Valbifleur FF Family presents

THE LIFETAKER

.

.

Original Story

by valbifleur

.

.

Main Cast : Byun Baekhyun, Park Chanyeol, Lee Gong Yoo, Wu Yifan.

.

Rate : M

.

Special thanks to YuriMasochist and Sasnithas

.

Disclaimer : This story is belongs to the author under the protection of Valbifleur FF Family. Rewrite, repost, SIM are crimes. There will decisive action for it. Contain harsh word, unsual action scene and adult scene. Be a wise reader.

Follow our base at Valbifleur FF Family, and Wattpad on valbifleur

Enjoy

.

Chapter Thirty Five

Crimes have been a tumor in each inch of world life, till there is no chance to sorrow every death.

Kejahatan telah menjadi sebuah tumor di setiap inci dari kehidupan dunia, hingga tidak ada kesempatan untuk menangisi setiap kematian.

The Lifetaker

The small window in my heart is filled with sad longing. Even in my dreams, it colors you. There was no start so there will be no end. Even if I take out the word goodbye in my heart, my heart tells me no. You and I, we became tears to each other. But going back in time, on that dazzling day. When we held each other like a dream, remember us of back then.


(A/N Bagian ini terjadi setelah Baekhyun berhasil menembus masuk gedung organisasinya dahulu dalam rangka menyelamatkan Bogum hingga Kris melakukan sesuatu padanya. Hanya tercantum dan dijelaskan dalam novel)


"Tidurmu nyenyak?"

Sosok yang semula berada di sudut ruangan mulai berjalan mendekat, kakinya menapaki lantai begitu ringan hingga betul tiba di hadapan si mata kacang tertunduk. "Oh, apa mereka memukulmu terlalu keras?Biasanya kau akan mengeluarkan paling sedikit 2 umpatan dalam sekali bicara."

Baekhyun mengeluarkan sedikit tawanya, dan sesaat sorotan tersebut membalas dengan tarikan sudut bibir tanpa perubahan di bagian rahangnya suara mulai terdengar menghantam kerasnya bentuk tatapan dari sosok lain di dalam ruangan tersebut.

"Apa yang membuatmu sangat percaya diri, Kris? Aku datang untuk mengambil Bogum, bukan bicara denganmu. Lagipula apakah keuntungannya berdialog dengan keledai?"

Terkekeh pendek Kris membungkuk menjangkau lebih erat balasan mata mereka berdua, "Hanya memastikan, kau bisa saja lupa bahwa kau memiliki seorang anak."

"Kenapa? Karena itu mengingatkanmu pada sesuatu di masa lalu? Jangan cemas, Kris, aku bukan seseorang yang bahkan tak pernah mengakui keberadaan darah dagingku sebelum berakhir ditinggal mati."

Dia yang sejak awal mendapat kesadaran dengan terbangun di kursi kayu bersama tubuh tersimpul erat oleh tali besar itu tidak menunjukkan keberatan saat Kris melangkah maju dan menarik kasar kerah kausnya hingga menyentak kuat tengkuk sosok termuda. Berkuasa atas ketidakmampuan Baekhyun dalam bergerak, sosok bertubuh tinggi tersebut mendesis hingga kelopak menyempit marah. "Sebaiknya kau menjadi lebih pintar dengan situasimu saat ini, Baekhyun. Bahkan ketika pamanmu merupakan seorang kepala polisi ia tidak bisa mengurungku dengan alasan membunuh seseorang yang telah memiliki surat kematiannya sendiri sejak belasan tahun lalu. Kau simpan baik-baik napasmu."

"Yah, teruslah bicara, bajingan. Kau tahu apa? semua yang kutemukan dari mulutmu menjadi semakin menjijikan sementara aku bertaruh bahwa saat ini seorang pemimpin organisasi pelindung negara lewat pembunuhan yang mereka lakukan mulai terdengar lembek dengan memintaku diam agar dia tidak perlu membunuhku. Pertama, Kris, sejak kapan aku terlihat takut mati? Bertanyalah lebih jelas pada semua mayat penjagamu di luar sana. Kedua, sudah berapa kali kukatakan padamu untuk menjauh dari hidupku? Jika kau cukup muak melakukan semua ini bukankah aku sudah menjelaskan cara yang cukup mudah?" memajukan wajahnya sekalipun urat itu mengotori sekitaran leher si surai hitam. "Diam dan pergi, sialan. Aku tidak punya banyak kebaikan untuk tidak membunuhmu."

"Karena aku sudah mengetahui itu, Baekhyun. Dengan sangat baik." Anggukan diberi tetapi pria dengan keterbatasan di sana melihat perubahan dari wajahnya. "Namun kau masih memiliki sesuatu yang adalah milikku, dan aku akan bersenang hati melakukan segala yang pernah dan akan kutunjukkan untuk mendapatkannya, bahkan jika hanya mampu kudapatkan lewat Bogum sekalipun."

Remat itu dilepas bersama tubuh kembali berdiri tegak, "Selesaikan, kau akan lihat anakmu kembali ke rumah tanpa satupun keringat yang terampas darinya."

"Apa yang cukup menggelikan untuk membuatku sudi berhutang padamu, keparat?!"

"Anakmu"

Kris mengangkat dagu bersama sorot berubah asing sementara baris ingatan atas rasa percaya Baekhyun pada pria tersebut datang sebelum berganti oleh kejadian penghancur kesetiannya. "Anakmu, menjadi alasan kau sebut menggelikan hingga kau membiarkan sebuah janji untuk terbentuk. Di dalam ruangan ini, dengan cara yang sama yaitu setelah kau membunuh anggota yang juga menjadi tubuh dari organisasi pemegang sumpah setiamu, seperti hari ini. Lalu kau bicara, bahwa dalam beberapa jumlah waktu kau akan kembali dan menyelesaikan kematian itu."

Kris berbalik sesaat mendengar suara geraman dari pria di belakangnya, mengabaikan raut tajam yang begitu ingin menyerang pria tersebut.

"Saat ini aku menginginkannya, Baekhyun. Janji atas kesetiaanmu dua tahun yang lalu, penuhi di malam ketika kau benar-benar mengakhiri tugas itu."

"Kau gila, Kris." Baekhyun menggelengkan kepalanya geram. "Aku tidak pernah melakukan itu sebagai sebuah janji, berhenti berucap omong kosong‼"

"Apa yang kau sebut omong kosong itu tidak akan berakhir sebelum kau melakukannya, Baekhyun. It is up to you, kau tahu kadang aku bisa berubah tidak sabar."

"KEMARI KAU BAJINGAN!" Baekhyun berteriak hingga kursi itu bergerak kasar. "Aku tidak main-main, Kris. Kembalikan Bogum sekarang juga!"

"Benar, bersikaplah terus seperti kau tidak tahu apapun dan kau teriakanmu akan mengakhiri nyawa setiap orang yang kau kenal!"

Pria dengan posisi tertinggi dalam Black Mass tersebut cepat mengubah arah tubuh dengan rahang begitu jelas di kedua sisi wajahnya. "Dua tahun, bahkan aku belum pernah membiarkan diriku menjadi lebih sabar dari ini sementara kau justru membiarkan mafia pembunuh itu membawamu pergi ke Italia. Kau memberikan nyawamu untuk melindungi anaknya dari kegilaan mantan suami Aharon itu sendiri sementara Bogum membencimu atas alasan yang bahkan tidak ia pahami."

"Tapi kau tidak pernah berhak menuntut apapun dariku, Kris. Aku tidak memiliki masalah dengannya dan aku tidak pernah peduli dengan semua obsesimu pada Aharon atau Park Chanyeol. Jadi selesaikan urusanmu sendiri!"

"Oh ya?"

Tengkuk Kris yang ditarik mundur sedikit membuat dahi yang kaku karena ledakan amarah oleh pikiran terguncang itu terlipat bingung atas ketidakmampuan Baekhyun membaca bentuk raut ekspresi pria dewasa yang masih berdiri di sana. Jantungnya berdegup lewat cara yang amat mengganggu.

"Lalu bagaimana jika dia tahu bahwa ayahnya bahkan telah bercinta dengan seorang penjahat,"

Pasang mata kacang tersebut terangkat dengan cepat hingga enggan menyisakan satupun inci yang menghindari balas tatapan mereka. "..bahkan tengah mengandung benihnya hingga nyaris menikah dengan pembunuh dari masa lalumu sendiri?"

Hening.

Kedutan di sekitar pasang alis itu datang berganti-ganti seiring hembus napas yang ikut terganggu alirannya. Ia tidak mendengar satupun umpatan atau makian dari pria yang dahulu menjadi sumber kepatuhannya, Kris bahkan tidak berteriak dalam membalas dialog mereka namun kalimat itu memberi kutukan yang termata banyak baginya.

Baekhyun menjaga dan mencintai Calean bahkan ketika mereka tidak memiliki ikatan apapun, Kris mengetahuinya.

Aliran darah pria itu mulai tidak dapat dirasa seiring permukaan kulit yang menyeru protes lewat perasaan dingin hingga telapak kaki.

Baekhyun mengandung bayi seorang penjahat dan nyaris menikah dengan Chanyeol, Kris mengetahuinya.

Degup jantung bertalu tetapi ia menemukan celah hidungnya tersumbat sesuatu hingga tak satupun oksigen melintas dengan mudah, bahkan denyut di kepala yang ia dapati di awal tersadarnya dari alam mimpi mulai berlari datang lewat gemuruh kuat.

Mereka melarikan diri ke Italia dan semua kebencian Bogum pada ayahnya, Kris mengetahuinya.

Itu mungkin saja bagian dari rencana yang Kris setujui dengan berat karena keinginannya untuk membunuh Chanyeol. Baekhyun melepas sebagian besar dari beban dalam pikiran atas kemungkinan terbongkarnya hal tersebut, namun bukan untuk digantikan oleh sebuah hal baru yang sang pemimpin organisasi katakan padanya.

Mengandung benihnya hingga nyaris menikah dengan pembunuh dari masa lalumu sendiri.

Itu dirinya?

"Jadi atas kesempatan terakhir, aku memintamu kembali ke organisasi untuk menyelesaikannya.." Kris kembali datang dan berdiri tepat di hadapan Baekhyun, mengunci begitu kuat tatapan mereka. "..bunuh Park Chanyeol tanpa kegagalan. Habisi dia, itu adalah harga kebebasanmu dan Bogum."

"Aku bisa mendapatkan Bogum dan membunuhmu sekaligus tanpa perlu menyeret satu orang pun kemari, Wu. Kau justru terlihat tengah mengemis bantuanku sekarang."

Tawa pendek dari si tertua, Baekhyun menyipitkan sekilas pandangan atas respon tersebut.

"Oh, Baekhyun. Kupikir kita memang perlu berbincang sebentar. Ini terasa sangat menegangkan, dan.." suaranya menjadi terlalu rendah. "..menyimpan sangat banyak hal untuk ditanyakan. Itu selalu bisa terjadi, terutama setelah dialog menyenangkan terakhir kali lebih dari 5 tahun yang lalu. Jadi bagaimana jika kita mulai dengan suatu hubungan darah terputus karena keberadaan jalinan baru yang terlalu kotor dalam sebuah keluarga?"

Permukaan kulit yang mulai berlipat di dahinya itu tidak berhenti terbentuk sekalipun tidak ada lagi kontak yang terjalin. Baekhyun menundukkan kepala, mulai memahami segala ucapan Kris sekalipun ia berteguh untuk tidak menghancurkan lapis perlindungannya sendiri.

"Bagaimana ketika aku mengatakan bahwa kau hanya menjatuhkan kemarahanmu pada titik yang salah, sementara harta terakhirmu ditukar untuk kesempatan bersama seseorang sebagai pembuka cerita ini. Baekhyun, kau justru terlihat lebih menyukai alur buatan tangan si penghancur itu dibandingkan aku yang bahkan membiarkanmu memiliki seorang anak. Kau hidup dengan baik, kau memiliki uang dan semua alasan untuk membungkam pergi masalah tapi bagaimana mungkin seorang Byun Baekhyun yang dianggap paling cerdas selama belasan tahun divisi The Lifetaker berdiri justru memilih untuk bersama dengan gerbang pembukanya menuju kehidupan yang ia sebut 'karangan' ini?"

Baekhyun melewatkan sebelah telapak pria bersurai kepirangan di hadapannya yang bergerak masuk sangat dalam menyentuh permukaan kantung celana, untuk sebuah benda kecil dengan satu tombol di permukaan paling tengah sebelum salah satu jari menekan lingkar kecil itu.

"Terima kasih.."

"Tidak perlu terburu-buru, ini merupakan hari yang sangat kita inginkan sejak lama." Alis berdiri tegak mengamati kegelisahan pada pria terikat itu, Kris mengedip pelan. "Biar aku membantumu dengan mulai mengenali Jung Raemi."

'DOR!'

"Mission completed. Kau lolos, B. Selamat datang di The Black Mass."

"Terima kasih" Baekhyun mengangguk sambil melepaskan sarung tangan hitam yang telah dipenuhi keringat tetapi matanya masih tertuju pada wajah cantik yang mulai dikotori darah dari dahi yang berlubang. "Tapi siapa dia, Namjoon?"

Pria di dalam kukungan tambang itu melempar kepalanya pada sisi lain lewat satu kali sentakan seolah menghindari hantam di depan wajahnya. Kedua mata yang terpejam atas kedatangan degung suara buram penuh paksaan menyapa pusat pikirannya, Baekhyun menggeleng keras dua kali hingga ia membuka belah bibirnya dalam hempasan karbon dioksida dari ujung tenggorokan.

"Apa kau mendapatkan sesuatu?"

"A-ap—"

Ruangan gelap tersebut kembali datang, ia justru menemukan bayangan dirinya tengah mendengar dalam diam suara Namjoon dalam telinganya di hadapan tubuh seseorang.

Baekhyun merasakan suhu tubuhnya yang memanas dengan lonjak denyutan pada tengkuknya yang datang begitu tiba-tiba membawa rasa sakit berlipat ganda. Si mata hazel mengerang keras diteman kedua kaki menendang pada arah berlawanan hingga mendorong pelan tubuh Kris menjauh dari sana. Sentakan pada tubuh yang lebih muda menimbulkan bunyi decitan kursi ke lantai tetapi ia bahkan memperoleh hal yang jauh lebih menyakitkan dari itu. Baekhyun menggerakkan kepala secara kasar seolah mampu mengusir hal tersebut, meneriakkan umpatan kepada pria di hadapannya hingga Kris berbisik, "Sudah cukup."

Respon berhenti begitu cepat serupa tak satupun pernah terjadi namun digantikan oleh peluh deras menyerap ke setiap serat kain pakaiannya. Tarikan udara begitu keras terengah, Baekhyun masih menunduk membiarkan surainya jatuh lepas dari dahi yang lengket, punggung terbungkuk dalam ringkih sesak itu sebelum lagi ia mendengar suara.

"Kau akan melihat semua yang kau inginkan dengan lebih jelas, Baekhyun. Nikmati waktumu."

"Kau..bajingan‼"

Kedua matanya yang kemudian benar-benar tak sanggup membuka itu kembali disapa oleh kegelapan serupa di menit lalu. Si pria yang bahkan masih begitu jelas merasakan respon kemarahan dari siksa terhadap tubuhnya. Tetapi saat ini ia tidak lagi menunduk, sebagai saksi atas bayangan memori paling jelas yang kembali Kris biarkan ia lihat dalam hidupnya ketika bayangan dari Baekhyun berusia jauh lebih muda tengah mengepal trigger memakai telapak yang terlalu kecil dan kaku.

Seragam hitam itu bahkan masih begitu kebesaran termasuk sepatu boot yang menyembunyikan kakinya. Penutup wajah mengkilap di bawah tembak sinar satu-satunya lampu tersebut secara sukarela mengatakan bahwa itu jelas merupakan dirinya. Baekhyun menarik bibir terkatup rapat.

Tubuh seorang lelaki penuh dengan benak naif itu, pikirnya. Si muda Byun berpikir bahwa berada di sana dengan suara seseorang dalam telinganya merupakan hidup kedua yang sangat sempurna setelah kejatuhan tanpa identitas hidup sebelumnya. Dia sekarat, tidak bisa dikatakan hidup saat ditemukan sebelum uluran tangan seseorang membuatnya terbangun di atas ranjang rumah sakit membawa banyak koyakan kulit, lebam dan darah mengering.

Tetapi yang menghancurkan begitu banyak tarikan napas remaja tersebut ialah sebuah otak terbangun tanpa satupun kata sebagai pengenal diri. Suatu sistem tanpa penunjuk sebagai master dari cara kerjanya, sebuah tuan tanpa alamat yang dapat disebut sebagai rumahnya.

Baekhyun berpikir ia akan dibuang setelah ia mampu berjalan. Sehingga ketika seorang pria bersetelan rapih yang bahkan tersenyum dan menguatkan dirinya itu berkata akan kelompok pelindung negara, maka ia mulai memberi noda pada permukaan tangan selama mampu tetap berpijak dan hidup.

Di hadapan Baekhyun tengah duduk seorang wanita dengan cara yang sama menyedihkannya dengan ia saat ini secara nyata. Tanpa gerakan yang lagi nampak setelah bunyi muntahan peluru dari senjata dalam tangan, sosok bersurai panjang sebahu itu berhenti menarik napas dengan kepala jatuh tertunduk memberi lebih banyak tanya bagi Baekhyun. Angin yang berhembus hanya datang untuk direbut oleh rongga hidung dan bergumul dalam paru-paru serta bungkaman sunyi terus membisikkan langkah untuk mendekat sementara lelaki dengan pakaian hitam yang masih terus mengepal senjata laras panjang di sana masih terpaku diam setelah eksekusi pertamanya.

Bayangan atas dirinya di masa lalu kini datang mendekat pada tubuh tanpa nyawa itu hingga sejajar dengan wajah asing tersebut. Wanita di sana akan menjadi sangat mengagumkan tanpa darah yang menodai kulit tersebut, rahang tak nampak ditemani alis hitam dan tulang hidung yang tinggi. Bagian pipinya menonjol tegas, kian menambah gambaran indah di sana dengan surai gelap tebal yang kusut dan lengket.

Sesuatu kemudian menghantam hatinya, hal yang mencegah Baekhyun menarik trigger tetapi si hazel tetap melakukannya.

"Lakukan sekarang." Wanita itu bergumam. "Kesalahanku yang membuat aku berada di sini. Tapi kau adalah penebusanku."

"B, this is a test dan jika kau ingin lulus maka segera lakukan!"

Dan yang dirinya tahu, suara Kris ikut datang membentuk suatu pola jawaban baru.

"Jung Raemi, kau bertemu dengannya tepat di hari ujian kelulusanmu dalam organisasi. Hari yang menjadi pusat dari semua usaha kebangkitanmu tetapi kau justru menjadi sangat ragu. Dirimu berusaha melawan dan begitu ingin pergi dari sana. Namun aku kagum, Baek. Kau tetap menembaknya, kau membuat keputusan yang tepat."

Garis familiar yang ia pikir terlalu familiar untuk dimiliki oleh seseorang yang asing. Baekhyun hampir melewatkan segalanya karena kegelapan. Hanya karena warna menghitam di bagian kantung itu, hanya karena sedikit luka gores pada tulang hidung dan pelipisnya hingga menghasilkan memar.

"Sebenarnya aku sangat khawatir. Apa yang akan terjadi jika pada saat itu kau mendapatkan kembali ingatanmu? Bagaimana jika pertemuan itu membangkitkan memorimu kemudian kalian berakhir melarikan diri dan kau akan merencanakan sebuah pembalasan dendam padaku?"

Ia merasa seharusnya semua ini telah ia ketahui sejak dahulu. Seharusnya Baekhyun segera mengerti. Bentuk kelopak terpejam milik dirinya sendiri yang sering dipuji oleh Chanyeol, setiap helaian surai lembut memenuhi tempurung kepalanya hingga serupa kilau bulu gagak.

Dirinya bahkan telah menemukan kesempatan ini di waktu yang lebih cepat, seharusnya Baekhyun lebih dulu berada dalam kesadaran sebaik ini.

"Sementara aku menculik Bogum kau sudah membunuh hampir seratus orang penjaga gedung ini.."

Jantungnya berdentam-dentam kuat begitu ingin meledak, pria itu merasakan sesuatu menekan perutnya karena hal yang baru saja memaksa masuk. Sengatan tengkuk yang kembali datang hingga Baekhyun nyaris runtuh dalam ruangan gelap tersebut tetapi dia berusaha untuk tetap berada di sana. Tangannya terjulur untuk menyentuh lengan wanita itu namun dia tidak mendapatkan apapun selain bayangan.

Baekhyun merasakan lingkungannya berguncang, dia memejamkan mata dan baru setelah pria tersebut berteriak sesuatu seolah telah menendangnya kembali memasuki raga.

Napas terengah kuat, bulir mengalir deras hingga tubuhnya terasa begitu panas kemudian dengan mulut setengah terbuka dia berusaha menarik udara. Baekhyun kenbali menggeleng mengusir pening tetapi dirinya kembali lagi ditarik oleh apa yang dikatakan oleh Kris.

"Lantas bagaimana jika kau menyadari bahwa kau baru saja membunuh ibumu sendiri?"

"I found it.." Baekhyun berbicara pada earpiece dalam telinganya. Wajah tertutup helm hitam dengan seragam membalut kulit hingga tak terjamah, dua tangan terkepal kuat memegang pistol dengan pelapis sarung tangan gelap secara tak sadar menghitung setiap detik seiring detak jantung.

Ruangan itu sangat gelap, berbau apak dengan genangan air pada banyak sisi. Dia mengatur napasnya setelah melewati penjagaan yang ketat untuk mendapatkan target malam itu atau dirinya akan berakhir tanpa apapun. Baekhyun menoleh ke segala sudut untuk kali kesekian, hingga pada suatu detik mata madu tersebut berakhir menemukan kunci keluarnya.

Dia di sana, seorang wanita bertubuh kecil dengan wajah terluka sementara tangan dan kaki terikat pada kursi. Kepalanya mendongak, menatap Baekhyun bersama wajah lelah dan basah sebelum kedatangan suara tawa bercampur napas tersengal menggantikan keheningan.

"Your target, 53, female, confirmed.." suara itu terdengar di telinganya. Baekhyun mengangguk, mengeratkan pegangan pada trigger pistol. "Killing permission, confirmed or ignored."

"Killing permission accepted, confirmed."

Wanita itu terluka pada bagian kepala dan pipi, juga mungkin bagian lain yang tidak dapat dia lihat. Rambutnya berantakan, pakaian robek dan suara ringkihan pelan mengiringi komunikasi tak nampak antara mereka. Si mata hazel secara tak sadar mengeraskan rahang dengan peluh deras, nyaris berpikir untuk menyerah dan keluar seperti orang bodoh.

Tetapi Baekhyun tidak pernah berpikir akan mendengar kata-kata tersebut.

"It's okay.." wanita tersebut menunjukkan senyuman kecil di bibirnya yang terluka. "Lakukan saja."

Menggeram samar, kepalan tangan kuat membuat senjata itu mulai bergetar.

"This is my end, it's okay. Ini bukan salahmu."

"B, killing permission accepted, confirmed. Do it now!" suara itu lagi berdengung di telinganya. Baekhyun tidak mengerti hal apa yang berusaha menghancurkan keyakinannya. Dia harus melewati tahap ini, dia hanya perlu menembak tetapi juga merasa marah saat wanita itu tersenyum padanya seolah mengemis kematian.

"Fuck.." Baekhyun mengumpat samar.

"Lakukan sekarang." Wanita itu bergumam. "Kesalahanku yang membuat aku berada di sini. Tapi kau adalah penebusanku."

Baekhyun justru berbalik dan berjalan mundur, "I can't." Bersuara pada alat di telinganya. "Aku akan keluar"

"Hei," Suara wanita itu lagi mempengaruhi gerakannya hingga langkahnya terhenti. "Aku akan lebih tersiksa jika kau membiarkanku hidup. Bunuh aku, nak. I worth it, aku sangat pantas mendapatkannya.."

Pemilik mata madu tersebut mengerutkan dahi yang telah basah oleh peluh. Wanita itu seharusnya mengumpat dan berteriak padanya, dia menghina atau bersikap seperti seorang jalang dan itu akan mempermudah Baekhyun untuk membunuhnya.

"Close your eyes, bayangkan apa yang akan kulakukan jika kau melepaskanku. Bayangkan

kehancuran lebih parah yang bisa terjadi jika kau melepaskan orang sepertiku. You need, kau harus melakukannya dan tarik pelatuknya. Aku harus mati sekarang."

"B, this is a test dan jika kau ingin lulus maka segera lakukan!"

"A-ak—" Baekhyun merasakan goncangan hingga gambaran tersebut memburam, bergoyang kuat namun pada beberapa detik kemudian apa yang dia lihat telah kembali menjadi jelas. Terlalu jelas, baginya.

"Kau memerlukan sebuah kehidupan baru, iya kan?" suaranya hampir seperti berbisik, dan untuk pertama kalinya wanita tersebut terdengar gemetar. "Kalau begitu biarkan aku membantumu mendapatkannya.."

Tetapi setelah pelurunya menembus kepala sosok itu, Baekhyun justru mengabaikan pistolnya dan mendekati tubuh mati yang hampa akan gerakan.

Pahatan dirinya begitu dewasa sekalipun wajah itu sangat cantik dengan surai hitam panjang dengan lubang pada dahinya. Baekhyun mengangkat perlahan kepala wanita yang masih terikat, mendapati darah mulai turun menutupi raut terlelap abadi itu dengan kedua tangannya.

"Mission completed. Kau lolos, B. Selamat datang di The Black Mass."

"Terima kasih." Baekhyun mengangguk sambil melepaskan sarung tangan hitam yang telah dipenuhi keringat tetapi matanya masih tertuju pada wajah cantik yang mulai dikotori darah dari dahi yang berlubang.

"Tapi siapa dia, Namjoon?"

"Wanita yang menjadi target pertama-mu tujuh tahun yang lalu pada saat ujian masuk The Lifetaker. Jung Raemi, tertangkap setelah insiden adu tembak antar kelompok mafia pada tahun 1998. Itu sudah 19 tahun yang lalu tetapi mustahil bagi semua orang untuk melupakannya, termasuk aku."

Baekhyun merasakan tubuhnya gemetar kuat, antara amarah dengan keterkejutan yang tak bisa ditahannya lagi. Kursi kayu tersebut tak berderit seperti dia yang mengabaikan ikatan tambang pada tubuhnya karena ucapan Kris, hanya saja mata hazel tersebut tetap menatap lantai dan membiarkan pria yang berputar di dekatnya terus bicara.

"Apa yang sudah kau dengar dari Junmyeon, Baekhyun?"

"T-tidak..ini tidak b-b-.." patahan sengal itu mencekik perlahan akses kehidupannya lewat rasa panas di puncak kepala. Baekhyun mengunci bola mata pada satu titik untuk sebuah kewarasan yang bahkan ketakutan menyapanya, ia tidak lagi berkuasa atas kendali tubuh begitu gemetar hingga telapak kaki mulai menemani setiap detik nyawanya.

"Kau bajingan…a-aku, tidak akan membiarkanmu hidup.." Perlahan, dengan sorot yang tak mampu lagi dijelaskannya, Baekhyun mengangkat kepala untuk mengambil arah mata pria yang lebih tua.

Guncangan yang nampak hingga ke bagian pelipis pria tersebut ikut menghapus raut tenang sosok bersetelan itu namun Kris tak mengalihkan tatapan. Sudah terlalu banyak emosi hingga bagian dahi Baekhyun ikut memerah dalam guncangan, wajah si mata hazel dipenuhi gurat serta mulut terkatup rapat dan napas terpatah-patah. "Apa, yang menjadi masalahmu padaku..keparat sialan.." napas Baekhyun begitu terengah dengan rasa sakit pada dadanya hingga melepaskan cairan bening dari pelupuk hazel tersebut. "Kau bajingan..kau baru saja mengatakan bahwa aku telah membunuh ibuku sendiri bertahun-tahun yang lalu. Seolah itu bukan apa-apa.." tertawa pelan, raut yang berlawanan dengan nada ungkapan tersebut memancing lebih banyak urat mengotori tengkuk Baekhyun.

"..bagaimana bisa kau melakukannya, keparat brengsek sialan? Tapi kau harus mendengar sesuatu lebih dulu, sialan.."

Kelopaknya menyipit, Baekhyun mendorong maju sedikit wajahnya hingga punggung kurus itu melengkung dalam jerat tali. "Aku akan membunuhmu, dengan begitu baik. Sangat jelas, kau tidak akan melupakan detik-detik itu bahkan ketika kakimu telah meleleh dalam api neraka sekalipun. Aku bersungguh-sungguh, karena hanya tanganku yang akan melakukannya.." tertawa pelan, kembali bersandar setelah melepas segaris air mata. "Menarik jantungmu keluar dengan tanganku sendiri. Hanya tanganku.."

"Pikirkan itu setelah kau melakukan pembalasan padanya."

Si mata hazel masih meneteskan air mata namun tak ada lagi gemetar, napas yang naik turun cepat itu nyaris tak bersuara dengan tubuh terduduk tegap. Baekhyun nampak menelan ludahnya dengan berat, dia mengernyit kecil untuk beban yang terus datang da melepas lebih banyak air mata tetapi pria tersebut masih mempertahankan kesadaran diri.

"Aku tidak cukup menyedihkan seperti dirimu dengan menyimpan dendam pada siapapun, fucker. Kau..hanya bisa menyalahkan orang lain atas kematian Wan, putramu, melampiaskan kemarahan dengan membenci Aharon karena Tao yang berduka terlalu dalam hingga kehilangan pengendaliannya sendiri." Tarikan napas hingga terdengar begitu ringkih. "Kemana kau sebelum anakmu itu mati, Wu Kris? Mengurusi semua kebusukan organisasi ini?" Decihan kecil lepas, terdengar begitu rendah sementara manik basah memerah tersebut masih menahan begitu banyak kemurkaan yang siap meledak.

"Tetapi tetap saja, dia adalah keturunanmu dan itu menerangkan dengan jelas bahwa dia juga memiliki sesuatu yang sama denganmu." Kepala Baekhyun terangkat, menegaskan jarak posisi mereka hanya lewat hembusan napas. "Dia berkhianat pada Aharon, iya kan?"

Baekhyun seketika mendongak cepat saat senjata hitam berkilau menempel pada dahinya dari seorang pria berwajah campuran yang juga menatapnya marah. Kris belum mengatakan apapun tetapi hal tersebut dianggap Baekhyun sebagai goncangan yang sama dengan apa yang ada dalam dirinya. Yang lebih muda kembali tertawa, "Kau hanya tahu caranya mengancam dan membunuh, terus-menerus tanpa peduli megapa hal itu harus dilakukan. Jika kau berpikir sedetik saja tentang mereka, tentang anakmu, maka semua ini tidak akan terjadi."

"Jangan berpikir bahwa dirimu lebih baik dariku, Baekhyun. Kau, kau baru saja melakukan kesalahan.." Kris menggeleng, menjilat bibirnya dan kembali bicara sementara mata pria tersebut telah sangat memerah. "Semulanya aku berpikir untuk membiarkanmu. Tetapi apa yang kulihat sekarang adalah kalian semua sama-sama menjijikan," Dia mendesis dalam sorot mata menggelap.

"..kau dan keluarga mafiamu itu, sangat-sangat menjijikan."

Baekhyun menyipit dengan cepat sesaat kata-kata tersebut melantun tepat di depan wajahnya.

"Kau menuntut padaku untuk memberitahumu apa yang telah kututupi selama ini. Itu akan terwujud, Baekhyun. Kau akan mendapatkannya hari ini juga. Untuk ingatan yang telah terkubur jauh hingga kuyakini sudah hilang," Kris memiringkan kepala bersama senyum kecil di sudut bibirnya. "Untuk 19 tahun lalu saat semua mata hanya tertuju pada kota Daejeon. Kau, Park Chanyeol, dan keluargamu yang hidup atas darah kriminal itu, kalian sungguh membuatku muak."

(Penjelasan lebih banyak hanya dimuat dalam novel)

Gongyoo mendorong kasar pintu kamar yang nyaris tak terjamah dalam hitungan bulan sebelum dihancurkan dan kembali bersih selayaknya waktu lalu. Namun wajah itu tak juga menampakkan kelegaan sekalipun ia tak melihat apapun yang berubah di dalam sana. Mata menyusuri segala titik, hingga beberapa saat setelahnya ia berjalan melintasi lemari hias di sisi ranjang.

Sebuah meja kerja berada membelakangi jendela tanpa debu yang kini dijamah oleh tangan selain pemiliknya. Pria dewasa tersebut menunduk setelah laci terbuka, terus mendorong dan mencari dalam kedua mata membelalak lebar atas keberadaan benda dalam pusat pikirannya.

Kosong, tidak ada, kosong, kosong.

Tetapi ia baru akan beranjak saat manik itu menemukan sebuah celah kecil di sisi laci, membungkuk lebih dekat untuk keberadaan suatu kotak persegi panjang ukuran jari. Menggeser kayu yang menghalangi kaca pelapisnya, Gongyoo terpejam dalam tarik napas panjang sebelum membawa salah satu telunjuk ke arah permukaan kaca.

'PIP'

Hingga ketika papan lain terjatuh dari bawah meja, pria tersebut menangkap apa yang seharusnya menjadi penyelesaian dari seluruh kesalahan ini.

'Secret Document, Staff Only'

The Black Mass Project

By South Korea

Status Activate : Agreed

.

.

"Kris,"

Sehun mendongak hingga wajah tersebut berhadapan dengan tembok semen yang menyamarkan tubuhnya. Suara dalam telinga masih terdengar, dan atas getar serta lirih tarikan napas pria di balik ponselnya itu Sehun secara perlahan membentuk setiap inci tulang wajahnya.

"Pria itu mungkin sudah melakukan sesuatu pada Baekhyun.."

.

.

.

To be continued