A/N : Here's the update. To tell you the truth, I am having a hard time now. The score of my test is not as good as I expected, it makes me feel insecure. That score is the key to my dream, and I really hope you guys can help me. Doakan aku ya teman-teman, doakan biar mimpi aku bisa terwujud

Enjoy the new chapter!

.

.

.

"Ayumi menghilang."

Sasuke tidak membalas. Dia tidak tahu harus berkata apa sementara ia bisa mendengar Sakura yang sudah terisak dari ponselnya.

"Aktifkan GPS-mu. Aku akan ke sana." Sasuke memutus panggilan telepon dan segera beranjak dari tempat duduknya.

Shikamaru yang menyimak percakapan Sasuke bertanya, "Ada apa? Masalah dengan perusahaan seberang belum selesai juga?"

"Ini bukan tentang pekerjaan. Aku akan segera kembali." Sebelum membuka pintu, Sasuke berbalik dan menatap Shikamaru. "Kau tetap di sini, perbaiki laporan nomor 2 dari atas."

Shikamaru menghela nafasnya dan menyunggingkan senyum maklum. "Ada-ada saja. Semoga harimu menyenangkan." Lelaki itu melambaikan tangannya.

Sasuke segera turun ke basement untuk mengambil mobilnya yang terparkir disana. Dia mulai bergerak setelah memastikan posisi Sakura.

Saat dia datang, suasana di sana memang terlihat tidak baik. Para pengunjung masih menikmati makanan mereka tapi sering kali melirik ke arah Sakura dan beberapa orang pegawai yang ada di satu sisi ruangan.

"Apa kau menemukan beberapa petunjuk?"tanya Sasuke saat dia menghampiri Sakura.

Matanya terlihat sembab, tapi dia sudah tidak menangis lagi. "Aku sudah melihat CCTV. Tidak lama setelah aku pergi ke toilet, dia tiba-tiba turun dari tempat duduknya dan keluar. Tidak ada yang benar-benar memperhatikan. Aku bertanya pada orang-orang yang ada di luar dan mereka juga kurang tahu…"

"Maafkan atas kelalaian kami. Seharusnya kami menghentikan dia saat dia pergi begitu saja sendirian." Seorang perempuan yang terlihat seperti manager restoran ini membungkuk untuk meminta maaf.

Sasuke menghela nafasnya. "Ini bukan sepenuhnya salah kalian. Ibunya lalai dan anaknya tidak mematuhi perintah ibunya." Sakura menunduk saat Sasuke mengatakan itu. "Yang penting sekarang kita harus menemukannya. Maaf, tapi apa aku bisa melihat CCTV-nya?"

Sang Manager menyanggupi. Sasuke mengamati gerak-gerik Ayumi di video tersebut. Kejadiannya tidak jauh berbeda dari yang dikatakan Sakura tapi Sasuke bisa menyimpulkan kenapa Ayumi tiba-tiba pergi. "Dia melihat sesuatu dari jendela dan segera keluar. Mungkin dia melihat seseorang yang dia kenal atau dia melihat sesuatu yang dia suka."

Sakura menatap ke luar jendela. "Tidak ada sesuatu yang sangat disukainya di sekitar sini. Kurasa dia melihat orang yang ia kenal." Ia terlihat berpikir sejenak. "Tapi tidak ada yang tinggal di sekitar sini."

"Lebih baik kita ke kantor polisi sekarang. Mereka bisa melihat video dari CCTV yang ada di jalan, dan mereka bisa membantu kita mencarinya."

Sasuke dan Sakura mengucapkan salam pada pegawai restoran dan pergi dari sana. Sasuke bisa melihat raut khawatir pada wajah Sakura. Itu hal yang wajar. Bagaimanapun, dia sudah lalai dan kehilangan putrinya. Mengingat sifatnya, wanita itu pasti menyalahkan dirinya sendiri.

Untungnya, restoran itu berada tidak jauh dari pos polisi setempat. Ketika mereka sampai di sana, mereka disambut oleh seorang polisi dengan tato segitiga terbalik di kedua pipinya. "Selamat datang, ada yang bisa kami bantu?"

"Kami kehilangan seorang anak kecil. Terakhir kali kami melihatnya adalah saat dia makan bersama ibunya di restoran itu." Sasuke menunjuk restoran tersebut "Bisakah kalian membantu kami mencarinya?"

"Oh, tentu saja. Bisa kalian beri tahu ciri-cirinya?"

"Rambutnya berwarna merah kecokelatan. Panjang rambutnya sekitar 2 cm di bawah bahunya. Dia memakai baju berwarna merah muda dengan motif bunga."jawab Sakura.

"Kau dengar itu, Shino?"

Seorang lelaki lain yang duduk tidak jauh dari lelaki bertato itu menyanggupi. "Kami akan melihat CCTV terlebih dahulu. Anda bisa duduk dan menunggu di sana."

Sasuke melihat wajah Sakura yang menunjukkan bahwa dia tidak ingin diam dan menunggu. "Maaf, kalau boleh kami juga ingin melihat. Aku yakin ibunya bisa memastikan apakah putrinya terlihat di video atau tidak."

"Bagaimana, Kiba?"tanya Shino. Kiba terlihat menimbang-nimbang sebelum menyanggupi.

Mereka mengecek beberapa kamera tetapi menemukan Ayumi tidak semudah yang mereka kira. Hari ini, kota lebih ramai daripada biasanya. Menemukan gadis kecil diantara banyak orang jelas menjadi hal yang lebih sulit.

"Ah, itu dia!" Sakura menunjuk seorang anak kecil di tengah orang-orang yang menyebrangi jalan. "Aku yakin ini Ayumi."

"Bagus, sekarang kita bisa memperkirakan kemana ia akan pergi."ucap Shino sembari melihat beberapa video yang lain.

"Bagaimana kau bisa melihatnya? Aku bahkan tidak akan sadar jika kau tidak menunjuknya."tanya Kiba.

Sakura tersenyum. "Itu bukan hal yang aneh. Aku ibunya."

Sasuke tidak tahu harus merasa bagaimana. Ia tahu kalau hal itu bukan hal yang aneh, yang aneh adalah perasaan mengganjal yang ada di dalam hatinya. Perasaan itu tidak membuatnya merasa tidak enak ataupun khawatir.

"Dia bertemu seseorang!" Seruan Shino membuat Sasuke lepas dari pikirannya. Mereka semua berdiri di sekitar Shino dan menonton video tersebut. Ayumi memang terlihat berlari cukup jauh dari restoran tersebut dan di sana, ia terlihat menyapa seorang anak laki-laki. Setelah itu, sepertinya mereka mengobrol.

"Apa kau kenal anak laki-laki itu?"tanya Sasuke.

Sakura menggeleng. "Aku tidak tahu pasti. Wajahnya tidak jelas, tapi Ayumi memang berteman dengan beberapa anak laki-laki."

Mereka terus menonton. Setelah beberapa saat, anak laki-laki itu pergi meninggalkan Ayumi sendirian. Gadis kecil itu terlihat kebingungan dan terus berjalan lebih jauh dari posisi awalnya. "Dia pasti lupa jalan kembali ke restoran."ujar Kiba.

Shino mencoba mencari beberapa video dari kamera lain dan akhirnya menemukan sesuatu. "Dia bertemu seseorang lagi."

Seorang pria berdiri membelakangi kamera. Ia juga menutupi Ayumi yang jauh lebih pendek dibanding dirinya. Tidak lama kemudian, lelaki itu menggenggam tangan Ayumi dan membawanya menuju mobilnya.

"Sial, dia membawanya pergi!"seru Kiba. "Kita harus bergerak Shino. Aku akan mengabari beberapa orang yang bisa membantu!"

Keadaan semakin memburuk. Sasuke tahu kalau penculikan anak sekarang adalah kasus yang marak. Selama ini dia tidak pernah mengindahkannya karena tidak ada anak kecil di sekitarnya. Tapi sepertinya sekarang ia harus lebih berhati-hati. Dia tidak ingin hal ini terjadi lagi. Selain karena urusan perusahaan dan sebagainya, ia juga tidak ingin Sakura menunjukkan raut cemas seperti ini lagi.

Entahlah, tapi wajahnya yang seperti ini membuatku tidak senang.

"Aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Dia memakai topi yang menutupi sebagian wajahnya. Tidak ada yang menghubungiku juga, berarti dia bukan orang yang kukenal." Sasuke menatap Sakura yang berbicara pada dirinya sendiri.

"Mereka akan mengurusnya. Kita bisa duduk dan menunggu di sini."

Sakura menggeleng. "Tidak bisa. Aku lebih baik berlari keluar dan mencarinya daripada duduk menunggu." Tanpa menunggu Sasuke, wanita itu berlari keluar.

Sasuke menghela nafas. Dia tahu kalau Sakura akan berkata seperti itu, tapi dia tidak berpikir dia akan pergi begitu saja. "Ah, Shino-san?" Shino berhenti berjalan dan menatap Sasuke. "Wanita itu terlalu ceroboh dan akhirnya pergi untuk mencari sendiri. Bisa aku meminta nomor ponselmu? Kalau kau berhasil menemukannya kuharap kau bisa menghubungiku. Begitu juga sebaliknya."

Shino dengan senang hati menyanggupi. Setelah mendapatkan nomor ponsel Shino, ia segera menyusul Sakura. Menemukan Sakura cukup mudah. Tidak ada banyak orang dengan rambut merah muda.

Sasuke memperhatikan dari belakang. Sakura berteriak memanggil Ayumi tanpa memperhatikan orang-orang yang menatapnya dengan pandangan tak senang. Dia tidak segan bertanya pada pemilik toko ataupun orang yang sedang lewat. Dia melakukannya selama hampir 30 menit dan sekarang dia terlihat kelelahan.

"Kau sudah melakukannya selama 30 menit, kau butuh istirahat."ujarnya sambil berjalan di samping Sakura.

"Itu berarti Ayumi sudah hilang lebih dari 30 menit. Aku tidak bisa istirahat."

Sasuke menggenggam lengan Sakura dan menariknya menuju sebuah bangku. Ia memaksa Sakura untuk duduk. "Duduk di sini dan jangan bergerak."

Untungnya, Sakura mengikuti saran Sasuke dan duduk di sana sementara Sasuke membeli dua botol minuman dingin. Sasuke memberikan satu pada Sakura seraya duduk di sampingnya.

"Kau tidak mencarinya sendirian, ada Shino dan lainnya yang bergerak ke berbagai tempat untuk melakukan hal yang sama."ujar Sasuke. Dia membuka tutup botol dan meneguk hampir setengah dari isi botol tersebut.

Sakura masih menunduk dan mengusap permukaan botol yang dingin. "Yang kau katakan tadi itu benar. Aku lalai. Seharusnya aku tidak meninggalkannya sendiran. Selama ini aku tidak pernah meninggalkannya sendiri tanpa pengawasan orang lain."

"Aku meninggalkannya untuk menenangkan diriku sendiri. Aku terlalu larut dalam pikiranku sendiri sampai lupa waktu. Saat aku kembali dia sudah tidak ada. Ini semua salahku."

Sasuke hanya bisa diam. Dia tidak pernah tahu apa yang harus dilakukan saat seseorang menangis, tapi sekarang ia yakin diam adalah hal yang tepat. Setidaknya untuk saat ini .

"Seharusnya aku tidak meninggalkannya sendiri."

Ini mengingatkan Sasuke tentang masa lalu. Sasuke pernah terlibat perkelahian dan dia berakhir babak belur. Dia ingat apa yang dikatakan ibunya sembari menangis saat itu.

"Aku terlalu fokus pada Itachi dan melupakannya. Ini semua salahku. Seharusnya aku lebih memperhatikannya."

Sasuke tersenyum kecil. Mungkin setiap ibu pada dasarnya sama. Mereka menyayangi anaknya melebihi dirinya sendiri. Mereka menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Mereka akan menangis saat sesuatu yang buruk terjadi pada anaknya.

"Hei, apa kau tidak bisa melakukan sesuatu?"

Sasuke menoleh dan melihat Sakura yang menatapnya dengan mata yang memerah. "Uchiha bisa melakukan banyak hal dengan mudah, kan? Tidak bisakah kau mencari Ayumi?"

Jujur saja, Sasuke bisa. Dia punya koneksi dengan berbagai instansi yang bisa membantunya mencari seseorang. Awalnya, Sasuke tidak berniat sedikit pun untuk membantu Sakura. Tapi, melihatnya dalam kondisi seperti ini, bohong kalau ia berkata bahwa hatinya tidak tergerak.

Sasuke mengeluarkan ponselnya untuk menelepon seseorang. Tepat saat itu juga, ada panggilan masuk. Nama 'Shino' tertera di sana. Sasuke mengangkatnya lalu mengaktifkan mode loud speaker.

"Kami menemukannya! Dia ada di restoran yang tadi. Laki-laki yang pergi bersamanya juga ada di sini."

"Kami segera ke sana."

Keduanya berlari menuju restoran sebelumnya. Entah apa yang merasuki Sakura sampai Sasuke harus serius berlari untuk menyamai kecepatannya. Tapi itu tidak aneh, bagaimanapun juga, dia akan segera bertemu dengan putrinya lagi. Sasuke yakin Sakura akan segera memeluk Ayumi seperti tidak ada hari esok.

Sayangnya, dia salah. Saat mereka sudah bisa melihat Ayumi dari dekat, Sakura justru berhenti dan menatap Ayumi dengan sorot mata yang tidak bisa dimengerti. Sementara Ayumi yang tadinya memberikan senyum menjadi diam.

"Apa kau tidak dengar apa yang kukatakan?!"

Semuaorang di sekitar mereka terkejut. Bahkan Kiba yang sedang minum tersedak saat tiba-tiba Sakura berteriak.

"Aku bilang jangan kemana-mana, berarti kau harus menunggu! Tidak bisakah kau diam dan menurut?! Kau tidak tahu betapa takutnya aku saat tidak melihatmu dimanapun! Aku tidak bisa berpikir jernih! Aku berlari kesana kemari mencarimu, memanggil namamu seperti orang gila!"

Saat itu, Sasuke sadar bahwa Sakura kembali meneteskan air matanya. Tapi kini, ia terlihat lega. Selanjutnya, Sakura berlutut dan memeluk anaknya dengan erat. Ayumi sendiri ikut menangis keras-keras sambil balik memeluk Sakura.

Ketika mata Ayumi bertemu dengan miliknya, Sasuke sempat terdiam. Gadis kecil itu menatapnya dengan ketakutan, sama seperti pagi tadi. Kali ini, Sasuke tidak ingin menjauhkan diri dan membuat harinya semakin buruk. Sasuke yang cukup dekat dengannya hanya bisa memberikan usapan ringan pada rambut Ayumi.

Tanpa disangka, gadis kecil itu memberikan senyum manis padanya. Seakan dia sudah mendapatkan hadiah terbaik pada malam natal. Sasuke membalasnya dengan senyum kecil.

"Nah, maaf kalau aku mengganggu reuni kalian, tapi kau setidaknya harus melihat wajah orang yang menculik gadis kecil itu."ujar Kiba sambil menunjuk ke dalam mobil polisi.

"Sudah kubilang, aku tidak menculiknya!"

Sasuke dan Sakura melirik satu sama lain. Keduanya kenal dengan suara itu, dan mereka semakin yakin saat melihat lelaki pirang keluar dari mobil dengan tangan yang diborgol.

"Naruto-san?"ujar Sakura dengan nada heran.

"Kau mengenalnya?"tanya Shino. "Untuk berjaga-jaga kami sudah menaruh dua orang personel di sini. Mereka berdua datang ke sini dengan kondisi gadis itu tidak sadarkan diri. Mereka langsung memborgol lelaki ini dan mengamankannya."

"Aku tidak melakukan hal yang aneh-aneh, dan aku bukan penculik! Aku menemukan Ayumi yang kebingungan dan sendirian, jadi aku menawarkannya bantuan. Saat itu aku sedang dalam perjalanan untuk menghadiri meeting yang sangat penting, jadi aku mengajaknya ikut dulu. Dia sudah tertidur saat aku kembali dari meeting tapi aku sempat menanyakan dia ingin ke mana. Dia memberi tahu nama tempatnya dan aku mengantarnya ke sini. Aku tidak berharap akan diborgol ketika aku hanya akan mengantar anak temanku!"

"Jadi, dia adalah temanmu?"tanya Kiba pada Sakura.

"Ya, dia teman kami."jawab Sasuke. "Seharusnya kau menghubungiku dulu, dobe"

Naruto tersenyum malu. "Maafkan aku, aku bangun kesiangan dan lupa membawa ponselku."

Sasuke menghela nafas lalu menatap Shino dan Kiba. "Orang bodoh ini temanku, jadi ini hanyalah kesalahpahaman, bukan penculikan. Terima kasih atas kerja keras kalian," Sasuke menggantungkan kalimatnya dan menatap Sakura. Wanita itu balik menatapnya dengan sorot mata penasaran. "putriku berhasil ditemukan. Terima kasih."

"Tidak masalah, itu sudah tugas kami." Shino dan Kiba tersenyum sebelum pergi bersama personel lainnya. Naruto sendiri pulang ke rumahnya setelah borgolnya dibuka. Sakura dan Ayumi sedang berada di toilet untuk membenahi wajah mereka. Sasuke melihat jam tangannya dan memutuskan bahwa ia akan pergi ke kantor.

Tiba-tiba saja dia teringat sesuatu. Ia mengeluarkan ponselnya dan menelepon seseorang. Tidak butuh waktu lama, orang tersebut mengangkat panggilannya.

"Moshi-moshi? Ada apa?"

Sasuke terdiam sejenak. "Tidak apa-apa. Tiba-tiba aku rindu padamu, Bu. Bagaimana kalau kita makan siang bersama?"

Sekarang, Sasuke tahu apa perasaan mengganjal yang tidak membuatnya merasa buruk tadi. Perasaan itu adalah rasa hangat. Rasa hangat yang sering ia rasakan saat bersama ibunya di saat-saat tertentu.

.

.

.

Sakura keluar dari walking closet dengan handuk di bahunya. Ia tidak terbiasa untuk langsung menggunakan hair dryer setelah mandi. Lagipula, dia suka sensasi dingin dan basah pada rambutnya sehabis mandi.

Matanya menangkap Sasuke yang tengah membaca sebuah dokumen di tempat tidur. Ia sudah dalam setengah siap untuk tidur. Maksud Sakura adalah, Sasuke bersandar pada head board dengan posisi duduk dan setengah badannya sudah ada di bawah selimut.

Sakura dengan ragu-ragu ikut mengambil posisi yang sama. Ia berpikir bahwa Sasuke akan bangkit dan pergi keluar, atau setidaknya menatapnya dengan tatapan kesal, tapi dia tidak melakukan apapun. Sasuke masih fokus pada apa yang dikerjakannya.

"Hei."panggil Sakura.

Sasuke tidak menjawab, tapi Sakura yakin dia mendegarkan. "Aku tidak menyangka kau akan datang. Tidak, aku bahkan tidak menyangka kau akan mengangkat panggilan teleponku."

Lagi-lagi dia tidak menjawab. Sakura menatapnya dengan alis terangkat. Apa dia sengaja tidak mengacuhkanku?

Sasuke meliriknya dari ekor matanya. "Aku mendengarmu."jawabnya, seakan mendengar isi hati Sakura.

Sakura mengalihkan pandangannya pada selimut. "Kau tahu, sampai pagi tadi, aku merasa kau tidak akan mengikuti syarat dariku. Yah, kau sudah mendapat apa yang kau inginkan dan aku juga tidak bisa mengancammu dengan batal mengikuti permainanmu. Puncaknya adalah siang ini, saat Ayumi berkata dia ingin kembali. Aku merasa aku sudah memilih jalan yang salah dan aku akan membuatnya semakin menderita."

Saat ia menoleh pada Sasuke, lelaki itu sudah meletakkan dokumen di pangkuannya. Ia tidak menatap Sakura. "Sekarang aku sudah berpikir lebih jernih dan kurasa, aku tidak sepenuhnya benar. Kau adalah pria lajang dan kudengar kau bahkan belum pernah berkencan dengan wanita manapun. Bagaimana bisa aku memintamu langsung bertindak sebagai ayah yang sempurna untuk Ayumi?"

Sasuke menghela nafasnya. "Aku yakin kau cerdas, tapi aku tidak tahu kalau kau cukup lamban."

"Apa maksudmu?"

Lelaki itu kini menatap Sakura. "Kau baru mengerti kondisinya sekarang, bukankah itu lamban?"

"Permisi Tuan Jenius, tapi ini baru hari keduaku sebagai Nona Muda." Sakura menekankan kata-kata terakhirnya. "Seharusnya kau menjelaskannya padaku. Mau tidak mau kita akan menjadi rekan untuk waktu yang lama. Sudah seharusnya kita punya hubungan yang baik untuk melancarkan segalanya, bukan?"

Sasuke tidak membalas Sakura dan malah kembali fokus pada dokumennya. Sakura menghela nafas dan menyerah untuk membahas apapun lagi. Tapi, saat itulah ia ingat apa yang seharusnya dia katakan sejak tadi.

"Sasuke."panggilnya. Lelaki itu menoleh. "Terima kasih."

Sasuke menatapnya dengan raut terkejut. Sakura melanjutkan, "Terima kasih sudah menolongku dan memberikan harapan baru bagi Ayumi. Aku sangat menghargainya."

"Harapan baru?"

Sakura tertawa. "Kau tahu? Begitu pulang dia menolak untuk mandi dan menyisir rambutnya. Dia tidak ingin kehilangan perasaan saat kau mengelus rambutnya."

Saat itu, Sakura yakin yang dilihatnya adalah sebuah pemandangan yang langka. Sasuke membentuk seulas senyum kecil sembari menatap dokumennya. Sakura bisa merasakan kehangatan dari senyum Sasuke. Dia terlihat begitu senang mendengarnya.

Sakura tersenyum senang. "Jadi, kita akan mulai menjadi rekan yang baik besok?"

"Ya, kalau kau memang sangat menginginkannya."

.

.

.

Sasori duduk di sofa ruang tamu dengan sebuah novel di tangannya. Sebelah tangannya memegang segelas kopi. Ia menyesapnya sebelum meletakkan gelas itu di meja.

Apartmen Sasori selalu tenang dan sunyi, namun itu tidak membuat suasana menjadi kaku. Sasori selalu menyukai tempat tinggalnya. Ia suka kehangatan dan rasa nyaman yang diberikan tiap sudut tempat ini. Terutama, di saat Ino ada untuk menginap.

"Sa. So. Ri~" Panggilan itu diikuti oleh sebuah lengan yang memeluk lehernya dari belakang.

Sasori tersenyum. "Kukira kau akan mencekikku dari belakang."

"Aku terlalu menyukainya, aku tidak akan melukai lehermu."ujar Ino sambil tertawa. "Kau tahu? Selain rambutmu, lehermu adalah bagian yang paling wangi. Apa yang kau lakukan?"

"Tidak ada yang kulakukan untuk leherku Ino, dan berhentilah menggodaku." Sasori menggenggam tangan Ino. "Nah, bagaimana kalau kau duduk di sampingku?"

Ino memutari sofa dan duduk tepat di sebelah Sasori. Gadis itu menyandarkan kepalanya di bahu Sasori. Keduanya diam untuk sesaat dan menikmati keheningan yang terasa nyaman. "Sasori, Sakura adalah orang yang baik."

Sasori melirik Ino. "Ini baru hari keduamu bertemu dengannya Ino."

"Ya, aku tahu. Tapi aku yakin dia orang yang baik. Aku bisa menceritakan banyak hal padanya tanpa ragu sedikit pun kalau dia akan menceritakannya pada Sasuke. Dia adalah pendengar yang baik. Aku suka berada di dekatnya. Dia juga terbuka dengan anak-anak panti asuhan. Dia rela mengenakan kostum kelinci yang panas itu."ujar Ino panjang-lebar. "Kau sendiri menolak mengenakannya."

"Aku tidak suka tempat yang pengap Ino, dan kostum itu benar-benar panas." Sasori tersenyum saat mengatakannya. "Kau terlihat sangat bahagia saat menceritakannya."

"Tapi, jujur saja ada beberapa hal yang kucurigai dari hubungannya dan Sasuke. Saat pertama kali aku masuk ke kamarnya, dia meninggalkanku selama beberapa saat. Aku tidak melihat satu pun bukti bahwa mereka adalah pasangan yang begitu saling mencintai. Oh, setidaknya harus ada satu bukti bahwa Sasuke sudah berkencan selama lebih dari 5 tahun."ujar Ino.

"Atau mungkin Sasuke sangat pintar menyembunyikannya. Kalau kau mencari bukti seperti foto atau apapun itu, semua mungkin ada di ponsel Sasuke." Sasori kini mengusap punggung tangan Ino.

"Oke anggaplah itu benar, tapi gerak-gerik Sasuke sama sekali tidak menunjukkan kasih sayang. Kau ingat saat acara makan siang kemarin? Dia melihat Sakura dengan tatapan menilai, bukan karena dia sayang atau apapun itu."

Sasori tertawa. "Kau dan kemampuan menganalisismu itu Ino. Terkadang kau terlalu banyak menggunakan perasaanmu untuk menilai sesuatu tapi terkadang justru penilaianmu itu tepat sekali. Jadi, intinya adalah?"

"Intinya, Sakura adalah orang baik, begitu juga anaknya. Ayumi manis sekali. Tapi kau harus curiga dengan hubungan Sakura dan Sasuke."jawab Ino mantap. "Oh, ada satu hal lagi yang mencurigakan."

Kali ini Ino duduk dengan tegap dan menatap Sasori lekat-lekat. "Hari ini aku bertemu dengan Sakura dan Bibi Mikoto. Mereka terlihat tidak akur, ya, aku tahu kita semua sudah memperkirakannya. Mereka jelas menutupi sesuatu. Aku kurang jelas mendengar percakapan mereka, tapi Bibi Mikoto memperlihatkan berbagai foto pada Sakura. Bibi Mikoto bilang itu foto gaun pengantin. Aku melihatnya dari kejauhan, sedikit tidak jelas memang tapi aku yakin itu bukan foto gaun pengantin."

Sasori menatap Ino dengan tatapan yang tidak kalah serius. "Bibi Mikoto berbohong dan Sakura tidak mengingkarinya."

Ino mengangguk. "Dia juga terlihat kaget dan tidak nyaman saat aku menghampiri mereka tiba-tiba. Seakan takut kalau aku melihat atau mendengar apa yang mereka perbincangkan."

"Ini berarti Sakura patut dicurigai. Memang benar, kita tidak bisa menelan mentah-mentah apapun yang dikatakan Sasuke atau Bibi Mikoto."gumam Sasori tanpa melihat Ino.

Ino meraih tangan Sasori dan meremasnya, membuat Sasori menatapnya kembali. "Sakura adalah orang baik. Aku percaya itu."

Sasori balik meremas tangan Ino. Ia ingin meyakinkan Ino bahwa ia mempercayai apa yang Ino percayai. Sasori juga tidak ingin mencurigai Sakura, karena di dalam hatinya, ia yakin Sakura bukanlah orang seperti Sasuke ataupun Mikoto.

Tapi tidak ada yang tahu sampai kapan kepercayaan itu akan bertahan.