AFTER
.
Cast : Jung Yunho (29 tahun)
Jung (Kim) Jaejoong (27 tahun)
Jung (Shim) Changmin (3 tahun)
Other cast : Yihan (28 tahun), Park Yoochun (26 tahun), Kim Junsu (25 tahun), Son Dongwoon (23 tahun), Jessica Jung (23 tahun), Mr. Jung (52 tahun)
Pairing : YUNJAE
Note : cerita ini asli milik saya sendiri, cerita pasarqn, alur lambat, typo(s)bertebaran, bahasa tak baku dan tak sesuai dengan EYD
.
.
.
Ja, tanoshimi ni oyomi kudasai ^^
.
.
DOUZO
.
::
Chap 6
::
.
Sudah seminggu Jaejoong bekerja di Cojjee resto, dan semua berjalan baik. Semua pegawai Cojjee resto menerimanya dengan baik. Semuanya membantu Jaejoong yang memang juga sangat ramah pada semua pegawai disana. Tak heran kalau pegawai Cojjee resto semuanya sangat menerima kehadiran Jaejoong. Semuanya sangat suka dengan keramahan dan kecantikan Jaejoong. Jaejoong sendiri juga sangat senang, karna dirinya ternyata diterima disini. Walaupun ia adalah pegawai baru, tapi semua memperlakukannya sama.
Bukan hanya pegawainya saja yang menerima Jaejoong dengan baik, bahkan Dongwoon manager Cojjee resto pun menerimanya dengan sangat baik. Manager yang katanya sangat dingin pada semua pegawainya, malah sangat baik dan ramah pada Jaejoong. Selain karna Jaejoong adalah sahabat dari 'hyung'nya, melainkan juga karna Dongwoon merasa nyaman bila berbincang dengan Jaejoong. Seperti sekarang misalnya, Dongwoon malah meminta saran dari Jaejoong.
"Jae hyung, apa aku boleh bertanya sesuatu?" tanya Dongwoon sambil memainkan bolpoint ditangannya. Sekarang Jaejoong sedang istirahat, dan ia diminta Dongwoon untuk keruangannya.
"Ne Dongwoon-ssi, kau mau bertanya apa?"
"Aiss, panggil aku Dongwoon saja, lagipula umurku lebih kecil darimu hyung."
"Ah ne, baiklah Dongwoon-ah, kau mau tanya apa hmm?" ulang Jaejoong sambil tersenyum.
"Hyung, apa benar aku kelihatan sangat dingin di depan semua pegawai? Sebegitunyakah aku sampai mereka menganggapku sangat dingin?"
"Anio. Kau malah sangat ramah dan baik pada semuanya." jawab Jaejoong tetap tersenyum, "Tapi mungkin Dongwoon-ah, karna kau jarang mengobrol dengan mereka jadi mereka menganggapmu begitu. Selama yang kulihat, kau hanya akrab dengan Hyuna dan Hyunseung, sedangkan dengan pegawai lain kau jarang sekali berinteraksi."
"Ya, mereka sahabatku dari kecil, jadi aku sangat dekat dengan mereka."
"Ne arraseo, tapi menurutku Dongwoon-ah, kau sebaiknya lebih mengenal mereka. Kau harus bisa meluangkan waktu mendengar keluhan mereka saat bekerja, karna dengan begitu kau jadi lebih mengenal pegawaimu."
"Aku sudah mencobanya hyung, tapi hasilnya malah sama. Mereka semua malah segan dan bahkan menghindariku saat kami berpapasan. Mereka sepertinya enggan untuk menceritakan permasalahan mereka kepadaku."
"Kalau begitu, kenapa tidak kau saja yang memulainya? Kurasa, tak ada salahnya memulai duluan." Jaejoong tersenyum sebelum melanjutkan kalimatnya, "Dengarkan aku Dongwoon-ah, anggaplah semua pegawaimu sebagai temanmu. Mungkin itu akan sedikit membantumu. Dan lagi, mulailah perlahan jangan terburu-buru."
Dongwoon terdiam mencerna kata-kata Jaejoong. Yah, nampaknya tak ada salahnya kalau dirinya yang bertanya duluan.
"Ya, kau benar hyung. Tak ada salahnya aku yang memulai."
"Ne mulailah dengan tersenyum pada mereka, karena yang kulihat, hampir setiap hari aku tak pernah melihatmu tersenyum pada mereka."
"Ne hyung, gomawo."
"Cheonma."
Mereka tersenyum bersama, "Ah ya, kata Yihan hyung, hyung ini sahabatnya ne?"
"Ne, kami bersahabat sejak kuliah. Apa ia mengatakannya padamu?"
"Ne. Apapun itu, ia semua bercerita padaku. Karna aku dan ia sudah seperti saudara." sahut Dongwoon sambil tersenyum. "Ah ya, kata Yihan hyung, hyung ini sudah menikah eoh?"
Deg
Jaejoong sedikit terusik dengan pertanyaan Dongwoon itu. Ia belum ingin membagi cerita hidupnya dengan orang lain, yah setidaknya tidak untuk sekarang.
"N..ne, aku sudah menikah."
"Apa hyung sudah punya anak?"
"Ne sudah. Usianya baru 3tahun."
"Jinja? Waa, aku sangat menyukai anak-anak. Kapan-kapan kau ajak dia kemari ne." pinta Dongwoon.
"Ne, aku juga ingin sekali mengajaknya kemari, bertemu dengan kalian semua. Ia pasti sangat senang."
"Besok hyung libur kan? Bagaimana kalau mengajaknya jalan-jalan kemari?"
"Ah, ide bagus. Baiklah aku akan membawanya kemari besok, sekalian aku ingin mengajaknya jalan-jalan." Jaejoong tersenyum sendiri mendengar permintaan Dongwoon, ternyata masih ada yang perduli dengan dirinya, "Jaa, waktu istirahat sudah hampir habis Dongwoon-ah, sebaiknya aku beregas kembali ne."
"Ah ya, terlalu asik mengobrol denganmu membuatku lupa waktu. Ternyata benar kata Yihan hyung, kalau kau itu orang yang menyenangkan. Ne hyung, hati-hatilah bekerja. Jaa,"
Jaejoong tersenyum lalu berdiri hendak pergi, sebelum suara Dongwoon kembali terdengar, "Hyung, bersemangatlah!"
Jaejoong tersentuh dengan perhatian Dongwoon, "Ne. Kau juga ne," jawab Jaejoong sebelum meninggalkan ruangan Dongwoon.
.
::
AFTER
::
.
Yunho tengah merenung memikirkan kejadian semalam, tangannya dilipatnya didepan wajah, matanya menatap lurus kedepan. Keihatan sekali ia tengah berfikir serius. Kejadian semalam sedikit mempengaruhinya.
Pengakuan Jessica semalam sedikit membuatnya terkejut, tapi dilain sisi ia juga merasa senang. Karna ternyata Jessica tak membenci Jaejoong seperti dugaannya. Banyak pikiran berkecambuk di kepalanya, ia sangat ingin membawa kembali Jaejoong dan Changmin kesisinya, tapi mengingat sifat eommanya Yunho tak yakin ia akan bahagia kalau itu terjadi. Mengingat Changmin, hati Yunho sedikit bergetar. Betapa ia sangat merindukan anaknya itu. Ia sangat rindu dengan suara, tingkah laku juga hobi makan Changmin yang sangat liar itu.
"Minie, bogoshipo. Jeongmal bogoshipo Minie." desah Yunho. Ditangkupkanhya wajahnya pada telapak tangannya, mengusir kerinduan itu agar tak nampak oleh orang lain.
"Hyung, Yunho hyung." suara husky Yoochun membuat Yunho mendongakkan kepalanya. "Waeyo hyung, kau kelihatan tak sehat? Wajahmu sangat murung hyung."
"Ani Chunie, aku hanya tak enak badan."
Yoochun sangat mengerti tentang hyungnya itu, ia tak mudah saja percaya dengan perkataan hyungnya. "Hyung, mian kalau aku bicara lancang sebelumnya. Selama ini mungkin kau bisa menyembunyikan perasaanmu yang sebenarnya dari semua orang, namun perlu kau ingat hyung, kau tak bisa membohongiku. Kau tahukan, kita sudah berteman dari kecil, aku sangat tahu sifatmu. Jadi, katakan padaku hyung, apa yang membuatmu kelihatan menyedihkan seperti itu?"
Yunho sadar ia tak bisa mengelabui sepupu sekaligus sahabatnya itu, ia hanya menghela nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan Yoochun.
"Ne, aku memang tak pernah bisa membohongimu Chunie." jeda sejenak, "Kau tahu, kemarin Sooyeon bicara terus terang tentang perasaannya padaku."
"Perasaan apa hyung? Aku tak mengerti." potong Yoochun dan langsung mendapat tatapan maut dari Yunho.
"Jangan menyela ucapanku babo! Kau tahu Chunie, ternyata Sooyeon tak benar-benar membenci Jaejoong seperti dugaanku. Dia hanya kesal pada Jaejoong, karna ia menganggap aku lebih memperhatikan Jaejoong daripada dirinya. Ia merasa Jaejoong sudah merebut perhatianku, sehingga aku melupakannya."
"Jadi maksud hyung, Sooyeon sebenarnya tak sepenuhnya membenci Jaejoong hyung? Ia hanya kesal karna kau lebih perhatian pada istrimu? Wahaha, apa yang ada diotaknya!" Yoochun malah tertawa menanggapi perkataan Yunho.
"Ya! Kenapa kau malah tertawa? " dengus Yunho kesal melihat sepupunya malah tertawa.
"Ani hyung, hanya lucu saja." jawab Yoochun berusaha menghentikan tawanya, "Bagaimana mungkin dongsaengmu itu cemburu sendiri dengan istri oppanya?"
"Ya! Jangan salahkan dia. Kau tahukan selama ini aku dan Sooyeon hidup bersama. Dia sangat bergantung kepadaku. Jadi aku tak bisa menyalahkannya jika ia berpikiran begitu."
"Hemm, ne hyung. Mian, aku tak sensitif dengan semua itu."
"Gwencana."
"Lalu hyung, hanya itu saja yang membuatmu murung begitu?" cecar Yoochun.
"Yah! Park Yoochun, kau rupanya tak bisa dibohongi eoh! Ne, memang tak itu saja." jawab Yunho sambil menyandar pada sandaran kursinya.
"Mwo? Apa kau merindukan keluargamu?"
"Ne, aku sangat merindukan mereka. Aku sangat ingin membawa mereka kembali kesisiku, tapi tak mungkin, mengingat sifat eommaku." Yunho menatap murung pada Yoochun. "Aku tak tahu apa yang akan eomma lakukan kalau aku membawanya kembali ke rumah."
"Ne hyung arraseo. Lalu, sekarang apa hyung tahu dimana keberadaan mereka? Sejujurnya, aku juga sangat merindukan si evil Changmin. Aku juga merindukan masakan Jaejoong hyung." Yoochun tersenyum memandang Yunho.
"Ani. Sampai sekarang aku tak tahu dimana keberadaan mereka."
"Sabar saja hyung, aku akan membantu hyung mencari mereka."
Yunho melirik sekilas Yoochun, ada sesuatu yang ingin diceritakan, namun masih ia masih ragu. "Em, Chunie, sebenarnya-"
"Annyeong sajangnim, Yoochun sajangnim dipanggil keruangannya. Ada tamu yang ingin berbicara denganmu sajangnim." Siwon datang dan menyela ucapan Yunho.
"Ah, nuguya?"
"Lee sajangnim, ia ingin membicarakan soal perjanjian yang kemarin."
"Ah, baiklah. Suruh dia menunggu sebentar, aku akan segera kesana."
"Baik sajangnim." pamit Siwon lalu bergegas kembali keruangannya.
"Jaa hyung, aku harus pergi dulu. Nanti kita lanjutkan lagi." Yoochun bergegas kembali keruangannya, meninggalkan Yunho yang terlihat menghela nafas panjang berulang-ulang.
.
::
AFTER
::
.
Hari semakin sore, Jaejoong yang sudah menyelesaikan tugasnya bersiap-siap untuk pulang. Tak lupa sebelumnya ia berpamitan pada Hyunseung.
"Hati-hati Jae-ah, annyeong."
Jaejoong bergegas pulang, namun langkahnya terhenti karna seseorang memanggilnya.
"Ne, ah hyung, kau rupanya. Wae hyung?"
"Ani. Apa kau mau pulang?"
"Ne hyung. Shift ku sudah berakhir."
"Ah, kebetulan aku juga akan pulang. Bagaimana kalau aku mengantarmu?"
"Ani, tak usah repot hyung."
"Gwencana, aku juga ingin tahu rumahmu, dan lagi aku igin bertemu anakmu Jae. Bolehkah?"
"Wah, kalau kau mau bertemu Minie, kau harus membelikannya hadian hyung. Haha, baiklah."
"Kajja."
Mereka pun berjalan meninggalkan Cojjee resto. Selama diperjalanan, mereka tak henti-hentinya bercerita tentang apa saja. Waktu sehari bagi mereka tak akan pernah cukup. Sebelum sampai rumah, Yihan membelokkan mobilnya ke salah satu supermarket. Ia ingin membelikan anak Jaejoong beberapa oleh-oleh. Padahal tadi Jaejoong hanya bercanda saat mengatakannya, tapi rupanya Yihan sangat ingin agar anak Jaejoong bisa menerimanya.
"Hyung, aku hanya bercanda tadi kenapa kau malah serius membelikan Changmin makanan." kata Jaejoong saat berjalan keluar dari supermarket.
"Ani, aku hanya ingin memberinya oleh-oleh. Ya, anggap saja sebagai salan perkenalan."
"Baiklah."
Mereka kembali berjalan, samapi suara lantang seseorang menghentikan mereka.
"Jae hyunggg!"
"Ya, Park Yoochun. Waa," Jaejoong segera histeris begitu dilihatnya siapa yang memanggilnya dengan lantang. Ternyata itu Yoochun. Yoochun segera memeluk Jaejoong dengan erat sampai-sampai Jaejoong sesak dibuatnya.
"Yah yah, Chunie. Aku sesak." kata Jaejoong ngos-ngosan.
"Waa, mian hyung, mian. Aku begitu senang melihatmu disini." Yoochun segera melepas pelukannya.
"Ne gwencana. Ah, apa yang kau lakukan disini Chunie?"
"Aku tadi akan membeli keperluan rumahku hyung, eomma menyuruhku membeli beberapa bahan masakan. Hah, dia memang menyusahkanku saja. Kenapa tak membeli sendiri saja!" dengus Yoochun yang kesal karna disuruh-suruh eommanya.
"Aiss, kau itu. Bantulah eommamu. Lagipula kasihan ia kalau kau menyuruhnya membeli sendiri."
"Ne ne, ah kau sendiri sedang apa hyung? Dan geu saram nuguya?" tanya Yoochun sambil menunjuk Yihan yang berada di belakang Jaejoong.
"Omo. Mian hyung, aku melupakanmu. Aiss, Jaejoong pabo." Jaejoong lalu berjalan menuju Yihan, "Kenalkan, ini Yihan. Sahabatku sewaktu kuliah, dia juga atasanku di tempat kerja."
"Jadi hyung sudah bekerja?" tanya Yoochun memotong ucapan Jaejoong, tanpa memandang Yihan. Rupanya ia tak suka jika Jae hyungnya itu dekat-dekat dengan namja lain.
"Ne Chunie, aku sudah bekerja. Dan hyung, ini Park Yoochun."
Yihan perlahan menyodorkan tangannya kearah Yoochun sambil tersenyum, Yoochun hanya menanggapinya sambil lalu tanpa menoleh kearah Yihan, lalu buru-buru mengobrol lagi dengan Jaejoong.
"Ya hyung, sekarang kau tinggal dimana? Aku merindukan masakanmu, dan juga uri evil Changmin."
"Ya, masih saja kau menyebut anakku evil. Kalau Changmin evil lalu aku apa? Ratu iblis?" jawab Jaejoong ketus sambil tersenyum.
"Haha, ani hyung, tapi aku benar-benar sangat merindukan kalian. Hmm, apa kalian tinggal di dekat sini? Eodiya?"
"Mian Chunie, bukannya aku tak mau memberi tahumu, tapi aku takut kau akan membocorkannya pada-"
"Yunho hyung?" sela Yoochun cepat. "Aiss, hyung. Bagaimanapun Yunho hyung adalah appa dari keponakanku, sudah sewajarnya ia tau dimana anaknya berada. Kau tahu hyung, betapa frustasinya Yunho hyung saat kalian tak disampingnya? Aku saja yang hanya sekedar paman yang tak ada hubungan langsung dengan kalian, begitu merindukan kalian. Apalagi Yunho hyung." jelas Yoohun panjang lebar. Sebenarnya ia hanya ingin agar Jaejoong tahu, bahwa Yunho sebenarnya masih sangat mencintai dan menyayangi mereka.
"Mian Chunie, aku masih belum bisa memberi tahu kalian. Kau tahu sendiri kan, bagaimana sifat eomma Yunho itu?"
Kali ini Yoochun tak mampu menjawab lagi, ia tahu kalau sampai Mrs. Jung tahu keberadaannya dan Changmin, bisa dipastikan mereka tak akan hidup tenang.
"Ah hyung, arraseo. Aku mengerti kenapa kau tak mau memberi tahu kami. Jaa, kalau begitu kau bisa memberi tahu ku tempat kau bekerja? Ya paling tidak, jika aku rindu padamu, aku bisa datang ke tempatmu."
"Ne tentu saja. Aku bekerja di Cojjee resto, aku salah satu chef disana."
"Jinja hyung? Waa, kau memang pantas menjadi chef. Masakanmu sungguh luar biasa."
"Ne, restoran itu milik Yihan hyung ini." jawab Jaejoong sambil tersenyum pada Yihan. "Ah, mian Chunie. Nampaknya ini sudah sore, Changmin pasti sedang mencariku sekarang."
"Ah ne hyung. Titip salam ku padanya ne, katakan aku sangat merindukannya." Yoochun tersenyum dan setelahnya berpamitan pada Jaejoong.
"Ne, aku akan menyampaikannya. Jaa Chunie."
"Jaa."
Merekapun berpisah disana. Yihan dan Jaejoong bergegas pulang. Ia tahu Changmin akan menagis kalau sampai sore begini dirinya belum pulang. Disisa perjalanan, menuju rumah Jaejoong, Yihan lebih banyak bertanya tentang anak Jaejoong. Ya setidaknya ia ingin agar nantinya ia bisa mengobrol banyak dengan Changmin.
"Didepan sana belok kanan, diujung jalan itu tempat tinggalku."
Yihan membelokkan mobilnya diarah yang ditunjukkan Jaejoong. Tepat diujung sana, ia memberhentikan mobilnya. Merekapun turun dan segera masuk dan naik lift menuju lantai 5.
"Minie, eomma pulang." Jaejoong segera menyapa Changmin saat dirinya tiba didepan pintu. Sambil melepas sepatu dan memakai sandal rumah Jaejoong mengajak Yihan untuk masuk.
Changmin yang tadinya tengah menonton kartun favoritnya di tv seketika berlari menyambut eommanya. Sementara Junsu tengah sibuk menyelesaikan pekerjaannya, ia tak mendengar jika hyungnya itu sudah datang.
"Eommaaaaaa."
"Annyeong Minie, anak eomma sudah mandi eoh?"
"Cudah eomma. Minie cudah man-, aa, ajucci ini ciapa eomma?" Changmin sedikit heran melihat ada orang asing dirumahnya.
"Ah, ini namanya Yihan ahjussi. Dia teman eomma. Ayo Minie kenalan dulu dengan ahjussi."
Changmin sedikit membungkuk sebelum memperkenalkan dirinya, "Annyeonghaceo Jung Changmin imnida." katanya sambil tersenyum menampakkan deret gigi susunya.
"Annyeonghaseo, Jin Yihan imnida. Minie panggil Yihan jussi saja ne." kata Yihan sambil tersenyum balik pada Changmin. "Dan ini, jussi bawakan oleh-oleh buat Minie. Ini ambil."
Mata Changmin seketika membulat melihat hadiah yang dibawa Yihan, langsung saja ia menyambar kantung belanjaan itu dan mengucapkan terimakasih pada Yihan, "Gomawo jucci." ucapnya tanpa melepaskan senyumnya.
"Anak tampan." puji Yihan sambil mengelus rambut tebal Changmin.
"Ne, Minie memang tampan. Cangat tampan malahan. Tapi jucci juga tampan, tapi macih tampan appa Minie." jawabnya sambil menggembungkan pipinya.
"Minie tidak sopan, mian hyung dia memang suka bercanda."
"Haha, gwencana Jae."
"Nah, Minie sekarang masuk ne, Suie jumma dimana?"
"Di dalam eomma, lagi cibuk. Jaa eomma, dan gomawo jucci." Changmin segera berlari masuk kedalam dan siap membongkar hadiahnya.
"Jaa hyung, silakan masuk. Anggap saja rumah sendiri."
"Ne."
Belum sempat Yihan duduk suara keras Junsu mengagerkan mereka. "Ya! Jung Changmin, jangan makan disini!"
"Su-ie, wae? Kenapa berteriak?" Jaejoong segera menghampiri kamar Junsu yang penghuninya berteriak keras.
"Lihat hyung, Jung cilik ini sudah membuat kamarku kotor. Hei hei, Jung Changmin, berhenti makan disini!"
"Aigoo, Minie. Berhenti, jangan ganggu jumma."
"Haha, Minie mau main cama jumma. Dalitadi jumma cangat cibuk eomma."
"Ayo sini main sama jussi saja." entah datang darimana, Yihan sudah masuk ke kamar Junsu.
"Eh? Nuguya?" tanya Junsu heran melihat namja yang lumayan tampan ada dirumahnya.
"Ah, Su-ie, ini Yihan, Jin Yihan. Apa kau masih ingat padanya?"
Junsu napak berfikir, memang dirinya sangat familiar dengan nama dan wajah itu, tapi sudah lama tak bertemu membuatnya sedikit lupa, "Yihan, Jin Yi-, kyaa kau Yihan hyung? Sahabat Jae hyung itu?"
"Ne, apa kabar Junsu-ah?"
"Ya aku baik, wah jadi dia bosmu hyung?" Jaejoong hanya mengangguk. "Wahh, tak kusangka akan bertemu kau lagi hyung. Sering-seringlah main kemari."
"Haha ne, Junsu-ah."
"Seperti reuni saja ne." tawa mereka pun pecah. Mengenang kembali masa-masa mereka sewaktu kuliah. Junsu rupanya sudah tak ingat lagi pada kegaduhan tadi. Bahkan ketiga namja dewasa itupun seakan lupa ada namja cilik yang sedari tadi memandang mereka bertiga dengan heran. Yah, sekarang evil cilik itu harus merasakan bagaimana rasanya tak dihiraukan.
.
::
AFTER
::
.
Yoochun pergi kerumah Yunho sesaat setelah pulang dari supermarket. Dirinya hendak memberitahu Yunho tentang pertemuannya tadi dengan Jaejoong. Dirinya sudah tak sabar ingin memberitahu hyungnya itu dimana Jaejoong bekerja.
"Yoochun-ah, mencari Yunho ne? Dia baru saja pulang. Masuk saja ke dalam kamarnya." kata Mrs. Jung yang melihat Yoochun masuk kedalam rumahnya.
"Ne ahjumma, aku masuk dulu ne."
Saat hendak naik kelantai dua tempat kamar Yunho, Yoochun berpasan dengan Jessica. "Chunie oppa, wae kau kemari? Tak puas sudah meracuni otak oppaku di kantor? Sekarang kau mau meracuninya di rumah juga?"
"Aiss, Jung Sooyeon, aku tak mau mencari keributan lagi denganmu." jawab Yoochun berusaha menenangkan dirinya yang kelihatan akan meledak.
"Wae oppa? Kau takut eoh?" tantang Jessica.
"Sudah, aku malas berdebat denganmu." Yoochun segera berjalan dan tak menghiraukan Jessica yang mulai mencari gara-gara lagi.
"Haha, kau takut ne oppa. Kyaa, seorang Park Yoochun kalah sebelum berperang." Jessica tambah sinis dengan perkataannya. Yoochun yang memang sudah tak berniat mencari pertengakaran memilih mempercepat langkahnya.
Sesampainya dikamar Yunho, dengan keras ia membanting pintu kamar Yunho. "Arggghhhh," teriak Yoochun yang sukses mendapat jitakan gratis dari Yunho.
"Ya! Pabo! Kenapa kau berteriak! Telingaku bisa tuli!" dengus Yunho sambil menatap Yoochun dengan pandangan membunuh.
"Ya! Lebih baik kau terus memukulku hyung, daripada aku harus bertemu dengan adikmu itu! Arghh, andai saja dia bukan adikmu, sudah kupastikan dia masuk neraka! Wajahnya saja yang cantik, tapi kelakuannya mirip iblis!"
Yoochun menumpahkan semua unek-uneknya pada Yunho. Yunho mendengar adiknya dihinapun ikut membela adiknya itu, "Yah apa katamu? Kau bilang adikku iblis? Kau sendiri apa kalau begitu?"
"Ya, dia memang iblis yang terperangkap ditubuh yeoja."
"Park Yoochun, hentikan mengatai adikku. Atau kau mau aku hajar eoh?"
"Kenapa kau selalu membelanya sih hyung, jelas-jelas dia yang memulainya."
"Karna dia adikku pabo!"
"Ne ne. Darah memang lebih kental daripada sirup!" jawab Yoochun asal.
"Aiss, sudahlah, ada apa kau kemari? Kalau tak ada yang penting, lebih baik kau pulang saja. Aku tak ada waktu." kata Yunho sambil membalikkan badannya menghadap layar laptopnya lagi.
"Ne, aku awalnya memang ingin memberitahumu informasi yang sangat penting tentang Jae hyung." mendengar nama 'istri'nya disebut, Yunho langsung menoleh dan menatap Yoochun.
"Tapi karna kau tadi sudah menjitakku dan mengataiku lebih baik aku pulang saja." Yoochun segera bangkit dan hendak pergi meninggalkan kamar Yunho. Namun Yunho dengan segera menahannya.
"Aiss, kau ini cepat sekali marah. Ne, mianhaeyo tadi menjitakmu. Mana yang sakit hmm?" kata Yunho sambil memegang kepala Yoochun yang tadi dijitaknya.
"Omo, apa yang kau lakukan. Kau ini ingin berbuat mesum terhadapku eoh!"
"Mwo? Yak! Aku masih waras pabo! Otakmu saja yang sudah mesum akut!" jawab Yunho sambil menjauh dari tubuh Yoochun. "Cepat katakan, apa yang mau kau beritahu aku tentang Jaejoong?" tanya Yunho dengan muka masam.
"Kau tahu hyung, tadi aku bertemu dengannya." wajah Yoochun berbinar saat mengatakannya. Menandakan betapa ia sangat bahagia bisa bertemu dengan hyung cantiknya itu.
"Jinjayo? Eodi? Dimana kau bertemu dengannya?" Yunho langsung mendekap bahu Yoochun saling kagetnya mendengar cerita Yoochun.
"Aiss, kau ini memang selalu mencari kesempatan eoh untuk menyentuhku!" teriak Yoochun tepat diwajah Yunho.
"Mwo? Yang benar saja! Aiss, jangan mengalihkan pembicaraan. Bagaimana tadi kau bertemu dengan Jaejoong hah? Katakan!" desak Yunho yang sudah tak sabar mendengar penjelasan dari Yoochun.
"Kalau kau mencengkramku begini, bagaimana aku bisa menjelaskan."
Yunho segera melepas cengkramannya pada bahu Yoochun, "Mian. Aku benar kaget mendengar kau bertemu dengan Jaejoong." wajah Yunho tiba-tiba murung, ditatapnya sepupunya dengan pandangan sendu.
"Ne hyung, arraseo. Mian juga aku terbawa emosi."
"Ne gwencana, katakanlah. Aku akan diam mendengarkan."
Yoochunpun mulai bercerita awal pertemuannya dengan Jaejoong, "Tadi sewaktu aku pergi ke supermarket, aku samar-samar melihat Jae hyung. Tapi aku tak yakin pasti, tapi setelah ia menengok dan tertawa aku baru yakin kalau itu dia. Dan benar saja, waktu ku panggil ia menoleh dan langsung berteriak memanggilku." cerita Yoochun dengan wajah sangat bahagia. "Tapi, begitu aku melihat orang yang bersamanya, aku jadi kesal sendiri."
"Mwo? Jaejoong pergi bersama orang?"
"Ne, dia lumayan tampan, tapi jauh lebih tampan aku. Dan lagi, dia hanya sahabat Jae hyung saja. Tapi aku tak yakin, karna dari yang kulihat nampaknya ia menyukai Jae hyung, aku bisa melihat gelagatnya sewaktu menatap Jae hyung."
"Jinja?" seketika wajah Yunho menjadi sendu, ditundukkannya wajahnya agar Yoochun tak melihatnya.
"Ne, aku sempat berkenalan dengannya, dan yang dia bilang namanya Yihan. Kalau aku tak salah ingat, marganya Jin."
Deg
Seketika Yunho membelalakkan matanya. Menatap horor pada Yoochun dengan mulut menganga. Sungguh, ia sangat kaget mendengar nama tadi. Nama yang sampai sekarang masih sangat ia hafal. Nafas Yunho perlahan memburu dan pandangan matanya mulai menajam.
"Jin Yihan katamu?" ulang Yunho.
"Ne, Jin Yihan. Waeyo hyung?"
"Lalu apa lagi yang kalian bicarakan?" tanya Yunho tanpa menjawab pertanyaan Yoochun.
"Ani, aku hanya bertanya dimana Jae hyung tinggal, tapi ia tak mau memberi tahuku, lalu kutanya dimana ia bekerja ia menjawab ia bekerja di Cojjee resto. Omo, aku hampir lupa, kata Jae hyung, Yihan itu adalah atasannya di Cojjee resto."
Braaakkk
Yunho tiba-tiba saja menggebrak meja dihadapannya. Emosinya benar-benar meluap sekarang. Dulu saja sewaktu kuliah ia sangat kesal melihat kedekatan Jaejoong dengan Yihan. Yihan selalu menempel pada Jaejoong, apalagi sekarang mereka bekerja ditempat yang sama, kemungkinan Yihan akan kembali mendekati Jaejoong.
"Omo hyung, kau membuatku kaget. Wae hyung? Ada yang salah dengan perkataanku?" Yoochun benar-bemar tak tahu ada apa dengan hyungnya itu, ia memilih diam sambil menatap wajah Yunho yang merah padam.
"Ani, aku haya emosi Chunie. Lebih baik sekarang kau pulang, aku banyak pekerjaan. Gomawo sudah memberitahu informasi ini."
"Ne hyung, cheonma. Kapan-kapan kita ketempat Jae hyung bekerja ne, aku ingin sekali makan masakannya lagi. Baiklah kalau begiu, aku pulang ne hyung. Jaa."
Sepeninggal Yoochun, Yunho segera merapikan meja kerjanya dan menyambar kunci mobil. Ia sekarang ingin menenangkan diri dulu.
Dipacunya mobil menembus malam kota Seoul. Pikirannya sangat kacau, dibantingnya stir kearah kanan dan mempercepat laju mobilnya. Untung saja keadaan jalan tidak begitu ramai, kalau tidak bisa dipastikan akan terjadi kecelakaan mengingat Yunho memacu mobilnya diluar batas kecepatan.
Tak terasa setelah berputar tanpa tujuan, Yunho malah sampai disungai han. Perlahan Yunho turun dan berjalan ketepi sungai, sesampainya disana ia duduk. Ditenggelamkannya wajahnya pada kedua tapak tangannya, mencoba meredam rasa yang bergejolak didadanya. Cukup lama ia terdiam disana, udara malan Seoul yang sedikit dingin tak membuatnya beranjak. Sampai suara ponselnya berdering dan menampakkan nama Sooyeon dilayarnya.
"Yeoboseyo."
"Oppa, oppa eodiya? Kulihat tadi oppa keluar setelah Chunie oppa pulang."
"Aku ada urusan sebentar."
"Apa kau ada masalah oppa?"
"Ani, sudah ne. Sebentar lagi oppa pulang."
"Ne oppa, hati-hati diluar sangat dingin."
Yunho mematikan ponselnya, berharap tak ada lagi yang akan menelponnya. Ternyata sudah cukup lama ia keluar dari rumah tadi. Setelah merasa cukup tenang, Yunho memutuskan untuk pulang kerumah, sebelum sebuah suara memanggilnya.
"Yunho hyung? Apa benar itu kau Yunho hyung?" Yunho segera membalikkan badannya dan ia mengernyit saat melihat siapa yang memanggilnya.
"Kau-" tunjuk Yunho pada orang itu.
"Waa, rupanya benar itu kau." orang itupun semakin mendekatkan dirinya kepada Yunho.
"Kim Junsu?" pekik Yunho setelah benar-benar yakin kalau namja dihadapannya adalah Junsu.
"Ne, aku Junsu. Apa kau sudah lupa dengan wajahku eoh?" dengus Junsu kesal karna sepertinya Yunho melupakannya.
"Ani, hanya saja aku kaget bisa bertemu denganmu disini. Sedang apa kau disini?"
"Aku tadi ada sedikit urusan dekat sini, lalu saat aku berjalan hendak pulang aku melihatmu dari kejauhan. Karna penasaran aku langsung memastikannya dan benar saja itu kau." cerita Junsu. "Kau sendiri sedang apa hyung disini?"
"Ah, aku hanya mencari udara segar."
"Kau mencari udara segar samapi sejauh ini?" tanya Junsu heran mengingat jarak rumah Yunho dan sungai han ini terbilang cukup jauh.
"Haha. Ne. Sekalian aku berjalan-jalan. Aku sedikit kesepian dirumah." jawab Yunho dan langsung membuat Junsu merasa iba.
"Umm, kau pasti sangat merindukan Jae hyung dan Changmin ne?"
"Ne, begitulah. Kurasa, semua appa akan merasakan hal yang sama." jawab Yunho sambil memandang sendu kearah sungai.
"Apa kau tak tahu dimana keberadaan mereka hyung?" tanya Junsu. Sebenarnya Junsu merasa bersalah karna sudah menyembunyikan keberadaan Jaejoong dan Chamgmin dari Yunho, tapi ia juga tak ingin melihat Jaejoong nantinya marah kalau dirinya membocorkan keberadaannya pada Yunho.
"Anio. Na molla. Sampai sekarang aku masih belum tahu. Aku sebenarnya bisa saja menyuruh orang untuk bergerak memcari mereka. Tapi, aku takut kalau aku melakukan itu eomma akan tahu dan-"
"Ne hyung arraseo." jawab Junsu memotong ucapan Yunho. Dirinya benar-benar diliputi perasaan bersalah sekarang. Jelas-jelas ia tahu dimana keberadaan Jaejoong. Namun ia tak berani mengambil resiko.
"Kau tahu Junsu-ah, aku benar-benar merindukan mereka. Apa mereka makan dengan baik, hidup dengan baik. Dan apakah Changmin tumbuh dengan baik." Yunho menundukkan kepala. Kesedihan sudah tak bisa lagi dibendungnya. Dibiarkannya kini dirinya menumpahkan semua perasaan di dadanya.
Perlahan cairan bening turun membasahi wajahnya, menciptakan segaris sungai di pipinya yang kini nampak tirus. Bahunya bergetar kecil mencoba menahan isakan yang keluar dari mulutnya. Junsu sangat iba melihat keadaan Yunho, dirinya sungguh tak tega. Ditepuknya pelan bahu Yunho, memberinya kekuatan. Sungguh, ia tak tega dengan Yunho. Melihatnya begitu tersiksa dan sedih karna tak bisa bertemu dengan keluarganya. Entah ada angin apa, setelah menimang cukup lama akhirnya Junsu mengambil keputusan yang cukup berani. Resiko sudah ia pikirkan secara matang, biarlah yang terjadi nanti ia tanggung.
Junsu pun mencengkram bahu Yunho agak keras, sambil berkata, "Hyung, sebenarnya-"
.
::
AFTER
::
.
Pagi hari yang cerah di apartement Junsu. Jaejoong tengah sibuk membuat sarapan untuk mereka, pagi ini ia tidak pergi bekerja. Jadi ia ingin menghabiskan seharian waktunya untuk menemani Changmin. Hari ini juga ia berencana untuk mengajak Changmin pergi ke Cojjee resto tempatnya bekerja, ia ingin mengenalkan Changmin pada teman-temannya di sana. Changmin langsung setuju saat mendengar ajakan Jaejoong itu. Bahkan ia sangat bersemangat dan sudah tak sabar ingin pergi bersama eommanya. Mungkin ia sangat rindu pergi bersama dengan eommanya.
Sekarang Changmin bahkan sudah siap untuk pergi, padahal jam baru menunjukkan pukul 07.00 pagi. Tapi saking semangatnya, Changmin sudah bangun pagi-pagi sekali. Ia takut kalau Jaejoong akan berubah pikiran kalau dirinya tak bangun cepat.
"Eomma, ayo kita belangkat. Eomma jadi ajak Minie jalan-jalan kan?"
"Ne changy, tapi nanti ne. Lihat, ini masih pagi. Dan lagi Minie belum sarapan kan?"
"Tapi tapi, eomma jadi kan ajak Minie jalan-jalan. Minie cudah bocan dilumah, tiap hali hanya main cama Cu-ie jumma. Ne eomma, ne ne."
"Ne changy, nanti sehabis sarapan kita jalan-jalan ne. Minie mau kemana hmm?"
"Minie mau ke taman eomma. Minie juga mau ke danau, Minie mau main bebek yang ada dicana. Hihi, bebek yang mirip Cu-ie jumma." Changmin terkekeh sendiri membayangkan Junsu yang mirip bebek.
"Ah iya, ngomong-ngomong Junsu eodiya ne? Apa dia belum bangun?"
"Ne eomma, Cu-ie jumma belum bangun. Malac cekali dia." jawab Changmin sambil tersenyum evil.
"Jaa, kalau begitu Minie bisa bantu eomma bangunkan Su-ie jumma?"
"Ne eomma, Minie ciap!" Changmin langsung berlari menuju kamar Junsu. Seringai evil sudah tercetak di wajah mungilnya. Sesampainya di depan kamar Junsu, Changmin segera membuka pintunya, kepalanya menyembul mengintip keadaan kamar Junsu.
"Keke, jumma benal-benal malac." Changmin lalu masuk, melangkahkan kakinya mendekati pinggiran tempat tidur Junsu. Perlahan digoncangkannya kaki Junsu untuk membangunkannya, tapi tak ada hasil. Junsu masih diam tak bergerak, Changminpun tak kalah akal. Kini ia mencubit-cubit lengan Junsu dengan tangan mungilnya. Berharap Junsu akan kesakitan dan bangun. Namun lagi-lagi usahanya gagal. Junsu hanya bergerak pelan karna terusik, tapi tak kunjung membuka matanya.
"Aicc, jumma benal-benal malac."
Changmin pun kini sudah naik ke ranjang Junsu, cara terakhir yang mungkin bisa membangunkan Ahjummanya itu. "Keke, jumma haluc bangun ne." ucapnya sebelum memulai aksinya.
Perlahan Changmin membungkuk untuk mensejajarkan dirinya dengan telinga Junsu, kemudian menarik nafas panjang sebelum akhirnya berteriak keras ditelinga Junsu.
"KYAAA, KEBAKALAN. KEBAKALAN. KEBAKALAAAAAAAN."
Junsu terlonjak dari tidurnya, kaget karna teriakan barusan. Tanpa pikir panjang ia segera berlari keluar kamar. Wajahnya sangat panik, karna mengira benar-benar terjadi kebakaran. Ia kelabakan dan segera saja ngacir keluar tanpa memperhatikan penampilannya yang hanya mengenakan boxer pendek bergambar bebek. Sementara Changmin? Ah, rupanya ia masih setia berteriak tanpa memperdulikan Junsu yang sudah lari terbirit-birit. Setelah Junsu benar-benar hilang dari pandangannya barulah ia tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan ahjummanya.
"Yaa, hyung ayo cepat lari. Rumah ini kebakaran, ayo cepat cepat."
"Mwo? Kebakaran?"
"Ne hyung tadi ada yang berteriak kebakaran, ayo hyung cepat. Minie? Mana dia?"
"Minie tadi kusuruh untuk membangunkanmu,"
"Mwo? Kyaaaaa, JUNG CHANGMIIINNNNNNN!" teriak Junsu dengan suara lumba-lumba yang nyaring menyaingi suara Xiah dari DBSK.
.
::
AFTER
::
.
Yunho sudah nampak rapi pagi ini. Dengan mengenakan setelan jas semi formal warna hitam press body, ia kelihatan begitu segar. Senyum yang tak pernah lepas dari wajah tampannya. Entah apa yang membuatnya begitu ceria pagi ini, mengingat semalam ia nampak sangat frustasi merindukan keluarganya. Satu hal yang tak kita ketahui, kalau semalam sewaktu dirinya bertemu dengan Junsu, ia mendapatkan informasi yang sangat penting. Informasi dimana keluarga kecilnya itu tinggal. Semalam Junsu benar-benar membongkar semua informasi Jaejoong dan Changmin. Yunho tak tahu harus berterima kasih seperti apa pada Junsu, karna bagaimanapun Junsu sudah bmengambil resiko yang besar saat memberitahu dirinya. Tapi Junsu sudah tak memperdulikannya, yang terpenting adalah bisa melihat Changmin bertemu dengan appanya yang sangat ia rindukan.
Makadari itu, hari ini Yunho berencana untuk mengajak keluarga kecilnya itu jalan-jalan untuk melepas rindu. Ia tak tahu bagaimana nanti reaksi Jaejoong saat bertemu dengannya, ia tak mau memikirkan itu dulu. Yang terpenting sekarang adalah ia ingin bertemu dengan 'istri' dan anak semata wayangnya.
.
::
AFTER
::
.
Jaejoong sudah bersiap mengajak Changmin jalan-jalan, dirinya tengah mematut diri dikaca untuk memastikan penampilannya sudah rapi. Tak lupa ia menyemprotkan parfume aroma vanila kesekujur tubuhnya. Setelahnya ia bergegas menemui Changmin dan Junsu yang masih menghabiskan sarapannya.
"Annyeong Su-ie, aku akan membawa Changmin jalan-jalan ne. Untuk makan siang aku sudah membuatkan untukmu, tinggal kau panaskan saja sup yang ada di kulkas. Sepertinya aku agak lama mengajaknya jalan, karna aku jarang mendapat libur. Gwencana ne?"
"Ne, gwencana. Ajak saja evil cilik itu pergi menjauh dari sini. Pergi yang lama saja." jawab Junsu ketus karna masih kesal karna insiden pagi tadi.
"Yaa, Su-ie, kau masih marah ne pada Minie. Maklumi ne, dia kan masih kecil. Dan kau Minie, sudah minta maaf pada jumma?"
"Cudah eomma, tadi Minie cudah minta maap cama jumma, tapi jumma tak mau maapain Minie." sahut Minie sambil terus memasukkan sarapan ke mulutnya.
"Ya, ini semua kan salah Minie, sehingga jumma jadi marah. Lain kali Minie tak boleh mengulangnya ne? Arra?"
"Ne eomma, Minie tak akan mengulanginya lagi." jawab Changmin sambil tersenyum pada eommanya.
"Jumma mian ne. Minie tak akan ulangi lagi."
Junsu hanya diam tak berniat menjawab, karna ia tahu seberapa kalipun Changmin mengatakan tak akan mengulanginya lagi, itu artinya ia akan mengulangi hal itu berkali-kali lagi.
"Nah, Minie sudah habiskan sarapannya? Minum susunya dan kajja, kita pergi."
Changmin segera menghabiskan susunya dalam beberapa teguk, setelahnya ia segera turun dan menghampiri Jaejoong "Kajja eomma. Minie cudah ciap!"
"Ne, salam dulu sama jumma."
"Jumma, Minie pergi dulu ne."
"Su-ie kami pergi dulu. Annyeong,"
"Ne hyung, hati-hati dan bersenang-senanglah." kata Junsu sambil tersenyum manis pada Jaejoong dan mendelik sebal saat melihat Changmin.
"Semoga kalian senang bertemu dengannya hyung."
Jaejoong menggandeng hangat tangan kecil Changmin. Senyum tak pernah lepas dari wajah putihnya. Begitu juga dengan Changmin, sepanjang perjalanan menuju loby ia tak henti-hentinya bercerita tentang hal-hal yang akan dilakukannya nanti. Jaejoong hanya menanggapinya dengan senyuman.
Ting
Pintu lift terbuka, Changmin segera menarik Jaejoong menuju pintu loby, sesampainya ponsel Jaejoong tiba-tiba berdering, melihat siapa yang menelpon Jaejoong langsung menjawab panggilan itu dan menarik Changmin agar diam sebentar.
Disaat yang bersamaan, sebuah mobil Audy hitam tiba dan berhenti tepat didepan loby. Tak lama, nampak sepasang sepatu milik pengemudinya turun menginjak tanah. Segera setelahnya pengemudi itu keluar dan menampakkan wajahnya yang ditutupi oleh kaca hitam. Senyumnya mengembang saat dilihatnya dua orang yang begitu dirindukannya tengah berdiri di depan pintu loby.
"Joongie, Minie." desisnya.
Changmin yang memang sejak tadi melihat kesana kemari seketika terpaku saat mata kecilnya menangkap sosok tubuh yang sangat familiar baginya. Dan mulutnya menganga saat menyadari siapa orang itu, dan tanpa pikir panjang ia memekik keras dan berlari menuju orang itu.
"Ap..appa..APPA!"
Deg
Seketika Jaejoong menolehkan kepalanya saat mendengar Changmin berteriak. Bukan karna suaranya yang keras, melainkan kaget karna seruan Changmin. Dan matanya membulat sempurna saat dilihatnya Changmin berlari menuju orang itu.
Sesaat pandangan mata bulat Jaejoong bertemu dengan mata musang milik orang itu. Degupan jantungnya bertambah kencang saat dilihatnya orang itu tersenyum. Senyuman yang masih sama, yang selama 4tahun ini selalu menemaninya.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
Chap 6 datang... Huwaaaa,, bagaimana? Ah, akhirnya YunJae ketemu.. Kira-kira bagaimana reaksi keduanya nanti?
Jaa, kalo penasaran ditunggu kelanjutannya ne~~
Review onegaishimasu
.
Ah ya, saengil chukae untuk Yang Yoseob oppa, hari ini oppa ulang tahun.. Hehe
Sukses terus bareng Beast~~
.
Denpasar, 05 Januari 2014
