Ada satu masa lalu yang sangat kubenci …
… tidak, tepatnya kusesali.
"Hei, anak-anak itu berulah kembali!"
Ingar-bingar istana pun kembali terjadi, padahal hanya karena masalah sepele. Mulai dari pelayan sampai prajurit, semuanya kalang-kabut hingga membuat keributan yang tidak ada artinya. Merasa semakin tertantang, aku yang masih berumur sebelas tahun mempercepat lariku, menyusuri rumput hijau di tepi jalan setapak, seraya menggenggam tangan adik kembaranku yang berlari mengikutiku.
"Kakak, lebih baik kita kembali!" saran Riliane setengah berteriak. "Setidaknya, kita harus meminta izin!"
"Izin? Untuk apa?" sahutku tak acuh. "Kalau kita meminta izin, itu sama saja dengan menyerahkan diri! Mana mungkin kita diperbolehkan keluar dari istana!"
"Tetapi, Kak, ini sudah kesekian kalinya!" sergah Riliane dengan suara sedikit melengking. "Lebih baik, kita bermain di halaman istana saja!"
"Tidak mau! Membosankan!" tolakku cepat. "Lagipula, Lucifen pasti penasaran dengan tempat-tempat baru! Ya kan, Lucifen?"
Si kucing hitam yang sudah hampir setahun kupelihara itu mengeong dengan semangat, seraya terus berlari kencang di sampingku.
"Haahh … Kakak …" Sepertinya Riliane sudah menyerah. "Semoga saja takdir baik berpihak pada kita saat pulang nanti."
Aku hanya mengulum senyum. Riliane masih saja meragukan kemampuanku menyusup keluar-masuk istana. Padahal kami sudah sering menyusup bersama-sama, demi bermain atau sekadar mencuri kue-kue untuk jamuan pesta di dapur. Lihat saja, kali ini aku pasti berhasil lagi! Takdir baik akan selalu memihakku!
Namun rupanya …
… kali ini tidak …
Dengan kaki yang mulai terasa lemas, akhirnya kami tiba di depan Hutan Bewilderment, di mana terdapat Pohon Millennium yang ditakuti dan tak boleh diperlakukan sembarangan. Hutan yang hijau, luas, dan lebat, serasa siap menelan siapapun yang memasukinya. Hutan itu semakin terasa angker tatkala dinaungi oleh awan yang gelap, namun itu malah membuat nyaliku semakin terpacu. Bukan berarti aku akan nekat memasuki hutan demi menantang nyali, namun setidaknya, aku berhasil mendatangi tempat yang paling dilarang oleh istana …
… sebagai bukti bahwa aku benci diatur oleh istana.
"Ternyata bagaimanapun, hutan ini menyeramkan …"
Riliane yang berdiri tak jauh dariku, tampak gemetaran, hingga dia tak bisa melepaskan pandangannya dari hutan tersebut. "Heh, di mananya? Padahal kita hanya di depan hutan …" tanggapku seraya menjatuhkan diri ke dalam posisi duduk. Menyadari sesuatu, aku menyeringai jahil ke arah Riliane. "Jangan-jangan, kau takut, ya …?"
"Berhenti menertawaiku, Kak!" tukas Riliane dengan wajah memerah. Padahal aku belum tertawa, baru mulai cekikikan. "Iya, iya, baiklah! Aku memang takut! Bagaimana kalau kita pindah tempat saja? Kita main ke pantai, yuk!"
"Heh, ke pantai? Sama sekali tidak asyik," tanggapku malas seraya menjatuhkan punggungku ke hamparan rumput yang lembab. Bukan, bukan berarti aku tidak menyukai pantai. Pasti menyenangkan bermain pasir dan berlari di tengah asinnya debur ombak. Namun sekarang, tujuan hidupku adalah menentang seluruh aturan istana, hingga istana tidak lagi mengukungku.
Andai saja 'orang itu' kembali …
"Tetapi, Kak, ada yang menarik di sana!" Riliane duduk di sampingku dengan mata berbinar. "Katanya, laut di pantai itu bisa mengabulkan segala permohonan. Kita tulis permohonan kita di kertas, lalu masukkan ke botol kecil, kemudian kita lemparkan ke laut. Kalau botol kita terus mengapung, maka permohonan kita akan terkabul."
Biasanya aku tidak memercayai bahwa benda mati dapat mengabulkan permohonan, lain halnya dengan penyihir. Namun entah kenapa, hatiku sedikit tergerak, sehingga aku yang tadinya mendengarkan cerita Riliane dengan wajah tak berminat, kini mulai menyimaknya.
Bila aku melakukannya, apa aku bisa membawa 'orang itu' kembali?
"Bagaimana kalau kita buktikan, Kak?" ajak Riliane bersemangat. "Ayo, kita pergi sekarang, sebelum hari mulai gelap."
"Botolnya?" tanyaku mengingatkan. "Kertasnya? Tintanya?"
"Ah …" Riliane kehabisan kata-kata, kemudian menunduk lemas. "Benar juga, ya …"
"Puh …" Aku tersenyum kecil, kemudian bangkit kembali ke posisi duduk dan menghadap Riliane. "Kalau kau tak keberatan untuk kabur lagi seperti tadi, besok kita akan pergi ke sana."
"Benarkah?" Sepertinya keinginan Riliane sudah tak bisa dihalangi lagi. "Tidak apa-apa, Kak! Besok, ya!"
Aku tersenyum mengiyakan. Riliane sudah banyak menuruti keegoisanku, jadi biarlah kali ini aku menahan diriku dan menuruti kemauannya. Permintaannya sangat sederhana. Memalukan bila aku mengabaikannya begitu saja. Selain itu, aku masih bisa tetap memprovokasi istana dengan kabur seperti biasa. Namun aku berjanji, aku akan melindungi Riliane. Biarlah besok aku yang menanggung semua kemarahan istana, tanpa memalingkan wajah dan memasang wajah cemberut, dan mengatakan bahwa aku mengajak Riliane kabur demi keinginanku sendiri.
Bagaimanapun, Riliane harus tetap tersenyum …
Itulah adikku.
"Oh ya, Riliane …" Aku teringat sesuatu. "Memangnya kau ingin memohon apa?"
"Hmm … aku …" Riliane mengalihkan pandangannya, dan kemudian berteriak panik. "Kak, Lucifen kabur!"
"Eh?" Aku segera menoleh ke arah yang ditunjuk Riliane. Jauh di sana, terlihat sosok Lucifen yang berlari memasuki hutan. "Lucifen! Hei, Lucifen!"
Kucing itu sama sekali tak mengindahkanku. Ia terus berlari tanpa henti, hingga sosoknya hampir menghilang. Bagaimana ini? Aku harus membawa Lucifen kembali. Tetapi, hutan ini berbahaya untuk dimasuki. Terlalu lebat dan luas, terlebih malam hampir tiba. Kalau aku salah langkah, mungkin aku tak akan dapat kembali. Tidak mungkin aku mau bertingkah bodoh dengan membahayakan diri sendiri sampai sejauh itu!
Namun bagaimanapun …
… tidak mungkin aku merelakan milikku yang sudah susah payah kurawat begitu saja!
"Lucifen! Sial, dasar kucing bodoh!" teriakku histeris. "Lucifen, cepat kembali!"
"Kakak!" Riliane berusaha menenangkanku yang terus memanggil kucing itu dengan histeris. "Sudahlah, Kak, relakan saja. Kita tak mungkin mengejarnya sampai ke dalam hutan, bukan?"
"Tidak mau, kucing itu harus kembali!" cetusku kasar. "Pokoknya, aku mau dia kembali, apapun yang terjadi!"
"Tetapi, Kak, Lucifen tak mungkin kembali!" sergah Riliane yang masih memeluk tubuhku. "Lebih baik kita pulang, lalu meminta tolong pengawal."
Pengawal?
Tidak, kalau orang istana sampai tahu, bisa-bisa aku akan dikukung lebih ketat lagi!
Aku … tidak akan sudi menyerahkan kebebasanku yang susah payah kudapat ini!
"Tidak, jangan minta tolong mereka!" ketusku. "Pokoknya, aku tak akan bergerak dari sini sampai Lucifen kembali! Aku tak mau orang istana sampai tahu hal ini!"
Siapa saja, bawakan kucing itu kembali padaku!
Tak peduli siapapun … tak peduli apapun …
Sekalipun hutan ini akan menelanmu …
Aku tak peduli dengan semua itu, asalkan kucing itu kembali!
"Kakak, tunggulah di sini." Riliane melepaskan pelukannya dan berjalan mendekati hutan. "Aku akan mencoba menangkapnya."
"Eh?" Amarahku dengan kucing itu langsung beralih ke Riliane. "Apa yang kau pikirkan? Tidak boleh, hutan itu berbahaya!"
"Tenang saja, aku hanya memeriksanya sebentar." Riliane meyakinkanku. "Kakak tunggulah di situ. Barangkali Lucifen akan kembali ke sini."
"Riliane, jangan nekat!" sergahku yang terdengar seperti omong kosong, karena aku tak dapat bertindak apa-apa selain berteriak. "Baiklah, baiklah, Riliane! Aku sudah tak mengharapkannya lagi! Sebentar lagi malam, nanti kau bisa—"
"Aku akan kembali sebelum gelap." Riliane mengulas senyum lembut, senyum yang akan selalu menenangkanku sekaligus meyakinkanku. "Aku janji."
Karena itulah, aku kehabisan kata-kata.
Aku hanya dapat memandang Riliane yang berlari menyusuri hutan dengan mulut ternganga, tanpa bisa menggerakkan seujung jaripun. Padahal hari sudah mulai gelap, namun kenapa Riliane tetap bersikukuh? Apa yang dipikirkannya? Dari mana tekad itu berasal? Apa alasannya … hingga ketakutan yang tadinya diungkapkan Riliane sirna begitu saja?
Padahal aku … padahal aku …
Riliane, aku memang mengharapkan kucing itu kembali.
Tidak peduli siapapun … tidak peduli di manapun … asalkan kucing itu kembali, aku tak peduli dengan apapun!
Tetapi, kenapa harus kau …? Kenapa harus kau …?
Seharusnya bukan kau yang pergi, Riliane …
Saat itu, aku mengalami dilema. Aku ingin menyusulnya, namun kaki ini terasa membeku, seakan terikat oleh kabut tipis yang menyelubungi Pohon Millennium ini. Aku akui, aku takut, takut sekali. Aku tak sanggup membahayakan diri sendiri untuk sesuatu yang tak pasti. Aku akan pergi berperang bila yakin aku akan menang, aku akan mencoba melakukan hal baru bila yakin aku akan sukses, aku akan membuat rencana apapun bila yakin aku akan berhasil. Jadi kali ini … tanpa rencana, tanpa kemampuan yang dapat diandalkan, tanpa keyakinan kalau aku bisa keluar dari sana, aku tak akan mau menantang Hutan Bewilderment ini menelan diriku.
Namun … aku harus bergerak, harus melangkah!
Karena Riliane … karena Riliane …
"Kyaaa!"
Saat itu, saat aku belum sempat meyakinkan diriku sendiri, jauh di depan mataku, kulihat sosok mungil Riliane yang terperosok hingga jatuh di balik kabut dan rumput-rumput hijau yang tinggi …
… dan lenyap.
"Rili—!"
"Akhirnya kami menemukan Anda, Tuan Muda Alexiel," ucap seseorang dengan suara berat di belakangku. "Mari kita pulang, Tuan Muda. Lalu ... di mana Tuan Putri Riliane?"
"Riliane, Riliane!" Aku tak menghiraukan pengawal-pengawal yang menyergapku dan terus menjerit-jerit memanggil nama adikku. "Riliane, Riliane!"
"Apa yang ingin Anda lakukan, Tuan Muda?" Seakan bisa membaca pikiranku, salah satu pengawal menangkap tubuhku yang hendak berlari menyusul Riliane, lalu bergumam. "Jangan-jangan … Tuan Putri Riliane hilang di hutan itu?"
"Riliane, Riliane!" Aku meronta-ronta dengan wajah berurai air mata. "Cepat cari dia, temukan dia, hidup-hidup! Dan lepaskan aku, brengsek!"
"Sial, sampai-sampai terjadi hal seperti ini … Hei, cepat bergerak dan temukan Tuan Putri Riliane!" Si pengawal yang sekarang membopong tubuhku ini memberi perintah kepada sebagian pengawal. "Dan Tuan Muda, Anda tidak boleh ikut bertindak. Anda tetaplah putra raja yang harus dilindungi. Anda akan diantar pulang sekarang juga."
"Tidak mau, lepaskan aku! Aku tak mau pulang!" Aku menendang-nendang kakiku ke udara tanpa hasil. "Aku akan tetap di sini sampai Riliane kembali!"
"Tuan Muda, ayo pulang."
"Riliane, Riliane!" Aku menggapai-gapai udara dengan ganas, namun tak ada apapun yang bisa kugenggam, hingga tubuhku melayang menjauhi hutan itu.
Seharusnya bukan kau, Riliane …
Seharusnya aku tidak mengorbankan dirimu ...
"Riliane, Riliane!" Sepotong tenaga terakhir ini hanya kugunakan untuk memanggil namanya, menggapai-gapai sosok ilusinya, tanpa bisa melepaskan diri dari pengawal-pengawal brengsek yang membawaku semakin menjauh dari hutan. Tanpa memedulikan air mataku, tanpa memedulikan jeritanku, mereka tetap bersikukuh, seakan aku anak liar yang dibawa paksa dari tempatku berada. Meski begitu, meski aku sedang gelap mata, hati kecilku tetap mencicitkan kebenaran, kebenaran yang tidak dapat kusangkal, dan akan selalu kusesali.
Maafkan aku, Riliane …
Aku … memang tidak pantas …
"RILIANE!"
"Riliane!"
Mendadak mataku terbuka. Sesaat waktu seakan berhenti, di mana aku hanya dapat membeku menatap tangan kananku yang terangkat ke atas, seperti ingin menggapai sesuatu. Meski sinar bulan sabit menyoroti wajahku dari balik jendela, mataku sama sekali tak mengejap. Sepersekian detik kemudian, aku menarik punggungku dengan cepat hingga aku terduduk, memikirkan semua itu di atas kasur mewah yang baru saja kutiduri beberapa saat yang lalu.
Mimpi?
Ya, semua itu sudah lama berlalu. Meski ini bukan pertama kalinya aku memimpikan hal itu, seharusnya aku tak perlu memikirkannya kembali. Riliane selamat, dan kini sudah kembali di sisiku. Seharusnya aku melupakan semua masa lalu itu, terlebih sekarang aku adalah raja yang mempunyai banyak 'pekerjaan' di mana-mana …
Tetapi, kenapa aku terus memikirkannya hingga napasku terengah-engah?
Riliane sudah kembali … Riliane memang sudah kembali …
Tetapi, kenapa ada sesuatu yang mengganjal?
Entah kenapa, diriku tergerak untuk menemui Riliane, memastikan bahwa keberadaannya sekarang bukanlah ilusi. Begitu sadar, aku telah melompat dari kasur, dan berlari cepat menuju pintu kamarku, merangsek keluar dari kegelapan ini.
Riliane!
Brak! Belum sempat kaki ini melangkah keluar kamar, tiba-tiba seseorang memanggilku.
"Yang Mulia!"
Pandanganku teralih ke arah beberapa prajurit yang berlari menghampiriku, melintasi koridor yang terang benderang. Oh, cukup sudah. Apa yang sedang terjadi? Sudah lelah aku bekerja seharian, jadi apalagi yang harus kuhadapi?
Terlebih, aku tak mau diganggu jika ingin berurusan dengan Riliane.
"Yang Mulia, pemberontak berambut merah itu kabur!"
Apa …?!
Sial, dasar perempuan sialan! Ternyata dia bisa kabur juga! Bagaimana caranya dia bisa kabur? Apakah ada yang membantunya? Orang dalam, orang luar? Siapa yang berani-beraninya merebut pionku yang sudah kujaga dengan susah payah itu?
Ukh … karena sedang mengkhawatirkan Riliane, emosiku menjadi tidak stabil.
"Cepat tangkap dia, dasar lamban!" sentakku dengan nada amarah yang tak biasa kuucapkan. "Tangkap wanita itu, hidup-hidup! Kalau dia sampai mati, tak akan kuampuni kalian!"
"B-Baik, Yang Mulia—"
"Yang Mulia!"
Sebuah suara lain datang dari arah koridor yang berlawanan. Lagi-lagi sekumpulan prajurit, padahal kelompok yang sebelumnya belum sempat angkat kaki dari sini. Aku menatap mereka dengan sorot mata tajam. Apa mereka ingin melaporkan pekerjaan mereka yang tidak becus lagi? Benar-benar tidak berguna. Kalau saja aku berhati sempit, sudah pasti akan kuhukum mereka semua di guillotine yang lebih banyak menganggur itu.
Kesampingkan itu dulu.
Kenapa tiba-tiba situasi berubah menjadi genting?
"Yang Mulia, kami sudah memastikan …" ujar salah seorang prajurit dari kelompok itu. "Tuan Putri Michaela kabur bersama pemberontak itu!"
Mendengar hal itu, aku hanya dapat membeku.
Apa …?
Bohong, ini bohong. Yang benar saja! Michaela kabur bersama pemberontak itu? Apa benar dia kabur atas keinginannya sendiri, bukan diculik dan dijadikan sandera? Kalau benar begitu, berarti …
Michaela … mengkhianatiku?
Bagaimana bisa dia memilih mengkhianatiku? Apa dia mengetahui semua kebohonganku di balik pemusnahan Kerajaan Marlon? Sejak kapan? Dari mana? Jadi ini alasannya dia datang ke kerajaanku walau sebelumnya ia sudah menolak undanganku? Jadi ini alasannya dia tak segera menjawab lamaranku meski dia telah menerima cincin pemberianku? Karena dia … karena Michaela masih …
Jadi kenapa … waktu itu … di tepi kapal … kau …
Ada banyak hal yang ingin kutanyakan padanya, ada banyak hal yang ingin kulampiaskan pada dirinya. Michaela sudah mengkhianatiku! Dia sudah tak lagi bisa diharapkan. Tak ada gunanya aku mempertahankan dia, karena itu sama saja dengan menyerahkan diri. Sudah jelas dia ingin menjatuhkanku, baik dari kursi kekuasaanku maupun dari dunia ini. Sebelum itu terjadi, aku harus segera menangkapnya, dan bila perlu, memusnahkannya!
Ya, aku pasti akan melakukannya …
… kalau saja dia sama dengan para pengkhianat lainnya …
… di mataku.
"… Yang Mulia, saat ini sebagian pasukan kami sedang mengejar Tuan Putri Michaela," ungkap salah seorang prajurit yang sebelumnya memaparkan tentang pengkhianat yang berkedok sebagai prajurit atau apalah. "Sepertinya mereka sudah lolos dari penjara bawah tanah, tetapi kami janji kami akan—"
"Hentikan." Aku mengulurkan tanganku sebagai isyarat agar para prajurit tutup mulut. Kulanjutkan kalimatku dengan suara pelan, "Hentikan, jangan kejar dia …"
"Te-Tetapi …"
"Kalau sampai aku harus mengatakannya sekali lagi …" ujarku dengan sorot mata yang teramat dingin. "… akhiri hidup kalian di guillotine."
"Ba-baik!" Para prajurit itu langsung tunduk padaku. "Ka-Kami akan segera menarik pasukan!"
Para prajurit itu berlari meninggalkanku, dan koridor pun kembali hening. Kini hanya tinggal aku sendiri, termenung di ambang pintu kamar. Dalam hati, aku mempertanyakan keputusanku, mempertanyakan kegoyahanku. Tidak masalahkah aku membiarkannya kabur? Bukankah itu akan membahayakanku di kemudian hari? Sudah tahu begitu, kenapa aku tidak segera bertindak? Bukannya demi tetap mempertahankan posisiku, aku tidak boleh sampai digoyahkan oleh perasaan yang dapat melemahkanku?
Tetapi perasaan ini …
… sulit kubuang.
Karena itulah, aku bertindak sejauh ini. Karena itulah, aku memilih jalan berbelit untuk melakukan penyerangan terhadap Kerajaan Marlon.
Yang pertama, aku memang ingin menguasai seluruh potensi Kerajaan Marlon.
Tetapi yang paling utama …
Aku ingin melenyapkan Kyle tanpa membuat Michaela membenciku.
Ternyata, memang perasaan ini tak akan bisa dilenyapkan …
Sama seperti …
"Alexiel!"
Suara itu langsung menyentakku kembali ke dunia nyata. Aku menoleh, mendapati seseorang yang berlari ke arahku dengan wajah panik. Wajah yang mirip denganku … tidak, sama persis, bagaikan pantulan diriku di cermin. Yang berbeda adalah jenis kelamin kami, penampilan kami …
… dan status kami.
"Alexiel, apa yang sedang terjadi?" cecar Riliane begitu tiba di hadapanku. "Dan lagi, kamu baik-baik saja? Wajahmu pucat. Akan kubuatkan sesuatu, sementara kamu …"
"Tidak, aku baik-baik saja," potongku dengan suara lemah, dan mengulas senyum hambar. "Tidak apa-apa … ya benar, tidak ada apa-apa …"
"Alexiel …" Entah kenapa, Riliane tampak sedih. "Jujurlah sedikit, Alexiel. Meski kamu tidak mau menceritakan detailnya, tetapi setidaknya katakanlah … kalau kamu tidak baik-baik saja …"
"Riliane, aku benar baik-baik saja!" Aku tersentak mendengar nada bicaraku yang ketus. "Ah, aku …"
Riliane masih tampak kaget, dan aku tak ingin melihatnya. Tatapanku jatuh pada lengan kirinya, lengan mungilnya yang ditutupi oleh lengan seragam maid-nya. Namun di balik itu, aku tahu, ada perban yang terbalut di sana, perban yang membalut lukanya. Dengan hati-hati, aku menyentuh lengan kirinya, dan bertanya dengan nada pelan, "Lenganmu … baik-baik saja?"
"Ah iya, baik-baik saja …" tanggap Riliane pelan sembari melirik lengan kirinya. "Sungguh …"
"Tidak mungkin. Pasti masih sakit, bukan?" sangkalku begitu memperhatikannya sekali lagi. "Lihat, matamu merah. Kau pasti habis menangis gara-gara ini, bukan?"
"Eh? Eh, eh?" Riliane gelagapan, dan segera mengucek matanya dengan tangannya yang satu lagi, memastikan bahwa tak ada air mata yang mengalir. "Tidak, ini … bukan karena sakit. Sungguh …"
Aku tahu, aku tahu itu tidak benar, namun aku sudah kehabisan kata-kata.
Lihat, kau sendiripun …
... tidak jujur padaku.
Padahal aku juga ingin mendengar keluhannya, kegelisahannya. Kami saudara kembar, sudah seharusnya kami saling berbagi. Semenjak kembali ke istana ini, dia hampir tak pernah mengeluhkan apapun, dan kadang membuatku gelisah. Setidaknya untuk luka itu, aku ingin dia mengeluhkan betapa sakitnya luka itu padaku, bahkan lebih baik, menyalahkanku.
Sedari dulu hingga sekarang, aku sudah ditakdirkan gagal.
Aku … tidak pantas disebut sebagai seorang 'Kakak' …
Story of Evil Reverse ~ Ai no Kanashimi ~
Story of Evil © Mothy/Akuno-P
Warnings: OOC, AR
Saya tidak mengambil keuntungan apapun dari fanfiksi ini. Ini hanya diperuntukkan sebagai pelampiasan hobi semata.
.
.
.
Nah, mari biarkan hati Anda membaca.
.
.
.
Stage V
Alexiel Lucifen d'Autriche
Secara nalar, memang Riliane yang salah.
Namun di balik itu, akulah penyebab dirinya melakukan kesalahan.
"Alexiel!"
Di sore itu, setelah aku mengatur segala rencana untuk babak pertamaku, Riliane membuka pintu ruang kerjaku dengan kasar. Hanya aku yang ada di situ, memikirkan kembali seluruh rencanaku untuk babak selanjutnya seraya menunggu kedatangan Ney. Aku berbalik sembari menenangkan diriku yang kaget, dan menatapnya heran.
"Riliane?"
Ada apa dengan dirinya? Tidak biasanya Riliane mendobrak pintu hingga hampir membantingnya seperti itu. Mataku tak lepas dari dirinya yang berjalan perlahan mendekatiku, hingga jarak kami hanya dipisahkan oleh meja kerja yang besar. Dengan napas terengah-engah, Riliane mengangkat wajahnya, menatapku sesaat, sebelum akhirnya membungkuk hormat padaku.
"Tolong … biarkan aku ikut pergi ke Kerajaan Marlon!"
Eh …?
Tunggu dulu, apa aku tidak salah dengar? Apa benar Riliane sungguh-sungguh mengatakan hal itu? Kenapa mendadak sekali? Apa alasannya? Tidak mungkin dia berniat memboikot penyerangan ini, bukan?
Tidak, tidak mungkin …
… karena aku percaya dengan adikku.
"Kenapa?" tanyaku dengan nada heran bercampur kaget. "Kenapa kau ingin pergi ke sana?"
Riliane tersentak. Sekalipun masih dalam posisi membungkuk, dia jelas tampak gugup. "A-Anu …"
Ini pertama kalinya …
Sejak kembali, baru kali inilah dia memohon sesuatu, meminta tolong padaku, mengatakan keinginannya sendiri. Aku sudah lama menantikan hal itu, karena setidaknya dengan begitu, aku tak lagi merasa terlalu bersalah. Seharusnya aku senang, dan dengan seluruh hal yang kumiliki, aku pasti akan mengabulkannya. Namun kali ini tidak. Aku tak akan bisa, dan tak akan ingin. Tidak ada orang yang boleh ikut campur dalam rencanaku, terlebih bila orang itu adalah Riliane.
Mengabulkan permintaannya yang satu ini sama saja dengan bunuh diri …
… baik dia …
… ataupun aku.
"Riliane, apa ada yang salah dengan kepalamu?"
Riliane kembali berdiri tegak seraya bergumam, "Eh?"
"Apa kau tidak mengerti betapa gegabahnya dirimu?" Ternyata aku memang tidak bisa menahan emosiku, terlebih bila sudah menyangkut tindakan di luar rencanaku. "Kau mengharapkan jawaban apa dariku? Sudah jelas aku tak akan mengizinkanmu pergi! Mana mungkin aku menempatkan dirimu dalam bahaya, Riliane!"
Aku memang tidak pantas disebut 'Kakak' …
… tetapi, aku tidak mau dianggap sebagai kakak yang bodoh!
"Te-Tetapi …" Riliane berusaha membantah kata-kataku meski dengan suara terbata-bata. "Aku tahu itu berbahaya, tetapi …"
"Kau mau melawanku, Riliane?"
Ya, bila sudah menyimpang dari prinsipku, tidak ada yang boleh melawanku …
… karena aku selalu tahu apa yang paling benar.
"Tidak …" Riliane mengalihkan pandangannya sembari menjawab lemah. Aku berbalik kembali menghadap jendela, dan diam-diam menghela napas lega. Sepertinya kalimat terakhir yang kulontarkan dengan nada dingin itu berhasil melenyapkan niatnya. Mendengar keinginannya yang satu itu memang langsung membuatku frustrasi. Aku tak akan mungkin membawanya ke sana, sekalipun Riliane cukup mahir bertarung. Ini perang yang penuh risiko, jadi harus dimainkan dengan hati-hati. Ada banyak hal yang harus kupertimbangkan, baik sebelum, saat, dan terutama: setelah perang. Apa Riliane tidak bisa mengerti hal itu?
Tolong … tolonglah …
… jangan membuatku mengulangi kesalahan yang sama.
"Alexiel, sebenarnya apa alasanmu melakukan perang ini?"
Di bayangan diriku yang terpantul di jendela, kulihat diriku tersentak. Kenapa Riliane tiba-tiba menanyakan hal itu? Bagaimana aku menjawabnya? Haruskah kukatakan niatku yang terpendam, niatku yang utama, niatku yang sebenarnya? Tidak, tidak boleh. Apa reaksinya setelah mendengar hal itu? Kalau orang lain sampai tahu, terutama Riliane, sudah pasti aku akan dianggap sebagai raja yang mudah dikendalikan oleh perasaan.
Aku tak sebuta itu …
… karena aku berbeda dengan 'orang itu'!
"Riliane, sebaiknya kau—"
"Alexiel, ada sesuatu yang harus kuselesaikan di sana." Tiba-tiba Riliane angkat bicara. "Aku tak akan mengganggu rencanamu. Aku tak akan memboikot perang ini. Percayalah."
Tentu saja aku percaya. Riliane tidak akan bisa memboikot perang ini. Sudah pasti dia tak akan mampu. Namun keberadaannya di sana sudah pasti akan mengacaukan rencanaku. Bagaimana bisa aku melancarkan penyerangan ini sementara aku tidak ada di tempat karena mencari Riliane? Keselamatan Riliane di atas segalanya. Kalau sampai terjadi sesuatu dengan Riliane, sekalipun yang melakukannya adalah Kerajaan Marlon, bukan tak mungkin aku akan menyalahkan diriku sendiri karena telah melancarkan penyerangan ini …
… dan sama seperti dulu, tidak ada cara untuk memperbaikinya lagi.
"Riliane, semua urusanmu akan lenyap akibat perang," tanggapku datar. "Pikirkan keselamatanmu. Kau tetap tak akan kuizinkan pergi."
Lagi pula, apa urusanmu di sana?
"Tidak bisa, Alexiel. Aku harus melakukannya sendiri," pinta Riliane dengan nada memohon. "Kumohon, biarkan aku pergi ke sana!"
"Tidak akan! Sudah kubilang, kau tak akan kuizinkan pergi!"
"Aku mohon, percayalah padaku!" imbuh Riliane dengan nada yang lebih tinggi. "Aku pasti akan baik-baik saja, Kakak—!"
"Sudah kubilang, jangan panggil aku 'Kakak'!"
Pertengkaran yang baru pertama kali terjadi ini terhenti. Tidak hanya Riliane yang membeku, aku juga. Aku tidak bermaksud mengucapkannya dengan sengaja, tetapi diriku memang sudah terlanjur sensitif dengan panggilan itu. Di situasi lainpun aku sulit meminta maaf, apalagi di saat ini. Aku memang menyesal, namun aku tak bisa serta-merta mengakuinya. Entah karena harga diri yang tinggi, posisi atas, atau apa sajalah. Karena itulah, aku tak bisa berbalik menghadap Riliane, dan hanya dapat menatap bayangan diriku di jendela yang menampakkan raut wajah penyesalan.
"Maaf, Alexiel. Aku telah menyinggung perasaanmu …" ucap Riliane akhirnya dengan suara lemah. "Tetapi, untuk kali yang terakhir, aku …"
Suasana hening sesaat. Aku masih hanya terus menatap bayanganku sendiri, tanpa memperhatikan Riliane. Dan akhirnya, tanpa melanjutkan kalimatnya yang menggantung, Riliane berkata,
"Ini demi dirimu, Alexiel …"
Tanpa menunggu waktu, Riliane berbalik dan berlari secepat kilat. Aku yang terlambat menyadarinya, menoleh dengan cepat demi menghentikannya. Namun, di balik pintu yang akan tertutup, di balik sosoknya yang membelakangi diriku, Riliane menampakkan wajah yang baru pertama kalinya kulihat, hingga membuat kata-kata yang ingin kuucapkan tersangkut kembali ke tenggorokan.
Riliane … menangis?
Pintu pun akhirnya menutup. Terdengar suara langkah cepat yang semakin menjauh, meninggalkanku sendirian di dalam ruangan yang sunyi, di samping jendela tempatku berdiri.
Aku … telah membuatnya menangis?
Apalagi yang telah kulakukan? Dulu aku pernah membuatnya dalam bahaya, dan kini aku telah membuatnya menangis. Tetapi, berbeda dengan yang dulu, aku tidak ingin menyalahkan diriku sendiri. Memangnya tindakanku kali ini salah? Apa salahnya melindungi adikku sendiri dari bahaya? Aku tidak ingin mengulang kesalahan yang sama, tetapi kenapa Riliane memandangnya dengan cara yang berbeda? Sekarang, apalagi yang akan dia lakukan? Jangan-jangan, dia memilih tidak mengacuhkanku …
Sial, kenapa aku diam saja?!
Segera aku menggerakkan kakiku, berlari ke arah pintu dengan langkah lebar. Brak! Aku menarik pintu hingga hampir membantingnya, namun seseorang telah menghadangku hingga aku hampir menabrak tubuhnya.
"Ney!"
"Ya-Yang Mulia!" ujar Ney dengan wajah kaget. "Ada apa? Kenapa Anda buru-buru?"
"Ney, di mana Riliane?" Aku mencengkeram kedua lengannya dan mengguncang-guncang tubuhnya. "Di mana dia? Kau pasti melihatnya, bukan?"
"Ti-Tidak, Yang Mulia," balas Ney di sela-sela guncanganku. "Saya tak melihatnya. Maafkan saya."
"Cih …" Aku melepaskannya dengan sedikit sentakan, kemudian membenturkan punggungku ke daun pintu yang tadi kutarik. Terlambat sudah. Riliane pasti sudah kabur dari istana, sementara aku tidak bisa meninggalkan perang yang sudah susah payah kulaksanakan. Aku tidak boleh gegabah. Aku tak boleh sampai gagal. Aku harus memenangkan perang ini sekaligus bisa menemukan Riliane!
Tetapi, kurasa perhitunganku sudah tepat.
Kalau begitu …
"Ney, perubahan rencana," ujarku sembari kembali memasuki ruang kerjaku. "Bersiaplah. Perubahan rencana untuk babak kedua."
"Eh? Yang Mulia …?" Aku tak mengacuhkan Ney yang terkejut dan mengambil jasku yang kusampirkan ke kursi. "Bukankah kita …"
"Lupakan rencana awal. Kali ini, aku akan bergerak sendiri." Kumasukkan salah satu tanganku ke lengan jas putihku seraya berbalik dan melangkah keluar ruangan. "Kau yang akan menggantikanku."
"Menggantikan Anda?" ulang Ney begitu aku melangkah melewatinya. "Kalau begitu, apa yang akan Anda lakukan?"
Kujawab pertanyaan Ney sesaat setelah mengaitkan kancing terakhir di jasku, tanpa ragu, seakan tidak akan ada yang menghalangiku sekalipun aku bermaksud membahayakan diriku sendiri.
Kali ini, aku tak akan memedulikan apapun …
"Aku akan mencari Riliane!"
Tak akan kuampuni diriku …
… bila aku kembali melakukan kesalahan yang sama.
-Ai no Kanashimi-
Sudah berapa lama aku mencarinya?
Dikelilingi api yang terus berkobar, aku terus melangkahkan kakiku menelusuri hutan. Sesekali kututup hidungku, menahan napasku meski sudah mulai sesak. Mataku terus mencari di antara kepulan asap, di antara pepohonan, di balik kobaran api, namun aku tak menemukannya di manapun, sejauh apapun aku mencari.
Riliane … kau baik-baik saja, bukan?
Sekilas ingatan itu melintas di kepalaku. Ingatanku di hari itu, di hutan Bewilderment, di saat Riliane terperosok, hingga lenyap dari pandanganku.
Tidak, jangan sampai itu terjadi lagi!
Riliane!
Krosak! Aku menembus semak-semak yang belum terbakar, bersiap berlari dengan kecepatan penuh. Namun di saat itulah, seakan waktu berjalan lambat, pandanganku teralih ke samping, ke sosok berambut hijau yang berdiri tak jauh diriku. Sosok yang anggun, sosok yang lembut, sosok yang menjadi alasan aku mengobarkan perang ini.
Michaela!
Apa yang dia lakukan di sana? Kenapa dia bisa terjun ke medan perang, sendirian pula? Padahal aku sudah menyuruh Ney melarangnya datang ke medan perang, namun kenapa dia tidak mengindahkannya? Dan lagi, kenapa dia diam saja di sana, padahal ada banyak bahaya yang mengintai? Kenapa kedua orang yang paling ingin kulindungi lebih memilih membahayakan dirinya sendiri daripada mendengarkanku?
Michaela, jangan-jangan kau …
… mencari dia …
KRAK!
Suara patahan itu begitu mengejutkanku. Mataku membelalak lebar, ketika melihat sebuah pohon besar yang terbakar tumbang. Terlebih, pohon itu akan tumbang menimpa Michaela!
"Michaela, awas!"
Aku tak tahu apa yang mengendalikan diriku. Aku tak tahu kenapa diriku bisa langsung bertindak tanpa berpikir terlebih dahulu. Seakan itu bukan diriku, aku menarik tangan Michaela hingga kami melompat menjauh dari pohon, kemudian kami berdua jatuh di atas tanah dengan posisi diriku memeluknya. Tubuhku terasa sakit, perih, hingga membuat diriku hampir mengerang, kalau saja aku tidak sadar bahwa Michaela ada di dekapanku.
"Michaela, kau baik-baik saja?"
Kurasakan tubuhnya tersentak, namun dia tidak menatapku ataupun menjawab pertanyaanku. Barangkali dia terlalu syok, hingga membutuhkan waktu untuk kembali sadar bahwa dia masih hidup. Kubiarkan diriku terus memeluknya, mencoba menenangkannya, mencoba membuatnya tersadar bahwa lelaki yang menyelamatkannya bukanlah si tikus rendahan itu.
Sedari dulu, aku menginginkan hal ini …
Ya, sudah sejak lama aku bertemu dengannya, menyukainya. Sialnya, Michaela sudah terlanjur mencintai Kyle. Melihat mereka berdua saling berpelukan dan tertawa bersama di hari entah kapan membuat diriku geram. Andai bisa, aku ingin merebut Michaela saat itu juga, bahkan bila perlu, menyingkirkan Kyle saat itu juga. Namun bila aku melakukannya, Michaela sudah pasti akan membenci diriku. Karena itulah, aku menunggu kesempatan ini. Kesempatan di mana Kerajaan Marlon lengah, kesempatan di mana aku dapat menyingkirkan Kyle tanpa ketahuan, kesempatan di mana Michaela akan membenci Kyle dan menyesal karena pernah mencintainya.
Tetapi, aku tidak membuat kesempatan ini untuk membahayakan dirinya!
"Michaela, bukankah Ney sudah bilang padamu untuk tetap di istana? Kenapa kau kemari?!" Entah karena tidak terbiasa atau apalah, aku menghancurkan suasana yang sudah sejak lama kudambakan ini. "Kenapa kau bertindak ceroboh begini?"
Tetapi, Michaela tidak kunjung merespon.
Kenapa? Kenapa kau diam saja? Jawablah aku, Michaela!
Akulah yang ada di sini, bukan dia, bukan dia!
Sampai kapan Michaela akan terus memikirkan tikus itu?
Kenapa bukan aku?
Namun tiba-tiba, Michaela mencengkeram bajuku dan membenamkan kepalanya di dadaku, membuat diriku terkejut sekaligus senang. Baru saja diriku akan melambung, dia menangis keras.
"Huwaa …!"
Saat itulah, aku kembali jatuh.
Bila bukan sedang menangisi Kyle …
… apalagi?
Kenapa Michaela harus menangis? Kenapa dia harus menangisi tikus itu? Apakah Michaela merasa menyesal, merasa berdosa, merasa masih mencintai dirinya? Padahal aku ada di sini, menyelamatkannya, melindunginya, mencintainya. Kenapa Michaela tidak menerima diriku? Kenapa Michaela tidak kunjung melihatku? Kenapa tikus itu lebih berarti dalam hidupnya dibandingkan dengan diriku?
Di puncak kepalanya, aku menutup mataku, melepaskan pelukanku dari dirinya, menahan suara tangisan pilu dari dirinya, menahan air mataku yang ingin mengalir.
Sudah … cukup …
Tanpa sengaja, tangan kananku menyentuh sesuatu yang tergeletak di tanah.
Kotak?
Seberkas cahaya dari benda di kotak itu membuatku tertarik. Perlahan aku mengangkat kotak beludru yang terbuka itu, memastikan isinya. Cincin yang mungil, terbuat dari emas putih, dengan batu biru yang bertakhtakan di atasnya. Ingatanku kembali melayang pada informasi yang pernah diceritakan oleh Riliane. Ya, informasi itu, informasi yang kuanggap tak penting itu, informasi tentang tradisi itu.
Inikah … batu safir?
Mengingat tradisi itu membuatku muak. Siapa lelaki yang berhasil menemukan ini? Siapa gadis yang akan dipinang dengan cincin ini? Apakah ini punya Kyle, si tikus itu? Apakah cincin ini digunakan untuk melamar Michaela? Kalau sampai cincin ini ada, berarti Michaela dan tikus itu …
… berjodoh?
Bohong, kenapa itu bisa terjadi? Kenapa mereka harus ditakdirkan bersama? Kenapa mereka harus saling mencintai? Bila benar begitu, artinya mereka tidak akan terpisahkan, apapun yang terjadi? Meski Kyle sudah mati sekalipun, apakah Michaela akan selalu mencintainya dan tidak akan sudi mencari pengganti dirinya?
Huh … konyol.
Bila Kyle sudah tersingkirkan dari dunia ini, akulah yang akan menggantikannya … tidak, akulah yang akan mengulang semuanya. Kisah cinta antara Michaela dan Kyle akan terhapus, lenyap, seolah tidak pernah ada. Akulah yang berada di posisi Kyle, mengulang kisah cinta itu, menjadi lebih panjang, lebih manis, dan lebih bahagia. Kyle sudah tidak ada … tidak, tepatnya tidak pernah ada, setidaknya dalam diri Michaela, karena ada aku.
Ternyata aku …
… memang tidak akan merelakan apapun.
Kututup kotak itu perlahan, hingga tidak menimbulkan suara apapun. Dengan gerakan halus, tanpa ragu, aku melemparkan kotak itu ke kobaran api yang ada di hadapanku. Kusaksikan kotak itu hangus terbakar, beserta isinya, beserta perasaan sepasang kekasih yang dihubungkan dengan cincin itu, dengan senyum sinis yang kutujukan pada orang yang tak akan pernah kembali ke dunia ini.
Kyle, kau sudah mati.
Kau tidak akan punya kesempatan lagi.
Michaela akan jadi milikku, dan kau akan kukirim ke dunia sana.
Selamat tinggal …
"Michaela, maukah kau mendengarkanku?"
Guncangan dari diri Michaela pun sedikit mereda. Sepertinya dia hampri berhenti menangis, dan menyadari bahwa akulah yang ada di sisinya.
"Aku pasti akan membahagiakanmu …"
Tangisnya kini tak lagi terdengar, namun dia belum juga mengangkat kepala, menatapku, memperhatikanku, ataupun menanggapi kata-kataku. Kupererat pelukanku, mencoba untuk tidak mengindahkannya. Aku yakin Michaela akan mendengarkanku, dan aku yakin aku juga telah mencuri hatinya.
Michaela adalah milikku.
Sekarang, dan selamanya.
"Jadi maukah kau … menghabiskan sisa hidup ini … bersamaku?"
Nah, lenyaplah bersama cincin itu, tikus rendahan.
-Ai no Kanashimi-
Michaela tidak mengatakan apa-apa.
Meski Michaela telah berhenti menangis, meski aku telah menyatakan perasaanku, Michaela tidak segera menjawab. Dikelilingi api yang tengah berkobar, aku terus menunggu jawabannya seraya mendekap dirinya. Detik demi detik yang terlewat itu terasa begitu lama, hanya demi menunggu jawaban Michaela. Pada akhirnya, semuanya tertunda. Melihat Michaela yang terbatuk-batuk karena menghirup asap, aku segera menggendongnya di punggungku dan membawanya keluar dari hutan.
Dan sepanjang perjalanan itu, dia hanya terus membisu.
"Michaela …"
Kamipun tiba di bibir pantai, tempat di mana sebagian kapal-kapal kerajaan kami berlabuh. Kuturunkan dirinya di dekat salah satu kapal milik Kerajaan Elphegort, di mana ada nakhoda dan beberapa prajurit yang berjaga. Melihat Michaela yang hanya terdiam menatap pasir dengan pandangan kosong, akupun tak bisa berkata apa-apa. Aku hanya menatap wajahnya dalam diam, tenggelam dalam keheningan langit malam yang pekat, tenggelam dalam kesesakan yang sulit diucapkan dengan kata-kata.
Michaela …
"Michaela, pulanglah." Dengan setengah hati, kulepaskan sentuhanku pada lengan Michaela seraya membuang muka. "Cepat naik ke kapalmu. Pulang dan beristirahatlah."
Setelah bergeming beberapa saat, Michaela akhirnya menurut. Masih dengan ekspresi yang sama, masih dengan menatap objek yang sama, Michaela akhirnya berbalik, berjalan terseok meniti papan tangga untuk memasuki kapal. Tangan kirinya mencengkeram erat sisi kanan jubahnya, tangan kirinya yang terbungkus oleh sapu tangan, sapu tangan hijau yang serasi dengan gaunnya …
Sapu tangan itu …
Ya, aku mengenalnya. Itu sapu tangan yang pernah dia gunakan untukku tempo hari.
Tunggu, jangan-jangan Michaela …
Ya, ada apa dengan tangannya? Kenapa tangannya dibungkus dengan sapu tangan? Apakah tangannya terluka, atau malah terbakar? Sial, seharusnya aku memeriksa keadaannya! Siapa yang tahu dengan luka-luka yang diderita Michaela sebelum aku menyelamatkannya? Namun, aku hanya dapat termangu, menatapnya yang semakin menjauh, berharap ada seseorang entah siapa yang segera mengobati luka-lukanya.
Untuk hari ini, aku harus melepaskan Michaela …
… dan melanjutkan semua urusan yang tertinggal.
Bagaimana dengan yang di sana …
… Ney?
"A-Anu … Pangeran …" Sayup-sayup suara lembut itu terdengar di telingaku, namun kemudian diikuti dengan jeritan. "Kyaaa!"
Aku yang baru hendak menjauhi kapal, tersentak dan kembali menoleh ke arah Michaela. Astaga, apa yang sedang terjadi? Michaela terjatuh dari tangga! Tanpa sempat berpikir, aku segera menangkap tubuhnya, merengkuh pinggangnya, membiarkan dirinya memegang pundakku, hingga wajah kami menjadi teramat sangat dekat.
Dan tanpa kuduga, wajahku menjadi panas.
Surai rambut hijaunya menutupi wajahku, hingga semua yang ada di sekitarku menjadi gelap. Bola mata aquamarine-nya kini tampak bercahaya, berkilau dalam gelapnya bayangan. Tatapanku terkunci oleh dirinya, terkunci oleh bola matanya yang tampak seperti permata. Mengikuti dirinya, aku hanya dapat melongo, menatap matanya yang juga menatap mataku, hingga nyaris lupa caranya bernapas.
Dan kupikir, waktu telah berhenti.
"Ma … Maaf …!"
Spontan Michaela menjauhkan wajahnya dariku, membuatku mengejapkan mataku berkali-kali, mencoba untuk menyadarkan diri dari mimpi. "Ah …" Dan akhirnya akupun tersadar, bahwa momen yang indah itu hanya berlangsung sesaat, dan akan berlalu begitu saja, seolah tak pernah terjadi apa-apa. Segera kuturunkan dirinya seraya bertanya dan mengalihkan pandangan. "… kau baik-baik saja?"
"Mm …" Michaela yang menundukkan kepala, bergumam tidak jelas, sebelum akhirnya membungkuk dalam-dalam padaku. "Ma-maaf!"
Secepat kilat, Michaela berdiri tegap dan berlari kecil memasuki kapal, meninggalkanku yang termangu tanpa sempat menghentikannya, menanggapi permintaan maafnya, ataupun menanyakan sesuatu sebelum Michaela terjatuh dari atas sana.
Tadi … kau memanggilku, bukan?
Namun apa daya, kapal itu telah kembali berlayar, menjauh dari bibir pantai, meninggalkan debur ombak yang membasahi ujung sepatuku. Kupandangi dirinya yang menghilang di balik badan kapal dengan pasrah, memendam berbagai pertanyaan di dasar hati, berharap semua pertanyaan itu bisa terjawab di esok hari, di esok hari tanpa ada seseorang yang mengganggu hubungan kami.
Semua ini … harus ditunda.
Srak!
Aku tersentak dari lamunanku. Kulirik pohon-pohon yang berjejer jauh di belakangku, merasakan kehadiran seseorang. Begitu orang tersebut muncul, mataku melebar, membuatku segera membalikkan tubuh menghadapnya.
Riliane!
Riliane berjalan gontai dengan pandangan kosong, dengan gaun maid-nya yang kini tampak lusuh. Matanya tak lepas dari hamparan pasir putih yang luas, sama seperti Michaela sebelum kusuruh pulang. Aku berlari ke arahnya dengan perasaan kacau. Aku tahu, aku seharusnya lega karena Riliane masih hidup, dan sepertinya tidak mendapatkan luka yang parah. Namun, aku terlanjur marah, marah atas kebodohan dirinya, marah atas tindakannya yang gegabah, marah atas pembangkangannya terhadap diriku yang ingin melindunginya!
Plak!
Kutampar pipinya tanpa ragu, membuat dirinya sedikit terhuyung. Sekilas di pandanganku, Riliane tampak terkejut, seakan tersadar dari alam bawah sadar yang sedari tadi terus mengikatnya. Namun aku tak menggubrisnya. Sebelum Riliane mencoba mempertahankan posisinya, aku segera menyambar kedua lengannya dan mengguncang-guncang dirinya.
"Riliane, apa yang sudah kau lakukan?!" semburku penuh amarah. "Apa kau sudah gila, Riliane?! Ini medan perang, dan kau tak pernah dilatih untuk terjun di medan perang, bukan?! Apanya yang 'demi kebaikanku'?! Kau membuatku makin frustrasi, Riliane! Memangnya apa yang sudah kau lakukan demi aku?! Melihatmu kabur saja sudah membuatku—"
Tep. Tangan kiri Riliane terulur dan menyentuh bahuku, membuatku tersentak hingga berhenti mengguncang-guncang tubuhnya, berhenti memakinya.
"Ini demi kebaikan Kakak …" gumam Riliane sembari terus menundukkan kepalanya. "Ini demi Kakak … ini demi Kakak … ini demi Kakak …"
Mendengarnya menggumamkan hal itu berulang-ulang membuat rasa penasaranku semakin menjadi. Kuguncangkan tubuhnya sekali lagi. "Riliane!"
"Ini demi Kakak!" Riliane akhirnya menatap mataku, dengan sorot mata yang amat putus asa, seakan sedang mencari pembenaran. Tangan kirinya memukul bahuku pelan, berkali-kali, seraya menjerit histeris, hingga aku hanya dapat tenganga mendengarnya. "Kakak, ini semua demi Kakak, demi Kakak! Kakak, apa aku sudah melakukan hal yang benar? Iya, aku sudah melakukan hal yang benar, bukan? Iya, kan? Iya, kan? Demi Kakak, aku—"
Plak!
Untuk kedua kalinya, aku menampar Riliane.
Menyadari pipi putih mulus Riliane kembali memerah, menyadari ekspresi wajah Riliane yang kembali terkejut, aku kembali tersentak. Tidak, aku tidak sengaja! Aku hanya refleks! Ini di luar kesadaranku! Aku begitu bingung, frustrasi, karena harus menghadapi Riliane yang meracau tanpa arti. Belum lagi amarah yang sulit kukendalikan, hingga membuatku diriku sama dengan Riliane, sama-sama hampir gila. Aku tak ingin melihat apa-apa, aku tak ingin mendengar apa-apa! Aku hanya ingin menghentikannya, menghentikan kegilaan Riliane, tak peduli karena apa. Masa bodoh dengan semua itu! Aku mengobarkan perang ini hanya demi mendapatkan Michaela, bukan mendengarkan dan melihat berbagai adegan melankolis seperti ini!
Kenapa perang ini menyajikan begitu banyak drama?
Sebenarnya, adakah sesuatu yang tak aku ketahui di medan perang ini?
"Cepat pergi ke kapal," ujarku tanpa memandang Riliane. "Cepat pulang dan jangan coba-coba kembali."
Di balik helai rambutku, kulihat kaki Riliane yang mundur perlahan, terseok menjauhiku. Dia mundur satu demi satu langkah, seakan ragu, seakan sedang ketakutan. Kualihkan kembali pandanganku, ke manapun asal bukan ke arah Riliane yang masih bergeming. Pada akhirnya, Riliane berbalik dengan cepat, berlari kecil ke arah kapal, tanpa meninggalkan sepatah katapun, membuat keheningan ini semakin terasa menyiksa.
Dan waktu pun tidak memberiku kesempatan …
… untuk menghapus segala perbuatanku.
Kukepalkan tangan kananku, tangan yang telah berani menampar Riliane, hingga kuku-kukunya menghujam telapak tanganku. Tak ada gunanya lagi aku meminta maaf. Semua sudah terlambat. Terlebih, masalah ini harus dinomor duakan. Perang ini jauh lebih penting, di mana seluruh hidupku dipertaruhkan. Namaku, kekuasaanku, bahkan nyawaku. Perang yang sudah diatur sedemikian rupa ini … tidak akan dapat dimaafkan bila perang ini sampai gagal …
… ataupun terbongkar kebenarannya.
Aku, Pangeran Alexiel, raja yang menguasai Kerajaan Lucifenia, akan terus berada di posisi teratas, di mana tak ada yang bisa melawanku, di mana aku selalu benar.
Dan itu absolut.
Sampai kapanpun, aku akan terus bertahan …
… dan tidak akan hidup seperti 'orang itu'!
Dan tak lama kemudian, terdengar kembali suara langkah dari belakangku, membuatku segera membalikkan badan dengan tenang, sembari membuka sedikit pedangku dari sarungnya dengan satu jari.
Dan aku siap menyambut seseorang yang entah kawan atau lawan itu.
"Oh …"
-Ai no Kanashimi-
Sebagai raja, atau sebagai iblis sekalipun, aku harus tetap memprioritaskan sesuatu.
Hampir setiap hari, setelah perang itu selesai, aku menyempatkan diri untuk menyelinap keluar dari istana dan pergi ke kerajaan tetangga. Memakai pakaian ala rakyat jelata dan tanpa membawa pengawal seorangpun, aku berjalan kaki sendirian demi menemui Michaela. Terkadang aku membawakan sesuatu untuknya, menemaninya mengurusi rakyatnya, tanpa peduli dengan beberapa pekerjaan yang kutunda demi dirinya. Kuhabiskan waktu yang amat sedikit itu bersamanya, bertukar kata dengannya, berusaha membuatnya terhibur.
Tetapi, Michaela belum juga menampakkan senyumnya.
Setidaknya, senyumannya yang tulus.
Aku tak habis pikir. Kenapa Michaela masih tetap memasang wajah murung, padahal kerajaannya sedang dilanda euforia? Aku tidak mendustai perjanjian yang telah disepakati antara Kerajaan Lucifenia dan Kerajaan Elphegort. Kenyataannya, kehancuran Kerajaan Marlon telah perlahan membangkitkan Kerajaan Elphegort, hingga dalam beberapa hari mereka bisa hidup sedikit lebih sejahtera. Setidaknya, Michaela harus menyambut hal itu dengan tersenyum, bukan dengan wajah murung seakan telah membunuh seseorang demi aku.
Sial, masih jugakah Michaela mengingat dirimu …
… Kyle?
Demi membuat si tikus rendahan itu terhapus dari bayang-bayang Michaela, demi menempatkan diriku dalam hati Michaela, aku memprioritaskan dirinya di atas segalanya. Aku selalu memikirkannya, selalu mencari cara untuk menghiburnya, selalu mencari kesempatan untuk kabur, hingga aku melupakan segalanya. Kehadiran dua orang itu, yang bersumpah untuk setia padaku, dua orang yang paling kupercayai dalam hidupku.
Riliane …
Setelah perang itu berakhir, hubungan kami menjadi renggang. Dia tetap menjalankan tugasnya sebagai pelayan pribadiku seperti biasa, namun hubungan kami tidak lagi sehangat dulu. Dia selalu memasang wajah muram, tak lagi tersenyum, bahkan dia segera angkat kaki dari hadapanku begitu selesai menjalankan tugasnya, padahal biasanya dia setia menemaniku tanpa kusuruh. Tanpa kusadari, intensitas pertemuan kami menjadi berkurang, hingga tiba-tiba saja, kami menjadi canggung.
Hanya di saat itulah, meski kecanggungan ini belum hilang, dia tak lagi menampakkan wajah muramnya …
Di saat Michaela melepaskan seorang pemberontak …
… dan kabur dariku.
Sial, bayang-bayang tindakan Michaela yang satu itu tak mau lepas dari kepalaku. Setelah semua yang kulakukan, inikah balasannya? Michaela berinisiatif datang ke kerajaanku, menghabiskan waktu bersama denganku, semua itu hanyalah kedok belaka? Dia datang bukan untuk berterima kasih padaku, atau menyambut perasaanku, tetapi mengkhianatiku?
Benarkah semuanya telah terbongkar?
"Yang Mulia, apa hanya itu yang ingin Anda lakukan?"
Benar, semuanya sudah pasti telah terbongkar. Kebohonganku, cerita masa lalu di balik kemelaratan Kerajaan Elphegort, semuanya. Entah bagaimana Michaela mengetahuinya, tak ada gunanya mencarinya. Kalau dia sudah mengetahuinya, bahkan membawa lari seorang pemberontak yang sangat ingin kujadikan senjata andalan, sudah dapat dipastikan apa yang akan terjadi padaku selanjutnya.
Lalu, apa hanya itu yang ingin aku lakukan?
"Jangan dibahas, Ney," balasku kepada Ney yang berdiri di sampingku. "Aku sudah menyiagakan para pengawal untuk memperketat penjagaan kerajaan ini. Itu sudah cukup."
"Tetapi, Yang Mulia, kita tak tahu persiapan apa yang dilakukan Kerajaan Elphegort untuk menyerang kita." Ney memukul pelan meja kerjaku, berusaha mengalihkan perhatianku yang duduk seraya memeriksa dokumen demi dokumen. "Ini sudah hari kedua semenjak Tuan Putri Michaela kabur bersama pemberontak—"
"Cerewet!"
Srak! Kulemparkan seluruh kertas arsip yang kupegang ke wajah Ney. Kertas-kertas pun berhamburan, melayang jatuh, menampakkan wajah Ney yang sedikit terkejut di salah satu celah kertas-kertas itu. Di celah yang sama, kutatap Ney dengan tajam, menunjukkan wajah tak suka. Aku muak dengan pembahasan ini. Aku muak dengan orang yang mempertanyakan tindakanku untuk mengantisipasi hal yang sudah dapat diduga. Aku muak bila harus mengingatnya kembali!
Sialnya, Ney belum kapok.
"Ini demi Anda."
Mendengar Ney mengatakan hal itu membuatku teringat pada kata-kata Riliane. Kata-kata yang mirip, kata-kata yang diucapkan dari orang yang setia padaku. Meski begitu, bagiku kata-kata Riliane saat itu hanyalah alasan semata. Dia tidak melakukan demi kebaikanku, tetapi demi keinginannya sendiri yang tak kuketahui, dan itu membuat seluruh pikiranku kacau.
Tetapi aku tahu …
… kalau kata-kata yang kudengar sekarang ini tidak bermaksud begitu.
"Yang Mulia, sudah jelas Kerajaan Elphegort ingin menjatuhkan Anda dalam waktu dekat ini. Apakah Anda tak berniat untuk mencegatnya?" Ney berlutut dan memungut kertas-kertas yang berserakan di lantai. "Sematang apapun persiapan Kerajaan Elphegort, mereka tetaplah hanya pemberontak yang belum berpengalaman. Kerajaan Lucifenia jauh lebih kuat. Masih ada waktu untuk menyerang Kerajaan Elphegort sebelum mereka menyerang kita."
"Diam dan keluarlah!" Sembari menyangga dahiku dengan satu tangan, aku mengusirnya. "Kau tak berhak mempertanyakan keputusanku."
"Yang Mulia, tetapi kali ini—"
"Oi, pengawal."
Suaraku yang dingin itu langsung memunculkan sepasang pengawal yang berjaga di sisi pintu ruang kerjaku, yang hari ini diperintahkan untuk menjagaku dari bahaya. Kulirik Ney yang masih berlutut di dekat kakiku, membiarkan dirinya menatapku dengan pandangan tak percaya, sebelum kutatap pengawal-pengawal itu dengan sorot mata yang amat mengintimidasi. "Bawa dia …" Kutunjuk Ney tanpa meliriknya kembali. "… ke penjara."
"Yang Mulia!"
Tanpa memedulikan seruan Ney, kulontarkan sebuah kalimat untuk sepasang pengawal yang tampak ragu dan enggan untuk menuruti perintahku. "Kalian mau membangkang?"
"Yang Mulia, kenapa tiba-tiba Anda memutuskan seperti itu?" Ney berusaha berkelit ketika dia ditarik berdiri dan diseret oleh pengawal. "Yang Mulia!"
"Dinginkan kepalamu di sel pemberontak yang kabur itu." Aku bangkit berdiri dan mendekatkan diriku pada Ney, merebut kertas-kertas yang masih dipegangnya dengan kasar. "Dan ingat, kalau aku selalu benar."
Ney hanya dapat menggeleng seraya berusaha melepaskan diri, namun dirinya tetap tak berdaya tatkala diseret oleh para pengawal keluar dari ruangan. Kudengar Ney berseru sekali lagi, pada diriku yang kini berbalik dan menatap jendela, dan hal itu membuat pupil mataku melebar.
Kata-kata itu …
Sontak aku menoleh, namun Ney telah lenyap dari pandanganku. Kurasakan di sekitarku hening. Sepertinya Ney tak lagi memberontak dan memilih pasrah. Kugertakkan gigi, tenggelam dalam pikiran yang kembali bercampur aduk. Dengan kasar, kulemparkan tumpukan kertas yang kupegang ke atas meja, kemudian melemparkan diri ke kursi hingga punggung kursi itu menabrak jendela di belakangku.
Hanya ini yang ingin kulakukan …
Ingatanku melayang pada pilihan yang dipertanyakan Ney, yang membuat emosiku memuncak hingga memutuskan untuk memenjarakannya.
Kalau ada pilihan, aku ingin mempertahankan kebohongan ini dengan cara damai …
Dan sialnya, Michaela tidak akan mungkin mau berdamai denganku.
Karena perasaanku terhadap Michaela …
… benar-benar tak bisa kubuang.
Selama beberapa saat itu, aku tenggelam dalam perasaanku, mempertanyakan diriku sendiri, memilih satu di antara dua takdir yang risikonya sama-sama tak bisa kuemban.
Mana yang harus kupilih …?
Sayup-sayup terdengar suara gaduh dari luar sana. Dengan lemas, kutolehkan sedikit kepalaku yang menempel pada sandaran kursi ke jendela, memastikan apa yang terjadi. Begitu melihatnya, mataku mengejap, terkejut. Dengan harapan bahwa itu hanyalah ilusi semata, mataku tak dapat lepas dari kerumunan orang yang mengangkat senjata demi memasuki istana.
Detik berikutnya, aku akan menyadari …
… kalau aku terlambat untuk menentukan pilihan.
-Ai no Kanashimi-
Sial, ternyata sudah tiba!
Untuk sesaat, aku hanya berdiri dan terperangah menatap jendela, menyaksikan kerumunan orang yang sebagian berbaju zirah itu berusaha merangsek masuk ke halaman istana. Para prajurit istana tampak berusaha mencegat mereka, namun kekuatan mereka tak berimbang. Suasana semakin gaduh, terutama karena teriakan penuh semangat para pemberontak karena berhasil mendobrak pagar istana.
Sesungguhnya aku tak percaya mereka bisa masuk semudah itu. Ke mana para prajurit istana? Kenapa yang berjaga di depan istana sedikit sekali? Seharusnya tanpa perlu dikomando olehku pun, seluruh prajurit seharusnya sudah muncul untuk melindungiku dan istana ini, menghentikan aksi para pemberontak yang bukan pertama kalinya terjadi itu.
Artinya, mau tak mau …
… aku harus segera turun tangan!
Segera aku berlari meninggalkan ruangan, menyusuri koridor menuju tangga, hendak turun demi mengomando para prajurit. Koridor pun juga terdengar gaduh, kepanikan pasti sudah merajalela. Kekalahan istana dalam serangan pertama para pemberontak pasti sudah menyurutkan mental para prajurit, terlebih karena jumlah pasukan tak berimbang. Sepanjang sejarah, baru kali ini istana Kerajaan Lucifenia terjebak dalam situasi seperti ini. Menghadapi pasukan pemberontak sebesar itu seharusnya bisa diatasi dalam jarak lima meter dari pagar istana. Namun kenapa kali ini tidak?
Dan di saat aku hampir menapaki anak tangga terakhirlah, aku mendapatkan jawabannya.
Ternyata penyebab kepanikan di dalam istana …
… bukanlah karena kehadiran pemberontak itu.
"Oi, apa yang terjadi?"
Lima orang pelayan istana yang sedang memeriksa beberapa prajurit yang berbaring di bawah sana, tampak terkejut menyadari kehadiranku. Para prajurit itu berada di kondisi yang amat kritis. Sedari tadi mereka terus menutup mata seraya meringis, menahan sakit entah di mana yang tak terkira. Sementara keempat pelayan melanjutkan pemeriksaannya terhadap para prajurit, satu pelayan menoleh padaku dengan wajah panik.
"Para prajurit keracunan, Yang Mulia!"
"Apa?!" sentakku. "Keracunan?!"
"Benar, Yang Mulia," lanjut si pelayan. "Hampir semua prajurit keracunan akibat daging yang mereka santap saat makan malam kemarin!"
Hampir … semuanya?
Sial, hanya perlu berdiri di sini pun, aku sudah mengetahui bahwa prajurit yang mampu berperang hanya tersisa sedikit. Kalaupun mereka mampu berperang, mereka tak akan terlalu bisa diandalkan karena kondisi tubuh yang tidak prima. Seluruh prajurit istana menyantap makanan yang sama dalam waktu yang berbeda, namun tetap berdekatan. Dengan kata lain, efek racun itu akan timbul hampir serentak. Kalau mereka tak cepat ditangani, hanya tinggal menunggu waktu sampai istana ini hancur.
"Oi!" seruku kembali. "Mana apoteker kerajaan? Mana penawar racunnya?"
"Menurut apoteker kerajaan, ini racun jenis baru!" tanggap pelayan itu. "Belum ada penawar yang tepat untuk racun ini!"
Sial, ini benar-benar gawat!
Namun, sempat terlintas di pikiranku tentang sesuatu mengenai kondisi genting ini.
Racun itu …
Mungkinkah …
Entah kenapa, aku merasa familier dengan hal itu. Memang baru kali ini mereka bertindak demikian, sehingga ini bisa jadi hanya dugaan yang tak berarti. Namun bila memikirkan kondisi wilayah mereka, juga pemberontakan ini, bukan tak mungkin mereka menemukan cara untuk memanfaatkan racun yang telah mengutuk mereka untuk melemahkan pasukanku.
Ini perbuatan Kerajaan Elphegort!
Ah … aku tak tahu lagi harus memasang wajah seperti apa. Kurasakan sedih dan pilu yang menusuk hatiku, namun di samping itu, aku juga ingin tertawa, meski rasanya hambar.
Ternyata kau tak main-main untuk menjatuhkanku …
… Michaela.
BRAAKK!
"Kyaaaaa!"
Lamunanku buyar seketika. Pekikan di luar sana semakin jelas terdengar, diikuti bunyi dobrakan, membuat seluruh pelayan yang ada di bawah sana menjerit. Sepertinya ada pemberontak yang berhasil memasuki istana, namun untungnya, karena suara itu berasal dari pintu utama, mereka tidak akan langsung menemukanku yang berada jauh dari pintu utama. Meski begitu, bukan berarti kecemasanku berkurang. Sebaliknya, kecemasanku semakin menjadi, karena orang itu tidak bersamaku sekarang.
Riliane!
"Oi!" Sekali lagi aku berseru pada para pelayan. "Mana Rilia—"
Begitu aku menatap mereka, aku merasakan tatapan ganjil yang menusuk dari mata mereka.
Namun bukan berarti, aku tak mengerti apa maksud tatapan itu.
Para pelayan mencuri pandang ke arahku dengan sorot mata ketakutan, hal yang cukup wajar mengingat diriku sering mendapat sorotan itu. Namun aku tahu, mereka tidak sedang takut padaku, melainkan pada para pemberontak itu. Mereka takut dirinya dijadikan korban, entah secara sengaja atau tidak, padahal yang diincar hanyalah aku. Kalau saja aku segera ditangkap, dan kalau saja para pelayan itu berani menyerahkanku secara paksa, mereka pasti akan selamat, dan akan bebas merdeka.
Sial, dasar pengkhianat!
"Oi." Aku langsung menatap mereka balik dengan sorot mata penuh intimidasi. "Apa yang sedang kalian pikirkan?"
Hanya perlu menatap mereka seperti itu, mereka langsung bergidik ketakutan.
"Ti-Tidak ada, Yang Mulia!" jawab mereka serempak seraya kembali fokus pada pekerjaannya masing-masing, mengalihkan pandangan dariku, dan berusaha tetap tunduk di mataku.
Huh, memang sudah seharusnya mereka tunduk padaku …
… sekalipun aku menjadikan mereka sebagai tameng demi diriku.
"Cepat rawat semua prajurit yang keracunan. Jangan main-main." Aku bergegas turun dari tangga dan melewati mereka yang melakukan pekerjaannya dengan teramat fokus. Sebelum melangkah lebih jauh, aku berhenti dan menoleh sedikit ke arah mereka. "Mana Riliane?"
Semua pelayan yang berada di belakangku saling bertatapan, tampak ragu dan bingung, tanpa bisa menghapus rasa ketakutan untuk menjawab.
Jangan-jangan …
"Oi!" Aku menjatuhkan tatapanku pada salah satu pelayan yang paling dekat denganku. "Mana Riliane?"
"Ah, eng … itu …" Pelayan itu tampak gelagapan. "Ka-Ka-Kami tidak melihatnya, Yang Mulia. Ia menghilang saat akan membuat kudapan untuk Anda."
Dan kecemasanku pun akhirnya memuncak.
Riliane!
Tanpa memedulikan para prajurit yang tergeletak, aku melesat menuju dapur istana. Kutelusuri koridor yang berkelok-kelok, mengabaikan kondisi koridor yang semakin ke dalam semakin sepi. Tidak ada siapapun, hanya ada diriku seorang, yang terus melangkah hingga hampir setengah jalan di dalam kesunyian yang mencekam …
… atau setidaknya menurut perkiraanku.
Drap, drap, drap!
Refleks, aku menghentikan langkahku dan langsung merapatkan punggungku ke dinding berwarna kuning keemasan itu. Sudah kuduga pendengaranku tak salah, karena langkah itu masih terus bergema. Dengan hati-hati, kuintip koridor yang ada di sebelah kiriku, menyaksikan bayang-bayang dua orang pemberontak berbaju zirah yang saling bertemu dari dua koridor yang berlawanan.
"Kau menemukannya?"
"Tidak, aku bahkan belum melihat batang hidungnya sekalipun!" Terdengar suara decakan. "Sial, pasti Pangeran Iblis itu telah kabur!"
"Mana mungkin! Prajurit-prajuritnya saja sudah sekarat! Pangeran Iblis itu tak akan bisa kabur sendirian!"
"Kalau begitu, kita harus bagaimana?!"
Hening sesaat, hingga aku dapat mendengar setetes peluh yang jatuh dari daguku. Akhirnya, pemberontak yang ditanya itu menunjuk satu arah. "Coba kita ke sana dulu."
Sial, mereka ke arah sini!
Bagaimana ini? Padahal koridor itu adalah jalan tercepat menuju dapur istana. Apa aku harus bertarung melawan mereka? Tidak, itu adalah pilihan yang sama sekali tak boleh kuambil, sekalipun aku meletakkannya di daftar terakhir. Bodoh sekali menghadapi prajurit bersenjata yang kondisi tubuhnya prima tanpa persiapan apa-apa. Bukan diriku namanya kalau memilih mati konyol.
Apa boleh buat. Untuk sekarang, aku harus memikirkan keselamatan diriku sendiri!
Tanpa suara, aku mengalihkan langkahku menuju koridor yang ada di sebelah kananku, memilih jalan memutar menuju dapur istana. Kepanikan semakin mengacaukan pikiranku, karena ada beberapa cabang koridor lagi yang berpotensi membuatku bertemu pemberontak. Aku harus cepat keluar dari istana ini. Aku harus memikirkan jalan terbaik untuk kabur. Aku harus segera menyelamatkan diri!
Tetapi, kalau tanpa Riliane …
Keberadaan Riliane yang tak kunjung kutemukan membuatku frustrasi. Aku benar-benar dipermainkan. Sial, ke manakah Riliane? Apakah dia ditangkap, atau dijadikan korban senjata? Atau yang lebih parah lagi, Riliane bertindak di luar dugaan dengan menantang mereka? Kalau sampai itu terjadi, bagaimana caranya aku menyelamatkan diri sementara aku harus terjun ke medan perang?!
Kumohon, Riliane …
… jangan bertindak gegabah!
BRAAKK!
"Di ruang kerja dia tak ada!"
"Aku sudah memeriksa aula sekali lagi. Dia benar-benar tidak ada!"
"Sial, istana ini terlalu luas!"
"Jangan mengeluh! Cepat cari lagi!"
Sial, suara dari mana lagi itu? Akh, aku tak bisa lagi memperkirakannya! Aku benar-benar di luar kendali. Aku bahkan tak tahu lagi di mana aku berada. Pikiranku hanya tertuju pada Riliane, keberadaannya, nyawanya!
"Riliane … di mana kau?"
Tidak ada respon, di manapun, meski aku sudah memusatkan seluruh konsentrasiku pada suaranya. Yang terdengar hanyalah sayup-sayup suara pemberontak yang masih terus mencariku. Apakah suara Riliane tenggelam oleh suara-suara itu? Apakah dia juga sedang memanggil namaku? Apakah dia baru saja menjawab 'aku ada di sini'?
Sial, dengarkan aku!
Pertemukan aku dengan Riliane!
"KAU DI MANA, RILIANE?!"
"Di sini."
Kurasakan tanganku digenggam oleh seseorang, hingga membuatku menghentikan langkah. Tubuhku langsung ditarik ke dalam ruangan, tanpa membiarkan diriku merespon sedikitpun.
Blam!
Terdengar bunyi pintu berat yang ditutup. Kukejapkan mataku, terpana menyaksikan tempat aku berada. Kasur mewah berkelambu, lemari antik yang berderet, lampu chandelier dari kristal berwarna kuning keemasan, semua itu tak asing di mataku. Tentulah aku mengenal tempat ini, karena ini adalah ruangan pribadiku, yang tabu dimasuki oleh orang lain selain aku dan dua orang yang setia padaku.
Kamarku …
… atau kamarku dan Riliane waktu kami masih kecil.
Kusadari bahwa punggungku masih menempel di balik pintu kayu berukiran rumit, serta tanganku masih digenggam oleh seseorang. Kulirik dirinya yang berada di sampingku, yang sedang mengalihkan pandangannya dariku, yang sedang menempelkan telinga ke pintu dan menjagaku dengan amat waspada.
Riliane!
"Mereka sudah pergi." Riliane memalingkan wajahnya dari pintu dan menghela napas lega, kemudian berbalik cepat menghadapku dengan wajah khawatir. "Alexiel, aku baru saja akan mencarimu. Kenapa kamu tidak berlindung saja? Semua orang mengincarmu! Dan … oh, apa kamu baik-baik saja? Apa kamu terluka? Kamu tidak sampai bertemu dengan musuh, bukan—"
"Seharusnya itu kata-kataku, Riliane!" potongku tanpa bisa menyembunyikan kesesalan yang berbaur dengan kelegaanku. "Kenapa kau ada di sini? Dan juga—"
BRAK!
Segera aku dan Riliane melirik ke arah pintu dengan tatapan tajam sekaligus cemas.
Masih belum berakhir juga?!
Kegaduhan akibat jeritan dan dobrakan membuat kami membungkam sejenak. Situasi semakin gawat, para pemberontak semakin brutal. Berdiam di sini saja aku sudah tahu. Tak akan ada waktu lagi, tak akan ada ampun lagi!
Sial, kalau kami tak segera kabur …
"T-Tak ada waktu lagi, Alexiel," ucap Riliane dengan nada panik yang berusaha ditekannya. "Kita harus bergegas."
"Ya, memang … tunggu, apa yang kau lakukan?" Aku berusaha mengelak tangan Riliane yang tengah melepaskan jasku. "Dan lagi, bukankah itu pakaianku?"
Kupandangi penampilan Riliane yang sekarang dengan wajah terkejut. Dia tak lagi memakai seragam maid-nya. Sebaliknya, dia memakai kemeja lengan panjang dan celana panjang berwarna putih serta sepatu kulit. Jepit rambut yang biasa menata poninya kini tak lagi tampak, hingga membuat rambut pendeknya yang tergerai sedikit berantakan. Kini dia tak tampak lagi seperti perempuan, melainkan seorang laki-laki, yang berpenampilan sama persis dengan diriku …
... hingga aku merasa di depanku adalah cermin.
"Ya, Alexiel. Maaf aku telah mengambil pakaianmu." Riliane tetap berniat untuk melepaskan jasku sekalipun aku telah mengelak. "Alexiel, kamu tak boleh memakai jas ini. Kamu tak boleh tampak seperti pangeran."
"Apa maksudmu, Riliane …?" Tatapanku terus terarah pada Riliane yang berjalan ke belakangku untuk menarik jas dari badanku. "Lalu kau? Kenapa kau berpakaian seperti aku? Apa kau ingin tampak seperti pangeran?"
"Ya." Riliane segera memasukkan satu per satu lengannya ke dalam jasku. "Aku akan menjadi pangeran—bukan …,"
Aku terperangah memandang Riliane yang mengangkat kepala, dan menyunggingkan senyum yang amat lembut. Senyum itu … senyum dari wajah yang sama denganku, namun senyum itu sama sekali tak mirip denganku.
Itu bukan aku …
"… Aku akan menjadi dirimu."
Mendengar hal itu membuat diriku seketika membeku. Riliane akan menjadi diriku? Maksudnya, dia akan menyamar menjadi aku? Tetapi kalau dia muncul dalam sosok diriku, dia bisa ditangkap! Pemberontak itu pasti tak akan mengulur waktu hanya untuk sekadar memastikannya. Sekali saja dia tertangkap mata, dia bisa langsung digiring ke guillotine saat itu juga!
Tidak …
"Tidak, Riliane …" Aku menggeleng kaku dengan suara tercekat. "Jangan nekat …"
"Tidak apa-apa, Alexiel …" Riliane masih mempertahankan senyum itu. "Percayalah padaku …"
"Tidak …!"
Serta-merta aku memeluk erat dirinya, membenamkan wajahku dalam bahunya, menumpahkan air mataku padanya. "Riliane, kau tak perlu melakukan ini. Kau tak perlu menggantikanku. Ayo kita kabur sama-sama, Riliane …"
Sesaat dia bergeming, sebelum membalas ucapanku. "Tidak, Alexiel …" ucapnya lirih. "Kalau kita kabur sama-sama, kita berdua akan tertangkap—"
"Tetapi kalau kita berpisah, kau bisa ditangkap!" potongku keras kepala. "Memangnya kau ingin ditangkap?!"
Masih dengan suara lirih, Riliane menjawab, "Sebaiknya begitu …"
Di dalam bahunya, aku hanya dapat terhenyak. Aku berharap ini hanyalah omong kosong. Aku berharap aku hanya salah dengar. Kenapa Riliane harus menyerah? Kenapa Riliane harus memilih membahayakan dirinya sendiri? Tidak ada jaminan dia akan selamat, tidak ada! Bila aku saja tak bisa melepaskan diri dari pemberontak, apalagi dia! Sudah pasti … sudah pasti dia …
Riliane ada bukan untuk ini …
Riliane ada bukan untuk ini …!
"Alexiel, kaburlah …" Kedua tangan Riliane menyentuh surai rambutku. "Kaburlah lewat perapian itu … Larilah bersama Innovator …"
"Tidak mau!" sahutku. "Aku tak akan kabur kalau kau tidak ikut kabur!"
"Kumohon, dengarkan aku …"
"Sudah kubilang tidak!" Kembali aku memotong ucapannya. "Bagaimana … bagaimana kalau ini percuma? Bila mereka mengetahui bahwa itu kau, aku pasti akan segera ditangkap …"
Ya, siapa tahu, siapa tahu itu benar-benar terjadi. Identitas Riliane terbongkar saat hendak ditangkap, membuat para pemberontak mengurungkan niatnya untuk menangkap Riliane, kemudian segera mengerjarku dan menangkapku. Percuma saja Riliane menyamar menjadi aku, percuma saja Riliane mengaku-ngaku sebagai diriku, karena pada akhirnya, akulah yang akan dihukum!
Daripada … daripada aku harus melepaskan Riliane …
… lebih baik kalau aku ditangkap!
"Tak perlu khawatir …" Riliane menarik sesuatu dari rambutku dan melepaskan diri dari pelukanku. "Rupa kita sama …"
Aku tak mengindahkan rambutku yang kini jatuh terurai. Yang kulakukan hanyalah terus menganga menatap dirinya, dengan bulir air mata yang terus mengalir.
"Pasti …" Riliane menarik sesuatu dari tiang gantungan yang ada di dekat kami, kemudian menyampirkannya padaku. "… tak akan ada yang bisa membedakan kita."
Kini jubah yang disampirkan Riliane itu telah menyelubungi diriku, menutupi identitasku. Aku tak tampak lagi seperti bangsawan, aku tak tampak lagi seperti penguasa kerajaan ini, aku tak tampak lagi seperti pangeran …
… bahkan, aku tak tampak lagi seperti Alexiel.
Sesaat Riliane terpana menatapku, lalu bergumam, "Memang …" Riliane kembali mengulas senyum. "… kamu benar-benar kembaranku."
Tak tahu harus bereaksi apa, aku hanya dapat mematung.
Sungguh, aku telah kehabisan kata-kata.
"Alexiel, aku akan keluar sekarang. Cepatlah kabur." Riliane mendorongku pelan dan melangkah meninggalkanku seraya menata rambutnya. "Kita tak punya waktu lagi."
Aku yang baru tersadar akibat dorongan Riliane, berbalik menatap punggungnya dengan cepat. "Riliane, tunggu—"
"'Riliane' …" Begitu tiba di depan pintu, Riliane menurunkan kedua tangannya dari rambutnya yang telah diikat, tersenyum seraya melirikku. "Ini adalah kali terakhir namaku disebut."
Aku tak bisa memungkiri bahwa aku terpana melihatnya, melihat penampilan barunya. Dengan ikat rambut yang telah diambil dariku, Riliane benar-benar menjelma menjadi aku. Bila dia muncul dengan penampilan seperti itu, aku yakin seluruh dunia akan tertipu olehnya. Sosoknya yang sekarang tak berbeda dengan diriku, diriku yang memimpin kerajaan ini, diriku yang menjadi majikannya, diriku yang disebut 'Pangeran Iblis'.
Tetapi … sekalipun seluruh dunia menganggapnya sebagai aku …
… dia bukanlah aku!
Begitu pintu telah terbuka, aku segera berlari untuk menggapainya. "Riliane, hentikan—"
Sontak Riliane menoleh padaku, tampak terkejut bukan main. Segera dia menyusup keluar dari celah pintu, kemudian menarik pintu itu dengan cepat hingga menutup.
Blam! Ceklek!
Mataku membelalak.
Dikunci?
"Riliane, buka pintunya!" Aku menggedor-gedor pintu itu sekuat tenaga. "Ternyata bagaimanapun, aku tak bisa menyetujui rencanamu! Aku menolak, Riliane! Hentikan sekarang juga! Kau tak boleh pergi, Riliane!"
Di balik pintu, Riliane mencoba menyela. "Tolong jangan berteriak—"
"Tak akan!" putusku. "Akan kuumumkan ke para pemberontak itu bahwa aku ada di sini! Kau hanyalah orang yang pura-pura menyamar menjadi aku! Kau bukan aku, Riliane! Akulah yang menjadi alasan bahwa pemberontakan ini ada—!"
"Kalau begitu, biarkan aku melindungimu!"
Hening. Tanganku berhenti menggedor. Suaraku pun mendadak lenyap.
"…"
"…"
"…"
"… Aku … sungguh ingin melindungimu …"
Suara lirih dari Riliane itu langsung memecahkan keheningan.
"Bila seluruh dunia menganggapmu sebagai iblis, maka aku pun juga demikian," lanjut Riliane. "Bila kamu disebut 'Pangeran Iblis', maka aku adalah 'Pelayan Iblis' milikmu."
Aku mencoba mengeluarkan kata-kata, namun Riliane telah mendahuluiku.
"... tetapi, aku sama sekali tak menyesal, akan julukan itu, akan hubungan darah ini … karena bagaimanapun …" Kudengarkan ucapan Riliane itu sembari menempelkan dahiku ke pintu, mengepalkan tanganku, mencoba menahan kegelisahanku yang sudah hampir di luar batas. "… kamu adalah orang yang paling menyayangiku dibandingkan siapapun."
Tidak, tolong jangan katakan hal itu padaku. Jangan katakan seakan kau siap berkorban demi aku …!
Jangan katakan apapun. Kumohon, jangan katakan apapun …!
Kembalilah!
"… terima kasih."
Dan aku pun kembali menangis.
Jangan lakukan, Riliane! Jangan lakukan!
Aku tak akan bisa menjadi dirimu!
"Jadilah diriku, Alexiel."
Kumohon, jangan buat aku mengulangi kesalahan yang sama lagi—
Riliane pun kembali berucap, dengan nada suara yang sama, lirih dan lembut, untuk terakhir kalinya, "Sampai jumpa lagi …"
—sebagai seorang kakak!
"…Kakak."
Dan aku langsung tersentak mendengarnya.
"Kakak!"
Sesaat kemudian, terdengar suara langkah yang pelan namun pasti, menjauh dari pintu kamarku. Setetes air mataku kembali mengalir, membasahi pipiku yang sudah basah. Aku tak mampu lagi mencegahnya, mencegah Riliane bertindak nekat. Satu kata itu, satu kata terakhirnya, telah melumpuhkan diriku, membuatku terus menunduk, meratapi nasib yang memisahkan kami, sebagai sepasang anak kembar ini.
Setelah ini … setelah ini …
… aku tak akan pernah lagi dipanggil 'Kakak' …
Siapapun, selama apapun aku hidup …
… aku … tak akan pernah mendengar panggilan itu darimu lagi.
"Tertangkap kau, Pangeran Iblis!"
Di luar sana, terdengar teriakan seorang perempuan yang menggelegar. Suara yang diucapkan dengan lantang itu membuat aku dapat mengenalinya. Ah … pasti wanita itu, wanita dari suku berambut merah, satu-satunya orang dari Suku Beelzenia yang kuampuni dan kubiarkan hidup demi diriku sendiri.
Kalau saja … kalau saja aku tahu akan jadi begini …
… seharusnya aku tak berbaik hati padanya.
Masih terdengar wanita itu mengucapkan beberapa patah kalimat, membentakki targetnya yang sebenarnya bukan diriku, namun aku tak bisa berdiam diri hanya untuk mendengarkannya. Tidak ada jaminan aku akan aman di kamarku yang telah dikunci ini. Maka, dengan berat hati, kulepaskan tanganku dari pintu, berbalik, dan melangkah ke satu-satunya jalan di mana aku bisa kabur, demi bisa menyelamatkan diriku sendiri, dan menyamar …
… sebagai Riliane …
"Tunggu …"
Suara lembut itu menghentikanku, menyentakkanku. Aku mengenali suara itu, sangat, dan akan selalu kuingat. Bukan, ini bukan suara milik Riliane, melainkan suara dia. Dia yang ingin kumiliki, dia yang kuhasut, dia yang mengkhianatiku, dia yang ingin menjatuhkanku, dia yang tak bisa kubenci …
Dan dia pun mengucapkan sepatah kalimat yang kupikir tak akan pernah diucapkan oleh siapapun.
Kalimat itu …
Michaela …
Sungguh, apa kau benar-benar mengenalku …?
-Ai no Kanashimi-
Masih adakah waktu untukku …?
Begitu pintu perapian telah dibuka, aku segera memasukinya seraya membungkukkan sedikit tubuhku. Bergegas kuturuni satu per satu anak tangga yang berkelok-kelok, tanpa mengandalkan cahaya sedikitpun. Tanpa membutuhkan waktu lama, aku tiba di depan sebuah pintu, membuka sepasang daunnya, dan menjejakkan kaki ke sudut istal yang remang dan penuh tumpukan jerami.
Di istal yang luas dan didominasi warna kuning keemasan itu terasa hening. Kuda-kuda yang berdiam di istal ini hanya meringkik pelan, sesekali diselingi dengan memakan jerami mereka yang hampir habis. Kulihat Innovator, kuda kebanggaanku, yang tampak berdiri gagah di kandangnya yang dekat dengan pintu masuk, jauh dari posisiku yang ada di dekat dinding di seberang pintu masuk. Segera aku berlari menghampirinya, menaikinya, dan langsung memacunya keluar melalui pintu masuk yang terbuka, menuju hutan yang berada di sisi timur lingkungan istana.
Kenapa … kenapa aku harus lari …?
Kususuri hutan yang minim cahaya bersama Innovator, membiasakan diri terhadap guncangan hebat yang baru pertama kali kualami. Aku tak pernah memacu kuda secepat ini, sekalipun aku sudah terbiasa menunggangi kuda. Dan aku selalu menunggangi kuda dengan tenang, sesuai prinsip berkuda, namun kali ini pikiranku begitu berkecamuk sehingga beberapa kali aku hampir kehilangan kendali.
Padahal kata-kata Michaela tidak salah ... tidak, sangat tepat!
Kalau begitu, berarti semuanya berubah, bukan?
Semua ini akan menjadi sia-sia, bukan?
Jadi, seharusnya aku sekarang—
Kutolehkan kepalaku ke belakang, memastikan ada yang mengikutiku. Tidak ada yang mencurigakan, bahkan tak terdengar semak yang bergoyang. Bila situasinya lain, seharusnya ini adalah keuntungan terbesar untuk buronan sepertiku, namun kali ini tidak. Tidak, aku sama sekali tak merasa lega. Aku berharap sebaliknya, berharap ada yang mengejarku, tak peduli itu siapa, asal aku bisa—
Duk!
Tiba-tiba Innovator tersandung, dan langsung meringkik keras. Aku menjerit kaget saat menyadari tubuhku terjatuh ke tanah, membuat tubuhku seketika penuh luka dan lecet. Ringkikan Innovator semakin menjadi, diikuti suara derapan yang semakin lama terdengar semakin lemah, meninggalkan diriku yang masih berbaring terkelungkup di dekat akar pohon tempat dia tersandung.
Ukh, sial!
Saking parahnya kondisiku, aku tak mampu memanggil Innovator untuk kembali. Aku hanya dapat meringis, menahan perih yang tak terkira dari luka-lukaku. Padahal aku tidak sedang bertarung, padahal aku tidak terkena sayatan pedang, namun berapa kalipun aku mencoba untuk bangkit, aku selalu terjatuh kembali.
Apa yang kulakukan …?
Sial, ini terlalu tiba-tiba! Kenapa nasibku bisa langsung seburuk ini? Benarkah sekarang aku berstatus sebagai pelarian dan bukannya sebagai raja? Benarkah tidak ada lagi yang mendukungku dan tunduk padaku? Benarkah aku tak akan memiliki siapa-siapa lagi yang dapat kugerakan dengan sesuka hatiku? Benarkah tak ada lagi? Benarkah? Bahkan seekor kuda pun juga memilih meninggalkanku!
Duk! Tangan kananku yang terkepal memukul tanah hingga memerah.
Apa yang kulakukan …?
Sepertinya, air mataku kembali menetes.
Bukankah sudah ada satu orang yang menyadarinya …?
Terlebih itu Michaela, yang berperan besar dalam pemberontakan ini.
Kalau begitu, kenapa aku harus lari …?
Kenapa …?
Bila Michaela membuktikan kata-katanya itu, sudah pasti semuanya akan terbongkar. Semuanya sudah tak akan berjalan sesuai keinginan Riliane, melainkan sesuai keinginanku sendiri. Bila benar begitu, untuk apa aku lari? Bukankah begitu mengetahui hal itu, para pemberontak itu akan sigap mencariku kembali?
Dan aku bersedia menunggu di sini.
Tetapi kenapa …?
… kenapa mereka belum datang juga?
Padahal aku sudah memilih tidak akan lari …
Padahal aku sudah bersedia …
… dan bukan bertindak cari aman seperti yang biasa kulakukan.
Kenapa hutan ini masih saja sunyi?
Kenapa aku masih sendirian di sini?
Aku tak berharap ada yang menolongku, aku berharap ada yang menyeretku!
Tak peduli dengan takdir buruk yang pasti akan kuterima, aku tetap tidak akan lari!
Asalkan, itu bisa ditukarkan dengan yang sepadan …
Apakah aku harus menyerahkan diri?
Pikiran itu melintas di benakku, membuatku tersentak hingga air mataku berhenti mengalir. Ya, bila dipikir-pikir, itu adalah jalan yang paling cepat. Terlalu lama untuk menunggu mereka yang mencoba menemukanku, apalagi kalau mereka tidak mencari di hutan ini. Terlebih, tidak ada kepastian bahwa semuanya tidak akan berjalan sesuai keinginan Riliane. Semua itu hanya asumsiku sendiri, dan aku harus melihat dengan mata kepalaku sendiri bahwa semuanya telah berubah.
Mengabaikan tubuhku yang terasa remuk oleh kuda sialan itu, aku menumpukan kedua tanganku, bangkit berdiri dengan tenaga yang tersisa. Kemudian tanpa membuang waktu, aku berlari sekencang-kencangnya. Tak kupedulikan apa yang terjadi padaku, meski harus menerobos semak-semak yang tajam, meski harus tersandung berkali-kali, asalkan bisa keluar hutan, aku tak peduli.
Masa bodoh dengan dunia ini!
Ambisi-ambisi yang dulu ingin kupenuhi kini kubuang semua. Keinginan demi keinginan yang dulu ingin kuwujudkan kini kucampakkan semua. Aku tak peduli, aku tak peduli lagi dengan semua itu! Sekarang keinginanku hanya satu, keinginan yang rela kupertaruhkan dengan nyawaku, harapan yang membuatku tak menyesal untuk mati …!
"Kamu … bukan Pangeran Alexiel …"
Teringang kata-kata Michaela saat insiden penangkapan beberapa saat lalu, membuatku semakin mempercepat lariku, menyusuri jalan keluar dari hutan ini, dengan wajah yang kembali berurai air mata.
"UWAAAAAAA!"
Kumohon, Michaela!
Bebaskan Riliane dan bunuhlah aku!
Kini aku telah bebas dari hutan, menelusuri jalan di dekat pusat kota Kerajaan Lucifenia. Kulewati deretan rumah yang agak kumuh, menampaki jalanan yang terbuat dari batu. Jalanan begitu lengang, sepi, seakan tak ada penghuni. Sekalipun para rakyat turun ke pasar yang ada di bawah daerah ini untuk mencari penghasilan, tidak mungkin tempat ini menjadi sesepi sekarang.
Tetapi, apa yang perlu dipikirkan dari kondisi ini? Abaikan!
Karena yang perlu dipikirkan hanyalah Riliane.
Riliane, dan hanya Riliane!
Meski para pemberontak tidak ingin mengotori tangan mereka dan menyuruhku bunuh diri, aku tak keberatan …!
Asalkan—
Langkahku melambat begitu aku melewati jembatan penyeberangan yang juga terbuat dari batu, menatap kerumunan yang ada di bawah sana, hingga membuatku langsung membeku.
Terlambat …
"Penggal dia! Cepat penggal!"
"Hukum orang busuk ini!"
"Anakku mati kelaparan gara-gara dia! Cepat penggal!"
"Dasar pangeran biadab! Jangan pernah hidup di dunia ini lagi!"
"Pangeran Iblis tidak pantas diampuni!"
Teriakan demi teriakan yang semulanya meletup, kini meledak dan bergema di udara. Para rakyat yang berkerumun di bawah sana berebut melempar suara. Mereka mendongakkan kepala, menyorotkan tatapan amarah kepada seseorang yang berdiri di atas panggung kayu, di belakang gapura pemancung, dengan tangan terikat dan penampilan lusuh seakan habis dihajar. Seorang lelaki yang berpakaian layaknya pangeran, berambut kuning cerah yang diikat ke belakang, yang menyerupai dan mengakui sebagai seseorang yang dibenci dan dilaknat oleh seluruh dunia.
Sang Pangeran Iblis …
… palsu.
Dengan dorongan kasar oleh salah seorang pemberontak, dia melangkah ke depan, memasukkan kepalanya ke lubang guillotine tanpa paksaan. Ditatapnya para rakyat yang balik menatapnya nyalang dengan wajah datar, tanpa ekspresi, seakan hatinya telah mati. Emosi rakyat tak kunjung berhenti bergemuruh. Sahut-menyahut terus terdengar, seakan tak ingin mengakhiri pelampiasan ini. Mereka menyisihkan banyak tenaga untuk mencaci-maki sang terhukum, sekaligus menyimpan sedikit tenaga untuk menggemakan tawa, tawa penuh kegembiraan, di akhir pemancungan berdarah ini …
… tanpa memedulikan sebuah kebenaran.
Kebenaran yang akan membuahkan dosa besar bila mereka mengetahuinya.
Ah … kenapa para rakyat di bawah sana begitu bodoh?
Padahal yang berdiri di sana bukanlah sang Pangeran Iblis …
Dia bukan pangeran … Dia bukanlah sang penguasa … Bahkan, dia bukanlah seorang lelaki …
Karena dia hanyalah …
… seorang pelayan.
Michaela, kenapa kau tetap menghukumnya?
Dengan air mata yang belum berakhir, mulutku megap-megap, berusaha mengumpulkan tenaga, berusaha mengeluarkan keberanian.
Dia bukan aku, kau tahu?
Michaela, yang berdiri di samping kanan Riliane, terus bergeming sambil sesekali memandang ke arahnya …
… tanpa menyadari kehadiranku sama sekali.
Dia bukan aku …
Dia bukan aku!
DIA BUKAN AKU!
"Rili—"
"Eksekusi akan dilaksanakan!"
Kembali seluruh rakyat berseru, melambungkan kebahagiaan, mengabaikan dia yang masih membisu ataupun aku yang kembali terdiam.
Ke mana suaraku?
Sial, katakan, katakan, katakan! Katakan kalau aku ada di sini! Katakan kalau akulah orang yang mereka incar, bukan dia! Katakan kalau akulah yang asli, bukan dia! Aku yang seharusnya berada di sana! Bukan dia, bukan dia!
Riliane, aku tak ingin menjadi kakak yang bodoh!
Aku … tak akan pernah mau kehilangan dirimu!
"Ada pesan terakhir untuk dunia ini, bocah?"
Detik eksekusi pun kini dapat dihitung dengan jari, euforia rakyat semakin menjadi. Aku tak punya cukup waktu lagi. Aku harus bergegas. Segera kukumpulkan keberanian yang tersisa, untuk menyingkap jubah ini, dan membongkar semua tipu muslihat ini.
Karena itu, Michaela—tidak, seluruh rakyat yang ada di bawah sana …
… juga kau, Riliane …
Lihatlah—
"Ah … hujan."
Sekilas ingatan masa lalu yang datang tanpa diminta itu menyentakku, menahan tanganku agar aku tak membuka tudung ini. Setetes air hujan jatuh membasahi pipiku, berbaur dengan air mataku yang belum mengering. Namun, aku tak bisa menyekanya. Tanganku mendadak kaku. Aku hanya dapat terus membatu, ditelan oleh waktu, hingga kembali kehilangan suara …
… ketika kedua atensi kami bertemu.
"Kakak, hujannya semakin deras."
"Hm? Biarkan saja," gumamku dengan mata terpejam, menarik selimut lebih ke atas untuk menahan hawa dingin yang menusuk. "Ayo tidur. Dari tadi kau belum tidur, ya?"
"Aku tak bisa tidur. Terlalu dingin …" Riliane kecil yang berbaring di sebelahku masih terus menatap jendela yang kini dibasahi jarum-jarum air. Matanya tak kunjung terpejam, sekalipun lampu kamar telah lama dimatikan. "Dan … terlalu berisik."
"Hmm …" Masih mencoba tidur, aku bergumam tak jelas."Kau tak akan merasa berisik bila kau segera tidur …"
Riliane akhirnya bergeming, tidak kembali menginterupsi sedikitpun terhadap suara hujan yang mengisi kamar mewah ini. Aku tak lagi mengacuhkannya, dan kembali mencoba tidur tanpa memimpikan hal yang aneh-aneh.
"Aku … benci hujan …"
Entah kenapa, hanya dengan ucapan lirih itu sukses membukakan mataku. Kutolehkan kepala dan mendapati Riliane yang masih menatap jendela, hingga yang dapat kulihat hanya helai-helai rambutnya saja.
"Kenapa …?"
"Karena … suaranya sama sekali tidak merdu." Riliane menggerakkan kepalanya, menatap langit-langit tempat tidur yang menaungi kami. "… Berbeda sekali dengan lagu pengantar tidur yang selalu kita dengar dulu."
Mendadak, kurasakan letupan emosi di hatiku, hingga membuatku tersentak. Segera aku meredam emosiku sebelum ketahuan Riliane, kemudian memiringkan kepalaku ke arah yang berlawanan dengannya. "Suara benda mati dan benda hidup jelas berbeda," ujarku. "Ayo tidur."
"Tetapi, kalau tanpa itu, aku sulit tidur." Suara Riliane sedikit meninggi, tanda kalau dia mulai merajuk. Ditarik-tariknya lengan kanan bajuku, tak membiarkan aku mengabaikannya dengan mencoba membuat mataku tetap terpejam. "Eh, eh, Kakak. Bagaimana kalau Kakak saja yang menyanyikan lagu pengantar tidur itu?"
Mataku spontan kembali terbuka, dan kepalaku langsung menoleh lagi ke arahnya. "Hah?"
"Ayolah, Kakak … sekali saja," pinta Riliane dengan nada sedikit memaksa. "Aku belum pernah mendengar Kakak bernyanyi."
Aku menghela napas pelan, merasa tak berdaya. Sadar bahwa aku akan terus diganggu bila tak memenuhi keinginan anehnya ini, aku segera menarik napas, kemudian mulai melantunkan nada-nada panjang dan cepat dari mulutku.
"Lu … Li … La … Lulilala …"
Kuulangi terus lantunan itu dengan mata terpejam, tanpa mencuri pandang sedikitpun ke arah Riliane yang entah terkesima atau tidak. Kurasakan sesuatu yang ganjil, namun aku tak mengindahkannya dan terus melatunkan nada demi nada yang berbaur dengan suara hujan. Lirik yang sama, nada yang sama, tempo yang sama. Orang yang dulu sering menyanyikan lagu ini pasti sama sekali tidak kreatif.
Dia benar-benar payah, sangat sangat payah.
Aku ingin membencinya dari lubuk hatiku yang terdalam.
"Puh … sudah, Kak. Hentikan." Riliane tampak jelas berusaha menahan tawa. "Suara Kakak … uhum, 'terlalu bagus'."
Sekalipun aku masih berumur sebelas tahun, aku bisa langsung mengerti makna tersiratnya itu tanpa berpikir dua kali, hingga membuatku mengarahkan tatapan tajam ke arahnya. "Kau menyindirku?"
Riliane tersenyum simpul. "Tidak juga."
"Bohong."
"Sedikit." Riliane menampakkan cengirannya yang sangat jarang dia tunjukan. Malam ini dia benar-benar aneh. "Tetapi, ini jauh lebih baik."
Aku mengenyit. "Eh …?"
"Sekarang aku sangat mengantuk." Riliane mengejap-ngejapkan matanya, berusaha melanjutkan obrolan ini sekalipun alam bawah sadar tengah mencoba menariknya. "Kurasa aku akan bisa tidur nyenyak."
Kuulaskan segaris senyum, sebelum memutuskan untuk menggapai kembali rasa kantuk yang sempat menderaku. "Kalau begitu, tidurlah."
"Eh, Kakak …" Sesaat sebelum mataku terpejam, Riliane menatapku dan meninggalkan sepatah kalimat, "Mulai besok, Kakak nyanyikan lagu pengantar tidur untukku lagi, ya."
Sayangnya aku telah meninggalkan Riliane, menenggelamkan diri ke alam bawah sadar yang gelap dan menenangkan. Aku tertidur tanpa bisa menanggapinya—tidak, aku memang tidak berniat menanggapinya. Meski begitu, bukan berarti aku akan mengabaikan permintaan kecilnya. Aku berjanji, aku akan menyanyikannya kembali esok hari, lusa, juga seterusnya, meski sebenarnya aku tak menyukai lagu itu. Tidak ada salahnya menyenangkan Riliane sesekali, sebagai imbalan atas kerelaannya terhadap tuntutan egoisku dan sifat ketusku.
Namun aku hanya sempat melakukannya di malam itu …
… karena esoknya, Riliane telah menghilang.
— — — — —
"Aku datang untukmu …"
Tes!
— — — — —
Teng …!
Lonceng menara berdentang satu kali, menyadarkanku dari nostalgia masa kecil yang sedari dulu terkunci di sudut memoriku.
"Bocah, waktumu sudah habis. Jadi, apa yang ingin kau katakan?"
Teng …!
Dentang kedua. Waktu yang tersisa hanya tinggal satu ketukan lagi. Kedua sudut bibir Riliane terangkat, menyunggingkan senyum tulus yang tidak ada duanya, untuk terakhir kalinya …
… hanya padaku.
Kemudian, Riliane menurunkan kepalanya, memandang para pencacinya, dan lonceng pun berdentang untuk ketiga kalinya.
Teng …!
Sembari mengucapkan kalimat terakhir untuk dunia, dia kembali menyunggingkan senyum, namun kali ini berbeda. Dia melemparkan senyum licik dan amat culas …
Senyum khas diriku.
"Tutup mulut kalian, dasar rakyat rendahan!"
ZRAAASSSTTT!
Dan kepala Riliane pun terpenggal.
…
"…"
"HOREEEE!"
Terdengar sorakan gembira yang begitu hebat, bergemuruh. Para rakyat yang ada di bawah sana tak henti-hentinya mengumandangkan tawa, melampiaskan kebahagiaan mereka yang fana. Tidak ada satu orang pun yang memilih mengalihkan perhatian mereka ke belakang, ke arahku yang begitu membeku, hingga seakan aku tak memiliki raga untuk melampiaskan emosi. Napasku tercekat, mataku membelalak. Tak henti-hentinya aku menatap ke gapura pemancung yang kini berlumuran darah, meninggalkan seonggok mayat yang kini akan dibuang tanpa kepala.
Seakan langit juga tertipu matanya, jarum-jarum air yang tak terhitung pun turun, menghujamkannya sebagai bentuk pelampiasan, agar tubuh itu cepat membusuk.
"Uh …"
Kembali air mataku turun, setetes dua-tetes, bercampur dengan tetesan hujan yang membasahi pipiku. Kutundukkan kepala, mempertemukan kening dengan lipatan tangan yang bertumpu di pagar jembatan. Kuabaikan euforia yang tak kunjung mereda, menenggelamkan diri dalam rasa bersalah yang akan terus menjerat, juga kesedihan yang tak akan pernah berakhir.
"Kakak, ayo kita bermain lagi!"
"Jadilah diriku, Alexiel."
"UWAAAAAAAA!"
Dengan akal sehat yang hampir di ambang batas, aku berlari meninggalkan tempat itu. Tak kuhiraukan tubuhku yang basah kuyup, tak kuacuhkan ke mana aku berlari. Hujan pun meredam seluruh teriakanku, tangisanku, juga suara langkahku. Kubiarkan diriku lenyap ditelan oleh gelapnya dunia, meninggalkan namaku yang akan selalu diingat dan dimaki oleh seluruh dunia.
Riliane, Riliane, maafkan aku, maafkan aku!
Aku tak dapat menghentikan semua ini.
Maafkan aku karena telah menjadi kakak yang bodoh, Riliane.
Maafkan aku karena telah kembali mengulang kesalahan yang sama.
Maafkan aku karena telah berlari dan membuang semuanya, Riliane …
… dan membiarkanmu mati tanpa ada yang mengingat dirimu.
Maaf, maaf, maaf, maaf …
… maafkan … aku …
Dan akhirnya, aku, sang Pangeran Iblis, akan benar-benar lenyap ditelan kegelapan …
… dan meninggalkan jejak suara deburan ombak.
— — — — —
[Tak ada lagi yang tersisa dari seorang 'Pangeran Iblis'.
Juga, tak ada lagi yang tersisa dari seorang 'Alexiel'
Alexiel, identitasmu telah lenyap, hanyut dibawa oleh aliran hujan.
Janganlah lagi kau mengingat dirimu yang dulu, Alexiel …
… karena sekarang, kau adalah—]
— — — — —
Riliane, benarkah kau akan meninggalkanku sendiri?
Benarkah kau tak akan bersamaku lagi?
Kau tak akan pernah meninggalkan dunia ini, bukan? Kau pasti akan memerhatikanku dari suatu tempat, bukan?
Karena itu, biarkan aku pergi ke sana.
Tunjukanlah jalannya, agar aku bisa kembali bertemu denganmu lagi …
… 'Rin'.
— — — — —
"Sampai jumpa lagi … Kakak."
.
.
.
.
.
Owari da.
Mengingat ending-nya seperti di cerita aslinya, bisa dibilang cerita ini semi-canon, ya. Ending yang tragis, yang entah kenapa saya menyukainya. Saya memang bukan penggemar happy ending, jadi saya membuat ceritanya seperti ini.
Setelah ini, cerita ini akan diambil alih kembali oleh sang narator. Bisakah Anda menebak siapakah dirinya? Mari kita langsung saja.
Jangan lupa tinggalkan sepotong review, ya.
Alexiel ~ Prince of Evil
Back to Stage 0
...
...
[...]
