(Stay with Me-Chanyeol EXO ft Punch, DNA-BTS, Confession-Yesung SJ, Star and Sun-Kei Lovelyz)

Warn! Typo bersebaran!


KRIIING KRIIING KRIIING

Tubuh mungil itu terperenjat kaget. Tangannya dengan gesit mematikan alarm ponselnya, menyibak selimut, melipatnya dan terakhir merapihkan tempat tidurnya. Ia menguap sebentar sambil melakukan peregangan setelah bangun tidur. Matanya yang sipit langsung bertemu cat dinding kamar milik gurunya yang terkesan begitu ceria.

Ia tersenyum, kakinya ia bawa melangkah menelisik lebih jauh tentang kamar yang semalam ia tempati bersama sang guru sekaligus malaikat penolongnya. Kamar itu sangat sederhana, hanya terdapat tempat tidur, dua meja nakas di samping kanan dan kiri, meja rias, meja kerja, almari pakaian, rak buku, dan beberapa pajangan berupa vas dan foto-foto sang guru.

"Sejak dulu dia memang cantik" gumam si pemilik tubuh mungil-Jimin seraya mengambil salah satu foto yang tergantung di dinding kamar Taehyung. Mengelus foto sang guru diantara keempat teman SMAnya.

"Senyumnya, aneh tapi manis" Jimin kembali bergumam memuji betapa cantiknya guru itu. Ia kembali menaruh fogura foto itu. menatap seluruh isi kamar ini sebelum ia memutuskan keluar dari kamar, menemui Taehyung atau mungkin membantu gurunya itu.

Saat keluar pemandangan yang ia lihat begitu membuatnya déjà vu. Penampilan Taehyung memakai apron putih dengan pita merah muda, tangannya yang sibuk membolak-bolak telur gulung dan suasana di dapur itu membuatnya déjà vu. Begitu juga dengan makanan yang tersaji di atas meja, di tata begitu rapi sama seperti yang dilakukan ibunya.

Semangkuk besar sup ada di tengah, nasi satu mangkuk, kimchi, dan beberapa lauk lainnya yang sering ibunya bikin dulu. Ditambah posisi Taehyung saat ini membelakanginya membuat pikirannya melayang tentang kejadian beberapa tahun lalu, masa-masa paling bahagia yang pernah ia miliki.

"Eomma!"

Wanita berstatus ibu itu menoleh ke belakang. Tersenyum lebar melihat anak laki-lakinya yang termanis sudah bangun bahkan memakai seragam dan sedang berlari ke arahnya. Wanita itu segera menangkap tangan mungil anaknya dan membawa anak laki-laki bernama Jimin itu duduk di kursi makan.

"Eomma membuat telur gulung?"

"Eoh, Jimin joah?"

"Hm, aku akan menyukai masakan apa pun itu asalkan yang membuat eomma"

"Kau sudah bangun?" tanya Taehyung dengan senyuman manis. Ia datang ke meja makan, meletakan piring berisi telur gulung dan tempura udang. Jimin masih diam di posisinya, matanya sudah memerah dan cegukannya juga sudah kembali.

"Maaf aku tidak membangunkanmu, aku kasihan dan tidak tega membangunkanmu kau sangat lelap tidurnya" ucap Taehyung terus mencerocos tanpa menyadari perubahan raut wajah Jimin. Ia masih mengaduk-aduk sup, mematikan kompor dan membawa sup rumput laut itu ke atas meja. Barulah saat ia berniat melepas celemeknya ia menyadari kedua bola mata indah milik Jimin berembun dan perlahan menetes turun ke bawah membentuk air mata.

"Kau menangis? Kau tidak menyukai sarapan ini?" tanya Taehyung khawatir dan takut karena dugaannya benar. Jimin menangis, telapak tangannya yang mungil ia gunakan untuk menutupi wajahnya yang basah karena air mata. Taehyung yang tidak tega menghampiri Jimin setelah melepas apron nya.

"Omo! Kenapa kau menangis? Jangan membuatku takut seperti itu" ucap Taehyung khawatir dan takut. Jimin menggeleng sebagai jawaban tidak untuk Taehyung, kepalanya semakin menunduk menatapi menu sarapan pagi ini. rasanya sudah lama sekali ia tidak merasakan hal seperti ini, ia hanya merasakan ini saat dirinya berusia delapan tahun dan di mansion itu.

Setiap pagi ia harus membuat sarapan untuk bibi dan kedua sepupunya yang selalu memperlakukannya tidak adil. Ia menerima setiap cercaan mereka yang menghina sarapannya, ia juga menerima setiap pagi ia harus makan di dapur hanya dengan nasi dan sup, bahkan hanya roti. Tapi pagi ini, ia merasakan seperti di rumah lagi.

"Jimin-ah, gweanchana?"

"Hikss… na gweanchana. Aku menangis bahagia" ucap Jimin dengan kepala tegak. Menunjukkan pada Taehyung bagaimana kondisi wajahnya sekarang penuh air mata tapi anehnya bibirnya tersenyum begitu lebar.

Taehyung tersenyum, mengarahkan kepala muridnya ke pundaknya lalu memeluknya begitu erat. Tangis itu semakin menguat bahkan ia merasakan bahwa kaus yang ia kenakan basah karena air mata Jimin.

"Kau tidak akan merasakan ketidak adilan itu lagi, hidupmu akan berubah mulai sekarang" ucap Taehyung dengan suara lembut tepat di telinga kanan Jimin, tangan kurusnya ia gunakan untuk mengusap kepala lalu punggung mungil muridnya itu.

"Kau sudah melalui banyak hal yang berat, kau sudah melakukan yang terbaik dan aku bangga padamu. Hyung bangga padamu"

Jimin tidak bisa berhenti menangis, begitu juga dengan suara cegukannya. Ia menangis bahagia karena setelah sekian lama akhirnya ia bisa diperlakukan layaknya seorang manusia. Manusia sesungguhnya, ia bahagia akan hal itu. tapi ia merindukan satu hal, bukan keluarga bibinya tapi ahjussi brengsek itu.

Ia bahagia di sini tapi sisi lain hatinya berkata bahwa ia tidak seharusnya di sini. Kebahagiannya bukan di sini tapi bersama Yoongi. Dan ia menolak akan hal itu.

"Kau tumben tidak menjahiliku"

Yoongi menghela nafas mendengar SeokJin mengucapkan kalimat itu. Sejak kemarin lebih tepatnya sejak Jimin angkat kaki dari mansion ini ia lebih banyak mengurung diri di kamar atau perpustakaan. Ia bahkan menghindari Seokjin dan membiarkan pemuda mirip nyamuk itu mengambil wine kesayangannya. Biasanya ia akan langsung diamuk jika ketahuan melakukan hal itu, wine itu seperti bagian dari hidup Yoongi.

"Aku sedang malas" jawab Yoongi asal-asalan seraya membalik daging panggangnya. SeokJin meliriknya sekilas, tangannya bergerak lebih cepat mengambil garam sebelum tangan Yoongi mencapainya. Ia berusaha memancing amarah Gumiho itu tapi nyatanya Gumiho itu tidak bereaksi sama sekali, malahan dia mempersilahkan Seokjian menggunakannya lebih dulu.

"Heol!"

"Kenapa kau mengeluarkan kata tidak sopan seperti itu?" tanya Yoongi sedikit sengit. SeokJin masih memasang wajah cengok yang semakin membuat wajahnya terlihat bodoh.

"Kau kerasukan roh atau kau akan segera mati? Kau bertingkah sangat baik padaku"

"Aku tidak kerasukan roh tapi sebentar lagi aku akan mati" jawab Yoongi tidak bersemangat. SeokJin yang awalnya tadi berada di mode bercanda langsung berubah serius mendengar kata aku akan mati yang berarti sebuah kabar bahagia.

"Anak SMA itu benar-benar istrimu?" tanya SeokJin mengingat wajah Jimin dan kejadian beberapa tahun lalu yang masih ia ingat dengan jelas betul. Kenapa, jawabannya karena ia harus merasakan kepalanya berdengung selama sekitar seminggu karena nenek tua yang sedang dalam wujud wanita cantik itu memukul kepalanya.

"Aku tidak tahu, tapi dia tidak bisa melihat panah-panahku ini jadi aku menyimpulkan dia bukan istriku"

"Kenapa kau ini cepat sekali menyimpulkan hal itu. mungkin saja dia butuh waktu untuk melihat panah kutukanmu itu, bisa saja dia membutuhkan sesuatu yang kuat agar dia bisa melihat panahmu. Mungkin dengan bertelanjang atau berhubungan badan"

"YAK!" teriak Yoongi tidak terima dan risih dengan ucapan frontal si manusia nyamuk ini. Seokjin berdecak sebal karena Yoongi seperti menolak idenya barusan. "Aku tidak salah dalam hal ini, jika dia bisa memanggilku dengan mengeluarkan darah tapi tidak bisa melihat pedangku itu berarti dia bukan istriku. Dia hanya variable yang akan membawaku pada istri sekaligus pemutus kutukan ini" lanjut Yoongi dengan suara yang mulai turun dan melemah.

"Samchon?"

Suara menyebalkan NamJoon kembali terdengar. Dua pria bukan manusia itu menoleh, menemukan NamJoon dalam keadaan menggunakan kaus putih oblong dan celana jeans robek-robek. Pria dengan tattoo di leher itu menggaruk kepalanya lalu menatap kedua pamannya bergantian.

"Apa kalian bisa membuatkanku dan tamuku sarapan, aku sangat lelah semalam" pinta NamJoon dengan suara serak dan mulut terbuka lebar-menguap. Mulut SeokJin terbuka, mengeluarkan suara decihan tanda tidak percaya bahawa manusia cecenguk ini berani memerintahkan vampire. Yoongi tidak kalah kesalnya, matanya berkedut sebelah tanda emosi dan marah melihat NamJoon dalam keadaan habis mabuk dan… you know, lah.

"Baby, aku lapar" ucap seorang wanita yang tiba-tiba muncul di belakang, memeluk tubuh NamJoon dengan begitu posesif seraya menyenderkan kepalanya di bahu lebar NamJoon. Wanita berkemeja putih kebesaran itu menatap Yoongi dan Seokjin dengan raut wajah ketakutan, kepalanya langsung ia sembunyikan di balik punggung NamJoon.

"Waeyo? Pamanku ini memang berwajah seram tapi mereka semua baik dan mau membuatkan kita sarapan, iya, kan, Samchon?" tanya NamJoon memastikan dan memberi kode pada SeokJin dan Yoongi untuk setuju saja kali ini. setelah itu ia berbalik dan membawa wanita berkulit tan sexy itu kembali ke atas. Meninggalkan Yoongi dan SeokJin yang benar-benar sedang ada dalam tahap marah ke ubun-ubun.

"Aku akan membawa dan memasukannya dalam daftar buruan vampire. Dia bisa dikategorikan penjahat kelamin" ucap SeokJin menatap Yoongi yang sepertinya berniat setuju tapi ia juga masih punya hati bahwa keponakannya yang nakal itu anak dari pengikutnya.

"Hajima, dia itu sedang tahap jatuh cinta dan masih muda. Kau tidak perlu bertindak berlebihan seperti itu. dia bisa mengungkapkan perasaannya saja adalah sebuah hal terpuji"

"Kenapa kau berbicara seperti sedang curhat?" tanya SeokJin dengan pandangan bingung. Yoongi kembali memasang wajah frustasinya, mematikan kompor lalu berjalan keluar tanpa berniat menjawab pertanyaan Seokjin. Tidak lama setelah Yoongi keluar, suara tangis yang begitu keras dan memalukan terdengar.

SeokJin menggelengkan kepalanya, tidak menyangka jika seorang Gumiho memiliki jiwa seperti itu juga.

Ia berusaha untuk fokus belajar, tapi dia benar-benar tidak bisa untuk kali ini akibat cegukannya ini, ia benar-benar tidak fokus belajar. Ia berusaha mengalihkan pikiran tentang Yoongi dan segala macamnya namun itu tidak berhasil. Sekuat apa pun Jimin berusaha melupakan Yoongi, ingatan tentang Yoongi itu semakin mendominasi pikirannya.

"Sistem peredaran darah pada manusia…"

Kening Jimin mengkerut mendengar kata darah. Otaknya tiba-tiba saja bergerak cepat dimana ia pertama kali bertemu Yoongi. Saat itu dirinya berada di atap dengan telak tangan berdarah. Tanpa sadar ia menyentuh bekas luka waktu itu, tapi sebelum-sebelumnya ia tidak mengeluarkan darah tapi kenapa bisa Yoongi bisa datang menghampirinya?

"Apa aku masih bukan istrimu?"

Yoongi tersentak dari bacaannya. Kepalanya menoleh ke kanan dan kiri mencari sumber suara terdekat yang kira-kira dekat dari sini. Tapi hasilnya nihil, ia sedang berada di danau di tengah hutan yang jauh dari jangkauan manusia. Tidak mungkin jika ada manusia di sini, hewan pun tidak mungkin karena mereka pasti akan pergi jika melihat Yoongi.

Jadi, pertanyaan besarnya adalah suara siapa tadi yang bertanya. Meskipun samar-samar ia sangat yakin bahwa itu suara manusia.

"Apa itu kau?"

Yoongi mau pun Jimin sama sekali tidak sadar bahwa mereka melakukan hal sekecil apa pun hampir bersamaan meskipun mereka berada di tempat yang jauh satu sama lain. Jimin menghela nafasnya, begitu juga dengan Yoongi. Pemuda manis bermarga Park itu menidurkan kepalanya di atas meja, menatap ke luar jendela dengan pandangan kosong dan sesekali di selingi cegukan.

Yoongi juga melakukan hal yang sama, lebih tepatnya ia menidurkan dirinya sendiri di atas rerumputan dengan posisi menyamping. Menatap danau di hadapannya dengan pandangan tidak berminat dan lelah.

Ia lelah, ia ingin segera lepas dari kutukan ini. tapi, ada satu sisi kecil di hatinya yang mengatakan tidak. Apa mungkin ia sudah mempunyai sifat manusia? Seraka dan tidak tahu diri? Yoongi menghela nafas, menggelengkan kepalanya sebentar lalu kembali melanjutkan aktivitasnya menatap danau di tengah hutan.

Di sisi lain, Jimin tidak berniat memikirkan apa pun. Ia hanya ingin satu fokus pada hal, yaitu kehidupan di masa datang. Ia tidak akan pernah memikirkan hal-hal tentang Gumiho sialan itu.

Tidak akan pernah

HIK!

Itu janjinya!

Satu minggu kemudian…

Keadaan mansion itu masih sama. Si makhluk mirip nyamuk itu masih tetap tinggal di sana karena juju ria tidak punya tempat tinggal dan ia sudah telanjur membayar cukup mahal untuk mansion ini sepuluh tahun kedepan. Yoongi si makhluk gumiho itu yang semakin aneh, kenapa SeokJin bisa berkata seperti itu?

Gumiho menyedihkan itu-SeokJin mengganti julukannya-tumben-tumbennya dalam seminggu ini tidak keluar kamar sama sekali kecuali untuk makan dan minum. Selebihnya dia akan mengurung diri di dalam kamar, atau balkon dengan pandangan menelisik ke setiap sudut kota Seoul. Seoalah-olah dia sedang mencari seseorang, aneh tapi ia berani bersumpah kalau Yoongi benar-benar terlihat lebih menakutkan ketimbang dalam mode Gumiho.

"Kau ini memang kenapa? Kau tidak jadi mati, kan? Kenapa kau terlihat muram seperti itu?" tanya SeokJin yang mulai gerah dengan sikap Yoongi yang sudah hampir lima jam berdiri di balkon dengan pandangan mata memandang ke satu tempat saja.

Merasa di diamkan, SeokJin akhirnya mengambil tindakan nekat dengan menyentuh-lebih tepat menarik Yoongi untuk menjauh tapi dengan seklai hentak Gumiho itu berhasil memukul mundur dirinya. SeokJin terperangah, menatap tangannya sendiri lalu Yoongi yang masih setia memandangi satu tempat itu.

"Kau pasti menyesali semua perkataanmu pada bocah itu. Pergi lah minta maaf, jadi laki-laki sejati. Mana mungkin Gumiho seperti mu kalah dari manusia dalam hal sikap, itu saran dariku" ucap SeokJin lalu meninggalkan Yoongi yang tidak merespon sama sekali.

Tidak sepenuhnya benar. Yoongi mendengar semua itu, tapi ia tetap diam memikirkan perkataan vampire itu yang terkadang benar.

"Tapi dia bukan istriku"

Pemuda manis berpakain cokelat abu-abu itu melangkahkan kakinya dengan santai menyusuri jalanan kota Seoul di malam hari. Senyumnya mengembang mengingat area yang ia lewati ini adalah area dimana ia membeli cermin cantik itu, sekaligus tempat ia bertemu pria misterius nan rupawan itu.

Langkah riang dan entengnya terhenti, pandangannya membulat terkejut melihat seseorang di hadapannya. bukan karena orang itu berpakaian aneh dan sebagainya, tapi orang di hadapannya adalah orang yang sejak tadi ia pikirkan.

"Kau!"

Orang yang ditunjuk itu-SeokJin gelagapan melihat Taehyung sudah melangkah-lebih tepat berlari ke arahnya dengan terburu-buru. Pemuda manis nan cantik itu tepat berdiri di hadapan SeokJin, matanya membulat tidak percaya dengan apa yang ia lihat sekarang. Seseorang yang sudah dia tunggu-tunggu, sekarang ada di hadapannya dan datang sendiri ke arahnya.

"Ige mwoya? Ige kkum anniya?"

SeokJin berdehem. Membungkuk hormat pada Taehyung lalu tersenyum lebar, sangat lebar dan canggung malahan. Taehyung membuka mulutnya tidak percaya, tangan terkepal dan terangkat berniat memukul SeokJin tapi pemuda tampan itu dengan cepat menghindar.

"Kenapa kau lari? Aku hanya ingin menepuk pundakmu saja?" tanya Taehyung bingung dan semakin aneh melihat SeokJin begitu gelagapan hanya karena ia berniat memukul pundak SeokJin-lalu memukul wajah itu sebenarnya.

SeokJin terpaku, bibirnya kelu tidak bisa bergerak sama sekali untuk menjawab pertanyaan Taehyung yang sebenarnya simple, tinggal jawab saja aku takut atau aku tidak mau ada orang yang memukulku. Jawaban itu akan keluar jika orang yang akan dipukul Taehyung adalah manusia, tapi nyatanya SeokJin itu vampire.

"Aku…"

"Jangan bicara karena aku yakin kau pasti akan mengeluarkan seribu alasanmu yang lain" potong Taehyung dengan wajah dibuat kesal, tangannya terlipat di dada, kedua matanya menatap SeokJin dan bibir mungilnya dibuat maju.

Seokjin kembali terpaku melihat bibir Taehyung mengerucut begitu lucu. Memori otaknya langsung berputar ke belakang saat Taehyung berkunjung ke mansionnya dan meninggalkan dirinya dengan secarik kertas berisi deretan angka dan sebuah playfull kiss. SeokJin masih mengingat jelas kejadian itu.

"Kopi, eottkhae?" tanya Taehyung memberi kode untuk SeokJin mengajaknya pergi. Namun, pria berwajah bodoh dan menyebalkan itu masih diam memandangi wajahnya. Bibirnya mencebik lalu maju selangkah dan langsung menyadarkan SeokJin dari rasa kagumnya. Kagum? Mungkin ini aneh tapi ia berusaha menampik rasa itu. ia vampire dan ia tidak boleh kagum pada manusia.

"Aku tidak tahu kau itu bodoh atau kelewat polos. Aku akan langsung saja, bagaimana kalau kita minum kopi?"

Seperti ajakannya, Taehyung langsung menyeret pria tinggi dan rupawan itu masuk ke dalam café. SeokJin masih memasang wajah kaku dan datarnya, sama sekali tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Ia hanya diam menatap Taehyung yang sedang memasan dua buah minuman, tunggu apa Taehyung tahu kopi kesukaannya? Masa bodo, lagipula ia tidak terlalu bisa merasakan rasa kopi. Ia kembali diam, menatapi Taehyung yang juga menatapnya.

"Kau tidak mau bicara?"

"Bicara apa?" tanya SeokJin balik dan bingung. Taehyung menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Ia harus bersabar menghadapi manusia kolot dan tidak tahu cara bersoisalisasi di depannya tapi sialnya sungguh tampan. Sungguh, baru kali ini Taehyung begitu tergila-gila dengan seorang pria, biasanya para pria yang akan tergila-gila. Ini bukan bualan Taehyung tapi itu benar adanya.

"Bicara, ngobrol. Seperti menyanyakan apa kabarmu? Apa kau sehat? Bagaimana dengan pekerjaanmu? Dan kau bisa memujiku sedikit" jawab Taehyung dengan nada sedikit sengit. SeokJin mengangguk paham, ia lalu berdiri membungkuk sembilan puluh derajat dan terakhir meletakn kedua tangannya yang menyatu di depan perutnya.

"Annyeonghaseyo! Bagaimana kabarmu, V-ssi? Apa kau sehat? Aku tidak tahu pekerjaanmu apa tapi aku harap pekerjaanmu lancar dan kau masih sama"

Taehyung terpaku, namun ia segera tersadar jika tingkah SeokJin menarik seluruh perhatian pengunjung bahkan pelayan yang mengantar minuman mereka dibuat bingung dengan sikap SeokJin. Taehyung tersenyum membungkuk kecil seraya mengucapkan terimakasih, lalu ia beralih ke SeokJin dan menyuruh pria itu duduk lagi.

"Duduk atau aku akan membunuhmu!"

SeokJin segera duduk. Seharusnya ia tidak takut dengan ancaman seperti itu, kan? Ia vampire, tidak seharusnya ia takut dengan ancaman tidak berguna dari Taehyung. Tapi entah mengapa ia tetap menurut, duduk dengan posisi tegak menatap lurus ke arah Taehyung.

Taehyung melipat tangannya di dada, menyandarkan dengan nyaman punggung mungilnya, menatapi SeokJin yang lebih asik meminum kopinya ketimbang memperhatikan atau menanyakan hal selain tadi. Ia menghela nafas, memajukan tubuhnya hingga wajahnya tepat berada di depan gelas yang digunakan SeokJin untuk minum kopi. Ia tidak percaya, jika dirinya yang selama ini jutek dalam kencan akan bertingkah seperti ini.

"Kenapa kau mengatakan aku masih sama? Apanya yang masih sama?" tanya Taehyung dengan senyum manisnya. SeokJin kembali terpaku, menatapi senyum itu seperti orang bodoh.

"Senyummu"

Taehyung mengernyitkan keningnya, menunggu kelanjutan ucapan SeokJin.

"Masih sama cantiknya"

Taehyung tertegun, lima detik kemudian ia tersenyum lebar dan kembali menunggu ucapan selanjutnya dari SeokJin.

"Kau juga masih sama bersinar terang"

"Kau juga masih sama" balas Taehyung tidak mau kalah. Ia menopang dagunya, menatapi lekuk wajah itu begitu sempurna dan seperti dipahat langsung oleh Sang Maha Kuasa.

"Kau masih tampan tapi terlihat idiot, kau masih sama. Aku senang kau mulai bisa diajak mengobrol, tapi kenapa kau tidak pernah memulainya lebih dulu?" tanya Taehyung dengan nada di akhir sedikit kesal. Ia lalu menjauh, menyeruput Americano penuh cream miliknya.

Dan tanpa Taehyung ketahui, SeokJin memperhatikan itu dengan seksama. Selama hidupnya sebagai vampire, ia tidak pernah mengetahui jika seseorang yang sedang minum kopi itu bisa terlihat begitu cantik. ia memperhatikan bagaimana tangan itu mengangkat gelas, meneguk kopi itu, membersihkan noda cream di bibirnya dan menaruh gelas itu kembali ke meja. Sungguh gerakan yang begitu lambat dan penuh keanggunan. SeokJin terperangah dan ia menyukainya.

"Kenapa menatapku seperti itu? Kau terpesona padaku?"

"Eoh,"

Jawaban yang begitu singkat tapi mampu membangkitkan rona merah di pipi Taehyung. Ia tertawa kecil lalu mendekatkan tubuhnya lagi ke meja.

"Selain idiot kau itu kelewat jujur ternyata" ucap Taehyung dengan bibir membulat lucu, dan sungguh SeokJin tidak bisa berkata-kata lagi melihat segala ekspresi yang keluar dari Taehyung begitu cepat berubah tapi tidak terlihat dipaksakan. Ia suka, sangat menyukainya.

"Geundaeyo, aku terlalu canggung memanggilmu dengan sebutan kau. Bisa saja kau lebih tua dariku, jadi ayo kita mulai dari awal obrolan ini" ajak Taehyung seraya menegakkan duduknya. Merapihkan surai hitam legamnya lalu memandangi SeokJin dengan senyum ramah nan manisnya.

"Annyeong! Joneun V imnida, ireumieyo mwomnikka?"

To Be Continue

sorry, ceosonghamnida *bungkuksedalemdalemnya* aku tahu ini tbc tidak elitnya bahkan nggak ada moment YoonMin tapi aku janji chapter tujuh akan penuh oleh meoment YoonMin karena... #hayo apa?# *digamparmassal* *pundungdipojokan*

pokoknya, tungguu aja kelanjutan ff ini dan mampir ya ke WATTPAD ku karena ff ini akan aku post juga di sana, terus promosi juga RNR ff baru ku couple WINKDEEP *promosidulu* *digamparlagi* *pundunglagi*. kalo mau lihat bio ku bisa lihat di profile ku, oke?

akhir kata, semoga aku masih punya kuota sampai desember karena liburan aku akan update ff ini dan ngelanjutin macam-macam draf aku *hahahah*

oke, terakhir RNR ya? khusus untuk reader JOAH aku bales reviewnya di sini aja, ya *kedipimut*

GHAMSAHAMNIDA! SARANGHAEYO!

joah: soal masuk UGM atau nggak, doain aja ya semoga masuk. soalnya aku pengen di sana, banget malahan tinggal dan sekolah di Yogya bareng abangku tercinta. tapi di sana aku pasti jadi obat nyamuk *nasibjombloabadi*. Yoongi masih ngeraguin Jimin ya, kenapa ya? nanti juga akan terjawab makasih ya udah review dan baca, aku bales reviewnya di sini aja. saranghaeyo