"Jangan menolak," bisik Kyuhyun dengan suara memperingatkan, bernapas dengan berat dan menyerang bibir Sungmin di antara kata-katanya.

"Tidak, tidak, dengar." Sungmin menghindari bibir haus Kyuhyun sekali lagi, napasnya terputus-putus. "Aku flu, ingat? Kau bisa tertular."

Kyuhyun menatap Sungmin untuk beberapa detik. Dia pikir Sungmin mungkin akan protes karena dia tidak mau, atau alasan lain. Flu adalah alasan terakhir yang Kyuhyun bayangkan.

Saat itu, Kyuhyun tertawa. Kemudian dia mendekati mangsanya sekali lagi, mengangkat sudut bibirnya membentuk seringai sexy yang berbahaya.

"Sama sekali tidak terdengar buruk untukku.."

.

.

.

Title: Masquerade

Disclaimer: FF ini, Masquerade, secara penuh adalah milik topsyhobby. Plot dan segala yang terjadi di dalamnya murni milik topsyhobby yang ditulis dalam Bahasa Inggris. Chisana Yuri hanya menyadurnya ke dalam Bahasa Indonesia atas izin author tersebut.

Rating: M

Character: Cho Kyuhyun, Lee Sungmin, Kim Youngwoon, Kim Heechul, and other

Warning: MalexMale, Typo(s), OOC

Type: Chaptered

Don't Like, Don't Read.

.

.

.

-Chapter 7-

Adalah sebuah perasaan yang luar biasa berbeda bagi Kyuhyun ketika ia terbangun keesokan paginya kemudian menyadari kalau rutinitas yang biasa ia patuhi berantakan sekali lagi.

Sudah ketiga kalinya, dalam kurun waktu kurang dari seminggu, ia mengabaikan dan membantah jadwalnya. Mengingat hal ini sangat jarang terjadi dalam tahun-tahun kehidupannya, yang jelas-jelas tidak mencerminkan Cho Kyuhyun, 'perasaan yang luar biasa berbeda' ini tidak terbantahkan keberadaannya—karena kali ini ia tidak marah-marah sendiri seperti yang ia lakukan sebelumnya.

Salju sudah berhenti dan selimut putih bersih yang menutupi dunia perlahan mengabur. Pagi yang segar untuk memulai semuanya.

Ketika Kyuhyun mendudukkan dirinya dan menengok ke sampingnya, sosok itu ada disana. Sungmin, tidur pulas seperti bayi.

Kyuhyun tidak panik, ia tahu pasti alasan psikiaternya tidur di ranjangnya. Meskipun sedikit mabuk karena wine dalam jumlah banyak yang ia tenggak semalam, apa yang terjadi semalam masih terekam utuh di kepalanya, meninggalkan jejak yang masih terasa di bibirnya.

Tanpa memeriksa jam berapa saat itu, dalam diam Kyuhyun bergerak dari sofa ke ranjangnya, berhenti persis di samping Sungmin.

Dia benar-benar tidur seperti anak kecil.

Pengusaha muda itu tersenyum dalam hati pada figur menggemaskan di dekatnya.

Kyuhyun melirik pergelangan kaki terkilir Sungmin yang bengkak dan dibalut perban. Dia kemudian mengusap lengannya sendiri yang juga terluka dan dibalut perban, tanpa sadar mengingat kembali insiden yang terjadi semalam.

Sejauh yang bisa ia ingat dengan benar, mereka berciuman selama setengah jam. Ketika pagutan mereka terlepas—meninggalkan dirinya dan Sungmin dalam keadaan terengah-engah dan tidak bisa berpikir jernih—, Sungmin adalah yang pertama angkat bicara. Laki-laki itu bersikeras untuk mengobati luka di lengan Kyuhyun. Melihat lukanya yang tidak seserius itu sampai membutuhkan penanganan rumah sakit, Kyuhyun memutuskan untuk pulang ke rumahnya, tempat dimana ia juga bisa mengobati pergelangan kaki Sungmin. Maka setelahnya, Kyuhyun memapah Sungmin ke tempatnya, mengurus luka mereka yang untungnya tidak parah. Mereka kemudian mengobrol santai sampai lewat tengah malam, dan sebelum mengucapkan selamat malam pada satu sama lain, mereka kembali menyatukan diri mereka dalam sebuah ciuman yang tidak berlangsung singkat.

Apa yang membuat ciuman itu tercipta, Kyuhyun tidak tahu. Mereka tidak memiliki hubungan di luar hubungan profesional antara psikiater dan pasien. Mereka tidak pernah menyatakan perasaan kepada satu sama lain—pun tidak jelas apakah mereka memang memiliki perasaan seperti itu kepada satu sama lain atau tidak. Alasan itu terlalu sulit untuk dipahami dan terlalu rumit untuk dijelaskan, dan mungkin ini semua akan berakhir dengan bencana yang tidak diprediksi sama sekali. Meski begitu, ciuman itu memang terasa manis.

Masa lalu sudah terlanjur terkotori dan masa depan masih berkabut. Kyuhyun sudah mengizinkan dirinya untuk dimanjakan sekali lagi, meski dia sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya ia harapkan dari itu.

Sekarang segala sesuatunya sudah hancur dan berserakan dimana-mana. Ia tidak tahu darimana ia harus mulai menyusun ulang untuk mengembalikan semuanya.

Tapi, hell. Demi sebuah pemberontakan, itu semua bukan masalah.

Kyuhyun berubah menjadi pribadi yang semakin berani tiap jamnya. Entah kenapa, meski masih gelisah dan khawatir atas apa yang ia lakukan—yang tidak sejalan dengan peraturan yang selalu ia patuhi, ia berhasil untuk tetap tenang dan melepaskan diri dari perasaan bersalah yang hebat.

Ini adalah rasa kebebasan pertamanya. Sebuah perasaan yang kenikmatannya tidak tertandingi.

Kyuhyun hampir tidak sadar saat ia mengulurkan tangannya, mengusapkan punggung tangannya ke pipi Sungmin. Kulit selembut sutera itu kenyal, halus, dan hangat. Terasa menyenangkan saat disentuh.

Sentuhan itu pasti membangunkannya, karena Sungmin menggeliat beberapa kali di balik selimutnya dan perlahan membuka matanya. Setelah beberapa kedipan, dia menemukan Kyuhyun di sampingnya.

"Pagi," sapa Kyuhyun.

"Selamat pagi," balas Sungmin dengan senyum mengantuk, masih menyembunyikan separuh wajahnya di bantal. "Bagaimana keadaanmu?"

"Hangover," jawab laki-laki yang lebih muda. "Kau?"

"Aku juga." Sungmin mengeluarkan kekehan kecil.

"Jangan bohong. Kau tidak minum sama sekali semalam." Kyuhyun meluruskan.

"Aku bukan mabuk karena wine." Sungmin berkata, membuat Kyuhyun tertawa dengan lembut.

Tawanya mencair di udara, dan wajah Sungmin sedikit memerah setelahnya.

Sungmin tidak tahu harus melakukan apa.

Dia mengingat beberapa bagian dari insiden semalam, atau mungkin...semuanya.

Satu yang tidak bisa ia ingat sama sekali adalah jalan pikirannya ketika semua itu terjadi. Atau sederhananya, dia tidak bisa berpikir sama sekali semalam.

Mungkin ia tidak protes karena ia tahu. Semalam adalah momen yang sangat penting baginya, untuk membiarkan Kyuhyun mengekspresikan apa yang ada di dalam pikirannya, dengan cara apapun yang dia inginkan. Mungkin ia tidak protes karena ia tidak boleh membiarkan Kyuhyun mengecap rasa penolakan dari satu-satunya orang yang bisa dia percaya.

Klasik.

Alasan-alasan itu bisa dibantah, tentu saja.

Hal yang tidak terbantahkan malam itu adalah fakta kalau Kyuhyun adalah seorang pencium yang luar biasa, beberapa tingkat di atas good kisser. Ciuman itu sendiri sudah membuat siapapun, yang mendapat kehormatan untuk berciuman dengan Kyuhyun, jatuh untuknya.

Pengeculian jika 'siapapun' disini baru saja putus dengan kekasihnya, seperti Sungmin.

Sungmin baru saja kehilangan kekasihnya dua hari yang lalu. Rasa sakit masih menancap di hatinya, goncangan masih mencakar dadanya. Itu bukan sesuatu yang bisa dilupakan dengan satu hembusan angin dalam sehari. Bahkan sekalipun ciuman itu membuatnya terlena.

Yang bisa ia ambil dari ciuman kemarin adalah rasa bersalah. Rasa bersalah kepada mantan kekasihnya, Kangin, karena ia berciuman dengan orang lain; Rasa bersalah kepada Kyuhyun, karena sedikitnya kejujuran yang ia salurkan dalam ciuman itu. Rasa bersalah menyelimuti pikirannya sejak semalam.

Meski demikian, Sungmin tersenyum seperti biasa. Seperti yang diharapkan.

"Bagaimana lukamu?" Dia bertanya dengan lembut, mengarahkan matanya ke lengan Kyuhyun yang terluka dan perlahan memaksa dirinya sendiri untuk bangun.

"Tidak kelihatan buruk." Kyuhyun menjawab, kemudian menunjuk ke pergelangan kaki Sungmin. "Lukamu?"

"Tidak kelihatan buruk," ulang Sungmin dengan cengiran kekanakan.

"Menurutku tidak." Kyuhyun membalas. "Kelihatannya kau tidak akan bisa berjalan banyak hari ini."

"Ini bukan sesuatu yang serius, sungguh," komentar Sungmin, memutar pergelangan kakinya untuk melihat apakah ia bisa bergerak dengan bebas atau tidak. "Aku yakin aku bisa menanganinya. Pasti akan sembuh nanti malam."

"Lantas apa yang akan kau lakukan sementara menunggu malam?" tanya Kyuhyun. "Kau tahu, sembari menunggu kakimu sembuh nanti malam, kau harus diam dan tidak banyak bergerak."

"Mm-hm." Sungmin mengangguk beberapa kali. "Aku akan hati-hati."

"Kupikir tidak masalah kalau hanya bergerak di sekitar rumah. Kenapa kau tidak tinggal disini sampai lukanya membaik?" Kyuhyun menawarkan saran yang lumayan murah hati, menyambar jam tangan di meja di samping ranjang dan memasangnya di pergelangan tangannya saat ia bangun dari tempat tidur. "Aku akan membelikan sarapan untukmu sebelum aku berangkat ke kantor. Ada pesanan khusus?"

"Tidak, tidak perlu." Sungmin tersenyum lebar ke arahnya, sangat senang atas tawaran Kyuhyun. "Bagaimana kalau kubuatkan sesuatu untuk sarapan kita? Anggap saja hadiah terima kasih."

"Tidak ada yang bisa dimasak disini," jawab Kyuhyun santai. "Apa aku terlihat seperti orang yang makan makanan rumahan?"

"Bahkan roti sekalipun?" Sungmin bertanya.

"Bahkan susu sekalipun." Jawaban itu langsung terdengar.

"Tidak seru."Sungmin mengangkat bahunya. Tak lama ia mencoba untuk melangkah dari tempat tidur saat dia mendapat ide brilian untuk mengalihkan pikiran Kyuhyun dari hal-hal tidak penting.

"Apa yang kau lakukan?" Pemuda yang lebih muda itu bertanya sambil menyatukan alisnya saat melihat Sungmin berusaha melepaskan diri dari lilitan selimutnya.

"Ayo kita belanja." Sungmin berkata dengan ceria, suaranya memeninggi karena terlalu bersemangat. "Aku akan memasakkan sarapan rumahan pertama untukmu."

"Tidak mungkin kau bisa berjalan kemana-mana dengan kaki seperti itu." Kyuhyun menggelengkan kepalanya, berkacak pinggang. "Disamping itu, aku juga harus ke kantor."

"Tidak masuk akan lebih baik daripada datang terlambat." Sungmin mengatakannya kepada Kyuhyun, berjalan dengan ekstra hati-hati. "Libur saja sehari. Atau paling tidak, untuk pagi ini. Kau pantas mendapatkannya."

Kyuhyun membuka mulutnya untuk mengatakan 'Aku sudah libur sehari, ingat?' tapi tidak mengatakannya. Sebaliknya, dia memerhatikan Sungmin yang bergumam tentang apa-apa yang akan ia beli untuk membuat santapan lezat dengan pancake, telur orak arik dengan tomat ceri, semangkuk salad buah segar, potongan daging dan roti panggang. Kyuhyun tidak bisa menahan dirinya untuk tidak tersenyum atas rencana overaktif yang manis itu.

Kyuhyun melirik jam tangannya. Tahu kalau ia seharusnya tidak perlu ragu atau menunda-nunda lagi untuk berangkat ke kantor. Tahu kalau ini sudah sangat terlambat.

Tapi, sekali lagi, juga sudah sangat terlambat untuk menolak Sungmin.

Akhirnya Kyuhyun memutuskan untuk ikut, meninggalkan pekerjaannya dengan berani. Sejak kemarin, setiap pemberontakan yang ia coba bertransformasi menjadi sebuah kesempatan dan keputusan yang lebih mudah untuk dibuat.

Tapi, dibanding apa yang sudah Sungmin lakukan malam itu, ini bukan apa-apa.

Orang di hadapannya, yang sekarang bicara tentang perbedaan selai jeruk dan selai aprikot, adalah orang yang mempertaruhkan nyawanya hanya untuk membuktikan padanya kalau ia peduli padanya.

Kyuhyun tersenyum.

Jadi, apa salahnya dengan memberontak sekali lagi?

.

.

.

[Jujur saja, aku tidak mau menjadi orang yang mengatakan ini padamu, buddy. Tapi, orangtuamu sudah mulai menaruh curiga padamu.]

Heechul memperingatkan lewat telepon, meskipun dengan nada iseng. Kyuhyun tidak kaget. Telepon dari Heechul adalah sesuatu yang sudah ia prediksi, mengingat ini ketiga kalinya dalam waktu singkat, ia tidak datang ke kantor.

Kyuhyun tidak merespon, kesulitan karena menjepit ponselnya di antara bahu dan telinganya untuk membantu Sungmin meletakkan telur di keranjang belanja.

Supermarket itu tidak dipernuhi orang-orang saat pagi hari, sehingga rasanya seakan seluruh isi supermarket adalah milik mereka.

[Aku kehabisan alibi untuk menutupimu, partner. Aku sudah pernah bilang kau sakit. Lalu aku juga sudah pernah bilang kau punya janji penting. Untuk pagi ini, aku bahkan mengatakan kalau kau kencan dengan Jessica. Aku baru sadar kalau perempuan jalang itu sedang di luar negeri untuk perjalanan bisnis selama seminggu. Jadi intinya, mereka tidak akan memercayai apa yang kukatakan kecuali aku datang ke mereka alibi yang lebih kuat. Segera.]

"Kalau begitu kenapa tidak kau lakukan?" Kyuhyun memegang ponselnya dengan tangannya lagi, mendorong keranjang belanjanya mengikuti Sungmin yang sekarang menuju rak susu.

[Karena aku tidak tahu apa yang sedang kau lakukan. Kau merencanakan sesuatu akhir-akhir ini, kan? Mau cerita padaku?]

"Sudah kubilang aku hanya mengikuti saran yang kuterima." Kyuhyun menawab, menerima sekarton yogurt lemon dari Sungmin dan melemparnya ke keranjang belanja.

[Kau masih bersama dia sekarang?] Heechul bertanya, merujuk pada si psikiater.

"Mm-hm."

[Ya Tuhan. Aku tahu rencanaku pasti berhasil, tapi aku tidak tahu akan berhasil sebagus ini.]

"Rencanamu?" Kyuhyun mendesah berat saat mengatakannya.

[Ya, ya, aku tahu aku hebat. Kau bisa berterima kasih padaku nanti.]

Ketika Heechul mengatakan itu, Sungmin mengambil sekotak keju cheddar dan berbalik ke arah Kyuhyun.

"Menurutmu mana yang lebih enak? Mozarella atau cheddar?"

"Kau yang pilih." Kyuhyun mengangkat bahunya, ponsel masih ditangannya.

"Hmm... Kupikir aroma cheddar sedikit terlalu kuat. Mungkin kita bisa memilih keju biru. Atau mungkin parmesan. Oh! Atau mungkin kita bisa mengambil semuanya."

"Apapun yang bisa membuatmu senang." Kyuhyun membalas, tidak sadar kalau dirinya tersenyum geli ketika Sungmin akhirnya memutuskan untuk membeli semua jenis keju yang tadi ia sebut.

Sungmin membombardir keranjang belanja dengan bungkusan-bungkusan keju yang selama ini tidak pernah Kyuhyun perhatikan. Gaya belanja psikiaternya membuatnya mengeluarkan tawa lembut.

Kalau dipikir-pikir, dari awal Kyuhyun memang bukan tipe orang yang akan pergi ke supermarket untuk membeli kebutuhan sehari-hari seperti ini. Tidak heran jika ia sangat terhibur ketika melihat seseorang berkeliaran diantara tumpukan makanan dengan begitu santai seakan ini di rumahnya.

[Holy shit.] Heechul, setelah mendengar semuanya, menyumpah dengan takjub. [Apa itu suara tawamu yang barusan kudengar?]

[Kenapa memangnya? Apa suara tawaku adalah masalah serius untuk hidupmu?" respon Kyuhyun lewat telepon.

[Kalian seperti pasangan sejoli!]

"Jangan mulai lagi."

[Kau tahu? Psikiatermu dan aku harus bicara suatu hari nanti. Aku harus tahu apa yang ada dalam dirinya—yang tidak dimiliki Hero dan laki-laki lain yang pernah terlibat dalam hidupmu.]

"Kalau kau tidak menghentikan omong kosong ini sekarang, akan kututup."

[Man...kau harus meng-update banyak hal padaku. Maksudku, aku tidak kedapatan melihat hal baik yang terjadi kemar—]

Kyuhyun menutup teleponnya, bahkan tanpa menunggu Heechul menyelesaikan kalimatnya. Sungmin, yang sekarang memilih antara susu kedelai dan susu biasa, melirik ke arahnya.

"Itu agak kasar." Sungmin menaikkan alisnya ke arah Kyuhyun, mengomentarinya.

"Dia pantas mendapatkannya." Kyuhyun berkata acuh tak acuh, kemudian menunjuk susu biasa. "Ambil yang biasa saja."

"Apa itu dari temanmu yang meneleponku kemarin malam?" Sungmin bertanya, meraih susu kedelai dan memasukkannya ke dalam troli, mengesampingkan wajah kecut Kyuhyun.

"Ya." Kyuhyun menjawab, memutuskan tidak mengajukan penolakan atas pilihan si tukang belanja. Toh, disini bukan dirinya yang bertugas memasak nanti, tapi Sungmin.

"Kau pasti sangat dekat dengannya." Sungmin berkata dengan sumringah, melangkah ke sisi Kyuhyun dan berjalan bersamanya menuju bagian buah-buahan. "Kau kelihatan lepas saat bersamanya."

"Aku mencoba yang terbaik untuk berurusan dengan dia," jawab Kyuhyun.

Sungmin hanya tersenyum, menyadari jawaban Kyuhyun yang cenderung menghindari kenyataan yang ada. Dia mengganti topik saat itu juga dengan berseru gembira saat tiba di sudut sampel buah-buahan, dimana buah beri dan buah-buahan tropis lainnya disusun untuk dicicipi oleh pengunjung.

"Oh, pisang!" Sungmin memekik kagum, mengambil irisan sepotong pisang dengan tusuk gigi dan membawanya ke mulut Kyuhyun. "Ini."

"Aku tidak membutuhkannya, thanks." Kyuhyun sedikit kaget dengan tawaran mendadak itu, dan menggelengkan kepalanya.

"Ayolah, tidak setiap hari kau bisa melihat pisang musim dingin." Sungmin memaksa, dan Kyuhyun, setelah mendesah berat, mengangkatkan tangannya untuk mengambil tusuk gigi dari Sungmin. Tapi, Sungmin menggodanya, dengan menarik kembali tusuk giginya tepat saat Kyuhyun nyaris mengambilnya dari tangannya. Kemudian ia tertawa dengan ekspresi yang sangat cerah di wajahnya saat melihat Kyuhyun bingung.

"Mencoba bermain-main denganku?" Kyuhyun menyatukan alisnya.

"Buka mulutmu. Aku akan menyuapimu," jawab Sungmin dengan manis.

"Kau pasti bercanda," gumam si tinggi, seakan Sungmin mengatakan sesuatu yang benar-benar gila.

"Jangan kelihatan sekaget itu." Sungmin terkikik seperti bocah lima tahun. "Ini cuma pisang."

"Tidak mungkin kita melakukannya. Turunkan." Kyuhyun memerintah.

"Kau tidak suka pisang? Padahal warnanya sangat kuning." Sungmin memasukkan buah itu ke mulutnya sendiri, dan mengambil blueberry kali ini. "Bagaimana kalau yang ini? Ini warnanya biru."

"Jangan aneh-aneh. Ambil yang kita butuhkan lalu keluar dari sini." Pemuda yang lebih muda itu menolak lagi, tapi Sungmin tidak menyerah semudah itu.

"Ini sangat enak. Kau pasti menyesal kalau tidak mencicipinya." Sungmin berkata, menggoyang-goyangkan tusuk gigi dengan blueberry di ujungnya tepat di depan mata Kyuhyun. "Ayolah, ini bukan masalah besar."

"Masalah besarnya adalah ini sangat aneh." Kyuhyun mendorong tangan Sungmin dari wajahnya.

"Tidak, ini tidak aneh."

"Dua laki-laki saling suap-suapan di publik. Aku yakin itu aneh."

"Oke, satu gigit saja kalau begitu." Sungmin bersikeras dengan senyum cantik. "Tidak akan menyakitimu, kan? Siapa yang peduli pada apa yang orang lain pikirkan?"

Jujur saja, senyum kekanakan dan kerlingan mata Sungmin sangat sulit untuk ditolak. Lebih sulit daripada senyum dan kerlingan kebanyakan.

Kyuhyun menggigit bibir bawahnya, menggelengkan kepalanya tidak percaya, kemudian menyerah, saat dia akhirnya membuka mulutnya untuk menerima tawaran Sungmin. Blueberry itu masuk ke dalam mulutnya, lengkap dengan aroma manisnya.

"Enak, kan?" Sungmin bertanya saat melihat Kyuhyun mengunyah berinya.

"Tidak buruk," jawab Kyuhyun, mencoba kedengaran tidak peduli. "Cepatlah dan ambil yang kau butuhkan."

"Hmm. Kupikir aku mau ada pisang di salad kita nanti. Di pancake juga cocok." Sungmin memasukkan pisang, stroberi dan plum ke keranjang.

"Seharusnya semua ini cukup untuk kita hari ini." Dia menyimpulkan dengan wajah puas, menarik trolinya ke arah kasir, "Eh, ngomong-ngomong, kau yang bayar ya."

Kyuhyun tertawa bingung, kemudian menjawab sinis, mengeluarkan dompet dari saku belakang celananya.

"Terserah."

.

.

.

Mereka kembali ke rumah Kyuhyun saat hampir waktu makan siang.

Kyuhyun adalah orang pertama yang memasuki ruang santainya, membawa plastik belanja mereka dengan kedua tangannya. Sungmin mengekor di belakangnya, berceloteh tentang dirinya yang tidak mau repot memikirkan kalori ketika memasak dan tentang betapa enak semuanya ketika makanan memang lezat dari sananya.

Kyuhyun—yang mendengarkan celotehan Sungmin dengan senyum tanpa sadar di wajahnya, mengangkat kepalanya ke arah ruang santai, kemudian berhenti mendadak.

Sial.

Ia mengumpat dalam hati, menggertakkan giginya saat melihat ibunya duduk di sofa dengan postur yang sangat tegap.

"Maksudku, kau tidak mungkin mendapatkan dua-duanya, jadi menyerah saja pada salah satunya." Sungmin masih berbicara, tetap hati-hati saat melepaskan sepatu dari pergelangan kakinya yang bengkak saat di pintu masuk. "Aku penasaran apa ada makanan di dunia ini yang bisa enak dan sehat di saat yang bersamaan."

Karena tidak ada jawaban, Sungmin menatap keheningan yang ada, menyadari kalau Kyuhyun hanya terdiam di tempatnya. Ia lalu berjalan ke arah ruang santai untuk mendekati Kyuhyun.

"Ada apa? Kau ba—" Sungmin juga berhenti, tepat saat ia menemukan ibu Kyuhyun.

Wanita itu mengenakan pakaian formal berwarna putih mutiara, lengkap dengan perhiasannya, yang dengan seketika memancarkan atmosfir berkelas hanya dari penampilannya. Dia duduk di sofa, mengamati dengan cermat situasi di hadapannya, menafsirkannya sendiri di kepalanya. Mustahil bisa menerka apa yang sedang dia pikirkan dibalik wajah tegasnya.

Dia menatap Sungmin dengan tatapan intens yang seakan bisa membakarnya hidup-hidup. Kemudian tiba-tiba wanita itu bangun dari tempat duduknya, melihat lurus kearah putranya, memancarkan kemarahan di matanya.

"Apa yang Eomma lakukan disini?" Kyuhyun berhasil memegangi keningnya dengan tangan kanan saat sakit kepala yang melelahkan menghujamnya.

"Rekan kerjamu mengatakan kalau dalam satu bulan kau sudah absen tiga kali." Dia menjelaskan, menahan amarahnya. "Eomma disini karena Eomma khawatir sesuatu mungkin terjadi padamu."

"Eomma tidak kelihatan khawatir." Kyuhyun berkata dengan sedikit mengejek, sesuatu yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya kepada orangtuanya.

"Siapa itu?" Ibunya bertanya dengan menyilangkan tangannya, merujuk ke Sungmin yang sedang memeras otaknya, memikirkan apa yang harus ia lakukan.

"Psikiaterku." Kyuhyun menjawab dengan semestinya, menutup matanya dengan harapan ia bisa segera menghilang dari realita yang ia hadapi sekarang.

"Selamat siang." Sungmin menawarkan senyumannya, terlepas dari suasana canggung di sekitar mereka. "Anda pasti Nyonya Cho. Senang bisa bertemu dengan Anda."

"Kenapa dia disini?" Nyonya Cho benar-benar mengabaikan salam hangat dari Sungmin saat dia mengambil langkah lebih dekat ke anaknya, meninggikan suaranya. "Apa yang dia lakukan di rumahmu?"

"Dia hanya disini untuk membantuku." Kyuhyun berkata, menarik Sungmin ke belakang dengan lengannya. "Tapi, dia kan pergi sekarang."

Sungmin mengerti sinyal yang Kyuhyun berikan, dan ia cukup tahu diri. Ia harus pergi.

Meski begitu, sebelum dia sempat mengatakan selamat tinggal ke ibu Kyuhyun, tanpa peringatan sedikit pun, wanita itu melayangkan tangannya dan menampar wajah Kyuhyun dengan tenaga penuh. Meninggalkan bunyi plak yang bergema di udara kosong, bersamaan dengan goresan di kulit Kyuhyun karena cincin yang ibunya gunakan di jarinya.

Sungmin tersentak, buru-buru menghentikan Nyonya Cho ketika ia mengangkat tangannya sekali lagi.

"Nyonya Cho, tolong tenang." Sungmin berkata, risau dan terkejut karena Kyuhyun tetap tidak merespon bahkan setelah tamparan ibunya.

"Lepaskan tangan kotormu dariku!" Ibu Kyuhyun merenggut tangannya dari sentuhan Sungmin dengan nada jijik di suaranya. Kemudian ia menghadap putranya dengan marah. "Eomma tidak percaya kau masih melanjutkan kehidupan kotormu di belakang kami seperti ini."

"Ini tidak sepeti yang Eomma pikirkan." Kyuhyun berkata dalam bisikan. "Eomma salah paham."

Tamparan lagi.

Kali ini, Kyuhyun benar-benar menggertakkan giginya karena kesakitan.

"Ucapan itu persis seperti yang kau katakan saat Eomma dan Appamu menemukan rahasia menjijikkanmu." Wanita itu menggeram. "Jadi ini yang selama ini kau lakukan? Mengarang kebohongan supaya kau bisa kembali mendapat pekerjaan di perusahaan dan melanjutkan kebiasaan menggelikanmu ini? Eomma bodoh karena berpikir kau mungkin dalam masalah."

"Dia bukan kekasihku." Kyuhyun membalas. "Aku sudah mengatakannya. Dia hanya dokterku."

"Kenapa dia ada di rumahmu kalau begitu?" Ibunya berteriak. "Bukankah seharusnya dia di kantornya? Tidakkah dia punya pekerjaan yang harus dia kerjakan?"

"Dia hanya membantuku," ulang Kyuhyun.

"Kenapa dia harus membantumu?" Wanita itu melirik Sungmin tajam.

"Karena aku pasiennya." Kyuhyun menyatakan dengan jelas, kekesalan terlihat di wajahnya.

"Dia bisa melakukannya di jadwal yang sudah ditentukan, untuk itulah dia dibayar." Ibunya menyembur. "Jangan pernah berpikir untuk berbohong pada Eomma saat sudah jelas-jelas dia tidak disini untuk membantumu."

"Lalu menurut Eomma apa yang dia lakukan disini?" Kyuhyun menantang dengan suara rendah yang menyeramkan, untuk pertama kalinya dalam hidupnya. "Untuk kutiduri?"

"Beraninya kau!" Ibunya berteriak, benar-benar terkejut mendengar kata-kata pemberontak anaknya. "Apa yang terjadi padamu?!"

Kyuhyun tidak mengatakan apa-apa lagi karena dia tidak tahu jawaban dari pertanyaan ibunya. Dia tidak tahu apa yang terjadi padanya dalam beberapa minggu terakhir. Satu-satunya yang ia yakin, dalam beberapa minggu perubahannya, Sungmin ada disana.

"Eomma pasti akan melaporkan ini pada ayahmu." Ibunya membentak marah, menyambar tasnya dari sofa. "Tidak bisa dipercaya putraku tumbuh menjadi manusia sakit, hina, arogan yang tega mengkhianati orangtuanya sendiri!"

Dia keluar dari rumah dengan murka tanpa belas kasihan.

Ada bunyi dentuman keras saat dia menutup pintu di belakangnya, kemudian digantikan dengan keheningan yang mengambil alih ruangan itu selama menit-menit yang lumayan panjang.

Sungmin adalah yang pertama memulihkan diri dari keadaan yang barusan terjadi. Dia membuat gerakan hati-hati ke arah Kyuhyun untuk menyentuh goresan di pipinya, menyaksikan pemandangan yang membuat hatinya perih.

"Hei..." Dia memulai dengan mata yang memancarkan kesedihan. "Aku akan pergi kalau kau menginginkannya."

Kyuhyun menghela napas. "Apa itu artinya kau akan tetap disini kalau aku menginginkannya?"

"Tentu saja." Sungmin mengangguk.

"Baiklah kalau begitu," kata Kyuhyun, bertatapan dengan mata sedih Sungmin. "Tetap disini."

Sungmin tersenyum lembut. Kemudian mengangguk lagi.

"Maafkan aku." Dia berbisik, melingkarkan lengannya di leher Kyuhyun untuk menghiburnya.

"Kau tidak harus minta maaf." Kyuhyun menjawab, menerima kehangatan yang nyaman dari pelukan Sungmin. "Kau tidak melakukan apa-apa."

"Aku tahu orangtuamu keras padamu." Sungmin menarik dirinya untuk mempertemukan matanya dengan milik Kyuhyun. "Tapi, aku tidak tahu kalau akan sampai sejauh ini."

"Well, sekarang kau tahu." Kyuhyun menyeringai. Takjub sendiri ketika dia tidak merasa malu sedikitpun di depan Sungmin, atau terpukul dengan kenyataan kalau ibunya tahu alasannya bolos kerja. "Bagaimana aku tadi?"

"Maaf?" tanya dokter itu, mengedipkan matanya beberapa kali karena pertanyaan tak terduga Kyuhyun.

"Aku melakukannya dengan bagus, kan?" Kyuhyun melengkungkan senyumnya. "Itu tadi adalah salah satu pemberontakan yang selalu kau bicarakan."

Sungmin tidak tahan untuk tidak tertawa atas ucapan Kyuhyun, suaranya lebih lembut daripada sebelumnya. Dia memeluk Kyuhyun sekali lagi, dan kali ini, Kyuhyun dengan mengejutkan merespon dengan melingkarkan tangannya di pinggang Sungmin.

"Kau sexy tadi." Sungmin berbisik di telinga Kyuhyun dengan senyum di tiap katanya, memunculkan tawa kecil dari Kyuhyun. "Aku sangat menyukainya."

.

.

.

Cuaca hari itu sedang buruk.

Waktu dan jadwalnya, lebih buruk lagi.

Dan berita yang ada saat ini, adalah yang paling buruk.

Pada akhirnya, Kyuhyun tidak bisa melakukan apa-apa ketika orangtuanya sudah bulat memutuskan untuk mengganti psikiaternya. Dia harus puas hanya dengan menggertakkan giginya karena menahan protes. Tinjunya harus ia kepalkan kuat-kuat untuk menahan emosinya, paling tidak, sampai ia sampai dengan selamat di kantornya hari ini.

"Apa-apaan ini? Apa yang terjadi pada wajahmu?" Heechul memekik saat melihat temannya, yang datang sangat terlambat siang itu, lengkap dengan wajah memar dan bengkaknya.

"Cantik, kan?" Kyuhyun menyeringai, mengelap bekas darah di sudut bibirnya dengan punggung tangannya. "Aku punya semua warna pelangi di wajahku."

"Holy shit." Heechul bergumam dan memasukkan tangannya ke saku celana, menggelengkan kepalanya tidak percaya atas apa yang ia lihat sekarang. "Mereka melakukan ini padamu?"

"Well, menurutmu?" Kyuhyun menjawab seadanya. "Kali ini mereka sama-sama menyumbang. 10% dari ibuku, dan sisanya, 90%, dari ayahku."

"Itu sakit namanya." Heechul merengut sebal, memperhatikan bekas paling merah di pipi Kyuhyun. Dari bekas tangan yang masih tercetak disana, ia tahu temannya ditampar habis-habisan. "Maksudku, coba lihat cermin, kau tidak berbentuk. Absurd."

"Memang," dengus Kyuhyun, menekan bibirnya yang robek dan berdarah dengan tisu.

"Tindakan nakal apa yang kau lakukan kali ini?" tanya Heechul. "Jangan katakan mereka memukulimu, seakan kau hanya seonggok daging tak bernyawa, hanya karena kau bolos kerja tiga kali?"

"Mereka melihatku saat aku sedang bersama psikiaterku." Kyuhyun menjawab dengan helaan berat. "Mereka pikir aku pacaran dengan dia."

"Oh man." Heechul mengerang. "Itu alasannya? Hanya karena itu?"

"Kau tahu betapa sensitifnya mereka tentang hal-hal semacam ini." Kyuhyun mengerutkan alisnya karena sakit di pipinya membuatnya mati rasa. "Kau seharusnya ingat kalau sekarang kau sedang bicara tentang orang-orang yang mencoba menjualku pada keluarga dari perusahaan lain hanya untuk menyembunyikan itu."

"Lalu mereka menggunakan sebuah tongkat golf untuk menampar otakmu atau apa?" Heechul menyembur.

"Tidak, hanya dengan tangan." Kyuhyun menggelengkan kepalanya. "Plus cincin."

"Boleh aku mengatakan kalau orangtuamu adalah sepasang orang-orang tua brengsek tidak berotak?" Heechul menyilangkan lengannya di depan dada.

Kyuhyun mengeluarkan tawa pendek dan sinis atas komentar itu, meskipun segera menggantinya dengan ekspresi kecut karena rasa sakit yang disebabkan tarikan otot pipinya. "Paling tidak kalimat itu tidak keluar dari mulutku."

Dia duduk di kursinya, dan menghidupkan komputernya.

Pekerjaan yang ia tinggalkan sudah menggunung dengan jumlah yang tidak sedikit, dan dia diminta menyelesaikan itu semua dengan sekejap mata.

"Tunggu, tunggu," Heechul memanggil, masih tidak percaya. "Kau tidak sedang mengambil posisi untuk bekerja, kan?"

"Memang di matamu apa yang sedang kulakukan? Memasak?" Kyuhyun berdecak, mengangkat pulpennya dan menyeret dirinya menuju dokumen pertama yang tertangkap matanya.

"Aku tidak percaya," kata Heechul. "Jika aku jadi kau, aku akan memberikan salam jari tengah pada mereka dan keluar dari ini semua."

"Aku tidak melihat logikanya," jawab Kyuhyun agak santai, meskipun sedikit terganggu. "Kau sudah jelas tidak pernah ada dalam hidupku. Tidak pernah ada dalam posisiku."

"Jadi, apa yang akan kau lakukan? Merangkak di bawah kaki mereka, memuja pantat mereka, dan lakukan apapun yang mereka inginkan? Seperti budak?" Suara Heechul hampir mengekspresikan kemarahannya, jika kata-kata kotor belum mewakili kekesalannya.

"Perhatikan ucapanmu." Kyuhyun memperingati. "Ingat kau sedang bicara denganku."

"Aku hanya mau bilang, temanku, kau harus mengontrol hidupmu sendiri." Heechul menyimpulkan dengan tampang kaku di wajahnya. "Kenapa repot memedulikan apa yang mereka pikirkan?"

"Sekarang kau benar-benar terdengar seperti psikiater itu." Kyuhyun mengatupkan giginya saat memikirkan Sungmin.

"Well, dia benar, kan?" Heechul meledak. "Lihat apa yang mereka lakukan padamu."

"Aku tidak butuh orang lain untuk mengatakan itu padaku," geram Kyuhyun dengan suara rendah, sulit untuk membatasi kemarahannya yang meningkat. "Keluar dari ruanganku."

Tepat saat Heechul akan menyuarakan protes, ponsel Kyuhyun berdering. Dia mengangkatnya tanpa melihat siapa yang menghubunginya.

"Halo?"

[Ini aku.] Suara Sungmin yang khawatir langsung mengelilingi telinganya.

'Astaga Tuhan...' Kyuhyun berdoa, menutup matanya dan menggigit bibir bawahnya saat jantungnya berdegup dengan gila. Akhir-akhir ini dia tidak bisa menjaga degup jantungnya yang tidak bisa dikontrol hanya karena seseorang.

[Nyonya Cho meneleponku barusan.] Sungmin memulai dengan hati-hati. [Dia mengatakan kau menarik diri dari pengobatan.]

Kyuhyun tidak langsung mengatakan apa-apa setelahnya, jadi si penelepon harus melanjutkan.

[Apa semuanya baik-baik saja?] tanyanya, meskipun nadanya sudah mengatakan kalau dia tahu tidak ada apapun yang baik-baik saja saat ini.

"Ya." Kyuhyun akhirnya menjawab, tidak memperpanjang.

[Jadi, apa yang harus kulakukan?] Suara Sungmin masih lembut.

"Apa maksudmu?" Kyuhyun menyatukan alisnya atas pertanyaan itu.

[Aku mengatakan padanya kalau semuanya terserah pasien, dan itu memang benar. Aku akan mundur atas persetujuan darimu.]

"Lalu apa yang dia katakan setelahnya?"

[Aku tidak peduli apa yang ia katakan selanjutnya. Aku hanya ingin mendengarnya darimu. Buat keputusanmu sendiri.]

Sungmin mengatakan seakan dia akan melakukan apapun sesuai dengan keputusan Kyuhyun. Dia bisa meninggalkannya, dia bisa berhenti memberikan pengobatannya, atau dia bahkan bisa berhenti peduli padanya. Terserah pada apa yang Kyuhyun inginkan.

Masalahnya adalah, Kyuhyun tidak begitu familiar dengan membuat keputusan dengan kemauannya sendiri. Keputusan-keputusannya selama ini selalu dibuatkan oleh orang lain, dan satu-satunya keputusan yang murni dari kemauannya adalah mengikuti keputusan orang lain tentang dirinya. Baru beberapa hari ini dia mulai bertemu dengan peluang yang membuatnya memutuskan sendiri. Spesifiknya, sejak dia bertemu Sungmin, setiap momen yang terjadi seperti peluang besar untuknya.

Tapi, jika dipikir-pikir, pada akhirnya apa yang keputusan mandiri itu bawa untuknya?

Benar, pemberontakan mungkin terasa nikmat pada saat-saat tertentu, tapi bukankan itu hanya menghasilkan luka? Apa lagi yang bisa ditawarkan oleh pemberontakkan?

"Kau sedang mengatakan bahwa kau akan mundur, jika memang itu yang kuingkinkan?" Kyuhyun berhasil bertanya.

Ada jeda panjang di sisi Sungmin. Dan untuk beberapa alasan, keheningan itu menikam hati Kyuhyun.

[Kalau kau memang menginginkannya seperti itu, maka ya.] Sungmin akhirnya menjawab, suaranya bermandikan desahan berat.

Kyuhyun menarik sudut bibirnya, membentuk seringai pahit sebagai jawaban.

Jadi, itu saja.

Setelah semua yang Sungmin katakan dan lakukan, itu saja. Selama ini, setelah semua yang sudah ia lakukan dan katakan, ternyata masih ada kemungkinan besar kalau dia akan meninggalkan semuanya.

Sekalipun itu baru kemarin Sungmin mengatakan kalau dia akan selalu ada di samping Kyuhyun. Sekalipun baru pagi ini dia mengatakan kalau dia menyukai Kyuhyun yang menunjukkan sisi pemberontaknya.

Begitu saja.

Sungmin bisa menghilang tanpa bekas dari semua ini, seakan tidak terjadi apapun diantara mereka, hanya karena Kyuhyun memerintahkannya seperti itu.

Dia akan mengikuti keputusan Kyuhyun, tapi sekarang dia meminta Kyuhyun membuat keputusannya sendiri. Betapa bertolak belakang itu kedengarannya?

Kebencian tiba-tiba memenuhi pikiran Kyuhyun, untuk alasan yang dia sendiri tidak bisa gambarkan. Dia tahu tidak ada yang salah dengan ucapan Sungmin, dan dia tahu bukan Sungmin yang salah ketika ia gagal dengan keputusannya, tapi untuk beberapa alasan yang tidak bisa dimengerti, ia marah.

Dia menggertakkan giginya dan menyembur.

"Kalau begitu berhenti saja. Aku memberhentikanmu."

Ada jeda lain setelah kata-kata tajam itu.

[Kyuhyun.] panggil Sungmin pelan, seakan dia menyadari nada gelisah dari pasiennya, tapi tidak bisa mengatakan lebih lanjut.

"Aku sudah mendapat cukup saran darimu." Kyuhyun memotong dengan dingin. "Lagipula aku juga sudah mengikutinya. Jadi sudah saatnya kau berhenti dari posisi ini."

[Itu tidak seperti yang kumaksud. Aku hanya—]

"Jangan khawatir." Kyuhyun menginterupsi lagi dengan suara sinis. "Aku sudah mencoba teori pemberontakkanmu beberapa kali, tapi tidak begitu bekerja padaku, jadi aku akan melupakannya, itu saja."

[Kyuhyun, tolong, dengarkan aku—] Suara memelas Sungmin tidak didengar oleh Kyuhyun.

"Satu hal lagi." Pemuda yang lebih muda itu menambahkan dengan sangat cepat, tanpa memberikan kesempatan pada lawan bicaranya. "Tidak ada makan siang gratis, seperti yang kau katakan. Jadi, aku akan tetap membayar waktu yang sudah kau habiskan denganku pagi ini. Kupastikan cek atas namamu akan sampai di klinikmu besok."

Kemudian dia dengan cepat menutup teleponnya bahkan sebelum Sungmin merespon, melempar ponselnya ke meja, dan kembali ke pekerjaannya, seakan tidak terjadi apa-apa. Wajahnya kaku dan tidak ada emosi disana.

Saat merasa ditatap terus menerus oleh Heechul, ia menghela berat sebelum melihat ke arahnya.

"Apa." Kyuhyun bertanya.

"Apa kau baru saja memberhentikan psikiatermu?" tanya Heechul dengan kerutan tidak biasa di wajahnya.

"Ya, aku melakukannya." Kyuhyun mengatakannya dengan nada rendah yang tidak peduli. "Kenapa kau peduli?"

"Wow," balas rekan kerjanya, menggelengkan kepalanya tidak percaya. "Aku tahu kau membuat banyak sekali kesalahan dalam hidupmu, tapi yang kali ini, aku yakin kau membuat yang paling besar."

"Aku tidak pernah membuat kesalahan." Kyuhyun mengeja dengan jelas.

"Oh ya?" Heechul mengangkat alisnya. "Lalu ketika kau mengatakan kalau adalah sebuah kesalahan ketika kau dengan Hero, apa maksudmu dengan itu?"

"Tuhan..." Kyuhyun bergumam dengan frustasi. "Bisakah kau berhenti mengangkat masalah itu?"

"Biarkan aku mengatakan sesuatu padamu, nak." Heechul berjalan menuju meja Kyuhyun dan meletakkan kedua tangannya di ujung-ujung meja Kyuhyun, merendahkan tubuhnya ke arah Kyuhyun. "Kesalahan adalah seuatu yang sudah kau lakukan dan kau menyesal pernah melakukannya. Kau mengatakan padaku untuk tidak mengangkat masalah itu lagi karena kau tidak mau memikirkan tentang itu. Kau menyesalinya. Itulah kenapa kau menyebutnya sebagai kesalahan."

"Cerita yang bagus." Kyuhyun mencibir. "Kenapa tidak ceritakan itu pada pacar kristenmu itu lengkap dengan semua kesalahan yang sudah ia perbuat?"

"Poinku adalah..." Heechul menyeringai, tidak terhalang dengan komentar Kyuhyun. "... kau tidak selalu menolak ketika sedang membicarakan psikiatermu. Kau meninggalkan pekerjaanmu demi bersamanya. Tiga kali, jika ditotal. Kau bahkan bersamanya semalaman, kemarin. Tapi, kau tidak kelihatan menyesalinya, sampai beberapa orang, dan aku secara spesifik menunjuk pada orangtuamu, mengatakan padamu untuk menyesalinya. Kau tidak menganggapnya sebagai kesalahan sampai kau diperintahkan untuk menganggapnya sebagai sebuah kesalahan. Well, kukatakan padamu, itu bukan kesalahan."

"Kupikir kau sedang membuat poin disini." Kyuhyun mencobir sekali lagi, senyum sinis perlahan muncul.

"Memang."

"Jadi apa poinmu?"

"Kesalahanmu bukanlah karena kau bersama doktermu." Heechul menjawab. "Kesalahanmu adalah karena kau memberhentikannya."

"Apa yang membuatmu yakin kalau itu adalah sebuah kesalahan?" Kyuhyun menantang.

"Karena kau akan menyesalinya." Heechul menyimpulkan, membalik tubuhnya untuk menuju pintu tanpa kata-kata lebih jauh.

.

.

.

To Be Continued

Special update for Endah, my precious onion and also my very first beta, Vodkamix. Thank you soooooo much ^^

.

Halo semuanya :D

FF ini masih jauh dari akhir, dan saya beneran minta maaf karena terakhir apdet Joy Day 2014. Yang amat sangat kelewat penasaran sama lanjutan ff ini bisa dicari di asianfanfics .com karena saya ga bisa janjiin apdet yang cepet :(

Sebenernya draft chapter ini udah ada dari kapan tau. Bahkan mungkin sebelum september, ini udah ada, tapi, ya... siapa yang nyangka ngulur apdet bentar malah jadi ngelantur banget waktu apdetnya karena ternyata muncul hal-hal yang tidak terduga. Ini juga deg-degan publishnya :(

Ini udah terlanjur bulukan dan mungkin udah ga diinget juga xD, jadi saya ga bisa jawab satu-satu reviewnya karena pasti yang nanya juga ga inget udah nanya apa hehe maaf semoga lain kali apdet cepet dan bisa bales :((((

.

.

Mulai dari baris ini, silahkan di skip, ini cuma curhatan alay soalnya -_- tapi ya karena saya alay makanya tetep saya tulis -_-v

So, btw...em...tempat ini jadi sepi ya :')

Sebagian mungkin udah nemuin kebahagiaan di tempat lain, dan sebagian lain mungkin masih enjoy dengan kebagiaan yang lama. Di posisi manapun sekarang kita, saya cuma mau kasih tau kalo saya beruntung bisa kenal sama komunitas roller coaster yang bikin saya lebih emosional dan ekspresif selama beberapa tahun terakhir ini :)

Pasti bukan cuma saya, tapi semua orang juga pasti punya alasannya masing-masing. Semua orang punya cerita panjang dibalik keputusan yang sekarang diambil. Karena jujur, pasti apa yang terjadi beberapa bulan terakhir ini maksa kita buat kita mikir jalan mana yang harus kita ambil, konsekuensi macem apa yang pasti didapet. Dan dari situ...ada yang jalannya mulus, ada yang bahkan buat nyari peganggan aja susah. Saya beneran ga bisa nulisin apa yang sebenernya rasain soalnya yah...belibet pasti. Tapi, saya berharap...sekalipun misal sekarang jalan kita beda, kita bisa saling meninggalkan kesan yang manis. Well, kita kan ketemu baik-baik, semoga kita juga bisa pisah baik-baik^^

Itu kenapa saya mau minta maaf buat yang udah pernah saya sakitin karena tingkah saya yang nyebelin atau bahkan yang liat keberdaan saya aja udah muak.

Sekali lagi maaaaaaaaaaaaaaaaaf banget dan terima kasih banyak buat temen-temen semua. Ga tau harus gimana lagi ngekspresiin rasa terima kasih saya :'D Big big thanks for Masquerade Indonesian Version' reader, favoriter(?), follower and reviewer.

Phia89, hwangpark106, Yefah, HyaKyuMin, lia tasliyah1, dirakyu, babychoi137, viachan92, okoyunjae, MingBlacksmile, Yuuhee, kyumin pu, ajid kyumin, KYUMINTS, maria8, coffeewie137, Juu, Guest, cecu .valia .9, Lee Sanghyun, ammyikmubmik, tarraaaaaaaaaaa, gyumin4ever, grace .grace .9026, Tika137, qq, PRISNA SPARKYU, yayarara, Park Heeni, sissy, I am ELF and JOYer, arvita .kim, pumpkins cholee, Chikyumin, danactebh, choyoumin, Yurami, RaniahMing, Eggyuming, NindyKyuMin, farla 23, kyuboss, Cho Na Na, myblacksmile137, Revan aegya yewook, myeolchi25, allea1186, nova137, kyutminimi, endah .kyumin137, liu13769, kyunnie .mmida, Zen Liu, mandakyumin, megakyu, sha .nakanishi, Adelia santi, aiueooo, ryesungminkyu18, TiffyTiffanyLee, stawberry rae, anieJOYer, Karen Kouzuki, ShinJiWoo920202, myFridayyy, kyuPuchan15, vie, anakyumin, zefanyadw, Emilykyu, airi .tokieda, nw .kim .37, melsparkyu, dwie .isna, iciici137, alfi lee, minglove, fazar .zee.1, thiafumings, Yhana 137, 5351, Okalee, chandra, CKyuMin137, qyvmins, bLueeeeWY, sungmin1004elf, Najika bunny, fonami joy niellee, 137km, nada, Princess JOYELF137, Lee'90, Mayu ChoLee, anita .ariestamaru, ame jung, Minimi Cute, TeukHaeKyu, KyuMin Cho, Miyoori 29, minhyunnie, cintakyumin137, Ria, yeminmine, KyunnieMinnie, Anjani Kim, cloudsKMS, Maximumelf, MinHyo137, reaRelf, Vodkamix, ayyu .annisa .1, leefairy, kimpichi .adjah, vila13kyuvil, Yaaa, Kyufit0327, Mala137SHL, shirakiri, Mybluepearl, AnjarHana137, Fiction Girl Trapped, Adila137, Cielta Phantomhive, dreamers girl, , minunderkyu, abilhikmah, park ji hyun, novanoba, HayatiLee, Mingre, EvilPumpkinSmile, Min Hwa, ShadowCrush, ming cantik, Hizmikeyla, imAlfera, , NaeAizawa, joyjoy, inescho.i, ISungyi, Az Zahra 137, Another Girl in Another Place, ming0101, winecouple, Elf hana sujuCouple, I was a Dreamer, zee konstantin, myst-girl, mimi, rizkaendahagustin, Bluepearl, bblgyumin, AWDJoy13, DongKi, Lia Tasliyah, Chengcimin, UnyKMHH, Frostbee, Keyla HB malik, choyumin, vitaminsparkyu1123, Sung Rae Sun, indah .elfiicholeecious, Ayu Fitria II, KMalways89, ndah951231, hyunyoung, HeePumpkin137, ardelia19, BabyMing, bunnykyu, OhSooYeol, zaAra evilkyu, nuy, lebah madu, FrozeMING, JoyELF, kyuminloid, Jade ChoQlate, Bels137, Yc K .S .H, Minnie Ciel, namnam15, upi, SesiPujiasti, ImSFS, Gyumina, Beautiful Garnet, .777, sitara1083, LauraRose14, Rilianda Abelira, Dina LuvKyumin, nana, aidaaars, Paijem, lia, MyraMoniaga, Reva KyuMinElf II, Glows Kyumin Angel, nopayaa, kim eun neul, sungminie's baby girl, hapsarikyuku, teras fanfiction, kyuminjoy, kukyuruyuk, dan semua guest(s).

Semoga ga ada yang kelewat ~.~

Kalo ada kesempatan saya mau banget sebenernya nulisin semua penname yang saya tau fight bareng-bareng, tapi ya kita taulah kms itu banyak dan mungkin saya bisa abisin sechapter cuma buat nulisin nama-nama kms xD Hidup kadang di atas kadang di bawah, ada saat kita jadi bagian yang besar, dan ada saatnya enggak hehe.

Oke ini kepanjangan dan alay sangat untuk sebuah 'serimpilan' dari chapter 7, so...byeeeee