Chapter : 7
Cast : Choi Kyuhyun (14 tahun)
Choi Siwon (25 tahun)
Lee Sungmin (30 tahun)
Park Jungsoo (35 tahun)
Kim Kibum (23 tahun)
Shim Changmin (14 tahun)
Rate : T
Genre : Family, Brothership
Chapter : 6
Cast : Choi Kyuhyun
Choi Siwon
Shim Changmin
Rate : T
Genre : Family, Brothership
"Kyunie, ada apa sayang?" nyonya Kim kaget saat mendengar teriakan Kyuhyun ketika ia hendak terlelap. Bahkan Kibum -anaknya- sampai ikutan terbangun karena mendengar suara dari adik sahabatnya itu.
"Hyung, jangan tinggalkan Kyu.. hiks… Kyu tidak ingin sendiri… hyung, siwon-hyung." Bocah yang masih duduk di high school itu terisak hebat. Wajahnya dibanjiri keringat. Nyonya Kim membawa tubuh rentan itu kedalam pelukannya.
"Tenanglah, jagoan momy. Tenanglah. Hyung-mu baik-baik saja, ia tidak akan meninggalkanmu, sayang." Nyonya Kim terus merapalkan kalimat penenang agar Kyuhyun merasa tenang. Perlahan tubuh Kyuhyun mulai tenang. Gemetaran yang ia rasakan sudah berkurang. Deru napasnya mulai normal kembali.
"Minumlah dulu Kyu agar kamu merasa tenang." Kibum menyodorkan segelas air putih yang tersedia disamping tempat tidur Kyuhyun.
"Benarkah Siwon-hyung baik-baik saja? Ia tidak akan meninggalkan kyu kan? Ia akan segera pulang kan?" dengan tatapan sayunya, Kyuhyun menatap dua orang dihadapannya. Jantungnya masih berdebar keras. Napasnya terdengar lelah.
"Semuanya akan baik-baik saja, sayang. Hyung-mu akan segera pulang dan berkumpul lagi denganmu." Nyonya Kim mengelus pelan surai yang terasa basah ditangannya. "Jangan terlalu khawatir, Kyunnie. Itu sangat tidak baik untuk kesehatanmu. Mommy tak ingin anak-anak mommy sakit. Apakah Kyunnie ingin membuat kami dan hyung-mu khawatir melihatmu jatuh sakit, sayang?"
Kyuhyun menggeleng pelan. Ia tak ingin membuat hyung dan keluarga Kim mencemaskannya. Itu hal yang paling dia hindari. "Ani, Kyu tak ingin membuat Siwon hyung mencemaskanku."
"Kalau begitu tidurlah lagi. Hyung akan tidur disini bersamamu." Kibum naik keatas kasur milik Kyuhyun dan mulai membaringkan dirinya disamping Kyuhyun.
"Terimakasih, hyung." Kyuhyun mulai memejamkan matanya. Kini ia nampak sedikit lebih tenang meskipun suhu tubuhnya belum sepenuhnya turun.
Nyonya Kim mencium kening Kyuhyun sebelum wanita tersebut meninggalkan kamar tidur anak dari sahabatnya itu. Ia sangat berharap kalau situasi ini segera terlewati. 'Lindungilah mereka selalu tuhan.'
.
.
.
Jejju island
"Daddy, kumohon biarkan aku kembali ke Seoul. Aku sangat mengkhawatirkan Kyuhyun." Seorang laki-laki muda nampak memohon kepada seseorang yang kini duduk di kursi yang terdapat disamping ranjangnya. Lelaki yang duduk tersebut nampak menghela napasnya.
"Siwonie, keadaanmu belum cukup baik untuk melakukan penerbangan. Dokter takkan memberimu ijin. Disana sudah ada mommy-mu dan juga kibum yang menjaganya. Lagipula keadaan Kyuhyun saat ini sudah membaik." Tuan kim membujuk namja dihadapannya agar tidak terlalu mengkhawatirkan adiknya. "Daddy akan menghubungi mommy-mu dan kamu bisa bicara dengannya."
"Baiklah. Tolong segera, Dad."
Tuan Kim mengambil ponsel yang ia simpan diatas nakas. Dengan cekatan ia mengetikkan nomor yang ia sangat hapal. Sang istri. Nada sambung mulai terdengar. Setelah menunggu beberapa detik, terderngar suara lembut menyapa dari sebrang telpon.
'Yeobo, ada apa menghubungiku pagi-pagi sekali? Apa terjadi sesuatu disana?'
"Semuanya baik-baik saja. Keadaan Siwon juga membaik. Lalu bagaimana keadaan Kyuhyun?"
Terdengar suara helaan napas. 'Sejauh ini keadaan Kyuhyun baik, demamnya sudah turun. Ia hanya perlu istirahat agar kondisinya semakin membaik. Aku belum menemui Sungmin pagi ini.'
"Apakah Kyuhyun bisa menerima panggilan telpon saat ini? Siwon ingin sekali mendengarkan suara adiknya."
'Mianhae, Kyuhyun masih tidur. Baru sejam yang lalu ia bisa tidur nyenyak. Semalaman demamnya semakin naik ditambah dengan pernafasannya yang bermasalah. Namun sejauh ini kondisinya semakin membaik. Tak ada yang perlu dikhawatirkan. Bisa aku bicara dengan Siwonie?' Wanita paruh baya itu menghela nafasnya kembali. 'Siwonie, mommy tau kamu mendengarkan semua ucapan mommy tadi. Tapi kamu tak perlu khawatir mengenai Kyuhyun. Mommy dan Kibum akan menjaga Kyuhyun sampai kamu bisa kembali kesini. Maka dari itu mommy harap kamu bisa segera memulihkan kondisimu. Jangan memaksa daddy ataupun dokter untuk mengijinkanmu pulang. Kamu mengertikan, sayang?'
"Arraseo. Aku mohon jaga kyuhyun untukku mommy. Ia satu-satunya orang yang kupunya didunia ini." Ujar Siwon dengan air mata yang mengalir dipipinya. Tak dapat ia pungkiri, ia sendiri masih mengingat dengan jelas mengenai penyakit yang diderita adiknya.
'Baik-baiklah disana ya. Turuti semua apa yang dokter dan daddy-mu katakan agar kamu bisa segera kesini. Baiklah kalau begitu, mommy akan membuat makanan untuk Kyuhyun. Kamu juga jangan lupa makannya, Siwon-ah. Sampai nanti, sayang.'
Sambungan telpon itu pun terputus. Meskipun sedikit kecewa karena belum bisa berbicara dengan adiknya, namun Siwon merasa sedikit lega mendengar bahwa adiknya baik-baik saja. Ia merutuki tentang kecelakaan yang menimpanya kemarin. Andai saja ia tidak buru-buru dan lebih memilih hujan reda, mungkin kejadian semacam ini tidak akan terjadi. Nasi sudah menjadi bubur. Ia tak akan bisa mengembalikan waktu ke awal.
"Daddy sudah berbicara dengan dokter sebelum kamu bangun, Siwon-ah. Menurut pemeriksaan, tak ada luka serius. Hanya istirahat saja yang kamu butuhkan sampai luka-luka yang didapat mengering." Tuan Kim mengambil ponsel yang diletakkan Siwon diatas kasurnya. Ia memeriksa beberapa pesan yang masuk. Semua permasalahan di perusahaan sudah teratasi dengan baik berkat Tuan Kim. Kini hanya tinggal menunggu ijin dokter saja agar mereka berdua bisa meninggalkan pulau Jejju.
"Daddy, terimakasih atas bantuannya. Berkat daddy masalah disini cepat selesai."
Tuan Kim tersenyum tipis. Apapun akan ia lakukan demi kedua anak sahabat dekatnya itu yang sudah ia anggap sebagai anak sendiri. "Tidak masalah. Sekarang makanlah dulu, daddy akan ke cafetaria untuk mencari sarapan."
Lelaki tampan berlesung pipi itu tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Ia sangat bersyukur ada orang-orang yang masih menyayangi dia dan adiknya seperti anak mereka sendiri.
'Terimakasih Tuhan.'
.
.
.
"Jadi kedua anak mereka masih hidup, hm? Baiklah, aku jadi ingin bermain-main dengan mereka sebentar. Sepertinya akan sangat menyenangkan. Benarkan, sayang?" seorang pria paruh baya nampak sedang berbicara dengan seorang pemuda yang diketahui sebagai anaknya. Pemuda itu tersenyum miring saat niat terselubung pria paruh baya itu terucap.
"Tentu saja ayah. Aku pun sangat ingin bermain dengan mereka."
To Be Continued
Baru bisa selesein sekarang meskipun ga jelas sekali. Haha, maaf yah. Lagi lelah, makanya baru ngetik beberapa kalimat aja langsung nguap dan ngerasa ngantuk. Hehehe..
