Now, You Know Me

Cast :

Oh Sehun ( 25 Tahun )

Xi Luhan ( 21 Tahun )

Kim Jongin ( 25 Tahun )

Do Kyungsoo ( 23 Tahun )

Wu Yifan ( 29 Tahun )

Wu Zitao ( 28 Tahun )

And others

.

.

WARNING : This is GS ( GenderSwitch )

TYPO, EYD, DLDR!

RATED : T - M.

.

Summary :

luhan gadis biasa yang memiliki sifat ceria dan ceroboh harus berhubungan dengan laki-laki kaku nan dingin yang tak mempercayai akan cinta itu ada. Laki-laki dengan usia muda yang mampu meraih kesuksesan dengan kerja kerasnya sendiri bernama sehun tak mengenal akan kebaikan seseorang secara cuma-cuma, menganggap semua orang sama buruknya, dan hanya menatap derajat dan seberapa kaya orang itu.

.

.

Chapter 6 : You Better Know

Happy Reading ^^

.

.

Sehun yang biasanya hanya membiarkan piringnya tergeletak di meja makan entah kenapa ingin mengikuti gadis itu yang membawa piring kotornya ke ruang cuci piring, tapi yang didapatinya sekarang gadis itu tak ada disini membuat sehun penasaran untuk mencari siluet gadis ceroboh menurut oh sehun. Hingga tanpa sengaja ia mendengar suara gadis menangis, membuat sehun mencari letak suara itu, dan ia mendengar sebuah percakapan luhan dengan seseorang di telfon membuat sehun mengerutkan alisnya.

"eonni.." suara tangis luhan terdengar sangat jelas sekarang oleh sehun, ketika pria itu menemukan dimana suara tangisan berada.

"..."

"eonni.. tau.. ternyata dokter tampan yang membantu biaya pengobatan ahn ahjumma.. hiks.."

"..."

"dokter tampan itu suami zitao eonni." Ujar luhan sedih.

"..."

"tapi rasanya sakit eonni."

Tanpa sadar sehun menguping sedikit pembicaraan luhan, dan yang membuatnya marah adalah gadis ini menyukai yifan hyung yang mana ia suami kakaknya. Sehun tak ingin luhan merusak hubungan harmonis keluarga kakaknya. Sudah cukup keluarga hancur dan tak ingin ada orang lain lagi yang merusak. Sehun mengepalkan tangannya erat dan segera meninggalkan luhan yang tak tahu jika ada yang mengupingnya.

Sehun segera menuju ruang tengah, dan melihat kakak dan halmeoninya sedang berkumpul seperti biasa, dan yifan sedang tidak ada di ruang tengah berusaha menahan amarahnya dan menampakkan wajah datarnya seperti biasa.

Yang lain menyadari keberadaan sehun, membuat mereka bertanya dimana luhan dan yang ditanyai hanya mengedikkan bahunya tanda tak tahu atau mungkin tak peduli dimana gadis itu sekarang. Tak seperti biasanya sehun yang kembali ke kamarnya, ia malah ikut duduk bersama kakak dan neneknya, lalu ikut menonton tv yang dilakukan keluarganya.

Hingga beberapa saat, akhirnya luhan muncul dengan tas biasa yang di gunakannya untuk datang kerumah ini, untuk pamit pulang. Sehun tak peduli.

"eonni, aku pulang dulu ya." Sehun yang mendengar suara itu hanya diam saja, berusaha untuk menfokuskan pandangannya pada televisi dan tak ingin melihat luhan.

"kau pulang sendiri lu?" tapi tanpa sadar sehun yang matanya menatap televisi juga ikut menguping pembicaraan kakaknya dengan si gadis ceroboh.

"ya eonni, aku kan kesini dengan sepeda, tentu pulang dengan sepeda juga." Dengusan sehun untuk tak terdengar oleh yang lainnya.

"tapi ini sudah malam lu, lebih baik kau di antar sehun saja." Merasa namanya terpanggil membuat sehun menoleh ke arah kakaknya, dan mengerutkan alisnya, tanda akan menolak.

"aku tak mau." Jawab sehun cepat.

"tidak perlu eonni, nanti bagaimana dengan sepedaku." Terlihat luhan yang juga menggeleng ingin menolak.

"buang saja sepeda rongsokan itu." Balas sehun, dan luhan yang tak ingin berdebat hanya tak menghiraukan ucapan sehun.

"sehun.. tak boleh begitu, antarkan luhan ya? Please?" ujar zitao setengah memohon pada sehun.

"iya hun, tolong antarkan luhan, kasian ini sudah malam." Ujar halmeoni sekarang.

"tak perlu eonni, halmeoni, aku dengan sepedaku saja." Terdengar suara sehun sehun sedikit mengejek ketika mendengar jawaban luhan.

"tidak lu, berbahaya jika pulang sendiri, biarkan diantar sehun. Karena shim ahjussi dan yang lainnya sudah pulang." Setelah berpikir beberapa saat akhirnya sehun menyetujui permintaan kakaknya.

...

Ketika dalam perjalanan, hanya suasana hening diantara mereka dan luhan yang tak menyukai suasana seperti itu ingin mengubah suasana tersebut.

"sehun, kau sudah memiliki kekasih?" sehun yang menggeram menahan amarahnya hanya berusaha untuk diam.

"atau kau sedang sendiri ya? Mana ada wanita yang mau bersamamu." Ucapan gadis ini.. geram sehun.

"oh sehun, hari ini kau sedang dalam mood buruk?" tetap berusaha tak menghiraukan, dan fokus pada kemudinya.

"kenapa tak menjawab pertanyaanku?"

"ya?! Jawab jika seseorang bertanya." Cukup! Batin sehun.

Dan sehun yang tak tahan mendengar ocehan gadisnya langsung mengepalkan tangannya yang memegang setir, dan menjawab. Ia menolehkan wajahnya menatap gadis yang tak disukainya ini.

"kau menyukai hyungku?" tanya sehun tanpa basa-basi langsung membuat luhan diam.

Luhan yang awalnya berani melihat ke arah sehun kini menundukkan kepalanya sehingga membuat sehun tau kalau luhan memang menyukai yifan. Sehun yang awalnya menatap luhan, kini meluruskan pandangannya kembali ke jalan raya.

"ah.. benar berarti kau menyukai yifan hyung?" tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan, sehun melanjutkan ocehannya.

"sejak kapan? Oh yang tadi ku dengar, yifan hyung membayar tagihan bibimu di rumah sakit? Karena yifan hyung kaya?" ucapan sehun kini cukup menyakiti hati luhan yang terus menunduk.

"jika kau menyukainya karena uang, aku akan memberimu uang lebih dan kau harus keluar dari rumahku dan menjauh dari kehidupan keluargaku." Sehun yang belum menyelesaikan ucapannya, kembali berkata.

"aku tidak ingin ada orang yang merusak rumah tangga kakakku. Bagaimana?" luhan yang menunduk diam, air matanya mulai keluar, dengan berani mengangkat kepalanya melihat sehun.

Dan sehun yang merasa tak ada jawaban dari luhan, membuatnya mengalihkan perhatiannya menuju luhan dan seketika sehun terdiam melihat air mata yang jatuh kali ini. Terlihat rapuh, entahlah, sehun tak pernah merasakan hal ini sebelumnya.

Sehun yang memang cukup kejam terhadap wanita, kini merasakan hal berbeda ketika melihat air mata gadis ceroboh ini. Dulu banyak wanita yang menangisinya ketika ia meninggalkan wanita tersebut dan memohon untuk kembali bersama, dan ia tak menghiraukannya. Cukup kejam memang.

"tuan sehun.. benar jika saya menyukai tuan yifan pada pandangan pertama ketika beliau mau membantu keuangan keluarga saya. Tetapi bukan berarti anda bisa menghina saya seperti itu, saya.." luhan yang berusaha menahan tangisannya itu kembali melanjutkan ucapannya.

"saya memang gadis miskin.. tapi tak sedikitpun saya berpikir untuk merusak rumah tangga zitao eonni.. jika anda memang tak menyukai saya, mungkin anda bisa menghentikan mobil anda disini tidak perlu mengantar saya." Ujar luhan kembali menunduk.

Sehun yang tak tau harus berbuat apa setelah mendengarkan perkataan gadis ini hanya diam dan tiba- tiba menghentikan mobilnya. Sedangkan luhan yang paham menurutnya sehun tak ingin mengantarkannya pulang, segera melepas sabuk pengamannya dan turun dari mobil itu.

Tetapi sebelum keluar, luhan ingin menyampaikan sesuatu lagi pada laki-laki ini.

"maafkan saya tidak bisa menerima uang anda, karena saya membutuhkan pekerjaan untuk menghidupi kebutuhan saya dan keluarga saya, saya tidak bisa meninggalkan pekerjaan ini. Saya mohon maafkan saya tuan sehun." Luhan menunduk dan segera keluar dari mobil itu.

Sehun yang melihat gadis itu turun dari mobilnya dan karena tak tau harus berbuat apa sehingga ia kembali melajukan mobilnya meninggalkan gadis itu sendirian tak tau mereka berada dimana sekarang. Sehun memang tau dimana wilayah ini, tapi belum tentu luhan tau karena memang sehun tau gadis itu pindahan dari bucheon ketika zitao mengatakannya padanya.

Sepanjang perjalanan pulang kerumahnya, sehun masih termenung memikirkan nasib gadis itu sekarang. Apakah ia sudah tiba dirumahnya atau ia tersesat di tengah seoul yang luas ini?

Hingga sampai dirumahpun, sehun masih bimbang haruskah ia kembali menghampiri gadis itu atau tidak?

Sehun yang berusaha melawan pikirannya dengan tak memperdulikan gadis itu, tapi kali ini hati nuraninya yang menginginkan untuk memastikan gadis itu sampai dirumahnya. Ketika sudah sampai didepan gerbang rumahnya, sehun membalikkan setirnya kembali menuju jalan raya berlawanan arah dengan arah menuju rumahnya.

Ketika dalam perjalanan, sehun mulai merasa khawatir terhadap gadis itu, sehun ingin menghubunginya, tapi sampai sekarang ia tak memiliki kontak gadis itu. Membuat sehun melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, sekarang sudah malam dan tak ingin terjadi hal yang tak diinginkannya.

Tiba di tempat terakhir ia bertemu luhan, gadis itu sudah tak ada di wilayah ini. Dan sehun yang tak mengetahui dimana rumah gadis itu, segera ia menghubungi zitao untuk menanyakan alamat rumah luhan.

"halo?"

"noona, dimana alamat rumah luhan?"

"kau ini, tak menyapa terlebih dahulu tiba-tiba menanyakan alamatnya. Wae? Bukannya kau bersama luhan?" terdengar dengusan dari suara zitao.

"ahh.. itu.. luhan tertidur dan aku tak tega membangunkannya. Cepat katakan dimana alamatnya, aku lelah nonaa!"

"tskk. Kau ini." Sehun yang langsung mematikan telfonnya setelah zitao memberinya alamat rumah luhan, dan langsung menuju alamat yang ditujunya.

Ketika tiba di beberapa blok dari alamat yang disebutkan zitao, sehun bisa melihat siluet luhan yang jalan sendirian ditengah gelap dan terlihat ketakutan. Sehun yang awalnya bingung sekaligus malu jika harus terlihat lagi didepan luhan, tapi ia juga tak tega membiarkan gadis itu jalan sendirian akhirnya menyampingkan malu dan egonya untuk menghampiri luhan.

Mobil sehun berhenti tepat di sebelah gadis itu dan turun dari mobilnya, tepat berdiri di depan luhan. Mata luhan yang terlihat bengkak sehabis menangis, dan sehun tetap bingung tak tau harus berbuat apa, tapi tiba-tiba ia juga bingung apa yang ia lakukan sekarang.

"ma.. maafkan aku lu." Luhan yang kini berada di dalam pelukan sehun hanya melebarkan matanya, ia cukup kaget dengan perlakukan lelaki ini.

Sehun melepas pelukannya kaku, seperti terkejut karena tanpa sadar ia memeluk luhan. Dan luhan yang masih shock dengan apa yang di lakukan sehun dengan diam saja, tak membalas pelukan hingga pelukan tersebut terlepas.

"maafkan kata-kataku tadi, masuklah kedalam mobil biar ku antar sampai depan rumahmu." Luhan yang kali ini berani menatap mata sehun merasakan debaran tak terduga langsung menundukkan kepalanya, sedangkan sehun yang melihat mata bengkak itu cukup merasa bersalah.

Sehun yang membimbing luhan dan membukakan pintu untuk luhan, tanpa ingin mendengar protesan luhan untuk menolaknya mengantarkan gadis ini sampai rumahnya. Sehun yang masuk kedalam mobilnya juga, dan ia melihat luhan yang kali ini menghadapkan tubuhnya ke arah sehun membuatnya ikut menghadap luhan sebelum memasangkan sabuk pengamannya.

"hm.. itu.. maafkan saya tuan, saya bi.. bisa pulang sendiri." Ujar luhan sambil menunduk.

"aniya, biarkan aku mengantarmu. Dan jangan gunakan bahasa formal seperti itu, seperti biasa kau meneriakiku, dan katakan aku, kamu. Please." Melihat tatapan itu, luhan hanya bisa mengangguk dan terdiam. Sebenarnya sampai sekarang ia masih tak menyangka apa yang baru saja terjadi padanya.

.

.

Tiba di rumah, kyungsoo yang sudah menunggunya dan terlihat mengkhawatirkannya. Luhan tak pernah pulang selarut ini. Karena ia tau adiknya sedang terjadi sesuatu membuat ia panik saat mendengar suara adiknya di telpon terdengar menangis kebingungan seperti tersesat.

Memang sejak terakhir luhan menelpon kyungsoo saat menceritakan yifan itu, luhan hanya mengatakan ia akan pulang. Tapi sampai sebelum akhirnya adiknya menelpon lagi dengan tangisan yang membuat kyungsoo takut terjadi hal yang tak diinginkan pada adiknya, luhan menanyakan arah mana ia menggunakan bus, karena memang sebelumnya luhan tak pernah menggunakan angkutan umum. Kemanapun luhan akan bersama sepedanya.

"luu." Lega menghampirinya ketika melihat adiknya seperti pandangan bingung dan diam sekarang ada di depan matanya, setidaknya adiknya sudah sampai dengan selamat.

Tapi ketika melihat adiknya diam tak seperti biasa, membuat kyungsoo heran,

"kau baik-baik saja kan? Tadi pulang jadi naik apa? Kenapa dengan sepedamu?" kyungsoo yang langsung menyerbu luhan dengan berbagai macam pertanyaan, hanya diam sebagai jawaban dari luhan dan langsung masuk ke kamarnya.

Kyungsoo mengerutkan alisnya melihat tingkah laku adiknya ini mengikuti luhan masuk ke dalam kamar luhan. Sebelum itu, ia menghampiri kamar ahn ahjumma untuk mengatakan bahwa luhan sudah pulang. Karena memang mereka berdua sebelumnya sudah khawatir menunggu luhan, tapi kyungsoo meminta ahn ahjumma untuk beristirahat, biarkan ia yang menunggu luhan pulang.

Sambil menunggu luhan membersihkan diri, kyungsoo membereskan kamar luhan yang sedikit berantakan tak menjatuhkan tubuhnya pada kasur luhan. Jika besok hari libur, kyungsoo dan luhan memang sudah terbiasa menghabiskan waktu berdua bercerita hingga malam, bahkan tertidur berdua di kamar salah satu dari mereka.

Luhan masuk ke dalam kamarnya sudah dalam keadaan bersih dan tidur di sebelah kyungsoo. Kyungsoo segera menolehkan wajahnya ke arah luhan yang terlihat menutup wajahnya dengan guling,

"apa yang terjadi padamu lu? Ceritakan padaku."

Luhan menceritakan segala yang terjadi padanya hari ini, mulai dari ketika bertemu yifan dan mengetahui siapa pria tersebut, hingga merasakan patah hati. Tapi luhan berani bersumpah bahwa ia tak memiliki pemikiran merebut yifan atau merusak rumah tangga zitao. Luhan paham jika mungkin ia hanya terpesona ketika melihat dan bertemu yifan pertama kali.

Ia juga menceritakan kejadian saat sehun mengantarnya pulang, dan sepedanya harus di tinggal dirumah zitao karena sudah cukup malam jika ia mengendarai sepedanya seorang diri, tapi hal yang tak diinginkannya terjadi ketika sehun menunduhnya hal yang tidak-tidak dan secara langsung menghina harga diri luhan. Dan melihat adiknya menangis, membuat kyungsoo menawarkan luhan untuk berhenti di tempat kerja itu, tapi luhan menolak karena ia tak ingin menjadi pengangguran di kota besar ini.

Luhan juga menceritakan jika ia meminta turun, dan mobil sehun meninggalkannya sendirian membuat kyungsoo kali ini cukup marah atas perilaku lelaki tersebut, jelas saja adiknya tadi menelponnya dan menanyakan harus mengikuti arah mana jika menggunakan bus. Sayangnya bus yang luhan tunggu sudah tak beroperasi karena sudah malam. Dan untungnya luhan tau dimana ia berada tadi karena wilayahnya termasuk masih dekat dari rumah sehun, meskipun tak terlalu dekat tapi luhan bisa berjalan kaki.

Saat luhan jalan kaki sendiri, hal itu yang membuatnya sedikit takut dan terus mengeluarkan air matanya, bahkan luhan sempat berlari hingga sampai beberapa blok dari tempat tinggalnya. Kyungsoo yang menahan nafas ketika mendengar cerita adiknya itu berusaha menolah keras ketika mendengar perlakuan hal itu hingga ia mendengar adiknya terlihat bingung juga ketika menceritakan saat sehun datang lagi dan mengantarkannya sampai rumah. Bahkan pria itu memeluknya.

"eonni.. aku merasakan debaran yang aneh.." ujar luhan blank.

"kau menyukai pria itu?"

"aku.. tak tau.. aku merasakannya ketika pria itu tiba-tiba memelukku. Berbeda ketika pertama kali melihat yifan oppa menolongku, aku hanya melihatnya kagum.."

"kau menyukai pria menyebalkan itu?"

"menyukai?! Tentu saja tidak! Kau tau pria itu sangat menyebalkan." Ujar luhan menggebu-gebu.

"tapi eonni.. sepertinya oh sehun tak semenyebalkan yang ku kira."

"waspadalah, jangan-jangan nanti kau suka lagi dengannya." Luhan yang mendengar penuturan kakaknya itu langsung menoleh ke arah kyungsoo lalu menunjukkan ekspresi sebalnya.

"tentu saja tidak. Aku hanya senang karena setidaknya ia tak membiarkanku sendirian pulang sampai rumah. Kau bagaimana dengan pekerjaan barumu eonni?" luhan yang sedang mengalihkan pembicaraan membuat kyungsoo tertawa.

"kekeke, kau penasaran dengan pekerjaanku atau tak ingin membahas pria menyebalkan itu? Kalau dipikir ia cukup tampan lu."

"eonniiii, sudah cukup membahas pria menyebalkan ituu!" Ujar luhan sambil kembali menutup wajahnya dengan guling, ia malu menceritakan pada kyungsoo bahwa pria itu memeluknya.

"baiklah, ehmm pekerjaan baruku? Kau masih ingat ketika aku menceritakan sahabat kecilku yang memberiku kacamata?" luhan menganggukkan kepalanya.

"dia tak mengingatku.." kata kyungsoo sedih.

"dia tak mengingatmu? Kau bertemu dengannya? Dimana? Kapan?"

"dia bosku lu.. dan sama sekali tak mengingakut. Tapi tak tau mengapa aku selalu bertemu dengannya. Maksudku tentu saja kami sering bertemu karena satu kantor, tapi kami selalu tak sengaja bertemu dan sampai sekarang dia tak mengingatku lu.. apa karena aku tak menggunakan kacamataku?"

"tak apa eonni, ia pasti akan mengingatmu." Luhan yang sebenarnya tak tau harus mengatakan apa.

"hm lu, tapi kau tau entah kenapa sekretarisnya terlihat tak menyukaiku."

"sekretarisnya tak menyukaimu? Kau memiliki salah padanya? Jika iya segeralah minta maaf, jangan buat orang lain tak menyukaimu eonni, itu tak baik." Kata bijak mulai muncul dari bibir luhan membuat mereka berdua tertawa bersama.

"aku baru saja bertemunya lu, dan aku merasa tak pernah berinteraksi dengannya bagaimana bisa tiba-tiba aku minta maaf padanya, kekeke."

"ya siapa tau ia merasa sakit hati padamu, ahn ahjumma kan selalu mengatakan pada kita untuk tak membuat orang lain marah."

"yasudah tak perlu dipikirkan. Ayo tidur, besok bantu ahn ahjumma melakukan pekerjaannya." Akhirnya mereka berdua tertidur bersama.

...

Sehun yang tiba dirumah langsung masuk ke dalam kamarnya dan manjatuhkan tubuhnya di kasur. Selama dalam perjalanan pulangnya ia terus berpikir mengapa ia memeluk gadis itu, tak mungkin ia luluh pada gadis itu karena air matanya kan? Atau dia tak mungkin menyukai gadis itu juga kan? Tentu saja tidak, aku hanya mengkhawatirkannya saja. –batin sehun.

Ia langsung mengganti pakaiannya dan tidur, tak ingin mengingat kejadian hari ini. Karena mungkin akan terasa canggung besok ketika harus bertemu gadis itu.

.

.

Beberapa hari berlalu, sehun dan luhan bersikap tak terjadi apapun waktu itu, jika bertemu luhan yang kembali cerewet dan sehun yang tak menggubris ucapan gadis itu, bahkan bila sehun sudah lelah mendengar celoteh luhan, ia akan membalas ucapan gadis itu dan berakhir pertengkaran.

Zitao, yifan, halmeoni, dan zifan sudah cukup biasa melihat kejadian sehun dan luhan yang suka beradu argumen, tidak ada yang bisa menghentikan mereka untuk berargumen biarkan saja mereka berakhir lelah sendiri.

Mengenai yifan, luhan sudah melupakan perasaan sesaat itu, ia tau bahwa ia hanya mengagumi yifan tak lebih dari itu.

"lu noona, ayo ikut zifan, mommy, dan yang lainnya mengunjungi makam kakek dan nenek zifan yang sudah meninggal." Ajak zifan saat melihat luhan tiba di rumah keluarga oh.

"tidak zifan, noona disini saja ya. Noona titip salam untuk kakek dan nenek zifan ketika zifan sampai disana." Luhan yang tak ingin mengganggu acara keluarga itu menggeleng pelan. Sambil mengelus kepala zifan sayang.

Semuanya yang sudah siap menggunakan pakaian serba hitam tanda berkabung untuk mengunjungi makam anggota keluarga yang sudah meninggal.

Luhan tak mengetahui jika akan ada acara keluarga, karena kemarin zitao tak memberitahunya, dan luhan merasa tak enak jika menganggu. Semuanya yang sudah siap, bahkan yifan yang mengambil cuti kerjanya untuk merayakan hari penting ini, tapi yang membuatnya bingung sehun tak ada disini dan membuat luhan menanyakan dimana sehun.

"eonni, dimana tuan sehun?" sampai sekarang luhan selalu memanggil tuan pada sehun, dan sehun juga tak keberatan. Terserah luhan saja kata sehun.

Zitao yang baru saja turun dari kamarnya didampingi oleh yifan hanya tinggal berangkat karena oh halmeoni sudah ada diruang tengah sekarang.

"jika hari penting seperti ini, sehun tak pernah ingin datang kepemakaman lu.." ujar zitao sedih.

"wae eonni?" tanya luhan penasaran. Padahal menurut luhan, mengunjungi makam orang tua adalah salah satu hal yang membuat orang tua bangga dan bahagia diatas sana. Tidak bisa dibiarkan, sehun harus mengunjungi makam orang tuanya. Tekad luhan

"nanti akan aku ceritakan, aku pergi dulu ya lu. Hari ini hari penting jadi tidak ada yang boleh bekerja termasuk sehun, adikku ada dikamarnya." Luhan mengangguk pelan dan mengantar yang lainnya pergi sampai depan rumah.

Setelahnya, luhan berniat membuat sehun mengunjungi makam orang tuanya apapun yang terjadi. Ia segera menuju kamar sehun, dan diketuknya kamar itu.

TOK! TOK! TOK!

"tuan sehun?" masuk tak ada sautan, sampai luhan berusaha mengetuk hingga pemilik kamar keluar membukakan pintunya.

"ada apa?" sehun yang terlihat bad mood sekarang cukup menakuti luhan. Hingga membuat luhan mundur selangkah, dan sehun yang menyadari pergerakan luhan hanya menyerngitkan keningnya.

"ada apa xi luhan?" ujar sehun dengan penekanan pada setiap kata yang dikeluarkannya.

"i.. itu ka..u tak ingin ke pemakaman bersama yang lainnya?" tanya luhan takut-takut.

"kau tak perlu ikut campur urusanku, pergilah." Sehun menunjukkan raut datarnya yang menakutkan untuk mengusir luhan, tapi sayangnya luhan yang tak pernah menyerah berusaha menahan pintu itu agar tidak tertutup.

"ayolah oh sehun.." kali ini luhan yang mulai berani memanggil sehun tanpa embel tuan.

"aku bilang tidak ya tidak." Terlihat mereka yang berusaha dorong mendorong pintu.

"pergilah dari sini xi luhan!" bentak sehun, dan luhan yang masih kekeh dengan kemauannya untuk mengajak sehun ke pemakaman.

"tidak, ayo kepemakaman bersamaku."

"siapa kau berani memaksaku?!" hingga karena memang kekuatan luhan tak sebesar sehun, pintu itu tertutup dengan luhan sedikit terpental jatuh.

Awalnya sehun menutup pintu dengan tak peduli jika gadis itu jatuh, dan kali ini merasa khawatir akhirnya ia kembali membuka pintu kamarnya. Bisa di lihatnya kali ini luhan masih duduk dibawah dengan memegang sikut tangan kanannya yang terlihat sakit karena menatap lantai.

"kau tak apa?" sehun yang menjatuhkan tubuhnya untuk melihat keadaan luhan, tapi sayangnya luhan yang cerdik langsung berdiri dan dengan berani masuk ke dalam kamar sehun.

"yakk!" teriak sehun ketika melihat luhan menipunya, akhirnya ia masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu. Kali ini mereka berdua berada di dalam kamar sehun.

Luhan yang terlihat sedang mengamati kamar milik oh sehun karena merasa pertama kali masuk ke dalam kamar ini, sampai ia menoleh mendengar suara sehun.

"kau tak sadar kita hanya berdua disini?" pertanyaan sehun membuat luhan memikirkan hal yang tidak-tidak itu langsung menutup bagian dadanya dengan kedua tangan. Cukup waspada dengan apa yang dilakukan sehun ketika pria itu melangkahkan kaki menuju ke arah luhan, dan luhan yang perlahan mundur hingga batas ia mundur ada rak buku milik sehun.

Sehun dengan sigap menahan luhan dengan kedua tangan yang menempel pada rak buku tersebut membuat luhan tak bisa bergerak untuk kabur.

"wae? Kau takut?" bisik sehun cukup dekat posisinya dengan luhan karena gadis itu menolehkan kepalanya tak ingin melihat sehun. Mengerjai luhan sedikit tak masalah pikir sehun.

"wae xi luhan?" kali ini sehun berani meniup pelan telinga luhan membuat sang gadis kegelian.

"jangan berpikir yang macam-macam, aku tak tertarik dengan tubuhmu. Jika dilihat milikmu terlihat kecil." Ujar sehun ketika melihat luhan masih menutup bagian dada dengan kedua tangan.

Luhan yang mendengar hinaan sehun membuatnya marah dan langsung mendorong tubuh sehun cukup kencang hingga pria itu mundur tak mengapitnya lagi. Sehun duduk di kasurnya dengan tangan sebagai penyanggah tubuhnya untuk terus memperhatikan luhan yang masih berdiri dengan tangan masih berada di posisi yang sama.

Kali ini melihat tingkah laku luhan membuat bad mood sehun cukup berkurang, melihat tingkah gadis itu yang terlihat manja membuat sehun sedikit mengangkat bibirnya yang tentu saja tak disadari oleh luhan.

Luhan yang berjalan mendekat ke arah sehun, dan masih berusaha membujuk sehun.

"sehun, ayo ke makam orang tuamu ya? Pasti mereka senang jika dikunjungi kedua anak tersayang mereka." Tentu yang di maksud adalah sehun dan zitao.

"aku tak ingin kesana, biarkan cukup yang lainnya yang mengunjungi mereka. Kau tak pernah tau rasanya jadi aku xi luhan." Ucap sehun mengalihkan perhatiannya dari luhan.

"apa yang kau ketahui tentangku oh sehun?! Orang tuaku juga meninggal ketika aku berumur 8 tahun dan meninggalkanku dengan bibi pengasuhku karena perusahaan orang tuaku mengalami kebangkrutan, apa yang kau tau?!" teriak luhan, dan sehun yang masih tak ingin menjawab ucapan luhan, sampai luhan mengeluarkan kalung liontin kesayangan yang diberikan orang tuanya.

"kau tau oh sehun, hanya ini satu-satunya peninggalan orang tuaku, dan selembar foto saja. Mereka membuatku tinggal di panti asuhan bersama bibiku dan aku tak pernah menyesali itu, karena kejadian itu aku menemukan keluarga yang sangat menyayangiku. Aku memiliki kakak perempuan yang sekarang kami tinggal bertiga, ku temui ketika berada di panti asuhan. Seharusnya kau bersyukur masih memiliki zitao eonni, dan oh halmeoni sebagai keluarga kandungmu.." luhan yang merendahkan suaranya dan berjalan untuk duduk di sebelah oh sehun.

"semarah-marahnya kau pada orang tuamu, mereka tetap orang tuamu oh sehun. Mereka akan tenang diatas sana jika kau mau mengunjungi mereka." Ujar luhan pelan dengan berani menggenggam tangan sehun dan memajukan kepalanya untuk melihat wajah sehun.

"kata zitao eonni, kau tak pernah datang ke pemakaman? Setidaknya sekali seumur hidupmu saja datang kunjungi orang tuamu tuan, sebelum kau menyesal karena tak pernah mengunjungi mereka." Luhan yang langsung berdiri setelah melepas genggamannya, karena sudah cukup menasehati tuannya, ia juga tak berhak memaksa lagi.

Ketika hendak meninggalkan kamar sehun, tangan luhan di tahan oleh sehun membuat luhan menoleh ke arah sehun yang sekarang menatapnya,

"temani aku ke pemakaman." Jawab sehun pelan, dan luhan yang cukup senang bisa membujuk sehun untuk mengunjungi orang tuanya hanya mengangguk cepat.

...

"OH SEHUN?!" teriak zitao terkejut yang hendak pulang bersama yang lainnya ketika melihat adiknya dengan luhan hendak mengunjungi pemakaman.

Zitao segera lari menuju sehun dan memeluknya,

"apa yang kau lakukan disini? Mengunjungi eomma dan appa?" ucap zitao setelah melepaskan pelukannya dari sehun.

"hm." Jawab singkat sehun, dan melepaskan tangan zitao dari wajahnya

"kau ikut denganku." Ujar sehun pada luhan yang ada di belakangnya, luhan kira ia hanya mengantar sehun sampai tempat pemakaman bukan ingin mengganggu sehun dengan orang tuanya.

"ya?" tanpa jawaban sehun langsung meninggalkan luhan.

"ikuti saja lu." Kata zitao dengan menyentuh tangan luhan yang menghadap ke arah adiknya yang mulai menjauh.

Sebelum masuk, sehun sempatkan membeli bunga didepan pemakaman tadi, dan karena luhan ikut masuk ke dalam sehingga luhan juga ikut membeli bunga yang disembahkan untuk orang tua sehun. Dalam pemakaman sehun tak mengatakan apapun, ia hanya dia melihat pemakaman orang tuanya yang berjajar setelah meletakkan bunga yang dibelinya.

Ia hanya memejamkan matanya memberikan doa untuk orang tuanya lalu memundurkan langkahnya, kali ini luhan yang maju selangkah untuk memberikan bunga yang dibelinya.

"annyeonghaseyo, ahjussi dan ahjumma. Xi luhan imnida. Saya adalah pengasuhnya zifan hehe. Lulu hanya berdoa semoga ahjussi dan ahjumma bahagia disana, sama seperti orang tua lulu juga di surga bersama ahjussi dan ahjumma, apakah kalian bertemu orang tuaku? Tentu saja tidak sih, kan ahjussi dan ahjumma tak mengenalku. Nama orang tuaku xi hangeng dan xi heechul, jika ahjussi dan ahjumma bertemu mereka kalian bisa berteman disana hehe."

"sudah?" intrupsi sehun yang serasa menunggu luhan mengoceh lama, dan luhan yang sadar terlalu banyak berbicara akhirnya memundurkan langkahnya dan berpamitan sebelum pergi meninggalkan pemakaman bersama sehun.

"lulu pulang dulu, ahjussi dan ahjumma. Sampai jumpa kembali." Luhan yang langsung mengikuti langkah sehun dibelakang, pria itu memiliki kaki yang panjang sehingga membuat langkahnya begitu terasa cepat bagi luhan.

"oh sehun, tunggu aku." Sedikit berlari untuk bisa berjalan di sebelah pria ini.

"kau senang bertemu dengan orang tuamu?" luhan yang mengalihkan pandangannya ke sehun sedikit menghalangi jalan pria itu.

"biasa saja." Dengan menampilkan raut datarnya membuat luhan menghela nafas.

"aku senang bertemu ahjussi dan ahjumma."

"tak ada yang bertanya."

"yakk! Oh sehun kenapa kau jahat sekali padakuu." Luhan yang menunjukkan sisi manjanya.

"biasa saja, ayo pulang." Ujar sehun langsung menarik tangan luhan hingga mereka bergandengan menuju mobil yang di parkir sehun tadi.

...

"kalian sudah pulang?" ujar zitao ketika melihat sehun dan luhan masuk bersamaan. Sehun yang tak mengatakan apapun langsung masuk ke dalam kamarnya, sedangkan luhan yang menghampiri zitao yang sedang asik menemani bermain bersama zifan dengan membuka majalah fashionnya.

"ya eonni, kemana yang lainnya?" tanya luhan.

"halmeoni istirahat lu, sedangkan yifan kembali ke rumah sakit." Luhan mengangguk dan langsung mengambil duduk di sebelah zitao.

"lu.. ceritakan pada eonni bagaimana bisa sehun mau ke makam eomma dan appa?" luhan berpikir sebentar lalu menceritakan apa yang ia lakukan untuk membujuk sehun tadi. Tentu saja luhan tak perlu menceritakan bahwa apa yang dilakukan sehun padanya tadi, dan ketika ia menggenggam jemari sehun kan.

"gomawo lu.." zitao langsung memeluk luhan senang dan mengucapkan berkali kali terima kasih pada luhan.

"sama-sama eonni, orang tuaku juga sudah meninggal. Tentu saja aku tak ingin orang tua eonni bersedih karena salah satu anaknya tak datang untuk mendoakannya di hari penting seperti ini."

"kau tau lu.. sehun seperti itu karena memang perlakukan orang tua kami. Jadi kami sekeluarga memaklumi mengapa ia bersikap seperti itu tiap tahun lu.." ujar zitao sedih.

Akhirnya zitao menceritakan pengalaman menyedihkan itu, dimana ayahnya yang berselingkuh membuat ibunya kabur dari rumah dan harus tertabrak tragis. Sehun yang merasa bersalah karena tak menahan ibunya, membuat ibunya harus meninggalkan mereka. Sehun juga membenci ayahnya karena kejadian itu dan membuat ayahnya ikut bunuh diri.

"be.. benarkah seperti itu eonni?" luhan yang terkejut mendengar pengakuan zitao. Pantas saja sehun selalu kaku pada orang lain, dan satu yang membuat luhan sangat terkejut bahwa sehun tak ingin menikah seumur hidupnya.

"ya lu.. maafkan jika sehun sangat kaku terhadap orang baru, begitu juga terhadapmu. Ia memiliki krisis kepercayaan pada orang lain lu.." zitao yang berusaha menghapus air matanya dan mencoba tersenyum.

.

.

.

TBC

Yesss, seluhaenbiased is back! Aku balik sebelum sibuk kuliaah wkwk, aku sempetin update mumpung besok liburr :)))).

Finally hunhan momennyaaa, full tanpa gangguan yang lain. Luhannya baik banget sumpah mau nemenin sehun ke makam orang tuanya. Dia bisa bikin sehun akhirnya dating ke orang tuanya :'") ikut terharuuu wkwk. Akhirnya luhan tau kan tentang sehunn, ya semoga aja luhan bisa bikin sehun berubah wkwkwkwkwk.

Oh ya, kan bakal ada cast baru buat hunhan hmm, peran perusak enaknya sapaa? Menurut kalian yang manja cocoknya siapa? Wkwk review plss, kutungguu!

Thanks buat kalian yang gapernah bosen sama story -ku, yang udah kasi review, follow, fav nya. Thank you so much yaa, aku gatau mau bilang apa lagi selain jangan lupa review, follow, fav buat yang belum yaaa. Terus momen kaisoo next haha ditunggu keyhh. Ini hunhan dulu dibanyakin, ga tega dikit banget momentnya hiks. See you next chapter, byeee~

Regards,

Seluhaenbiased.