Alone Chapter 7

.

Disclaimer: Semua chara hanya milik Masashi Kishimoto.

.

Aku hanya menunggu sebuah bangku kosong yang belum terisi juga. Padahal sekarang telah mencapai pukul 07.15 dan seharusnya pelajaran sudah dimulai namun yang namanya Kakashi-sensei yang begitu deh.

Aku hanya duduk berpangku tangan. Tiba-tiba seseorang duduk di bangku kosong itu dan menjawil pipiku. Muncullah seorang gadis bercepol dua yang biasanya memberikanku contekan mata pelajaran fisika setiap mau ujian akhir semester.

Namun yang membuatku terlihat bodoh adalah aku tidak menyadari kalau Tenten sudah duduk di bangku kosong itu sejak tadi. Tenten hanya memberikan senyum jahilnya.

"Hayoooo….. kangen sama Sai ya? Enggak tahu gimana reaksinya si Sai kalo tahu kamu begitu kangennya sama dia," ucap Tenten.

"Hm! Aku enggak kangen. Cuma mikirin gimana nanti kalo kepalanya jadi sebesar dua kali bola takraw kalo aku mikirin dia!" ucapku mengelak.

Eh?

Kali ini muncullah seorang yang bernama Chouji. Dia menarik kursi dan duduk di samping Tenten. Sambil ngemil keripik kentang dia berbicara hal yang benar-benar membuatku terkejut.

"Mungkin dia cuma skeptical dulu terus mulai menganalisa. Kalau pengen lebih beruntung, mendingan kamu tembak aja dia langsung. Pasti dia minta waktu ataupun menantang kamu dalam beberapa waktu."

"Maksudnya?"

"Sai itu tipe orang yang terlalu baik menurutku. Namun lingkungannya yang enggak mendukung membuatnya merasa kalau dunia itu tidak adil," ucap ketua kelas kami, Hoshimaru.

"Tidak kusang-"

"Kami memang selalu memperhatikan Sai meskipun kami terlihat tidak perduli. Lagipula itu juga merupakan balas budi kami padanya," ucap Gaara. Dan sekarang terbentuklah kerumunan bagaikan forum yang memiliki tema 'Sai'.

"Balas budi?"

"Ha-hai. Wa-waktu aku di bully karena sikap anehku yang terus memandangi buku diary-ku dulu, Sai adalah orang yang berani berkata kasar pada dua orang siswi yang menertawakanku dulu," ucap Hinata.

"Maaa… mumpung masih seger pembicaraannya, nimbrung Bro!"

"Walah Naruto! Jangan menuh-menuhin tempat! Ini udah over space."

Naruto yang berasal dari kelas sebelah malah asik ngikut aja ke gerombolan kami. Yang membuatku heran adalah anggota forum bersikap biasa-biasa saja. Namun, ini kan pembicaraan antar kelas yang cukup privat?

"Sai itu orangnya begitu. Namun aku bersyukur dia mau berusaha untuk kembali ke dirinya sendiri sedikit demi sedikit. Meskipun aku merasa agak merasa bersalah ketika dia harus beracting bagaikan dirinya adalah Sai yang dulu."

"Kau salah, memang kita tahu siapa Sai yang dulu?"

"Gomen."

"Puah… sedang bicara apa kalian ini? Sepertinya menarik…."

Kami segera berjingkat melihat kehadiran sang wali kelas kami, Kakashi-sensei. Dia malah sudah dalam posisi duduk dan terlihat bahwa dia sudah lama berada di sana sambil mendengarkan pembicaraan kami.

Kami segera beralih formasi. Namun lambaian tangan Kakashi-sensei membuat kami menaikkan sebelah alis.

"Sudah duduk saja. Sebentar lagi para guru akan ada rapat dan.."

"Kakashi-sensei mau nelat gitu?" tanya Naruto dengan muka innocent. Sebuah buku yang 'sakral' mengenai kepalanya. Naruto tersungkur.

"Oke, sekarang tinggal para anggota kelas yang masih hidup. Jadi, bagaimana dengan si Sai ini?" tanya Kakashi yang tanpa merasa berdosa pada Naruto yang K.O . Aku hanya bisa geleng-geleng. Sai, beginikah hidupmu ketika kamu bersama mereka dahulu?

"Kami Cuma mau cerita sama Ino saja. Yah, memberi tahukan Ino mengenai Sai yang agak-"

"Shhuusssssh! Kau ini!"

"Kurasa memang seisi kelas memang harus tahu mengenai ini. Ino-chan, begini. Mungkin bagimu kelas ini terlihat egois. Namun kami memang begini. Kami punya dunia kami sendiri-sendiri. Namun di sisi lain kami juga care dengan yang lainnya," jelas Kiba. Aku hanya manggut-manggut.

"Yup! Mungkin kami terkenal sebagai siswa-siswi yang tidak perduli sekitarnya. Namun bagi kami, kami hanya ingin pengertian diantara satu sama lain."

"Maksud kalian…"

"Ettoo… kamu mungkin penasaran kenapa kami begitu soliter ataupun hidup sendiri-sendiri."

Apa-apaan itu?

Tapi aku tidak merasa tuh.

"Sebentar, Ino. Kami membiarkan Sai begitu agar dirinya bisa kembali seperti dulu lagi. Ano ne, dulu pernah ada kejadian yang merubah semuanya. Jadi kami berniat untuk tidak mengangkatnya lagi ke permukaan."

Semuanya semakin rumit rupanya….

Tuk

Tuk

Tuk

"Are?"

Berpasang-pasang mata menoleh ke arah luar. Semuanya berbenturan dengan manik onyx yang kurindukan. Namun ketika aku kembali pada teman-teman, semuanya membuang muka dan kembali ke urusan masing-masing. Beberapa siswa menepuk pundaknya dan memberikan cengiran mencurigakan. Dia hanya menaikkan sebelah alisnya.

"Ma ma… kami Cuma ngebicarain para Sensei yang ikutan rapat," ucap Naruto yang membuat Sai menoleh ke arah Kakashi-sensei. Kakashi-sensei pun kelabakan, namun Sai hanya ber-'oh' ria. Membuat yang lain menghela napas lega.

Ketika yang lain beralih, Sai berjalan ke arahku dan melemparkan senyumannya. Lalu tiba-tiba saja dia mendekatiku hingga aku dapat merasakan deru napasnya. Aku merasa pusing melihat tatapan matanya yang benar-benar sesuatu. Namun senyuman ala rubahnya muncul diiringi oleh aura menghitam.

"Jangan kasih tahu tentang yang telpon-telponan ya!" ucapnya. Aku hanya mengangguk tak sadar. Hingga kehangatan yang kurasakan menghilang akibat dirinya yang beralih dan duduk di kursi di sebelahku.

Tunggu sebentar…

Hangat?

.

.

.

"Woy.. aku ada pengumuman nih! Ternyata kita bebas sampai jam terakhir cuy!"

Selebrasi pun terdengar diantara para siswa maupun siswi. Namun aku hanya terpaku pada Sai yang masih bermimpi indah di mejanya. Namun entah kenapa aku merasakan ada yang salah dengannya. Entah apalah itu.

Namun teman-teman lain juga sibuk sendiri. Mungkin saja Sai sedang dalam keadaan tidak fit sehingga dia lebih seperti layaknya orang mati daripada orang yang masih hidup. Biasanya teman-teman akan menjahili Sai dengan mengikat rambut cowok itu hingga membentuk cepol dua.

Ketika seorang Sensei melihat keadaan Sai yang seperti itu, dia akan segera membangunkan Sai dengan cara melemparkan tutup spidol di atas kepala Sai. Namun ketika ekspresi Sai yang bak seorang zombie yang bangun dari kubur serta cepol dua di atas poninya, membuat sang Sensei tidak jadi menghukum Sai.

Kenapa?

Karena setiap Sensei pasti tidak dapat menahan tawanya melihat keadaan Sai yang seperti itu. Bahkan Sensei yang paling galak sekalipun bakal sibuk menahan tawa dan akhirnya menyuruh para cewek untuk memeriksa tas mereka apakah mereka membawa kaca.

Dan Sai disuruh berkaca.

Mungkin bagi yang lain, reaksi yang muncul berupa perempatan dan juga aura marah-marah.

Sedangkan Sai?

Dia hanya melongo sebentar,

Ber-'oohhhh' ria.

Dan melepaskan ikat rambut yang membentuk cepol di atas kepalanya dengan pasif.

Siapa yang tidak tertawa?

"Pppfffttttt!"

Aku segera berusaha untuk menahan tawa dan akhirnya hanya bisa terbungkuk-bungkuk di atas meja. Ketika aku menoleh ke sebelah, aku menemukan Sai dengan rambut acak-acakan dan juga mata dengan kemampuan menyala sebanyak 5 watt. Dia hanya menaikkan sebelah alisnya dan menggaruk-garuk kepalanya. Lalu dia segera beralih dan berjalan keluar kelas.

Dia mau kemana?

Dan ketika Naruto yang aktifnya kelewat batas berniat memasuki kelas kami (lagi), tanpa sengaja dia bertabrakan dengan Sai yang berusaha untuk mencapai pintu keluar. Naruto hanya jatuh terduduk sambil berniat untuk mengulek-ulek kepala Sai.

"SAI!"

Seisi kelas segera berkumpul melihat Sai yang sudah terbaring telungkup dengan tiada tanda-tanda kehidupan sama sekali. Membuatku juga berlari ke arahnya. Bagaimana bisa memaksakan diri untuk masuk sekolah ketika sedang sakit begini?!

Tiba-tiba saja semuanya memberiku jalan untuk mencapai Sai. Beberapa cewek sudah menunjukkan wajah memerah dengan menggigiti dasi mereka. Para cowok hanya cengengesan (terutama Naruto yang tidak jadi marah). Namun prioritas utamaku adalah Sai.

Dengan dibantu oleh para cowok, mereka menggulingkan Sai yang ternyata menampilkan wajah bahagia di alam mimpi. =,=!

Beberapa siswa ada yang tertawa terbahak-bahak, beberapa lagi malah misuh-misuh karena mereka terpaksa meninggalkan pertandingan bola yang mereka tunggu-tunggu (maklum, mereka memanfaatkan streaming sekolah) hanya demi kebo bule yang ternyata malah molor di atas lantai ubin yang dingin.

Aku pun tertawa terbahak-bahak melihat kejadian itu.

Hingga akhirnya muncullah seorang Sensei yang paling ditakuti seantero SMA Konoha, yakni Shimura-sensei. Namun menurut info anak-anak, hanya Sai saja yang mampu menaklukkan sang guru yang dicap paling galak satu sekolahan. Aku sendiri malah bingung, bagaimana bisa Sai yang begitu sikapnya malah mampu menaklukkan Sai yang begitu.

"Eh, ada Shimura-sensei.." ucap Kiba sambil mengambil langkah mundur-mundur bak menghindari semprotan sang Sensei yang tentu saja lebih membahana daripada semprotan ala Hibiki-sensei.

"Dimana yang bernama Sai?"

"Oh… etto…."

Pandangan sang Sensei segera beralih ke arah Sai yang ternyata tergeletak dengan bunga-bunga mimpi yang bertebaran di atas ubin. Setelah menatap Sai dengan posisi begitu, dia hanya mengangguk dan menatap siswa-siswa lain yang berwajah ketakutan.

"Bilang padanya untuk menemuiku dua jam lagi," ucapnya sambil berlalu. Yang lain bernapas lega dan kemudian melakukan permainan jan-ken-pon untuk menentukan siapa yang bakalan menggendong Sai menuju ke UKS. Dan yang dapat adalah Naruto yang kebetulan ikutan karena dia juga merupakan sahabat dekat si kembar Uchiha.

Aku bersama-sama cewek-cewek yang lain berniat untuk mengantarkan Sai yang ujung-ujungnya mereka mundur satu persatu dengan berbagai alasan yang aneh-aneh. Sehingga yang tersisa adalah aku dan Naruto yang misuh-misuh.

"Ugh! Berat banget sih nih anak! Kelihatannya seperti batang korek, tapi beratnya bak karung beras!"

Aku hanya terkekeh sambil memperhatikan Sai yang tertidur dengan damainya. Sai memang berwajah datar namun tidak pernah sekalipun aku melihat wajah datarnya yang seindah (dan imut!) ini.

Ups!

Aku hampir saja jatuh berguling-guling dari lantai dua dikarenakan anak tangga yang menunggu di depan kami. Naruto pun ambil posisi dengan perlahan berjalan menyamping bak kepiting.

"Huft… huft… huft… baru sekarang ini aku merasakan kesusahan para kuli-kuli pasar besar Konoha!"

Aku pun tertawa terpingkal-pingkal.

Dan tawaku sukses membuat sosok yang digendong oleh Naruto terbangun (ala zombie). Mata panda, wajah kuyu dan suara ogah-ogahan yang membuatnya persis bak zombie yang baru bangkit dari Taman Makam Pahlawan yang terletak di alun-alun Konohagakure.

"Kau sudah bangun? Hah! Cepetan turun-turun! Kau bisa jalan sendiri kan?!" ucap Naruto dengan kasar sambil duduk di atas ubin yang dingin dengan maksud menurunkan Sai secara paksa. Sai sendiri malah bergerak mundur dengan cara ngesot ke belakang.

"Ayo bangun! Kalo mau tidur ya UKS sana! Biar kuanterin! Oh ya,dua jam lagi kau harus menemui Shimura-sensei!"

"Aa…"

Naruto segera bangun dan menarik tangan kanan Sai. Aku pun ikut membantu dengan menarik tangan kiri Sai. Kami berdua sukses menarik Sai dan memaksanya berdiri. Namun ketika kami melepaskan tangan kami, giliran Sai yang berjalan bak zombie.

Untuk berjaga-jaga, kami menaruh Sai di tengah agar tidak oleng dan jatuh lagi. Namun kali ini Sai berhasl bertahan dengan muka sayu karena kurang tidur. Memangnya tadi malem lagi ngapain sih kok sampai segitunya. Ah… mungkin Sai dikerjain oleh kedua saudaranya yang terkadang bisa sangat jahil itu.

"Mataku kekuatannya tinggal lima watt…" keluh Sai. Naruto hanya terkikik ria dan meraih leher Sai.

"Kau ini! Tadi malem abis ngapain? Begadang sambil baca majalah porno ya?"

"Enggak. Cuma enggak bisa tidur gara-gara suara cemprengnya Ita-nii yang kelewat batas."

"Lho? Emangnya dia ngapain?" tanyaku. Sai malah menghela napas berat dan tiba-tiba saja kepalanya menyender di bahuku yang bsedang berjalan. Naruto malah ambil posisi agar aku dapat menahan beban tubuhnya.

Sadar Ino…

Sadar….

"Dia ngerjain tugas kuliah sambil nyanyi-nyanyi enggak jelas. Berkali-kali Sasuke melemparinya dengan guci kesayangan Tou-san. Namun yang ada dia malah karaokean di ruang tamu dengan guci sebagai mic-nya. Kurasa Ita-nii sudah tidak penuh lagi."

Ppfffttt…..

Ketika sampai di UKS, Sai tidak langsung berbaring di Kasur namun malah cuci muka sambil menyuruh Naruto untuk menncubiti lengannya. Alasannya biar bisa melek.

.

.

.

"Hey minna! Aku punya kabar gembira lho! Di kelas ini yang ikutan karnaval adalah Hinata!"

Siulan dan juga sanjungan segera terdengar meskipun banyak juga yang mengoceh sarkastik dengan maksud guyonan. Namun pandanganku teralih ke arah Hinata yang sibuk berbicara dengan Sai. Mereka terlihat serius.

Entah kenapa perasaan agak galau menghampiriku.

Sadar Ino!

Sadar!

Hinata sudah punya Naruto soalnya!

Aku pun segera menghampiri mereka dengan maksud ingin tahu alias kepo. Kurangkul leher Hinata dan ketika kutahu kalau Sai merupaka desainer buat karnaval SMA Konoha, aku segera meraih kedua bahu Sai dan mengguncang-guncang tubuhnya. Bahkan Sai yang saat itu masih belum selesai ngantuknya akhirnya pergi ke kamar mandi karena mual-mual.

Dan aku merasa (sangat) bersalah.

"Cie cie… dateng-dateng udah pamer kemesraan gitu! Mau pamer ama Hinata ya?" tanya Tenten. Aku hanya berusaha untuk mengelak. Namun yang kudapat adalah tepukan dan anggukan ambigu yang membuatku berapi-api.

Tiba-tiba saja Naruto ikutan nimbrung.

"Ah…. Aku yakin kalau Sasuke tau dia pasti bakalan ikutan karnaval dengan modus yang aneh-aneh."

"Maksudmu apa, Naruto?"

"Meskipun begitu, Sasuke sama Itachi itu punya level brocon yang lumayan gedhe kalo ama Sai," ucap Chouji. Ya ampun…

"Lihat aja nanti, dia pasti ndaftar jadi salah satu peserta karnaval."

"Dan pasti jadi bagian yang berjalan lebih dulu sebagai pembukaan."

Ucapan para cowok-cowok membuatku menahan tawa. Namun ketika Sai datang, para cowok segera menghampirinya demi menanyakan bagian pembuka itu. Dengan entengnya Sai menjawab dengan wajah tanpa dosa.

"Manusia batu. Emangnya kenapa kok tanya-tanya? Kalian mau ikutan?"

Seisi kelas yang tak sengaja mendengarnya tidak tahu harus berbuat apa. Sedangkan para cowok sudah ngakak guling-guling. Aku yakin mereka membayangkan Sasuke yang berdandan ala cave man dan berjalan di areal alun-alun kota.

Aku yakin sekali…

Yakin kalau Sasuke mau melakukannya.

Tapi masak sih?

.

.

.

To be continued.

.

.

Sorry for the late update. Udah lama nih fic Kasumi anggurin dan ketika buka-buka folder lama Kasumi nemuin ini. So,any review?