Sebelumnya saya hanya ingin memberitahu kalau ini adalah chapter terakhir dari fic ini, karena terlalu panjang maka saya jadikan dua bagian, ini yang pertama Chapter 7 bagian I dan selanjutnya Chapter 7 bagian II. Maaf publishnya lama karena sengaja saya publish hari Kamis. Mungkin ada yang ngeh kalu tiap chapter ini saya publish setiap hari kamis.
Ahhhh kebanyakan bicara yang gak penting yah. . . hehe Gomene, hayu lah di baca dua episode terakhir ini, semoga gak terlalu mengecewakan sperti chap sblumnya.
Oia Arigatou Gozaimasu yg udah bersdia mengklik tombol favorte untk fic aneh ini. Hehe
One more, Don't Like, Don't Read….
HOPE YOU LIKE THIS JOUNEY !
Rated : M -Indonesian-
Pairing : Sasuke U.& Hinata H. (4EVER)
Disclaimer : Om Masashi Kishimoto
Warning: Typo(s), OOC, dll. Pokoknya jauh dari kata Sempurna deh.
Don't Like, Don't Read
Happy Reading,
Chapter 7 bagian I
-Di sebuah ruangan-
Seorang gadis dengan kaos putih dengan dipadu celana jeans pendek dan rambutnya di kuncir tidak lagi rapih, sedang terduduk di sebuah kursi dengan tangannya di ikat kebelakang. Perlahan-lahan gadis yang diketahui adalah Hinata seorang personil girlband ternama di Jepang membuka matanya. Di sebuah ruangan bernuansa abu-abu, dengan sedikit barang yang ada di sekitarnya ia perhatikan baik-baik. Ia coba mencerna dimana dia sekarang. Tembok yang terlihat seperti besi-besi, lemari besi cukup besar ada di sebelah kanannya, sofa kecil ada di kana pintu, dan sebuah dispenser di dekatnya. Ini aneh, dia benar-benar tidak tahu tempat apa ini. Masih dengan kesadaran yang belum pulih sepenuhnya, dengan pikiran yang belum maksimal dia gunakan, kepalanya masih terasa pening, dan ahhhh seperti ada yang menggelitik di lehernya. Semampunya ia pulihkan kesadarannya, ia masih berusaha mencerna penglihatannya. "Dimanah akuh? Ahhh" Perkataan yang sangat kecil volumenya dan mungkin hanya mampu terdengar oleh orang yang berada sangat dekat dengannya. Seselesainya ia mengucapkan kalimat tanya itu, rasa geli yang ada di lehernya menghilang.
"Sudah bangun rupanya kau nona?" Kata sesorang yang ada di belakang Hinata, suara yang asing baginya.
"Ahhh?" Hinata terkejut dan berusaha melihat siapa pemilik suara asing ini.
"Ohayouuuu" Sapa laki-laki bersurai kuning dengan sedikit dari rambutnya itu di kuncir keatas.
"Sss- Si siapa anda?" Tanya Hinata ketakutan.
"Oh kau belum kenal aku rupanya. Aku pengagummu loh, kau terlihat cantik di televisi. Gerakan lincahmu, emmmm aku suka. Gerakan yang seperti ini 'I Love love love you you you' *Pria itu menari mengikuti gerakan girlband yang Hinata naungi sambil menyanyikan bait lagunya* . Kau cantikkkkkkkkk sekali." Jelas laki-laki itu.
"KAU SIAPA?" Hinata berteriak, karena ketakutan dan benci dengan situasi ini.
"Uhuhuhuhu, Sabar sayang…" laki-laki itu menunduk di samping kiri Hinata "Panggil aku Deidara senpai, sayang." Kemudian laki-laki itu menjilat cuping kiri Hinata.
"Menjauh darikuuuuuuuu, bodoh bodoh bodoh. Hikz" Hinata pun menangis takut sesuatu yang terburuk dalam pikirannya akan terjadi.
"Ssssstttt, jangan merajuk seperti itu. Nanti manismu hilang loh. Hahahahaha." Kemudian leki laki itu berkacak pinggang di depan Hinata. "Sudah kita mulai saja. Aku tidak akan menyakitimu baby, just tell me. Dimana barang bukti itu?"
"Ap- apa maksudmu barang bukti?" Hinata bingung.
"Tidak usah berlagak bodoh Hime, aku tahu kau pintar berakting. Aku menanti film pertamamu loh, gara-gara kau bermain sampai ke sini jadi diundur kan Hime. Ayo cepat beritahu aku." Laki-laki itu memainkan rambut Hinata dan membuka kuncirannya.
"Lepaskan. Aku tidak mengerti barang bukti yang kau maksud." Hinata berusaha menjauhkan diri dari laki-laki itu.
"Tidak mungkin kau tidak mengerti, buktinya kau bisa sampai sini. Hime kau manis sekali." Laki-laki itu mendekatkan wajhnya kepada Hinata.
"Menjauhlah darikuuu. Aku benci kau. Hikz" Hinata sudah benar-benar takut dengan situasi yang semakin aneh ini.
"Jangan berlagak tidak mau. Tadi saat aku kecup kau diam saja, seperti sangat menikmati." Laki-laki itu menyeringai kepada Hinata. Hinata membuka sedikit mulutnya tak percaya. "Hu'um. Tadi aku menciummu, kau manis. Sungguh."
Seakan tak percaya Hinata tak mampu berkata-kata bahkan tak mau melihat wajah laki-laki di depannya itu. Malu, marah, kesal, benci, dan tak mampu membayangkan apa lagi yang dilakukan laki-laki itu selama dia tidak sadar tadi.
"Kau semakin manis hime kala memerah seperti itu. Kau menggodaku rupanya." Laki-laki yang mengaku Deidara itu maju kedepan dan merangkum wajah Hinata secara paksa lalu menciumnya dengan kasar.
"Ahhhhhhh, Toloooooooongggggg. Hentikannnnn."
Hinata meronta sejadinya, berusaha melepaskan diri dari Serigala yang ada di depannya ini. Namun karena lilitan di tangannya terlalu kuat ia hanya mampu meronta dengan badannya yang kini di dekap Deidara dan kakinya. Hinata terus menjerit dan menangis berusaha meminta pertolongan, berharap ada yang mendengar. Tiba-tiba Deidara mengambil saputangannya dan menyesapkannya kepada mulut Hinata. "Ini di dalam kapal, tidak akan ada yang mendengarmu. Jadi Be quite. Oke darling." Deidara kemudian menjilati leher putih Hinata dan tangan kanannya meremas dada kiri Hinata. Deidara menjadi gila, dia menjilat dengan kasar leher dan wajah Hinata.
"Akan ku bilang kau tidak mau bicara, maka mereka akan maklum dengan tindakanku. Begitu kan Hime?"
Deidara mengangkat kaos Hinata sebatas leher Hinata, Hinata meronta, menangis ia berusaha keluar dan melawan namun tenaganya belum pulih benar. Sekali pun sudah pulih ia tidak yakin mampu keluar dari cengkraman Serigala ini. Deidara semakin menakutkan kala ia mampu melihat gundukan putih kenyal milik Hinata yang kini hanya terhalang bra berenda hitam. Seperti anak kecil yang menemukan mainan kesayangannya, Deidara langsung menjilati dan menghisap gundukan putih itu dengan tangan kirinya meremas dada kiri Hinata dan tangan kanannya menjambak rambut Hinata agar mendongak ke atas. Hinata hanya bisa menangis merasakan geli dan sakit itu. Deidara menurunkan bra Hinata, terlihatlah kini dada Hinata yang sesungguhnya. Putih, besar, mulus, putting berwarna pink yang sangat menggoda, sekiranya itulah yang ada di pikiran Deidara. Langsung ia hisap putting pink milik Hinata, bergantian kanan dan kirinya. Ia remas dengan kasar gundukan menggoda itu. Hinata benar-benar sudah terlecehkan, pikir Hinata. Bagaimana kalau pria ini semakin jauh? Tidak akan. 'Sasuke san dimana? Aku mohon tolong aku. Hikz' Batin Hinata berteriak.
Deidara semakin kalap, ia buka celana pendek Hinata hingga semata kaki. Ia tusuk-tusuk kewanitaan Hinata dengan jarinya di balik celana dalam Hinata. "Kau basah babe?" Deidara kemudian menjilati celana dalam Hinata kemudian naik ke perut Hinata di tatapnya Hinata yang menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menangis. Saat lidahnya sampai pada dada gadis itu, ia jilati bergantian kanan dan kiri, lalu naik lagi ke leher gadis indigo itu, ia ciptakan beberapa tanda di sana, ia jambak rambut Hinata, ia ciumi setiap inci wajah gadis itu.
'Sasuke sannnnnnnnnnn'
-Di tempat berbeda-
"Berapa menit lagi waktu kita?" Tanya Naruto
"15 menit." Jawab Sasuke serius menatap jalan.
15 menit waktu tersisa untuk mereka tiba di pelabuhan yang di maksud. Semampunya Sasuke mengendarai mobil dengan kecepatan yang dia dapat, karena memang jalan di sana cukup ramai.
"Jika benar dugaanku, berarti mereka menggunakan tempat lain untuk menghabisi kita, emmmm berarti di tempat pertama kita harus menghabisi beberapa dari mereka di kapal pertama yang nanti kita naiki. Nahkoda biarkan dulu karena dia akan membawa kita ke tempat si brengsek itu. Habisi saja sejauh mata memandang. Mengerti kan?" Shikamaru menyusun siasat.
"Lalu kita buat seolah-olah di kapal pertama nanti tidak terjadi pemberontakan dari kita. Baik sepertinya kita sudah sampai. Good luck." Shikamaru akan segera turun.
"Aku akan menyelamatkan Hinata terlebih dulu. Setelah ia cukup aman aku akan bergabung lagi bersama kalian." Sasuke tiba-tiba membuka suara yang datar, dingin, serius, dan menakutkan yang membuat kedua temannya terdiam mematung sedangkan Sasuke keluar dengan percaya dirinya.
"Apa kau memikirkan hal sama denganku Shika?" tanya Naruto yang saling berpandangan dengan Shikamaru.
"Kali ini sepertinya ya. Hummm bersyukurlah. " Kemudian Shikamaru keluar menyusul Sasuke.
"Teme jatuh cinta? Akan jadi berita besar nanti. Hahahahaha" Naruto pun menyusul mereka.
Mereka bertiga celingukan mencari kapal yang berbendera merah. Sasuke melihat jam tangannya, 2 menit lagi waktu yang di berikan untuknya.
"Itu dia." Suara Shikamaru mengalihkan keduanya. Mereka kemudian menuju kapal tersebut ,terlihatlah seorang dengan pakaian serba hitamnya memandang ketiga pemuda tersebut. Mereka saling bertatapan dengan pria serba hitam itu, kemudian pria itu mengaba kepada mereka bertiga untuk segera naik mengikutinya. Yang kemudian ketiganya mengikuti pria itu naik ke atas kapal yang cukup besar. Dengan tanpa di aba setelah mereka berada di atas kapal, Naruto, Shikamaru, dan Sasuke membentuk formasi untuk mengecek daerah sekeliling.
"Kalian, hei kalian kenapa jadi menjauh. Masuk kedalam." Suruh pria serba hitam itu.
"Aman." Sasuke berbicara sambil melihat sekeliling kapal sebelah kanan.
"Aman." Naruto berkata setelah mengecek sekeliling kapal sebelah kiri dengan pandangan matanya.
"Hn" Shikamaru berada tepat di belakang pria serba hitam itu.
"Hei." Pria serba hitam itu berusaha memanggil Naruto yang semakin menjauh langkahnya.
Tiba-tiba Shikamaru mengambil sebuah pisau kecil dari saku celananya kemudian langsung sedikit melompat ia tancapkan dengan sukses ke leher pria serba hitam itu. Darah dari lehernya mengucur deras bak air keluar dari keran. Shika bungkam mulut pria itu sekuat tenaga sampai akhirnya pria itu tidak lagi menggelepar.
"Sial, bajuku kena darahnya. Ini bisa berbahaya. Cepat kalian urus jejaknya." Perintah Shikamaru.
Sasuke kemudian menggotong mayat itu sampai ke tumpukan jerami yang ada di sana, ia ikat dengan kuat leher mayat tersebut agar tidak lagi mengeluarkan darah. Sedang Naruto membersihkan lantai dari tetes-tetes darah pria tadi. Setelah selesai mereka kemudian masuk ke pintu yang di arahkan pria tadi.
"Sasuke aku sanksi Hinata ada di kapal ini, dugaanku mereka akan menaruh Hinata di tempat tujuan nanti. Terlalu berisiko jika meletakkannya di sini. Tapi itu pun bisa terjadi jika memang mereka berani dengan risiko." Shikamaru berkata dengan pelan dan mengendap-endap di lorong kapal itu.
"Lalu bagaimana sekarang Shika?" Naruto yang berada di belakang Sasuke bertanya sambil berbisik.
"Untuk semua yang di lorong ini kita habisi dulu. Ingat pelan, jangan sampai terlihat kita tengah mem..." Kata-kata Shikamaru terputus sekaligus dengan langkahnya yang terhenti.
Ia menengok ke kedua temannya yang ada di belakangnya dan memberikan arahan lewat isyarat dari mukanya. Naruto kemudian berpindah posisi ke tembok berseberangan dengan Shikamaru. Shikamaru mengangkat jari telunjuk dan tengahnya ke arah kedua sahabanya.
"Iya, aku rasa Deidara san sedang asik dengan gadis girlband itu."
Sasuke yang mendengar itu berang, ia kepalkan tangannya kuat-kuat. Shikamaru yang berada di sampingnya jadi khawatir kepada sahabatnya satu ini, takut dia akan menggalkan rencananya.
"Tadi aku sempat mengintip, Deidara san sedang menjilati gadis itu. Emmmm aku tadi saat mengangkatnya saja sudah tercium wangi bagaimana kalu sampai menjilatnya, ouhhhh nikmatnya."
Sasuke melangkahkan kakinya seakan ingin menerjang orang yang berbicara itu, padahal ia belum melihat siapa yang berbicara itu. Dengan sigap Shikamaru mencegah tidakan gegabah Sasuke, dengan menahannya dan menggelengkan kepalanya dengan penuh pengertian dan meyakinkan. Sasuke menatap lurus kepada Shikamaru, sangat terlihat Sasuke sangat kesal. Namun dengan bujukan dari Shikamaru Sasuke kembali lagi mundur dan menempelkan bahunya ke tembok kapal.
"Tapi menurutmu, wanita itu tahu tidak dimana barang bukti kejahatan bos kita?"
"Entahlah. Tapi bagaimanapun kita akan menang. Bos kita hebat, otaknya cerdas. Mereka akan mati di tangan kita."
"Hahahahahahahahahahahahahaha haha" Kedua pria itu tertawa membahana di lorong kapal.
"Hahhhhh dimana toilet yaaa. ." Naruto tiba-tiba berkata dengan cukup lantang dan dari lorong yang ujungnya pertigaan itu ia berbelok ke kiri dengan santainya.
"Hei, siapa kau?" Bentak seorang yang tadi berbicara, dan mereka berlari menghampiri Naruto.
Belum sempat bahu Naruto tersentuh olehnya, dengan tanpa suara Shikamaru mematahkan leher seorang yang juga berpakaian hitam-hitam seperti pria sebelumnya dan Sasuke manarik salah seorang lagi ke lorong itu lalu menghajarnya tanpa ampun dan tanpa suara yang keluar dari orang itu. Meskipun nampaknya dan sudah dipastikan pria serba hitam itu telah jadi mayat, Sasuke tetap menghajarnya lagi dna lagi.
"Sasuke sudah. Dia sudah mati." Shikamaru mengangkat Sasuke agar menjauh drai mayat tersebut.
"Cih" Sasuke ludahi mayat itu kemudian ia bersihkan tangannya yang banyak darah itu ke pakaian mayat itu sendiri.
"Kita buang kemana mayat ini?" tanya Naruto.
Shikamaru berjalan mengendap kesebuah kamar nampaknya. Ia putar gagang pintu dengan sangat perlahan, gelap. Ia beranikan masuk sendirian. Naruto dan Sasuke bersiap di luar menunggu suara dari dalamnya.
"Hahhhh ternyata tidak ada orang. Ayo cepat masukkan mereka ke sini. Merepotkan." Shikamaru membuka pintu sambil menyalakan lampu dengan raut kecewa karena tidak menemukan musuh di dalam sana.
Mereka pun memasukkan kedua mayat itu kedalam sana. Setelah selesai mereka pun akan segera keluar untuk segera melanjutkan misi dan menemukan korban selanjutnya. Saat Naruto hendak membuka pintu tiba-tiba Shikamaru menahannya. Kembali mereka berinteraksi dengan isyarat. Shikamaru hanya menunjukan jari telunjuknya ke atas, seakan menyuruh mereka mendengar. Dan benar saja terdengar langkah kaki yang sedang berjalan, sepertinya akan melewati tempat mereka.
Tap
Langkah kaki itu terhenti di depan kamar yang kini mereka singgahi. Naruto memundurkan dirinya, begitu pun yang lain. Shikamaru dengan perlahan menekan saklar yang ada di kanan pintu sehingga ruangan menjadi gelap gulita lagi.
Cklekk
Pintu itu terbuka perlahan, Naruto mundur perlahan ke belakang pintu begitu pun dengan Sasuke. Sedangkan Shikamaru agak jauh di sebelah kanan pintu yang untungnya tidak terkena cahaya dari luar.
Orang itu masuk sambil menyalakan rokoknya, ia nyalakan kembali lampu itu yang tentu saja tidak di ketahuinya lampu itu baru menyala. Dengan sembarangan ia menutup pintu kemudian berjalan kedepan menuju kasur. Baru dua langkah berjalan pria serba hitam itu seperti tersadar akan sesuatu, dengan perlahan ia menengok kearah kanan belakangnya.
"Haiii.." Shikamaru melambaikan tangannya disertai senyuman lucunya.
"Si…"
Belum sempat pria itu melanjutkan perkataannya, Naruto yang jaraknya paling dekat dengan pria itu langsung mencoba mematahkan leher laki-laki itu. Namun entah bagaimana laki-laki itu bisa lolos dari cengkraman Naruto, laki-laki itu pun berusaha mengambil pistol yang ada di pinggang sebelah kirinya.
"Mendokusai." Shikamaru kemudian menendang dada laki-laki itu dengan keras, saat laki-laki itu jatuh terduduk kemudian Sasuke menghabisinya dengan mengunci lehernya dengan kencang yang membuat pria itu menggelepar-glepar hingga akhirnya mati.
"Kau harus belajar lagi Baka." Shikamaru kemudian mengambil pistol dari pria itu. "Ini belum saatnya menggunakan pistol, mengerti.?" Shikamaru terlihat bodoh kini ia berbicara dengan mayat.
"Kenapa bisa lolos ya? Padahal kan sudah benar, gini gini lalu gini kan?" ia menekan pada kata gini sambil mempraktekannya.
"Ya, tapi kau masih ceroboh dengan jarakmu. Tadi itu terlalu dekat." Shikamaru memberi pelajaran kilat sambil mendekat ke arah pintu.
"Kita belum tahu pasti medan di sini, kita harus hati-hati dengan setiap ruangan di sekitar sini." Shikamaru memberi breving sebentar.
"Apa tidak kita menyamar sebagai bagian dari mereka dulu?" Naruto memberi saran.
"Dengan rambutmu yang seperti itu?" Shikamaru mengejek.
"Aku bisa pakai topi."
"Merepotkan. Sudah kita harus tetap waspada, jangan panik jika di tengah jalan bertemu salah satu dari mereka." Yang kemudian di jawab anggukan dari kedua yang lainnya.
"Tapi menurutku ada benarnya kita menyamar." Akhirnya Sasuke membuka suara yang kemudian di respon cengiran lima jarinya Naruto.
"Baiklah." Kata Shikamaru yang kemudian berjalan kebelakang mengambil jas hitam dan kacamata dari mayat yang baru saja di bunuh Sasuke. Kemudian kedua lainnya pun ikut melucuti pakaian dari pria-pria itu kemudian di pakai oleh mereka. Jadilah mereka kini keren dengan jas dan kacamata hitamnya, dan untuk Naruto plus dengan topi yang di temukannya di kamar itu untuk menutupi rambut ngejrengnya.
Kemudian mereka bertiga melanjutkan perjalanan kearah yang tak sengaja mereka berjalan. Di pertigaan tadi mereka belok kiri untuk menyembunyikan mayat ke kamar yang ternyata kosong. Kini mereka berjalan dengan hati-hati. Berusaha senormal mungkin, cukup aneh karena lorong itu cukup sepi tapi siapa tahu di pertigaan ujung sana. Baru melewati satu kamar selanjutnya mereka sudah bertemu kawan baru.
"Ummmmmm" Shikamaru memutar badannya karena cukup kaget dengan kehadirannya. Sementara Naruto dan Sasuke menghadap tembok bak orang bodoh. Dua kawan baru mereka itu sudah mendekat, taruhan diseranng atau menyerang terlebih dulu?
"Hei, kalian sudah tahu kode terbaru?" Tanya Shikamaru pada kedua kawan baru mereka yang tentu bukan dalam arti sesungguhnya.
"Kode apa?" tanya salah satunya.
"Ahhh kalian, ayo ikut sedang ada pengumumannya." Shikamaru kemudian membalikan badannya.
"Hajar dan paksa dimana Hinata." Shikamaru berbisik kepada Sasuke yang di lewatinya. Sasuke yang mendengarnya geram dan seketika emosinya kembali memuncak.
"Sial." Shikamaru mengumpat saat membuka sedikit pintu ruangan kedua. "Ahhhh aku salah kamar. Silahkan lanjutkan." Kemudian menutup pintu itu lagi dan berjalan menuju kamar pertama.
"Kode apa maksudmu? Hey kalian orang baru, siapa namamu?" Tanya seorang pria asing kepada Naruto. Naruto hanya menggeleng sambil terus tersenyum dan kemudian mempersilahkan masuk saat Shikamaru membuka pintu.
"Kode barunya adalah…" 'Ctlekkk' lampu ruangan itu menyalah berbarengan dengan Sasuke menutup pintu. "D-E-A-T-H " Shikamaru kemudian menusukkan pisau lipatnya ke leher pria di depannya yang kemudian 'Crotttttttttttt' Menyemburlah darah segar ke wajahnya yang memang dekat dengan orang yang di tikamnya.
Berbarengan dengan Shikamaru menikam salah satu pria hitam itu, Sasuke juga menusukkan pisau tajamnya ke perut salah seorang lagi. Naruto yang kaget melihat tindakan Sasuke yang buru-buru.
"Katakan di mana kalian menyembunyikan Hinata?" Sasuke penuh penekanan.
"Aaaaa…." Orang itu terbata menahan sakit di lambungnya yang terkena tusukan pisau Sasuke, terlebih mulutnya sudah mengeluarkan darah.
"Cepat katakan atau aku robek perutmu." Sasuke menusukan semakin dalam pisaunya.
"Aaaaa… aaaa" Orang itu menunjuk ke arah kanan dengan tangan kirinya.
"Katakan di ruangan mana." Sasuke semakin memperdalam tusukannya yang membuat orang itu semakin meringis.
"Sasuke…." Naruto dan Shikamaru berbarengan. Yang kemudian di sambut dengan seretan pisau Sasuke di perut orang itu yang membuat isinya keluar.
"Aku akan muntah." Naruto kemudian berbalik ke belakang.
"Aku akan mencari Hinata, kalian uruslah di sini." Sasuke kemudian keluar ruangan itu.
"Merepotkan. Maafkan aku." Dengan menggelengkan kepalanya. Shikamaru kemudian memotong titik nadi di leher orang yang sedang sekarat itu agar cepat menemui ajalnya.
"Naruto kau sudah selesai? Kita harus bekerja cepat sebelum bertemu orang tua brengsek itu."
"Ya, sudah. Kemana Sasuke?" Naruto sambil mengelap mulutnya.
"Mencari Hinata. di ruangan samping kurang kebih ada lima orang. Jika kita serang pasti akan menimbulkan suara. Jika kita gunakan gas beracun ini. Nanti tinggal tiga." Shikamaru bermaksud meminta pendapat sahabatnya itu.
"Tidak apa gunakan sekarang, nanti kita dengan tangan kosong pun jadi. Ayo cepat keluar dari tempat ini atau aku akan muntah lagi." Naruto menyeret Shikamaru keluar.
-Di Suatu Ruangan-
Deidar masih memainkan Hinata. ia keluarkan sebuah benda kecil dari sakunya.
"Hime, aku akan bermain dengan bagian bawahmu. Aku tidak tega membiarkan ini (sambil mencubit putting Hinata) menganggur. Ini akan membantumu." Deidara kemudian meletakkan kedua benda itu di putting Hinata yang membuat Hinata kesakitan. "Ummmmpppphhhhh" Raung Hinata di sela bekapannya.
"Tenang sayang ini akan enak. Alat ini aku sendiri yang buat. Kau akan ketagihan." Deidara kemudian turun kebagian selangkangan Hinata. Di jilatnya selangkangan Hinata dari luar celana dalamnya. Kemudian di remasnya paha mulus Hinata dengan kencang.
"Hime kau basah." Sasori menyeringai penuh nafsu.
Hinata meronta-ronta, dadanya sakit. Basah yang terjadi padanya bukanlah karena dia menyukai hal ini, tapi karena manusiawi. Ia berusaha sebisanya menutup bagian kewanitaannya, namun kekuatan dari tangan Deidara mampu meruntuhkan pertahanan Hinata. Di rasakan Hinata celana dalamnya sedikit mulai tersingkap. Jari Deidara mulai meraba bagian pinggir kemaluan Hinata.
"Umphhhhh" Hinata berusaha mengeluarkan benda yang ada pada mulutnya. "Umphhhhhhhhhh. Buagh. Tolooooongggg. Lepask uphhhh." Dengan sigap Deidara membekap mulut Hinata lagi.
"Jangan macam-macam kau Hime. Berisik. SUDAH KU BILANG TIDAK AKAN ADA YANG MEMBANTUMU." Setelah membentak yang membuat Hinata semakin menangis Deidara mengelus leher Hinata dengan jari-jari kokohnya. "Nahhh, kan kalau begini kau manis Hime." Deidara mencium dan menjilat leher Hinata.
BUAGHHH
Suara pintu yang di buka paksa dengan cara di tendang. Dan kemudian di tutup kembali setelah masuk.
Deidara dengan terpaksa menghentikan kegiatan menyenangkannya. Hinata membelalakan matanya ke sumber suara, takut kemalangannya bertambah. Deidara kesal bukan main, karena (tebakkannya anak buahnyalah yang membuat) kegiatannya harus terhenti. Belum sempat Deidara melihat siapa si biang kerok tiba tiba saja….
Bughhh
Sebuah tinju keras bersarang di wajah tampan pria bersurai kuning itu, yang membuatnya jatuh menubruk Hinata.
"Bangsattttt."
Bughhhhh, satu tinju lagi bersarang di wajah tampannya. Kali ini dia tersungkur di lantai. Deidara berbalik berusaha melihat siapa yang sudah berani kurang ajar terhadapnya. Ia seka darah segar yang mengalir di ujung bibirnya, dan dia rasakan berdenyut di pipinya.
"Sasuke." Kata Deidara, seakan sudah menunggu Sasuke lama.
"Bajingan, apa yang kau lakukan hah?" Sasuke berteriak marah sambil sekali lagi melancarkan tinjunya ke wajah pria di depannya.
'Cihhhh'
Buagghhh
Deidara menyelengkat kaki Sasuke, dan membuat Sasuke terjatuh. Deidara kemudian menaiki Sasuke dan mencekiknya dengan sekuat tenaga. Sasuke berusaha sebisanya namun sesaknya membuat kekuatannya hilang separuh. Bola matanya sudah naik keatas karena cekikan dari Deidara.
"Kau datang sendiri huh? Kau pikir dengan siapa kau berurusan huh?" Deidara terus mencekik Sasuke. "Baru berhadapan denganku saja kau sudah kualahan seperti ini hahhh, matilah kau seka…."
Bughttt
Deidara terjatuh ke kirinya bersamaan dengan Hinata yang jatuh terjengkang ke belakang karena menendang Deidara. Sasuke kemudian tak membuang kesempatan, ia bangkin dan menaiki balik Deidara kemudian memukul wajahnya kencang sekali, dua kali, tiga kali dan yang ke empatnya gagal. Deidara berhasil membuat Sasuke terjatuh. Di tendangnya perut Sasuke dengan keras. Sasuke kemudian bangun dan menarik kakinya dan membuat Deidara terjatuh kembali. Di tendangnya kepala Deidara berkali kali, dan kali ini kaki Sasuke yang di pegang oleh Deidara. Sasuke putar kaki kiri Deidara ke kanan, ia patah kan kaki itu.
"Aaaaaaaaaaaaaaa" Teriak Deidara.
"Bagaimana rasanya hah?" Sasuke semakin memutar kaki Deidara ke kanan.
"Aaaaaaaaaaaa" teriak Deidara sekali lagi.
Kemudian Sasuke banting kaki itu ke tanah dengan keras. Sekarang Sasuke berjongkok di samping Deidara yang ke sakitan. Di pegangnya tangan kiri Deidara. Yang kemudian Deidara berusaha melepasnya dengan bantuan tangan kanannya.
"Tangan ini yah? Apa yang sudah kau sentuh hah?" Selesai Sasuke dengan kalimat itu langsung saja Sasuke mematahkan lagi tangannya dengan cara di paksakan punggung tangan pria penggila mainan itu menyentuh pergelangan tangannya sendiri.
"Kyaaaaaaaaaaaaaaaaaaa"
"Hahahahahaha, Kenapa anak mamih? Sakit? Kasihan." Sasuke mengejek Deidara yang kesakitan. Sasuke benar-benar seperti seorang pembunuh berdarah dingin. Sasuke kemudian berjalan menuju lemari yang ada di sana, ia mencari-cari sesuatu. Akhirnya ia menemukannya, sebuah benda tumpul yang terbuat dari besi biasa disebut palu. Palu yang tidak terlalu besar, ia mainkan di depan wajahnya.
"Kau…" Sasuke menggantung kata-katanya. Ia menunjuk Deidara yang berusaha menjauh dari Sasuke dengan menyeret badannya. "Sudah melakukan kesalahan terbesar. Mungkin bisa saja aku membunuhmu dengan pistol. 'Doorrr' tapi sayang itu tidak di sarankan dalam timku. Terpaksa aku harus menggunakan ini." Sasuke kemudian menghampiri Deidara dan menghantamkan palu itu ke kepala Deidara bugh bugh bugh bugh. Berkali-kali entah tujuh atau delapan kali, hingga tidak ada lagi pergerakan dari Deidara. Rambut pirangnya kini sudah dilumuri darahnya sendiri. Sasuke mengelap tangannya di baju yang di kenakan Deidara, kemudian menghampiri Hinata.
"Kenapa kau pergi dari pengawasanku.?" Sasuke berkata dingin sambil membangunkan Hinata dan membuka sumpalan di mulut Hinata.
"Kenapa kau tidak mengikuti kata-kataku untuk tetap berhati-hati hah?" Sasuke kembali lagi bersuara dingin sambil membuka ikatan pada tangan Hinata.
"Apa yang sudah dia perbuat?" Sasuke menatap mata bulan Hinata yang sendu.
Sasuke tiba-tiba mencium Hinata. Di cengkramnya lengan Hinata, dan di lumatnya bibir Hinata dengan buas. Kemudian turun ke leher Hinata.
"Ini. Ini dia yang buat hah? Akan ku hapus." Sasuke kemudian melahap leher Hinata dengan paksa, di jilatinya dan di hisapnya tiap inci leher Hinata yang membuat kiss mark di sana lebih banyak.
"Enghhhhhhhhhh, Sasuke san." Hinata melenguh dalam tangisnya.
"Tidak ada yang boleh menyentuhmu kecuali aku." Sasuke kemudian turun ke dada Hinata. Ia hisap dan kecup tiap inci dada Hinata dengan rakus.
"Apa ini!." Sasuke melepaskan dengan kasar mainan yang tadi Deidara letakkan di putting Hinata.
"Aaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhh" Hinata menjerit.
"Maaf." Sasuke mencium lagi bibir mungil Hinata. ia cium kelopak mata Hinata yang membengkak. Kemudian turun lagi ke bagian dadanya, karena dirasanya belum seluruh kiss mark yang di ciptakan Deidara tergantikan dengan kiss mark karyanya. Tanpa Sasuke sadari kemarahan yang di timbulkan oleh cemburunya tergantikan dengan nafsu yang semakin membuat miliknya tegang. Ia kemudian menghisap putting Hinata dan sesekali menggigitnya.
"Sasukeh. . Sann" Entah mengapa Hinata menjadi menikmati ini. Sangat berbeda dengan yang di rasakan tadi. Kekasaran Sasuke padanya saat ini terasa begitu indah baginya. Dan tiap sentuhan Sasuke membuatnya nyaman tidak ketakutan seperti tadi. Ia remas rambut Sasuke yang sedang menciumi perutnya. Tanpa sadar ia tarik Sasuke keatas, ia tatap mata onyx Sasuke dan kemudian ia kecup bibir Sasuke dengan lembut dan di balas oleh Sasuke.
Lumatan yang tadinya lembut lama-kelamaan menjadi membara, bersemangat dan panas. Sasuke merapatkan dirinya kepada Hinata, membuat jarak di antara keduanya hilang. Lidah Sasuke bertarung dengan lidah Hinata. Ciuman yang penuh nafsu bagi keduanya. Merasa butuh oksigen, Sasuke memundurkan kepalanya menyatukan keningnya dengan kening Hinata.
Hosh hosh hosh
"Aku takut." Hinata kemudian bersuara dan menitikan air matanya.
"Ada aku di sini." Sasuke kembali mencium bibir Hinata dengan lembut dan penuh perasaan. Entah kenapa kata takut itu seolah menjelaskan perasaannya tadi sebelum bertemu dengan Hinata.
"Terimakasih Sasuke san." Kata Hinata lembut.
"Hn. Aku akan mengecek sesuatu." Kata Sasuke yang kemudian merosot ke bawah Hinata.
Hinata blushing dan menautkan jarinya di depan dagunya menahan malu karena dengan sadar ia mengetahui ada orang di depan kemaluannya.
"Bagian ini, aku rasa masih milikku." Sasuke kemudian menyesap masuk ke selangkangan Hinata. Hinata blushing, dan memegnag kepala Sasuke untuk dirinya bertahan dari rasa nikmat.
Sasuke semakin memainkan lidahnya di sana, ia dorong-dorong klitoris Hinata yang membuat si empunya merem melek. Ia gigit kecil bagian itu, kemudian ia hisap dan jilati.
"Ssshasuke shannn. Aku mau pippis." Hinata memejamkan matanya.
Sasuke tidak memperdulikan perkataan Hinata, ia terus bermain di bagian itu. Dan akhirnya 'Crottttt crotttt' Cairan cinta Hinata pun keluar dan di hisap oleh Sasuke. Kemudian Sasuke bangun dan mencium bibir Hinata. Tanpa ada yang menyuruh, saat bibirnya sedang di lumat oleh Sasuke Hinata menggerakkan tangannya kearah selangkangan Sasuke yang membuat Sasuke terkejut dan menghentikan kulumannya sejenak.
Hinata menciumi bibir Sasuke walau sedang tidak bergerak, tak lama kemudian Sasuke kembali lagi melumat bibir sexy Hinata. Tangan Hinata dengan perlahan membuka celana dan gesper Sasuke. Ia ambil 'sesuatu' milik Sasuke tanpa gugup sedikit pun.
"Hinata…" Sasuke menghentikan ciumannya dan menatap Hinata tajam.
Buk buk buk buk, Suara orang-orang yang berlari terdengar dari luar ruangan itu.
"Deidara sama, kita akan segera sampai." Kata orang di luar sana.
Sasuke dengan asal melemparkan sepatunya ke pintu. BUGHHH. "Ba Baiklah, segera selesaikan 15 menit lagi kita sampai. Ka kami akan menyiapkan perlengkapannya."
Tetap memandang Hinata dengan caranya, sementara Hinata sudah ketakutan. Takut ada yang mengetahui kalau Sasuke ada di sini.
"Kita sepertinya harus pindah."Kata Sasuke kemudian ia berjalan kearah lemari yang cukup besar di sana. Ia buka semua pintunya, lemari utama dengan pintu geser yang di dalamnya tidak ada apa-apa. Ia kemudian memerintahkan Hinata untuk mendekat. Hinata kemudian beranjak dari kursinya kemudian mengikuti Sasuke masuk ke lemari itu.
"Kita lanjutkan di sini saja." Sasuke kemudian mencium Hinata sambil menutup pintu lemari itu 98%, lalu tangannya meremas dada Hinata.
"Nggghhhhh…umphhh" Hinata melenguh menikmati remasan Sasuke pada dadanya.
Sasuke turun mengulum lagi dada Hinata, ia gigit kecil putting Hinata secara bergantian. Turun lagi menuju kemaluan Hinata. ia sibakkan bulu-bulu halus di sana kemudian ia jilati sambil tangan kirinya mengurut sesuatu miliknya sendiri. Hinata menyuruh Sasuke bangun, ia buka jas dan kaos Sasuke. Ia ciumi leher kemudian dada Sasuke, ia pilin putting Sasuke kemudian menghisapnya dan menjilatinya. Lalu turun ke perut rata Sasuke, lalu turun lagi hingga sesuatu Sasuke kini ada di depan wajahnya. Ia buka celana Sasuke. Tanpa canggung meski tetap ada semu merah di pipinya, Hinata mulai mengulum sesuatu milik Sasuke. Maju mundur, jilati kepala sampai ujung batangnya, ia mainkan buah kembar di sana. Sasuke sangat menikmatinya, ia menggigit bibir bawahnya, ia pejamkan matanya sambil sesekali melihat perlakuan Hinata terhadapnya.
Tok tok tok
Hinata menghentikan kulumannya dan mendongak melihat Sasuke, yang kemudian diberi isyarat oleh Sasuke untuk tetap mengulum miliknya. Hinata pun menurutinya.
"Deidara sama, berhati-hatilah karena ada penyusup." Tidak ada jawaban dari dalam, orang itu kemudian membuka pintu dan melihat Deidara telah bersimbah darah.
"Sial." Orang itu kemudian keluar lagi dan berteriak "Deidara sama tewas. Awasi semua kapal, gadis itu kabur.".
Kuluman Hinata semakin cepat sesuai dengan dorongan dari tangan Sasuke terhadap kepalanya.
"Umpphhh Hinata terussss…"
Hinata jadi ikut horny melihat Sasuke yang merem melek karena ulahnya. Sambil mengulum sesuatu milik Sasuke itu ia remas-remas kedua buah dadanya dengan tangannya sendiri. Sasuke semakin mempercepat dorongannya pada kepala Hinata.
"Ahhhh,,, Ahhhhh. Hinata lepaskan aku akan keluar. Ahhh" Sasuke memberi peringatan pada Hinata. Hinata pun melepaskan kulumannya dan..
'Crootttttt Croooottttt Croooottt'
Cairan cinta Sasuke membanjiri wajah Hinata. Sasuke kemudian mengelapnya dengan lembut dan tersenyum lembut. Kemudian ia mendekatkan wajahnya pada Hinata, ia kecup sekali lagi bibir itu "Terimakasih Hinata." Hinata kemudian memeluk leher Sasuke dan melumat bibir Sasuke ganas. Sasuke yang mengerti kemudian membalas lumatan Hinata, dan tangan kanannya memainkan kemaluan Hinata lagi. Hinata kemudian lebih memperdalam lagi ciumannya pada Sasuke, Sasuke pun semakin mempermainkan jarinya di lubang kemaluan Hinata. "Achhhhhh, Sasukehhh." Hianata penuh nafsu. "Ya, Hinata." Sasuke menggoda Hinata dengan berbisik di telinga gadis itu. "Ouchhhhh…. Ahhhhhh. Emmmm Sasukeee.. Ahhhh." Kedua kalinya Hinata mengeluarkan cairan cintanya. Sasuke kemudian menjilat tangannya yang basah dengan cairan Hinata.
"Sudah?" tanya Sasuke halus sambil tetap menjilati jarinya. Hinata merona bukan main di perlakukan begitu oleh Sasuke. Ia mengangguk, tersenyum dan berpaling dari wajah Sasuke. Sasuke tersenyum dan mencium Hinata sekali lagi, seakan enggan menjauh dari gadis ini.
Sasuke kemudian menurunkan bra dan kaos Hinata, sehingga tubuh Hinata kini telah tertutup lagi. Kemudian Sasuke pun memakai kembali pakaiannya. Setelah selesai, ia memberikan sebuah pistol kepada Hinata.
"Gunakan ini jika dalam keadaan terdesak. Ini otomatis jadi saat kau menarik pelatuknya ini akan langsung menembak. Hati-hati. Mengerti?" Sasuke memandang Hinata dengan serius. "Tetap di dalam sini sampai nanti aku menjemputmu, jangan timbulkan suara apa pun. Kau harus benar-benar hati-hati. Berjanjilah." Sasuke menatap mata bulan Hinata.
"Iya, aku janji."
"Kau harus berhati-hai karena nanti setelah ini, aku akan memintamu lebih." Sasuke menyeringai kemudian keluar dari lemari itu, dan menutupnya 80%.
"Sasuke san." Hinata membuat langkah Sasuke terhenti.
"Hn?"
"Hati-hati. Aku mohon jemputlah aku." Hinata bersemu di balik pintu lemari.
"Hn." Sasuke tersenyum lebar kemudian pergi meninggalkan Hinata.
Lets read Chapter 7 bagian II
