7 : Darmawisata
Rin menunggu dengan gelisah di rumahnya, sementara Gakuko masih belum bisa dihubungi. Gumiya tampak lebih santai, meski Rin tahu pemuda itu juga gelisah. Sudah satu setengah jam setelah jam pulang sekolah, dan seharusnya gadis itu paling tidak sudah bisa memberi kabar. Memangnya seburuk apa sih hasil komprominya? Memang, yang diajak kompromi itu Hiyama Kiyoteru, si guru Monster Es; tapi kan tetap saja, tidak mungkin benar-benar seburuk itu. Lagipula, kemungkinan terburuknya, akan terjadi apa, sih?
"Mungkin baterainya habis," kata Gumiya sambil mengotak-atik laptopnya, lalu meneguk es limunnya. "Jangan terlalu panik."
"Aku nggak panik, Gumiya," bantah Rin sambil mengerutkan keningnya. Ia tahu ia reflek berbohong, tapi ia tidak sepenuhnya berbohong. Ia panik, dan ia juga tidak panik. Ia hanya penasaran memangnya komprominya seperti apa, sampai Gakuko sama sekali tidak bisa memberi kabar. Pemuda hijau di sebelahnya memang ada benarnya juga, ada kemungkinan baterai ponsel Gakuko habis. Kalau sudah begitu ya, mau bagaimana lagi. Tidak ada orang yang suka kalau batu baterainya habis.
Rin memutuskan untuk menunggu dengan lebih sabar sedikit lebih lama lagi. Sekitar sepuluh menit kemudian, Gakuko masuk ke kamar dengan nafas terengah-engah, tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Keringat mengalir pelan di pelipisnya, dan rambutnya berantakan karena tertiup angin dan guncangan yang agak kencang akibat berlari terburu-buru.
"Maaf lama," katanya di sela-sela nafasnya yang memburu. Gumiya dan Rin memberi isyarat untuk istirahat dan menstabilkan pernafasan terlebih dahulu. Bagaimana pun juga, akan percuma kalau Gakuko berbicara sambil terengah-engah begitu.
Setelah duduk dan bernafas dengan normal, Gakuko kembali melanjutkan 'laporan'nya. "Jadi, Hiyama-sensei setuju dengan ide agak gila kita," katanya sambil tersenyum senang. "Meski memang, ia memberi beberapa syarat. Ini rahasia sekali, ya, aku hanya memberi tahu ini pada kalian. Ya memang sih, yang berkaitan hanya kalian, tapi—yah, pokoknya ini rahasia! Selama darmawisata, aku perlu membantunya melakukan beberapa hal—di kuil."
"Apa?" Gumiya dan Rin sontak membeo dengan wajah kebingungan.
"Kuil?" Rin menaikan sebelah alisnya. "Syarat yang agak aneh— tunggu, jangan-jangan dia ada hubungannya dengan semua ini!"
"Hah?"
"Rin ada benarnya. Kenapa ia butuh bantuan di kuil, dan menyetujui ide gila kita? Kemungkinan besar dia dalang dibalik semua ini," tambah Gumiya. "Kalau begitu, kami dengan senang hati akan membantu."
"Aduh— tapi nanti ketahuan dong, kalau aku membocorkan rahasia?" Gakuko tampak cemas.
"Jangan khawatir, kami saja yang memergoki kalian. Kau mengabari kami secara diam-diam, dan—tara! Sisanya serahkan padaku dan Gumiya." Rin tersenyum lebar, tampak sangat bersemangat.
"Yah, ide kalian tidak buruk juga. Semoga saja dia memang dalangnya, jadi masalah kita bisa cepat selesai," sahut Gakuko sambil tersenyum tipis, secerah harapan merekah sedikit di dalam hatinya. Meskipun terkesan agak aneh—karena Hiyama-sensei hampir tidak pernah berinteraksi dengan murid. Untuk apa ia menukar posisi hidup kedua muridnya? Iseng? Sepertinya tidak mungkin.
"Tapi bagaimana kalau ternyata bukan dia dalangnya?" tanya Gumiya dengan hati-hati.
Rin dan Gakuko terdiam. Bagaimana kalau dalangnya orang lain, dan semua yang Hiyama-sensei minta hanyalah sesuatu yang kebetulan mendukung keadaan mereka?
"Yah." Rin angkat suara, "memangnya kita bisa merencanakan sesuatu dari sekarang? Kalau ternyata bukan Hiyama-sensei ya, kita cari lagi. Ini kan bukan sesuatu yang perlu kita rencanakan dari awal, setidaknya untuk rencana ini."
Pasti begitu, kenapa Gumiya menanyakan hal aneh seperti itu, sih? Hiyama-sensei benar dalangnya atau bukan, itu kan urusan nomor sekian. Pokoknya pergoki mereka dulu, dan gali informasi sebanyak-banyaknya.
"Semua naik ke bus," perintah Hiyama-sensei.
Pagi itu, murid-murid sudah siap untuk pergi darmawisata selama tiga hari di pedesaan. Hiyama-sensei, Dell-sensei, Meiko-sensei, dan Megurine Luka-sensei tampak sibuk mengabsen murid-murid dari lima kelas itu sembari mereka naik ke bus dan mencari tempat duduk favorit masing-masing. Tempat mengabsen memang per kelas, namun itu dibuat dalam barisan-barisan di depan bus. Begitu selesai diabsen, mereka bebas memilih bus yang ingin ditumpangi. Gumiya dan Rin mengira kejadian langka ini juga hasil desakan Gakuko, tapi ternyata gadis itu tidak melakukan apapun.
"Mungkin para guru ingin merubah suasana?" Gakuko mencoba memberi dugaan.
Rin tidak bisa benar-benar membantah dugaan itu, jadi ia diam saja. Ia dan Gakuko berbaris di tempat yang berbeda, dan mereka sudah sepakat untuk duduk berdekatan. Begitu giliran Gakuko masuk ke bus, ia langsung menyisakan tempat duduk untuk Rin dan Gumiya. Semuanya lancar, sebelum Mikuo masuk dan langsung duduk di sebelah Gakuko tanpa aba-aba, dan tanpa memberi kesempatan bagi gadis yang panik itu untuk protes.
"Kata sensei kan tidak boleh booking tempat duduk," celoteh pemuda berambut teal itu dengan ringan, dilengkapi dengan cengiran iseng di wajahnya.
"Aku mau duduk di sebelah Rin," tukas Gakuko tidak mau kalah. Tapi tetap saja, Mikuo tidak bergeming. Gakuko mulai bertanya-tanya apa Mikuo memang sekeras kepala ini.
Begitu Rin dan Gumiya masuk, mereka tampak kaget dan bingung sendiri melihat Mikuo yang duduk di sebelah Gakuko. Rin tidak perlu menjelaskan lagi, Gumiya sudah paham setelah mengamati mereka beberapa saat. Gakuko tampak benar-benar menyesal, dan Mikuo menunjukan tand-tanda 'apapun yang terjadi aku tidak akan pindah'. Akhirnya, Gumiya dan Rin memutuskan untuk duduk di depan mereka. Len yang masuk agak terakhiran hanya mengernyitkan keningnya melihat Gakuko (yang dalam ingatannya adalah Rin, tentunya), duduk di sebelah Mikuo.
"Kukira kalian sudah putus?" katanya.
"Oh, memang. Tapi kami tetap berteman baik," jawab Mikuo dengan cepat.
Rin langsung menoleh pada Gakuko melalui celah antara kursi dengan jendela."Dia memang begitu, agak narsis dan keras kepala," bisiknya.
Gakuko hanya meringis mendengarnya. Kenapa ia harus terjebak dengan orang yang tidak begitu ia kenal, sih? Terlebih, orang itu mengingatnya sebagai mantan pacar sekaligus sahabat karibnya! Ya Tuhan, beruntung sekali Rin bisa duduk dengan Gumiya. Tapi tidak—tidak boleh iri. Lagipula, ini kesempatan yang bagus untuk mendapat teman baru. Yah, meski anggapan itu hanya berlaku baginya.
"Seriusan deh Gakuko, kau berubah sekali akhir-akhir ini," celetuk Mikuo tiba-tiba.
Bus mulai berjalan, dan Gakuko menghela nafas panjang dengan kasar ketika mesin bus menggerung. Ia benar-benar tergoda untuk memberi tahu Mikuo yang sebenarnya. Setidaknya, agar pemuda itu tidak terlalu akrab dengannya. Ia agak risih. Dan alhasil, dia malah mengabaikan Mikuo.
"Hei, Gakuko." Mikuo menoel pelan lengan gadis itu. "Kau bukan Gakuko yang kukenal, ya?"
Gakuko langsung menoleh ke arah Mikuo, dan Rin langsung menegang begitu mendengar hal itu. Gakuko menelan ludah perlahan, nyaris bertanya 'bagaimana kau tahu, akhirnya?' sebelum Mikuo melanjutkan, "Ya ampun, aku hanya bercanda. Jangan berwajah seram begitu, dong."
Harapan Gakuko dan Rin langsung pupus seketika. Gumiya, sudah memakai head-set dan tidur. Setidaknya pemuda itu tidak kena PHP menyebalkan dari seorang Hatsune Mikuo. Gakuko memijit pelipisnya perlahan, lalu melihat keluar jendela. Ia benar-benar ingin tidur saat itu juga, agar Mikuo berhenti mengganggunya.
"Gakuko, kita mulai dari awal saja, ya?" ujar Mikuo pelan, terdengar berbeda dari sebelum-sebelumnya. Gakuko melirik Mikuo sedikit dari ujung matanya. Pemuda itu tampak menyesal, ia memainkan jari-jarinya dengan gelisah. "Kau tampak tidak nyaman denganku semenjak kita putus. Mungkin, kita ulangi dari awal, ya? Dari teman sekelas, yang belum kenal satu sama lain kecuali nama."
Andaikan Rin mendengar hal itu, ia pasti sudah nyaris menangis. Untungnya, ia sudah mengikuti jejak Gumiya dengan mendengar lagu dari head-phonenya. Kini tinggal Gakuko, yang kebingungan akan menjawab apa. Tapi tawaran itu sangat menggoda. Mengulang semuanya dari awal, itu artinya ia akan menjalani hubungan yang semestinya dengan Mikuo. Dan tanpa pikir panjang lagi, ia mengangguk. Mikuo tersenyum senang melihatnya.
"Baiklah, Kagamine, mohon bantuannya," ujar Mikuo.
Gakuko tersenyum tipis. Ia mulai menyadari kalau sebenarnya Mikuo orang yang cukup baik. "Gakuko saja tidak apa-apa, kita teman sebangku, kan?"
Lalu, senyum lebar merekah di wajah Mikuo, dan kedua pipinya memerah.
Begitu sampai di tempat darmawisata, para murid langsung merenggangkan badan. Sekujur tubuh mereka pegal-pegal, karena duduk terus di bus hampir selama empat jam penuh. Mereka masih harus berjalan sedikit ke daerah padang rumput untuk mencapai penginapan. Dan begitu melihat penginapan yang mereka tuju, rasanya tidak sia-sia perjalanan jauh yang sudah mereka tempuh.
Bangunan tradisional Jepang yang besar dan megah menjulang cukup tinggi di hadapan mereka. Kayu-kayunya yang berwarna coklat hingga coklat tua masih sangat rapi dan mulus, begitu pula dengan cat-cat merah, hijau, dan genting-gentingnya yang mengkilat. Begitu masuk, mereka disambut langsung oleh pemilik penginapan— yang merupakan sepasang suami-istri yang sangat ramah. Mereka mengenalkan kamar-kamar, ruang makan, taman belakang, dan sebagainya. Setelah tour singkat, para murid langsung menuju kamar mereka masing-masing.
Gakuko satu kamar dengan Rin dan Miku, dan Gumiya dengan Mikuo dan Len. Kamarnya sederhana, namun sangat manis. Tatami berwarna krem yang manis dan segar, serta cat ruangan yang senada. Tiga futon sudah digelar dengan rapi, dengan kotatsu di tengah ruangan. Sangat menyenangkan.
"Ini luar biasa," komentar Miku, gadis berambut teal dan bermarga sama dengan Mikuo; Hatsune. Namun, mereka tidak memiliki ikatan darah sama sekali. Hanya dua insan yang kebetulan memiliki nama serta penampilan yang sama dan nyaris sama.
"Aku harap dengan ini kita bisa menjadi lebih akrab, Hatsune-san," timpal Rin yang juga merasa bersemangat.
"Panggil Miku saja," jawab gadis itu sambil tersenyum riang. "Aku juga langsung memanggil nama kalian tidak apa-apa, kan?"
"Tentu saja," jawab Gakuko tiba-tiba, dengan ramah sekaligus bersemangat. Ia sendiri kaget akan tindakannya, tapi Rin dan Miku hanya tertawa renyah melihat sikapnya yang agak canggung.
"Gakuko-chan ternyata lucu sekali, ya. Kukira hanya maniak jeruk yang berisik dan galak," celoteh Miku tanpa rasa bersalah sama sekali.
Rin meringis mendengarnya, dan kali ini Gakuko yang tertawa renyah. Belum sempat mereka bercengkerama lebih lanjut, tiba-tiba Megurine Luka-sensei masuk ke kamar.
"Kagamine Gakuko, kau dipanggil Hiyama-sensei," ujarnya.
Rin berusaha tidak mengindahkan pengumuman itu, dan Gakuko berusaha untuk tidak melempar pandang pada siapapun. "Baik," jawab Gakuko sambil berdiri, lalu keluar kamar dan mengikuti Megurine Luka-sensei.
Hiyama-sensei sudah menunggu di lobby, bersama seorang wanita berambut merah jambu yang nyaris seindah milik Megurine Luka-sensei. Setelah berterima kasih pada Megurine Luka-sensei, Hiyama-sensei langsung mengajak Gakuko dan wanita itu keluar penginapan. Mereka menuju sebuah bukit, dan dari kejauhan Gakuko sudah dapat melihat gerbang kuil yang merah mentereng itu.
"Kita akan sembahyang apa di kuil, Sensei?" tanya Gakuko sembari mereka berjalan.
Wanita itu tersenyum geli mendengarnya. "Sensei, Kiyo?" ia berkata dengan nada bercanda, sekaligus mengejek.
Hiyama-sensei tampak merengut sedikit, lalu wajahnya kembali seperti biasa. "Kagamine-san, ini Furukawa Miki, temanku. Miki, ini Kagamine Gakuko, muridku. Kalian akan membantuku meneliti kuil Inanomori ini. Semoga kalian tidak saling mengganggu," ujar Hiyama-sensei.
"Kami sih pasti akrab, ya kan, Gakuko-chan?" Miki langsung merangkul gadis itu sambil tersenyum senang. "Oh ya, panggil saja si idiot ini Kiyoteru kalau sedang keluar. Aku geli sendiri mendengarnya dipanggil 'sensei'."
Hiyama-sensei tampak mendelik pada Miki, tapi kemudian ia menghela nafas tipis dan mengedikan bahunya. "Miki yang akan banyak membantu, jadi turuti saja keinginannya."
"Eh?! Tapi kan— tidak sopan sekali," ujar Gakuko panik.
"Tidak, kok!" Miki tertawa pelan, entah serius atau bercanda. Tapi tampaknya ia benar-benar tidak ingin Gakuko memanggil Hiyama-sensei dengan 'Hiyama-sensei', jadi Gakuko berpikir keras untuk mencari penggantinya. Tentu saja memanggil nama secara langsung akan membuat suasana sangat canggung.
"Kurasa, aku akan memanggil Anda dengan 'Kiyoteru-nii'?" Gakuko melirik gurunya yang terkenal galak dan dingin itu.
Hiyama-sensei—Kiyoteru—melirik Gakuko sebentar, lalu kembali melihat ke depan. Seulas senyum tipis muncul, dan ia berkata, "Yah, tidak buruk juga."
Dan saat itu juga, Gakuko merasa bahwa ia akan mengetahui banyak sekali rahasia dalam waktu dekat.
