madarao. Kami berdua terduduk kaget.
"Hwahahahaha! Kena kalian!"
Terdengar suara tawa yang renyah.
Aku melihat anak perempuan itu menatap kami dengan tatapan puas. "Aku cuma pura-pura pingsan, kok" Anak itu terkekeh lagi.
Sialan. Anak itu jangan-jangan pemenang penghargaan Oscar. Aktingnya meyakinkan.
"Jangan ngagetin seperti itu!" Madaro membentaknya dengan kasar. Sepertinya bocah ular itu jantungnya lemah.
"Maaf deh," Anak perempuan itu tertawa lagi.
Aku dan Madarao berdiri, merapikan pakaian kami dengan kesal.
"Oh, nama kalian siapa?" Anak perempuan itu menatap kami dengan pandangan…. Kagum?
"Allen," "Madarao"
"Namaku Lala. Eh, kalian pasti dari sirkus yang barusan dibuka itu, kan?" pandangan matanya semakin berkilauan.
"Ehhhh.. memang iya," Jawabku gugup. Anak ini agak nggak beres.
"KEREEEEN! Ayo, salaman, salaman!" Lala meraih tangan kami dengan antusias.
Oke. AKu takut.
"Hebaaaat! Asli ya?Sisik ular itu asli kan? Wuaaaah~~!" Lala meraba-raba tangan Madarao, yang membuat Madarao merinding India.
Aku menarik Madarao ke belakang dan berbisik padanya, "Anak ini Freak,"
"Super freak," Madarao mengiyakan, bulu kuduknya berdiri.
"Sekolahku sedang libur, jadi aku nggak ada kerjaan. Bolehkan aku sirkus kalian?"
"Maaf, nak. Sirkus kami nggak dibuka buat anak kecil," cibir Madarao.
"Apa? Kau sendiri juga anak kecil!" balas Lala pedas.
"Huh. Kamu sih mana boleh masuk," Madarao menjulurkan lidahnya yang bercabang.
"Heiii!"
"Sudah, kalian berdua," Aku menengahi. Dua-duanya anak kecil!
Lala tertawa, dia menatapku dan berkata, "Aku akan datang tiap hari mulai besok!"
Lala berbalik dan berlari menjauh, meninggalkan kami berdua terbengong-bengong. "Sinting, cewek itu sinting," Madarao menggeleng-gelengkan kepalanya.
Aku hanya tersenyum, dan kembali melanjutkan tugas kami untuk mengambil air.
Lala.
Lala.
Lala. Nama yang indah. Anak yang baik, walaupun aneh.
Sungguh. Aku tak pernah mengetahui bahwa suatu hari nanti aku akan menyesal telah mengenalnya.
TO BE CONTINUE
Maafkan saya... saya hiatus selama hampir 4 bulan... OAO. Saya ingin lebih menekuni visual art.. dan akhirnya fanfiction malah terbengkalai... Kalau ada waktu, kunjungi Deviantart saya, ya!
Sebenarnya sudah ada niatan untuk berhenti dari ffn... tapi begitu ngeliat review dari kalian... Saya ngerasa bahwa ini bukan saatnya... Ada yang sampai review tiga kali minta update... apalagi ada seseorang yang dengan setia tiap hari sms saya, "Kapan update?" Sungguh, saya jadi ingin nangis.
Dengan ini, saya resmi mengumumkan kalo saya balik ke fanfiction~! (eh, sepertinya gaya penulisan saya jadi agak kaku, ya? XD)
Seperti biasa, saya jawab review tanpa pen name di story ini :
Liem Mei Sien : Ni udh apdet kok XD
reyn-kun walker : udah baca novel aslinya, ya? ehehee... Umm.. Lala jadi Sam Grest, dan Skin Boric jadi R.V~~ ufufuu~
helen : HELEN JELEEEEK! wakakaka. reply-anmu tak jawab di skul ae. XP
nate riveru : sankyuu~ nate-kun~
ai-mage dheechan : MUAKASIIIH TAT. Kanda udah muncul, nih. hehe. Marshall itu siapa?
R n R~!
