Bleach -0- Tite Kubo

Snowflakes

Part 7

.

.

.

Usai seminggu berlalu. Lanjutan pertemuan keluarga pun dilakukan hari ini setelah Rukia menuntaskan ujian.

"Mari! Silakan masuk, nona-nona cantik."

Bersama Kak Hisana, Rukia mengekori langkah sang kepala keluarga Kurosaki. Cukup mudah bagi mereka menemukan lokasi rumah dari deretan kompleks perumahan asri Karakura ini. Satu-satunya rumah yang memiliki sebuah klinik sederhana.

Suatu waktu jika mereka datang kemari lagi tanpa dijemput Isshin, mereka hanya perlu menanyakan dimana letak klinik dokter Kurosaki itu pada orang-orang.

Sementara pasangan di depannya telah memasuki rumah, Rukia masih termangu di halaman rumah yang ditumbuhi rerumputan hijau. Tak seperti rumah mereka yang perkarangannya hanya dilapisi semen, di hunian ini—dimana tak ada seorang ibu yang mengurusi rumah—malah begitu sejuk.

Belum mau mengikuti jejak Kak Hisana yang sudah berada di dalam rumah, gadis itu tertarik membawa langkahnya berkeliling sejenak di tiap sudut halaman.

Pohon plum dengan mahkota putih tumbuh kokoh di bagian Barat rumah. Takut-takut ia bergerak mendekati sisi pohon, menangkap lebih banyak warna-warna suci kelopak bunga yang mekar di tiap ranting.

Angin sepoi-sepoi tak luput merayunya untuk terus berada di tempat teduh itu.

Berada di sini membuat hatinya tentram. Aroma bunga plum. Beberapa kelopak bunganya berguguran, jatuh bertebaran di rerumputan. Tidak aneh kalau Ichigo adalah salah satu dari banyak pria yang berhati baik. Sebab dia tinggal di rumah sebaik ini, sih. Mengingat ketulusan Ichigo, membuat Rukia tertunduk muram.

Ada beban tersendiri saat mengingat bagaimana kejamnya dia menolak pria itu.

Karena, pertama agak aneh ketika tahu bahwa Ichigo belum tahu apapun mengenai hubungan Kak Hisana dengan ayahnya. Kedua, dia begitu frustasi ketika Ichigo seolah tak memiliki dosa apapun karena menciumnya dan mengencaninya, padahal jelas-jelas pria itu tengah dekat dengan seorang wanita molek bertubuh sesintal gitar spanyol. Ke tiga, Rukia semakin dibingungkan pada tingkah jahil Ichigo padanya, pria itu selalu bertingkah layaknya remaja ingusan yang hobi bercanda padahal dia sudah berumur 23 tahun!

Maka Rukia tidak mempunyai alasan menolak yang lebih pintar selain daripada perbedaan usia. Walaupun sebetulnya ia belum berani berspekulasi kalau Ichigo benar-benar jatuh hati padanya.

Tak pernah terpikirkan dalam hidupnya kalau ia akan menolak dua pria sekaligus.

Hitsugaya ditolaknya. Alasannya, karena ia tidak ingin menikah dengan pria pendek demi perbaikan keturunan. Sedangkan Ichigo, ia tolak karena perbedaan usia mereka yang berjarak enam tahun.

Aduh! Rukia membentur-benturkan kepalanya di batang pohon plum. Menyadari betapa konyolnya alasan yang ia buat untuk menolak mereka.

Hati gadis itu masih sangat muda. Masih sangat mudah goyah dan peragu. Dia tidak berani langsung memakan omongan pria tentang cinta secara mentah-mentah.

Walaupun ia bukan model perempuan pemilih, setidaknya Rukia tetap membutuhkan kesungguhan dari pria yang menyukainya. Tetapi hatinya yang muda itu terlalu cepat mengambil keputusan.

Ia tidak butuh berpikir dua kali hanya demi menolak seseorang, tidak ingin memberikan harapan berlebihan jika akhirnya tetap akan berakhir.

Hanya saja, hatinya yang muda itu menjadi rancu—menjadi gamang kala sosok Kurosaki Ichigo muncul di sudut tergelap hatinya. Sulit dipungkiri bahwa gadis itu pun pernah tertarik pada pria itu. Pernah berharap mereka akan menjadi pasangan kekasih. Dan bayangan manis itu mesti dikubur agar tak terlihat oleh siapapun. Fakta pahitnya, ia harus menyerah sebelum berjuang.

Ichigo? Dia pasti benci sekali padanya. Rukia mengembungkan kedua pipinya kemudian menghempaskan punggung hingga tersandar nyaman di batang pohon plum. Mendongakkan kepala, ia memandang nanar pada kelopak-kelopak bunga mungil di atas sana.

"Rukia-chan!"

Seruan Isshin lekas menghentakkan Rukia dari lamunan, "Apa yang kaulakukan di situ?" Isshin berlarian kecil mendekati posisi Rukia yang mematung.

"Ma-maaf. Aku hanya kagum pada pohom plum ini, makanya sampai lupa masuk rumah."

"Benarkah?" seraya menggaruk pipi kanannya dengan jari telunjuk, Isshin menoleh pada sosok Rukia yang tersenyum canggung. "Ini pohon peninggalan istriku. Sedangkan di sana," ditunjuknya kamar yang bersebrangan dengan letak pohon plum, "Kamar putraku. Istriku sengaja menanam di sini agar saat musim semi, Ichigo bisa langsung mendapatkan pemandangan paling cantik."

"Kau pasti sangat menderita saat melihat pohon ini."

"Aaa—tidak juga."

Rukia menoleh lalu buru-buru meminta maaf. Menceritakan luka lama terlebih lagi pada seseorang yang akan menempuh kebahagiaan baru, bukanlah hal yang sopan, tapi—"Isshin-san. Maaf kalau kau akan terganggu dengan pertanyaanku." Hati-hati Rukia kembali membuka mulut, "Kenapa kau mau menikah lagi?"

Isshin terkekeh lalu mengulangi pertanyaan gadis itu, "Kenapa aku mau menikah lagi? Kukira kau akan bertanya, kenapa aku mau menikah dengan kakakmu?" sekali lagi ia mengeluarkan suara tawa, membuat Rukia benar-benar malu karena ditertawakan.

"Tanyakan saja pada kakakmu," jawab Isshin seraya mengedipkan sebelah matanya, tanpa memberi penerangan apapun pada Rukia yang menatapnya penasaran. "Ayo, adik ipar! Kukenalkan pada putriku!" ajaknya sembari merangkul bahu Rukia kemudian menjauhi pohon plum.

"Ha-hanya putrimu?"

"Uhm! Putraku sedang berada di luar kota. Pasti kalian nanti akan bertemu juga, kok. Aduh! Seandainya aku dan Hisana tidak menikah, kau pasti akan kujadikan menantu~" sepanjang jalan menuju pintu rumah, Isshin terus menggerutu. "Maklum, sampai sekarang, putraku itu masih lajang. Aku takut dia terkena wabah kelainan. Hah, aku tidak mau punya anak banci!"

Mendengar kata 'banci' lalu membayangkan Ichigo bertingkah kewanita-wanita'an, Rukia menahan tawanya yang hampir menggelegar.

"Punya putra banci dan putri tomboy. Oh, Tuhan~ bagaimana aku harus menjalani hidup—!"

Mendadak cap telapak kaki Karin berhasil menghiasi wajah ayahnya tepat ketika mereka membuka pintu untuk masuk rumah.

"Ayah bicara apa, sih?! Ayah kira kami senang punya ayah sinting sepertimu!"

Isshin terjengkang dengan bokong terhempas di lantai genkan, sementara Karin bersedekap memelototinya.

"Hallo, Bi. Namaku Karin. Salam kenal."

Cepat Karin mengubah ekspresi galaknya menjadi anak manis di hadapan Rukia.

Bi-bi?! Pekik Rukia dalam hati. Berat rasanya menerima panggilan itu, tapi yah mau bagaimana lagi.

"Hai, Karin." Rukia mencari-cari keberadaan Kak Hisana, "Dimana kakakku?"

"Oh, ibu sedang di dapur. Membuat eskrim."

I-ibu?! Sejak kapan mereka jadi akrab begini.

.

.

Kuchiki Hisana berada di pantry usai menggunakan blender. Apron yang dipakainya terkena sedikit noda dari lumeran susu dan sari buah pisang. Adonan buah itu kental juga berwarna putih kekuning-kuningan. Kak Hisana meletakkannya di dalam sebuah mangkuk berbentuk oval.

"Waw! Apa eskrimnya sudah jadi, Bu?" Karin bertanya dengan tatapan kagum.

"Yup. Eskrim pisang."

Melihat keakraban kedua perempuan itu membuat Rukia tersenyum miris sekaligus iri. Mereka sepertinya sudah sangat cocok menjadi ibu dan anak. Gadis bermata ungu tidak bisa lagi menahan dirinya untuk menghela napas—pasrah melihat bakal ibu dan anak tiri itu tengah bercengkrama.

Rukia tercenung. Memperhatikan dalam diam sosok Karin yang sedang mencicipi betapa lezatnya eskrim buatan sang kakak. "Kita dinginkan dulu ke dalam freezer, ok," Kak Hisana menyuruh Karin menyimpan eskrim buatan tangan Kak Hisana ke dalam kulkas hingga adonan pisang itu lebih pantas dinikmati sebagai eskrim. Dingin dan manis.

"Rukia, apa kau dan Karin sudah kenalan?"

"Ya. Dia jauh lebih supel dari yang kuduga," puji Rukia seraya melirik Karin yang masih sibuk memasukkan eskrim rasa pisang di dalam kulkas.

"Oh ya, Karin. Apa kau tahu kalau Rukia ini kakak kelas di SMA-mu?

Karin menoleh lalu memberi jawaban, "Tentu saja. Bibi Rukia mungkin tidak mengenalku." Karin mengukir wajah Rukia lekat-lekat. "Aku tahu karena Hitsugaya selalu memberi salam padanya. Dari jauh saja, Hitsugaya selalu memperhatikan bibi."

"Eng, Karin. Bisakah kau tidak memanggilku bibi? Itu terdengar aneh," Rukia memprotes, sudut bibirnya terangkat mencoba tersenyum.

"Tidak. Kau 'kan adik dari ibu baruku, tetap harus kupanggil bibi."

"Hu-uhh~ Karin."

Melihat adiknya merajuk pada calon putrinya, Kak Hisana terkikik geli. Sementara itu, Isshin yang baru bangkit dari keterpurukannya karena jatuh terjengkang lekas menginterupsi kedua gadis belia yang masih bertikai.

Perkenalan keluarga kali ini lebih berguna di bandingkan perkenalan sebelumnya di restaurant. Tidak ada Ichigo di rumah membuat Isshin dan Karin tak mampu menyediakan jamuan yang layak untuk kedua tamu mereka.

Beruntung, baik Kak Hisana ataupun Rukia tidak peduli tentang jamuan. Rukia sibuk memperhatikan foto-foto yang terpajang, sementara Kak Hisana tetap atraktif meladeni kelincahan Karin saat membantunya membuat jus buah.

Di dapur terdengar pula suara Kurosaki Isshin merecoki kegiatan kedua perempuan itu. Mereka terlihat gembira sekali. Sempat terlintas dalam benak Rukia sebelumnya tentang sikap kedua anak Isshin-san saat mengetahui ayah mereka akan menikah lagi, prasangka negatif terus terngiang jikalau Kak Hisana akan diperlakukan buruk. Namun prasangkanya tak terbukti. Sekarang, entah bagaimana sikap Ichigo pada kakaknya nanti—atau lebih tepat pada dirinya, ketika tahu mereka akan menjadi satu keluarga.

Mendadak ia takut berspekulasi.

Takut kalau Ichigo memperlakukan Kak Hisana dengan buruk gara-gara penolakannya seminggu lalu. Rukia masih ingat; dahi Ichigo yang mengerut seolah kesakitan, kemarahan Ichigo karena ditolak mentah-mentah, ataupun kebencian baru yang timbul sampai-sampai pria itu enggan memalingkan wajah lagi bahkan untuk sekedar melambaikan tangan.

Gadis itu menghela pasrah. Dan ketika terdengar gema tawa dari ketiga orang di dapur, Rukia menoleh mendapati Kak Hisana tertawa lepas bersama keluarga barunya. Bukannya Rukia tidak suka—hanya saja suasana itu akan mengingatkannya pada kenyataan bahwa Kak Hisana memiliki beberapa orang yang wajib ia pedulikan, yang harus ia perhatikan.

Kenyataan bahwa, adiknya tidak akan lagi menjadi pusat hidupnya. Membayangkan Kak Hisana akan mengabaikannya demi mengurusi keluarga barunya sontak menyulut kecemburuan kecil di hati Rukia.

"Ayo dong Karin, cicipi ayah jus itu~"

"Tidak, ini punyaku!"

Sekali lagi terdengar oleh Rukia keributan di dapur.

"Sudahlah, Isshin. Biar kubuatkan lagi." Dari kejauhan Kak Hisana terkikik geli kemudian menyerukan nama adiknya yang beberapa saat lalu ia lupakan, "Rukia! Apa kau mau dibuatkan jus stroberi juga?"

"Aku tidak suka stroberi, Kak!" ada kejengkelan ketika Rukia menjawab pertanyaan kakaknya, ia ingin sekali bilang 'Tak perlu menawariku, Kak. Layani saja keluarga barumu!' namun—bagaimana bisa ia mengacaukan kesenangan keluarga baru itu?!

Sedih karena Kak Hisana tak lagi menawarinya jus dengan rasa buah yang lain, Rukia kembali melanjutkan pengamatannya pada beberapa pajangan foto.

Jika sebelumnya ia melihat potret upacara kelulusan Karin di SD berframe 5R. Di situ Karin berdiri di antara rombongan kelas dengan senyum sumringah. Lalu frame lainnya berukuran yang sama dengan latar akademi kepolisian—jelas sekali foto ini milik siapa. Jejeran pria berambut cepak, mata Rukia menyipit ketika warna oranye tertangkap lensa ungunya. Kurosaki Ichigo tengah berdiri tegak, postur tubuh pria itu tinggi, dengan sinar wajah berseri ia tampak mengagumkan. Rukia tersenyum getir. Alangkah bodohnya, wanita yang pernah menolak pria setampan itu. Ia mendengus, menghakimi dirinya sendiri.

Langkah gadis itu akhirnya berhenti di ruangan keluarga.

Dalam keasyikan memperhatikan foto, Rukia seolah ditulikan dari suara-suara berisik di dapur. Bunyi benda-benda alumunium saling bersinggungan tak mengganggunya sama sekali.

Peduli amat! Terserah apa yang sedang ketiga orang itu lakukan atau apa yang sedang dimasak Kak Hisana bersama calon putri tirinya. Rukia terus menjelajahi dinding berwarna krim itu untuk mencari hal yang lebih menarik dipandang.

"Rukia! Ayo temani Karin ke toko sebentar!" tiba-tiba Kak Hisana kembali memanggil, "Karin minta diajari membuat kue tart!" pekiknya lagi tanpa melihat bagaimana gelapnya wajah sang adik.

Dia hendak mengiyakan suruhan kakaknya, sebelum akhirnya Karin memotong.

"Tidak usah, Bu. Aku sendiri saja!"

Ibu? Aduh, kenapa perasaan senangnya berubah jadi dengki begini? Rukia mencibir dalam hati.

Kemudian Kak Hisana tak lagi menyuruhnya. Bersama Isshin-san, wanita dewasa berwajah cantik itu tengah sibuk mempersiapkan alat-alat memasak yang dibutuhkan. Seiring Karin yang keluar rumah demi membeli bahan membuat kue, bunyi tubrukan benda-benda dapur kembali terdengar.

"Maaf ya, Hisana~ maklum barang-barang ini jarang dipakai semenjak Masaki tak ada lagi."

Setelah itu dengan senang hati terlihat Kak Hisana mencuci barang-barang tersebut. Tentu saja dengan dibantu oleh sang calon suami.

Kemesraan terjalin saat tanpa sengaja Isshin menyentuh jemari basah Hisana lalu keduanya saling berpandangan.

Di tempatnya, Rukia menggeleng-gelengkan kepala. Seperti drama panggung akhirnya Isshin melepaskan jemari mereka, meninggalkan jejak kemerahan di pipi Kak Hisana. Bunga-bunga imajiner muncul di antara pasangan itu dan efeknya membuat perut Rukia mual-mual.

Oh, ya ampun. Mereka patut mendapatkan pasangan ternorak di jagad raya.

Lupakan pasangan itu. Kini Rukia menatap kasihan pada satu-satunya foto berukuran besar.

Ini dia dewi di rumah ini. Nyonya Kurosaki yang sedang duduk memperhatikan suami dan anak-anaknya dari surga.

Seorang foto wanita cantik dengan rambut panjang tergerai. Pigmen cokelat muda keoranyean—rupanya Ichigo mewarisi pigmen ini dari ibunya. Senyum cerah terukir di sudut bibir tipis dari mediang nyonya rumah itu. Menciptakan aura terang di dalam rumah.

Hati Rukia seakan tercubit. Sesempurna apapun Kak Hisana, kakaknya tidak akan mungkin bisa menggantikan sosok almarhumah Nyonya Kurosaki.

"Kumohon maafkan kakakku, Nyonya." Pinta Rukia tulus. "Aku berani jamin kalau kakakku bisa mengurusi suami dan anak-anakmu dengan baik. Dia wanita alim, kok. Di sini kami pasti akan selalu mendo'akanmu." Gumamnya, sebisa mungkin bicara dengan suara rendah.

"Aku tahu, Rukia."

Rukia tersentak kaget. Kak Hisana sudah berdiri di belakang sembari menyodorkan segelas jus jeruk, "Ini—jus kesukaanmu." Serta senyum keibuan yang dalam sekejap menghapus kecemburuan dalam diri Rukia karena merasa diabaikan.

"Isshin memintaku untuk tidak menyingkirkan foto cantik ini. Meminta padaku sambil menunjukkan wajah seperti ini," lalu Kak Hisana menunjukkan ekspresi yang sama persis—raut mengemis ala Isshin dengan bibir yang menekuk di sana-sini. "Sebagai gantinya, kakak juga tidak ingin mengganti nama Kuchiki menjadi Kurosaki." Bubuhnya lagi.

Melihat Kak Hisana berwajah sekonyol Isshin. Bukannya tertawa, Rukia malah ingin menangis.

Dia ingin sekali memeluk kakak perempuannya itu sekarang juga, namun terhalang oleh gelas yang ia pegang. Dan dada Rukia bergetar saat sang kakak tiba-tiba saja mengamini keinginannya, Kak Hisana memeluknya erat dalam rengkuhan selembut sutera. Oh Tuhan, kenapa pelukan kuat yang harusnya menyakiti tulang malah terasa sebaliknya—terasa melegakan.

"Hisana, ini ovennya~ sudah kubersihkan," nada riang muncul dari pintu belakang.

Isshin kembali ke dapur dengan membawa sebuah oven diiringi nyanyian tak jelas.

Seiring nyanyian tak jelas melantun bagaikan jeritan kucing terjepit. Kak Hisana menatap Rukia, "Kau bisa membantu kakak?"

Cepat Rukia mengangguk antusias. Seolah-olah pertanyaan itu bukan hanya ajakan untuk membantu Kak Hisana membuat kue, tetapi ajakan agar Rukia bisa berbesar hati untuk membagi cinta sang kakak pada keluarga barunya.

"Ibu! Bahan-bahannya sudah kubeli semua!"

Tepat ketika dua wanita Kuchiki itu melangkah ke pantry, gadis Kurosaki pun berlari masuk menyusul langkah mereka.

.

.

.

"Aku pulang!"

Ichigo…

"Ayah!"

Gerakan semua orang di meja makan berhenti. Meski belum tampak sosoknya, itu pasti dia…

Isshin enggan menyahut. Karin masih sibuk mengunyah. Kak Hisana tampak tercenung. Sedangkan Rukia bersungut-sungut di kursi dengan titik kebekuan di bawah nol derajat.

"Karin! Aku bawa pesananmu—!"

Kurosaki Ichigo.

Tinggi menjulang di tengah ruang keluarga yang berhadapan langsung dengan dapur.

Ketiga orang lainnya memusatkan perhatian pada keberadaan Ichigo, kecuali Rukia tentu saja.

Berlawanan dengan Ichigo yang justru menyoroti kehadiran tiba-tiba Kuchiki Rukia di rumahnya.

Rukia memalingkan mata. Berusaha menutupi kecanggungannya dari hadapan semua orang.

"Ow, putraku. Ayo sini kita makan kue bersama!"

"Kakak~" Karin tak bisa menahan diri untuk menyuarakan kesenangan menyantap kue. "Ini enak, lho! Ibu baru kita pintar memasak!" pujinya sambil mengunyah.

Ichigo terdiam. Ekspresinya datar, belum bisa terbaca apa reaksi yang akan di perlihatkan pria itu di hadapan keluarga barunya.

"Selamat datang, Ichigo-kun. Aku—Kuchiki Hisana."

Diliriknya Kak Hisana yang membungkuk tiga puluh derajat. Menyadari adiknya berlagak sombong, Kak Hisana merangkul bahu Rukia kemudian mengajak gadis itu untuk melakukan hal yang sama, memberi salam.

"Ini adikku. Kuchiki Rukia."

Musik kunyahan dari Karin memeriahkan suasana pertemuan. Isshin yang sudah berada di dekat keterpakuan putranya segera menyeret Ichigo, "Tunjukkan hormatmu pada ibu barumu, Ichigo."

"Aaa—hallo, Bibi."

Akhirnya. Walau dengan tenggorokan tercekat, Ichigo berhasil menyambut salam dari Kak Hisana. Rukia yang berdiri di samping Kak Hisana tertarik untuk melihat reaksi Ichigo yang—tampak kalem seperti biasanya.

"Hai," tegur Ichigo singkat. Membuat Rukia yang tengah memperhatikan Ichigo dari ekor matanya nyaris melompat kaget.

Selepas berkenalan sejenak, Ichigo permisi untuk membersihkan diri. Terlihat jelas dari penampilan Ichigo yang berantakan dan kelelahan.

Pria itu datang dengan kaos gelap dilapisi jaket keabuan, jeans longgar yang dikenakannya tampak kusut, sementara rambut jabriknya awut-awutan seperti seseorang yang baru saja bangun dari tidur.

Sungguh memprihatinkan ketika Rukia yang terbiasa dengan kemaskulinan seorang Ichigo yang serba rapi dan teratur, kini dihadapkan pada pesona Ichigo yang kacau.

Gadis itu diam-diam menatapi punggung lunglai Ichigo yang berjalan menaiki tangga. Menuju kamar yang berada tepat di depan pohon plum tadi.

Rukia patut bersyukur pada reaksi Ichigo yang tak berlebihan menanggapi pertemuan mereka setelah acara kencan seminggu lalu. Walau ia juga mengakui kekecewaannya ketika tadi Ichigo tak sedikitpun menyampirkan senyum pada Kak Hisana.

Selang menit kemudian, Ichigo kembali turun dengan tampilan yang lebih bersih.

T-shirt hijau tua dan celana sepanjang lutut membalut postur tegapnya. Rukia terpana—untuk pertama kalinya ia melihat Ichigo dengan gaya paling santai layaknya pria rumahan biasa. Menanggalkan jubah kepolisian dan menjelma menjadi anak laki-laki yang berbakti pada keluarga.

"Maaf atas sikapku tadi, Bi. Aku hanya takjub pada pilihan ayahku."

Kak Hisana tersenyum lembut, "Tidak apa-apa."

"Kakak! Kau harus memanggilnya 'ibu' jangan lagi 'bibi'," Karin menimpali seraya mengobrak-abrik kantong oleh-oleh yang dibawa kakaknya tadi. "Nah, kalau wanita muda itu baru kau panggil bibi," koreksinya dengan kalimat seringan kapas padahal ia melempar batu besar pada sosok Rukia yang bermuka masam.

"Bibi Rukia. Ehn… kurasa dia cocok jadi bibi kita."

Ichigo terkekeh membuat Rukia semakin naik darah. Isshin sendiri sudah melebarkan bibir—yah, jika ekspresi itu bisa disebut senyuman. Kak Hisana? Aaah, Rukia mengurut dada melihat bagaimana raut geli kakaknya terus meluas ke wajah cantiknya itu di saat adiknya tengah diledek oleh putra tirinya.

"Ibu, apa tiap kali bertemu orang baru Bibi Rukia selalu bermuka masam seperti itu?"

Aku belum cukup tua untuk dipanggil bibi! Duo Kurosaki ini menyebalkan!

Tanpa bisa menunjukkan isi hatinya. Rukia hanya bisa membalikkan badan kemudian menggigiti kerah bajunya sendiri.

.

.

Sepetak kue tart yang sempat diriasi krim dan daging jeruk hampir dihabiskan oleh Isshin serta kedua anaknya. Kak Hisana dan Rukia hanya terkesima memperhatikan ketiga orang yang begitu lahap menyantap hasil karya anggota keluarga baru mereka.

Isshin sudah lebih dulu berhenti makan diikuti Ichigo yang sebetulnya tak terlalu suka makanan manis namun untuk moment ini ia mencoba untuk mencicipi. Kemudian Karin yang mendadak mengeluh kekenyangan dalam keadaan tumbang. Seperempat sisa kue kini teronggok di meja makan.

Dalam keterpanaannya mengamati Isshin-san dan Karin, Rukia menggulir pandangannya pada Ichigo yang duduk di sebelah Kak Hisana. Di saat yang sama Ichigo juga menatap lurus padanya. Mereka saling beradu mata untuk beberapa detik sampai ketika lengkingan suara Isshin-san menggelegar.

"Ini lezat sekali! Kau bisa menikmati kue seenak ini tiap hari, Karin!"

"Iya—tapi kalau begini terus, aku bisa gemuk. Ayah!" Karin tampak menepuk-nepuk perutnya yang kekenyangan, "Kita bisa mengatur jadwal makan kue. Sekali dalam dua minggu ya, Bu?"

"Ok," sambil membentuk huruf O antara pertemuan jari jempol dan telunjuk, Kak Hisana lagi-lagi tersenyum senang. Sudah berapa kali hari ini Rukia melihat kakaknya itu tersenyum.

Tanpa memerlukan usaha yang berlebihan. Kak Hisana mampu menjerat calon putri tirinya tersebut dengan keahlian memasaknya yang memang tidak diragukan lagi. Dan Kak Hisana sendiri seolah tertular dengan segala sikap periang Karin yang lugu. Rukia menahan gejolak cemburunya yang kembali terbit.

Mata ungunya memutar bosan dan lagi-lagi ia harus bertubrukan dengan mata cokelat lelaki muda yang duduk di seberangnya. Ichigo bersedekap dengan punggung yang bersandar, menatapi gadis di depannya dengan tatapan kosong. Rukia mulai merasa terintimidasi, membuat jantungnya berdegup kencang.

"Apa kau mau melihat klinik?" tawar Isshin-san dengan bola mata berbinar.

"Boleh! Tapi kita harus membereskan ini dulu," wanita cantik itu menunjukkan piring-piring kotor yang bergelimpangan di atas meja.

"Sudah~ biar Karin saja—"

Karin langsung mencela suruhan ayahnya, "Oh sudah jam tiga! Aku lupa ada janji dengan Ururu. Semuanya! Aku permisi dulu ya!" berikutnya Karin sudah melesat pergi menjauhi meja makan.

"—yang men—" sang ayah melongo melihat putrinya keluar rumah meninggalkan tamu mereka, "—cucinya." Lanjutnya dengan suara yang melemah seiring bunyi pintu tertutup. "Ah! Anak itu benar-benar!"

Ichigo memijat pangkal hidungnya sembari menghela napas.

"Aku saja. Kau dan ibu pergilah melihat klinik."

"Tidak apa, Ichigo. Masih banyak waktu, aku bisa membereskan ini bersama Rukia." Tolak Kak Hisana halus.

"Jangan begitu, Bu. Kalian 'kan tamu di sini."

Mendengar jawaban putranya, Isshin-san mengangguk berkali-kali seraya tersenyum bangga.

"Baiklah," Kak Hisana menghela napas lalu menoleh pada Rukia. "Tolong bantu Ichigo-kun ya, Rukia?"

Rukia terbeliak. Dahinya mengerut ingin menolak, namun mana bisa ia mengecewakan permintaan kakaknya hanya untuk hal kecil seperti ini. Alhasil, ia pun mengangguk.

"Biarkan Ichigo saja, Hisana," bisik Isshin-san tak enak hati.

"Aku akan membantu. Nikmati kebersamaan kalian di klinik, kakak-kakak."

Kak Hisana dan Isshin-san meninggalkan Rukia serta Ichigo bersama meja makan yang berantakan.

Ruangan makan itu diliputi keheningan.

Sorot mata cokelat Ichigo dengan santai menjelajahi diri Rukia dan sesekali berhenti untuk memandangi lekat-lekat mata ungu yang selama ini tak ia temui. Rukia merona. Tatapan pria itu seolah membakar melewati bahan busana dan menyentuh kulitnya, menuntutnya untuk mengatakan sesuatu yang terjadi di antara mereka. Menggelitik Rukia untuk memastikan jenis hubungan apa yang akan mereka lanjutkan setelah ini.

Rukia sendiri mengamati setiap ekspresi yang disembunyikan Ichigo. Mencari tahu sesuatu yang tengah dipikirkan pria itu. Namun Rukia tak menemukan apapun.

Terkesiap dan nyaris kehilangan denyut jantung ketika Ichigo tibat-tiba berdiri hingga suara kursi bergesekan dengan lantai terdengar nyaring, Rukia memasang kuda-kuda dengan menegakkan punggungnya yang semula bersandar. Ia duduk terpaku dengan lutut dan tangan yang berdenyut, serta lidahnya yang seolah menempel di langit-langit mulutnya hanya karena sikap dingin pria itu.

Sontak Rukia mendongakkan kepala. Keduanya belum ada yang berbicara. Sementara Rukia khidmat pada urusan batinnya, Ichigo mulai mengumpulkan piring-piring kotor yang ada.

Dalam hati Rukia mengerang frustasi. Kenapa di saat yang dibutuhkan, bakat aktingnya sulit muncul? Gadis itu mengikuti gerakan Ichigo, ia juga membereskan beberapa piring yang tersisa, menumpukkannya menjadi satu lalu mengekori lelaki berambut terang itu menuju bak pencuci piring.

Jenuh dengan perang dingin mereka. Rukia akhirnya mendesah kesal, "Apa kita tidak bisa seakrab sebelumnya? Aku tidak ingin kemarahanmu ini merusak hubungan pasangan baru itu." Bunyi dentingan piring mengusik keheningan yang menguasai. Rukia menempelkan pinggangnya di tepi konter, sedangkan Ichigo tetap bungkam sembari menyusun piring kotor di bak pencuci.

Alih-alih melirik pada keseriusan Rukia, Ichigo menjawab pertanyaan gadis di sebelahnya dengan gemerisik suara air keran.

"Kau marah karena kucampakkan? Kita tidak bisa begini terus, Ichigo. Bicaralah padaku dan bersikaplah seperti biasanya."

Tak ada respon. Kata-kata gadis itu sama sekali tak menimbulkan aksi reaksi antara mereka.

Karena geram, Rukia memutar keran membuat air yang mengalir deras tadi berhenti. Tak terima Ichigo pun menepis tangan Rukia yang tengah menahan putaran keran sehingga air kembali mengalir. Gemas dengan reaksi Ichigo, Rukia mematikan air keran lagi. Kali ini kedua tangan mungilnya tertumpuk di atas putaran keran.

Ichigo tampak jengah. Pria itu mendengus keras seraya menatap tajam pada dua tumpukan tangan Rukia yang berhasil menutupi putaran keran. Lalu dengan satu tangannya, Ichigo menggenggam tumpukan tangan gadis itu berusaha memutar keran melalui punggung tangan Rukia yang menghalangi.

Telapak lebar Ichigo sukses membuat kedua cengkraman tangan Rukia pada keran ikut terputar membuka jalannya air.

"Aw!" Rukia berteriak kesakitan, tulang jarinya seakan mau retak.

Mau tidak mau Ichigo tersentak ketika Rukia meringis kesakitan. Mengibaskan kedua telapak tangannya yang kecil itu agar sakitnya menghilang.

Memalingkan wajah, pria itu melanjutkan pekerjaan mencucinya.

Tak menoleh sedikitpun pada Rukia. Ichigo akhirnya bersuara, "Sejak kapan kau tahu?"

Pengaruh kekasaran sebelumnya dari Ichigo yang berhasil membuat jari-jarinya mengeras. Gadis itu menjadi tergagap.

"Se-sejak sebelum acara kencan."

"Khe—" Ichigo menyeringai, gigi gerahamnya menggretak. "Beri aku waktu, Bibi. Kita tidak bisa bersikap normal apalagi berlagak akrab untuk beberapa alasan yang kau ketahui. Jadi, bersikaplah seolah-olah kita baru saja saling mengenal."

Bibi?

Bibir tipis Rukia menekuk ke bawah, dagunya mengeriput. Ia tampak sangat sedih.

.

.

.

.

.

Ichigo duduk mencangkung di tepi ranjang sembari membuka agenda kecil yang selalu ia bawa setiap kali bertugas. Di pertengahan halaman terdapat sketsa wajah Rukia. Ada beberapa sketsa yang digambarnya secara acak.

Tahukah gadis itu apa yang dirasakannya seminggu setelah ditolak? Pria itu tidak bisa berhenti memikirkan paras si pemilik gelang snowflakes.

Sepanjang hari Ichigo berusaha menyibukkan otaknya dengan banyak penyelidikan kasus di Osaka, namun semua itu tak berefek lama, karena selesai bekerja barang sejenak hanya untuk menikmati makan lagi-lagi ia akan menemukan wajah Kuchiki Rukia di piring dan genangan air minumnya.

Kerap sepanjang malam yang sebetulnya sangat singkat bagi polisi sesibuk Ichigo pun, raut mungil Rukia akan menghantuinya dalam remang-remang pijaran lampu bohlam. Ya, bahkan malam yang gelap gulita pun, gadis itu mampu membayangi mata Ichigo.

Yang tersisa cuma kerinduan yang menyengat. Jatuh cinta tidak mudah bagi seorang Kurosaki Ichigo, sama sulitnya melupakan seseorang yang membuat hidupnya menarik karena asmara. Ichigo larut dalam kegamangan. Niat mencoba apalagi mencari peluang untuk merayu Rukia bahkan harus kandas hanya dalam hitungan hari.

Kuchiki Rukia tidak akan pernah jadi miliknya.

Mereka akan jadi keluarga. Hubungan antara keponakan dan bibinya.

Astaga—kebetulan macam apa ini? Ichigo melempar agenda kecilnya hingga terkapar tak berdaya di lantai. Agenda malang itu seolah ikut menjerit bersama perasaan nelangsa tuannya. Ia mempertanyakan tujuan Tuhan mempertemukannya dengan gadis itu, untuk apa? Mengira bahwa keberuntungan cinta akan menghampirinya rupanya hanya harapan kosong belaka.

Selama ini Ichigo merasa cukup sukses menjalani urusan duniawinya, seluruh inderawi yang ia miliki bahkan nyaris dikategorikan sempurna, karir gemilang yang didapatkannya tergenggam di tangan—jangan tanyakan masalah otak, walau ia bukan golongan pria jenius, ia termasuk pria berbakat dambaan banyak wanita.

Walau dirinya jarang berdo'a meminta kemakmuran hidup pada Sang Pencipta, setidaknya ia bukan seorang anak durhaka yang melupakan makam ibunya apalagi menghalangi kebahagian baru yang datang pada ayahnya.

Sayang, kebaikan-kebaikan yang ia rinci itu tak cukup membendung rasa kecewa yang dirasakan. Rasanya gemas sekali! Satu-satunya hal yang paling diinginkan justru tak bisa ia dapatkan!

Ichigo terkejut ketika dari pintu kamar terdengar ketukan. Ayahnya menyembulkan kepala meminta waktu pada putranya untuk berbincang. Sontak Ichigo membenahi diri, ia segera mengambil agenda kecil yang sebelumnya tergeletak di dekat kakinya kemudian mengizinkan ayahnya untuk memasuki ruang privasinya tersebut.

Beranjak dari duduknya, Ichigo berpura-pura merapikan rak buku yang sebetulnya tak berantakan sama sekali.

"Apa kau sudah mengantar mereka dengan selamat?" seraya membuka salah satu buku yang diambil dari rak, ia bertanya dan melirik ayahnya yang tampak duduk tenang di ujung kasur.

"Tentu saja. Selamat sampai tujuan."

Oh, ada hal yang mengganjal sejak ia kembali ke rumah tadi. Sebuah mobil berkulit hitam cemerlang terparkir di halaman rumah.

"Kau membeli mobil?" pertanyaan itu seperti tengah menggantung di udara ketika ayahnya lekas mengiyakan.

"Ayah membelinya kredit."

"Dasar—harusnya kau bilang padaku. Kita tidak bisa membeli property mahal tanpa berdiskusi dulu. Lagipula, daripada kredit, kita bisa membeli dengan tunai. Uang tabunganku lebih dari cukup untuk membelinya, Ayah. Begini saja—" Ichigo berpikir keras kemudian meletakkan kembali buku yang ia pegang di rak, ia memandang ayahnya, "—urungkan saja beli kredit, akan kulunasi—"

"Akan kubayar sendiri, anakku. Simpan tabunganmu untuk hidupmu sendiri."

"Kau tidak akan mampu?!" bentak Ichigo.

Itu seperti penghinaan di mata Isshin. Tetapi sebagai seseorang yang kenal baik kepribadian putranya yang terlalu melindungi keluarga, sang ayah memaklumi amarah Ichigo.

"Lupakan tentang mobil, Ichigo. Ceritakan pendapatmu tentang keluarga baru kita."

"Ini belum selesai, Ayah. Mobil harus dibayar lunas dan mengenai biaya pernikahan aku akan membantu—"

Zaaat!

Seinci lagi tendangan Isshin bisa menyentuh kepala putranya jika saja Ichigo tidak gesit menghindar. "Dasar, kepala batu," desis ayahnya lalu tersenyum jenaka.

Menepis kaki ayahnya dengan lengan, Ichigo berhasil mengepalkan tinju dan hampir memukul mulut si ayah yang tengah menyeringai lebar.

"Aku heran. Kenapa Hisana-san mau menikah denganmu?"

Ichigo menurunkan tinjunya, begitu pula Isshin yang mengembalikan kaki kanannya yang sempat melayang tadi kembali menapaki lantai kayu. Ia duduk di kursi putar dekat meja belajar demi mengatur napasnya yang seolah tertarik ke atas kepala gara-gara tendangan dari ayahnya.

"Dia wanita baik. Karin menyukainya dan begitu juga aku. Ini bukan masalah rumit yang harus dibahas terlalu lama, jadi baik aku ataupun Karin hanya perlu mendukungmu. Kami tidak punya hak untuk mengatur hidupmu. Kau pria normal, kau memerlukan seorang wanita. Aku yakin, ibu bukan wanita egois yang cuma bisa menontoni suaminya kesepian sepanjang hidup dari alam sana. Dan kurasa bukan hanya Tuhan yang mengatur ini, ibu di surga juga pasti terlibat."

.

.

.

"Bagaimana menurutmu?"

"Nadanya pendek-pendek seperti asma-mu," ledek Ichigo setelah menekan jemarinya di atas tuts-tuts piano milik Ukitake Joushirou. Ichigo lantas duduk di kursi piano memeriksa satu demi satu tuts, barulah ia mengenali kerusakan yang terjadi pada piano ketika pedalnya tak merespon injakannya. "Sebaiknya kau cepat-cepat meresparasi piano ini," Ichigo menyarankan.

Sir Ukitake menghela napas. Piano miliknya itu memang sudah sangat lama tak lagi ia gunakan.

Berhubung ada yang berminat membeli piano itu, mau tak mau Sir Ukitake harus memperbaiki terlebih dulu alat musik tersebut sebelum dijual.

"Sudah lama sekali tidak melihatmu bermain piano."

"Aku terlalu sibuk untuk menyentuh mainan ini, Sir."

"Ho-ho—biar kuberi tahu. Kalau revolver adalah senjatamu sebagai polisi dipakai untuk menangkap penjahat. Maka benda ini," Sir Ukitake menepuk dua kali pianonya lalu menatap Ichigo lagi. "Senjata paling jitu untuk mendapatkan seorang wanita."

Ichigo menyeringai kecil kemudian mengendikkan bahu menandakan bahwa untuk sejenak ini ia tidak akan mempedulikan urusannya tentang wanita.

Berbicara tentang permainan pianonya. Ichigo memang sudah lama sekali tidak menyentuh tuts hitam putih itu. Mungkin sudah setahun terakhir ini, ia menarik diri dari kesukaannya memainkan piano. Acap kali jika dirinya merindukan dentingan piano maka Ichigo hanya akan menyalakan alat pemutar musik.

"Kudengar, kau yang memperkenalkan Hisana-san pada ayahku."

"Ya—bisa dibilang begitu, sih. Pada dasarnya mereka sudah berjodoh, aku cuma jadi perantara saja."

"Kenapa tidak denganmu, Sir? Kau juga butuh pendamping 'kan?"

Sir Ukitake tertawa renyah. "Aku tidak akan pernah menikah, Ichigo. Satu-satunya perempuan yang ingin kunikahi sudah mati," terangnya dengan suara yang dalam dan tatapan serius.

"Andai saja ayahku bisa sesetia kau."

Tampak Ichigo duduk menekuri lantai. Ruang kerja dosen seni lukis Universitas Seni itu mendadak senyap. Sir Ukitake menangkap kesedihan di mata Ichigo yang tertunduk. "Kau tidak suka ayahmu menikah lagi?"

"Tidak, bukan itu. Aku hanya agak ragu yah—ah, entahlah."

"Kau terlalu cemas. Ayahmu itu orang tua yang membuatmu sebesar dan sesukses ini, Ichigo. Bagaimana bisa kau meragukan kemampuannya bertahan hidup?"

Sontak Ichigo mendongak. Ada mendung di warna kecokletan matanya yang Sir Ukitake tidak ketahui. Ada duri yang seolah-olah bermain di akar jantungnya. Membuat seluruh panca inderanya seakan terganjal berbagai benda tajam. Sampai ketika ruangan terbuka itu dikejutkan oleh kedatangan tamu Sir Ukitake.

"Hai Sir—!"

"Oh, Rukia!"

Di sana, di ambang pintu. Tanpa mengetuk pintu yang telah terbuka, Kuchiki Rukia hendak melambaikan tangan sebelum akhirnya seruannya terputus. Kemunculan tiba-tiba gadis itu spontan membius Ichigo hingga berdiri dari posisi nyamannya di kursi piano.

Ichigo terbeliak sesaat demi memastikan bahwa matanya sedang tak berkabut. Di belakang Rukia tampak seorang pria berdarah campuran. Berambut pirang dengan bola mata sebiru lazuardi.

Rukia berjalan masuk diiringi pria tadi, lalu keduanya menyapa Ichigo dan tentu saja Sir Ukitake sebagai pemilik ruangan. Seperti yang Ichigo minta sebelumnya. Kedua calon besan itu akan bersikap layaknya orang yang baru saja saling mengenal.

"Ichigo-san, Anda di sini juga?" tanpa mengurangi kesantunannya, Rukia membungkuk di depan Ichigo dan Sir Ukitake. Berlagak sungkan, Ichigo membalas sapaan gadis itu dengan senyum yang dipaksakan.

"Kira memintaku untuk menemuimu, Sir. Dia tidak sabar melihat kondisi piano yang akan kaujual," Rukia melirik lelaki bernama Kira di sampingnya dengan tatapan jengkel. "Oh, kenalkan Kira. Pria ini uhm—" sedikit kikuk Rukia pun meneruskan, "—calon keponakanku."

"Wah! Benarkah?!" seru Kira tampak tak percaya. Kemudian dengan ramah ia pun mengulurkan tangan pada Ichigo sebagai simbol perkenalan, "Namaku Izuru Kira. Calon suami Rukia."

Berkat itu, satu pukulan melayang keras di pundak Kira menyebabkannya meringis kesakitan. Sir Ukitake lagi-lagi tertawa lebar sementara si pria berambut jingga hanya menatap tajam pada sosok Rukia yang tengah marah pada lelucon pria pirang itu.

Ichigo mulai merasa pusing. Kepalanya mendadak kesemutan. Ingin rasanya ia menarik gadis itu menjauh dari hadapan si pria pirang, tetapi logikanya tak mengizinkan. Ia hanya perlu memalingkan wajah dari keakraban Rukia dan pria bernama Kira itu.

"Kalian duduk dulu. Biar kupersiapkan sesuatu," berikutnya, Sir Ukitake meninggalkan mereka bertiga di ruang kerjanya yang dihiasi beberapa lukisan.

Sebetulnya Ichigo akan pergi. Namun, belum menjalankan niatnya, Sir Ukitake sudah lebih dulu ke luar ruangan. Sekujur tubuhnya menghangat. Isi otaknya seakan mendidih.

"Apa Anda mahasiswa di sini, Ichigo-san?" ditanya begitu oleh Kira, Ichigo menyoroti lensa biru Kira yang berbinar penasaran. Tak tertarik menjawab pertanyaan klise tersebut.

Akhirnya, Rukia yang menyahut. "Dia sudah bekerja. Sebagai—polisi."

"Waw, hebat juga." Puji Kira mencoba mengakrabkan diri, sayang usahanya sama sekali tak dipedulikan Ichigo. "Sebagai polisi seharusnya kau bersikap ramah, jangan sombong begitu." Dan ucapan itu sontak mencetak jurang parit di dahi Ichigo.

Rukia hampir saja menjitak kepala Kira, sebelum dicegat lelaki pirang itu dengan menahan lengan mungil Rukia.

"Akh, Rukia! Kau ini! Aku bisa botak kalau kaujitak!"

"Biar saja!"

Sejenak keributan tercipta di ruangan itu. Beberapa waktu kemudian Sir Ukitake datang bersama salah seorang karyawan kantin.

.

.

Bertiga mereka berdiri di bawah kanopi universitas. Mengakhiri urusan mereka masing-masing di tempat yang sama lalu pulang dalam waktu yang bersamaan, terang saja bagi Ichigo, semua menjadi semakin sulit. Meski sekuat tenaga untuk tak peduli pada cerita Kira, Ichigo tetap saja merasa terusik.

Batinnya diganggu setiap kali mencuri dengar segala macam perbincangan antara Rukia dan lelaki bermata biru itu. Kedekatan mereka tampak alami. Apalagi teman pria Kuchiki Rukia itu jauh lebih muda dari dirinya, sungguh membuat hati Ichigo mengecil sekecil-kecilnya.

Sedari tadi Kira bercerita panjang lebar padanya. Keinginan untuk meneruskan jenjang perkuliahan di Art University terpapar penuh antusias walaupun Ichigo tidak mempedulikan. Rupanya, selain sebagai calon pembeli piano Sir Ukitake, teman Rukia bermarga Izuru itu juga calon mahasiswa di universitas tersebut.

Berjalan beriringan menuju lahan parkir, mau tak mau Ichigo harus menontoni kedekatan di antara muda-mudi itu dalam kebisuan yang menyiksa.

Ia kemudian mempercepat langkah melewati Rukia dan Kira. Tanpa menoleh, Ichigo berlalu tanpa ucapan salam pada mereka.

"Hallo, Hisagi?" panggilan dari teman seprofesinya tersebut mempercepat langkah Ichigo. "Baiklah, kita ke sana." Mematikan ponsel, pria Kurosaki itu lantas berlari meninggalkan gedung yang dulu menjadi tempat bekerja mediang ibunya.

.

.

Ichigo bersama rekan-rekannya berkumpul di ruang penyelidikkan. Di ruang tertutup itu, dimana beberapa barang bukti diletakkan di atas sebuah meja persegi panjang. Beberapa jenis narkoba menjadi sorotan berpasang-pasang mata tim penyidik.

Morfin, kokain dan heroine terbungkus rapi, siap didistribusikan oleh tersangka. Dua dari pelaku sudah dibekuk sehingga tugas yang tersisa bagi tim Ichigo adalah menyelidiki asal dari penyebaran obat terlarang tersebut.

Renji melempar sebuah kartu tanda pengenal yang mereka dapatkan di dalam tas dari salah seorang pelaku. Sebuah paspor atas nama Grimmjow Jaegerjaques.

"Dua orang itu tidak mau mengakui, pria ini pengguna atau pengedar. Kami baru mendapatkan informasi kalau dia salah satu mahasiswa Art University yang hobi berpergian ke luar negeri."

"Dia mahasiswa…" pertanyaan Ichigo mengambang di udara ketika Hisagi ikut menerangkan.

"Di antara kami hanya kau yang memiliki kedekatan dengan universitas itu. Bos berencana membongkar kasus ini. Spekulasi sementara mengarah pada jaringan mafia di Eropa, tempat dimana bocah biru ini menghabiskan liburannya." Hisagi kemudian duduk di tepi meja seraya berujar lagi, "Zaraki-san akan menjadikanmu mahasiswa di sana."

"Kenapa bukan kalian?!"

"Oh ayolah, Ichigo. Kau punya bakat untuk menyamar menjadi mahasiswa di sana. Tidak akan sulit buatmu, apalagi kau salah satu polisi yang identitasnya dilindungi organisasi."

"Sudah ada yang mengenaliku di sana! Dan kalian tahu, aku benci menjadi bunglon!"

"Zaraki-san sudah mencari tahu. Selain seorang dosen seni lukis, tidak ada yang mengenalimu 'kan?"

"Akh, sialan. Dimana Zaraki-san? Aku harus bicara," gerutu Ichigo.

"Sudah kuputuskan." Seorang pria tinggi berambut landak memasuki ruangan tersebut dengan tatapan setajam pedang, ia mendekati Ichigo. "April nanti penerimaan mahasiswa baru di sana, kau bisa menyamar menjadi mahasiswa baru dan lakukan pengintaian."

"Apa gara-gara kau tidak bisa memancing dua keparat itu untuk bicara?! Kau menyuruhku menyelesaikan kasus serendah ini? Ya Tuhan, Ketua. Kau tahu aku benci menahan diri dan hanya melakukan serangan diam-diam, sampai harus menyamar pula? Argh… aku tidak mau!"

"Kami sudah mengurus semuanya termasuk kartu identitasmu. Selebihnya kau harus bicara pada kenalanmu di sana untuk merahasiakan identitasmu dari orang lain."

Zaraki-san tetap bersikukuh, sedangkan Hisagi dan Renji memandangi penolakan demi penolakan yang dilontarkan Kurosaki Ichigo.

"Dua tersangka yang tertangkap, Eugenio Porta dan Coyote Starrk kuserahkan pada kalian berdua." Sang pimpinan mengalihkan matanya pada dua anak buahnya yang lain, "Aku ragu dengan identitas mereka. Kalian bisa memulai penyelidikannya di kantor imigrasi."

"Ketua?!" Ichigo terus menolak.

"Kurosaki Ichigo—" kali itu Zaraki-san menyipitkan matanya pada sosok lancang Ichigo yang berdiri di depannya. "Silakan ajukan surat pengunduran diri sebagai polisi sekarang juga kalau itu maumu."

Sontak Ichigo bungkam. Enak saja! Namun, walaupun harus menyumpahi pimpinannya sedemikian rupa, Ichigo tak berani untuk memprotes lagi. Tampaknya, kata-kata Zaraki-san menjadi ultimatum keras bagi hirearki karirnya kelak.

"Ada lagi," tatapan si pemilik luka pelipis itu kembali pada bawahannya yang berambut oranye. "Kudengar dari istriku, bahwa ayahmu akan menikah lagi?"

Renji dan Hisagi turut menyoroti Ichigo yang kini menghela napas.

.

.

"Besok upacara kelulusan Rukia-chan. Apa kau mau ikut, Ichigo?"

Makan malam tersaji. Dibuka dengan pertanyaan ayahnya yang dalam sekejap merusak selera makan Ichigo. "Untuk apa? Kalau Karin yang kelulusan, baru aku berkewajiban menghadirinya," sanggahnya membuat ayah dan adiknya melirik pada wajah lelah anak laki-laki itu.

"Dia 'kan calon bibi kita, Kak?"

Isshin berdehem, "Karin benar. Tapi—oke! Tidak masalah. Kalau begitu bagaimana denganmu Karin?"

"Uh-oh, umh—" Ichigo mengangkat satu alisnya pada kegagapan si adik, pun ayahnya yang begitu tertarik pada keterangan putrinya. "Aku ada urusan lain. Maaf." Kedua pria itu menatap curiga pada Karin. Curiga pada rona kemerahan yang tergambar samar di garis rahang perempuan belia itu.

"Ya ampun. Jangan bilang kalau kau sedang berburu kancing seragam kakak kelas pujaanmu—" tak bisa meneruskan ucapannya, Ichigo mendesis. Agak geli pada tingkah laku Karin yang membisu.

"Oh~ manisnya, putriku ini."

Sehabis menyelesaikan makan malam. Ichigo tak lagi membereskan meja berkat jadwal giliran pekerjaan rumah yang diaturnya untuk Karin. Sementara ayahnya dan Karin sibuk bicara panjang lebar sembari membersihkan piring-piring kotor, Ichigo mengambil langkah kembali ke kamar.

Memikirkan perintah yang disusun Zaraki-san sungguh menguras tenaga. Padahal ia tidak melakukan apapun tetapi otaknya seolah diperintah untuk bekerja ekstra. Menyesal rasanya menjadi salah satu anggota yang identitasnya dilindungi.

Oke, dulu Ichigo begitu antusias ketika namanya dimasukkan ke dalam daftar batalion tergelap yang bertugas inti sebagai mata-mata jika suatu waktu organisasi memerlukan. Tetapi ketika dua tahun lalu, ia pernah diperintah menyelidiki kasus penyelundupan di sebuah pabrik persenjataan, Ichigo terpaksa membotaki rambut kebanggaannya demi kemulusan tugasnya sebagai mata-mata.

Dan sekarang, ia disuruh menjadi mata-mata di universitas. Mematai-matai pria bernama Grimmjow Jaegerjaques. Menjadi mahasiswa di sana lalu berbaur bersama kelompok orang-orang yang berusia di bawahnya. Membayangkannya saja membuat jenuh apalagi menjalani.

"Ichigo!"

Yang dipanggil meremas kelopak mata lantas menunduk ke lantai bawah. Dimana dirinya sudah di lantai atas dan ayahnya yang heboh itu meneriakinya ketika kakinya baru saja akan melangkah ke kamar.

"Apa?"

"Kau mau ikut? Hisana mengajak kita makan-makan," Isshin menyimpan kembali ponsel yang beberapa saat lalu tertera pesan dari calon isterinya.

"Apa? Kita baru saja makan 'kan?" Ichigo menatap senyum kecil ayahnya dari atas.

"Aku masih lapar, putraku." Tak lagi melanjutkan kalimat ajakan pada putranya, Isshin lekas mengikuti Karin yang tengah menuju pintu kamar.

"Karin! Kau juga mau kesana?" tuntut Ichigo nyaris menjatuhkan rahangnya ketika menemukan mata penuh minat si adik, "Kau baru saja menghabiskan dua piring nasi 'kan?"

"Iya, sih. Tapi—sepertinya perutku butuh makanan penutup."

Ayahnya segera berlalu sementara Ichigo tercengang. Pasti kue tart lagi, batin Ichigo berkomentar. Kemungkinan terbesar yang bisa ditebak cuma kue manis kesukaan Karin.

"Kau bisa gendut kalau mengkonsumsi kue tart terus," sambil menuruni tangga mengekori Karin dan ayahnya, Ichigo berlari kecil. "Lagipula ini sudah pukul—" dilihatnya Karin yang berbalik menghadapi kakaknya yang kini sudah berdiri di ambang pintu. "—pukul 07.10 malam"

"Sudahlah. Kakak mau ikut tidak?"

Ichigo berpikir keras sebelum akhirnya ia mengangguk. Menyusul ayahnya dan membiarkan Karin mengunci pintu.

.

.

Kedai sederhana berlabel tulisan salju dalam bahasa Inggris dengan ukiran spiral salju di beberapa dindingnya adalah milik Kuchiki Hisana.

"Selamat datang!"

Undangan terselubung itu tampak dihadiri oleh beberapa orang termasuk tiga pramusaji yang membungkuk pada keluarga Kurosaki. Satu di antara mereka ialah pemuda yang tadi siang bersama Rukia.

"Kira! Cepat bantu aku!" Rukia menyembulkan kepala dari balik tirai pembatas konter pantry, dengan rambut terikat yang berantakan, apron yang dipakainya sudah kotor di sana-sini terkena noda masakan.

"O-oh! Kalian—eh, Kakak! Mereka sudah datang!" pekik gadis mungil itu lebih histeris.

Dari jauh Ichigo mengamati tingkah Rukia yang tampak bersemangat. Apa itu efek karena besok ia akan lulus dari sekolah? Tanpa sadar, ia tersenyum samar.

Sosok berantakan yang ditampilkan gadis itu ketika di dapur sesungguhnya sangat menggoda. Ichigo menggigit bibirnya. Gemas rasanya saat mengharapkan sesuatu yang tidak bisa didapatkan. Ia mendecakkan lidah, kemudian mengekori langkah Karin dan ayahnya untuk duduk di salah satu meja.

Sementara Karin dan ayahnya menghampiri kesibukan Hisana. Lelaki berambut oranye itu duduk mantap sembari menjelajahi interior kedai.

Ada beberapa pernak-pernik berbentuk snowflakes dari bel angin yang terpasang di tengah pintu kedai. Persis gelang kaki yang dipakai Rukia.

Mengingat itu akhirnya mengundang perhatian Ichigo pada Rukia yang tengah melayani pengunjung kedai. Menjadi pramusaji rupanya sudah tugas rutin gadis itu membantu kakaknya.

Namun, yang mengganggu pemandangannya kali ini lagi-lagi keberadaan pria pirang yang semenjak tadi terus berdekatan dengan Rukia.

Perasaan panas di dadanya kembali muncul. Sama dengan yang dirasakannya ketika dulu ia ditolak gadis itu. Gigi depannya saling menekan mencoba menahan geraman. Sampai rasa panas itu naik hingga ke kepala, Ichigo mendengus keras. Ia berdiri lalu memasuki pantry dimana ayah dan adiknya juga berada di sana.

"Ada yang bisa kubantu, Ibu?"

"Eh—tidak perlu, Ichigo-kun. Duduklah dan pesanlan sesuatu."

Rukia yang baru saja mengambil pesanan untuk pelanggan segera menimpali. "Bantu kami mengantar menu pesanan. Nah, itu! Meja nomor 9 memesan yang ini," Rukia menyodorkan senampan menu pada Ichigo yang terpaku menatapinya. "Ada apa? Ayo! Tadi kau bilang mau membantu," tekan gadis itu berwajah serius.

"Sudah, biar aku saja—" Kira mencoba menengahi. Tapi niat baiknya urung ketika sekejap kemudian nakas berisi menu pesanan telah berpindah ke tangan Ichigo.

Hisana mendelik pada adiknya yang berprilaku kurang sopan pada calon putranya. Sementara Rukia menanggapi reaksi kakaknya itu hanya dengan mengidikkan bahu. Hubungan bagai api antara Ichigo dan Rukia tak luput dari perhatian si pemuda bermata biru. Dialog canggung yang mengisi suasana pertemuan Ichigo dan Rukia selalu saja seperti ini. Aneh.

Menyadari jika ia tengah diperhatikan Kira, Ichigo menyoroti mata biru Kira yang tampak terkejut pada serangan mendadak Ichigo yang balas menatapinya.

"Hisana-san~ lampu toilet kita rusak," terdengar seorang pramusaji melaporkan masalah kedai mereka pada sang pemilik.

"Benarkah?!"

Sebagai pemilik kedai, Hisana harus cepat tanggap menyelesaikan masalah teknis semacam itu. Karenanya, ia lekas menyuruh Kira untuk membantu melepaskan lampu bohlam yang rusak.

Kira mematuhi suruhan. Buru-buru berpaling dari kesibukannya mengamati prilaku antara Ichigo dan Rukia, ia mengikuti langkah si pelapor.

Rukia yang baru selesai mengantarkan pesanan ikut tertarik melihat apa yang terjadi di toilet. Ichigo melirik pada mereka. Sebelum kemudian bola matanya bergulir pada kesibukan sang ayah yang sedang membantu Hisana merebus kepiting sementara adiknya antusias membantu seorang koki perempuan muda berambut biru yang sedang menghiasi sebuah kue tart berkrim vanilla.

Pikiran buruknya mengarah pada sosok Kira dan Rukia yang menghilang di balik belokan menuju toilet. Ada-ada saja! Kenapa pula dia harus berpikir tentang urusan mereka?!

"Kyaaa! Kira!"

Jeritan mengisi suasana sibuk di kedai. Itu suara Rukia! Ichigo menaruh nakas lalu cepat-cepat mencari tahu sesuatu yang terjadi. Pun Hisana-san juga lainnya lekas mendekati lokasi kejadian.

"Hanatarou!" Hisana-san berseru. Di lantai tubuh Kira jatuh menimpa tubuh kurus anak laki-laki bernama Hanatarou, sedangkan Rukia berusaha meraup tubuh Kira agar menjauhi Hanatarou. Kedua laki-laki itu meringis kesakitan.

Ini bukan lagi pepatah. Tetapi kejadian yang benar-benar terjadi. Sudah jatuh tertimpa tangga pula! Kalau boleh Ichigo ingin sekali tertawa terbahak bahak.

Mencoba menolong, Ichigo mengangkat tangga yang menimpa betis Kira. Ayahnya turut menolong dengan memapah tubuh kecil Hanatarou. Adiknya ikut memapah tubuh Kira sehingga pria pirang itu diapit oleh kedua gadis belia berambut hitam.

Cih, enak sekali dia!

Lantas dengan gerakan kilat, ia mengambil alih tempat Karin. "Minggir! Biar aku saja!" Rukia dan Karin menyisih, membiarkan Ichigo membawa tubuh lunglai Kira.

Tangga yang tergeletak lekas dibenahi Hisana. Sementara Rukia memungut lampu bohlam yang menggelinding di sudut lantai toilet, "Hampir saja pecah. Sepertinya kabel di dalamnya terbakar, Kak."

"Ya—kita beli yang baru saja."

Rukia mengangguk. Mereka meninggalkan toilet itu dalam keadaan gelap gulita.

.

.

Sepuluh menit lagi ke pukul delapan malam. Kalau bukan karena malam begini, ia tidak akan menemani gadis ini membeli lampu di toko yang buka 24 jam. Berhubung dalam keadaan darurat.

Tidak ada yang bisa menemani Rukia kecuali dirinya untuk mengatasi masalah pencahayaan di toilet, maka sekarang—disinilah Ichigo dan Rukia. Berjalan bersama melewati trotoar setelah menemukan merk lampu yang diinginkan Hisana.

Mereka berjalan dengan jarak sekitar dua langkah.

Rukia meniti langkah di depan Ichigo dengan menjinjing kantong plastik berisi barang yang dibeli. Sedangkan Ichigo berjalan di belakangnya, menghindari sinyal apapun yang terpancar dari sekujur tubuh mungil gadis itu. Terutama aroma tulip yang senantiasa melekat di kulit mulus Rukia yang sesekali akan tampak menggoda ketika tersorot lampu-lampu jalan.

Tap!

Tiba-tiba langkah Rukia berhenti. Karena kaget, Ichigo pun menunda kakinya agar tak melangkah lebih jauh. "Aku benar-benar merasa serba salah menghadapimu," akuan Rukia membuat Ichigo membuang ego dan mengalihkan perhatian pada sosok mungil itu.

Selama perjalan ke toko, hingga tiba di toko dan sampai di pertengahan perjalanan kembali—mereka belum bicara sepatah katapun. Ichigo mengekorinya seakan-akan dirinya adalah pengawal dari Nona Muda Kuchiki Rukia yang berani mengakhiri perasaannya tanpa ada permulaan.

Berusaha tak peduli, Ichigo menatap sekilas sorot tajam gadis Kuchiki itu kemudian meneruskan perjalanan pulang.

Mencoba bersabar. Rukia menarik napas dalam lalu menghela. Kakinya ia ayunkan agar dapat menyamai kaki Ichigo yang lebar-lebar. Jantung Ichigo berdetak kencang saat Rukia telah menyamai langkah sehingga ketukan-ketukan sepatu mereka terdengar berirama mengalahkan kebisingan jalanan beraspal.

"Kau harus mengerti, Ichigo. Kita tidak bisa saling bersikap dingin terus karena kau dan aku akan jadi keluarga besar. Baik ini salahku. Tapi aku 'kan sudah minta maaf?"

"Akan kucoba."

"Apa?"

"Memberi maaf," Ichigo melirik sekilas pada Rukia yang sejak tadi tengah mengobservasi wajahnya.

"Tidak baik bagi seorang laki-laki berlama-lama merajuk."

Ichigo tak merespon, ia terus berjalan tanpa peduli pada gadis yang berjalan di sebelahnya.

"Saat tahu kakakku akan menikahi seorang duda beranak dua, sebetulnya aku tidak bisa terima. Saat tahu bahwa kakak menerima lamaran dari seorang pria bernama Kurosaki Isshin, aku juga sebenarnya ingin menolak. Mengetahui putra dari calon suami Kak Hisana adalah teman kencanku, rasanya ada tumpukan besar di kepala. Aku juga sangat terkejut, Ichigo," terang gadis itu seraya menundukkan kepala. "Panas yang sama. Kurasa kau juga merasakannya. Dadaku seperti dibakar di atas kubangan api, seperti yang kaukatakan ketika aku menolakmu padahal kau belum mengatakan apapun. A-aku sendiri bingung. Ketika itu, aku tidak tahu cara lain selain menjaga jarak darimu."

"Kenapa kau tidak bilang tentang semuanya saat kita kencan waktu lalu?"

Rukia menggelengkan kepala. "Entahlah—aku hanya tidak berani. Dan aku juga sangat ingin mempermainkanmu." Dara mungil itu mengerucutkan bibir.

"Kalau begitu kau sudah berhasil," desis Ichigo kemudian.

"Lagipula—seharusnya aku yang marah padamu?!"

Meninggikan suara, ditemani hentakan kaki. Rukia bermuka masam sembari berjalan cepat melewati bahu Ichigo. Melangkah lebih unggul dari Ichigo yang sekarang ada di belakangnya.

Mendengar itu buru-buru Ichigo menahan Rukia dengan menggenggam lengan atas sang gadis.

"Marah padaku? Memangnya ada yang salah denganku, hn?"

"Banyak! Tapi satu kesalahmu ya-yaitu—kau rupanya sudah punya pacar 'kan?"

Tanpa sadar Ichigo mencengkram lengan Rukia semakin erat. "Gosip darimana yang kaudengar?"

"Dasar, menyebalkan!" tandas gadis itu tajam lantas mencoba melepaskan diri dari cengkraman Ichigo yang menguat. Sayang, usahanya gagal ketika dalam sekali hentakan, tubuh kecilnya justru didorong oleh Ichigo hingga membentur tembok salah satu lorong pertokoan. "AAW!"

Dengan menghimpit Rukia diantara dirinya dan tembok, Ichigo bisa bebas menikmati ekspresi kekalutan di mata ungu cantik itu.

"Ma—mau apa kau?" cicit Rukia, membeku akibat bidikan mata cokelat Ichigo.

Sekejap Ichigo pun mencoba berdamai pada kemarahan.

Keberaniannya tersulut kala tatapannya turun pada sepasang bibir ranum Rukia yang agak terbuka, mengeluarkan udara mint dari mulut kecil itu sehingga butuh usaha keras bagi pria tersebut untuk mengendalikan hasratnya yang sudah lama tertahan.

Lalu, kantong digenggaman gadis itu pun terlepas. Jatuh terhempas di aspal—mungkin, mereka akan kembali ke toko. Membeli lampu yang lain karena lampu yang baru saja dibeli lagi-lagi retak gara-gara ulah Ichigo.

.

Bersambung dulu...

.

All readers, please give me your support again! Hehe.

Ah, tolong jangan serius memikirkan kasus-kasus yang dihadapi Ichigo nanti ya, itu cuma dijadikan sebagai bumbu cerita agar Ichigo dan Rukia semakin dekat, kok :D

Special thankyou; Azura Kuchiki, anita-indah-777, kichi no chappy, Eigar alinafiah, 15 Hendrik Widyawati, angkress-a-lauch, Dabelyu Phi, Hanna Hoshiko, prince ice cheery, Rini desu :)

And for you; ikma chan. Guest. nanda-teefa. darries. loly jun. cristiyunisca. snow. jessi. Riyuzaki L Ichiruki. Thank you very much for being in the review box! Ehm, mengenai Byakuya? Lihat nanti ya, readers :D