Disclaimer: Kuroko no Basuke bukan milikku, tapi milik dari Fujimaki Tadatoshi
Warning: Slash, AU, OOC, typo, Blood, torture, etc
Rating: M
Genre: Adventure, Supernatural
THE EMPEROR
By
Sky
Perasaan itu muncul lagi, perasaan sama yang Kuroko rasakan ketika ia berada di dalam dekapan wanita yang menyerangnya di dalam kereta minggu lalu, namun entah mengapa perasaan ini juga mirip dengan apa yang ia rasakan ketika kedua orangtuanya meninggal dalam kecelakaan beberapa tahun yang lalu. Kuroko terus berlari menelusuri koridor sekolah, ia ingin pergi dari sana dan berharap perasaan aneh yang menyelimutinya segera hilang.
Sepanjang perjalanan Kuroko melewati koridor, tidak ditemuinya satupun murid yang berkeliaran maupun guru yang berjalan di sana, rasanya seperti Kuroko sendirilah yang ada di sana, hanya ia sendirian tanpa siapapun di sekelilingnya. Begitu aneh dan ada sesuatu yang tidak beres, Kuroko bisa memastikan kalau apa yang terjadi pada dirinya ini bukanlah hal yang normal.
Aku tidak menyukai perasaan ini. Pikir Kuroko dalam hati, kedua mata biru langitnya mengisyaratkan kalau ia tengah ketakutan. Semua ini sangat aneh dan Kuroko yang tidak tahu apa-apa mengapa dirinya harus terseret ke dalam permasalahan ini? Semua pertanyaan yang ingin ia tanyakan pada Akashi sejak dulu ingin ia suarakan saat ini, namun hal itu tidak bisa ia lakukan, sebab otaknya menyuruh kedua kaki Kuroko untuk berlari menyelamatkan diri. Tapi dari apa?
Kuroko melihat adanya sebuah pintu di depan, tanpa berpikir panjang lagi remaja itu segera menarik gerendel pintu lalu membukanya, membiarkan dirinya masuk ke dalam ruangan di balik pintu tersebut.
"Tempat apa ini?" tanya Kuroko pada dirinya sendiri ketika ia telah memasuki ruangan di balik pintu yang tertutup tadi, ia melihat ke sekitar dan hanya hamparan hutan luas yang ia temukan.
Tempat itu sangat aneh, sebuah hutan yang sepertinya tidak terjamah oleh manusia bertahun-tahun lamanya, terlihat dari pepohonan yang menjulang tinggi dan akar-akarnya yang begitu menonjol dari dalam tanah, dalam artian singkat tempat itu mirip sekali dengan hutan rimba. Tempat ini bukanlah sekolahnya, sebab tidak mungkin di dalam Teiko terdapat tempat seperti hutan Amazon seperti ini. Otak Kuroko memerintahkannya untuk segera pergi dari sana, namun baru saja Kuroko akan berbalik dan menarik pintu yang membawanya ke tempat tersebut, pintu yang tadinya terbuka langsung memudar sebelum menghilang dan tak berbekas, layaknya tidak pernah berada di sana sebelumnya.
Di tempat rimba seperti ini Kuroko berdiri seorang diri, bahkan sejauh mata memandang Kuroko tidak menemukan jalan keluar yang bisa membawanya pergi dari tempat asing tersebut.
"Sebenarnya ini di mana?" tanyanya pada dirinya sendiri, ekspresinya yang datar membuatnya terlihat seperti orang yang tenang namun kedua mata birunya tidak dapat menipu perasaan yang Kuroko rasakan saat ini.
Anak itu memeluk tubuh kecilnya dengan erat, ia merasa aneh karena semua keganjilan yang terjadi di sekitarnya ini tidak pernah ia bayangkan pada dirinya, namun semuanya bertambah tidak jelas karena apa yang ia rasakan tersebut terkesan begitu familier. Kuroko merasa ia harus mencari jalannya sendiri, bila ia hanya berhenti di sana tanpa melakukan apa-apa maka ia selamanya tidak akan menemukan jalan keluar. Dengan pemikiran yang diberanikan, anak itu pun mulai melangkahkan kakinya menyelusuri hutan rimba tersebut.
Suara-suara aneh seperti yang begitu khas dari dalam hutan mulai Kuroko dengar, seperti suara burung gagak dan juga beberapa serangga. Ketika ia berjalan, tidak henti-hentinya Kuroko meraba kedua lengannya sendiri untuk mendapatkan kehangatan, suasana bertambah begitu dingin saat ia mulai masuk ke dalam hutan, bahkan jas seragam Teiko yang ia kenakan pun tidak mampu menghalau dinginnya udara yang ia rasakan.
Satu jam berlalu dan Kuroko pun masih belum menemukan jalan keluar, sepertinya ia tersesat di dalam hutan ini sebab sedari tadi hanya pepohonan besar yang ia lihat.
"Sepertinya aku sudah melewati tempat ini sebanyak tiga kali." Gumam Kuroko, ia menghentikan langkahnya. Keringatnya membuat pakaian yang ia kenakan menempel pada punggungnya, dan udara dingin yang berhembus ke arah anak itu pun sama sekali tidak menolong keadaannya.
Harus Kuroko akui kalau dirinya memang tersesat di tempat aneh ini. Berbagai kemungkinan tiba-tiba menyerang pemikirannya, seperti bagaimana kalau ia tidak bisa keluar dari sini? Sampai pada kekhawatirannya pada kondisi sang nenek yang saat ini masih tergolek tidak berdaya di rumah sakit. Mungkin seharusnya Kuroko tidak membuka pintu aneh tadi, kalau saja ia bisa mengendalikan rasa takutnya pasti semua ini tidak akan terjadi.
Menyalahkan diri sendiri juga tidak ada gunanya, yang harus kulakukan sekarang adalah menemukan jalan keluar. Tapi… sejak tadi aku tidak menemukannya, malahan sepertinya aku semakin tersesat. Kuroko memejamkan kedua matanya, semangatnya untuk menemukan jalan pulang mulai memudar bila melihat bagaimana keadaannya sekarang ini. Anak itu membiarkan dirinya jatuh dalam posisi terduduk dengan bahunya bersandar pada batang pohon yang ada di belakangnya.
"Kalau saja aku sekuat Akashi-kun pasti aku bisa menghadapi semua ini dengan mudah." Kata Kuroko pada dirinya sendiri, kedua matanya mengisyaratkan kesedihan di sana.
Samar-samar Kuroko mendengarkan sebuah alunan musik yang sangat merdu dari kejauhan. Alunan musik itu begitu menghipnotis, membuat Kuroko memejamkan kedua matanya tanpa ada pemikiran lebih lanjut lagi. Bahkan anak itu tidak menyadari kalau serangga dan hewan lainnya berhenti mengeluarkan suara lagi saat alunan musik serta nyanyian tersebut mulai terdengar, rasanya seperti petikan harpa yang sangat indah dan nyanyian dari suara yang merdu. Semakim lama alunan lagu tersebut mendekat ke arahnya, begitu dekat sampai Kuroko bersumpah ia mendengar siapapun yang melantunkan lagu itu beserta petikan harpanya berdiri tidak jauh dari tempatnya duduk di bawah pohon saat ini.
Hanya sentakan keras dari pohon yang ia sandari tadi membuat Kuroko tersadar dari hipnotis lagu yang dibawakan oleh siapapun itu. Dan begitu Kuroko membuka kedua kelopak matanya, ia menemukan kaki dan tangannya sudah terikat oleh rantai yang terbentuk dari sulur tumbuh-tumbuhan dengan bunga mawar berduri yang merekah di sekujur sulur tersebut.
"….Once he hears to his heart's content, sails on, a wiser man….." Lantunan baik dari sang penyanyi serasa menghipnotis pikiran Kuroko.
Dengan sekuat hati Kuroko mencoba untuk memblokir alunan lagu yang menghipnotis tersebut dari pikirannya, ia tidak ingin terjatuh ke dalam perangkap untuk kedua kalinya. Kedua tangannya mencoba untuk melepaskan ikatan yang kencang di sana, tapi semakin keras ia memberontak maka semakin kencang pula ikatan itu mengikat tubuhnya. Kuroko menggigit bibir bagian bawahnya untuk menahan rasa sakit ketika duri-duri yang tajam dari sulur tanaman tersebut mulai menusuk kulitnya, membuat seragamnya tertoreh dan menyayat kulitnya.
"Hoo… tidak kusangka kalau little one yang ini kuat juga." Kata seseorang dengan nada penuh kesan di dalamnya.
Dengan susah payah Kuroko mengangkat wajahnya untuk melihat siapa yang mengatakan kalimat itu. Sepasang mata biru langit milik Kuroko bertemu dengan sepasang mata silver yang jernih.
Berdiri tidak jauh di hadapan Kuroko adalah seorang pemuda yang mungkin berusia sekitar 15 tahun. Ia mengenakan seragam murid laki-laki SMP Teiko, minus dasi dan jasnya. Pemuda itu sangat tampan, apalagi dengan kulit wajah yang bersih dan penampilan yang menggoda, namun yang membuat Kuroko was-was pada individual ini adalah senyuman sinis yang tersungging pada bibirnya serta sebuah harpa berwarna kuning keemasan berada di kedua tangannya, bahkan dari tempatnya ditahan pun Kuroko bisa melihat pemuda itu masih memetik senar dari harpa yang dimainkannya.
"Uggh…" Desah Kuroko, kulitnya tersayat begitu dalam di sekujur tubuhnya. Dan Kuroko bisa merasakan sebuah sulur yang panjang dan besar mengikat pinggangnya dengan begitu erat, membuatnya terperangkap dan tidak bisa bergerak seperti seekor serangga yang terjerat jaring laba-laba.
"Kalau aku menjadi dirimu, Little one, aku tidak akan mencoba memberontak. Semakin kau memberontak, maka tanaman itu akan semakin erat mencengkerammu dan duri-durinya akan semakin menyayat tubuhmu. Kau akan membuatnya semakin senang." Ujar pemuda itu, jari telunjuk kanannya memetik salah satu senar harpanya sedikit keras dan hal itu membuat sulur tanaman berduri yang mengikat Kuroko bertambah semakin erat.
"Aggh…." Pekik Kuroko tertahan, bajunya yang bersih kini mulai berubah warna menjadi berwarna merah karena darah yang keluar dari sayatan kulitnya merembes pada seragam yang ia gunakan.
Kedua mata Kuroko yang terpejam tanpa ia sadari pun akhirnya terbuka dengan susah payah, ia melihat bunga mawar putih yang tumbuh di sulur tersebut berubah warna menjadi merah seiring dengan darahnya mengalir melewati rantai tanaman yang membelenggunya.
"Rasanya sangat nikmat. Tidak heran bos menginginkanmu." Gumam pemuda itu lagi, kali ini ia mulai berjalan mendekati Kuroko tanpa menghentikan permainan harpanya. Sepertinya harpa yang dipegang olehnya adalah pengendali dari tanaman itu.
Kuroko merasakan dagunya ditahan oleh sebuah tangan, dan dengan paksa tangan tersebut membuatnya mendongak ke atas sehingga kedua matanya bertemu langsung dengan mata silver milik sang pemuda. Kuroko merasakan nafasnya tercekat dan wajahnya memucat, tidak hanya dari ia kehilangan banyak darah namun pemandangan di hadapannya berubah menjadi sangat menakutkan. Mata itu bukanlah mata dari manusia, mata itu tidak memiliki iris dan berwarna silver semua.
"Apa kau takut padaku, little one?" Tanya pemuda itu lagi, tapi Kuroko tidak membalasnya. "Hoo… keras kepala rupanya."
Sebuah tamparan yang keras mendarat pada pipi mulus Kuroko, membuat telinga Kuroko berdenging keras dan kepalanya menjadi pening. Rasa panas yang menjalari tubuhnya semakin ia rasakan saat jari runcing milik makhluk tersebut mencakar pipinya ketika tamparan tadi mendarat padanya.
"Hm.. kalau kau menjawab 'aku takut padamu, tuan' maka aku tidak akan menamparmu seperti ini." bisik pemuda itu di telinga Kuroko, tangannya yang digunakan untuk menampar Kuroko tadi ia gunakan untuk mengelus pipi kemerahan hasil tamparannya, membuat Kuroko berjengit dari sentuhan sang siren tersebut. "Tapi kau terlalu keras kepala, itu yang tidak aku sukai dari manusia sepertimu. Mereka menyusahkan. Bagaimana kalau kita bermain tanya jawab sebentar, little one? Aku tahu kalau kau akan menyukainya."
Tanya jawab? Apa yang diinginkan makhluk ini dariku sebenarnya? Tanya Kuroko dalam hati. Kepalanya terasa semakin berat seiring ia kehilangan banyak darah dari tubuhnya, dan keadaan tubuhnya yang memang sudah lemah sama sekali tidak membuatnya lebih baik. Kuroko bisa melihat mawar putih yang ada di sana berubah menjadi merah darah.
"Diam berarti iya." Kata sang pemuda, ia mencengkeram dagu Kuroko dengan begitu erat, membuat Kuroko mengernyit kesakitan. "Katakan padaku, di mana benda itu sekarang?!"
Kuroko menggigit bibir bawahnya saat gertakan itu terdengar semakin keras. "Be-benda a-apa?" tanya Kuroko sedikit terbata, rasa sakit benar-benar membuatnya tersiksa.
Kedua mata silver milik sang siren hutan itu mendelik tajam ke arah Kuroko. "Benda apa? Jangan bohong padaku! Aku tahu kau memilikinya! Katakan di mana benda itu sekarang?!"
Kuroko semakin tidak mengerti apa yang dimaksud olehnya. Benda apa? Remaja berambut biru langit tersebut memilih untuk diam dan tidak menjawabnya, sebab ia sama sekali tidak paham akan benda apa yang orang ini cari. Tapi semakin Kuroko tidak menjawab, maka semakin geram pemuda itu padanya. Dan dengan hentakan singkat, ia pun menampar pipi Kuroko yang satunya lagi, membuat Kuroko kehilangan keseimbangan.
"Masih tidak mau menjawab lagi? Kurasa aku akan memakanmu dan memaksa jiwamu untuk mengatakannya padaku." Tangan itu bergerak ke bawah dan mencengkeram leher Kuroko dengan erat, memutus jalannya udara pada laring Kuroko. Pemuda itu semakin menempelkan dirinya pada tubuh mangsanya tersebut dan bersiap membuka mulutnya untuk menyantap jiwa anak ini.
Namun sebuah tusukan benda yang tajam dari belakang tubuhnya membuat sang siren itu berhenti melakukan apa yang diinginkannya sejak tadi, sebuah torehan yang sangat dalam dari sebuah katana menusuk organ dalamnya dari belakang dan menyeretnya menjauh dari Kuroko. Sang siren punjatuh tersungkur di atas permukaan tanah yang keras, ia terbatuk kecil dengan darah yang mengucur dari mulutnya. Baru saja ia mau bangkit, sebuah kaki yang begitu kuat menginjak dadanya dengan keras, memerangkapnya di sana.
"Kau berani sekali menyentuh apa yang menjadi milikku, makhluk rendahan." Gumam sebuah suara yang begitu berbahaya, memecah keheningan di antara mereka.
Seijuurou mencabut katana-nya yang telah bersimbah darah dari sang siren dan menginjak dada pemuda tersebut dengan kakinya sehingga sang siren pun tidak bisa bergerak, kedua mata heterokromnya berkilat berbahaya saat menatap korbannya.
"Tetsu!" Teriak Aomine yang berlari menghampiri Kuroko yang hampir tidak sadarkan diri. "MIDORIMA! CEPAT LEPASKAN TETSU DARI TANAMAN SIALAN INI!"
Tanpa disuruh pun Midorima akan melakukannya dengan senang hati. Elemen remaja bermata emerald tersebut adalah nature, memungkinkan dirinya untuk mengendalikan tanaman dengan mudahnya.
"Finite." Gumam Midorima sambil menyentuh tanaman yang melilit tubuh Kuroko, cahaya berwarna hijau dari telapak tangannya itu membuat tanaman tersebut merayap menjauh dari tubuh Kuroko.
"Kurokocchi! Teriak Kise, remaja itu menangkap tubuh Kuroko yang terjatuh saat tanaman itu sudah melepaskannya. "Ya Tuhan, Kurokocchi… bertahanlah. Midorimacchi, segera obati Kurokocchi! Dia hampir kehabisan darah."
Midorima sedikit berjengit ketika melihat betapa parahnya keadaan Kuroko yang ada di pelukan Kise saat ini, tubuhnya yang kecil terlihat begitu kecil dan lemah saat ini. Kulitnya semakin memucat karena kehilangan banyak darah, kalau tidak segera ia tolong bisa-bisa Kuroko akan meninggal pada saat ini juga dan Midorima tidak mau membayangkan apa yang akan Seijuurou lakukan bila ia mendapati tunangannya tewas. Midorima segera berjongkok di depan Kuroko dan Kise, tanpa mengatakan apa-apa lagi ia pun menggumamkan sesuatu dalam bahasa latin kuno dan detik berikutnya telapak tangan kanannya diselimuti oleh cahaya hijau pucat. Ditempelkannya tangannya yang bercahaya tersebut pada dada Kuroko, mengalirkan sihirnya pada tubuh Kuroko untuk menghentikan perdarahan Kuroko serta mengobatinya sedikit. Ia tidak bisa menyembuhkan Kuroko secara total di tempat ini, jadi apa yang ia lakukan ini setidaknya bisa menolong Kuroko untuk sementara.
Seijuurou melihat apa yang Kise dan Midorima lakukan dari sudut matanya, merasakan kalau Kuroko sudah berada di tangan yang tepat kini Seijuurou mengalihkan pandangannya ke arah siren rendahan yang berani-beraninya menyentuh apa yang menjadi miliknya. Tangan kiri Seijuurou menggenggam Katana yang bersimbah darah itu dengan erat, kedua matanya berkilat penuh bahaya saat ia menatap mata silver dari sang siren.
"Rupanya kau sudah bosan hidup." Gumam Seijuurou lagi, ia menambahkan tekanan kasar dalam injakannya, membuat siren tersebut semakin sesak.
Melihat apa yang makhluk rendahan ini lakukan pada Kuroko membuat emosinya semakin bergejolak, dengan wajah yang tidak mengisyaratkan emosi sedikitpun Seijuurou mengayunkan pedangnya dan menusuk dada kiri sang siren, tepat di samping jatungnya berada.
"AAAGGGGHHHH!" teriak sang siren penuh kesakitan. Tusukan itu tidak akan membunuhnya, namun luar biasa menyakitkan apalagi ditambah dengan begitu banyaknya darah yang ia keluarkan.
Mata tajam katana milik Seijuurou menelusuri dada sang siren dan mengalihkannya ke bawah, membuat teriakan penuh kesakitan dari pemuda berambut hitam tersebut semakin nyaring. Dan suara kesakitan dari nada merdu sang siren itu terdengar seperti musik di telinga Seijuurou.
"Jadi… mengapa kau menyerang Tetsuya?" Tanya Seijuurou dengan suara kalem. Ia melirik ke arah Kuroko yang sekarang ini dalam penanganan Midorima sebelum beralih kepada mangsanya lagi.
Pemuda bermata silver itu tidak menjawab, ia lebih memilih untuk membungkam mulutnya daripada membocorkan rahasia kelompoknya. Melihat betapa keras kepalanya siren itu membuat jiwa sadis Seijuurou bangkit, ia pun menginjak luka pemuda itu semakin keras dan membuatnya berteriak untuk sekali lagi. Bahkan teriakan pilu dari sang siren membuat Aomine dan yang lainnya berjengit ngeri.
"Masih keras kepala juga?" tanya Seijuurou dengan nada manis di dalamnya, namun kilatan berbahaya pada kedua mata heterokromnya berkata lain. "Mungkin aku akan mengubah pendirianmu setelah memperkenalkanmu pada apiku yang manis. Bagaimana?" Seijuurou memberi tekanan pula pada katanannya, membuat sang siren menggeliat tidak berdaya.
"Sa-sam-pai m-mati pun ak-u ti-dak akan memberitahu-mu." Ujar pemuda itu dengan suara terbata-bata.
Alis kiri Seijuurou terangkat sementara seringai tipis muncul di wajahnya yang tampan. Tawa kecil keluar dari mulutnya, merasa lucu dengan jawaban tidak berdaya dari lawannya.
"Aku akan mengubahnya kalau begitu. Igne Tenebris." Dua kalimat latin yang terucap dari mulut Seijuurou membuat sihirnya bergejolak hebat, mantra yang diucapkannya itu membuat setitik sihirnya berpusat pada ujung katana Seijuurou yang tertanam pada dada sang siren.
"AGGGGHHH! HENTIKAN!" Teriak sang siren membahana dari dalam hutan, sementara kedua mata silvernya melotot tanpa tentu arah, dan tidak lama setelah itu darahnya yang tadi berwarna merah gelap kini berubah warna menjadi hitam dan mendidih.
Seijuurou bisa membayangkan bagaimana rasanya organ dalamnya diiris-iris oleh api hitam yang Seijuurou panggil, dan api tersebut membuat besi katana miliknya menjadi lebih panas dan tajam.
"Shintarou, Ryouta, dan Daiki. Kalian bawa Tetsuya ke manorku sekarang juga, sekarang ini Atsushi sedang menahan portal untuk keluar dari sini." Titah Seijuurou tanpa mengalihkan pandangannya dari sang siren yang menggeliat kesakitan.
"Lalu bagaimana denganmu, Akashi?" tanya Aomine, ia berjengit ketika melihat kilatan sadis ada di mata heterokrom itu. Pemimpinnya itu sekarang ini lebih mirip seorang psikopat.
"Aku masih ada urusan yang harus kuselesaikan. Cepatlah pergi dari sini!" Suara Seijuurou bertambah dingin seiring dengan munculnya seringai kejam miliknya.
Midorima yang sepertinya selesai menghentikan perdarahan pada tubuh Kuroko akhirnya berdiri dari posisinya tadi, sementara itu Aomine mendekat ke arah Kise dan tanpa mengatakan apapun ia langsung mengangkat tubuh kecil Kuroko dengan mudahnya, menghiraukan protes dari Kise yang ingin menggendong Kuroko.
Mereka bertiga mengerti bagaimana sifat pemimpin dari Kiseki no Sedai tersebut, ia tidak akan berhenti sampai apa yang diinginkannya ia dapatkan, dan yang Seijuurou inginkan saat ini adalah sebuah informasi.
"Apa yang kalian tunggu? Aku tidak suka mengulang kalimatku sendiri." Kata Seijuurou, suaranya terdengar begitu berbahaya.
"B-baiklah, Akashi." Gumam Aomine yang langsung mengambil langkah seribu segera meninggalkan tempat itu.
Kise menatap Seijuurou dan korbannya untuk beberapa saat sebelum ia menyusul Aomine dengan katana-nya yang tergenggam di tangan kanannya, dan berikutnya mereka berdua disusul oleh Midorima. Sepeninggal mereka bertiga, perhatian Seijuurou terpusat sepenuhnya pada sang siren yang tadi berani-beraninya melukai seorang Kuroko Tetsuya di daerah kekuasan seorang Akashi Seijuurou, hal ini tentu tidak bisa ia maafkan.
"Mereka berempat sudah pergi, sekarang bagaimana kalau kau memberitahuku apa yang kumau, siren!" Perintah Seijuurou. Remaja berambut merah darah itu mencabut katana-nya dari dada sang siren, cipratan darah yang mendidih itu mengotori seragam sekolahnya, namun tidak sekalipun ia perhatikan. "Kalau kau tidak memberikan apa yang kumau, itu artinya kau mendaftakan kematianmu dengan cara yang begitu menyakitkan."
Dari kelima anggota Kiseki no Sedai, Akashi Seijuurou adalah satu-satunya orang paling berbahaya dengan tendesi kesadisan yang luar biasa. Ia tidak segan untuk menyiksa korbannya sebelum ia menghabisinya sampai tuntas, apalagi kalau ada informasi yang ia inginkan. Sepertinya makhluk malang ini tidak tahu kalau ia telah menyentuh apa yang menjadi milik Seijuurou, sehingga kematian yang paling menyakitkan adalah balasan yang tepat baginya.
Melihat mata heterokrom dari Seijuurou yang berkilat berbahaya serta siksaan api hitamnya tersebut akhirnya membuat sang siren membuka mulutnya juga. Pemuda itu mengatakan kalau ia disuruh oleh pemimpin Black Lily untuk mencari kristal Gem yang bisa menunjukkan jalan untuk mencari keduabelas roh penjaga gerbang mistis, dan dari pencariannya itu sang ketua menemukan kalau kristal tersebut dimiliki oleh Kuroko Tetsuya yang diwariskan dari kedua orangtuanya sebelum mereka meninggal. Oleh karena itu misinya dari Black Lily adalah mengambil kristal tersebut dari tangan Kuroko.
Kedua mata Seijuurou menyipit saat mendengar jawaban terbata-bata dari sang siren, jadi seperti itukah tujuan dari Black Lily? Kedua mata heterokromnya kembali fokus pada tubuh menyedihkan korbannya.
"Lalu siapa pemimpinmu yang sekarang?" tanya Seijuurou dengan dinginnya.
"Ha-Ha-Hai-zaki….S-….Uggghh!" Kalimatnya terpotong saat sebuah lingkaran hitam yang berasal dari tattoo yang ada di lengan kanan sang siren bersinar terang dan menghancurkan tubuhnya menjadi berkeping-keping.
Darah yang berasal dari korbannya tersebut langsung menyembur ke arah tubuh Seijuurou, membuatnya seperti orang yang bermandikan darah dari atas sampai bawah. Untuk sementara Seijuurou mencoba mengerti apa yang terjadi karena kejadian itu terjadi begitu cepat.
"Haizaki." Gumam Seijuurou. "Dia menyadari kalau anak buahnya akan membocorkan rahasianya, oleh karena itu ia membunuhnya dengan tattoo itu. Menarik."
Kedua mata heterokrom milik Seijuurou tertutup untuk sementara, ia mengelap darah dari wajahnya menggunakan lengan bajunya yang tidak ternoda. Sepertinya ia harus mandi beberapa kali sampai bau amis darah menghilang dari tubuhnya. Untuk beberapa saat Seijuurou tidak beranjak dari sana, sebuah senyuman kecil terukir di bibirnya. Meski Seijuurou tidak mendapatkan nama pemimpin baru Black Lily (kecuali marganya), tapi setidaknya ia mendapatkan jawaban mengapa Black Lily menginginkan Kuroko.
Tapi teka-teki ini semakin bertambah rumit dan membuat Seijuurou bertambah pusing. Kuroko adalah manusia biasa, tapi bagaimana ia bisa menjadi pemilik dari kristal Gem yang merupakan kristal penunjuk untuk menemukan keduabelas roh dari penjaga gerbang mistis? Apakah ini semua cuma kebetulan semata atau…..
Senyuman di wajah Seijuurou langsung meredup saat beberapa teori kembali muncul di kepalanya, apapun itu Seijuurou bertekat untuk menyelesaikan misteri ini sampai tuntas. Melihat bagaimana kondisinya sekarang, yang ia inginkan saat ini adalah membersihkan badannya dan memastikan keadaan tunangannya itu baik-baik saja.
"Warna merah adalah warna yang cocok untukmu, Seijuurou sayang."
AN: Terima kasih sudah mampir dan membacanya
Author: Sky
