BOOTAE

.

361 [ Roommate ]

.

JUNGKOOKxTAEHYUNGxJIMINxYOONGI

BTS' Member

.

Jungkook—si murid pindahan yang kurang beruntung karena mendapat roommate yang bernama Taehyung—yang menurut asumsinya sekarang, adalah preman.

.

BOYS LOVE, YAOI, AU

.

DON'T LIKE DON'T READ

.

Chapter 7

"Sudah cukup, Jimin."

Yoongi menarik Jimin agar menjauh dari Taehyung dengan cara mencengkram bahunya kuat dan menariknya dari belakang. Yoongi bisa mendengar Jimin memberontak dan memaksanya untuk melepas cengkramannya.

"Lepas—"

"Kau pikir Jungkook akan menyukaimu jika kau seperti ini, Jim?" Yoongi bertanya dengan lembut, dan dia berhasil untuk membuat Jimin bungkam.

Boneka yang sedari tadi berada di genggaman Taehyung, jatuh begitu saja ke tanah yang tertimbun oleh salju. Uap hangat berhambur keluar dari mulut Taehyung saat pemuda itu menghembuskan napasnya. Dia bisa melihat Jimin sedang menundukkan kepalanya dan Yoongi yang mencengkram bahunya.

Taehyung bertanya, "Mana Jungkook?"

"Toilet." Yoongi menjawab, dan kedua pemuda itu bisa mendengar Jimin berdecak pelan.

Taehyung menghela napas, dan memperhatikan Jimin yang masih menundukkan kepalanya. "Aku tidak tahu kalau kau ternyata sangat kasar." Taehyung berkata sambil membungkukkan tubuhnya untuk mengambil boneka yang tergeletak begitu saja, kemudian berlalu meninggalkan dua pemuda yang masih terdiam itu.

Yoongi memutar tubuh Jimin agar pemuda itu menghadap ke dirinya. "Bahkan Taehyung tidak menyangka kalau kau seperti ini, apalagi aku?"

Jimin mendongak, dan berkata. "Maafkan aku hyung, aku tidak tahu kalau akhirnya akan seperti ini."

Yoongi menghela napas, dan menatap Jimin. "Kau kacau, Jim."

.

.

"Jeon Jungkook,"

Merasa dipanggil, Jungkook menoleh ke samping untuk mencari tahu sumber suara, dan dia menemukan Taehyung sedang berlari ke arahnya—dan membawa boneka.

Jungkook tersenyum, "Hey, Jimin dan Yoongi-hyung ada di mana?"

Sambil mengibaskan sebelah tangannya yang tak menggenggam boneka, Taehyung berkata. "Jangan bahas mereka dulu," Mendengar itu, Jungkook mengangkat sebelah alisnya, bingung. Namun kebingungannya itu segera hilang karena Taehyung tiba-tiba menyerahkan boneka itu kepadanya—sambil membuang muka, Jungkook sempat melihat telinganya yang memerah.

"Untukmu," Taehyung berucap, suaranya agak bergetar. Jungkook terkikik mendengarnya, dan meraih boneka itu. "Aku tidak tahu kalau kau bisa seperti ini, Taehyung."

Taehyung memilih untuk menatapnya, "Kau suka?"

Jungkook menjawabnya dengan sebuah anggukan, dan dia nyengir. "Ya, terima kasih—" Jungkook mengusap boneka itu. "—aku akan menyimpan boneka ini."

Sebelum Taehyung sempat membalas apa yang Jungkook katakan, Yoongi datang menghampiri mereka. Kedua alis Jungkook terangkat ketika dia menyadari ketidakhadirannya Jimin di sana, reflek dia bertanya. "Yoongi-hyung, Jimin di mana?"

Yoongi buru-buru menjawab, "Di Toilet," dan ketika Jungkook hendak bertanya lagi, Yoongi memotong. "Jangan bertanya lagi."

Jungkook menyerngit, tapi akhirnya mengangguk juga. "Aku akan menyusulnya—" kata Jungkook kemudian dia beranjak dari tempatnya berdiri, tetapi Taehyung buru-buru meraih lengannya agar pemuda itu berhenti. "Jangan,"

"Kenapa?"

Taehyung mendesis, "Tidak, jangan menyusulnya." Kemudian pemuda itu menarik lagi lengan Jungkook untuk pergi menjauh dan meninggalkan Yoongi yang masih berdiri memandangi mereka.

.

Taehyung masih saja menarik lengan Jungkook sampai mereka tiba di kamar asrama. Ketika sampai di dalam kamar, dengan cepat Taehyung melepaskan cengkeramannya di lengan Jungkook dan segera berbaring di ranjang. Jungkook berdiri di samping rak buku sambil melipat kedua lengannya di depan dada, kemudian mendengus sebal.

"Kenapa sih, kau menyeretku pulang?" Jungkook menatap Taehyung yang belum mengubah posisinya, lalu dia melirik sekilas boneka baymax yang sudah Ia letakkan lebih dulu di atas meja belajar.

Ketika Taehyung menjawab, Jungkook rasanya ingin memotong leher pemuda itu. "Karena aku ingin kita pulang, dingin."

"Padahal aku 'kan ingin menyusul Jim—"

"Jangan sebut nama si pendek sialan itu." Taehyung memotong sambil menatap Jungkook tajam yang seketika membuat nyali pemuda itu ciut. Karena sebal, Jungkook berjalan ke kamar mandi sambil menghentak-hentakkan kakinya dan ketika juga membanting pintu.

Sesaat setelah Jungkook keluar dari kamar mandi, dia kembali bertemu pandangan dengan Taehyung yang belum mengubah posisinya satu senti pun. Tapi Jungkook dengan cepat memutuskan kontak mata dan berjalan ke arah lemarinya untuk berganti pakaian.

Taehyung menghela napas. "Mau turun untuk makan malam denganku?"

"Tidak."

Taehyung mendengus tak suka karena Jungkook menolak ajakannya, tetapi pemuda itu tidak berniat untuk memaksa Jungkook agar ikut makan malam bersamanya. "Yasudah." Taehyung bergumam dan beranjak dari ranjangnya untuk mengganti pakaian.

Jungkook sesekali melirik Taehyung, tetapi pemuda itu berakhir dengan mendengus sebal dan merebahkan dirinya di ranjang. Tak berniat untuk menatap ataupun memulai percakapan dengan roommate premannya.

Taehyung sudah selesai berganti pakaian. Ketika dia berbalik, Taehyung mendapati Jungkook sedang merebahkan dirinya di ranjang, dan memunggunginya. Taehyung berjalan mendekati ranjang Jungkook, dan berdiri di sampingnya. "Kau benar-benar tidak mau turun untuk makan malam?" Taehyung bertanya lagi, berharap kali ini Jungkook akan menyetujui tawarannya.

Tetapi pemuda itu diam saja, tidak berniat untuk menjawab. Jungkook berpura-pura untuk tidur, walaupun perutnya sudah meronta sedari tadi minta diisi.

"Baiklah, terserah." Taehyung mengacak rambut orangenya dan melangkahkan kakinya menuju pintu.

.

Taehyung makan malam sendirian. Sesekali dia memperhatikan kesekelilingnya, berharap Jungkook datang untuk makan. Tak apa jika Jungkook tidak makan bersamanya. Taehyung sedari tadi merasa tak enak, takut Jungkook akan mati kelaparan di kamar.

Yoongi yang saat itu belum mendapatkan meja untuknya, mendapati Taehyung yang sedang duduk sendirian. Kemudian Yoongi berjalan ke arah meja tempat Taehyung makan malam. Yoongi meletakkan makan malamnya di atas meja. Yang membuat Yoongi heran, Taehyung sendirian malam itu.

Yoongi mengambil sumpit besi, dan menyumpit sepotong daging dan memakannya. Setelah menelannya, Yoongi langsung bertanya. "Kenapa kau sendiri?" Taehyung mendongak, baru menyadari kalau ternyata Yoongi yang sedari tadi duduk di hadapannya.

Taehyung meletakkan sumpitnya, enggan untuk melanjutkan makan malamnya. "Jungkook tidak mau turun."

Sudut bibir Yoongi naik. "Oh ya? Kenapa?"

Taehyung melirik Yoongi, kemudian dia menopang dagu. Butuh beberapa detik baginya untuk menjawab pertanyaan Yoongi. "Tidak tahu, aku rasa dia kesal padaku." Taehyung menghela napas, mengingat lagi kejadian beberapa jam yang lalu, antara dia dan Jimin.

"Kesal karena kau menyeretnya pulang?" Yoongi meraih botol air mineral dan meminumnya. Kemudian Taehyung mendengus geli, yang Yoongi katakan barusan memang benar.

Yoongi kembali memakan makan malamnya, sambil sesekali melirik Taehyung yang belum mengatakan sepatah katapun. Taehyung mengetuk jari telunjuknya ke meja berkali-kali, kentara sekali dia sedang memikirkan sesuatu. Yoongi tahu, Taehyung pastilah sedari tadi memikirkan Jungkook. Hanya Jungkook yang selama ini dekat dengannya.

Ketika Taehyung berbicara, Yoongi mendongak untuk menatapnya.

"Aku tidak ingin dia bertemu dengan Jimin,"—Taehyung mengembuskan napas, membuat Yoongi mengangkat sebelah alisnya, menunggu Taehyung untuk melanjutkan kata-katanya—"aku tidak tahu kenapa, tapi perasaan ini menggangguku."

Yoongi mengangkat piring bekas makan malamnya, lalu berdiri. Taehyung mendongak untuk menatapnya, heran kenapa Yoongi tiba-tiba beranjak untuk pergi. Pemuda di hadapan Taehyung itu tersenyum, dan berkata. "Mungkin kau jatuh cinta?"

Dan setelahnya, dia berlalu.

.

"Jungkook!"

Jungkook menoleh ketika dia mendengar suara yang sudah tak asing lagi, dan sebuah senyuman tampak di wajahnya ketika dia melihat seorang pemuda sedang berlari ke arahnya sambil melambaikan tangannya. Kemudian seseorang itu mencoba untuk merangkul Jungkook yang lebih tinggi darinya, membuat Jungkook terkekeh.

"Maafkan aku karena pulang lebih awal kemarin, Jim." Jungkook kini merangkul Jimin yang berjalan berdampingan dengannya.

Jimin meliriknya, dan kembali menatap ke koridor. "Tak apa. Taehyung menyeretmu pulang, 'kan?" Jungkook menganggukkan kepalanya, dia kembali teringat Taehyung yang menyeretnya pulang kemarin, dan moodnya kembali turun.

Mata Jungkook menangkap seorang pemuda yang sedang menenteng beberapa buku dan ransel berwarna hitam yang menggantung di punggungnya, dan juga rambut orange pemuda itu yang ditata dengan agak berantakan. Jungkook langsung saja mengetahui siapa orang itu, hanya dia satu-satunya orang yang berani mengecat rambut dengan warna yang mencolok di sekolah.

Jungkook sempat merasa kesal pagi itu karena dia harus menatap wajah Taehyung lagi. Jadi dia memutuskan untuk pergi lebih cepat dari biasanya, agar dia tidak perlu memulai percakapan dengan Taehyung.

Jungkook sengaja mempercepat langkahnya, Jimin sempat kewalahan, tetapi saat dia melihat Taehyung, Jimin langsung tahu apa yang akan Jungkook lakukan.

Taehyung tidak berbalik, dia sudah mendengar suara Jimin dan Jungkook sedari tadi. Jungkook melewati Taehyung dan sengaja membuat kedua bahu mereka beradu, dan Taehyung hampir saja terjatuh jika dia tidak menahan dirinya lebih kuat saat itu.

Kedua orang itu berlalu, menghilang dengan cepat dari kedua mata Taehyung.

Yoongi yang kebetulan sedang berjalan menuju kelasnya, mendapati Taehyung sedang berdiri di tengah koridor. Dia tidak bergerak, Taehyung hanya menatap kosong ke depan, membuat Yoongi heran. Ketika dia mengikuti arah pandang Taehyung, samar-samar Yoongi bisa melihat Jimin dan Jungkook sedang berjalan berdampingan.

Yoongi memutuskan untuk menghampiri Taehyung, kemudian meremas pundaknya. Taehyung menoleh dan mendapati Yoongi sedang menatap lurus ke depan. "Aku tahu, mungkin hal semacam ini sulit bagimu, bukan?"

Kemudian Yoongi melepaskan cengkeramannya dari bahu Taehyung, dan berjalan mendahului Taehyung, meninggalkan pemuda itu sendiri lagi di tengah koridor yang ramai.

.

Waktu makan siang, tapi Taehyung menggunakan kesempatan itu untuk menarik Jungkook dan membicarakan masalah antara mereka.

Saat ini, keduanya sudah berada di lapangan basket indoor. Hanya ada mereka berdua di dalam sana, membuat Taehyung menjadi leluasa untuk mengatakan apapun yang mengganggunya. Sebelum Taehyung sempat mengatakan sesuatu, Jungkook lebih dulu berkata. "Kau ingin bicara apa? Cepatlah, aku sibuk."

Jungkook melipat kedua lengannya di depan dada, menunggu Taehyung untuk berbicara. Taehyung menghela napas, dan menatap Jungkook.

Taehyung bertanya. "Kau marah padaku?"

Jungkook memutar kedua matanya malas, dia benar-benar tidak ingin membahas itu, apalagi dengan Taehyung. Jungkook mengembuskan napas kasar, enggan untuk menjawab. Tetapi tatapan Taehyung yang tajam memaksanya untuk menjawab.

"Aku tidak ingin membahas—"

"Jawab aku."

Jungkook berdecak, terpaksa Ia menjawab. "Ya, aku marah."

Taehyung mengusap wajahnya, kemudian menatap kesekeliling, dan kembali menatap wajah Jungkook yang balas menatapnya sebal. "Kenapa kau marah padaku?"

"Karena aku ingin."

Kali ini yang Taehyung berdecak. "Kau tidak suka karena aku melarangmu untuk menyusul Jimin?" Jungkook menjawabnya dengan sebuah anggukan, kemudian dia memilih untuk beranjak dari tempatnya, meninggalkan Taehyung.

Tetapi sebelum dia berjalan lebih dari tiga langkah, Taehyung sudah lebih dulu menariknya dan juga mendorongnya. Sampai akhirnya Taehyung berada di atas Jungkook, yang sudah berbaring di lantai karena paksaan Taehyung.

Wajah Jungkook memerah, baru kali ini ada seseorang yang memperlakukannya seperti tu. Jungkook mencoba untuk menyingkirkan Taehyung dengan mendorong dadanya dan berkali-kali memukulnya. Tetapi Taehyung tak bergerak sedikit pun, melainkan dia meraih kedua lengan Jungkook dan menahannya di kedua sisi kepalanya.

"Lepas—"

Taehyung memotongnya. "Aku tidak akan melepaskannya sampai kau mau menyelesaikan ini denganku."

Jungkook mengatur napasnya, dan mencoba agar dia tak kelihatan gugup saat Taehyung berada di atasnya saat ini.

Kemudian Taehyung berbicara lagi. "Kenapa kau tidak suka aku yang melarangmu untuk menyusul Jimin?"

Jungkook memberanikan diri untuk menjawab, dan mencoba agar suaranya terdengar biasa saja. "Karena Jimin itu temanku, aku ingin menyusulnya. Tetapi kau malah melarangku untuk menyusul temanku sendiri, dan menyeretku kembali ke asrama."

"Aku tidak ingin kau menyusulnya, aku hanya tidak ingin." Taehyung mencoba untuk menahan amarahnya, tetapi tentu saja gagal. "Yoongi-hyung berbohong saat dia mengatakan kalau Jimin sedang berada di toilet, aku tahu dia sedang berada di mana saat itu, karena aku juga berada di sana sebelumnya."

Jungkook dibuat bingung. "Maksudmu?"

Taehyung mengerang. "Jimin membawaku ke tempat sepi, dan dia mengatakan kalau dia tidak suka melihatmu dekat denganku."

Kemudian Taehyung melepaskan kedua tangan Jungkook dan dia bangkit dari posisinya, kemudian Taehyung menyelipkan kedua tangannya ke saku mantel yang Ia kenakan.

"Maafkan aku karena sudah melakukan ini, aku pikir, sebaiknya aku tidak mengajakmu untuk berbicara lagi." Taehyung berbalik dan berjalan meninggalkan Jungkook yang kini terduduk untuk menatap punggung Taehyung, kemudian Jungkook menghela napas saat Taehyung menghilang di balik pintu.

.

"Jimin, apa benar kau mengatakan itu pada Taehyung?"

Jungkook menginjak salju yang sudah mulai tebal itu. Jimin dan Jungkook sedang duduk di taman yang sudah terlapisi oleh salju tebal, membuat tempat itu benar-benar terlihat berwarna putih. Jimin menolehkan kepalanya, mencoba untuk mencerna apa yang barusan Jungkook katakan padanya.

Kemudian Jimin menundukkan kepalanya. "Ya," Jimin kembali menatap Jungkook dengan tatapan memohon. "Tapi, aku tidak bermaksud untuk melakukan itu. Aku benar-benar lepas kendali saat itu, maafkan aku."

Jungkook mendengus. "Semua orang selalu mengatakan hal yang sama saat mereka tidak ingin mengakui apa yang mereka katakan. Selalu dengan kata-kata 'aku tidak bermaksud'." Kemudian Jungkook kembali menatap Jimin. "Kenapa kau tidak suka melihatku dengan Taehyung?"

"Aku cemburu."

Jungkook menatap Jimin tak percaya, lalu dia tertawa—menghilangkan suasana canggung yang mendadak muncul. "Jangan bercanda."

Jimin mengedarkan pandangannya, sambil memainkan salju dengan kakinya. Jimin menghela napas, menatap asap yang menghambur keluar dari mulutnya. "Aku tidak bercanda. Tapi, karena kau menganggap itu adalah sebuah candaan, jadi, baiklah."

"Karena masalah seperti ini, Taehyung memutuskan untuk tidak berbicara lagi padaku." Jungkook mendongak, menatap langit yang mulai mendung.

"Jadi?" tanya Jimin.

Jungkook menatapnya tak suka. "Karena kau, dia tak ingin mengajakku bicara lagi. Aku berpikir—dia seperti memberi kesempatan untukmu; itu juga jika kau benar-benar menyukaiku. Dan, aku bahkan tak bisa berbicara dengan roommateku lagi."

Kemudian Jungkook berdiri, dan Jimin mengikutinya. Tetapi Jungkook menahannya ketika pemuda itu hendak mengikuti ke mana Jungkook pergi.

Jungkook berjalan menjauh, tidak berniat untuk melirik ke belakang sedikit pun. Jungkook menengadahkan kepalanya, kembali menatap langit yang kelihatannya akan turun salju kapan saja. Bayangan wajah Taehyung mendadak muncul, membuat Jungkook terkekeh pelan.

Mungkin Jungkook adalah orang beruntung karena diperebutkan oleh dua orang, yang mungkin cukup terkenal di sekolahnya.

Atau mungkin, dia orang yang bukan beruntung.

.

Jungkook menutup pintu di belakangnya dengan pelan, tidak berniat untuk mengganggu tidur Taehyung saat itu.

Ketika dia melangkah masuk ke dalam, Jungkook dapat melihat Taehyung sedang tidur terlentang dengan selimut yang melapisi tubuhnya sampai dagu. Dari yang Jungkook lihat, Taehyung baru saja tidur—selimutnya masih terlihat rapi.

Jungkook menendang sepatunya sampai lepas, dan duduk di sisi ranjang. Dia menatap Taehyung, dan tersenyum. "Aku tidak tahu lagi, sebenarnya—aku menyukaimu atau tidak."

Taehyung tentu saja tidak menjawab apa yang baru saja Jungkook katakan—pemuda itu benar-benar tidur pulas, padahal waktu baru saja menunjukkan pukul enam sore. Jungkook kemudian tetap berbicara. "Bagaimana dengan mu?" Jungkook tersenyum lagi. "Kau menyukaiku atau tidak?"

Setelah itu, sebuah suara membuat Jungkook terkejut.

"Bagaimana jika aku mengatakan—Ya?"

.

"Yoongi-hyung," Yoongi yang saat itu sedang membaca komik di ranjangnya, menatap Jimin yang memasang wajah murung ketika dia baru saja memasuki kamar.

Yoongi menutup komiknya dan meletakkan benda itu di atas meja nakas, kemudian menepuk sisi ranjangnya, menyuruh Jimin untuk duduk dan menceritakan apa yang sedang mengganggunya. Jimin melepaskan sepatu yang ia kenakan, dan berjalan menuju ranjang Yoongi. Dia sempat terdiam selama beberapa detik, tetapi akhirnya dia tetap duduk di sisi ranjang Yoongi.

"Jadi, ceritakan apa yang sedang mengganggumu." Yoongi menyilangkan kakinya dan menopang dagunya, menunggu Jimin untuk bercerita.

Jimin menceritakan semuanya. Beberapa kali Yoongi menggerutu ketika Jimin bercerita, dan dia lebih sering memasang tampang datarnya. Ketika Jimin selesai menceritakan masalahnya, Yoongi segera menghela napas.

Yoongi kemudian bertanya. "Lalu sekarang apa yang akan kau lakukan?"

Jimin menunduk, menatap lantai kayu yang mendadak kelihatan menarik itu. "Tidak tahu, tapi—" Yoongi mengangkat sebelah alisnya ketika Jimin memberikan jeda. "aku ingin merebutnya dari Taehyung."

"Memangnya kedua orang itu pacaran," Yoongi bergumam pelan, tetapi Jimin sepertinya tidak mendengar apa yang Ia katakan.

Pemuda yang lebih tua dari Jimin itu menghela napas lagi, kemudian membiarkan keheningan menyapa mereka. Selama beberapa menit, tidak ada yang mengeluarkan suara apa pun. Sampai akhirnya Yoongi menatap Jimin lekat, dan berkata. "Daripada kau sedih karena mengurusi Jungkook, bagaimana kalau kau denganku saja?"

TBC

mungkin ada banyak typo ya di chapter yang ini karena saja males meriksa ulang

pada puas gak? gak. :(

kelamaan nunggu gak? iya. :(

maafin bootae deh, ditunggu chapter selanjutnya yah

muah.

.

bales review kapan2 yah, saya baca kok. cuma lagi bete ini maapin :(

.

bootae