SILENCE -7-

Tittle : SILENCE

Author : Madam Reddo

Remake (hunhan ver)

Genre : Drama,Angst,Romance,Etc.

Cast : EXO and Others

Main Pair : HunHan

Rated : M

Lenght : Chaptered

.

.

.

.
.

A/N : Hai Hai Hai... Hanna bawa ff punya author yg ampe sekarang bener2 memberi kesan dalam dan karena ff inilah Hanna terjun pada yg Yaoi kkk Hanna pernah nge remake ini menjadi HunHong di facebook tentu dengan idzin madam sendiri,dan kali ini mau bkin versi HunHan di ffn kkk Ini bukan milik hanna oke! Ini punya madam dan ff ini aslinya 2Min,dah udah pernah di post di page mereka kkk

Sebelumnya hanna berterima kasih sama madam Red a.k.a Reddo Pisang Stroberi yang udah ngasih izin buat ngeremake ulang kemaren plus dah ngasih hanna semangat buat nulis aaaa madam I Love U FULL! 😘

Happy Readinnnggg...

.

.

.

.

.

:::...HUNHAN...:::

~HunHan~

Pov Sehun.

~ Satu-satunya yang aku butuhkan dalam hidup ku adalah, kau dan aku

Selamanya kau milik ku, Selamanya menjadi dunia ku

Kau adalah satu-satunya

Untuk menunjukkan bahwa aku milik mu~

.

.

.

.

.

.
.

Aku bukan apa-apa tanpa diri mu, aku bukan apa-apa…

Aku bersandar di sofa kamar ku, dengan Luhan yang sedang duduk di atas pangkuan ku, menyentuh dan mengusap-ngusap bibir ku.

''Kalau kau tidak bangun-bangun, aku jadi tidak bisa pergi ke kantor" Ucap ku. Sambil memandang Luhan yang sedang memandangi bibir ku. Sejak kasus aku menciumnya waktu itu. Luhan punya kebiasaan minta cium dan suka sekali memandangi bibir ku lalu mengusap-ngusap bibir ku, seakan-akan bibir ku ini memiliki sesuatu yang begitu menarik perhatiannya,bahkan membuat ku terkadang terkekeh geli melihatnya.

Aku meraih jemarinya yang sedang mengusap bibir ku. Mencium dan menggenggam erat jemarinya yang ramping dan mungil itu. kemudian menariknya lembut agar mendekat dan aku bisa menciumnya.

Berciuman menjadi suatu hal wajib yang akan kami lakukan sebelum aku pergi ke kantor, ke sekolah, sebelum tidur, bangun tidur atau disaat ketika Luhan memang menginginkannya. Bukannya aku juga tidak menginginkannya. Hanya saja yang sedang aku hadapi ini adalah orang paling polos sedunia.

Dia tidak tahu bahwa jiwa lelaki ku bergejolak. Ketika menciumnya dan tubuhnya berada sedekat ini. Hasrat seorang pria timbul dan ingin meminta lebih. Tapi aku tidak bisa memintanya, karena aku tidak ingin menyakitinya.

Ku rasakan hawa hangat dari mulutnya yang tersengal-sengal karena habis berciuman dengan ku, Dan wajahnya saat itu benar-benar sungguh menggoda ku.

Walaupun dia juga pria tapi orang sepolos dia, mana mengerti dengan apa yang aku rasakan saat ini.

Terkadang aku ingin berlari, menghindarinya. Tapi seperti yang Baekhyun katakan pada ku, Luhan tidak mengerti akan hal semacam ini. Dan aku tidak ingin melihatnya menangis lagi. Menghindar tidak akan menyeselesaikan apapun.

Aku jadi bingung dengan diri ku yang berkata tidak ingin menyakiti, tapi takut jika malah terluka sendiri. Dengan diri ku yang takut menyentuh, tapi sangat ingin menyentuh dirinya.

Aku mengangkat tubuhnya dari pangkuan ku, menggendongnya dan mendudukannya di sofa.

"Aku pergi dulu" Ucap ku lembut sambil mencium keningnya.

Satu-satunya pelarian ku adalah ke tempat kerja. Dengan alasan bahwa aku sangat sibuk akhir-akhir ini. Aku juga jadi jarang ke sekolah dan Luhan otomatis tidak pergi ke sekolah tanpa diri ku. Cara pelarian yang lebih baik dari pada aku terang-terangan menghindarinya, walau aku tahu dia pasti ingin pergi ke sekolah. Tapi setiap kali bersamanya aku benar-benar tidak bisa menahan diri.

.

.

.

.

.

Baekhyun menelepon ku, bertanya kenapa akhir-akhir ini aku jarang ke sekolah. Dan aku hanya berdalih bahwa aku sibuk.

Aku menutup telepon, kemudian menerawang memandang ke luar jendela di ruang pribadi ayah ku. Aku terkesiap dengan sosok yang berdiri di belakang ku yang terpantul di kaca jendela. Aku langsung berbalik.

"Ada apa Luhan? Kenapa kau berdiri diam begitu? aku pikir kau hantu"

Aku tidak tahu apa yang di pikirkannya. Apa yang telah dia lihat dalam diri ku. Karena matanya yang memandang ku seperti merasa khawatir. Dia menyentuh wajah ku kemudian merangkul ku. Kalau sudah begini aku benar-benar di buat tidak berdaya olehnya. Aku tidak bisa menolak walaupun aku ingin. Dan sialnya aku tidak ingin menolaknya.

Aku menariknya agar duduk di pangkuan ku. Merangkul pinggangnya.

"Sepertinya aku besok tidak sibuk, jadi kita bisa pergi ke sekolah" Seru ku. Dan seperti yang ku perkirakan, dia langsung tersenyum cerah dan mengangguk senang.

"Maaf membuat mu jadi harus terkekang di rumah" Kata ku tulus. Aku benar-benar menyesal membuatnya seperti ini, dia memang tidak pernah mengeluh dan aku secara tidak langsung memfaatkan kelemahannya yang tidak bisa bicara itu untuk kepentingan perasaan ku sendiri. Tanpa memikirkan perasaannya.

Lalu, aku harus bagaimana?

Aku pun menciumnya. Dan entah sampai kapan aku dapat menahan diri. Hanya waktu yang tahu. Tapi tidak sekarang karena aku belum siap. Belum siap melihat reaksinya.

:::::...HunHan...::::::

Aku terkejut melihat paman ku datang ke kantor ku. Entah sudah berapa tahun lamanya kami memutuskan hubungan. Aku tidak tahu kabar tentang mereka lagi.

"Aku mohon, pinjamkan aku uang, Suho sakit parah dan aku tidak punya uang untuk mengobatinya" Paman ku bersujud memohon di kaki ku sambil menangis. Tapi aku tidak merasa kasihan, rasa marah dalam diri ku masih bergejolak. Aku ingat dialah yang paling begitu menginginkan harta ayah ku dan paling marah besar pada ku. Bahkan kata ayah, dialah yang paling tidak memiliki hati. Karena saat ayah dan ibu ku susah dia sama sekali tidak mau menolong bahkan menendang ayah dan ibu ku keluar dari rumahnya seperti mereka pengemis, padahal ayah adalah adik kandungnya.

"Aku tidak meminjamkan uang begitu saja pada orang asing" Kata ku dingin. Menahan gejolak emosi yang bersarang di dada ku.

"Orang asing!" Pekiknya melengking. Merasa kata-kata ku begitu menghinanya.

"Aku ini paman mu"
Dia mulai naik pitam atas tingkah ku.

"Bukankah kita sudah putus hubungan, dan kalianlah yang memutuskannya"
Sahut ku datar. Hingga membuat dia terdiam tidak bergeming.

"Waktu itu.. Aku hanya emosi, maafkan aku, aku mohon, aku benar-benar butuh uang kalau tidak Suho bisa mati"

"Memangnya apa peduli ku, bahkan adik anda, ayah ku. mati saja anda tidak peduli, kenapa sekarang aku harus peduli pada anak mu?"

"Aku mohon, ampunilah aku, aku salah, aku mohon"

"Maaf aku ada rapat, dan masalah Suho, bila dia mati nanti tolong jangan mengabari ku, aku tidak tertarik"

Aku berbalik meninggalkannya. Namun beberapa detik kemudian dapat ku rasakan sebuah hantaman benda keras mengenai kepala ku.

.

...

Sehun pun jatuh pingsan tidak sadarkan diri.

...:::HunHan:::...

Aku berdiri sendirian dalam hujan, memandang kedua peti mayat di masukkan ke dalam tanah. Aku berteriak.

"Ayaaah, Ibuuu, jangan tinggalkan akuuuu, bagaimana dengan ku?" Tangis ku.

"Aku tidak bisa hidup tanpa kalian, aku tidak mau sendirian, aku.. "

Aku jatuh terduduk memandang hampa dua gundukan tanah dihadapan ku.

"Jangan tinggalkan aku, kenapa kalian pergi tanpa membawa ku"

Aku pun menangis histeris. Di depan kedua gundukan tanah tersebut.

"Sehun"

Aku menengadah, mencari arah suara itu. suara yang lembut.

"Sehun"

Siapa yang memanggil ku, aku tidak pernah mendengar suara ini tapi kenapa sepertinya aku begitu mengenalnya.

Tiba-tiba ku rasakan rasa hangat menjalar tubuh ku. Padahal aku kehujanan.

Apa ini? Ini adalah Luhan?

"Hangat" Pikir ku.

Meskipun ayah dan ibu tidak berada di sini, namun tangan ini, kulit ini pun hangat. Aaah, ya aku pasti akan baik-baik saja.

Perlahan aku membuka mata ku. Dan ku lihat wajahnya yang memandang ku khawatir dan matanya yang sembab karena habis menangis sepertinya. Aku tersenyum padanya, dia pun tersenyum lega sambil menekap tangan ku di pipinya.

Aku pasti baik-baik saja, karena sekarang aku tidak sendirian.

Aku menarik lembut Luhan dan mencium bibirnya. Saat itu aku tidak sadar bahwa aku sedang di rumah sakit dan diruang itu bukan hanya ada Luhan. Dan orang-orang yang berada di ruang itu hanya diam terpana menatap kami.

Aku memutuskan, aku akan hidup bahagia. Tapi untuk itu ada hal yang harus aku selesaikan. Sesuatu yang gelap dan sakit di bagian hati ku ini harus aku singkirkan. Agar aku bisa menjalani kehidupan dengan orang yang aku sayangi dengan perasaan bebas, tanpa beban, tanpa di bayang-bayangi oleh masa lalu yang hanya akan menghalangi ku menuju kebahagiaan. Jangan sampai wajah manisnya menunjukkan kesedihan karena masalah ku.

:::...HunHan...:::

Aku berdiri di ambang pintu rumah kecil kumuh tempat dimana paman dan keluarganya tinggal. Aku tidak pernah menyangka mereka hidup seperti ini. Tadinya aku datang kerumahnya yang dulu tapi ternyata mereka sudah pindah dan aku mencari keberadaan mereka.

Setelah kejadian dimana paman memukul ku dengan asbak. Dia kabur. Tapi aku tidak mengusutnya dan mengatakan bahwa kejadian itu sebuah ketidak sengajaan. Bahkan setelah keluar dari rumah sakit aku memutuskan mencarinya.

Aku mengetuk pintu rumah itu, dan beberapa detik kemudian pintu itu terbuka. Dan ku lihat wajah terkejut seorang pria paruh baya yaitu paman ku.

"Sehun? paman.. paman tidak…" Serunya terbata-bata karena kaget aku muncul tiba-tiba di depan rumahnya.

"Aku datang untuk memberikan ini pada paman" Aku menyerahkan sebuah cek padanya. Dia pun semakin terkejut dan bola mata hampir keluar karena terkejut ketika membaca cek itu.

"Sehun? ini?"

"Semoga Suho cepat sembuh, permisi" Aku tersenyum dan membungkuk padanya. Lalu berbalik hendak pergi.

"Tunggu!" Aku pun berhenti "Kenapa? Kenapa kau tidak menuntut ku?" Tanya paman ku.

Aku pun berbalik dan tersenyum padanya "Karena kau paman ku"

"Sehun" Panggil paman ku pelan. Tak percaya kata-kata itu keluar dari mulut ku bahkan reaksi ku padanya tidak pernah dia bayangkan sebelumnya.

"Paman, masa lalu yang tidak menyenangkan itu, akan aku lupakan, mulai sekarang aku ingin hidup bahagia. Permusuhan ku dengan kalian hanya akan membuat ku semakin terluka, dan saat itu seseorang yang aku sayangi akan sedih karenanya. Aku tidak ingin dia menangis lagi karena aku. Karena itu paman, kita lupakan saja yang telah lalu, kalau kau butuh pertolongan lagi, jangan ragu untuk datang pada ku"

Dan aku pun pergi meninggalkannya. Meninggalkan semua luka dan sakit bahkan rasa benci dan dendam. Aku tinggalkan semuanya. Mulai sekarang dan kedepan aku hanya ingin hidup dalam ketenangan. Bersamanya.

Mulai sekarang, aku akan memulainya dari awal, aku ingin hidup bahagia bersamanya.

Tidak ada hal lain lagi yang aku inginkan.

Aku melihat Luhan yang berdiri di samping mobil ku, menunggui ku dengan cemas. Saat melihat ku dia langsung berlari ke arah ku.

Cukup dengan melihat wajahnya sesaat, walau tanpa kata-kata, bisa sirna semua kejenuhan dan kepedihan sebelumnya.

…'Bagaimana?'… Tanyanya. Aku mengatakan padanya bahwa teman lama ku anaknya jatuh sakit dan aku mau menolongnya. Aku tidak ingin mengatakan tentang paman ku. Aku tidak ingin dia lebih khawatir.

…'Beres'… kataku mantap. Sambil memeluknya. "Terima kasih"

Dia melepas pelukan ku dan bertanya pada ku, kenapa aku berterima kasih padanya. Padahal dia merasa tidak melakukan apapun.

"Terima kasih, untuk selalu tersenyum pada ku."

Dia memiringkan kepalanya, bingung dengan perkataan ku.

…'Hanya karena itu?'….

…'Yah, hanya karena itu'… Balas ku mengulangi perkataannya dengan gerakan tangan ku.

Lalu dia menatap ku lekat-lekat.

…'Sehun, apakah ada yang bisa aku lakukan untuk mu?'…

Aku menekap kedua pipinya dengan kedua tangan ku. Sambil menempelkan dahi ku di dahinya.

"Yah, aku berharap, semoga kau selalu tersenyum di sisi ku. Selamanya"

Dia terdiam sejenak menatap ku. Lalu mengatakan bukan itu maksudnya.

"Tapi itulah yang aku butuhkan dari mu. Hanya itu"

Sebelum Luhan protes lagi, aku segera menciumnya.

Benar. Hanya senyuman darimu lah yang aku butuhkan.

~ Karena kau segalanya bagi ku

Kau selalu membuat aku merasa semuanya akan baik-baik saja

Karena itu kau adalah cinta sejati nyata dari kehidupan ku~

...:::HunHan:::...

Aku membaringkannya di tempat tidur ku dengan lembut. Kami pun berciuman, aku melumat bibirnya. Kemudian aku membuka kemeja ku. Luhan terpana menatap ku dan wajahnya menunjukkan pertanyaan kenapa aku membuka baju ku.

Saat ini, aku sudah tidak bisa menahan diri. Aku begitu menginginkannya. Menjadikannya milik ku. Utuh.

"Luhan.." Kata ku pelan. lalu aku mendekatkan wajah ku ke wajahnya, tangan ku menyentuh dagunya "Jadilah milik ku, milik ku seutuhnya"

::::::::...:::::::::

Pov Luhan

"Jadilah milik ku, milik ku seutuhnya"

Aku bertanya dalam hati. Bukankah aku ini memang sudah jadi miliknya?.

Ku rasakan Sehun menyentuh leher ku dengan bibirnya pelan,menggetarkan tubuh ku. Getaran yang berbeda bila kami berciuman. Kemudian dia membuka kancing kemeja ku dan bibirnya itu turun dari leher menuju kerongkongan lalu turun kebawah hingga ke dada. Membuat ku terkesiap akan perasaan yang aku tidak tahu apa. Lalu aku melihat tubuh Sehun, yang bertelanjang dada. Tubuhnya begitu indah, hangat dan lembut. Aku terpesona.

Kemudian ku rasakan tangan-tangannya yang meraba-raba tubuh ku dan bibirnya terus menjalari tubuh ku. Lalu aku ingat. Luka.

Aku mendorong Sehun dengan keras, membuatnya terkejut. Dengan segera aku menutup tubuh ku dengan baju ku.

"Luhan?" Tanyanya. Hendak menyentuh ku.

Aku menepis tangannya dengan kasar. Dan meringkuk memeluk lutut ku.

"Maaf, apakah aku menyakiti mu, maafkan aku Luhan"Ucapnya dengan wajah bersalah.

Tidak, kau tidak menyakiti ku. Aku hanya, hanya saja, luka-luka ini… aku malu. Aku tahu dia suka memandikan ku, dia pernah melihat tubuh ku, melihat luka-luka ini. Tapi kenapa? kenapa aku tidak ingin dia menyentuh ku seperti itu, pada tubuh ku yang seperti ini.

"Luhan.."

Aku pun menangis. Aku tidak tahu kenapa aku begitu sedih. Karena aku menjijikan.

...::::::::...

Pov Sehun

Sehun. Sebenarnya apa yang telah kau lakukan?. Dia pasti takut dan terkejut dengan tindakan ku.

Aku menatap Luhan yang menangis. Meringkuk ketakutan di hadapan ku. Membuat ku diam tidak berdaya.

Aku berjalan lunglai ke luar kamar. Saat menutup pintu, aku menekap wajah ku. Aku merasa kesal, Diri ku yang takut menyentuh, tapi sangat ingin menyentuh dirinya. Kenapa aku begitu lemah, kenapa aku tidak bisa menahan diri. Aku menyayanginya dan tidak harus melakukan hal semacam itu untuk memilikinya.

Sekuat apapun aku berhati-hati tetap saja ada kemungkinan aku akan melukainya.

Tapi, bagaimana pun juga aku ini hanyalah manusia biasa. Seorang pria biasa yang sedang jatuh cinta. Hati ku bergejolak menginginkannya. Salahkah? Egoiskah?.

.

.

.

.

.

.

Ku lihat Baekhyun masuk ke ruang pribadi ayah ku.

"Bagaimana?" Tanya ku tidak tenang.

"Tidak apa-apa, dia sudah tenang" Seru Baekhyun menenangkan ku.

Aku menelepon Baekhyun karena tidak tahu harus bagaimana menghadapi Luhan.

"Padahal aku tidak bermaksud…."

"Sehun… " Potong Baekhyun "Aku tahu kau gelisah, tapi kau tidak ingin memperlihatkan jiwa mu yang lemahkan? Jangan naif pada diri mu sendiri, Oh Sehun"

"Apa?" Tanya ku pada Baekhyun tak mengerti dengan apa yang di katakannya.

Baekhyun mendekat dan duduk di atas meja di hadapan ku.

"Kau ini Pria kan, dan kau mencintainyakan? Tidak ada yang salah kalau kau berkeinginan untuk memilikinya seutuhnya" Aku menatap sahabat ku. Aku kagum pada sahabat ku ini. Karena dia selalu mengatakan kata-kata yang membuat padangan ku terbuka. Mungkin karena aku sudah lama tidak bergaul dengan orang apalagi memiliki hubungan sedekat ini dengan seseorang. Sebenarnya aku dan Luhan tidak jauh berbeda, kami sama-sama awam dalam hal semacam ini. Hanya saja aku tahu tapi saat-saat itu aku benar-benar tidak berminat membuka pintu pada orang-orang untuk memasuki kehidupan ku. Tapi Luhan, dia benar-benar tidak paham sama sekali.

"Apa salahnya memperlihatkan kelemahan mu padanya? bukankah itu bagus bahwa dia mengetahui kalau kau juga bisa terluka karenanya? Jadi dia juga akan menjaga perasaan mu."

"Tapi aku tidak sanggup melihatnya yang menangis ketakutan karena aku"
Ujar ku pelan hampir putus asa.

"Dia menangis bukan karena dia takut pada mu, dia hanya malu" Ucap Baekhyun lembut.

Aku terperangah menatapnya.

"Malu? Dia malu?"

"Yah, dia malu, kau tahukan tubuhnya penuh luka, dia malu karena kau menyentuhnya sedemikian rupa,.. haahh kenapa aku harus terlibat pembicaraan yang seperti ini" keluh Baekhyun frustasi.

"Tapi bukannya aku tahu dan sudah melihat luka-luka itu, aku suka memandikannya, bahkan aku lah yang selalu mengobati luka-lukanya, kenapa dia harus malu?"

"Oh Sehun, memandikan dengan bercinta itu suatu hal yang berbeda, dan saat itu, dia belum sadar akan perasaannya terhadap mu. Lagi pula mana ada orang yang ingin memperlihatkan keburukan fisiknya saat bercinta, ketika dia mengagumi tubuh mu yang tanpa cela, dia berpikir bahwa kau akan jijik pada tubuhnya yang penuh luka,,,, aaaaaaaaaaaaaarrrrgggghhhhh lagi-lagi aku harus melakukan perbincangan yang memalukan,,, kalian ini.. Aigoo membuat ku frustasi,sungguh" Ujar Baekhyun gemas.

Apa? Ternyata dia berpikir seperti itu? Apakah aku sampai begitu tak dapat di percaya?

"Aku sangat mengerti perasaan Luhan, bila di tubuh ku penuh luka seperti itu, aku pun pasti merasa malu" Ujar Baekhyun.

Aku beranjak berdiri.

"Aku tahu, dan seharusnya aku lebih memahami perasaannya. Tapi saat itu aku tidak berpikir kesana, karena bagi ku, luka-luka itu adalah bagian dari dirinya, tidak terbesit sedikit pun aku… "

Aku menatap Baekhyun.

"Dia tidaklah menjijikkan" Tanpa sadar air mata ku jatuh, membasahi pipi ku. Rasanya menyakitkan, mengatakan kata-kata itu.

"Yah, dia itu maniskan?" Seru Baekhyun tersenyum lembut pada ku.

Aku mengangguk.

"Jadi, janganlah kau takut untuk menyentuhnya, dia terlalu manis untuk di abaikan." Baekhyun menggoda ku. Kemudian wajahnya sekejap berubah lembut " Hiduplah demi diri mu sendiri, Sehun"

Dan aku pun mengijinkan Baekhyun untuk merengkuh ku. Membenamkan ku dalam pelukannya. Aku… menangis.

Ternyata aku selemah ini. Dan aku tidak pernah menunjukkannya. Selama ini aku selalu bersikap 'sok kuat'.

...:::::::...

Pov Luhan

Aku menangis dalam pelukan Baekhyun, saat Baekhyun tiba-tiba berada di kamar ku. Baekhyun mengelus-ngelus kepala ku menenangkan ku. Tapi entah kenapa, dada ku rasanya sakit tidak karuan.

"Nah, Luhan maukah kau bercerita pada ku, Mengapa kau bersedih?" Tanya Baekhyun lembut.

(Di bawah ini, Luhan dan Baekhyun bicara pake bahasa isyarat,Yau!)

Aku mengangguk pelan.

"Aku tidak tahu apa yang terjadi, kenapa Sehun bertindak seperti itu hari ini, dan aku merasa aneh, kemudian aku merasa malu" Aku sendiri bingung dengan perkataan ku.

"Malu kenapa?"

"Saat Sehun membuka baju, tubuhnya indah sekali, tapi saat dia membuka baju ku, tubuh ku.. tubuh.." Aku menangis lagi.

"Tidak apa-apa, katakan saja" Baekhyun menenangkan ku.

Aku pun membuka baju ku dan memperlihatkan padanya luka-luka di tubuh ku. Dan entah kenapa aku sudah tidak takut ketika melihat luka-luka itu.

Ku lihat wajah Baekhyun yang menegang. Dia pasti jijik pada ku. Tapi ku lihat wajahnya melembut dan mulai menyentuh luka-luka ku.

"Kau pasti jijik?" Tanya ku.

Baekhyun menggeleng.

"Kalau boleh jujur, daripada jijik, aku merasa ini pasti menyakitkan"

Yah memang sakit, rasa sakit yang luar biasa hingga aku terbiasa karenanya. Padahal sudah lama sekali berlalu tapi rasa sakit yang di berikan pada setiap luka yang terlukis secara acak di tubuh ku ini, masih terasa.

"Sehun pasti jijik pada ku"

Baekhyun menekap pipi ku. Menatap tepat kearah bola mata ku,hingga aku melihat pantulan diri ku sendiri.

"Apa Sehun pernah mengatakannya? Apakah Sehun memperlihatkan wajah yang sedemikian rupanya bahwa tubuh mu ini menjijikan di matanya? Jika itu benar, lalu kenapa dia menyentuh mu bahkan dia…" Baekhyun terdiam sesaat memandangi tubuh ku dengan seksama.

"Lihat "Seru Baekhyun menunjukan tanda merah pada luka ku yang sepertinya tanda yang Sehun berikan ketika dia menyentuhkan bibirnya pada tubuh ku tadi. "Ini tanda bahwa dia tidak jijik pada mu. Ini tanda cinta"

Kemudian Baekhyun mulai membuka kancing atas kemejanya membukanya dan memperlihatkan tanda-tanda merah di tubuhnya.

"Seseorang yang aku cintai dan dia pun mencintai ku, memberikan tanda-tanda ini pada tubuh ku, membuktikan pada ku bahwa aku adalah miliknya. Tidak hanya jiwa dan hati ku tetapi tubuh ini pun adalah miliknya. Hanya miliknya "Baekhyun menekankan "Karena itu dia menandainya."

Aku terpesona dengan tanda-tanda merah di tubuhnya. Menyentuhnya.

"Sakitkah?"

Baekhyun tertawa terbelalak. Membuat ku kaget mendengar tawanya yang keras.

"Ah maaf, maaf.. " Ucapnya sambil mengusap-ngusap air matanya, padahal dia tidak sedang menangis "Rasanya.. Kau akan melayang diatas awan membuat mu berdebar-debar." Kemudian Baekhyun mendekati wajahnya dan membisikan sesuatu di telinga ku. "Pokoknya, ini saran ku, kalau Sehun melakukan sesuatu terhadap tubuh mu. Rasakanlah kelembutannya, menikmatinya, jangan takut"

Kemudian Baekhyun menatap ku mantap.

"Percayalah pada sikap tulusnya, kau itu sangat berarti baginya, dia tidak akan pernah berniat menyakiti mu"

"Kalau boleh tahu apa yang Sehun katakan saat dia melihat luka mu?" Tanya Baekhyun.

Tiba-tiba wajah ku panas karena malu.

"Hei, kenapa dengan wajah mu?" Baekhyun menggodaku.

"Dia bilang, aku manis" Aku menunduk malu.

"Waaaaah, tak ku sangka ternyata wajahnya yang sedingin es kutub dan hampir albino itu, bisa mengatakan kata-kata seperti itu" Baekhyun merasa kagum dan senang mendengarnya.

"Nah, itu cukupkan? Sehun tidak jijik pada mu, atau itu tidak cukup bagi mu"

Aku tidak tahu. Hanya saja, saat Sehun melihat luka ku. Aku tidak melihat sedikit pun di wajahnya yang tersirat bahwa dia jijik pada ku. Justru yang ada, wajahnya terlihat sangat lembut, begitu mempesona dan saat dia menyentuh luka ku. Aku merasa, ada sesuatu di dalam diri ku terlepas dan pergi. Kemudian aku pun tidak pernah merasa takut lagi saat melihat luka-luka ku.

"Luhan, kau mencintainyakan?" Tanya Baekhyun. Aku mengangguk mengiyakan.

"Dan Sehun pun mencintaimu, itu cukup, dan mulai sekarang kau harus mencintai dirimu sendiri, mencintai tubuh mu ini dan bangga padanya karena Sehun mencintai semua yang ada pada diri mu"

Saat Baekhyun mengatakan itu. aku senang sekali mendengarnya. Tiba-tiba aku teringat apa yang telah ku lakukan pada Sehun tadi. Sebenarnya apa yang ku lakukan? Bukankah Sehun telah mengatakannya kepada ku. Kenapa aku jadi ragu seperti ini? Sampai-sampai aku memperlihatkan wajah yang ketakutan seperti itu kepada Sehun. Dia pasti merasa tersiksa.

"Aku harus bertemu Sehun, aku telah melakukan sesuatu yang…"

"Tenanglah, tunggu saja di sini" Ucap Baekhyun sambil mengusap kepala ku.

Aku pun diam menurut. Dan Baekhyun pun beranjak turun dari tempat tidur.

"Oh iya, aku lupa satu hal yang sangat penting" Baekhyun langsung berbalik kepada ku.

"Kalau saat kalian melakukannya, yaitu namanya bercinta, ah aku tidak perlu menjelaskan secara detail.. pokoknya kalau kau merasa sakit saat Sehun melakukan sesuatu terhadap tubuh mu. Percayalah pada ku. Rasa sakit itu hanya sementara. Dan percayalah pada Sehun bahwa dia tidak sedikit pun pernah berniat menyakiti mu, seperti yang ku bilang, dia hanya ingin memiliki mu seutuhnya. Bahwa tubuh mu itu adalah miliknya… aaarrrrrgghhh apa sih aku bicarakan….Ugh!" Kemudian Baekhyun pun menghilang di balik pintu kamar yang tertutup.

Dan meninggalkan ku yang terdiam cengo tidak paham dengan ucapannya. Bercinta?. Ucap ku sambil mengikuti gerakan tangan yang dilakukan Baekhyun. Sakit? maksutnya?. ahh, sudahlah, lagi pula Baekhyun bilang aku harus percaya pada Sehun.

Lalu aku pun membaringkan tubuh ku diatas tempat tidur. Lagi-lagi perasaan ku yang melayang seperti ini muncul kembali. Kalau seperti ini pasti aku jadi ingin bertemu dengan Sehun.

.

.

.

.

.

.

.

"Luhan"

Aku membuka mata ku perlahan dan ku lihat Sehun duduk di samping ku di atas tempat tidur. Membuat ku tanpa sadar menyentuh wajahnya.

"Maafkan aku" Ucap Sehun lirih.

Aku menggelengkan kepala ku. Dan mengatakan padanya aku lah yang seharusnya meminta maaf. Aku begitu malu sehingga bersikap seperti itu padanya.

…'Maaf, aku sudah bersikap memalukan'… Kata ku padanya.

Sehun menyentuh wajah ku. mengelus pipi ku "Itu bukan suatu hal yang memalukan, justru aku lah yang jahat, tidak seharusnya aku tiba-tiba menyerang mu tanpa memberi mu persiapan sedikit pun"

Aku menggelengkan kepala ku lagi. Aku menatapnya. Aku sudah memantapkan hati ku. Aku ini memang bodoh dan tidak paham dengan situasi yang sedang ku hadapi. Aku tidak pernah berada di suatu kondisi seperti ini seumur hidup ku. Tapi yang aku tahu, saat ini di hadapan ku ada seseorang yang aku cintai. Seseorang yang dimana aku ingin selalu bersamanya. Tidak ingin terpisahkan. Aku ingin menjadi miliknya.. seutuhnya.

…'Sehun, aku ingin jadi milik mu seutuhnya'… Ku rasakan wajah ku panas tapi aku terus menatapnya. Dan ku lihat Sehun terpana menatap ku terkejut.

…'Aku percaya pada mu, dan aku minta maaf karena aku harus memberikan tubuh ku yang…, yang sangat tidaklah bagus ini'… aku ingin mengatakan tubuh ku yang menjijikan tapi Baekhyun bilang aku harus mulai menyayangi dan mencintai tubuh ku sendiri. Karena tubuh ini akan jadi milik Sehun. Karena Sehun mencintai ku jadi aku harus mencintai diri ku sendiri juga.

Ku lihat sesuatu yang tidak pernah ku lihat di wajah Sehun. Di menekap mulutnya dan menunduk, wajahnya terlihat sangat merah. Kemudian dia menatap ku.

"Apa Baekhyun yang mengajarkan mu mengatakan hal semacam itu?" Tanyanya parau.

Tidak juga sih. Tapi aku mengatakan hal semacam itu karena perkataan Baekhyun juga. Jadi aku pun mengangguk saja.

"Aaaeeesshh, sebenarnya apa saja yang Baekhyun katakan pada mu?"

Lalu aku bilang tentang bercinta. Tapi sepertinya Sehun tidak tahu gerakan tangan yang ku maksut? Jadi aku bilang bahwa saat melakukannya aku bakalan merasa sakit.

Aku menatap Sehun yang wajah semakin merah bahkan terlihat seperti tomat busuk. Pikir ku.

"Baekhyun, Awas jika ku temukan dia akan kuhajar"

…'Kenapa kau mau menghajarnya? jangan lakukan itu'… Kata ku menarik lengannya yang sedang mengacung tanda dia merasa kesal.

Membuat tubuhnya mengarah dan mendekat pada ku, mata kami pun bertemu dan saling bertatapan. Dan dengan gerakan yang begitu lambat Sehun menyentuh wajah ku dan mencium ku. Aku hanya mencengkram lengannya yang masih aku pegang tadi.

Setelah beberapa lama kami berciuman. Sehun membaringkan ku dengan lembut. Dan mencium ku lagi. Ku rasakan lidahnya yang bermain dengan lidah ku. Rasanya begitu dalam hingga hampir seperti hendak menembus kekerongkongan ku. Membuat ku terasa sesak tidak bisa bernapas. detik-detik kemudian sentuhan-sentuhan menjalari tubuh ku, aku pun berusaha untuk merasakan, menikmati yang seperti Baekhyun katakan. Yah. Rasanya memang aneh tapi aku menyukainya. Apalagi yang menyentuh ku adalah tangan dan bibir hangat itu.

Ku lihat Sehun membuka kemejanya, detik kemudian membuka kemeja juga celana ku, menelanjangi ku. Rasanya malu sekali.

" Luhan" Panggil Sehun lembut. Aku memandangnya dan melihat dirinya mengambil lengan ku. Dan terlihat jelas guratan-guratan luka ditangan ku.

"Mulai sekarang luka-luka ini milik ku" Dia menyentuhkan bibirnya ke salah satu luka di lengan ku. Menciptakan sebuah tanda merah. Tanda cinta, itu yang Baekhyun bilang pada ku.

"Seluruh luka-luka mu" Sambil menandai luka ku yang lain di lengan ku.

"Adalah milik ku, tidak akan ku biarkan terlewatkan seinci pun, aku akan memiliki seluruh luka mu, mulai sekarang ketika kau melihat luka pada tubuh mu ini, kau akan mengingat ku, hanya aku. Dan lupakan semua hal yang telah melukai mu ini"

"Sehun.." Panggil ku dalam hati. "Terima kasih". Aku pun hanya menangis dihadapannya. Tanpa bisa mengucapkan apa yang ada di hati ku.

~ Sehun, dengarkanlah…

Aku tidak pernah ingin kehilangan perasaan ini

Melihat tubuh ku yang membutuhkan penyembuhan

Dan kau perlahan menyembuhkan luka di tubuh ku, bahkan luka di hati ku

Aku akan membuat dunia ku, dunia ku yang hanya milik mu~

Sehun pun mulai menandai seluruh tubuh ku dengan tanda cintanya. Sesekali sentuhannya membuat ku terkesiap karena geli. Dan entahlah aku tidak tahu bagaimana mengatakannya. Rasanya seperti membuat jantung akan meledak rasanya karena berdebar begitu kencang. Bahkan tubuh ku bergetar hebat.

Sehun membalikan tubuh ku agar dia bisa menandai tanda cintanya di tubuh bagian belakang ku. Dari tengkuk ku turun ke tulang punggung ku hingga kebawah. Membuat ku bernapas naik turun tidak beraturan, Dan di kamar itu hanya terdengar desahan-desahan pelan dari suara ku.

Berapa lama kemudian Sehun membalikkan tubuh ku lagi. Kali ini mencium ku, menghisap bibir ku. Dan dapat ku rasakan tangannya menyentuh milik ku. Aku kaget dan sempat mendorongnya pelan.

"Tidak apa-apa, tenanglah Luhan, percayalah pada ku"

Suaranya yang berat dan lembut itu menenangkan diri ku. aku pun mengangguk pelan.

Yah, aku percaya pada mu. Sehun.

Menit-menit berikutnya ku rasakan rasa sakit luar biasa yang mendera ku. Tapi, lagi-lagi aku teringat akan perkataan Baekhyun. Dan Sehun pun berkata, untuk percaya padanya. Sehun tidak pernah berniat menyakiti ku. Ini hanyalah suatu proses, dimana untuk menjadikan ku miliknya seutuhnya.

Rasanya tubuh ku panas seperti terbakar. Rasanya aku ingin sekali berteriak. Tapi hanya rintihan dan desahan pelan yang keluar dari mulut ku. Dalam hati ku, aku terus menyebut namanya.

"Lu, kau tidak apa-apakan? Apakah aku menyakitimu?"

Aku hanya menggelengkan kepala ku. Lalu, aku menulis sesuatu di dadanya dengan telunjuk ku.

…'Panggil nama ku'…

Sehun menatap ku. Kemudian tersenyum kepada ku. Dia mendekatkan wajahnya dan ku rasakan deru napas hangatnya di telinga ku.

"Luhan.."

Aku pun tersenyum padanya. dan ku rasakan wajah ku memerah hingga kebagian telinga ku.

"Luhan" Panggilnya lagi. Aku suka sekali mendengarnya.

"Luhan, aku mencintai mu"

Aku terdiam sesaat menatapnya. Kemudian menariknya, merangkulnya. Memeluknya. Dan dalam hati aku berteriak.

Aku juga.

~ Aku hanya ingin sentuhan jari-jari mu pada ku

Aku milik mu

Tidak ada perasaan lain di dunia seperti ini

Ketika kita membuat keputusan bercinta

Cara kau menyentuh ku, cara kau mencium ku

Cara kau berbicara kepada ku, memanggil nama ku, membuat aku gila~

Ini menyenangkan, ini menyegarkan, dan yang terpenting ini begitu menghangatkan.

.

.

.
...

Pov Sehun

~ Aku tidak dapat melupakan perasaan ketika kau menatap langit-langit

Dan aku dapat merasakan napas mu, kau hanya berbaring, di sana hangat

Berapa lama pun, jika kau membutuhkan beberapa waktu

Aku tidak keberatan~

Mulai sekarang, kau adalah milik ku.. hanya milik ku.

Aku memandangi tubuhnya yang terbaring lelah tertidur setelah melakukan yang mungkin hal terberat bagi hidupnya, bahkan bagi hidup ku juga. Ku pandangi luka-luka ditubuhnya yang semuanya memerah karena perbuatan ku. Aku mengusap lembut luka yang paling besar di punggungnya. bertanya-tanya dalam hati dan ada rasa amarah yang bergemuruh hebat di hati ku. Siapakah yang tega melakukan hal semacam ini padanya? siapapun itu, aku bersumpah dalam diri ku. Aku tidak akan pernah memaafkannya, dan bila bertemu dengannya suatu saat nanti. Aku tidak akan segan-segan menghabisinya.

Aku tidak tahu apakah yang aku lakukan, dapat membuatnya lupa akan masa lalunya. Tapi aku akan mencoba menghilangkan kenangan yang menyakitinya dengan kenangan tentang diri ku. Hanya aku. Bisakah aku?.

Aku benar-benar menantikan hari esok, awal dari segalanya antara aku dan dia. Memulai hidup baru. Melupakan masa lalu dan terus melangkah kedepan. Menuju kebahagiaan.

~ Kau adalah satu-satunya dimana aku ingin menghabiskan seluruh hidup ku dengan mu

Jadi genggamlah tangan ku dan mengatakan bahwa kau tidak akan pernah melepaskannya~

.

.

.

.

.

~ Ingatlah bahwa Suatu hari…

Aku memegang tangan mu, Lalu mencium bibir mu

Aku mengatakan Cinta, dan itu untuk selamanya

Berikan aku kebahagiaan yang aku dapatkan dari mu

Aku yang selalu melihat mu, ketika Aku memejamkan mata

Kau yang selalu berada di pikiran ku.~

::::::..."...:::::::

Namun, nasib berkata lain…, karena ini merupakan awal dari sebuah mimpi buruk.

~to be continued~

Ehem! Ini Chapter 7 !
Bagaimana? Bagaimana? HunHan NC Looohhh meski gak eksplisit,Ini malam pertama HunHan wkwkwkkwkwk Luhan dah gak polos lagi wkwkwk #Pletak

Balasan review :
Luwinaa : Hanna bukan madam btw Wkwkkwk Iyah gak ada org ketiga ini az udah angst serem ap ge nambahin org ketiga -a Gomawoo dah review...

Guest : HunHan jadian gak yah? Hanna juga bingung yg jelas mereka saling mencintai dan OhSe memiliki Luhaen seutuh'ny eeeaaa Gomawoo dah review...

ChagiLu : Hanna berterima kasih Chagi dah review di Chap 5 dan 6 kkk Iyah akhir'ny mereka bersatu dan bukan hanya cium Luhaen dah gak virgin lagi eeaaa Gomawoo dah review...

Sfa30 : eoh? Qm lupa pernah baca ff ini? Itu mereka Nc kgak? #nunjukkeatas Gomawoo dah review...

Guest2 : Luhan polos tak tertahan kan kk mungkin gegara gak ad tv(?)
Gomawoo dah review...

Egatoti : Iyah Chanbaek pacaran.. Mereka bhkan sering lakuin kayak'ny tuh badan Baek bnyak kissmark'ny kkkk Gomawoo dah review...

Widiyasari : Hanna tersanjung atas review qm saey, gak usah seformal itu, cukup panggil Hanna,dek,ato saey biar lebih akrab nee.. :)
Dan Hanna seneng qm bisa ngambil suatu hal positife di ff ini dan mengerti penyampaian cerita ini..
Gomawoo dah reviewww...

KikyKikuk : Iyalah cerita'ny bagus bukan bikinan Hanna.. Kkk Hanna cman remake sedikit hanya 15% nya saja...
Gomawoo dah review...

Ada yang ketinggalan bisa PM Hanna...

BIG THANKS :
rikha-chan | NoonaLu | MinGyuTae00 | ruixi1 | ruriminhaha | sukhyu | sehunhan | chie-atsuko | psw7 | mr albino | appell-ijho | younlaycious88 | ramyoon | HunOhBoo | Uchiharuno Rozu | kiutemy | HUNsayHAN | luhannieka | luwinaa | Guest | ChagiLu | Sfa30 | Guest2 | egatoti | Widiyasari | kikyKikuk | princess-hangul | Oh SeRa Land | arvita-kim |

Ada yang gak ke sebut, Hanna minta maaf atas kekurangan Hanna yg masih kurang ngerti ma FFN. Dan Hanna sangat berterima kasih kalian mau meninggalkan jejak. Review,Follow dan Favorite maaf jika Hanna gak tau siapa az yg fav ato foll FF ini...

GOMAWOOOO...
SEE YOU NEXT CHAPTER...

REVIEW?