Hai hai minna-san tachi! Nacchan desu~! Nacchan lgi males nih, tpi...Nacchan ttp akan melanjutkan menulis chap kali ini! Oke, arigatou gozaimasu yang udh baca Fic Nacchan yang satu ini ya~! Hontou ni Arigatou! OKe, tanpa basa basi lagi, kita lanjut ke chap slanjtnya, Chapter 7!

Kataomoi Finally

Rated: T

Genre: Friendship, Family dan mungkin ada Romance-nya~!

Disclaimer: Yasushi Akimoto satelight

WARNING(!): Hati-hati ya minna-san tachi! Nacchan emg suka bkn kesalahan, jadi, fic ini byk typonya, trus gaje+abal, rada-rada kgk nyambung dan hal lain sebagainya!

REMEMBER ALL!

IF YOU DON'T LIKE IT, SO DON'T READ THIS FIC!


Pagi cerah telah datang. Matahari bersinar dengan teriknya. Walaupun matahri bersinar, hari ini cukup dingin. Jadi, Rena dan Jurina memakai syal menuju sekolah.

Rena menoleh ke arah kakaknya, menatap bingung. "Kenapa sedari tadi ia tersenyum riang, ya?" batin Rena.

Jurina terlihat senang dengan senyum riang-nya yang manis.

"Nee-san kenapa? Dari tadi senyum terus!"

"Eh, nanti...aku bakal pergi sama Satoshi-kun!"

"Satoshi-nii?"

"Iya" Jurina mengangguk mantap.

"Kemana?"

"Kepo banget sih~!"

"Ih, kasih tahu dong, nee-san!" Rena menggoyang-goyangkan tubuh Jurina.

"Hi Mit Su!"

"Nee-san pelit!" seru Rena melipat tangannya dan mengembungkan pipinya.

"Aduh, jangan marah dong say! Jadi jelek tuh paras manis mu!"

Rena hanya memalingkan kepalanya.

"Jurina!Rena!" seru seseorang.

Jurina dan Rena menoleh ke kiri, "Satoshi-kun!","Ren!".

Kedua makhluk itu mendekati kedua gadis itu. Mereka berjalan bareng menuju sekolah. Sepanjang perjalanan Satoshi dan Jurina terlihat berbincang-bincang dengan asyiknya. Sampai-sampai, Ren iri melihatnya. "Iri Ren?" tanya Rena.

"Tentu saja!" jawab Ren ketus.

"Jangan marah gitu dong, oh ya, hari ini ada PR Bahasa Inggris dan Kimia kan?"

"Ya...begitulah...ada IPS juga kan?"

"IPS? Yang mana?"

"Ituloh, latihan kemarin!"

"Oh...kukira apa...ternyata latihan itu!"

"Nomor 7 itu apa sih jawabannya?"

"Nomor 7..." Rena tampak berpikir, "masa sih gak tahu?"

"Aku lupa! Dibuku juga kagak ada!"

"Itukan pelajaran anak SD" Rena sweatdrop memandang Ren.

"Ayolah kasih tahu!"

"Hiroshima dan Nagasaki!"

"Hiroshima? Alah~! Aku jawab Kyoto dan Nagasaki!"

"Kyoto kan bekas ibukota Jepang!"

"Hehehe...aku lupa~!"

Jurina menoleh ke arah Ren dan Rena, "mereka memang pasangan serasi!"


"Hah..." nyawa Akane keluar dari tubuhnya melalui mulutnya.

"Kau kenapa, Akane?" tanya Kumin.

"Kena marah sama Sashihara-sensei!" jawab Rena.

"Kenapa?" tanya Kumin.

"Nilaiku...jelek..." jawab Akane.

"Oh...pantes...Sashihara-sensei itu guru tergalak di sekolah!" tutur Kumin.

"Oh ya? Menurutku tidak lho, dia hanya tegas dan tidak terlalu galak!" kata Rena.

"Terus, menurutmu siapa yang paling galak guru disini?" tanya Kumin.

"Hm...menurutku Takamina-sensei!" jawab Rena setengah berpikir.

"Iya juga, Takamina-sensei lebih mengerikan dari Sashihara-sensei!" gumam Kumin.

"Eh, kalau gak salah ada loh senpai kita yang kagak takut ama duo monster itu!" seru Akane yang sudah kembali normal.

"Siapa?" tanya Rena.

"Kalau gak salah, namanya Wakatabe Natsumi!" jawab Akane setengah berpikir.

"Wakatabe Natsumi..." Rena bergumam, "itukan salah satu sahabat Mayuyu-senpai, kan?"

"Kayaknya aku pernah ketemu deh sama dia..." gumam Akane.

"Aku juga..." Kumin berpikir sejenak, "ah! Itukan, gadis yang rambutnya di kuncir kuda terus poninya di jepit!"

"Ng...iya!Iya! Dia memang tidak takut kepada duo monster itu!" seru Rena setengah berpikir.

"Dia memang hebat, Sayaka-nee yang begituan aja takut sama duo monster itu!" seru Akane.

"Ia juga pandai bela diri kan?" tanya Kumin.

"Kalau gak salah sih iya" jawab Rena.

"Eh, itu Jurina dan Satoshi-senpai!" seru Akane.

"Mana..mana?" Kumin dan Rena segera menghampiri Akane dan melihat kedua makhluk yang sedang bercanda itu.

"Sekarang ini, Jurina dan Satoshi-nii semakin dekat ya!" tutur Rena.

"Iya iya!" kedua sahabatnya itu mengangguk.

Lalu, ponsel Rena berdering. Segera ia ambil dan melihat siapa yang Meng-SMS. "Eh, aku pergi dulu ya!"

"Mau kemana?" tanya Kumin.

"Mau ke lab! Ja ne~!"

"Ja ne~!"


Hari demi hari pun berlalu. Jurina dan Satoshi semakin dekat. Bahkan, Jurina kadang tak punya waktu untuk Rena. Alhasil, Rena kadang-kadang bersama Kumin dan Akane atau Ren. Kadang-kadang kelakukan Jurina itu membuat Rena marah. Tapi, Rena hanya bisa pasrah.

Hari ini, Rena membuat janji kepada kakaknya agar kakaknya itu kagak pergi kemana-mana hari ini. Setelah itu merek aberangkat sekolah. Selama disekolah, seperti biasa Jurina bersama Satoshi. Sedangkan Rena bersama Ren. Ren dan Rena sama-sama mengawasi kakak mereka. Kadang-kadang mengeluh dengan kelakuan mereka.

Pulangnya, Rena dan Jurina berjalan menuju loker sepatu. Rena sudah memakai sepatunya duluan, sedangkan Jurina masih menaruh sepatunya di lantai, dan baru memakainya.

"Jurina!" panggil Satoshi.

Jurina dan Rena menoleh ke arah Satoshi, "tidak! Jangan lagi!"

"Hari ini kamu mau ikut aku ke mall?" tanya Satoshi.

"Tentu saja aku mau!" terima Jurina.

"Tunggu dulu, kenapa ia mengiyakan ajakan itu? Apa dia lupa!?" batin Rena, "Nee-san kan sudah janji mau nemenin aku di rumah!"

"Besok besok kan bisa Rena-ku sayang!" kata Jurina.

"Ta..tapi..."

"Besok kan masih ada hari, nanti juga Jurina kerumah setelah dari mall!" tutur Satoshi.

Rena menundukkan kepalanya, ia mengepal tangannya. Ren yang berada 2 loker darinya menatap gadis malang itu, "Rena..."

"Dasar pembohong!" Rena menggigit bibirnya dengan berderai air mata, ya...Rena memang cukup cengeng. Rena lalu berlari keluar. Ren menatapnya dengan tatapan sedih.

"Rena, tunggu!" Jurina berlari mengejar Rena.

Ren menatap tajam Satoshi seakan-akan menyalahkannya. Satoshi hanya diam tidak berkutik dengan tatapan itu.

"Rena...maafkan aku, besok kan..." ucapan Jurina belum selesai.

"Besok besok! Besok kau ada janji lagi dengan dia! Selalu begitu! Selalu! Selalu bersamanya! Kapan denganku? Adikmu sendiri saja tidak kamu perhatikan!" seru Rena.

"Maafkan aku Rena, aku..." Jurina menundukkan kepalanya.

TIN..TIN...! Suara klakson truk. Jurina dan Rena menoleh ke arah suara itu. Ren dan Satoshi keluar, "JURINA!".

Jurina membulatkan matanya ketika truk itu semakin dekat.

BRAK! Truk itu berhasil menabrak seorang gadis kecil yang malang. Mata gadis satunya lagi membulat melihat apa yang didepannya, "RENA!".

Supir pengendara truk itu turun dan mengangkut Rena. "Rena..Rena! Kamu tidak apa? Jawab aku Rena! Jawab aku!" Jurina menggoyang-goyangkan tubuh adiknya itu.

Mata Rena sedikit terbuka, dengan darah yang bercucuran,"Nee-san..."

"Rena! Maafkan aku Rena! Aku lupa akan janji tadi pagi! Kumohon maafkan aku!"

Rena tersenyum, "maaf...di...terima..." Rena langsung tak sadarkan diri.

"RENA!"

Ren langsung merogoh ponselnya dan menelepon ambulan dengan cepat. "Rena...maafkan aku! Harusnya aku tidak menerima ajakan itu! Jadi, tolong sadarlah! Jangan tinggalkan aku seorang diri, Rena!" batin Jurina.


Nacchan: Hiks..hiks *nangis*

Sayaka: Sungguh..hiks...menyedihkan! *nangis*

Mayuyu: Kalian ini kenapa sih? Kayak orgil aja!

Nacchan: Ntuh film sungguh menyedihkan!

Mayuyu: Emang film apa sih? *ikutan nonton*

Sayaka: Adiknya tertabrak truk! Dan kakaknya meminta maaf karena dikira semua salahnya!

Mayuyu: Hiks...menyedihkan *ikutan nangis*

Arigatou Gozaimasu

Next Chapter in Kataomoi Finally:

Hm...tau ceritanya, cuman...cuplikannya ini yang susah! Jadi, cerita selanjutnya ialah ketika hari-hari Rena dirawat di rumah sakit! Jurina marah kepada Satoshi dan Satoshi marah kepada Rena. Rena? Sepertinya ajal akan menjemputnya!