Fei dateng lagi! Maaf lama! #dor

.

Sp-Cs: makasih! xD

.

Disclaimer: ATLUS

Warning: OC berpotensi (besar) mary-sue, typo(s) bertebaran, (berusaha) mengikuti timeline P3F, butuh review #dor

.

.

~CHAPTER 7: "This is the Start"~

.

.

"Ayo pergi, Jin," ujar lelaki itu kepada temannya yang membawa koper.

"Jin…Nii-san…?" tanya Ruuki pelan.

.

.

Keesokan paginya, SEES serta murid-murid Gekkoukkan lainnya mengikuti semacam misa di sekolah, dalam rangka perginya Aragaki Shinjiro dari dunia ini. Ya, malam sebelumnya, setelah Shinjiro tertembak pistol ia memang sempat mengatakan pesan terakhirnya pada Ken dan Akihiko, setelah itu terjatuh dan menghembuskan nafas terakhirnya.

Yukari dan Fuuka masih tersedu-sedu sejak misa dimulai. Mitsuru tetap menundukan kepalanya, tidak berani melihat ke arah panggung yang mana ada peti Shinjiro. Junpei dan Minato sedih, namun mereka tidak mengekspresikannya. Aigis pun sedih, tetapi ia tidak bisa menangis.

"Ruuki…?" panggil Yukari pelan pada gadis berambut biru yang duduk di sampingnya.

Melihat sahabatnya tidak menyahut, Yukari pun memanggil gadis itu berkali-kali. Sejak kembali ke asrama sejak Dark Hour tadi subuh, Ruuki seperti bukan dirinya sendiri. Ia diam, hanya mau angkat suara apa adanya. Pandangannya kosong.

"Ruuki-chan…!" panggil Yukari untuk kesekian kalinya.

"Eh! Ah, Yukari-san, maaf, ada apa?" akhirnya Ruuki pun menjawab.

"Misa sudah selesai, kita akan ke kelas sekarang," ucap Yukari.

"Omong-omong, aku tidak lihat Akihiko senpai daritadi," gumam Junpei.

"Aku juga tidak lihat," kata Minato sambil menggelengkan kepalanya.

Kemudian keempat remaja yang sekelas itu pergi ke kelas bersama-sama dengan Aigis dan Fuuka (walaupun mereka tidak sekelas dengan Fuuka).

.

.

Malam pun tiba. Seharian, baik di sekolah maupun di asrama, seluruh anggota SEES masih berduka. Jelas, karena mereka telah kehilangan salah satu anggota tim mereka. Di samping rasa duka cita, mereka pun sadar bahwa mereka masih harus menjalani misi sebagai kelompok pengguna Persona. Sehingga walau pun masih dalam suasana kehilangan, Mitsuru memutuskan untuk mengadakan pertemuan singkat dengan para anggotanya di ruang komando lantai empat.

Mitsuru melihat Minato, Ruuki, Yukari, Junpei, Akihiko, Koromaru, Aigis, dan Fuuka sudah tiba di ruangan yang dijanjikan. Tinggal menunggu Ken. Sepuluh menit kemudian, mereka masih belum menemukan tanda-tanda Ken akan datang ke ruangan itu. Mitsuru pun meminta tolong pada Aigis untuk menghampiri kamar anak laki-laki berambut coklat susu itu.

Aigis menurut dan langsung turun ke lantai dua, menuju kamar Ken. Tidak lama kemudian Aigis masuk kembali seorang diri ke ruang komando dan menyatakan bahwa Ken tidak ada di kamarnya.

"Ng, benar juga, aku belum lihat Ken-kun pulang ke asrama daritadi…" gumam Fuuka.

"Yang benar saja, diam belum pulang?!" Junpei kaget.

"Aku akan pergi mencarinya!" kata Yukari sambil berdiri.

"Itu tidak perlu," kata Akihiko santai, semua orang di ruangan itu langsung menatap Akihiko terkejut. "Dia bukan anak kecil lagi, kita tidak perlu mencarinya."

Esok harinya, Ruuki penasaran. Sepulang sekolah gadis berambut biru panjang itu menyusuri jalan di belakang stasiun. Tidak perlu berjalan terlalu jauh, ia menemukan Ken ada di dekat sebuah rumah yang bekas terbakar. Anak laki-laki itu berdiri seorang diri. Tatapan matanya sedih. Sesekali anak itu menunduk, kemudian mengadahkan kembali keoalanya menatap rumah yang telah gosong itu.

"Kau ada disini rupanya…" gumam Ruuki.

Ken terkejut mendengar suara Ruuki. Ia menatap senpainya dengan antara tatapan kaget dan tatapan biasa. Ia tidak menyangka Ruuki akan datang ke tempat itu.

"Ruuki-san…" gumam Ken pelan. "Ini dulu rumahku."

"Hm, terbakar? Berarti aku sama denganmu," kata Ruuki.

"Ya, tapi kau tidak akan mengerti perasaanku, senpai," kata Ken.

"Siapa bilang? Justru sebelum kau merasakan dan mengalaminya, aku telah mengalaminya terlebih dulu. Kau tahu, aku seorang anak yatim piatu," ujar Ruuki mengakui.

"Apa? Kau? Yatim piatu?" tanya Ken.

"Mm-hm, kedua orangtuaku meninggal karena mereka ada di dalam rumah ketika rumah kami terbakar. Kakakku juga –awalnya kupikir begitu. Tapi ternyata, Tuhan memang suka bermain teka-teki," kata Ruuki.

"Aku memutuskan untuk masuk asrama karena aku tidak suka tinggal dengan kerabat orangtuaku," aku Ken.

"Eh? Kenapa?"

"Karena mereka mengenal orangtuaku. Karena mereka menganggapku terlalu banyak berkhayal. Karena aku tidak bisa mempercayai orang dewasa lagi."

"Aku tidak tahu apa yang kau alami di masa lalumu Ken, tapi kau harus tahu bahwa kami –teman-teman seasramamu cemas karena kemarin kau tidak pulang ke asrama."

"Aku tidak yakin aku akan pulang ke sana."

"Pintu asrama akan selalu tebuka untukmu Ken, sebagai rumah keduamu. Aku menganggap SEES sebagai keluarga keduaku, dan asrama adalah rumah keduaku. Kuharap kau bisa seperti itu juga."

"…Kau tahu, senpai? Kata-katamu mirip seperti kata-kata Akihiko-san kemarin sore…"

.

.

Yukari dan Fuuka cemas, sangat cemas. Ken masih belum kembali ke asrama. Ruuki dan Mitsuru masih sibuk membaca buku yang masing-masing mereka pegang daritadi. Akihiko dan Junpei memakan ramen instan. Minato mendengarkan musik dengan Aigis yang ada disampingnya.

"Cukup, aku akan keluar mencarinya!" kata Fuuka.

"Aku ikut! Kasihan Ken-kun di luar seorang diri!" seru Yukari.

"Ken bukan anak kecil lagi, dia akan kembali kesini jika ia memang ingin kembali," ujar Ruuki yang matanya masih tertuju pada tulisan yang ada di buku yang ia pegang.

"Tapi…" gumam Fuuka.

Koromaru yang daritadi tidur bermalas-malasan di kaki Junpei tiba-tiba tersentak bangun. Wajah anjing itu menyiratkan kebahagiaan. Ekornya bergoyang ke kiri dan ke kanan –tanda seekor anjing sedang senang. Dengan cepat anjing putih itu menggonggong senang dan berlari ke arah pintu depan.

Ternyata anggota termuda SEES membuka pintu itu. Anak itu langsung disambut riang oleh Koromaru, padahal anggota SEES yang lain belum sempat melihat wajahnya.

"…Aku pulang…" gumam Ken pulang sambil melempar senyum kecil pada teman-temannya.

.

.

Suatu ketika Mitsuru berpesan kepada adik-adik kelasnya bahwa Ikutsuki akan datang ke asrama. Sehingga ia ingin setelah sekolah usai hari itu, SEES segera berkumpul di ruang tengah.

Minato, Yukari, Ruuki, Junpei, Aigis, dan Fuuka berniat pulang bersama-sama. Tetapi tiba-tiba Natsuki –teman sekelas Fuuka- menghampiri mereka dan meminta bantuan Fuuka untuk suatu hal. Fuuka menyanggupi itu dan ikut bersama Natsuki, berkata pada Yukari dan Ruuki bahwa ia akan pulang belakangan.

Pada jam yang ditentukan, Ikutsuki datang ke asrama SEES. Ia memberitahukan kabar baik bahwa Dark Hour dan Tartarus mungkin akan hilang jika semua boss arcana sudah dikalahkan. Dengan kata lain, saat ini mereka tinggal mengalahkan shadow arcana Hanged Man.

Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Hari dimana mungkin mereka akan mengakhiri perjuangan dan menikmati buah manis atas apa yang mereka usahakan.

Fuuka mendeteksi adanya shadow ber-arcana Hanged Man di sebuah jembatan besar. Tidak hanya shadow, namun Fuuka juga mendeteksi kehadiran dua orang pengguna persona di sekitar jembatan tersebut. SEES pun langsung menduga bahwa kedua orang pengguna persona yang dimaksud pastilah Takaya dan Jin.

SEES langsung pergi ke jembatan yang dimaksud. Dan ya, disana mereka bertemu dengan Takaya dan Jin seperti yang sudah mereka prediksikan. Pertarungan antara dua kubu tidak bisa dielakkan lagi. yang paling menggebu-gebu adalah Ken dan Akihiko, karena ingin membalas apa yang Takaya dan Jin lakukan terhadap Shinjiro.

Seluruh anggota SEES melawan Takaya dan Jin. Semua, kecuali Fuuka dan Ruuki. Fuuka memang bertahan di belakang karena tugasnya hanya men-support teman-temannya dengan kemampuan persona yang ia miliki. Sedangkan Ruuki, gadis berambut biru itu dilema. Karena satu sisi ia yakin bahwa pemuda berambut biru yang merupakan teman Takaya itu adalah kakaknya. Tetapi di satu sisi ia juga tahu bahwa pemuda itu merupakan musuhnya, mereka berada di kubu yang berbeda.

Pertarungan masih terus berlangsung. Ruuki masih berada di dekat Fuuka, masih melihat pada pemuda yang membuat ia penasaran. Sampai suatu ketika, tatapan matanya bertemu dengan tatapan mata Jin. Sorotan mata yang tidak asing bagi Ruuki.

"Ruuki…kau percaya padaku, kan?"

Suara itu lagi. Suara itu seperti menyeludup masuk ke hati Ruuki saat pandangan matanya bertemu dengan mata Jin. Suara yang sering ia dengar dalam mimpinya. Mungkinkah itu suara Jin?

Usai pertarungan, duo strega menjatuhkan diri mereka ke sungai yang ada di bawah jembatan –sungai yang saat ini menjadi lautan darah karena masih Dark Hour. tetapi sebelum menjatuhkan diri, pemuda bernama Jin itu melempar senyum kecil pada Ruuki. Senyum kecil itu sederhana, tetapi sorot matanya terlihat sedih, seakan mengatakan bahwa ini adalah terakhir kali mereka akan melihat satu sama lain.

Setelah Takaya dan Jin hilang ditelan air sungai (darah), SEES berhadapan dengan shadow yang sudah menunggu mereka. Tanpa ba-bi-bu lagi, mereka langsung melancarkan serangan-serangan terbaik mereka, dengan harapan bahwa dugaan Ikutsuki benar. Mereka berharap ini adalah terakhir kalinya mereka melihat shadows. Sedih memang mengingat mereka tidak bisa menggunakan persona –hal ini yang membuat mereka bangga karena mereka 'spesial'- lagi, tetapi setidaknya dunia mereka akan aman.

Ketika shadow ber-arcana Hanged Man itu sudha berhasil mereka taklukan, SEES ingin melihat bulan penuh yang memancarkan warna hijau itu untuk terakhir kalinya, kemudian dengan senang mereka kembali ke asrama.

.

.

"Ruuki…kau percaya padaku, kan?"

Suara itu terdengar lagi dalam mimpinya. Tidak pernah ia melihat wajah orang yang mengatakan kalimat itu, hanya suaranya saja.

Ruuki terbangun lagi dari tidurnya. Diliriknya jam dinding yang menunjukkan saat itu masih pukul 2 subuh. Gadis berambut biru itu mencoba untuk terlelap lagi, namun ia tidak bisa. Ia masih terjaga sampai satu jam kemudian. Lalu –

"Halo," sapa seseorang.

Ruuki mengenal suara itu. Ia langsung melihat ke asal suara yang tidak asing di telinganya.

"Pharos…" gumam Ruuki.

"Hai, Ruuki-chan, lama tak jumpa," kata Pharos. "Luka di kepalamu sudah sembuh total sepertinya."

"Kenapa kau kemari? Ini bukan Dark Hour, kan?" selidik Ruuki.

"Mm-hm. Aku hanya ingin bilang bahwa ini adalah terakhir kalinya kita bertemu dengan cara seperti ini," ujar Pharos. "Nanti setelah ini juga aku akan mengatakan hal yang sama dengan Minato-kun."

"Minato-kun? Bukankah…bukankah aku sudah pernah melarangmu untuk berhubungan dengan dia?!"

"Minato-kun adalah pemuda yang sangat baik," ujar Pharos. "Dan sekarang aku mengerti kenapa kau selalu baik padanya."

"Aku baik kepada siapa pun yang baik kepadaku."

"Memang, tapi kau paling baik jika berhubungan dengan Minato-kun," Pharos berhenti sejenak sebelum melanjutkan. "Kupikir pasti karena rambutnya mirip dengan warna rambut kakakmu, kan?"

"Berhentilah, Pharos, jangan mulai lagi."

"Hn, sampai jumpa lagi, Ruuki-chan, aku akan merindukanmu."

.

.

4 November. Hari setelah mereka mengalahkan shadow arcana terakhir. Junpei memberi usul kepada Mitsuru agar menggelar pesta kecil untuk SEES atas keberhasilan mereka. Usul itu diterima baik oleh Mitsuru dan Ikutsuki, sehingga Mitsuru pun memesan sejumlah paket sushi dari restoran kerabatnya untuk diantar ke asrama.

Malam harinya mereka berkumpul di ruang tengah untuk makan sushi bersama-sama. Tetapi Aigis dan Ikutsuki masih belum menunjukkan batang hidung mereka padahal saat itu sudah melewati jam yang ditentukan.

Junpei yang sudah kelaparan pun merengek untuk makan terlebih dulu. Kemudian ayah Mitsuru dan 2 orang pengikutnya datang ke asrama. Pemuda bertopi bisbol alias Junpei lalu menemukan ide lagi. ia ingin agar SEES berfoto bersama. Hal tersebut di-iyakan oleh Takeharu, sehingga mereka pun berfoto bersama di depan pintu asrama. Setelah itu mereka langsung menyantap sushi yang sudah tersedia daritadi.

Pukul 11:50. Biasanya jam segini SEES sudah bersiap pergi ke Tartarus karena Dark Hour biasanya akan mulai 10 menit lagi. Tetapi mengingat mereka sudah melenyapkan Dark Hour dan Tartarus, mereka bisa bersantai.

Setidaknya itulah yang ada dipikiran mereka sampai saat jam dinding menunjukkan pukul 12 malam tepat, tiba-tiba semua listrik mati dan mereka melihat 2 peti mati berdiri di belakang sofa yang diduduki Takeharu.

"Apa yang terjadi?" Junpei terkejut.

Ken langsung berlari ke jendela, membuka tirai, kemudian dengan panik ia menghampiri teman-temannya.

"Bukankah kita sudah mengakhiri Dark Hour?!" kata Ken panik.

"Dimana Ikutsuki dan Aigis?" tanya Takeharu.

"Aku tidak tahu. Ikutsuki-san bilang ia ingin memeriksa Aigis sebentar," jawab Mitsuru cemas.

"Aku…eh, aku mendengar suara…" ujar Fuuka pelan.

"Jangan menakut-nakuti kami, Fuuka!" kata Yukari, tanpa bermaksud marah, tetapi memang ia takut.

"Suara dentingan lonceng?" gumam Ruuki menanggapi perkataan Fuuka.

"Ya! Kau mendengarnya juga, Ruuki-chan?" tanya Fuuka.

"Mm-hm," jawab Ruuki sambil menganggukan kepalanya. "Dan suaranya makin terdengar jelas…"

"Lonceng? Hmm…" gumam Akihiko. "Mungkinkah dari Tartarus?"

"Ayo kita kesana," kata Minato yang disetujui oleh teman-temannya.

Mereka segera bergegas ke Tartarus. Dilihatnya oleh mereka bahwa Ikutsuki dan Aigis seperti telah menunggu mereka disana. Di tangan Ikutsuki ada sebuah remot pengontrol. Aigis pun tidak seperti Aigis yang seperti biasa. Fuuka dan Minato mencoba berkomunikasi dengan Aigis, namun sepertinya Aigis tidak mendengar apa yang mereka katakan.

Kemudian pandangan Ruuki mengabur, semuanya perlahan gelap, sampai saat ia membuka matanya lagi, ia sudah tidak berdiri di lantai, melainkan ia dan teman-temannya terikat di tiang seorang demi seorang. Di bawah sana terlihat Takeharu didorong oleh Aigis ke tempat itu. Ruuki tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang Ikutsuki bicarakan dengan Takeharu, tetapi kemudian Ruuki melihat kedua pria itu saling memegang pistol. Hanya dalam hitungan detik, suara tembakan pistol pun terdengar, Mitsuru menyerukan ayahnya yang telah terseungkur bersimbah darah terkena tembakan pistol Ikutsuki.

Kemudian pria berkacamata yang Ruuki pikir mungkin memiliki gangguan jiwa itu meminta Aigis untuk menembak SEES satu persatu dengan pistol yang ada di jari sang robot. Ya, SEES kini tahu bahwa Aigis telah diprogram oleh Ikutsuki untuk mematuhinya. Dan remot yang dipegang Ikutsuki itulah yang menjadi kuncinya.

Yang mengejutkan adalah, saat Aigis menatap mata Minato, seakan robot perempuan itu tersadar kembali. Sorotan matanya yang kaku berubah. Bukannya menembaki tubuh SEES, ia malah menembaki tali yang mengikat SEES di tiang.

Ikutsuki marah bukan main. Berkali-kali ia memencet tombol di remot yang ia pegang, tetapi Aigis tetap tidak melaksanakan perintah laki-laki itu. Kemudian dari arah yang tidak diduga, Koromaru datang dan merampas remot itu dari tangan Ikutsuki dan menginjak alat itu.

Entah karena stres atau apa, Ruuki tidak tahu, tetatpi ia melihat si chairman menjatuhkan dirinya sendiri dari gedung. Kenapa Ruuki tidak tahu? Karena ia sibuk memperhatikan Mitsuru yang sedang menangisi jasad ayahnya. Ruuki seakan melihat dirinya yang sedang menangisi kepergian orangtuanya.

.

.

"Minato-kun, ada apa dengan Junpei-kun?" tanya Ruuki yang baru kembali dari asrama.

"Junpei sedang galau karena memikirkan Chidori," jawab Minato malas.

"Kau habis dari mana, Ruuki-san?" tanya Ken.

"Aku tadi baru menjenguk Chidori di rumah sakit," jawab Ruuki.

Mendengar jawaban dari Ruuki, Junpei yang tadi berdiri menghadap pojokan dinding langsung menghampiri Ruuki dengan mata berbinar-binar.

"Bagaimana keadaannya?" tanya Junpei.

"Membaik. Dia sudah tersenyum dan tertawa seperti dulu. Dan ya, ia masih melukai dirinya sendiri sampai aku harus memanggil suster setidaknya 4 kali," ujar Ruuki.

"Jadi kau memang benar pernah mengenalnya dulu?" tanya Akihiko.

"Aku sudah pernah menjawab pertanyaan seperti ini sebelumnya. Dan jawabanku masih sama: aku tidak ingat, tapi entah kenapa aku seperti sudah lama mengenalnya," jawab Ruuki malas. "Dan kalau kau memang mencemaskan kondisi Chidori, kenapa kau tidak menjenguknya sendiri?"

"Aku takut…" gumam Junpei pelan.

"Ayolah Junpei, jangan cemberut seperti itu terus! Besok kan kita akan karyawisata ke Kyoto. Setahuku kau paling senang dengan acara sekolah seperti itu," ujar Yukari.

"Oh ya ampun, aku sampai lupa! Semoga saja aku dapat kamar yang sama dengan Ryoji!" kata Junpei kembali cerah.

Ya, hari-hari telah berlalu sejak insiden penembakan terhadap Takeharu Kirijo. SEES kini tahu bahwa Ikutsuki sama liciknya dengan Strega. Mitsuru sangat terpukul. Yukari sempat marah sekali. SEES kecewa. Dark Hour dan Tartarus masih ada. Kini mereka tidak thau lagi apa yang menjadi tujuan mereka. Yang mereka tahu hanya berlatih, berlatih, dan berlatih.

Junpei juga cemas akan Chidori yang kata dokter tidak mengalami perubahan yang berarti. Tetapi datanglah si murid pindahan bernama Mochizuki Ryoji ke kelas 2F di SMA Gekkoukan –kelas Minato, Yukari, Junpei, Aigis, dan Ruuki. Junpei langsung akrab dengan Ryoji, dan anak pindahan itu sukses membuat Junpei setidaknya tidak segalau sebelumnya.

Murid-murid SMA Gekkoukan pergi ke Kyoto pada hari yang ditentukan. Fuuka dan Yukari mengambil banyak foto di tempat-tempat yang mereka datangi. Junpei dan Ryoji sibuk melirik gadis-gadis di sepanjang jalan, tak lupa menyeret Minato yang sebenarnya malas mengikuti kedua teman sekelasnya itu.

Sorenya, Yukari menyeret Ruuki untuk menemaninya mengikuti Mitsuru diam-diam. Mitsuru pergi ke pinggir danau seorang diri. Membeberkan keluh kesah dan kesedihan yang ada di hatinya. Gadis berambut merah panjang itu mengeluarkan isi hatinya. Sampai Ruuki dan Yukari mendengar bahwa Mitsuru tidak punya alasan lagi untuk menjadi pengguna persona.

"Itu konyol," kata Yukari, keluar dari persembunyiannya.

"Takeba? Misaki? Sejak kapan kalian disana?" tanya Mitsuru yang heran karena tidak menyangka dirinya tak seorang diri di tempat itu.

"Kami mendengarnya dari yang paling awal kau ucapkan," jawab Ruuki yang cueknya kumat.

"Saat aku tahu kebenaran bahwa ayahku adalah penyebab munculnya Tartarus –yang mana sebenarnya hanya rekayasa Ikutsuki-, aku juga sempat berpikir bahwa tidak ada alasan lagi bagiku untuk tetap ada di SEES. Tetapi di waktu yang sama, aku berusaha mencari alasanku yang baru untuk tetap ada bersama kalian, karena kalian berharga bagiku," jelas Yukari.

"Kalau begitu aku akan membubarkan SEES, kalian akan bebas sebentar lagi," ujar Mitsuru.

"Oh, begitu? Sungguh, apakah bagimu kami tidak ada artinya?!" geram Yukari.

"Kalian tidak mengerti. Aku telah kehilangan ibuku dulu, kemudian sekarang ayahku pergi, kalian tidak akan mengerti!" seru Mitsuru.

PLAK.

Suasana hening. Yukari, Mitsuru, dan Ruuki. Tidak ada yang berkata-kata. Semuanya terdiam. Tepatnya menjadi hening ketika Ruuki menampar wajah cantik senpainya itu.

"Jangan bodoh, Mitsuru senpai," kata Ruuki. "Tak kusangka kau secengeng ini. Sebelum kau mengalami ini semua, akulah yang lebih dulu mengalami ini. Yukari pun demikian. Tetapi kami tidak cengeng seperti kau. Aku dan Yukari masih terus menelusuri sampai detil tentang kasus kepergian orangtua kami –oke, Yukari hanya ayahnya sedangkan aku kedua orangtuaku. Tapi kami tidak pernah secengeng ini."

"Kau berbeda, Misaki. Kau mengalami ini sebelum bergabung dengan SEES…" gumam Mitsuru.

"Memang. Tapi setelah aku bergabung dengan kalian, aku tahu kakakku masih hidup," kata Ruuki.

Perkataan gadis itu membuat Yukari dan Mitsuru tercengang. Siapa yang tidak? Pertama kali mereka bertemu dengan gadis itu, Ruuki berkata bahwa ayah, ibu, dan kakaknya meninggal karena kebakaran. Tetapi kemudian sekarang ia berkata bahwa kakaknya ternyata masih hidup.

"Kakak…kakakmu yang kau bilang adalah pengguna persona itu?!" seru Yukari kaget.

"Ya, tapi itu bukanlah persoalan yang sedang kita bicarakan saat ini," ujar Ruuki. "Mitsuru senpai, apakah kau mau terus seperti ini untuk ke depannya?"

Hening lagi. Hari makin sore, dan sepertinya matahari sudah bersiap untuk tenggelam. Tetapi ketiga gadis itu tidak peduli, dan Ruuki masih menunggu jawaban Mitsuru.

"Kalian benar, aku cengeng. Terimakasih telah mengingatkanku, Yukari, Ruuki," ujar Mitsuru tersenyum.

Ruuki membalas senyum itu. Yukari agak tercengang saat senpainya memanggil nama depan mereka untuk pertama kalinya.

"Aku minta maaf atas kelancangan kata-kataku tadi senpai," kata Ruuki. "Tapi aku tidak akan minta maaf atas apa yang telah kulakukan pada pipimu."

"Hn, tidak masalah. Karena sepertinya aku memang membutuhkannya," kata Mitsuru.

"Bagus, kau bisa datang kepadaku jika menginginkannya lagi," ujar Ruuki setengah tertawa.

Malamnya, Yukari mengajak Ruuki, Mitsuru, dan Fuuka untuk berendam di onsen. Rencana itu terdengam sampai ke telinga Aigis. Robot berjenis perempuan itu pun ingin ikut. Dan jadilah mereka berlima berendam bersama-sama.

Suatu ketika Fuuka mendengar suara grasak-grusuk dari belakang batu besar. Yukari mengingat bahwa onsen terseut adalah pemandian campur. Mitsuru meminta Aigis untuk mencari tahu ada apa di balik batu yang menjadi tempat senderan mereka. Tidak lama Aigis pergi, Ruuki dan Mitsuru melihat Akihiko dan Minato mengendap-endap, berusaha keluar dari onsen. Di saat yang sama, Fuuka dan Yukari melihat Aigis yang berhasil menangkap Junpei dan Ryoji. Ketika Yukari dan Fuuka melempar barang-barang pada Junpei dan Ryoji, seakan paduan suara Ruuki dan Mitsuru berseru,

"EKSEKUSI!"

Dan kemudian muncullah bongkahan es besar yang di dalamnya terdapat Akihiko dan Minato.

.

.

Beberapa hari setelah kembali dari Kyoto, Junpei kembali mencemaskan Chidori. SEES yang lain pun berpikir mungkin Junpei memang benar-benar menyukai Chidori.

Suatu malamsaat Dark Hour, Fuuka mendeteksi tentang adanya seorang pengguna persona yang berkeliaran di dekat Tartarus. SEES segera berkumpul di runag komando untuk mendengar apa lagi yang dideteksi oleh Fuuka.

"Tunggu…" ujar Fuuka. "Hm? Bukankah dia seharusnya ada di rumah sakit?!"

"Apa? Siapa yang harusnya di rumah sakit?" tanya Ken.

"Ngh!" rintih Fuuka.

"Selamat malam," ujar sebuah suara dari persona milik Fuuka yakni Juno.

"Suara ini…Chidori?!" kata Ruuki.

"Bagaimana bisa?" Mitsuru kebingungan.

"Itu adalah salah satu kemampuan Medea," kata Chidori. "Saat ini aku ada di depan pintu Tartarus –"

Belum selesai Chidori menyelesaikan kata-katanya, Junpei dan Ruuki langsung berlari menuju Tartarus dan mencari Chidori. Setelah bertemu dengan Chidori, tidak lama kemudian anggota SEES yang lainnya pun hadir. Gadis yang senang melukis itu langsung menyerang SEES dengan kapak dan persona miliknya, Medea.

Tetapi, entah memang Chidori yang lemah atau memang kondisinya masih lemah, gadis itu dengan mudah dikalahkan. Gadis itu tersungkur kelelahan. Dan lalu pintu Tartarus terbuka. Dua orang pemuda berjalan keluar. Kedua orang itu adalah Takaya dan Jin.

"K-kalian?!" seru Akihiko.

Pembicaraan singkat SEES dengan Takaya-Jin pun berlangsung. Dan Takaya menembak Junpei dengan pistolnya. Sempat tersungkur dan tak bernafas, tetapi Ruuki melihat Chidori terus memegangi pemuda bertopi bisbol itu. Seberkas cahaya keluar dari tangan Chidori. Hanya dalam hitungan detik, Junpei kembali membuka matanya. Tetapi kini berganti, Chidori yang terjatuh namun masih mencoba membuka matanya.

"Ruuki…" gumam Chidori pelan, tetapi masih terdengar oleh Ruuki. "Dia memang kakakmu…" kemudian Chidori pun tersenyum. "Aku senang kita bertemu lagi…" dan ia menutup matanya perlahan, dan Junpei tak bisa lagi merasakan nafas Chidori.

"Ia…memberikan nyawanya untuk Junpei?" gumam Yukari.

"Ah! Mengharukan sekali!" seru Takaya sambil tertawa. "Sungguh tindakan yang heroik..atau malah bodoh."

Junpei membaringkan Chidori di lantai kemudian ia sendiri berdiri. Lelaki itu menggenggam erat pedangnya dan mengancang-ancang pada evokernya. Ia siap untuk menyerang Takaya.

"AGIDYNE!" serang Junpei, tetapi berhasil dihalau oleh Jin.

"Hentikan, Junpei! Chidori telah memberikanmu nyawanya, jangan disia-siakan!" kata Akihiko.

"T-tapi!" kata Junpei.

"Senpai benar, Junpei-kun," ujar Fuuka.

"Nii-san…" gumam Ruuki.

Takaya dan Jin berbalik. Takaya membuka pintu Tartarus dan bersiap masuk ke dalam.

"Jin nii-san…itu kau kan?" tanya Ruuki.

Ruuki mendengar desas-desus pertanyaan yang terlontar dari mulut anggota SEES lainnya ketika mendengar pertanyaan Ruuki.

Jin berbalik. Ia tersenyum. Sorot matanya masih terlihat sedih.

"Nii-san…" kata Ruuki.

"Kita akan bertemu lagi, Ruu, kau percaya padaku, kan?" ujar Jin kemudian ia menyusul Takaya ke dalam Tartarus.

.

.

~TBC~

.

.

Oke, ini adalah chapter terpanjang yang Fei bikin di fict ini! *dance*
REVIEW!