Sebenernya sih alasan saya apdet 2 chapter... gara-gara cerita Chapter 5 kepanjangan hehehe... saya potong jadi dua ajah biar enak bacanya XD
Okelah XD
Kalau mau ngeflame, flame ajah kekurangan fic saya, tapi jangan flame karakternya okeh? Deal? Kalau bisa sih kritik saya biar saya bisa memperbaikinya di chapter yang akan datang.
.This Is My Turn To Unleash My Imagination.
~^^ SAYA BUTUH KRITIK YANG MEMBANGUN ^^~
^^ Peace ^^
Bales ripyu nya udah di chapter sebelumnya XD
nah langsung mulai ajah...
Warning! OCC (Banget!), AU
Naruto Belongs to Masashi kishimoto-sensei~~
Love to Life Belongs To Me~~ *narsis- ditampar*
Continued...
FlashBack
Sasuke And Hinata Year 12
Sasuke POV
Kudengar suara aneh menyeruak di telingaku, sangat mengganggu samapi rasanya aku ingin menutup telingaku dengan sumbat gabus yang super besar. Namun, perasaan sakit ini memaksaku untuk membuka mataku yang kelam. Saat kubuka perlahan mataku...
Apa ini?
Di hadapanku hanya ada kegelapan tanpa ujung, mataku tak dapat melihat sebuah objek pun. Bahkan untuk melihat tanganku pun tak bisa. Perasaanku tidak menentu.
Perasaan hampa yang tidak mengenakkan, membuat ku ingin kabur dari kegelapan ini. Aku muak! Muak dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan nasibku yang keji. Aku tak kuat lagi! Rasanya mau mati saja. Ingin lenyap dari dunia ini, tidak ada yang dapat kulakukan lebih banyak di dunia ini, hanya menambah penuh, membuat sesak berebut oksigen yang tak kunjung habis, kenapa aku masih bernapas? Kenapa aku masih bisa merasakan dinginnya angin malam? Aku tidak peduli lagi dengan semua ini. Cukup! Aku tidak mau tahu lagi!
Kegelapan ini rasanya semakin pekat, kenapa kegelapan menghampiriku? Aku kan tidak takut gelap, tapi kenapa kini aku ingin kabur dari sini? Kenapa?
Kenapa semua ini terjadi? Apa salahku? Apa salah Hinata? Apa salah ibuku?
Apa karena aku makhluk nista?
Apa karena aku setengah-setengah?
Apa karena aku tidak memiliki jantung?
Apa karena aku tidak memiliki perasaan manusia?
Apa?
Kenapa?
Tolong beri tahu aku!
Siapa saja!
Tolonglah…
Aku menangis di dalam kegelapan hatiku, aku menangis di kemarahan, aku menjerit dalam kebisuan, aku murka dalam tangisan, aku muak dengan semua ini. Terus sendiri dalam kegelapan yang semakin kelam, terduduk sendiri di pojokan hitam tanpa alas apapun, seakan melayang di lubang hitam. Mataku tak sudi ku buka barang sedikitpun. Biar… biar kegelapan merenggut semuanya dariku. Biarlah semuanya terjadi. Aku tidak mau tahu lagi.
Hening…
Capai ku lampiaskan amarahku dalam kegelapan ini, tak ada yang menjawab yang ada hanya kebisuan yang dingin.
…
Lalu apa ini?
Hangat, kenapa badanku hangat? Kenapa perasaan ini datang lagi? Kenyamanan ini membuatku sedih… tolong jangan membuat aku nyaman seperti ini, aku tidak kuat mengenang semua kehangatan ini. Tolonglah…
Sebuah rangkulan datang dari belakang bagai cahaya terang yang menyilaukan. Aku dapat merasakannya walau mataku tertutup, butir-butir cahaya itu mengelilingiku bagai planet mengelilingi matahari. Nyaman sekai.
"Sasuke?"
Suara lembut yang membuka lembaran lama, memaksaku menerima kejadian tragis yang kuharap hanya mimpi. Membuatku terpakasa membuka mataku, kurasakan sembab di mataku yang mulai membengkak. Aku tidak sendirian dalam kegelapan pekat ini. Ah… tidak sekarang bukan kegelapan pekat lagi yang ada di dekatku, karena sosok bermandikan cahaya yang merangkulku dari belakang membuat kekelaman sirna.
"Ibu?" Mataku berair, bengkak, dan merah. Menatap sosok bercahaya itu yang tersenyum padaku. Kemudian dia membelai rambutku pelan, mencium pipiku dengan lembut.
"Jangan mendendam, hiduplah dengan tenang, dan bahagia."
Suara bening yang terdengar seperti lonceng, menggetarkan sesuatu di rongga dadaku sebelah kiri. Membuatnya sedikit berdenyut perlahan.
Kemudian sosok itu pindah ke hadapanku. Tangan kanannya bercahanya memegang dadaku kemudian tangan kirinya yang juga bercahaya memegang dadanya.
"Aku sama sekali tidak punya jantung bu… aku tidak mempunyai suara debaran yang indah itu, aku sama sekali tidak tahu rasanya bu."
"Ssshhh… kau salah… suara indah ini bukan hanya milikku, tapi juga milikmu," katanya sambil menempelkan telunjuk kirinya ke bibirnya, lalu tangan kirinya ditempelkan ke dadaku.
"I-ibu… jangan pergi… jangan tinggalkan aku… tolonglah bu… hiks… hiks…" mataku yang sudah sangat sembab kini meneteskan lebih banyak air mata yang jatuh bagaikan permata di lengan nya yang bercahaya.
"Aku tidak pergi kemana-mana, aku akan selalu ada di sini," sosok bercahaya kekuningan itu menunjuk ke daerah bawah dada sebelah kiriku.
"Huhuhuhuhu… ja-jangan pergi bu… jangan kumohon jangan… aku takut…" aku segera mendekap sosok itu sambil terus menangis. Kurasakan hangat tubuhnya, membuatku tidak ingin melepaskannya untuk selamanya.
Dia membelai rambutku, kepalaku terasa hangat, pening yang kurasa hilang dalam sekejap.
"Aku tidak punya alasan untuk hidup bu…" kataku pelan sambil terus menumpukan daguku ke bahu sosok bercahaya itu.
"Kau akan menemukan alasan keberadaanmu nanti… suatu saat."
"Kapan bu?"
"Suatu saat."
Hening lama, yang kurasakan hanya kehangatan yang menyenangkan, sedihku memudar perlahan-lahan. Kurasakan bibirku menyunggingkan senyum yang ingin ku ingat selamanya. Membuatku seperti sedang bermimpi buruk kemudian berubah menjadi mimpi indah dengan malaikat-malaikat putih yang menyelamatkanku dari penjara kegelapan. Hingga dekapannya melemah, saat kulihat wajahnya yang bercahaya. Di sana ada senyuman yang indah, namun terdapat kesedihan yang samar-samar terlihat.
"Ibu harus pergi sekarang."
"Mau kemana?"
"Ke tempat yang jauh… mungkin ke tempat ayahmu."
"Aku ikut ibu."
"Ssshh… kau belum boleh ikut kemari."
"Tapi bu…"
Sosok itu semakin menjauh... jauh sampai cahayanya mulai redup. Lalu dia berkata.
"Jangan mendendam, hiduplah dengan tenang dan bahagia."
"IBU!"
"Jangan mendendam…"
Kulihat sosok itu mulai menangis.
"Hiduplah dengan tenang…"
Kulihat sosok itu mulai tersenyum dengan air mata mengalir deras.
"… dan bahagia."
Kulihat sosok itu mulai meredup dengan air mata yang mengalir deras.
"IBU!"
Ku kejar sosok itu sampai ke sebuah celah sempit bermandikan cahaya. Sebuah pintu yang bersinar terang. Punggungku seakan didorong dari belakang, terjun dalam pintu cahaya itu. Dan akhirnya… kudengar suara yang sangat kukenal.
"…dak…dapat…dimaafkan…"
Sayup-sayup terdengar suara yang kukenali, sudah enam tahun bersamaku jadi walau mataku tertutup aku dapat mengenali suaranya.
Hinata. Dia Hinata.
Kubuka perlahan mataku yang terasa berat. Kulihat teman sejak kecilku sedang duduk meringkuk di sebuah batu basah. Tubuh kecilnya menggigil di depan api yang menyala terang melahap kayu kering yang sepertinya dia temukan dekat tempat kami sekarang. Sepertinya ini goa dekat dengan aliran sunga itu, masih dapat ku dengar suara arus air yang keras di kejauhan.
"Tidak… dapat… dimaafkan…" Hinata menggumam perlahan, menggigil menatap api yang bersinar kemerahan. Kulihat matahari telah terbenam, meninggalkan sedikit semburat cahaya senja yang sedih. Meninggalkan beberapa memori yang andai dapat kuhapus, akan kuhapus saat ini juga.
Bayangan ibu, muncul bagai frame lukisan yang bergerak liar di kepalaku. Menampakkan flasback yang terasa begitu menyakitkan, aku tidak mau mengingat akan hal itu, hanya membuatku murka. Namun.
"Hiduplah dengan tenang…"
"Jangan mendendam…"
"Hiduplah dengan bahagia…"
Kata-kata terakhir ibuku terngiang begitu bising di kepalaku, hingga membuat aku memegangi kepalaku saking sakitnya. Mataku berkunang-kunang, walaupun tidak sampai harus membuatku pingsan lagi. Namun, kata-kata ibu yang berbunyi,"Jangan mendendam…" terdengar bergaung paling sering di kepalaku.
Ya. Dendam tidak menyelesaikan masalah. Ibu telah berkorban begitu besar, aku tak mau menyia-nyiakan pengorbanannya, tapi… rasa sakit di dada ini. Tak bisa! Ibu sudah berkata jangan mendendam… tak boleh mengingkari kata-kata ibu. Tidak boleh.
"Tidak… dapat… dimaafkan…" lagi-lagi Hinata mengucapkan kalimat itu, dia mengulangnya terus menerus ke arah api dengan tatapan mata lavendernya yang kosong. Luka-luka kecil di sepanjang wajahnya sama sekali tidak diperdulikannya.
"Setelah klanku… sekarang ibu Sasuke…" katanya perlahan namun sarat dengan amarah yang memuncak. "Suku penjaga bulan… tak akan kumaafkan," katanya penuh tekad.
Kutatap teman masa kecilku lekat-lekat. Ada ketegasan di setiap kalimatnya yang sangat pelan, ada kesungguhan di setiap kalimatnya yang bergetar, ada kebencian di setiap kalimat yang sendu, dan ada kesedihan di setiap kalimat yang murka.
Aku yakin tidak ada yang dapat menghentikan niat Hinata walaupun diriku berkata hal itu tidak perlu. Karena…
Hinata. Teman masa kecilku. Telah menetukan takdir hidupnya.
Balas… dendam…
End Of Sasuke POV
End Of FlashBack
Lorong sempit itu kini hening, tidak ada yang bersuara kecuali langkah kaki Sasuke yang bertumbukan dengan lantai membuat gema langkahnya bergaung hebat dalam kesenyapan yang sedih.
Sakura terdiam lagi. Hari ini dia terlalu banyak mengetahui masa lalu kedua orang ini. Rasanya dia semakin tidak pantas untuk mengeluh. Sama sekali tidak pantas untuk berpikir dirinya malang. Sama sekali tidak pantas…
Sakura mendekap Sasuke yang menggendongnya di punggung dengan semakin erat. Setitik air mata yang segera mengering di sudut mata emerald Sakura. Didengarnya suara napas Sasuke yang tidak beraturan. Menandakan dirinya sudah sangat lelah.
Sakura benar-benar merasa sangat malu dengan kelakuannya selama ini. Menginginkan kematian. Sangat egois dan sangat tidak bisa dimaafkan.
"Mereka berdua bertahan dari kesedihan dan keputusasaan melebihi aku, bertahan hidup di dunia yang kejam ini, sedangkan aku… egois."
Sakura tak berani menatap Sasuke, wajahnya tenggelam dalam punggung Sasuke, menatap punggung Sasuke yang terbalut tuksedo hitam yang sarat akan kekelaman masa lalunya.
"Kenapa? Kenapa aku bertemu denganmu?" batin Sakura.
"Karena aku sangat ingin bertemu denganmu…" kata Sasuke.
Sakura kaget, dengan mata terbelalak dengan masih membenamkan wajahnya di pundak Sasuke.
"Ka-kau bisa baca pikiranku? Dasar tidak sopan!" Sakura berkata sambil membenamkan kepalanya makin dalam ke punggung Sasuke.
"Tidak! Tentu saja aku tidak dapat membaca pikiran orang… yang benar saja," Sasuke bicara sambil mendengus tidak sabar.
"Ih! Baru saja cerita sedih sekarang sudah bersikap menyebalkan! Simpatiku kutarik lagi!" Sakura mendengus perlahan. Namun dia tidak berani menatap Sasuke, walau menatap rambutnya sekalipun.
"Aku tidak dapat membaca pikiran orang," Sasuke menjelaskan dengan perlahan, seperti berbisik. "Hanya ingin dapat merasakan perasaan manusia."
"Lalu kau bisa belajar memahami manusia dari aku?" tanya Sakura, namun tidak sungguh-sungguh.
"Ya… entah mengapa selama bersamamu aku dapat mengerti… ah tidak… semenjak kita pertama kali bertemu juga, aku merasa mengerti perasaanmu," kata Sasuke yang kini berhenti berjalan. Diturunkannya Sakura dan didudukkannya di batu dinding lorong yang lepas tergeletak di lantai. Kemudian Sasuke berjongkok di depan Sakura, menatap lagi mata emerald Sakura yang terbias cahaya obor kekuningan. Sasuke menatap berkas aliran air mata yang mengering di pipi Sakura.
"Wah cengeng… wajahmu jadi jelek tuh," Sasuke berkata sambil mengelap berkas aliran itu, mengusapnya dengan lembut.
"Terserah aku… bukan urusanmu," Sakura menatap lantai batu, tak mampu menatap kedalam mata onyx yang sekarang menatapnya dengan lembut. Lebih mudah menatap matanya saat dia sedang iseng.
Sasuke terus menatap Sakura yang tertunduk, menyembunyikan rona merah yang dapat dilihat Sasuke walau Sakura berusaha menutupinya. Kemudian jari jempol dan telunjuk kanannya bersarang di dagu Sakura. Mengangkat wajah merona Sakura yang sangat manis. Sasuke tersenyum. Senyum yang sangat tulus.
"Kau mau dengar cerita lagi?" Tanya Sasuke yang sama sekali tidak dijawab Sakura.
"Pada suatu malam yang sangat pekat dengan bulan merah sebagai latar belakang panggung drama cerita ini, seorang vampir masih mencari alasan untuk hidup, bertanya-tanya pada bulan merah, kenapa orang yang disayanginya mengorabnkan hidupnya demi hidup Si vampir. Dia terus terbang mencari mangsa, lalu ditatapnya seorang gadis manis yang sedang duduk di depan jendela yang sedang memandang bulan merah…" Sasuke berhenti saat Sakura menengadahkan kepalanya menatap lurus ke arah Sasuke.
"Lalu, Sang gadis menyanyikan suatu lagu yang sangat jelek, jelek sekali, dengan makna putus asa yang juga tidak bagus, lalu Si vampir menghampirinya, mencoba mengabulkan keinginannya untuk mati," Sasuke terus berkata sambil menatap Sakura.
"Namun… Si vampir yang sama sekali tidak mengerti perasaan manusia ini, tiba-tiba merasa gadis itu mengatakan 'tolong selamatkan aku' dari tatapannya yang putus asa, Si vampir merasa aneh dengan sedikit perasaan manusia, yang belum pernah dirasakannya terhadap orang lain."
"Lalu Si vampir mengajak Si gadis untuk pergi bersamanya, dan Si gadis menyetujuinya. Tak ada yang tahu kalau Si vampir merasa senang sekali saat itu, dia terus membatin."
"Apakah kau membutuhkan bantuanku?"
"Apakah aku dibutuhkan?"
"Apakah aku dapat berguna?"
"Lalu Si vampir terbang ke langit malam menuju bulan merah, membawa seorang putri cantik yang butuh bantuan. Merasa sangat senang karena dia tahu apa tujuan hidupnya. Yaitu menyelamatkan Sang putri cantik bermata emerald dari keputusasaan."
"Tamat." Sasuke mengatakan kata 'Tamat' dengan membuka lengannya membentuk bulatan ke udara. Sunyi setelah itu, hanya obor yang mengeluarkan suara yang hidup saat itu.
Sakura masih terdiam menatap Sasuke yang bicara melantur. Tapi dia tahu siapa yang sedang diceritakan Sasuke. Ya, benar. Dirinya.
"Jadi… aku akan mencoba membantumu… tenang saja kau tidak sendirian, ada aku disini," Sasuke terus bicara.
"Hei… kenapa diam saja? Tak seperti kau yang bia…" kata-kata Sasuke terhenti ketika Sakura mendekap tubuhnya. Tubuh Sakura yang hangat, menjalar ke tubuh Sasuke yang dingin. Mereka berpelukan di lorong yang sempit itu, dengan pencahayaan yang redup dan jaring laba-laba yang menyebalkan, namun merekatkan mereka semakin rapat.
Sakura POV
"Kalau kau benar bisa menyelamatkan aku. Tolong selamatkan aku dari keputusasaanku, tolonglah, mungkin hanya kau yang dapat melakukannya, mungkin hanya kau yang dapat membuat hatiku luluh, mungkin hanya kau yang dapat membuat duniaku sedikit cerah."
Aku membatin dengan leher tercekat, rasanya ada sesuatu yang sudah lama ingin ku keluarkan dari dulu. Tak kuasa ku menahan gejolak emosi yang kuluapkan melalui air mataku yang kini membasai punggung tuksedo hitam Sasuke. Kucoba sedikit menutupi isakan tangisku. Hingga Sasuke berkata.
"Menangislah sepuasmu."
Dua kata yang berhasil membuat tangisanku terdengar agak nyaring, lorong sempit ini mengemakan suara tangisku. Namun aku tidak perduli lagi, kutumpahkan semuanya pada Sasuke dalam bentuk luapan emosi yang paling umum.
Menangis. Menjerit. Mengeluh.
"Tidak seharusnya aku menangis disini, Sasuke lah yang paling berhak menangis saat ini. Kenapa dia bisa bertahan. Sasuke… tolong aku." Aku terus membatin mendekap Sasuke seakan dia akan hilang kalau aku tidak mendekapnya dengan erat. Aku tak mau dia hilang.
Ingin aku menghentikan waktu. Rasanya begitu tenang dan damai dalam pelukannya. Kurasakan tubuhnya menghangat. Dekapan jemarinya dipunggungku begitu kuat, walaupun jarinya dingin, yang kurasa adalah kehangatan yang aman. Terasa aman sekali dalam dekapannya.
.
Malaikat hitamku yang manis
.
Datang dan peluklah aku dalam kehangatan tubuhmu
.
Yang beku
.
----TBC----
Wahhh saya rasakok malah kependekan di chapter yang ini yah...
Ya sudah lah Hehehe...
Semoga tidak ada Mistype dan tidak terkesan buru-buru XD
Okelah...
Sudikah meripyu Fic Hamba...
Okeh...
Ripyuannya ditunggu XD~~
---Clik!---
