THANKS FOR REVIEW:)

sorry for typo.


previous Chapter

Sehun menatap sahabatnya dengan serius. Mengalah? Atau secara perlahan harus menusuk Jongin dari belakan? Menjadi musuh dalam selimut.

Sehun masih belum percaya jika Kyungsoo yang membuatnya tersenyum adalah gadis yang menjadi teman sekaligus orang yang disukai Jongin –walaupun dia belum menyadari perasaannya sendiri- tapi Sehun bisa melihatnya dari tatapan mata Jongin yang berbeda saat menatap Kyungsoo.

"Kau kenapa Oh Sehun?!" teriak Jongin tepat ditelinga Sehun. Sehun tersentak dan refleks menutup kedua telinganya.

"Kim Jongin itu tidak lucu!" kata Sehun kesal. Sementara Jongin hanya senyum-senyum sendiri. Lucu saat melihat sahabatnya ini marah. Rasanya dia ingin mencubit hidungnya sama seperti dia mencubit hidung Kyungsoo. Kyungsoo? Kenapa gadis itu terus menerus berada dipikiran Jongin?

"Wajah mu lucu sekali." Kata Jongin sambil tertawa. Tapi Sehun tidak menanggapinya dia masih memikirkan Kyungsoo. Kyungsoo yang membuatnya tersenyum saat pertama kali mereka bertemu. Kyungsoo teman barunya Jongin, gadis yang kemungkinan besar dicinta oleh Jongin dan juga Sehun.

"Kenapa harus Kyungsoo yang sama?" Tanya Sehun dalam hatinya.

.

.

.

Cast in This Chapter : Do Kyungsoo (girl), Kim Jongin,
Byun Baekhyun (girl), Kim Minseok (girl), Kim Jongdae, Oh Sehun,
Park Chanyeol, Krystal. Kim Joonmyun (numpang nama)

.

CHAPTER 7


"Itu pasti Krystal dan dua dayangnya." Kata Baekhyun setelah mendengar cerita Kyungsoo.

"Yah dia memang menyebutkan namanya Krystal. Siapa dia?" Tanya Kyungsoo.

"Krystal adalah satu-satunya gadis yang berani mendekati Jongin. Tapi aku tidak tau statusnya dengan Jongin seperti apa. Tapi setelah mendengar cerita mu, aku sepertinya percaya jika dia tunangannya Jongin karena dia tidak pernah takut pada Jongin dan terkadang Jongin hanya diam jika Krystal menggelayuti tangannya." Jelas Xiumin. Kyungsoo diam. Sepertinya dia benar-benar ingin melenyapkan satu kata itu. 'tunangan'. Kata itu benar-benar sangat mengganggunya.

"Kau kenapa Kyung?" Tanya Baekhyun saat menyadari raut kesedihan diwajah cantik Kyungsoo. Kyungsoo menggelengkan kepalanya. Dia sendiri tidak tau kenapa dia sekarang. Cemburu mungkin…

"Kau benar-benar menyukai Jongin?" tanya Xiumin, yang sukses membuat Kyungsoo membulatkan kedua mata owlnya.

"Hah? Menyukainya? Dia hanya teman, mana mungkin aku menyukainya." Kata Kyungsoo. Namun kedua sahabatnya itu tak percaya begitu saja.

"Jangan bohong Kyungsoo." Kata Baekhyun.

"Tidak, aku tidak menyukainya, sungguh." Jawab Kyungsoo. Kyungsoo mengatakan hal seperti itu hanya ingin membohongi dirinya sendiri bahwa dia tidak menyukai Kim Jongin.

"Dari awal kau bertemu dengannya kau sudah menyukainya Kyungsoo. Apa kau lupa?" kata Xiumin sambil mengingat awal pertemuan Kyungsoo dengan Jongin. Gadis itu begitu keras kepala ingin mengenal sosok Kim Jongin walaupun Chen dan Baekhyun sudah melarangnya.

"Kau mau menyangkalnya lagi?" Tanya Baekhyun. Kyungsoo terdiam.

"Aku mohon jangan katakan ini pada siapa pun. Apalagi pada Jongin, aku takut dia membenciku jika tau aku menyukainya." Kata Kyungsoo. Baekhyun memeluk Kyungsoo.

"Tentu saja. Kau tak perlu takut. Krystal belum tentu juga tunangannya Jongin. Kau masih punya harapan." Kata Xiumin. Padahal tadi dirinya sendiri yang mengatakan dia percaya bahwa Krystal itu tunangannya Jongin. Dasar labil!

"Ngomong-ngomong wajah mu merah." Kata Baekhyun sambil menunjuk pipi Kyungsoo.

"Aish jangan menggoda ku." Setelah itu ketiga gadis itu tertawa.

Setitik harapan selalu menjadi penyemangat kecil untuk bisa terus berusaha mendapatkan sesuatu yang kita inginkan.
Walaupun akhirnya kita tak mendapatkannya tapi kita tak akan pernah menyesal karena kita sudah berusaha meraihnya
-"


"Dari mana saja kau Kim Jongin?" Tanya ayah Jongin saat melihat anak bungsunya itu baru saja memasuki rumah. Jongin menghentikan langkahnya lalu tersenyum kecut pada ayahnya.

"Memangnya sejak kapan appa peduli pada ku?" Tanya Jongin sengit. Lebih sengit dari tatapan seekor macan yang menatap mangsanya.

"Semakin dewasa tingkah mu malah seperti anak kecil. Aku tidak mengerti apa yang kau mau sebenarnya." Kata ayah Jongin sedikit menurunkan nada bicaranya. Namun lebih menyakitkan dihati Jongin.

"Appa tidak usah membanding-bandingkan aku dengan seseorang yang tidak pantas menjadi saingan ku. Itu keinginan ku." Kata Jongin tajam. Ayah Jongin membulatkan kedua matanya, menatap tajam anak bungsunya seolah-olah ingin menelannya hidup-hidup.

"Joonmyun memang seharusnya patut untuk kau tiru. Dia anak yang baik tidak pernah melawan orang tua."

"Yah tentu saja. Suho memang selalu baik dimata kau Kim Sajangnim." Kata Jongin sambil menekankan kata Sajangnim. Jongin tersenyum, senyum yang membuat semua orang mengaguminya. Namun tidak untuk saat ini, senyum itu membuat ayah Jongin merasa diremehkan oleh anaknya sendiri.

"Jongin masuk ke kamar mu! Setiap hari hanya membuat ayah mu marah . apa kau tidak kasiah pada kami, orang tua yang membesarkan mu? Apa mau mu sebenarnya?" kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut ibu Jongin yang baru saja memasuki ruangan tak bertuan yang sudah dipenuhi aura kemarahan dari Jongin dan juga ayahnya.

Jongin mengepalkan kedua tangannya. Sampai kapan akan seperti ini? Dia benci keadaan menegangkan yang dia ciptakan sendiri. Jongin ingin seperti dulu merasakan suasana rumah yang penuh dengan kasih sayang dan canda tawa.

"Sampai kapan kalian bisa melihat ku sebagai diri ku sendiri? Bukan Suho hyung!" Kata Jongin lalu pergi meninggalkan kedua orang tuanya yang menahan amarah kepadanya.

"Arrrgggh!" teriak Jongin kesal. Dia benci kedua orang tuanya. Dia benci Suho, dia benci dirinya sendiri. Inilah yang membuat Jongin menjadi sosok seperti sekarang, menakutkan, pemarah, berandal. Faktor keluarga mendukungnya untuk tetap menjadi Jongin yang sekarang.

Sebenarnya tak pernah sedikitpun terlintas dipikirannya jika dia akan berubah sedrastis ini, tapi memang perubahan itu yang membuat dia bisa merasakan sesuatu yang berbeda, dan bisa menghilangkan kejenuhan serta beban hidup yang dia tak bisa tanggung sendiri. Terlalu berat bahkan Jongin tak mau memikulnya.


"Good morning Kai." Sapa Kyungsoo saat sampai diatap sekolah. Jongin meliriknya sekilas kemudian melanjutkan lagi aksi merokoknya yang gencar sedari pagi dia lakukan.

"Kai berapa banyak rokok yang sudah kau hisap?" Tanya Kyungsoo saat melihat ada beberapa puntung rokok didepan laki-laki itu. jongin tak menggubrisnya dia masih tetap melanjutkan kegiatannya. Kyungsoo mengerutkan keningnya bingung dengan apa yang temannya ini lakukan.

"Ada apa dengan mu Kai? Ada masalah? Kau bisa cerita pada ku." Kata Kyungsoo sambil mengelus pundak Jongin. Jongin menundukan kepalanya. Batang rokok yang depegangnya jatuh seketika. Kyungsoo yakin, pasti Jongin tidak dalam keadaan baik-baik saja

"Kai…"

"Aku lelah. Aku ingin tidur." Kata Jongin lalu menyenderkan kepalanya dibahu Kyungsoo. Kyungsoo kaget dibuatnya, namun jika itu bisa membuat Jongin tenang dia siap menghabiskan waktu seumur hidupnya menjadi sandaran untuk seorang Kim Jongin.

Kyungsoo menatap jongin dengan seksama. Kalau saja Jongin adalah pangeran tidur, Kyungsoo sangat ingin menjadi putri yang akan membangunkannya-_-

Sudah lebih dari setengah jam Jongin tertidur bahkan Kyungsoo pun bolos pelajaran pertama demi menemani pemuda itu. tapi tak apa, Jongin lebih membutuhkannya untuk saat ini. Walaupun rasa pegal sudah menjalar sedari tadi, tapi Kyungsoo masih tetap ingin bertahan, dia sama sekali tak ingin bergerak sedikit pun karena takut membangunkan Jongin. Jongin terlihat sangat lelah.

"Seberat apapun beban hidup mu, aku harap kau bisa membaginya dengan ku Kai. Aku tau kau kuat, kau pasti bisa bertahan. Walaupun aku tak tau apa masalah yang sedang kau hadapi." Kata Kyungsoo sambil menatap jongin sedih. Tiba-tiba Jongin terbangun lalu menatap Kyungsoo, tatapan yang sangat mendalam. Kyungsoo, gadis ini bisa membuatnya tenang walaupun bebannya tak bisa hilang.

"Sudah berapa lama aku tertidur?" Tanya Jongin sambil mengerjap-ngerjapkan matanya. Kyungsoo melirik jam tangannya.

"Empat puluh menit mungkin." Jawab Kyungsoo enteng sambil memijit-mijit tangannya yang pegal. Jongin diam menatap Kyungsoo, lalu perlahan-lahan ikut memijit tangan gadis itu.

"Mian karena membuat mu pegal." Kata Jongin merasa bersalah. kyungsoo tersenyum sambil menggenggam tangan Jongin yang sedang memijitinya.

"It's okay. Kita kan teman." Kata Kyungsoo sedikit tak ikhlas mengucapkan kata terakhir itu, -Teman.

Jongin mencelos. Teman? Rasanya dia menginginkan status yang lebih dari sekedar teman. Tapi apakah bisa? Entahlah mungkin saat ini status 'teman' adalah yang terbaik untuk dirinya dan Kyungsoo

"You're the best for me! Semoga kita bisa menjadi teman selamanya." Kata Jongin sambil tersenyum. kyungsoo terdiam sejenak, lalu membalas senyuman Jongin dengan senyuman hambarnya. 'teman selamanya'? apakah pemuda ini tak menginginkan yang lebih dari itu? pikir Kyungsoo.

"Semoga saja Kai." Balas Kyungsoo sambil mengalihkan pandangannya. Sudahlah Kyungsoo jangan berharap lebih, Jongin hanya menganggapmu teman. Kata Kyungsoo dalam hati.

Kapankah waktu akan memberitahu mereka kalau mereka saling mencintai ?
akankah mereka menyadari bahwa perasaan yang mereka rasakan bukanlah perasaan sepihak ?
peran apakah yang nanti akan mereka perankan saat drama hidup ini berlanjut ?
entahlah sebuah misteri yang tak akan ada seorangpun yang mampu menebaknya.
Hanya diam dan menerima, mungkin hanya itulah yang dapat mereka lakukan.. (author gajelas)

TO BE CONTINUE