"Kim Taehyung?"
"Umm? Apa aku mengenalmu?"
"Aku murid baru, tapi kita berbeda kelas. Kau pulang sendirian? Tidak ikut bus sekolah? Mereka sudah berangkat sepuluh menit yang lalu"
"Oh begitu. Aku akan di jemput kakak—oh itu dia sudah datang! Kalau begitu aku pergi duluan ya! Sampai jumpa lagi.. uhm—"
"Jimin, namaku Park Jimin"
.
.
"Tae, kalau aku menyukaimu bagaimana?"
"Menyukaiku? Jangan bercanda. Kita tidak akrab, aku juga tidak terlalu mengenalmu, kita hanya bertemu saat istirahat dan pulang saja"
"Ah, apa itu menjadi penghalang?"
"Jimin, aku akan benar-benar menendang kepalamu! Akan aku adukan pada kakakku kalau sampai kau berbicara lelucon lagi!"
"Haish, galak sekali. Jangan bawa-bawa kakakmu lagi, Tae! Aku hanya bercanda saja tadi, jangan di bawa serius okay?"
.
.
"Taehyung? Taehyung! Akhirnya kau sadar!"
"U-uh?"
"Aku benar-benar mengkhawatirkanmu! Apa yang kau rasakan sekarang? Apa kepalamu sakit?"
"Kepalaku? Kepalaku sedikit pusing"
"Kalau begitu istirahatlah, aku akan menemanimu disini"
"Tapi sebelum itu.. bolehkah aku bertanya sesuatu?"
"Apa yang mau kau tanyakan Taehyung? Katakan saja dan hyung akan menjawabnya!"
"Maaf kalau terdengar aneh tapi... kau itu siapa? Kenapa aku bisa ada di tempat seperti ini? Apa yang terjadi kepadaku?"
.
.
What The—
Story by Datgurll
Infires by Eggnoid from Webtoon
.
.
Seme!Jungkook & Uke!Taehyung
.
.
Selamat membaca /tebar confetti/
Chapter 6
.
.
.
Jungkook memajukan bibirnya, ia bosan setengah mati karena tidak melakukan apapun semenjak kemarin. Yoongi sudah pulang dan pasti tidak akan kembali lagi (mengingat monster galak itu hanya datang kalau ingin saja). Mau bermain juga dia tak tau harus bermain apa, main sendirian juga tidak enak, mau mengajak ngobrol Taehyung tapi malah tidak di jawab.
"Taehyung?" Jungkook memanggil nama Taehyung pelan, namun ia tak mendengar jawaban apapun keluar dari mulut sang mama. Percuma saja berulangkali mencoba memanggil Taehyung, pemuda itu akan tetap diam. Jungkook jadi lelah sendiri.
Semenjak insiden menerima panggilan dari kakaknya, Taehyung jadi tidak mau melakukan apapun. Pemuda itu hanya duduk dan terdiam, hampir seharian tidak melakukan apapun kecuali membuat makanan untuk Jungkook (Taehyung tak menyentuh makanannya sama sekali) dan pergi ke kamar mandi jika ingin. Taehyung tidak lebih dari seorang mayat hidup, kalau menurut Jungkook, mama kesayangannya itu sudah terkena virus zombie.
Parahnya lagi, Taehyung tak menceritakan masalahnya pada Jungkook, membuat anak ayam itu semakin kebingungan dengan apa yang terjadi. Jungkook ingin membantu, kalau ia tau apa masalah Taehyung sebenarnya. Dia sendiri sebenarnya tidak yakin apakah dirinya bisa dengan mudah membantu Taehyung keluar dari masalahnya (Jungkook tersenyum malu untuk yang satu ini).
Tak lama kemudian, Jungkook mendengar telepon rumah berdering nyaring, ia buru-buru berlari ke meja telepon di dekat televisi kemudian mengangkat gagang itu, meletakkannya di telinganya. Jungkook sudah tau bagaimana cara mengangkat telepon atau menelepon orang, Yoongi yang mengajarkannya sebelum ia pulang ke rumahnya.
"Halo?"
/"Ternyata kau, Jungkook. Bagaimana keadaan Taehyung? Apa dia masih tidak mau makan?"/
Ah, ternyata Yoongi yang menelponnya, baru saja dibicarakan. Jungkook menggelengkan kepalanya, berpikir mungkin saja Yoongi bisa melihatnya dari sebrang sana. "Belum, Taehyung tetap diam di sofa selama berjam-jam dan tidak berbicara apapun. Apa Taehyung sakit?" Justru ia melemparkan pertanyaan.
Hening beberapa saat sebelum akhirnya Jungkook mendengar helaan nafas.
/"Coba kau bujuk Taehyung agar ia mau menyentuh makanannya. Jungkook, aku minta padamu jangan membuatnya semakin terbebani oke? Taehyung baru saja menerima kembali kabar kakaknya, ia mengirimi pesan kepadaku kemarin"/
"Ungg, tapi kalau Jungkook ingin bermain bagaimana?"
/"Yah, kau malah membuatnya semakin pusing nanti. Heh, dengar ya kau manusia aneh! Aku tidak mau tau, pokoknya kau harus mengembalikan Taehyung seperti semula atau aku akan datang dan memakanmu hidup-hidup!"/
Jungkook memajukan bibirnya. "Iya, Jungkook nanti laksanakan perintah Yoongi hyung"
/"Bagus. Kalau begitu aku tutup dulu, sampai jumpa Jungkook!"/
Setelah itu panggilan terputus, yang jelas bukan Jungkook pelaku utamanya. Dengan pelan Jungkook kembali meletakkan gagang telepon di tempatnya, ia menoleh pada Taehyung yang masih saja diam, tidak bergerak ataupun beranjak. Jungkook jadi ragu apakah Taehyung masih bernafas dan berkedip sampai saat ini, ia benar-benar seorang mayat hidup.
Haduh, Jungkook bosan. Apa yang harus ia lakukan sekarang?
"Jungkook"
"YAAA?!" Balas Jungkook, kedua matanya berbinar-binar dan perasaannya langsung bahagia begitu mendengar Taehyung memanggil namanya. Pemuda itu buru-buru berlari menghampiri Taehyung, hampir saja tersandung akibat mainannya yang bertebaran.
"Kau mau cheesecake?" Taehyung menawari, suaranya terdengar pelan sekali. "Aku tau kau bosan, maafkan aku ya? Sebagai permintaan maafnya akan aku buatkan kau kue kesukaanmu" Tambahnya, tersenyum tipis walau di paksakan.
Jika suasana hati Taehyung sedang gembira, pastilah Jungkook akan menerimanya dengan semangat, tapi sekarang ini.. Jungkook merasa kalau sebaiknya ia menolak. Jadi, dengan pelan Jungkook menggeleng.
"Tidak usah" Jawabnya singkat (padahal di dalam hati ingin sekali berteriak iya).
"Kenapa?"
Jungkook duduk di lantai, memeluk kedua lututnya erat-erat. "Habisnya Taehyung sedang sedih, jadi Jungkook tidak ingin menerima kue buatan Taehyung yang sedang sedih. Taehyung juga belum makan! Jungkook takut dimarahi Yoongi hyung" Katanya, tak lupa memajukan bibir lagi.
Taehyung menoleh pada Jungkook. "Kenapa Yoongi hyung ingin memarahimu?"
"Karena Taehyung tidak mau makan, tidak mau melakukan apapun. Yoongi hyung bilang kalau dia khawatir pada Taehyung, Jungkook sebenarnya juga ingin Taehyung makan dan bergerak seperti kemarin-kemarin. Taehyung yang sekarang menyebalkan, mirip seperti Yoongi hyung!" Anak ayam itu buru-buru berdiri, berjalan menuju pintu keluar.
"H-hei, Jungkook!" Taehyung memanggil. "Kau mau kemana eoh?!"
Jungkook menoleh sejenak. "Jungkook tidak akan jauh-jauh. Kalau Taehyung sudah tidak membosankan baru Jungkook akan pulang" Balasnya, tak lupa tersenyum lebar kemudian melangkah menuju pintu luar utama.
Taehyung diam saja, membiarkan kepergian Jungkook. Apa kesedihannya itu membawa dampak buruk bagi semua orang? Taehyung rasa ia tidak salah, itu wajar bukan jika kita menangis karena bertahun-tahun kakakmu menghilang, kemudian ia kembali lagi? Huft, ia tak mengerti.
Sekarang, apa yang harus ia lakukan?
"Ibu, ayah, apa kalian mendengarku? Kalau iya, tolong beritahu aku apa yang harus di lakukan. Anakmu yang idiot ini sedang kehabisan ide-ide cemerlang" Bisik Taehyung di dalam keheningan. Yeah, hanya ini yang bisa ia lakukan sekarang.
Keadaan terus hening sampai akhirnya Taehyung menyadari sesuatu.
"Tunggu dulu, apa anak itu tau jalan?!"
.
.
.
.
Jungkook tidak bisa menahan senyumnya begitu ia keluar dari rumah Taehyung. Selama ini dirinya hanya akan keluar jika Taehyung mengizinkan atau jika Taehyung ikut dengannya, tapi Jungkook juga tidak mempermasalahkannya. Tapi, Jungkook baru tau kalau dunia luar itu menyenangkan, banyak hal-hal baru yang ingin ia pelajari.
"Ini pohon!" Jungkook menunjuk sebuah pohon rindang.
"Ini tiang listrik!"
"Bangku!"
"Mobil!"
"Ini ahjussi—"
"Hei nak, apa yang kau lakukan?"
Jungkook tersenyum lebar, menurunkan jari telunjuknya yang ia gunakan untuk menunjuk seorang pria paruh baya. "Tidak sedang melakukan apa-apa!" Jawabnya, melangkahkan kakinya senang dan pergi dari sana.
Hahh, kalau tau begini Jungkook yakin ia akan bisa mempelajari semua yang baru sendirian. Seharusnya Jungkook mengajak Taehyung bersamanya, sang mama pastilah akan bangga jika dia melontarkan banyak pertanyaan mengenai semua yang ada disini.
Ia tak tau kalau sampai hal itu terjadi, Taehyung lebih memilih untuk menyeret Jungkook pulang.
Sedang asyik bersenandung dan melihat-lihat, perhatian Jungkook jatuh pada seorang pemuda yang sedang berdiri di depan supermarket (sepertinya ia sudah bermain terlalu jauh). Jungkook mengernyit, pemuda itu tidak asing lagi baginya. Dia itu...
"Jimin?"
Kemudian Jungkook bisa melihat jelas seorang pemuda lain keluar dari supermarket, menghampiri Jimin dan membawa banyak sekali kantong belanjaan. Jungkook tidak mengenal pemuda itu, rambutnya hitam dan tingginya melebihi Jimin. Walau begitu, Jungkook merasa ada yang aneh, ketika ia melihat pemuda itu, ia seperti sedang melihat..
"JUNGKOOK!"
Terkejut, Jungkook buru-buru membalikkan tubuhnya dan menemukan Taehyung berlari menyusulnya. Seketika kedua mata Jungkook berbinar-binar, senang begitu tau Taehyung menyusulnya sampai kesini. "Taehyung?! Taehyung sudah berbicara lagi?!"
Taehyung langsung mengatur nafasnya begitu sampai di hadapan Jungkook. "Kau ini mau kemana eoh? Kenapa main sampai sejauh ini? Bagaimana kalau kau nyasar terus di culik? Aku mana bisa mencarimu karena identitasmu saja tidak jelas!" Omelnya, di sela-sela deru nafasnya yang belum teratur.
Jungkook tersenyum lebar. "Jungkook hanya ingin jalan-jalan saja! Oh iya, tadi Jungkook melihat Jimin!" Adunya, begitu bersemangat.
"Jimin?" Alis Taehyung hampir menyatu. "Dimana?"
"Tadi dia di—" Jungkook mengernyit begitu tidak ada lagi Jimin dan pemuda asing itu di tempat tadi mereka berdua berdiri. "Tadi mereka ada disana! Jungkook benar-benar melihat mereka berdua disana! Tepat disana!" Katanya ngotot, menunjuk-nunjuk ke arah supermarket.
Taehyung memutar bola mata. "Mungkin kau hanya salah lihat. Tapi tunggu, apa kau bilang 'mereka berdua'? Siapa yang bersama dengan Jimin?" Tanyanya penasaran.
Jungkook menurunkan jari telunjuknya, menoleh pada Taehyung kemudian menggeleng pelan. "Jungkook tidak mengenalnya, tidak pernah melihatnya juga sebelum ini. Tapi, Jungkook merasa seperti sedang melihat Taehyung saat Jungkook melihat pemuda tadi itu" Jelasnya, mengangkat tangannya untuk membentuk tanda peace. "Serius, seperti ada Taehyung di dalam dirinya" Lanjutnya lagi.
Pengakuan itu membuat Taehyung sedikit terkejut. Entah mengapa, yang muncul di dalam pikirannya adalah sosok kakaknya. Jangan-jangan Jungkook baru saja melihat kakaknya? Tapi bagaimana mungkin kakaknya bisa bersama dengan Jimin? Menurut Taehyung, mereka berdua tidak pernah bertemu sebelumnya, jadi mana mungkin tiba-tiba mereka bersama-sama bukan?
"Mungkin.. kau salah—"
"Jungkook melihatnya!" Potong Jungkook, dengan suara meninggi.
Taehyung kini benar-benar terkejut karena Jungkook membentaknya. Seumur hidup, ia baru kali di bentak seperti ini, apalagi dengan orang lain seperti Jungkook. Apa yang di katakan oleh Jungkook ini benar? Baru kali ini Taehyung melihat wajah serius dari seorang Jungkook, seolah-olah berkata kalau ia sangat serius dengan apa yang di lihatnya tadi.
Jungkook memajukan bibirnya. "Apa Taehyung tidak percaya?"
Ah, ternyata seriusnya hanya beberapa detik saja.
Taehyung tersenyum kecil. "Aku percaya. Kalau begitu kita pulang saja, bagaimana? Aku berjanji tidak akan diam lagi seperti mayat hidup" Ajaknya. Daripada membuat Jungkook semakin ngotot, lebih baik Taehyung melakukan cara ini.
"Benarkah?" Jungkook tersenyum lebar. "Janji?"
"Yeah" Taehyung mengangguk. "Janji"
.
.
.
.
"Sebal"
"Ne?"
Jungkook memajukan bibirnya. "Yoongi hyung tidak mengatakan kalau dia ingin datang kesini. Tapi sekarang, dia menghabiskan semua ramyun milik Jungkook!"
Taehyung memukul kepalanya menggunakan kain. "Jangan pelit begitu, kau juga jangan bertingkah seolah-olah kau ini adalah anak kecil yang masih harus di ganti popoknya. Astaga, mari kita sebut saja umurmu dua puluh dua tahun, okay?!"
"Sok tau sekali" Yoongi berkomentar.
Taehyung memutar bola matanya. "Hyung, berhentilah mencari gara-gara dengan Jungkook. Kau juga kenapa tidak memberi kabar mau datang kesini? Apa ini semua kejutan untukku?"
Yeah, mereka berdua memang dikejutkan dengan kedatangan Min Yoongi di rumah Taehyung. Sebelum ini, Taehyung memang berjanji akan membuat ramyun untuk Jungkook saat mereka dalam perjalanan pulang, namun ketika sampai di depan rumah, mereka menemukan sosok Yoongi yang sedang berdiri, menatap mereka dengan tatapan kau pikir berapa lama aku menunggu?!
"Aku ingin memastikan keadaanmu" Yoongi mengunyah ramyunnya. "Tapi saat aku datang kau malah sedang mengobrol seperti biasa dengan Jungkook. Syukurlah, setidaknya aku tidak jadi memakan Jungkook hidup-hidup, dia sudah membuatmu kembali normal" Lanjutnya, tanpa menatap Taehyung maupun Jungkook.
"Dasar kanibal" Jungkook nyeletuk.
"Apa?! Darimana kau belajar kata itu?!" Suara Yoongi meninggi.
"Hyung, apa kau mengenal Jimin?" Taehyung duduk di sebelah Yoongi, melerai pertengkaran mereka yang bisa saja menyebabkan perang dunia III. "Ingatanku benar-benar buruk, aku sama sekali tidak bisa mengingatnya dari sudut manapun. Tapi ketika bertemu, ia bertingkah seolah-olah kami ini berteman baik" Ceritanya.
Yoongi terdiam. "Aku kenal Jimin, tapi aku tidak tau hubunganmu dengan Jimin" Jawabnya, terkesan tidak peduli.
Taehyung terdiam sejenak, berpikir sesuatu. "Apa aku melewatkan hal yang seharusnya aku tau, hyung? Saat masa-masa sekolah dulu atau kejadian sebelum aku—"
"Kim Taehyung" Yoongi bersuara, meletakkan sepasang sumpit dengan rapi. "Tidak ada gunanya kau mengingat masa lalu. Aku sudah berusaha menceritakan semua yang pernah kau alami, jadi berhentilah bertanya oke?"
Mau tidak mau, Taehyung mengangguk pelan.
"Umm?" Jungkook tertarik dengan percakapan keduanya. "Memang kenapa? Kenapa Taehyung tidak boleh mengingat masa lalunya?" Tanyanya penasaran.
Keduanya tidak menjawab dan itu membuat Jungkook kesal. Taehyung dan Yoongi itu tidak ada bedanya ternyata, sama-sama menutup mulut jika Jungkook sudah melontarkan pertanyaan yang serius. Ayolah, Jungkook juga ingin mengerti, mengerti apa yang di lakukan oleh manusia-manusia normal pada umumnya. Dia juga kan ingin jadi dewasa, seperti orang-orang!
"Kenapa kalian diam huh?"
"Jungkook" Taehyung memandangnya tajam. "Aku akan memberitahukannya padamu, tapi tidak sekarang oke? Sekarang cepat habiskan makananmu itu dan jangan bicara apapun selagi makan!" Kembali jadi Taehyung yang biasa, suka memerintah seenaknya.
Namun, Jungkook memang paling tidak bisa membantah perintah sang mama.
Yoongi sudah selesai dengan mangkuk ramyun pertamanya. "Yah, Jungkook, apa aku boleh minta ramyunmu satu lagi? Rasanya lumayan juga" Pintanya.
"TIDAK"
Setelah itu, Taehyung langsung menahan tubuh Yoongi yang tiba-tiba ingin menusuk Jungkook menggunakan garpu di tangannya.
.
.
.
.
Taehyung memukul-mukul pelan kepalanya, berusaha mengingat apapun yang memang seharusnya ia ketahui.
Kecelakaan.
Taehyung pernah mengalami apa itu yang namanya kecelakaan, saat ia sedang liburan bersama keluarganya beberapa tahun yang lalu, tepat saat ia baru lulus sekolah. Kecelakaan itu membuatnya trauma, menyebabkan ibu dan ayahnya meninggal di tempat, membuat dirinya juga melupakan momen-momen penting di dalam hidupnya; amnesia. Ya, Taehyung mengalami amnesia saat ia terbangun dari koma, membuat sang kakak panik setengah mati, ia tak ingat namanya sendiri, tidak ingat kakaknya, tidak ingat apapun.
Semua hal yang ia ketahui itu kebanyakan di beritahu oleh Yoongi dan kakak laki-lakinya, jadi Taehyung sendiri tidak tau apakah cerita yang mereka beritahu benar-benar terjadi atau tidak. Tentang masa kecilnya, kasih sayang orang tuanya, Taehyung hanya bisa mengingatnya dengan samar-samar, yang ia tau adalah kakaknya sangat sayang padanya, hingga akhirnya menghilang.
Jungkook menghampiri Taehyung, duduk di samping pemuda itu kemudian ikut memukul-mukul pelan kepalanya.
"Kau sedang apa?" Taehyung menoleh.
Jungkook dengan lugu ikut menoleh. "Mengikuti Taehyung"
"Haaahh" Taehyung memutar bola matanya, menghela nafas panjang lalu merebahkan dirinya di atas kasur (Posisi mereka sedang ada di tepi ranjang). "Jungkook, bagaimana rasanya tidak bisa mengingat apapun di masa lalu?" Tanyanya pelan, memandang langit-langit kamar.
"Mengingat masa lalu?" Jungkook ikut merebahkan dirinya di samping Taehyung. "Tidak tau, memangnya apa yang Taehyung lupakan? Jungkook tidak mengingat apapun, Jungkook hanya ingat saat Taehyung menemukan Jungkook di dalam sana!" Katanya, menunjuk telur Jungkook yang entah bagaimana sudah ada di kamar lagi (Jangan lupakan kebiasaan Jungkook).
Taehyung memutar bola mata. "Terkadang aku masih berpikir kalau kedatanganmu dari telur aneh itu hanyalah mimpi belaka. Bagaimana tidak? Di dunia nyata, ada sebuah telur ajaib yang datang dan mengeluarkan dirimu, aku pikir aku sudah gila pada awalnya"
Jungkook diam, mulai mendengarkan cerita Taehyung.
"Soal kertas itu, aku sampai lupa dimana meletakkannya! Bagaimana aku bisa—eum, lewatkan saja bagian ini. Bagaimana masa depanmu nanti jika kau tidak punya marga, tidak tau tanggal lahir dan segala identitas tentang dirimu? Bahkan kau belum membuat kartu pengenal! Astaga, dari sekian banyak orang di dunia, kenapa harus aku yang merawatmu?" Katanya, frustasi.
"Umm, mungkin karena Taehyung orang yang spesial?"
"Spesial bagaimana?" Taehyung mengernyit bingung.
Jungkook menoleh, memandang wajah kebingungan itu. "Mungkin saja Jungkook datang karena ingin menemani Taehyung. Selama ini Jungkook selalu melihat Taehyung sendirian, kesepian, tinggal sendiri pula! Bisa saja karena hal itu seseorang mengirim Jungkook kesini, kan kasihan juga kalau Taehyung selalu besama Yoongi hyung, bisa cepat tua"
Mendengar kalimat terakhir, Taehyung tertawa. "Kalau sampai Yoongi hyung mendengarnya, kau pasti akan di marahi"
"Biarkan saja, Yoongi hyung menyeramkan"
Taehyung tidak akan pernah tau kapan Yoongi dan Jungkook bisa berdamai.
Ngomong-ngomong soal kakaknya, Taehyung jadi kepikiran lagi tentang pemuda yang Jungkook lihat sedang bersama dengan Jimin. Dia rindu sekali dengan kakaknya yang idiot itu, seenaknya saja membuatnya menanti terlalu lama kemudian menghubunginya singkat begitu, tanpa meminta mereka untuk bertemu. Andai saja Taehyung bisa membenci kakaknya, ia pasti sudah mendoakan agar kakak kesayangannya itu mati dengan segera.
Dimana dia harus mencari kakaknya? Dia tidak yakin usahanya akan berhasil.
Apa kakaknya sudah menikah? Sudah memiliki anak? Apa istrinya cantik? Apa anak-anaknya lucu dan mirip sepertinya? Ah, Taehyung semakin rindu saja. Semakin dirinya berandai-andai, semakin pula ia merindukan sosok itu, jadinya serba salah.
Taehyung mendengus, apa yang harus ia lakukan?
.
.
.
.
Jimin mengedarkan pandangannya, memastikan tidak ada yang tau keberadaannya di dalam ruangan itu. Jika kalian bertanya apa yang sedang ia lakukan, jawabannya mudah; mengendap-endap ke kamar sang kakak untuk mencari informasi-informasi penting. Sebenarnya Jimin paling malas kalau sudah berlagak seperti pencuri, tapi mau bagaimana lagi? Ia butuh informasi lengkap tentang kakaknya.
Sepertinya pemuda idiot itu sedang keluar. Jimin menghela nafas lega, membuka laci dan lemari tanpa ragu-ragu.
Disana banyak berkas-berkas yang tidak ia ketahui, ada juga beberapa buku bacaan, seperti novel, pelajaran, sejarah dan lain sebagainya. Jimin mendengus, kenapa pemuda itu berantakan sekali? Apa tidak bisa memisahkan buku tanpa harus menumpuknya begini?
Tak lama kemudian, Jimin tersenyum, menemukan satu berkas tebal dengan map berwarna biru tua. Dengan gerakan cepat, Jimin membawa dirinya keluar dari kamar itu dan pergi ke kamarnya sendiri. Tak lupa mengunci pintu kamar, Jimin langsung duduk di atas ranjangnya kemudian membuka berkas-berkas itu secepatnya.
Pada halaman pertama, tertulis akte kelahiran. Jimin tersenyum miring, bukan hal mengejutkan lagi membaca semua yang ada disana.
Pada halaman kedua, ada surat-surat yang tidak ia ketahui, Jimin mungkin harus menyimpannya.
Pada halaman ketiga—
"Jika bukan aku yang menghancurkan rencana ini, siapa lagi? Untuk Taehyung, aku akan melakukan segalanya" Jimin berkata pelan, namun benar-benar bertekad kuat dan serius dengan kalimatnya. Kedua tangannya terkepal erat, apa yang tidak bisa ia lakukan jika itu untuk membantu Taehyung? Jimin akan melakukan segala-galanya, karena Taehyung itu sangat berarti baginya.
.
Halaman pertama; Kim Bo Gum —berganti, Park Bo Gum.
Halaman kedua; surat yang di tulis tangan oleh sang kakak 'angkat'.
Halaman ketiga; sebuah foto keluarga; Ibu, Taehyung, Bo Gum, Ayah —tertulis di belakang foto.
.
.
.
Taehyung membuka matanya perlahan, cahaya matahari sudah menerangi kamar tidurnya. Bahkan saat melirik jam, waktu sudah menunjukkan pukul delapan pagi (Untung Yoongi tidak menginap). Astaga, apa ia ketiduran semalam? Setelah bercerita dengan Jungkook dan memikirkan sang kakak? Menyebalkan, Taehyung jadi tidak bisa menghidup udara pagi hari.
Saat ingin bangun, Taehyung merasa sesuatu yang berat menimpa dadanya.
"OH—" Taehyung langsung menutup mulut menggunakan kedua telapak tangannya, hampir saja ia keceplosan berteriak. Kenapa dia bisa tertidur di dalam pelukan Jungkook? Kenapa juga anak ayam itu tidak pindah ke kamar lain dan tidak tidur satu ranjang dengannya? Mau berteriak percuma, hanya akan menyebabkan Jungkook terkejut, terbangun dan kemudian menangis.
Rasanya, mau di bilang anak ayam pun aneh, mana ada anak ayam mempunyai lengan berotot begitu? Mungkin kalau Taehyung punya penyakit asma, dia akan langsung kehabisan oksigen lalu mati di tempat.
"Jungkook" Panggil Taehyung pelan. "Bangun! Berat tau!"
Tidak ada jawaban.
"Jungkooook? Hellooooo?"
Masih tidak ada jawaban. Jangan-jangan—
"Masih bernafas kok" Taehyung menghela nafas lega saat mengecek hidung Jungkook menggunakan jari tangannya. "Selain punya nafsu makan besar, ternyata anak ini sulit sekali untuk dibangunkan. Lalu mau sampai kapan aku seperti ini? Lengannya berat sekali dan kakiku—uh, ia bahkan menganggapku sebagai pengganti guling" Cibirnya, menyadari bahwa kedua kakinya juga tidak bisa di gerakkan.
Taehyung jadi berpikir, bagaimana kalau waktu itu Yoongi melihat keadaan mereka seperti ini? Mungkin tanpa pikir panjang teman kesayangannya itu langsung menelpon pihak berwajib atas kasus pelecehan. Memikirkan itu, Taehyung jadi tertawa sendiri.
Pemuda itu mendongak, menatap wajah tidur Jungkook yang terlihat damai sekali, seperti anak kecil polos tak tau apa-apa, sangat berbeda dengan kenyataannya. Taehyung diam, apa benar laki-laki di hadapannya itu yang akan menjadi masa depannya? Akan menjadi suami masa depannya? (Yah! Kalian jangan tertawa) Apa yang bisa di lakukan laki-laki ini? Sekarang saja hanya bisa bertingkah seperti anak kecil berumur lima tahun.
Oh tidak, jangan bilang kalau Taehyung mulai jatuh cinta? Yang benar saja, kenapa Jungkook?!
Semakin lama ia menatap wajah Jungkook, semakin cepat pula detak jantungnya. Taehyung melebarkan matanya, kenapa juga kedua pipinya harus memanas sampai ke telinga? Ia langsung menyadari sesuatu, mereka yang belum mempunyai status apa-apa justru tinggal bersama, mandi bersama, jalan-jalan, bahkan Taehyung juga sudah melihat—ehem, terong. Ini lucu sekali, Taehyung jadi ingin lompat dari tebing tinggi.
"Taehyung?"
Jungkook membuka matanya perlahan, menguap lebar (Taehyung langsung menutup hidungnya), kemudian menatap Taehyung. "Sudah pagi ya? Kenapa Jungkook bisa tertidur disini?"
Tuh. Apa yang bisa Jungkook lakukan?
Taehyung memutar bola mata. "Seharusnya aku yang bertanya, kenapa kau tidur seperti ingin menghancurkan tubuhku? Cepat menyingkir! Kau pikir lengan dan kakimu itu ringan huh?"
Jungkook menggeleng. "Mau begini saja, sampai malam lagi" Tolaknya.
"WHAT?" Taehyung hampir saja meninju wajah Jungkook. "Enak saja kau berkata seperti itu! Aku lapar, mau membuat sarapan! Apa kau tidak lapar? Kita bangun kesiangan pagi ini" Katanya, berusaha melepaskan kedua tangan Jungkook yang semakin erat saja memeluk tubuh kurusnya.
Anak ayam berotot, julukan yang sangat pantas untuk Jungkook.
"Jungkook—"
Chu~
Keadaan langsung hening bagaikan kuburan. Jungkook tersenyum lebar, melihat kedua mata Taehyung yang membulat secara sempurna. "Meskipun Taehyung terkadang lebih galak daripada Yoongi hyung, Jungkook tidak akan meninggalkan Taehyung sampai kapanpun!" Katanya, terlihat bersemangat dan berapi-api. "Taehyung bisa pegang janji itu~"
Taehyung masih terdiam, berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi. Okay, mari kita putar balikkan waktu; Jungkook baru saja mencium Taehyung tepat dikeningnya dan ia malah tersenyum lebar seakan-akan tidak melakukan hal apapun. Okay, mari kita ulangi lagi; Jungkook yang semakin dewasa ternyata sangat berbahaya bagi Taehyung, anak ayam itu akan berubah menjadi serigala pervert sebentar lagi.
"Yah!" Taehyung memberikan tatapan tajamnya. "Kenapa kau menciumku?!"
"Kenapa? Jungkook hanya mengikuti film-film yang Taehyung lihat kemarin-kemarin~ Kalau seseorang menyayangi satu orang lagi, maka ia akan selalu melakukan hal-hal seperti ini~ Iyakan? Jungkook benarkan?" Tanyanya, dengan tatapan lugu.
Taehyung mendengus. "Minggir sana! Kau masih idiot dan tidak tau apa-apa!"
Mau tidak mau Jungkook menurut, menyingkirkan tangan dan kakinya dari tubuh Taehyung. Tidak memajukan bibir seperti biasa, Jungkook malah ikut turun dari kasur dan berencana mengikuti kemanapun mamanya itu pergi. Namun sayang—
"Heh?! Mau kemana? Mandi dulu baru kau boleh mengikutiku!" Begitu kata Taehyung, memberi tatapan tajam sebelum akhirnya menghilang di balik pintu.
Jungkook? Hanya bisa menurut saja.
.
.
.
.
Karena masih dalam status pengangguran, Taehyung hanya bisa menghela nafas. Dia sangat bosan, ingin sekali melakukan pekerjaan yang menghasilkan uang, bukannya seperti saat ini, menyiram bunga-bunga di halaman rumahnya karena hampir mati (Salahnya sendiri, terlalu malas merawat tanaman-tanaman yang ada disana, padahal tidak terlalu besar).
Dan lagi, bukannya membantu, Jungkook justru duduk di hamparan rumput kering, sibuk mengisi pot bunga kosong dengan tanah dan bunga baru. Taehyung tidak keberatan sih, setidaknya rumahnya akan tampak hidup jika banyak tanaman dan bunga-bunga.
"Taehyung, ini apa?"
Taehyung menoleh, raut wajahnya berubah begitu tau Jungkook sedang memegang cacing tanah. "Cepat letakkan itu kembali! Jangan di pegang! Itu cacing, cacing tanah" Jawabnya, merasa geli saat melihat Jungkook yang malah meletakkan cacing itu di telapak tangannya. "Jungkook, apa kau tidak dengar? Cepat buang hewan menggelikan itu!"
Jungkook memajukan bibirnya. "Baiklah" Kemudian meletakkan cacing itu di dalam salah satu pot bunga disana.
Melihat itu, Taehyung meringis jijik sendiri. Itu baru cacing, bagaimana kalau Jungkook di ajak ke kebun binatang? Bisa-bisa anak ayam raksasa itu membawa pulang gajah atau orang utan disana. Mungkin Taehyung harus sabar, tapi mau sabar sampai kapan?! Bisa-bisa sampai ia menikahpun, Jungkook belum juga tumbuh dewasa seperti yang ia harapkan!
"Jungkook, tolong ambilkan satu karung pupuk di dalam gudang sana" Taehyung menunjuk arah dimana sebuah gudang kecil berada. "Hanya pupuk saja, bentuknya seperti tanah tapi jangan pernah kau cium baunya" Lanjutnya lagi.
"Kenapa?"
Taehyung menghela nafas. "Aku akan jelaskan nanti. Cepatlah, aku butuh itu untuk semua tanaman menyebalkan ini, mereka tidak akan hidup tanpa pupuk itu" Balasnya, dengan wajah malas.
Jungkook langsung menurut, berlari menuju gudang yang sudah diberitahu oleh Taehyung. Jungkook tidak ingin tanaman-tanaman disana layu dan kemudian mati, karena menurutnya rumah Taehyung akan terlihat lebih indah jika bunga-bunga dan tanaman lainnya menghiasi.
Setelah kepergian Jungkook, Taehyung melempar selang air yang ada di genggamannya, menghela nafas dan langsung menghempaskan bokongnya di hamparan rumput. Lelah sekali, padahal baru satu jam menyiram tanaman, tapi rasanya seperti berdiri selama lima jam. Berlebihan? Biar saja, Taehyung jarang berolahraga, mungkin itu alasan ia cepat sekali lelah.
Terserah dia sajalah.
Taehyung memandang keluar gerbang rumahnya, barangkali ada sesuatu yang bisa membuat rasa lelahnya menghilang. Tapi kenyataannya, tidak ada apa-apa di depan rumahnya itu, hanya ada nenek-nenek alias tetangganya yang baru saja pulang belanja, sepertinya. Pemuda itu menghela nafas, kenapa dia harus hidup sendiri (jika Jungkook tidak di hitung) dan tinggal di lingkungan orang-orang pensiun? Geez, masa dia mau bermain dengan kumpulan orang lansia? Tidak seru!
Saat ingin mengalihkan pandangannya, Taehyung secara tidak sengaja melihat seorang pemuda menghampiri bibi Lee (Tetangganya yang sudah nenek-nenek itu). Kedua mata Taehyung menyipit, berusaha memfokuskan pandangannya pada pemuda yang saat ini membantu bibi Lee membawa semua barang belanjaannya ke dalam rumah.
Seketika, kedua mata Taehyung terbelalak lebar.
"H-hyung?!"
Tanpa memakai alas kaki, Taehyung langsung berlari menuju rumah bibi Lee yang letaknya berada di sebrang rumahnya. Seperti mimpi, jantung Taehyung berdetak sangat cepat. Dia yakin kalau pemuda itu adalah kakaknya! Ya, kakaknya! Wajah itu, tubuh itu, senyum itu, semuanya tidak berubah sama sekali! Taehyung senang, ia senang bukan main karena sebentar lagi ia akan bertemu dengan kakak kandungnya!
Kemudian ia melihat pemuda yang tadi berjalan keluar dari pintu rumah bibi Lee. Taehyung semakin mempercepat langkahnya, bahkan senyuman itu berubah menjadi senyuman lebar penuh rasa lega dan bahagia.
"Bogum hyung!"
Pemuda yang ia panggil Bogum terkejut, melihat Taehyung yang berlari ke arahnya. Bukannya memasang ekspresi yang sama senangnya, justru Bogum malah memberikan ekspresi aneh, seperti tidak ingin Taehyung datang kepadanya. Tanpa berkata apapun, Bogum langsung berlari, meninggalkan sosok Taehyung yang hampir sampai di tempatnya berdiri.
Taehyung terkejut juga, ia langsung menoleh tepat kemana sang kakak melangkah. "Bogum hyung! Tunggu! Aku ini—"
"Taehyung!"
Dari sebrang sana juga, Jungkook memanggilnya, anak ayam itu tersenyum lebar sambil memperlihatkan satu karung pupuk organik yang baru saja ia ambil. Jungkook ingin memperlihatkan kepada Taehyung kalau ia kuat mengangkat satu karung itu menggunakan satu tangannya, mungkin dengan itu, Taehyung akan berhenti menganggapnya sebagai anak ayam yang baru menetas.
Taehyung menoleh ke arah Jungkook, namun ia menoleh lagi ke arah Bogum. Duh, kenapa dia malah kebingungan begini?!
"Jungkook, tunggu disana!" Taehyung berteriak. "Aku mau pergi dulu! Pokoknya tunggu saja disana!" Teriaknya kepada Jungkook. Untungnya suasana perumahan itu sangat sepi, mungkin karena orang-orang sibuk dengan kegiatannya masing-masing.
Jungkook tidak mengerti, ia melihat Taehyung yang berlari meninggalkannya. "Taehyung! Jungkook ingin ikut!"
Dengan polosnya, Jungkook ikut berlari menyebrangi jalan, berniat mengikuti kemana Taehyung akan pergi. Namun sayang, baru saja keluar dari pagar rumah, Jungkook dengan cerobohnya tersandung bagian jalan yang tidak rata, akibatnya pemuda itu jatuh tersungkur dengan satu karung pupuk yang masih berada di tangannya. Hasilnya? Jungkook terjatuh, wajahnya menghantam aspal dan pupuk itu bertebaran kemana-mana.
Taehyung memberhentikan langkahnya, ia menoleh ke belakang dan menemukan Jungkook jatuh dalam posisi konyol. Astaga, apa yang sedang anak ayam itu lakukan?! Bagaimana bisa hal seperti ini terjadi disaat ia harus mengejar sang kakak?! Apa sebaiknya Taehyung kembali berlari saja?!
"Bogum—" Taehyung langsung terdiam, tidak menemukan sosok kakaknya dimanapun. Jalanan itu sudah kembali sepi, hanya ada mobil pengangkut sampah yang melajukan mobil ke arahnya.
Dia kehilangan kakaknya.
"Arrghh!" Taehyung mengacak-acak rambutnya frustasi. Kenapa kakaknya menghindarinya? Apa jangan-jangan Taehyung salah orang? Tapi tidak mungkin! Wajah itu benar-benar sama dan sepertinya orang itu mengenal Taehyung, jadi siapa lagi kalau bukan kakaknya?!
Mau tidak mau, Taehyung kembali berlari ke arah rumahnya, menghampiri Jungkook yang kini sedang membersihkan wajahnya dari pupuk.
"Kenapa bodoh sekali sih? Sudah aku bilang kau hanya perlu diam!" Suara Taehyung meninggi. "Lihat! Hidungmu berdarah, pipimu terluka! Astaga, sampai kapan kau bertingkah begini?! Jadilah dewasa sedikit!" Omelnya, menghapus darah segar yang keluar dari hidung Jungkook. Panik dan khawatir, semua itu bercampur aduk di dalam diri Taehyung.
Jungkook tersenyum lebar. "Jungkook sudah dewasa—AHH!" Cengiran itu berubah menjadi ringisan karena Taehyung menekan hidung Jungkook keras-keras.
Taehyung tertawa meledek. "Jadi ini yang namanya sudah dewasa? Semua tingkahmu membuatku hampir gila! Kau tau? Tadi aku hampir saja bertemu lagi dengan kakakku jika saja kau tak mengalami hal bodoh ini, aku hampir saja bisa memeluk lagi kakakku jika saja kau tidak terjatuh seperti ini, kau tau? Aku hampir saja—"
Tidak sempat melanjutkan kalimatnya, Jungkook sudah menarik Taehyung ke dalam pelukannya.
"Jangan menangis" Jungkook berkata pelan, mengelus rambut Taehyung yang terasa sangat halus. "Taehyung itu adalah orang yang kuat, Jungkook selalu ada disini untuk menemani Taehyung" Lanjutnya lagi, tidak perduli kalau sebenarnya Taehyung sedang protes dalam hati. Mengapa? Pakaian dan tubuh Jungkook itu kotor! Pakaiannya jadi ikut-ikutan kotor karenanya!
"Siapa yang menangis?!" Taehyung menghapus air matanya. "Cepat lepaskan aku! Kau membuatku harus mandi lagi setelah ini! Lihat pakaian dan wajahmu! Kau membuat semua pekerjaan berantakan!" Omelnya, berusaha melepaskan pelukan Jungkook.
Jungkook melepaskan pelukannya, tapi kemudian ia memajukan bibirnya. "Sakit~" Rengeknya, menunjuk hidungnya yang masih saja mengeluarkan darah segar.
"Makanya! Cepat masuk dan aku akan mengobati wajahmu!"
Apa yang Taehyung butuhkan selain Jungkook? Apa yang Jungkook butuhkan selain Taehyung? Bahkan dengan mudahnya, Taehyung melupakan peristiwa terpenting dalam hidupnya, yaitu membiarkan kakaknya pergi begitu saja (Padahal bisa saja Taehyung mengejar sang kakak dan mereka akan bertemu kembali). Dan dengan mudahnya pula, Jungkook melupakan rasa sakit di wajahnya, justru sangat senang karena kini Taehyung menggandeng tangannya untuk buru-buru masuk ke dalam rumah.
Mereka saling membutuhkan.
.
.
.
.
Brak!
Jimin terkejut, menemukan sosok laki-laki yang membuka pintu secara kasar, bahkan pakaiannya terlihat acak-acakkan, seperti habis di kejar-kejar polisi. Tapi begitu tau siapa yang datang, Jimin langsung mendengus, kembali fokus pada siaran televisi di hadapannya.
"Dia menemukanku"
"Apanya?"
Park Bogum, dengan terengah-engah duduk di sebelah Jimin. "Aku seharusnya tak melakukan hal ceroboh. Taehyung menemukanku dan dia hampir mendapatkanku. Sekarang, rencana yang sudah aku susun dengan rapi kini berantakan semuanya! Apa yang harus aku lakukan?!" Katanya, terdengar sangat frustasi sekaligus kelelahan, nafasnya belum teratur.
Jimin menoleh, kedua matanya melebar. "Taehyung melihatmu?! Bagaimana reaksinya?!"
"Tentu saja terkejut, sama sepertiku" Bogum menyandarkan tubuhnya. "Hanya saja, rasa terkejut kami mempunyai makna yang berbeda. Sekarang apa yang harus aku lakukan? Menyusul rencana dari awal?" Tanyanya, memandang langit-langit ruangan.
Mendengar itu, Jimin langsung terdiam. Taehyung sudah tau kalau kakaknya masih hidup, bukankah itu berarti secepat mungkin, Taehyung akan mencari keberadaan kakaknya? Jimin sudah yakin akan hal itu, ia juga yakin Taehyung akan meminta bantuan Yoongi dan pemuda asing di rumahnya, kalau tidak salah ingat, namanya adalah Jungkook. Yeah, Jungkook.
Ah, Jimin sangat tau apa yang harus ia lakukan sekarang.
Dia akan membantu Taehyung. Benar, Jimin akan membuat rencananya sendiri, menghancurkan rencana Bogum, menghancurkan keinginannya untuk merebut apapun yang Taehyung miliki. Kim Taehyung, orang yang dulu Jimin sukai secara diam-diam, orang yang telah melupakannya begitu saja karena amnesia yang di alaminya, orang yang sangat penting hingga Jimin terus memikirkannya setiap waktu.
Niatnya sudah bulat, kedua tangannya terkepal.
"Jimin, apa kau punya ide?"
Jimin menoleh, tersenyum aneh pada Bogum. "Sayangnya, tidak"
Karena Jimin tidak mau membantu kakaknya untuk menghancurkan hidup Taehyung lebih dalam lagi.
Bersambung
Untuk yang masih bingung, chapter depan akan aku jelaskan kenapa Bogum bisa jadi kakaknya Jimin dan kenapa dia mau menghancurkan Taehyung :) Oh iya, penulisan nama Bogum itu Bo-gum, tapi kerena ribet jadi aku gabungin aja haha.
A/N : Apa chapter ini membosankan? Maafkeun kalau begitu, karena cerita ini sudah mulai fokus ke masalah kehidupan Taehyung, jadi momen-momen menggemaskan Jungkook-Taehyung aku kurangi dulu, semoga tidak mengecewakan para pembaca sekalian :)
Sudah jelas ya, Jungkook itu SEME dan Taehyung itu UKE. Mungkin sebentar lagi anak ayam kesayangan kita bakalan berubah, jadi power ranger /LOL JK/
Terima kasih banyakkk buat yang selalu memberi komentar positif untuk fiksi anehku ini :( Buat yang baru review, cuma sekedar favorite/follow, atau bahkan yang cuma baca, pokoknya aku ucapkan terima kasih banyakk, maaf kalau cerita ini jadinya tidak memuaskan :( Aku juga engga enak karena lama update, kalian jadi terroris dadakan /wkwk/. Aku bakal berusaha keras!
Semangat buat kalian yang besok Ujian Nasional! Semoga hasilnya memuaskan okay? /wink/
