"Hey Rose!" sapa Al yang baru masuk ke kelas Mantra lalu langsung duduk di sebelah Rose. "Bagaimana kelas Arithmancy tadi?"
"Tidak begitu menyenangkan, si pucat Malfoy itu tiba-tiba saja tadi duduk di sebelahku," jawab Rose sedikit kesal.
"Paling tidak sekarang kau tidak akan melihatnya lagi. Kita sekelas dengan Hufflepuff kali ini," kata Al.
Rose hanya tersenyum tanda setuju. Ia segera menyusun perkamen, buku dan alat tulisnya di atas meja seakan menandakan ia sangat siap menerima pelajaran baru. Tetapi kemudian ia menemukan sesuatu yang sebelumnya tidak ada di tasnya. Penasaran, Rose segera mengambil benda itu dan menatapnya dengan heran.
"Permen Bloody Cherry?"
Ambition
By : RenaKudo-chan
Disclaimer : J. K. Rowling
"Aku masih tidak mengerti mengapa permen ini ada di dalam tasku," ujar Rose sambil terus memperhatikan permen itu seperti seorang detektif sedang menganalisis barang bukti.
"Itu permen kesukaanmu kan, Rose? Mungkin kau lupa ada menaruh permen itu tadi pagi di tasmu," ujar Al.
"Aku tidak mungkin lupa apa yang kumasukkan ke dalam tasku pagi ini, Al. Ini terlalu aneh untuk disebut sebagai kebetulan. Kita baru membicarakan permen ini tadi siang dan sekarang permen ini muncul begitu saja di tasku," ujar Rose lalu menatap ke arah Albus. Dahinya mengernyit curiga.
"Atau jangan-jangan kau yang menyelipkan permen ini ke tasku?" tanya Rose kepada Al dengan nada seperti menginterogasi seorang tersangka.
"Tidak," jawab Al dengan santainya. Rose memutar bola matanya.
"Lalu siapa?" tanya Rose masih penasaran.
"Lily? Hugo? Rachel? Siapapun yang duduk di dekatmu hari ini?" ujar Al berusaha membantu. Lalu seberkas pengetahuan mendadak muncul di otak Rose.
"Ah! Pasti Malfoy!" ujar Rose jengkel. "Pasti dia mendengar pembicaraan kita tadi siang. Dia sengaja duduk di sebelahku untuk menyelipkan permen ini ke dalam tasku dengan maksud untuk mengejekku! Dasar Malfoy!" ucap Rose meledak-ledak. Al hanya bisa menepuk-nepuk bahu Rose pelan.
"Sabar, Rose. Lagipula itu permen favoritmu, bukan? Coba kau makan. Mungkin kau jadi bisa lebih tenang setelahnya," ujar Al, lagi-lagi hanya bisa menenangkan Rose bila sepupunya itu sedang emosi. Menghela nafasnya, Rose mulai membuka bungkus permen itu untuk memakannya, namun terhenti sejenak.
"Bagaimana kalau ada amortentia di dalam permen ini?" tanya Rose curiga. Kali ini Al yang memutar bola matanya.
"Tenang saja Rose, kau tidak berpikir Malfoy begitu mencintaimu sampai putus asa dan memberi amortentia padamu, bukan?" tanya Al setengah memastikan setengah geli.
"Tentu saja tidak," jawab Rose jengkel. Tanpa ragu, ia langsung memasukkan permen sebesar bola gundu itu ke dalam mulutnya melalui jari jempol dan telunjuknya. Saat permen itu menyentuh lidah Rose, Rose mulai merasakan sensasi meleleh dari permen itu, hal yang sangat Rose sukai dari permen Bloody Cherry.
"Apa permen itu sudah mulai 'bleeding'?" tanya Al saat melihat Rose mulai menikmati permen yang ada di dalam mulutnya.
"Yup. Benar-benar 'bloody cherry'," ujar Rose senang. Ia harus berterima kasih pada Cherry Everson, wanita berusia 30 tahun yang menciptakan permen rasa cherry yang nikmat ini. Permen ini memang kelihatan seperti permen pada umumnya dengan rasa ceri, tetapi saat permen itu menyentuh lidah maka permen itu akan meleleh perlahan-lahan seperti lava di choco lava cake. Dan itu juga alasan mengapa permen ini diberi nama Bloody Cherry.
"Tunggu sebentar!" ujar Rose tiba-tiba yang membuat Al sedikit berjengit karena kaget.
"Kalau Malfoy mendengar pembicaraan kita tadi siang tentang permen ini, artinya Malfoy juga dengar kalau patronusku berbentuk ferret?"
"Um, sepertinya begitu," jawab Al ragu-ragu.
"Arrghh!" keluh Rose frustasi.
…
Malam ini merupakan jadwal pertama kalinya Albus Potter berpatroli. Tetapi partner pertamanya dalam patroli ini adalah seorang perempuan yang sangat tidak ia sukai.
Yah, siapa lagi prefek perempuan yang menyebalkan baginya kalau bukan Miracle Beaumont?
"Kuharap malam ini aku bisa menangkap salah satu dari sepupu-sepupu onarmu itu, Potter" tukas Miracle sinis. Al hanya mendelik ke arah partner di sebelahnya itu dan kembali menatap lurus ke depan.
"Kau tidak mengganggu Mahoney lagi, kan?" tanya Miracle dengan nada menginterogasi.
"Bukan urusanmu," jawab Albus singkat.
"Itu urusanku, Potter," bantah Miracle.
"Mengapa kau sangat menyebalkan?" tanya Albus kesal.
"Kau yang mulai duluan, Potter. 4 tahun sebelum ini kau tidak pernah mencampuri urusanku dan Mahoney. Lalu entah mengapa tiba-tiba kau datang begitu saja dan sok jagoan membela Mahoney," ujar Miracle jengkel. Al hanya menghela nafas tanda menyerah. Ia tidak ingin bertengkar dengan seorang wanita.
Jadi malam patroli itu mereka habiskan dengan saling diam-diaman satu sama lain dan hanya bicara jika mendapati siswa/siswi yang melanggar jam malam hari itu.
…
Scorpius sedang duduk di meja asrama Slytherin saat jam makan siang keesokan harinya. Barusan ia mengikuti kelas PTIH bersama anak-anak Hufflepuff -yang mana sangat mudah dikerjai oleh anak-anak Slytherin- dan telah berhasil memproduksi patronusnya sendiri.
Tetapi menurutnya bentuk patronusnya sungguh memalukan. Bahkan Scorpius belum tentu berani memproduksinya kembali.
Ingin tahu apa bentuknya?
Seekor musang. Weasel. Binatang yang identik sekali dengan keluarga Weasley.
"Apapun asal jangan musang!" ujar Scorpius jengkel.
"Uh, itu daging domba, mate. Bukan daging musang," ujar Jeremy.
"Bukan makanannya, bodoh," gerutu Scorpius. Jeremy hanya mengangkat bahunya dan memulai makan siangnya.
Alih-alih menancapkan garpunya pada sepotong daging domba di atas piringnya yang sudah pasti terasa lezat, Scorpius melayangkan pandangannya ke arah meja Gryffindor. Tidak perlu waktu lama untuk menemukan sesosok Rose Weasley yang sedang bercengkrama dengan sepupu-sepupunya di meja itu. Keluarga mereka memang dikenal sebagai keluarga yang paling berisik saat makan, ditambah beberapa rekan mereka dari yang non-keluarga.
Scorpius kembali teringat akan apa yang baru saja didengarnya kemarin siang. Tentang Rose yang mempunyai patronus berbentuk ferret -ciri khas Malfoy- dan membandingkannya dengan dirinya sendiri, Scorpius, yang mempunyai patronus berbentuk weasel -ciri khas Weasley-.
Scorpius mulai berpikir, apakah ini pertanda mereka berjodoh?
Tidak tidak tidak! bantah Scorpius dalam hati. Ia menggelengkan kepalanya beberapa kali sebelum akhirnya kembali menatap gadis berambut merah jahe itu.
Rose Weasley… Aku harus segera mendapatkanmu.
…
Malfoy benar-benar aneh tahun ini! Apa yang sebenarnya ada di pikirannya?
"Rose?"
Apa dia benar-benar terbentur saat menaiki kereta? Tetapi mengapa aku harus kena imbasnya?
"Rose?!"
Mungkin aku harus bicara dengannya. Menjauhinya tidak akan membuatku tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Rose!" panggil sebuah suara dengan kencang. Rose segera terbangun dari lamunannya.
"Lily, aku tidak tuli," kata Rose kesal.
"Oh ya? Aku 3 kali memanggilmu dan kau baru menjawabnya sekarang!" ujar Lily jengkel.
"Sebenarnya ada apa, Rose?" tanya Hugo pada kakak perempuannya itu.
"Tidak ada apa-apa," jawab Rose, bohong tentunya.
"Kau bohong, Rose. Kita tinggal bersama sejak aku lahir, kau tidak bisa membohongiku," tukas Hugo.
"Sudahlah, biarkan Rose yang mengurus masalahnya sendiri. Dia sudah 15 tahun," ujar Al. Rose melayangkan tatapan terima kasihnya kepada sepupu favoritnya itu.
Yah, sebenarnya Hugo memang benar. Rose sedang dalam masalah -atau setidaknya begitu pendapat Rose- karena 1 minggu ini Rose selalu mendapat permen Bloody Cherry di tasnya entah kapan dan di mana. Dan tanpa menginterogasi seluruh murid Hogwarts dengan veritaserum, Rose sudah mengetahui siapa pelakunya.
Pasti si idiot Malfoy.
Meski sebenarnya Malfoy tidak idiot, sih.
Sial sial sial! batin Rose kesal. Mulai sekarang, mungkin tiada hari dalam hidup Rose tanpa memikirkan sosok putih pucat bagaikan mayat itu.
…
Rose sedang mengecek jadwal patrolinya untuk melihat kapan ia akan kembali berpatroli dengan Malfoy. Sekarang dia tidak akan meminta siapapun untuk menggantikannya, karena ia sangat perlu berbicara dengan Malfoy tanpa gangguan dari keluarganya dan sebagainya.
Ah, ketemu! batin Rose gembira. 15 September, berarti 3 malam lagi dari sekarang.
Aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini, batin Rose lalu menaruh kembali perkamen itu di laci mejanya.
Setelah itu, Rose langsung duduk di kasurnya dan mengambil sebuah buku yang belum selesai dibacanya. Buku itu diberikan oleh ibunya sehari sebelum hari pertama tahun ajaran. Isinya berkenaan dengan undang-undang dan peraturan dunia sihir, yang mana sangat difavoritkan oleh Rose karena Rose sangat ingin masuk ke Kementrian Sihir lulus Hogwarts nanti. Ia sama sekali tidak menghiraukan cekikikan dari Callista dan Lavender yang sepertinya sedang bergosip ria.
Dan Rose baru menyadari ada yang hilang dari kamarnya.
Salah satu penghuni kamar itu, Mahoney Beaumont.
Rose awalnya tidak terlalu memperhatikan gadis ini. Namun melihat tingkah Al yang sepertinya sedang sangat suka mencampuri urusan si kembar Beaumont, mau tak mau Rose juga jadi ikut memikirkan apa yang sebenarnya terjadi dengan Mahoney si penyendiri itu.
Menurut apa yang diketahui Rose, keluarga Beaumont adalah keluarga berdarah murni yang kaya raya mirip seperti keluarga Malfoy, hanya saja keluarga Malfoy lebih terkenal dari keluarga Beaumont yang rata-rata anggota keluarganya sangat pendiam -bukti nyatanya bisa dilihat dari sikap Miracle dan Mahoney-.
Tapi lama kelamaan Rose juga jadi ikut heran, Mahoney sama sekali tidak mirip dengan Miracle. Memang sih, ada kembar yang tidak identik. Contohnya Fred dan Roxanne, warna rambut mereka berbeda, tetapi warna matanya sama. Sedangkan Mahoney dan Miracle tidak mirip sedikitpun.
Apa, jangan-jangan?
Ah, tidak mungkin, batin Rose sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Dan, apakah ia baru saja kembali menyebut-nyebut nama Malfoy dalam pikirannya?
Arghh! keluh Rose masih dalam batinnya. Ia kembali memfokuskan dirinya untuk membaca buku tebal yang baru dibacanya setengah dengan fokus.
…
7 serangkai dari Gryffindor -James, Fred, Louis, Nicholas, Roxanne, Lucy, dan Azalea- sedang berjalan-jalan keliling Hogwarts di Senin siang yang agak dingin ini. Tentu saja agak dingin, karena sekitar 2 minggu lagi musim salju akan segera tiba.
"Apa menurut kalian benar-benar tidak ada apa-apa di antara Rose dan Malfoy?" tanya Lucy tiba-tiba.
"Setelah kupikir-pikir, Rose sudah remaja. Biarkan dia menyelesaikan masalahnya sendiri," ujar Louis bijak.
"Tidak bisa begitu, Louis. Keluarga kita, Potter dan Weasley, terlahir untuk peduli satu sama lain," ujar James yang berjalan paling depan di antara mereka bersama Fred.
"Iya peduli, bukannya mencampuri urusan satu sama lain," ujar Roxanne.
"Hey, lihat! Ada yang sedang berlatih di lapangan Quidditch!" ujar Nicholas tiba-tiba. Sontak 7 kepala itu langsung melihat ke arah lapangan yang dimaksud Nicholas.
"Mereka latihan cepat sekali! Pertandingan pertama kan masih sekitar 1 bulan lagi," komen Azalea.
Didorong rasa penasaran, mereka bertujuh langsung berlari ke arah lapangan Quidditch dan mendapati bahwa tim Ravenclaw-lah yang sedang berlatih di situ. Acara latihan mereka langsung berhenti begitu melihat ada 7 anak dari Gryffindor sedang berdiri memandang mereka dari kursi penonton, ditambah lagi 5 orang diantaranya merupakan tim inti Gryffindor.
"Tidak boleh ada anak dari asrama lain yang mengintip acara latihan kami, apalagi jika mereka pemain Quidditch," ujar sang kapten Ravenclaw ketus saat tiba di hadapan mereka.
"Kau kapten baru ya?" tanya James, memandang tidak yakin pada perempuan Ravenclaw yang berdiri di depannya itu.
"Bukan urusanmu," jawab si kapten, masih dengan nada ketusnya.
"Santai, babe. Pertandingan masih sebulan lagi dan timmu sudah latihan?" ujar Fred tak percaya.
"Sepertinya kalian sangat takut menghadapi Gryffindor," celetuk Azalea. Sang kapten mendengus.
"Aku tidak takut dengan singa-singa idiot macam kalian! Tahun ini tahun pertamaku menjadi kapten dan aku pastikan aku akan mendapat piala Quidditch tahun ini juga!"
"Uuuuuu," ujar Fred dan Nicholas pura-pura ketakutan. James hanya menyeringai.
"Tidak percaya? Baiklah, kita taruhan! Kalau timku tidak berhasil mengalahkan tim kalian nanti, aku akan turuti 1 permintaan dari salah satu anggota tim Gryffindor. Jika timku memang menang -meski sudah pasti- maka salah satu dari kalianlah yang harus menuruti perintahku," ujar sang kapten cepat.
"Baiklah," jawab James tanpa ragu sedikitpun dan menjabat tangan si kapten.
"Siapa namamu?" tanya Lucy.
"Merry Hwang," jawab gadis itu mantap.
"Kalau begitu sampai nanti, Hwang!" ujar James percaya diri dan mereka bertujuh berjalan meninggalkan kursi penonton lapangan Quidditch.
"Oh ya, kapten baru, perlu kau ketahui bahwa biasanya tidak ada tim yang latihan 1 bulan sebelum pertandingan! Itu tanda bahwa kalian lemah!" teriak James saat Merry sudah terbang menjauh dari mereka. Merry mendengus mendengarnya. 7 serangkai itu tertawa-tawa dan benar-benar meninggalkan lapangan Quidditch.
…
Scorpius menghela nafasnya. Sebentar lagi ia akan memulai patrolinya bersama Rose, namun Scorpius tak yakin Rose-lah yang akan menemaninya patroli malam ini. Beberapa minggu yang lalu saja tiba-tiba si prefek Gryffindor kelas 6 itu yang menemani Scorpius patroli. Padahal Scorpius sudah mempersiapkan dirinya sebaik mungkin.
Melirik jam di ruang rekreasi, Scorpius dengan berat melangkahkan kakinya meninggalkan ruang rekreasi Slytherin menuju ruang rekreasi Gryffindor.
Sial, kenapa jarak dari ruang rekreasi Slytherin ke Gryffindor sangat jauh? umpat Scorpius dalam hati.
Namun bagus juga kalau jaraknya jauh. Bayangkan bila jaraknya dekat, bisa-bisa mereka bertengkar dan saling menghancurkan ruang rekreasi lawannya. Membayangkannya saja sudah membuat Scorpius bergidik. Namun tetap saja jauhnya jarak tersebut membuat Scorpius lelah sebelum benar-benar memulai patrolinya. Kenapa setiap patroli prefek laki-lakilah yang harus menjemput si prefek perempuan?
Setelah sampai, Scorpius sedikit terkejut melihat Rose-lah yang sedang menunggunya di depan lukisan Nyonya Gemuk.
"Terlambat 1 menit 16 detik. Bagus sekali, Tuan Malfoy," sindir Rose.
"Tidak menyuruh si Peters menggantikanmu lagi?" tanya Scorpius ketus.
"Bukan urusanmu. Ayo cepat kita mulai patrolinya. Makin cepat makin baik," ujar Rose lalu langsung berjalan tanpa aba-aba terlebih dahulu. Scorpius refleks mengikuti langkahnya.
"Kau cantik, Rose," puji Scorpius. Tentu saja ini hanyalah salah satu dari triknya untuk mendapatkan hati Rose Weasley.
"Omong kosong," tanggap Rose. Rose segera ingat tujuannya mau berlama-lama berduaan bersama si Malfoy yang menyebalkan ini.
"Malfoy, apa kepalamu terbentur saat menaiki Hogwarts Express tahun ini?" tanya Rose.
"Err, tidak," jawab Scorpius.
"Atau kau terjatuh dari tebing saat liburan musim panas kemarin?"
"Kalau itu terjadi sekarang aku tidak akan ada di sini, Weasley, tapi di kuburan," jawab Scorpius kesal.
"Lalu mengapa ada sesuatu yang salah di pikiranmu?!" tanya Rose dengan nada suara yang sedikit dinaikkan.
"Tidak ada sesuatu yang salah di pikiranku," jawab Scorpius, yang tampaknya sudah mengerti arah pembicaraan ini.
"Tidak ada yang salah darimana? Waktu itu kau menciumku, mengirimiku permen, kotak musik dan surat cinta, apa maksudnya semua itu?" tanya Rose kesal. Scorpius agak tercengang sebelum pura-pura menundukkan kepalanya dan menatap lantai yang diinjaknya dengan sendu.
"Kau tidak mengerti juga ya," ujar Scorpius sedih -tentunya cuma pura-pura-.
"Kaulah yang membuatku tidak mengerti, Malfoy, jadi jelaskan!" ujar Rose di koridor sepi itu.
Scorpius sudah ingin mengatakan sesuatu, namun terhenti karena Scorpius merasa kalimat itu akan terlalu cepat bila diucapkan sekarang. Scorpius perlahan mengangkat kembali kepalanya dan menatap lurus ke depan.
"Akan kubiarkan kau mengerti dengan sendirinya, Rose," ujar Scorpius misterius dan berjalan melanjutkan patroli mereka. Mau tak mau Rose juga ikut berjalan mengikutinya dengan rasa penasaran yang menjalari seluruh pikirannya.
Apa sih maksudnya? batin Rose setengah kesal setengah penasaran.
Akan kubiarkan kau merasa penasaran, Rose, dengan begitu kau akan semakin sering memikirkan tentang diriku, batin Scorpius. Tanpa Rose sadari, Scorpius sudah menyeringai licik.
Haihai! Terimakasih ya yang udh mereview chap6 fic ini :)
Author minta maaf ya chap yg ini ada beberapa scene yg gk ada kaitannya dengan Scorose, itu author tambahkan untuk memperjelas cerita aja, jadi dunia fic ini gk cuma berputar di dunia Rose dan Scorpius aja :D
Sejauh ini sih fokus kedua author berada di kisahnya Al, tp Scorose tetap peran utama fic ini kok, tetap fokus pertamanya gitu :)
Dan maaf juga kalo dirasa cara ngerayu Scorpius ini kadang" sinetron banget (picisan gitu), kalo ada ide tentang bagaimana trik Scorpius mendekati Rose review/pm aja ya! Author akan sangat senang kalo dibantu kalian :D
So, review?
