A Choice
By: Rei Xelantiqua
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Happy Reading…
Ino menekan tombol-tombol yang tertera pada HP-nya, menghasilakn suara 'cetak-cetuk' yang cukup mengganggu telinga yang mendengar. HP itu lalu ditempelkan di telinganya dan terdengarlah suara 'tut-tut-tut' panjang. Beberapa detik lamanya ia menunggu hingga akhirnya HP itu menghasilkan suara 'tulalit'. Gadis berambut pirang itu mendesah pelan, kecewa karena apa yang ia harapkan tak terwujud.
Sekali lagi ia menekan-nekan tombol 'cetak-cetuk'nya dan menempelkan HP-nya lagi di telinga. 3 detik, 5 detik, 7 detik, 10 detik… Ino mendesah lagi. Lagi-lagi, apa yang diharapkannya tak terwujud. Padahal sudah sejak beberapa menit yang lalu ia menempelkan HP-nya di telinga berulang kali tapi jawaban yang ia nanti tidak terwujud. Ia hanya ingin mendapatkan jawaban dari seseorang yang diteleponnya, tapi yang dipanggil tidak segera menjawab. Entah karena HP si penerima di silent atau bagaimana.
"Maaf, nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif."
Hanya itu kalimat yang dapat Ino dengar setiap kali ia menempelkan HP-nya di telinga. Tidak ada yang lain selain kalimat berkata depan maaf. Hal itu membuatnya cemas dan hatinya tidak tenang. Ia merasa ada sesuatu yang sedang terjadi pada orang yang diteleponnya itu. Tapi kenapa?
TOK…! TOK…! TOK…!
Entah sudah yang keberapa kalinya Naruto mengetuk sebuah pintu kayu berwarna putih yang ada di depannya. Sejak beberapa menit yang lalu ia terus mengetuk pintu putih itu tanpa mendapat jawaban sedikitpun dari si empunya pintu. Padahal biasanya jika ia mengetuk pintu sekali saja, si empunya pintu langsung muncul dan memberinya kecupan hangat dan tersenyum manis padanya. Tapi kali ini tidak. Berkali-kali ia mengetuk pintu tapi hasilnya nihil, kosong, tiada suara dan jawaban dari orang yang diharapkannya. Apakah karena apartemen ini terlalu luas dan ramai sehingga yang dipanggil-panggil tidak menjawab karena tidak dengar?
Naruto menghela nafas sejenak, dan untuk terakhir kalinya (begitu kata hatinya) ia mengetuk pintu putih berkayu salah satu ruangan di apartemen itu dengan lebih keras. Dan setelah beberapa detik lamanya ia menunggu, masih saja tidak ada jawaban. Pemuda itu mendecak kesal dan menggaruk-garuk belakang kepalanya yang tidak gatal. Ia mengambil HP-nya yang ada di saku celananya dan mencoba untuk menelepon orang yang sangat ingin ia temui.
"Maaf, nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif."
Yeah, hanya itu suara yang dapat ia dengar saat ia sedang mendengarkan dengan baik suara di seberang sana. Naruto menekan-nekan tombol HP-nya sekali lagi dan kembali menelepon. Tapi, argh! Lagi-lagi! Kalimat maaf itu kembali terdengar di telinganya. Naruto sudah mulai jengkel sekarang. Berkali-kali dipanggil tidak menjawab, ditelepon juga tidak diangkat. Apa mungkin dia dengan Ino? Pikirnya.
Selang beberapa detik HP Naruto berbunyi. Mata sapphire-nya memperhatikan sebuah nama yang tertera di layar HP-nya yang berkedip-kedip seperti lampu disko. Telepon dari Ino, sahabat dari orang yang saat ini sedang ia cari-cari.
"Halo? Ada apa, Ino?" jawab Naruto, yang sebenarnya lebih cocok disebut bertanya.
"Apa Sakura bersamamu?" tanya Ino.
Naruto mengerutkan keningnya. Ino menanyakan Sakura? Barusan saja ia bertanya dalam hati kalau jangan-jangan orang yang dicarinya bersama dengan Ino. Dan sekarang Ino sendiri juga menanyakan Sakura? Berarti dia tidak dengan Ino.
"Jadi dia tidak bersamamu?" Naruto balik bertanya.
"Hah? Sakura tidak bersamamu? Masa sih? Lalu ke mana dia? Dari tadi aku meneleponnya tidak diangkat-angkat, kupikir dia sedang melakukan 'sesuatu' denganmu, makanya dia tidak menjawab teleponku," jelas Ino, yang memberikan penekanan pada kata 'sesuatu'.
"Hei, tidak sopan sekali kau. Bicara seenaknya!" seru Naruto dengan suara yang sedikit ditahan agar ia tidak menjadi pusat perhatian orang-orang disekitarnya.
"Sesuatu itu bisa berarti berkencan atau sejenisnya, kan? Kau itu jangan berpikir yang tidak-tidak. Jadi Sakura tiak bersamamu?" Ino bertanya lagi.
"Kalau dia bersamaku, lalu untuk apa tadi aku bertanya padamu, Ino? Lagipula saat ini dia juga tidak ada di apartemennya."
"Benarkah? Waduh… Lalu ke mana dia pergi? Sudah sejak tadi siang, lho, aku mencarinya. Jam 2 tadi aku ke apartemen, tapi apartemennya kosong. Kupikir dia belum pulang dari XHS, akhirnya aku ke sana dan guru-guru di sana bilang kalau Sakura sudah pulang. Tapi yang aneh adalah mobil Sakura masih ada di sana. Lalu dia pulang dengan apa? Masa' sudah punya kendaraan pribadi masih harus naik kendaraan umum?" jelas Ino panjang lebar.
"Aneh…" gumam Naruto. Ia mengelus-elus dagunya yang halus tanpa ada bulu-bulu halus yang mengganggu sedikitpun yang tumbuh di sana. "Sakura pulang tanpa membawa mobilnya?"
"Tuh, kan! Berarti Sakura tidak pulang. Ia mungkin saja pergi ke mana, aku tidak tahu. Tapi yang jadi pertanyaan adalah, kenapa Sakura pergi tanpa membawa mobilnya?"
Naruto diam sejenak dan berpikir. Percakapan tak langsung itupun terhenti, membuat Ino agak kesal dan terus mengatakan 'halo' dengan keras karena Naruto tidak segera menjawab.
"Apa mungkin Sakura diculik, ya?" Naruto bergumam.
"Apa katamu?"
"Kami mau melaporkan tentang teman kami yang hilang, pak," kata Naruto pada seorang pria paruh baya di depannya. Pria berkumis tebal itu tidak segera menjawab dan masih terus mengetik sesuatu di komputernya. Sesekali ia membenarkan posisi kacamatanya yang tak nyaman menggantung di depan matanya.
Naruto mendecak kesal, tapi pria itu tidak mempedulikannya dan terus mengetik. Dengan kesal Naruto mengulangi perkataannya dengan suara lebih keras, "Pak, teman kami hilang!"
Pria itu langsung menghentikan gerak jari-jarinya yang tadi menari-nari di atas keyboard. Mata kehitamannya menatap tajam ke arah Naruto yang menurutnya sangat berisik dan mengganggu.
"Aku tidak tuli, nak," ujarnya pelan, tapi terdengar begitu tegas. Naruto menghela nafas lega karena akhirnya ia digubris juga.
"Ng, maafkan teman saya, pak. Dia orangnya memang seperti itu," kata Ino yang kala itu juga bersama Naruto di sebuah kantor polisi untuk melaporkan kehilangan Sakura. Mereka berharap dengan bantuan polisi Sakura bisa ditemukan.
"Ya, ya, ya. Jadi, siapa yang hilang?" tanya si polisi berkumis itu dengan tanpa dosa.
"Kucing saya, pak! Kucing saya HILANG!" jawab Naruto dengan penuh emosi. Ino langsung menyuruh Naruto untuk tenang dan sabar karena tidak enak rasanya jika marah-marah di depan polisi seperti itu. Selain itu, memalukan juga kalau di kantor polisi seperti ini berteriak-teriak.
"Naruto, apa-apaan kau ini?"
"Apa? Habisnya polisi ini sangat menyebalkan, Ino. Kau tahu, sudah sejak tadi aku bilang bahwa teman kami hilang, tapi ia masih saja bertanya siapa yang hilang. Padahal dia sendiri kan yang bilang kalau dia tidak tuli?" kata Naruto panjang lebar sambil berbisik.
"Iya, sudahlah. Tapi jangan kau jangan seperti itu."
"Seperti yang kau katakan, nak," sahut polisi itu, "aku tidak tuli. Aku tahu apa yang kau katakan. Kau bilang kalau aku menyebalkan, bukan?"
Huh! Baguslah kalau ia sadar! Jawab Naruto dalam hati.
"Tidak, kok, pak. Ng, yang tadi itu dilupakan saja. Teman saya tidak sengaja, kok. Mungkin itu pengaruh karena ia tidak sabar untuk segera bertemu dengan teman kami yang hilang. Jadi, apakah bisa dilanjutkan tentang teman saya yang hilang?"
Untunglah, polisi kumis tebal itu dapat mengontrol emosinya dan mengalihkan perhatiannya pada Naruto dan Ino. Naruto menghela nafas lega karena akhirnya ia digubris juga. Polisi itu memintai keterangan tentang Sakura, seperti apa ciri-cirinya dan apa yang terjadi padanya. Setelah itu, barulah, di malam yang dingin ini pencarian Sakura dilakukan. Apakah gadis murah hati itu berhasil ditemukan?
.
A Choice
.
Sakura menggerak-gerakkan badannya yang terikat dengan tali yang sangat kuat. Tidak cukup hanya badan, orang yang sudah menculik Sakura juga dengan teganya mengikat kedua pergelangan tangan Sakura menjadi satu pula. Kedua lengannya terasa begitu sakit karena sejak tadi ia terus berusaha untuk melepaskan diri dari ikatan tersebut. Tapi apa daya. Tenaganya tidak terlalu besar untuk bisa melepaskan tali yang melilit tubuhnya. Tidak kusangka ada murid semacam itu di dunia ini, piki gadis berambut pendek itu dengan masih menggoyang-goyangkan tubuhnya agar tali itu bisa segera putus walaupun ia tahu itu mustahil.
"Ugh! Uchiha Sasuke, lepaskan aku! Aku mau pulang! Mocky anjingku belum kuberi makan sejak tadi!" teriak Sakura dari dalam ruangan remang-remang yang kosong mlompong tapi sangat panas dan pengap. Ia berteriak meminta untuk segera dibebaskan dengan alasan belum memberi makan anjing peliharannya, padahal ia sama sekali tidak punya peliharaan. Huh, alasan yang konyol juga.
"Ck! Ini ya resikonya jadi guru dari Uchiha Sasuke? Aku harus menerima siksaan berat seperti ini. Diculik, diikat di kursi, tidak diberi makan. Huh! Sudah begitu, ruangan ini gelap dan pengap sekali. Aku sampai kepanasan. Apa tidak ada ruangan VVIP untuk menyekapku? Yang ada AC, TV flat, spring bed mahal yang empuk, dan juga sofa merah berbulu yang begitu aku suka. Sungguh tidak keren," gumam Sakura panjang lebar. Astaga, dalam keadaan menegangkan seperti ini ia masih sempat menghumor walaupun garing? Semua ini dilakukannya supaya ia lebih tenang.
"Tidak ada ruang AC, TV flat, sofa merah, dan ruang VVIP!"
Sebuah suara tegas terdengar di ruang di mana Sakura sedang menanti pertolongan. Ia menatap sebuah wajah tampan di depannya, Uchiha Sasuke. Ia berdiri di ambang pintu dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Matanya menatap lurus ke depan, ke arah Sakura. Sakura tidak langsung ciut dan ketakutan melihat Sasuke yang melihat dengan tajam ke arahnya, seperti beberapa waktu lalu ketika ia bertemu Sasuke di sebuah gang kecil, tapi ia sudah mulai berani menatap Sasuke dan balas menatapnya dengan tajam pula. Ia berusaha mengalahkan ketakutannya. Seorang guru tidak boleh kalah dari muridnya. Bukan begitu? Yeah, setidaknya begitu.
"Kau mau membuatku kapok, ya? Kau mau membuatku takut agar aku tidak mengganggu kehidupanmu yang tenang? Kau ingin agar aku tidak terlihat lagi di matamu dan…"
"Cukup! Jangan cerewet kau!" seru Sasuke, membuat Sakura tersentak. Kau sadar rupanya, kata Sasuke dalam hati.
"Sekarang cepat lepaskan aku!" paksa Sakura. Sasuke hanya tersenyum kecut dan kemudian mendekat pada gadis yang sebaya dengannya itu. Dengan sedikit berbisik, Sasuke berkata, "Jangan cerewet!"
Sakura diam dan memalingkan wajahnya setelah Sasuke pergi dari hadapannya. Gadis itu kemudian menggoyang-goyangkan badannya lagi agar tali yang melilitnya itu kendor dan akhirnya ia bisa bebas. Tapi tetap saja, tenaganya tidak sebesar kuli bangunan. Ia hanya seorang guru yang lemah lembut yang mungkin sangat mustahil untuk bisa melepaskan diri dari lilitan tali yang kuat. Andaikan aku ninja… pikir Sakura sambil membayangkan dirinya menjadi seorang ninja yang bisa meloloskan diri ketika diculik. Hah, ia mengkhayal terlalu jauh.
Tiba-tiba saja, jemari Sakura menyentuh sebuah paku yang tertancap tidak terlalu dalam di kursi tempat ia diikat. Sakura langsung berinisiatif untuk menggesek-gesekkan tali yang mengikat pergelangan tangannya pada tancapan paku yang tak terlalu dalam itu. Awalnya ia berpikir mustahil untuk bisa memutus tali itu dengan cara digesekkan seperti itu, tapi karena pakunya sepertinya masih bagus dan tali pengikatnya juga sudah cukup lapuk, kenapa tidak dicoba saja?
Sakura terus menggesek-gesekkan talinya dengan sekuat tenaga. Ketika Konan datang ia langsung menghentikan kegiatannya itu dan tersenyum lebar padanya, menandakan tidak ada apa-apa dan semuanya oke-oke saja.
"Huh, jangan macam-macam kau," kata Konan yang setelah itu pergi. Hanya untuk mengatakan itu saja? -_- "
Sakura kembali menggesekkan talinya dengan segera, karena ia ingin cepat-cepat keluar dari tempat pengap ini. Berulang kali ia terus melakukan hal yang sama tapi tidak ada perubahan. Keringatnya bahkan sampai mengucur. Tuhan, tolonglah aku…
.
A Choice
.
Naruto dan Ino terus menerawang ke setiap sudut jalanan yang mereka lewati, siapa tahu orang yang mereka cari berhasil ditemukan. Tapi selama beberapa menit ini orang yang mereka cari belum saja berhasil tertangkap oleh mata mereka. Dengan menaiki sebuah mobil polisi yang berjalan perlahan, mereka semua mencari keberadaan Haruno Sakura yang hilang entah ke mana.
"Atau jangan-jangan lelaki brengsek itu yang menculik Sakura?" gumam Naruto, dengan mata masih terus mendelik keluar jendela mobil.
"Lelaki brengsek siapa?" tanya Ino.
"Muridnya yang kurang ajar itu. Dulu ia pernah membuat Sakura pingsan, sekarang ia menculiknya. Apa sih yang sebenarnya ia inginkan dari Sakura? Kenapa dia tidak pernah bosan untuk mengganggu kehidupannya? Mentang-mentang dia macam preman, ia berani mengganggu kehidupan orang yang tak punya salah padanya," jelas Naruto dengan muluk-muluk.
"Hei, aku tanya siapa namanya, Naruto," kata Ino.
"Kalau tidak salah U… Uchi… Ucha… Ha… U…"
"Uchiha Sasuke?" sahut polisi berkumis tebal yang sedang menyetir mobil itu. Yeah, yang tadi sempat membuat Naruto emosi.
"Nah! Itu dia! Uicha Sasuke!" Naruto mengacungkan jari telunjuknya.
"Uchiha Sasuke! Bukan Uicha. Ngomong-ngomong, Uchiha Sasuke itu siapa? Aku belum pernah dengar nama itu," kata Ino, yang kemudian kembali fokus pada jalanan.
.
Sementara itu, di dalam ruangan yang pengap, Sakura masih berusaha untuk melepaskan tali yang mengikat pergelangannya. Sudah beberapa menit lamanya ia melakukan hal itu. Namun, sampai saat ini dia belum berhasil juga.
"Hah, kapan ini akan berakhir? Aku sudah lelah rasanya. Ugh… Tanganku juga sudah pegal."
Sakura berhenti sejenak. Ia beristirahat sebentar karena menggesekkan tali semacam itu membutuhkan tenaga yang besar rupanya. Ia mengambil nafas dalam-dalam, kemudian menghembuskannya kembali. Setelah merasa cukup, iapun kembali melanjutkan aksinya untuk segera melepaskan tali yang melilit tubuhnya dengan cukup kuat. Ia ingin segera pergi dari tempat tak layak huni semacam ini. Ia ingin segera berbaring di kasur empuknya yang beberapa saat ini ia rindukan. Ia merindukan segalanya yang ada di apartemennya. Tidak pernah terpikirkan sebelumnya bahwa ia akan diculik oleh muridnya sendiri seperti ini.
Bagaimana dengan orang-orang di sana, ya? Apa mereka memikirkanku? Apakah mereka tidak punya firasat kalau aku sedang terjadi sesuatu yang buruk padaku? Naruto dan Ino… Apa tidak terpikir oleh mereka kalau aku sedang menanti pertolongan?
2 menit…. Masih belum bisa lepas.
4 menit… Tangan Sakura sudah hampir patah rasanya.
15 menit… Istirahat lagi.
20 menit… Sakura kembali melanjutkan.
38 menit… Sakura malah tertidur.
52 menit… Sakura terbangun, dan ia melanjutkan.
1 jam lebih 20 menit… Hampir! Tapi masih belum.
"Argh! Menyebalkan!" seru Sakura karena ia begitu kesal. Namun kemudian ia menenangkan dirinya. "Tidak, tidak. Aku tidak boleh menyerah. Aku… Aku harus bisa melepaskan diri dari sini. Aku tidak mau terus berada di sini karena aku tidak mau jadi guru yang gagal. Aku mau manusia itu berubah dan ia tidak boleh begini. Untuk itu, kalau aku benar-benar ingin jadi guru yang berhasil, aku tidak boleh kalah dari muridku. Ayo, Saku-chan, kau pasti bisa…"
Keringat Sakura mulai mengucur. Nafasnya juga mulai terasa sesak. Pandangan matanya juga mulai mengabur. Tubuhnya terasa begitu lemas sekarang. Tapi karena ia ingat ia punya tujuan yang sangat ingin dicapainya, ia berusaha untuk tetap kuat. Akhirnya ia kembali menggesekkan tali yang mengikatnya pada ujung paku. Ia terus melakukannya walaupun ia lelah, walaupun rasanya ia juga mengantuk, tangannya sudah pegal, banyak godaan yang membuatnya ingin untuk menghentikan hal tersebut, ia tetap berusaha untuk membebaskan dirinya. Ia tidak mau jadi guru yang gagal. Walau seperti apapun muridnya, guru tidak hanya berperan untuk memberikan ilmu, tapi juga mendidik dan memberikan pengaruh yang baik. Ya, itulah Sakura. Selalu ingin jadi guru yang berhasil. Walaupun ia bukan orang tua si murid, tapi apa salahnya jika guru juga membantu orang tua untuk mendidik dan memberikan pengaruh positif pada muridnya?
"Ah?"
Sakura terpekik. Matanya membulat dan keduanya tangannya berhenti bergerak. Nafasnya terengah-engah, keringat tak pernah berhenti mengucur pada keningnya. Tubuhnya yang tadinya begitu kuat dan tegap mendadak jadi lemas dan tak punya daya. Sakura menutup matanya, bernafas lega, kemudian terlelap sambil tersenyum.
…Apa yang terjadi padanya?
.
A Choice
.
Naruto dan Ino masih sibuk mecari Sakura. Malam memang sudah semakin tua, tapi dua orang ini masih saja betah mencari teman dan kekasih tercinta yang keberadaannya sampai saat ini masih belum diketahui. Sedangkan si polisi, ia menyetir dengan perlahan-lahan sampai terkantuk-kantuk.
"Hei, anak-anak. Mau sampai kapan kalian mencari teman kalian itu?" tanya si polisi. "Ini sudah malam. Sebaiknya kalian kuantar pulang dan melanjutkan pencarian besok."
"Eh, tidak bisa! Kalau hari ini masih bisa dicari kenapa harus menunggu besok?" protes Ino.
Naruto menghela nafas sejenak. "Sepertinya pak polisi benar. Lebih baik kita cari saja besok. Ini sudah malam."
"Naruto, kau ini bagaimana, sih? Kenapa besok? Apa kau tidak khawatir padanya? Bagaimana kalau si Uchiha itu berbuat macam-macam pada Sakura? Bagaimana kalau Sakura…"
"Sudahlah, Ino, tenang dulu!" seru Naruto, dan Ino langsung diam. "Kau pikir aku tidak mengkhawatirkannya? Aku juga khawatir padanya. Bahkan sama khawatirnya sepertimu. Tapi apa yang bisa kita lakukan sekarang? Kita sudah melewati setiap jalan yang ada di Konoha tapi Sakura masih belum ketemu. Ini sudah malam dan mungkin akan sangat susah mencarinya. Kau berteman dengan Sakura lebih dalam dariku. Kau pasti tahu seperti apa Sakura. Dia adalah orang tegar. Aku yakin dia akan baik-baik saja."
Ino memandang keluar lagi. Ia masih berharap manakala Sakura menampakkan dirinya secara tiba-tiba. Apapun keadaannya, entah ia terluka atau baik-baik saja, ia berharap bisa melihat Sakura sekarang juga. Yang penting ia bisa menemukannya sekarang juga.
Di seberang jalan, si polisi yang menyetir mobil itu melihat seorang gadis bertubuh tinggi sedang berjalan dengan langkah gontai. Ia terlihat begitu kelelahan dan kadang jalannya tersandung-sandung. Gadis itu berjalan tanpa alas kaki. Sepatunya tidak ia pakai, hanya ia bawa dengan tangannya. Rambutnya terlihat cukup acak-acakan. Matanya juga terlihat sayu. Pakaiannya terlihat kotor ketika ia berjalan melewati lampu jalanan yang cukup terang. Melihat hal tersebut, polisi bertanya pada Naruto dan Ino, "Apakah kalian kenal dengan orang ini?"
Naruto dan Ino langsung mengarahkan pandangan mereka pada gadis yang ditunjukkan oleh si polisi. Gadis bertubuh tinggi, kulit putih, rambut pendek, memiliki kaki yang indah, Naruto dan Ino merasa tidak asing lagi dengan orang ini. Itu Sakura!
Naruto meminta si polisi menghentikan mobilnya. Dengan cepat, ia dan Ino keluar dari mobil dan menghampiri Sakura yang sepertinya sudah tak ada daya untuk pulang ke apartemennya.
"Sakura!"
Naruto meraih lengan Sakura, dan gadis itu langsung mentap Naruto. Ternyata benar, dia Sakura. Ino menghela nafas lega dan ia mengucapkan kata terima kasih terus-menerus pada Yang Maha Kuasa. Ia benar-benar senang akhirnya Sakura selamat.
"Naruto… Ino…"
Sakura menatap dua orang yang dicintainya itu dengan tatapan yang mulai mengabur. Wajahnya begitu pucat dan ia terlihat begitu lelah. Rambut Sakura yang berantakan mulai dirapikan oleh Naruto. Ia tersenyum bahagia, akhirnya gadis yang dicintainya berhasil ditemukan dalam keadaan utuh. Walaupun ada beberapa bekas luka, tapi itu bukan luka yang serius.
"Aku… Aku lelah. Maukah kalian membawaku ke apartemen?" kata Sakura dengan begitu lemas.
"Iya. Kami akan membawamu ke sana," jawab Ino.
Naruto membantu Sakura berjalan ke mobil sedangkan Ino membawakan sepatu Sakura. Tiga orang itupun di bawa oleh si polisi ke tempat yang mereka inginkan. Naruto dan Ino benar-benar lega. Rasa senang mereka sampai tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Dalam perjalanan yang panjang itu, Sakura tertidur pulas. Setelah berusaha melepaskan diri dari sekelompok orang jahat yang hampir mencelakainya itu, akhirnya ia berhasil meloloskan diri. Dan setelah berusah-susah seperti itu, sekarang ia bisa tertidur dengan nyaman sambil tersenyum.
.
.
.
Lihat saja kau, Uchicha! Aku pasti akan membalasmu…!
To Be Continued
Halo, readers! Lama tak jumpa. Setelah hiatus beberapa bulan karena harus menghadapi ujian, saya kembali lagi. Maaf kalau saya hiatus tanpa pamit, soalnya saya benar-benar tidak ada waktu untuk internet. Tapi senang rasanya bisa ke sini lagi.
Untuk chapter 7 mungkin nggak ada menariknya sama sekali, karena saya lupa bagaimana cara membuat cerita yang baik (hah?). Lagipula ide yang saya temukan juga sedang pas-passan. Jadi mungkin cerita di chapter ini kurang memuaskan. Dan lagi, entah mengapa saya malah memberi judul "No Title" di chapter ini karena setelah libur berbulan-bulan dari FFN otak saya jadi benar-benar "bersih" sehingga tidak bisa memberi judul yang baik di chapter ini. Saya benar-benar memohon maaf yang sebesar-besarnya.
Akhir kata saya ucapkan terima kasih sudah membaca. Kritik dan saran saya butuhkan. Terima kasih…
