Disclamer : Aoyama Gosho-sensei

Strawberry pie chapter 7

Aku duduk di sebuah ruangan bernuansa Eropa, kurasakan beludru yang menempel di kursi yang kududuki begitu, lembut. Tapi itu tidak bisa menenangkan hatiku yang saat ini sedang gugup-ralat-gugup tingkat tinggi.

Kualihkan perhatianku kesekeliling ruangan mataku terpaku pada sebuah lukisan pemandangan sebuah puri yang sepertinya sangat familiar denganku,dan hei! Itukan rumah Saguru. Tapi wajar sih, lukisan itu berada disini. Toh ruangan ini adalah kantornya

flashback

"Bolehkah aku, magang dikantormu?"

"Nani? Can you repeat again?" kupasang wajah cemberutku. Aku tahu diamendengar pertanyaanku dengan jelas. Dia hanya ingin menggodaku saja.

"Baiklah. Aku tidak akan bercanda lagi" katanya setelah melihat wajah cemberutku.

Tiba-tiba Saguru berbelok kekiri-padahal rumahnya belok kekanan- di persimpangan.

"Hei! Mau kemana?" kataku panik

"Mau magang kan?"

"Iya"

"Ya sudah"

"Maksudmu?" pertanyaanku terjawab saat Saguru memarkirkan mobilnya di sebuah gedung di -ku lihat sebuah papan jalan- Manor street.

Aku turun keluar dan memperhatikan sekeliling. Pemandangan kota London yang ramai. Pemandangan yang kontras sekali dengan puri tempat tinggalku itu.

Orang-orang berlalu lalang dijalanan dan terlihat sangat sibuk sampai tidak memperhatikan yang lainnya lagi.

Flashback off

yah, akhirnya begitulah setelah tes tertulis dan wawancara, aku menunggu di ruanggan ini. Menunggu lulus tidaknya aku huh! Ribet amat sih!

Cklek!

Tiba-tiba pintu terbuka. Seseorang masuk, dengan rambut merah yang sudah familiar bagiku.

"Scarlet?" tanyaku ragu. Ia mendongak dan tampaklah wajah khas sahabatku itu.

"Shiho?"

"Kamu kerja disini juga?" tanya kami berbarengan kemudian tertawa karenanya.

Kemudian, tanpa permisi lagi, seseorang -yang sepertinya karyawati disini- masuk dan berkata, bahwa kami dipanggil oleh Saguru-tentu saja ia memanggilnya dengan sebutan 'bos'-

dan kamipun diantar keruangan Saguru.

"Aduh gimana nih Shiho gimana kalau kita gak diterima. Eh enggak kamu pasti diterima kamu kan pacarnya. Pasti aku enggak" cerocos gadis berambut merah itu.

"Hei! Dia bukan pacarku!" pipiku sedikit merona mendengarnya.

Dan kamipun masuk keruangan itu. Dan disana sudah ada Saguru, duduk dengan senyum menyebalkannya itu.

"Silakan duduk" katanya sok formal. "Baiklah," ujarnya lagi.

"Awalnya aku cukup bingung karna nilai kalian sama, tapi yang kami butuhkan hanya seorang."

Aku mulai sedikit gugup. Gimana kalau aku tidak diterima?

"Tapi kalian tentunya harus berterima kasih dengan sekretarisku tadi" ia melanjutkan "Dia mengajukan surat pengunduran diri-dia mau pendah, katanya- jadi aku memutuskan menerima kalian semua."

tak bisa kusembunyikan senyumku.

"Terima kasih, Saguru"

"Ya ya aku memang baik"

hah? Gak salah tuh.

"Kau" ia menunjuk Scarlet "bisa pulang sekarang dan mulai bekerja besok"

"Baiklah" dan ia pun keluar dari ruangan ini.

'Bagaimana denganku?' Tanyaku dalam hati

"Shiho, kau jadi sekretaris pribadiku sekarang"

"Haaah? Tunggu-tunggu Saguru, aku hanya magang disini. Kau tidak, ah! Aku tidak bisa jadi sekretaris pribadimu sedangkan pegawaimu banyak dan mungkin lebih berpengalaman dibanding aku"

"Tidak tidak" selanya. "kau hanya perlu mendampingiku saat aku pergi mengusut kasus, ok?"

aku diam tak mengiyakan maupun membantah.

"Baiklah, sudah malam, ayo pulang"

=o=o=o=o=o=o=o=o=o=o=o

Besoknya, dengan setelan blazer hitam, kemeja putih dan rok mini hitam-aku tidak suka memakai stoking. Karna itu aku membiarkan kakiku polos tanpa penutup-. Aku pergi bersama Saguru untuk mengusut sebuah kasus pusat kota London. Tepatnya disebuah rumah mewah seorang presdir perusahaan ternama.

Setelah beberapa kali memencet bel, pintupun dibuka.

"Selamat siang, tuan dan nyonya. Silakan masuk" jawab seorang pengurus rumah saat melihat kedatangan kami. "Tuan telah menunggu." sambungnya.

Kamipun masuk kedalam sebuah ruangan besar dengan perapian -yang tentu saja tidak dinyalakan karena saat ini sedang musim semi- ruangan yang dimodifikasi dengan gaya klasikmodern ini terlihat sangat nyaman.

Disisi kiri ruangan, tepatnya diatas perapian, terpajang lukisan foto keluarga ini. Disebrangnya terlihat jendela besar yang didesain sehingga tampak menawan dengan tirai victoria. Didepan jendela itulah, duduk-yang kutebak sedagai- tuan rumah ini. Ia berperawakan tinggi tegap-walaupun sepertinya usianya sudah lanjut- berpotongan orang London asli dengan rambut pirang dan mata biru.

"Selamat datang, tuan, dan nona. Selamat datang dirumahku, Phantomblack manor. Nama saya John Black. Silakan duduk." sapanya ramah.

'Nama yang aneh, dan ganjil' gumamku dalam hati.

Kamipun lalu duduk, pelayan tadi datang sambil membawa 2 cangkir kopi hitam, beserta gula balok yang disediakan terpisah. Serta secangkir teh beraroma mawar -kurasa itu rosetea yang langka saat ini-

"Jadi tuan, apa masalah anda saat ini"

"Yah.." ia menghela napas panjang sambil melirik kearah para pelayannya, mengisaratkan agar mereka keluar. Dan tanpa diperintah dua kali, mereka sudah tidak ada diruang tamu ini lagi.

"Sebenarnya" lanjutnya "Aku merasa, ada yang mengincar nyawaku"

hening sesaat sebelum ia melanjutkannya lagi

"Hari ini, aku akan membuat surat wasiat. Aku mohon kalian ikut melihatnya. Dan saat ini kalian bebas memata-matai ataupun mencurigai keluargaku". "Karna, mereka bukan anak kandungku" sambungnya lirih.

"Baiklah, akan kuceritakan dulu alasan mengapa aku mencurigai mereka semua.

Anak pertamaku, bernama Peter, dia anak kandungku, dari pernikahanku dengan istri pertamaku, Karin.

Tapi, ia meninggal beberapa tahun,tidak! Kira-kira tiga tahun yang lalu. Kemungkinan ia dibunuh, karna saat autopsi, dokter menyatakan kalau dia terkena arsenikum. Dan kemungkinan bunuh diri amatlah kecil, karena dia sudah bertunangan dan sebentar lagi akan menikah"

Suasana menjadi hening. Itulah mengapa saat sebuah ketukan memecah keheningan, semua tersentak kaget

"Tuan, pengacara tuan datang"

"Bawa dia masuk" titahnya

dan beberapa saat kemudian masuklah seorang pria yang kira-kira seumur Saguru, matanya hitan berkilau, dengan aksen yang agak aneh.

"Perkenalkan, ini pengacaraku David Keith" katanya.

"David?" tanyaku hampir seperti sebuah seruan.

Ia menatapku sebentar,

"Shiho? Ngapain disini? Nggak kuliah?"

"Enggak" jawabku singkat. Memang, aku sering bertemu dengannya saat aku ke rumah Scarlet tapi bukan dengan jas hitam serta kemeja putih dan dasi hitam yang membuatnya tampak seperti seorang eksekutif muda itu.

"Kalian sudah saling kenal?" tanya Saguru sedikit heran.

"Yah, dia kakaknya Scarlet"

dia hanya ber-oh saja.

"Baiklah, kita akan mulai saja."

David menyiapkan laptop hitamnya. Dan mengetikkan apa yang dikatan oleh tuan John.

"Baiklah, harta warisanku akan kubagikan sebesar 30% kepada anak pertamaku, Edward. 20% untuk anak keduaku, Esther. Dan 10% untuk anak ketigaku, Eric. 5% untuk pengacaraku, David. Dan 5% untuk detektif yang kuundang untuk menjadi saksi surat wasiat ini, Saguru Hakuba"

"Tunggu, tuan. Anda tidak benar-benar, maksud kami, kami tidak pantas menerimanya" potong Hakuba.

"Tidak, tidak. Surat wasiat ini sudah jelas. Dan sisa dari semua hartaku kusumbangkan ke badan sosial"

"Semuanya?" tanya David untuk meyakinkannya.

"Ya, semua sisanya"

"Baiklah," dan diapun mem-print out wasiat yang diketiknya.

"Silakan tuan tanda tangan disini."

"Dan anda juga, please" katanya pada Hakuba.

=o=o=o=o=o=o=o=o=o=o=o

Suasana ruangan ini begitu sunyi. Hanya terdengar dentingan piring dan sendok beradu. Dan juga, detak satu-satunya jam besar diruangan ini.

Saat ini, kami sedang duduk untuk menikmati makan malam di mansion Black, ketika sebuah teriakan lantang memecah kesunyian malam.

"Kyaaaaa!"

sekejap saja, semua segera bertindak. Saguru, langsung mengeluarkan dan bersiaga, sedangkan orang-orang yang ikut makan malam dengan kami, Esther dan Edward, juga terkesiap dan langsung terlonjak dari tempat .

Kamipun berlari menuju asal suara.

Prang!

Terdengar suara kaca pecah. Dan benda yang kira-kira pelakunya sekarang melayang kearahku.

"Shiho!"

To Be Continued

Uyeeeeeee Alfa bangkit setelah berbulan-bulan hiatussssss gak update2 malah publish fic gaje *tereak2 gaje*

tapi akhirnyaaaaaa Alfa bisa update fic ini.

Kalo pada mau marah sama Alfa karna telat update, sana bunuh aja guru2 Alfa yg udah ngasih Alfa ulangan bejibunnnn*tepar*digorok guru2 Alfa*

bwt Kiara : Kiara-chan sujud2*digaplok* maafin Alfa yaaaaa telat hiks

cepet tapiiii *udah tw kn alesannya*

sampe2 Kiara-chan baca ngulang2 chapter Alfa bener2 mnta maap *puppy eyes*

bwt yg nunggu we are, sabar yaaaa Alfa lagi nunggu ide dulu*gaploked*

thanx bwt yg udh nge. Review ataupun yang jd silent reader

akhir kata

reviewreviewreview :)