UPDATE SETIAP JUM'AT/SABTU


All characters' name of Naruto belong to Masashi Kishimoto

"SANG PEMAKAN HATI MEMAR"

By Kohan44


PERINGATAN

"Mengandung OOC, AU, dan Pair sesuka author. No BL."

6 Petal

"Mimpi Seorang Penjahat"


Matahari berkoar-koar menyengat sekumpulan anak laki-laki di tengah lapang. Membakar bara semangat. Mereka saling berseru ketika menggiring bola. Di bawah bayangan gedung dekat lapang itu, sebagian anak perempuan diam-diam mengagumi mereka, dan sebagian lain mengoceh tentang seberapa sia-sia apa yang dilakukan anak laki-laki di musim sepanas ini. Banyak anak memilih diam di kelas menikmati pendingin udara, sementara Sakura, satu di antara segelintir anak perempuan, berdiri di tengah panggangan matahari. Rambutnya mulai mengeluarkan bau terbakar, kedua pipi dan tangannya memerah. Telinganya semakin panas mendengar seribu petuah tanpa henti dari Uchiha Sasuke.

"Kau masih tidak ingin mengatakan alasannya?" Sasuke menggeram. Salah satu tangannya mengepal sementara tangan yang lain bergerak naik-turun di sisi jahitan celananya, seakan tertahan ingin melayang. "Kau memang ingin membunuh Karin tanpa alasan? Kau seorang psycho?"

Kepala Sakura menunduk lama dan mulai terasa pegal. Keringat mulai menetes, dari kening melintasi pipi memar, dan garam dalam keringat itu membuatnya perih.

Sasuke membuang nafas lelah. Akhirnya menyerah juga, mengakui kekalahannya atas sikap keras kepala Sakura. Gadis itu enggan mengucapkan sepatah kata pun atau setidaknya mengeluarkan sedikit nada maaf.

"Mulai hari ini, jangan ikuti aku lagi." Kata Sasuke sebagai kalimat penutup. Kemudian berbalik pergi meinggalkan Sakura sendirian di belakang aula olahraga.

Sakura mengikuti kemana perginya punggung Sasuke. Dia melihat punggung lebar itu bergerak cepat, tak nampak ragu menjauhinya. Meski Sasuke tak berkata apa-apa tentang kemarahannya, Sakura tahu benar seberapa kesal Sasuke sampai dia ingin menampar Sakura.

"Kenapa kau hanya diam?" suara lain terdengar, arah datangnya dari belakang. Sakura amat kenal suara itu. Suara yang mungkin sudah terpatri di otak kecilnya dan akan teringat meskipun Sakura sudah berkeriput.

Sakura tak menjawab. Naruto berkata lagi, "Sasuke benar, kau tidak perlu mengikutinya lagi." Naruto berjalan mendekat, melayangkan sebelah tangannya di kedua bahu Sakura, menyeringai lebar sambil menepuk-nepuknya kasar. "Masih ada banyak Sasuke di luar sana."

Kening Sakura mengkerut, mencoba menghalangi sinar matahari yang datang langsung ke matanya. Tapi dia lebih banyak mengkerut karena sedang berfikir sambil mengontrol diri untuk tidak terbawa gila oleh panasnya hari dan perkataan Sasuke.

"Menjauh dariku, Kecoa." Kata Sakura tanpa gairah, meloloskan diri dari rangkulan Naruto. "Apapun yang kau dengar, lupakan saja semuanya!" katanya lagi tanpa berhenti berlari.


.

.


Naruto menggaruk keningnya yang gatal gara-gara keringat hasil panggangan matahari mengalir menggelitiki. Kemudian turun ke dada dan punggung, membuat Naruto menggelinjang mengikuti alur jatuhnya.

"Kau sudah dengar kabar kecelakaan Karin?" Naruto meneguk air putih dalam botol sampai separuh kosong. Desah nafas lega keluar dari mulutnya.

Sakura diam tak bergeming, memeluk kedua lutut di atas kursi penonton. Tak membiarkan satu derajat pun sudut matanya lolos dari satu-satunya pemain yang membuat dia tertarik menonton permainan bisbol.

"Hei, aku mengajakmu berpesta. Bukankah tujuanmu itu menyingkirkan Karin dari Uchiha?" Naruto memperhatikan teman karibnya yang duduk berjarak dua bangku di sampingnya.

Semenjak bolos panjang, Sakura seringkali bertingkah seolah-olah orang bisu. Sosok yang berbeda dari Sakura yang Naruto temui setahun lalu. Naruto merasa seolah-olah bertemu orang baru dan kehilangan Sakura yang telah berbagi hukuman sekolah setiap kali mereka datang terlambat atau tidak mengerjakan PR.

"Sebenarnya aku bersyukur, sejak kau bertekad mendekati Sasuke, kau jadi lebih banyak memperbaiki diri; mengerjakan PR, datang tepat waktu, berseragam rapi, menyisir rambut setiap jam, yaa… walaupun aku harus sering bicara sendirian sebagai bayarannya." Naruto kembali menegak minumannya dan kali ini mendesis tidak puas tak mendengar respon apapun dari Sakura.

"Hei! Kau tuli?!" Naruto melempar tutup botol ke kening Sakura keras-keras sampai terdengar bunyi pletak yang membuat Naruto sendiri mengerjap ngeri. Tapi Sakura hanya mengerut sejenak sebelum kemudian mengabaikan rasa Sakit tersebut. "Ya ampun, sekarang kau membuatku kehilangan tutup botol!"

Satu pukulan keras melayang, bola bisbol melesat keluar lapangan, melintasi kepala Sakura dan Naruto lalu menghantam salah satu bangku penonton. Sakura dan Naruto menoleh, mencari tahu keadaan bola itu. Bola tersebut memantul-mantul kecil sebelum bergelinding turun dari kursi ke lantai. Anak-anak di lapang bisbol menatap penuh harap ke arah mereka berdua, memohon bantuan.

Sebuah seruan terdengar memanggil nama Sakura dari jajaran kursi penonton paling tinggi. "Sakura, selesaikan tugasmu!" raungnya sembari berkacak pinggang. Nampak anak perempuan itu tidak datang dengan damai. Naruto bergantian antara menatap Sakura, anak perempuan yang menggeram garang, dan tim bisbol di lapangan yang bersorak memohon.

"Kau tidak akan menghampirinya?" Kata Naruto sambil menunjuk anak perempuan itu dengan dagu. "Hutangmu dengannya belum lunas kan?"

Sakura menutup kedua telinga, melepas jas sekolah kemudian membuntal kepalanya dengan jas tersebut. Sakura juga menyimpan tasnya di atas kepala sampai suara orang-orang teredam.

Naruto meminum habis air yang tersisa dalam sekali tegukan. Dia menatap sedih botol plastik di tangannya. Seakan melihat anak kucing yang harus dia buang di pinggir jalan. Keningnya berkedut. Tiba-tiba dia meremas botol kosong itu sampai gepeng. Lalu dia lempar jauh-jauh ke belakang dimana seseorang tanpa lelah mengaum marah, sambil meraung "Enyahlah!" Tak lama, terdengar jeritan kesakitan.

Anak perempuan itu memungut botol yang mengenai perutnya, lalu melemparnya balik penuh amarah. Botol tersebut melayang pendek sebelum merunduk mendarat di tengah jalan, menggelinding ke kolong bangku. Gadis itu pergi sambil tersungut-sungut seakan seseorang bakal mendengarkan gerutuannya. Naruto terkikik merasa berhasil membuat gadis itu kesal.

"Kau tahu alasan Sasuke bermain bisbol?" kata Naruto, berusaha menarik perhatian Sakura, tapi Sakura tak bergeming, bahkan tidak mulutnya yang bergerak barang sesenti saja atau alisnya yang berkedut. "Kau tidak tahu?"

Naruto menerawang jauh ke langit biru, nampak sangat luas dan kosong tak berawan seperti kanvas yang bisa dilukis dengan berbagai macam hal. Keningnya berkerut menahan silau matahari. Minggu lalu langit yang ditatapnya selalu kelambu. Apa karena dia bertemu Sakura maka langit berubah cerah?

"Sasuke berencana membuat pukulan homerun." Naruto lanjut berkata tanpa melepas matanya dari langit. "Untuk Karin." Tambahnya. Kali ini Sakura berbalik, menatap Naruto langsung.

Naruto langsung menyabet kesempatan itu secepat kilat. "Kau absen kemana beberapa hari kemarin?" Sayangnya, secepat itu pula Sakura membuang perhatiannya.

"Hei, aku serius. Kau pergi kemana? Aku rasa Sasuke tahu kemana perginya kau, tapi dia tak mau memberitahuku. Kau absen ketika Karin juga absen. Apa aku harus berpura-pura tidak ada satu hal yang mencurigakan?"

Ya, meskipun Naruto tidak menyukai cara ini, tapi mereka adalah teman. Naruto seharusnya mengetahui lebih banyak dari orang-orang yang tak sedekat dirinya dengan Sakura, atau ini artinya mereka bukan benar-benar teman?

"Sasuke ingin membuat homerun?" akhirnya Sakura berkata.

Naruto mencari mata Sakura yang terhalang bayangan jas.

"Kalau kau ingin diperhatikan, kau perlu melakukan sesuatu yang menarik perhatian. Aku rasa itu maksud Sasuke."

Sakura termenung, untuk sesaat memutus perhatiannya pada isi lapang bisbol. Pada satu gerakan cepat, Sakura bangkit berdiri, menyimpan tas di punggung dan membiarkan kepalanya masih terbungkus jas. Berlari pergi meninggalkan Naruto yang melolong menyerukan "KALIAN PAYAH!" kepada para pemain bisbol.


.

.


Sakura tiba di kelas melukis. Tanpa permisi, Sakura menerobos pintu masuk dan menemukan puluhan kanvas kosong bertumpuk di sudut ruangan, beberapa kanvas berdiri dan sisanya kanvas-kanvas yang terisi oleh olesan cat. Dari salah satu sudut ruangan, Sakura mendengar dua suara tengah saling beradu pendapat. Ketika Sakura memunculkan diri kepada dua suara itu, mereka terhenyak menahan nafas.

"Astaga! Kenapa kau baru datang?!" salah satu di antara mereka yang aksennya terdengar aneh segera menghampiri Sakura. MembeInon koas lukis ukuran sedang yang masih baru dan langsung menuntun Sakura ke salah satu kanvas siap pakai.

"Tenten, abaikan dia! Temannya melempariku botol untuk mengusirku. Dia sudah tidak lagi ingin melukis." Kata anak lain yang berkepang tunggal. Namun, Tenten mengabaikannya. Tenten membantu Sakura menyimpan tas di samping kaki kanvas, melepas jas yang membungkus kepala Sakura, lalu memusatkan perhatiannya tepat ke kedua mata Sakura. Mengirimkan seribu makna yang Tenten harap bisa dimengerti Sakura tanpa harus membeInon banyak penjelasan lewat kata-kata.

"Aku ingin menang... bulan depan… di perlombaan yang kau sebutkan.." kata Sakura terputus-putus.

"Semangat yang bagus," seseorang lain menginterupsi dari balik salah satu kanvas. Dia datang menghampiri, membuat Shiori mengambil langkah mundur mempersilahkan.

"Astaga, Hinata!" anak berkepang tunggal memikik histeris, entah kaget melihat kedatangan Hinata atau iut memang hal yang biasa dilakukannya.

"Kau... Hyuga… Hinata... senpai?" Kata Sakura terbata.

Hinata menepuk pundak Sakura dengan tangan kiri, meremasnya kuat sampai Sakura melirik tangan kanan Hinata. Tangan itu dibalut gips dan perban, menggantung tanpa daya bagai hiasan. Sakura menangkap kedua mata Hinata, mata lengket yang tak mau melepaskan Sakura barang sedetik saja.

"Kau pasti menang, kau pasti bisa menggantikanku." Kata Hinata pernuh penekanan. Dia membantu Sakura mencelupkan kuas ke cat air. Perlahan-lahan menggoreskan koas ke atas kanvas putih sambil ditonton Shiori dan Tenten. Tanpa tahu apa yang benar-benar ingin Sakura gambar.


.

.