Chapter 7 : New Part Begins
Stull Cemetery, Lawrence.
The battle day Michael and Lucifer.
"hai, brother.." sapa Lucifer begitu melihat Michael sudah bersiap di lapangan battle mereka.
"hai," Michael terdiam sebentar, "Lucifer.."
Lucifer tak ada hentinya menatap Michael. Bagaimana ia selalu merindukan kakaknya itu, bagaimana bayangan kakaknya itu selalu menghantui pikirannya saat di neraka. Namun kini, dia harus melakukan battle dengan Michael. Rasanya tidak bisa dipercaya. Dia bahkan belum sempat berkata pada Michael bahwa dia amat menyayangi kakaknya dan tidak mau melakukan battle ini.
Michael pun seperti itu. Ia sangat berat saat diperintahkan Ayahnya untuk memerangi adiknya sendiri. Padahal ia sangat menyayangi Lucifer. Amat sangat melindunginya, tapi kenapa harus berakhir seperti ini? Kenapa harus dengan peperangan? Tidak bisakah ia dan Lucifer hidup bersama seperti dahulu kala?
"aku tak menyangka kita berakhir di tempat ini," kata Lucifer membuka pembicaraan. Namun Michael tetap diam memandangnya, "sungguh kita harus melakukan ini?" tanya Lucifer.
Michael sempat ragu sejenak, "ya, Lucifer. Ini perintah Ayah."
"Ayah? Ayah bahkan sekarang sudah tidak peduli lagi dengan kita, Michael."
"jangan kau bicara seperti itu."
"Michael. Bisakah kau sedikit percaya padaku? Ayah yang membuat kita bertengkar!" bentak Lucifer, "harusnya kita tidak perlu melakukan ini! We're still brother, Michael. Kita bisa bersama-sama lagi," lanjutnya.
Michael berpikir sebentar, "I'm not like you, brother. Ini perintah, dan karena aku good son, aku harus menurutinya. Aku bukan kamu yang suka memberontak."
"kau berubah, Michael," ucap Lucifer kecewa, "di neraka, aku selalu membayangkan saat aku keluar nantinya. Saat-saat ini, kau akan berada di sampingku. Perang bersamaku, seperti dulu."
"sorry, Lucifer.."
"hey, Ass-butt!" dari jauh Castiel berteriak membuat Lucifer dan Michael menoleh. Castiel segera melempar holy fire ke arah Michael. Di sampingnya berdiri Dean, Sam, dan Bobby. Michael terbakar dan menghilang.
"Castiel!" bentak Lucifer, "no one hurt my brother but me!"
"Lucifer!"
Lucifer menoleh ke arah panggilan tersebut, "Haniel.."
Sam, Dean, Castiel dan Bobby sempat kaget dengan kedatangan gadis itu. Karena setu jam sebelumnya, Leyna menghilang entah kemana. Dan mereka berempat kesini tanpa mengerti apa yang harus dilakuakn.
Leyna berjalan sedikit tegang namun berusaha sesantai mungkin dari arah berlawanan dengan berdirinya Castiel dkk. Ia menghampiri Lucifer dan berhenti tepat dua jengkal di hadapannya, "hai.."
Lucifer memandangi makhluk indah di hadapannya. Kulit putih pucat yang kontras dengan mata dan rambutnya yang terurai panjang sepunggung. Mata tajam yang menusuk hati Lucifer tepat di titik terlemahnya, "kenapa kau disini?"
"kau dan Michael tidak perlu melakukan ini," sahut Leyna.
"ya, aku tau. Aku juga tidak menginginkannya, tapi aku juga tidak ingin manusia menguasai bumi Ayah dengan segala kejahatan dan pembunuhan yang mereka lakukan, Haniel.."
Leyna memegang lengan Lucifer, "mereka tidak semuanya seperti itu.."
Lucifer menggeleng, "kau masih belum mengerti."
"aku mengerti. Lebih pentinganya lagi, aku merasakan sebagai manusia." Leyna kemudian mengeluarkan pedang malaikat milik Castiel (yang tadi sempat dia pinjam) dan menyembunyikannya dibalik punggung, "maafkan aku, Lucifer.." katanya sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Lucifer yang mulai melunak.
Lucifer hanya bisa menikmati setiap detik hidungnya menyentuh hidung Leyna. Ia tau apa yang disembunyikan gadis itu dibalik punggungnya, dan ia tau akan digunakan untuk apa. Maka dari itu, ia ingin menikmati momen itu. Kau dan Michael adalah kelemahanku, Haniel, batin Lucifer.
"aku menyayangimu, Lucifer. Aku akan selalu merindukanmu," kata Leyna pelan.
"begitu juga aku. Aku selalu ingin bersamamu, Haniel.."
Leyna menitikkan air matanya, "maaf, Lucifer. Goodbye," ia kemudian menusukkan pedang itu tepat di hati Lucifer. Jleb! Namun saat Lucifer masih sekarat (belum benar-benar mati), Michael kembali dan berjalan mendekati mereka.
"Haniel! What do you think you do? No one hurt my brother but me!" Michael kemudian mengacungkan pedangnya akan membunuh Leyna. Dan... Jleb! Lucifer telah lebih dulu menusukkan pedangnya di hati Michael. Membuat Leyna yang berdiri diantara mereka langsung menghindar beberapa langkah.
"we'll together again, brother.." kata-kata terakhir Lucifer sebelum akhirnya dia jatuh ke pelukan Michael. Dan kemudian cahaya mereka berdua mulai bersinar memenuhi Stull Cemetery. Cahaya yang sinarnya lebih terang dari cahaya Angel yang lain. Karena mereka berdua lah inti dari dunia ini. Inti dari semuanya. Brothers who protect each other, but have to betrayed each other.
Posisi yang mengagumkan. Akhir yang pantas untuk mereka berdua. Michael yang tangan kanannya masih memeluk Lucifer dan tangan kirinya terlentang di tanah. Sedangkan Lucifer tengkurap diatas pelukan Michel dengan kepalanya yang tersandar di bahu kakaknya itu. Leyna duduk terdiam disamping Michael dan Lucifer, tangisnya mulai pecah. Dua orang terpenting dalam hidupnya harus pergi meninggalkan dia begitu saja. Dua saudara yang pada dasarnya saling menyayangi, saling melindungi, namun juga saling menentang hanya karena takdir berkata seperti itu. Takdir yang memisahkan mereka. Takdir yang membuat mereka bingung harus berbuat apa, hingga Leyna menemukan selusinya yaitu dengan membunuh dua-duanya. Maka Lucifer tak perlu bingung, dan Michael pun juga begitu. Meski Leyna tak pernah tau apakah mereka berdua akan seperti ini lagi di kehidupan selanjutnya.
Lucifer yang egonya tinggi namun pandai, berusaha menyadarkan Michael yang sudah dibutakan oleh perintah Ayah dan being a good son nya. Sementara jauh di dalam hati Michael sendiri, ia masih menyimpan rasa ingin membantah, sama seperti Lucifer. Dan inilah akhir dari mereka, mati tanpa sempat mengatakan bahwa masing-masing dari mereka masih saling menyayangi.
Karena terakhir yang Lucifer tau, Michael selalu terobsesi membunuhnya atas perintah Ayah. Dan terkahir yang Michael tau, Lucifer lah yang menancapkan pedangnya di hati Michael. Ia tak pernah tau, apakah Lucifer masih menyayanginya.. atau tidak.
Yang tau hanya Leyna, satu-satunya yang peling mengerti Lucifer. Bahwa jauh di dalam hati Lucifer itu, tersimpan banyak kenangannya bersama Michael. Betapa ia sangat menyayangi kakaknya, melindungi kakaknya, bahkan tak pernah marah sekalipun meski Michael lah yang membuangnya ke neraka. Lucifer, ia tak pernah marah pada Michael. Dan tak pernah sedetikpun tak merindukan Michael.
Castiel berdiri di sebuah jembatan pinggir danau. Menatap danau yang tenang itu dengan damai. Inilah akhirnya, dia bisa tenang menjalani hidup. Bisa dengan tenang kembali ke surga, meskipun dia tau nantinya, dia akan banyak dicaci para malaikat. Karena Castiel sedikit banyak sama dengan Lucifer. Membantah. Memberontak.
Dalam diam, Leyna memandangi punggung Castiel dari jarak dua meter kurang lebih. Ia tersenyum menatap malaikat dengan jas hujan coklat khasnya itu. Dirinya bisa dengan tenang mempunyai perasaan pada Castiel sekarang. Karena urusannya dengan Dean sudah selesai setengah jam yang lalu.
Setengah jam yang lalu...
"hai, Dean."
Yang disapa hanya menoleh dan tersenyum, "hai, Leyna."
Leyna mengambil posisi duduk di samping Dean. Berusaha mencari kalimat yang sesuai sebagai awal dari apa yang akan ia bicarakan, "Dean, aku.."
"aku tau." Leyna menatapnya heran, "kau akan bilang kau melihatku bertengkar dengan Castiel, iya kan?" membuat Leyna tertunduk malu, "katakan padaku yang sejujurnya Leyna, kau menyukai Castiel?"
Leyna menatap mata hazzel Dean dan mengangguk, "sorry, Dean."
"It's okay, Leyna," kata Dean menenangkan, "pergilah. Cari Castiel sekarang. Sepertinya tadi dia pergi ke danau.."
"sungguh? Kau tidak apa-apa kan?" tanya Leyna sambil menyentuh bahu Dean.
Dean mengangguk, "I'm okay." Leyna memelukanya erat dan sedikit sempat meneteskan air mata di bajunya. Meninggalkan bekas luka, namun inilah yang terbaik. Kau menyukainya bukan aku, maka kau pantas bersamanya, batin Dean. Kemudian dilihatnya Leyna berlari. Dean tau kemana tujuan gadis itu. Danau.
Kembali ke sekarang...
Leyna masih berdiri disana. Tak mau mengganggu ketentraman Castiel lebih dulu. Tak mau memanggil laki-laki itu karena ia tau, Castiel masih betah menghirup udara segar setelah beberapa hari dirinya sibuk kesana kemari membantu Dean dan Sam.
Namun di jarak dua meter di belakang Leyna, berdiri laki-laki dengan postur tubuh yang "meyakinkan". Mata hazzelnya menatap Leyna yang sedang menatap Castiel. Perlahan hatinya meremuk, hingga hancur tak berbekas. Mata indah itu akhirnya meneteskan air mata.
Pantas kalau Leyna lebih menyukai Castiel daripada aku. Karena sebelumnya dia menyukai tipikal Lucifer ketimbang Michael. Lebih menyukai seorang pemberontak namun pandai daripada seorang penurut namun buta kebenaran, batin Dean tersadar.
Kembali pada Castiel, Angel itu tau seseorang sedang berdiri di belakangnya. Dan di belakang orang yang berdiri dibelakangnya, ada sesorang lagi yang Castiel jelas tau siapa dia. Matanya terpejam dan mengambil napas dalam-dalam, "new part begins.."
