Chapter 7

"Flawlessly"

Sementara itu, aku melompat mundur menghindari serangan dari Kouta. Mengesampingkan tubuhnya yang besar dan berbentuk itu, gerakannya sangat cepat. Aku tidak bisa menutup mata sebentar saja, atau dia mungkin akan meninjuku lagi seperti sebelumnya yang dia lakukan pada perutku.

"Hiaaah!" Dari sudut mataku, bisa kulihat sekilas Ayumu melompat dengan cepat ke belakang Kouta dan hendak menendangnya.

Namun secepat itu pula, Kouta berbalik dan menangkap kaki Ayumu, seperti sedang menangkap lobak saja. Ayumu membuka matanya dengan kaget, sebelum Kouta melemparnya dengan kuat. Tubuhnya membentur tembok hingga berbunyi keras. Aku meragukan bunyi apa itu, tapi jelas berharap itu bukan tulang-tulangnya yang patah.

"Ayumu!!" Aku berseru. Segera kualihkan pandanganku pada Kouta dengan geram. "Kau—!!"

Aku menangkap sekelebat bayangan, dan secara refleks kuangkat tanganku membentuk pelindung di depan wajahku. Kemudian sesuatu yang keras menghantam kedua lengan bawahku, membuatku terseret ke belakang beberapa meter jauhnya.

Selesai mengerem, aku bisa merasakan kedua lenganku bergetar hebat. Jantungku berdegup kencang hingga aku bisa merasakannya seolah hendak mendobrak keluar tulang rusukku.

"Kau semakin lemah, ya, Hyuuga Ichigo," kata Kouta yang masih berdiri di tempatnya. Dia menatapku dengan pandangan yang bosan. "Ini tidak sebanding dengan 'kamu' yang waktu itu."

"Heh," Aku tertawa remeh. "Ini masih belum sepenuhnya."

Aku berdiri tegak lagi, meski kaki dan tanganku masih bergetar akibat menahan tendangan Kouta tadi. Napasku mulai memburu, dna keringat yang mulai terasa dingin mengalir di pelipisku. Ini sudah jelas… sejak melawan Kouta sekitar 15 menit yang lalu, tenagaku terkuras. Aku tidak bisa lagi bergerak secepat sebelumnya.

Kulayangkan pandanganku ke arah Ayumu yang sepertinya tidak sadarkan diri. Kurasa dia pun mengalami hal yang sama.

Orang ini… Minami Koutarou. Dia telah berubah banyak; paling tidak itu yang kutahu dengan membandingkannya dengan 'dia' yang 2 tahun lalu.

"Dikalahkan oleh bocah sepertimu tidak bisa kuterima hingga sekarang. Hanya demi saat ini, aku telah berlatih tanpa henti…" Kouta memasang tampang jijik. Kemudian dia membuka matanya dengan lebar. "Aku melakukan ini semua hanya untuk mengalahkanmu, Hyuuga Ichigo!!"

Aku berusaha mengatur napasku, tanpa sadar aku menelan ludah sebelum menjawabnya. Kupasang wajahku yang biasanya, wajah yang aku tahu sangat dia benci.

"Jadi kamu benar-benar berusaha untuk menyaingiku, ya, Koutarou. Usahamu yang seperti orang bodoh itu membuatku cukup terkesan. Tidak kusangka kau begitu terobsesi denganku." Aku tersenyum remeh lagi.

Tidak seperti reaksi yang kuharapkan darinya, Kouta malah terkekeh geli. Lama kelamaan berubah menjadi tawa yang keras. Sejenak kemudian, dia akhirnya berhenti sambil menatapku lucu seolah aku badut. "Seperti biasa, bicaramu memang pedas, tapi itu tidak akan memengaruhiku lagi. Lihat dirimu! Kau pikir kau bisa menang dengan kondisi seperti itu!?"

Kemudian tawanya meledak lagi. "Lemah! Lemah sekali, Ichigo!" serunya di sela-sela tawanya. Kini ganti aku yang geram. Tawanya itu sangat menggangguku. Dia bahkan lebih berisik dari si pengguna boneka tadi.

Aku menatapnya tajam dalam diam. Berteriak-teriak sungguh bukan gayaku. Aku lebih memilih untuk diam ketimbang membuang tenaga berbicara hal yang tidak penting dengannya. Saat itu hatiku mulai tenang. Aku berpikir bagaimana cara mengalahkannya. Tidak mungkin dengan kekuatan. Dia jauh lebih kuat dan staminanya masih tinggi dibanding aku yang habis melawan Suzuki Kawashi sebelumnya. Selain itu, kecepatannya bergerak dan berefleks melengkapi kekuatan serangan dan pertahanannya.

Apa… ini berarti tidak bisa secara fisik? Tapi kalau benar begitu, dengan cara apa—?

Sebuah suara kecil terdengar dari belakangku. Itu Ayumu. Dia merintih tertahan. Sepertinya dia sudah mulai sadar. Meski begitu, dia tidak bergerak banyak. Tubuhnya pasti masih terasa berdenyut-denyut setelah menghantam tembok sebelumnya.

Aku terdiam sejenak. "Aku juga tidak boleh kalah darinya," kataku sambil melepas napas.

Kouta menatapku tajam. "Aku sudah pasti akan mengalahkanmu—!"

"Aku tidak membicarakan dirimu," kataku cepat, memotong kalimatnya. Kouta berkedip heran. Aku melirik sebentar ke arah Ayumu, kemudian kembali ke Kouta lagi. "Tapi, urusanku masih belum selesai. Tujuanku ke sini juga bukan untuk melawanmu."

Aku memasang kuda-kudaku lagi. Kouta, yang senyumnya telah hilang, juga melakukan hal yang sama. Sepertinya kami berdua sama-sama ingin menyelesaikan ini secepat mungkin. Kami berdua diam, memerhatikan pergerakan masing-masing.

Ini adalah satu-satunya cara, pikirku. Kesempatan ini tidak boleh terlewatkan.

Kemudian, tiba-tiba, Kouta menjejakkan kakinya dengan keras di lantai dan melesat ke arahku dengan cepat. Aku waspada. Begitu sampai di depanku, dia melayangkan kepalan tangannya yang berotot itu. Dengan cepat aku menangkap pergelangan tangannya itu dan memberikan sedikit tenaga ke samping. Kouta langsung terhuyung, hilang keseimbangan. Sekilas kulihat dia membuka matanya dengan terkejut.

Menggunakan tenaga lawan untuk balik melawannya. Tidak, mungkin lebih tepat dibilang: menghindarinya. Ini, adalah teknik dasar aikido.

Meski begitu, Kouta tidak sampai terjatuh. Dia hanya terhuyung beberapa langkah saja, kemudian kembali ke atas kakinya. Aku tahu, berhasil membuatnya hilang keseimbangan atau jatuh saja tidak akan membuatku menang darinya.

Dan yang sangat disayangkan, aku hanya belajar teknik dasarnya.

"Kau…!!" Dia kembali berusaha menyerangku. Aku berusaha menghindarinya alih-alih menahan serangannya. Untuk sekali lagi, aku berhasil membuatnya tidak imbang. Aku memicingkan mata. Ini dia saatnya, pikirku.

Aku meraih lengannya, dan memutarnya dengan kasar. Kouta seolah akan terpelanting ke belakang.

*****

Ayumu perlahan membuka matanya. Cahaya remang-remang dari obor yang menyala di sisi-sisi ruangan mulai memperjelas pandangannya. Sesuatu di dalam punggungnya terasa sakit. Begitu pula dengan sesuatu yang ada di dalam dadanya.

Perlahan, ingatannya mulai kembali. Kalau tidak salah, dia dan Ichigo sebelum ini sedang melawan seseorang, lalu dia terlempar… itu yang dia ingat dengan kondisinya yang masih setengah sadar.

Matanya yang melihat ke bawah, mengikuti ke mana kepalanya mengarah itu menangkap pergerakan. Dia menaikkan wajahnya.

Di sana ada Ichigo dan Kouta.

Ichigo menangkap pergelangan tangan Kouta dan seperti hanya memutar badannya sendiri saja. Namun Kouta malah nampak kehilanagn arah. Kemudian, lagi, Kouta hendak menyerang Ichigo. Ichigo melakukan hal yang serupa.

Namun, kali ini dia menangkap lengan Kouta yang terjulur ke belakang, dan menariknya dengan kasar. Kouta jatuh. Detik-detik saat Kouta jatuh, Ichigo melompat ke arah pria berotot itu, dan mengacungkan telapak tangannya ke wajah Kouta.

Plok.

Suara telapak tangannya yang menempel di wajah Kouta itu terdengar ringan. Namun kemudian suara ringan itu disusul oleh sesuatu yang berat sedang ditinju dengan keras.

Ayumu membelalakkan matanya.

Tubuh Ichigo melayang. Tinju Kouta telah mengenai perutnya.

Ayumu tidak percaya. Dia membuka mulutnya dalam ketakutan.

"I…" Pipinya naik, sementara sosok anak lelaki itu terlempar ke udara. "Ichigooooo——!!!!!"

To be continued.