Terinspirasi dari ANBU karya THE Tazzy Devil. Silakan dibaca fanfic tersebut di situs ffn ini.
.
WARNING : Tidak ada lemon eksplisit. Rate-M untuk penggunaan bahasa dan beberapa tindakan menjurus(?).
Less romance and more fighting scenes in this chapter.
.
Disclaimer : I only own the story
.
.
.
Lavender and Kitsune
.
.
.
CHAPTER 7
Pagi ini pemuda itu duduk di tepi rel yang sudah berkarat akibat proses oksidasi, di bagian luar stasiun tua. Topeng rubahnya ia letakkan di samping tempat ia duduk. Matanya menatap lurus ke arah langit biru. Sudah satu jam sejak ia sampai di tempat ini, tetapi sama sekali belum ada tanda-tanda kedatangan teman-temannya.
Hari ini ia ditugaskan untuk menangkap basah transaksi perdagangan senjata ilegal yang akan dilakukan kepala kepolisian. Kemarin malam Asuma menjelaskan padanya bahwa ia sudah mendapatkan cukup bukti yang mengarah ke pria Otsutsuki tersebut. Kemudian Naruto bertiga dengan Tanuki dan Neko ditugaskan untuk menjalankan operasi langsung hari ini juga.
SRAKK
Dengan gerakan cepat Naruto melompat dan memasang posisi siaga dengan sebelah tangan bersiap menarik katana. Namun saat matanya mendapati kepala berbulu merah, ia segera menurunkan kewaspadaannya.
"Ck.. Kau lama sekali Tanuki!"
Yang dipanggil hanya diam tidak menanggapi, tetapi seorang gadis di belakang Tanuki lah yang menjawab.
"Kurasa kau yang datang lebih awal dari perjanjian, Kitsune."
Naruto mendengus kesal tapi tidak menjawab. Naruto akui memang dirinya datang lebih awal. Entah mengapa semenjak kejadian malam itu ia menjadi jarang berada di rumah. Pergi sekolah, selesai sekolah ia beredar hingga malam, atau kadang bertugas. Hanya pulang ketika jam tidur telah tiba pun keesokan paginya ia berusaha secepat mungkin untuk meninggalkan rumahnya. Pikirannya kembali pada kejadian malam itu. Kejadian yang seolah-olah semakin menghancurkan hidupnya yang memang telah hancur.
.
FLASHBACK ON
Kedua remaja itu duduk bersebelahan tanpa mengucapkan satu patah kata pun. Kenyataan yang ada di hadapan mereka saat ini seolah merupakan sebuah tamparan keras di pipi mereka. Dada keduanya terasa sakit.
Inikah realita yang harus mereka hadapi? Mengapa setelah mereka merasa akan mendapatkan kebahagiaan justru malah kebahagiaan itu sendiri yang mengkhianati? Rasanya benar-benar menyesakkan seolah-olah ada bongkahan batu yang menghalangi sistem respirasi mereka.
"Hinata.."
Gadis itu mendongak menatap pemuda yang kini justru tengah memandang langit-langit. Hatinya terasa nyeri melihat raut sedih dan putus asa yang ada di wajah pemuda itu. Matanya melirik helaian kuning yang mencuat di antara rambut gelapnya.
"Kenapa harus kau?" lanjut pemuda itu lirih.
Hinata terdiam, ia mengerti maksud pertanyaan pemuda itu. Perlahan gadis itu menundukkan kepala dan menggigit bibirnya. Sekuat tenaga berusaha menahan isakan tangis yang akan mengalun keluar dari bibir mungilnya.
Naruto memejamkan matanya erat, kedua tangannya mengepal di sisi tubuhnya. Dadanya berdegup kencang dan nafasnya memburu. Seandainya saja ia sedang berada di luar rumah, mungkin ia akan berteriak kencang. Melepas segala gundah dan perasaan sakit yang tengah menerpanya.
"Ma-maafkan aku Na-naruto-kun."
Sepertinya pertahanan Hinata telah hancur melihat tetesan air suci yang mulai mengaliri pipinya. Hinata berkali-kali menggumamkan kata maaf meski dalam hati ia sendiri bingung, memang apa salahnya sampai ia harus meminta maaf? Bukankah ini sudah jalan takdir yang harus mereka jalani?
Kemudian iris amethyst itu membelalak saat menyadari tubuhnya terasa sesak. Akhirnya ia menyadari dirinya tengah dipeluk oleh pemuda itu. Merasa tidak tahan lagi, Hinata membalas pelukan Naruto dan menenggelamkan kepalanya di dada sang rubah. Ia menangis, menumpahkan segala beban yang ada, mengabaikan kenyataan bahwa kepalanya bersentuhan langsung dengan kulit kecoklatan si pemuda.
Cukup lama keduanya berpelukan, seolah hanya dengan satu perbuatan itu mereka bisa menyalurkan kegundahan yang ada. Tidak ada kata, tidak ada kalimat, hanya bahasa tubuh yang mereka ungkapkan. Hingga saat isakan tangis Hinata berhenti, Naruto menjauhkan tubuhnya, menatap lembut ke dalam manik amethyst yang telah membuatnya gila. Ia tersenyum puas, seolah membenarkan ucapannya beberapa waktu lalu.
'Sudah kuduga, warna itu memang lebih cocok.'
Kemudian pemuda rubah itu mendekatkan wajahnya pada wajah sayu di hadapannya. Saat bibir mereka bertemu, mata mereka reflek memejam ingin menegaskan kesan mendalam pada ciuman mereka. Berbeda dengan ciuman mereka yang biasanya, yang hanya ada nafsu dan kesan menuntut. Kali ini justru sentuhan keputusasaanlah yang mendominasi. Seolah mereka sudah rela dan pasrah jika suatu saat nanti takdir mengharuskan mereka terpisah.
FLASHBACK OFF
.
"..Ne.. Kitsune.."
Panggilan dari rekan kerjanya terabaikan untuk yang kesekian kali. Naruto masih tenggelam dalam lamunannya tentang sang gadis indigo. Kedua rekannya hanya mengendikkan bahu pasrah. Sebenarnya bukan tanpa alasan kali ini mereka harus bekerja bersama Kitsune. Biasanya personil Anbu terkuat itu justru bekerja sendiri dan tidak pernah sekalipun gagal dalam operasinya. Namun, sang kapten merasakan perubahan emosional pada diri anggota kesayangannya itu hingga ia memutuskan Tanuki dan Neko pergi mendampingi sang rubah. Karena dalam pertimbangannya, mereka berdua lah anggota Anbu yang tidak mudah melibatkan emosi dalam setiap pekerjaan. Atau kata lainnya, mereka lah yang selalu berpikir logis dengan kepala dingin dalam kondisi apapun.
.
.
.
Kaki-kaki mereka kini berada di atas sebatang pohon yang cukup kuat. Pohon yang diperkirakan berusia ratusan tahun ini mereka gunakan sebagai tempat berkumpul sekaligus bersembunyi. Karena mereka menganggap inilah tempat yang cukup strategis untuk mengamati sebuah gudang tua di seberang jalan. Selain pohon ini berdaun lebat, pohon ini juga telah lama dianggap sebagai pohon keramat sehingga tidak ada satu manusiapun berani mendekatinya. Well, tentu saja para anggota Anbu mengabaikan yang satu itu. Entah memang mereka tidak percaya takhyul atau terpaksa tidak mempercayainya.
Tanuki yang bertindak sebagai pemimpin operasi berdiri tegak di cabang pohon teratas. Ketajaman matanya mampu mengamati dengan baik setiap kegiatan yang berlangsung di gudang tersebut.
Gudang ini adalah bekas pabrik gula yang sudah tidak dimanfaatkan lagi. Beberapa bagian bangunan telah dihancurkan termasuk bagian atap dan menyisakan tembok-tembok kuat yang cukup tinggi. Tidak banyak penduduk yang melewati tempat ini karena selain memang jauh dari pemukiman, tempat ini berada di distrik kumuh di tepian kota, sangat jauh dari akses apapun.
Sesaat mata Tanuki menyipit tajam, mendapati pergerakan sebuah mobil mewah yang mendekati gudang. Tangannya membentuk tanda memberikan sinyal kepada kedua temannya yang dijawab dengan anggukan mengerti. Neko dan Kitsune mulai melompat turun dan menyebar ke posisi yang telah mereka rencanakan sebelumnya. Neko berputar ke sisi kiri sedangkan Kitsune melangkah ke sisi kanan. Keduanya berlari cepat mendekati gudang sesaat setelah pintu gudang kembali tertutup.
Kaki-kaki terlatih sang rubah kini mulai menapaki dinding yang menjulang tinggi. Tidak butuh waktu lama baginya untuk mencapai bagian atas dinding. Namun, sebelum tepat mencapai puncak, perlahan matanya mengintip ke dalam. Suasana di bagian dalam cukup sepi, ada dua jenis mobil mewah tengah terparkir di halaman depan. Salah satunya tentu saja mobil yang baru saja dilihatnya beberapa saat lalu. Sekitar empat orang berbadan kekar ditugaskan untuk berjaga di sekeliling halaman dan dua lainnya tengah menjaga pintu masuk gudang. Semuanya memegang senjata laras panjang dan berada dalam posisi siaga.
Kitsune mengencangkan posisi topeng di wajahnya. Awalnya ia berniat langsung menyerang salah satu penjaga yang berada tepat di bawahnya, tetapi itu terlalu berresiko jika teman-teman penjaga yang lain malah memergokinya saat belum berhasil melumpuhkan sasarannya. Hingga ia memutuskan untuk merambat perlahan di dinding bagian luar agar mencapai bagian yang lolos dari penjagaan. Setelah memastikan posisinya aman, Kitsune segera melompat turun dan menyerang penjaga yang berada di posisi terdekat. Dipatahkannya leher si penjaga hingga tidak lagi berkutik. Belum sampai matanya menemukan sasaran kedua, telinganya mendengar teriakan kesakitan di seberang. Barulah pandangannya beralih pada penjaga kedua yang tengah berlari ke arah sumber suara.
Secepat kilat kaki Kitsune berlari dan mengejar penjaga kedua tersebut. Bukan tidak mungkin teriakan yang baru saja ia dengar adalah teriakan korban Neko.
'Dasar amatir!' umpatnya dalam hati.
Beruntung dirinya sampai tepat waktu karena yang ada di hadapannya saat ini justru rekan kerjanya tersebut tengah kuwalahan menghadapi serangan dari dua arah. Satu serangan langsung dan yang lain tembakan dari laras panjang. Secepat kilat Kitsune menghambur ke arah si penembak, menebaskan katananya saat lengah hingga si penembak terjatuh berlumuran darah. Matanya melirik ke arah Neko yang telah berhasil menjatuhkan penjaga ketiga meski kondisinya kini tidak memungkinkan gadis itu untuk kembali bergerak.
"Ck.. Merepotkan.."
Dihampirinya sang gadis yang tengah menekan luka tembak di lengan kirinya dengan tangan kanan.
"Kau tidak apa-apa?" tanyanya datar.
Neko hanya meringis di balik topeng kucingnya.
"Ck! Inu akan membunuhku kalau tahu ini terjadi." Tangannya bergerak ke belakang punggung sang gadis, hendak menggendongnya keluar. Namun ia justru mendapat tepisan kasar.
"Baka! Jangan pikirkan aku! Cepat selesaikan misi ini!"
Kitsune mengernyitkan dahinya, dan memandang rekannya dengan tatapan memastikan.
"Ck... Aku tidak selemah yang kau kira. Kau mau misi ini gagal?"
Kitsune mengangguk sebelum berlari meninggalkan Neko. Pandangannya beredar, mencari satu lagi sosok penjaga yang seharusnya masih ada di sekitar mereka. Karena seingatnya, baru tiga orang yang telah dilumpuhkan. Belum sampai beberapa langkah ia berlari, matanya mendapati beberapa orang berbadan besar tengah menuju ke arahnya. Secepat mungkin ia menyembunyikan tubuhnya di balik mobil mewah sedang diparkir. Setelah rombongan tersebut melewatinya, Kitsune mengendap-endap pelan menuju pintu gudang dengan hati merapalkan doa agar rekan wanitanya bisa melarikan diri.
Baru beberapa langkah pemuda rubah itu merasa di atas angin ketika tiba-tiba ia merasakan todongan moncong senjata di punggungnya. Mendecih kesal, Kitsune dengan sangat terpaksa menjatuhkan katananya dan mengangkat kedua tangan.
"Kita berjumpa lagi, Rubah!"
Oh oh.. Suara yang pernah ia dengar. Suara saudara se-Uzumakinya. Kemudian ia melangkahkan kakinya pelan mengikuti dorongan si pria berrambut merah di belakangnya.
Mereka berdua memasuki gudang dan bertemu pandang dengan sekumpulan pria kekar yang lain. Iris birunya melirik ke kanan dan kiri berusaha mengenali siapa saja yang ada di sana. Namun, ia sama sekali tidak mengenal mereka. Terlebih wajah mereka jelas-jelas bukan wajah orang Asia. Kitsune menghentikan langkahnya membuat Nagato menabrak punggungnya.
"Ayo jalan! Bukan di sini tempatmu!"
Kitsune terdiam, pendengarannya menajam saat didengarnya beberapa suara berat yang tengah berdiskusi dengan menggunakan bahasa asing. Dalam hati ia mengumpat karena tidak bisa memahami apa yang mereka bicarakan.
'Ck.. Seandainya saja aku sekolah dengan benar dan belajar bahasa Inggris.'
Akhirnya yang ia lakukan adalah ia berusaha mengenali suara itu namun tetap saja tidak bisa mendapatkannya. Yang ia tahu bahwa pemilik suara pastilah para pria paruh baya, mungkin sekitar setengah abad. Kitsune memejamkan matanya ketika melangkah, berusaha membandingkan suara tersebut dengan suara orang-orang yang tersimpan dalam ingatannya. Lebih tepatnya ia tengah mencari sebuah kepastian apakah orang tersebut adalah Kepala Kepolisian yang merupakan target operasinya. Namun lagi-lagi pikirannya buntu, ia tidak menemukan sama sekali kecocokan suara mereka.
Dengan pasrah Kitsune mengikuti ke mana Nagato membawanya. Saat mengedarkan pandangannya, ia mendapati beberapa buah ruangan yang terlihat gelap meskipun di siang hari. Tampaknya ruangan tersebut sama sekali tidak memiliki jendela, ah jangankan jendela, ventilasipun sepertinya tidak ada. Kitsune menghela nafas pasrah, terlebih ketika Nagato mendorong tubuhnya masuk ke salah satu ruangan tersebut dan menutup pintu serta menguncinya.
"Selamat menikmati sisa hidupmu, Rubah! Oh ya, jangan khawatir, teman wanitamu itu juga sudah aman..."
Dahinya berkerut-
"...aman bersama kami."
Seketika darahnya bergejolak. Ia mengeluarkan kata-kata umpatan kasar dan meneriakkannya pada si rambut merah. Ugh.. Sialan! Jikapun dirinya bisa melepaskan diri, rekan-rekannya pasti akan membunuhnya, terlebih pemuda anjing itu!
.
.
.
"Ngh.." lenguhan pria itu terdengar pelan di dalam bilik kosong yang gelap. Perlahan mata yang tadinya menutup rapat itu membuka. Berusaha menyesuaikan pandangannya dengan keadaan sekitar.
Srek..
Telinga sang rubah kembali menegak, mengumpulkan gelombang suara dengan frekuensi hanya beberapa hertz. Tubuhnya ia posisikan dengan penuh kewaspadaan meskipun tanpa katana.
"Kitsune no Baka!"
Bisikan suara yang nyaris luput dari pendengarannya itu justru membuatnya membelalakkan mata.
"Tanuki?" balasnya lirih.
Dengan cepat Kitsune menyambut rekannya di depan pintu dan menangkap katananya yang telah dilempar kuat oleh pemuda panda itu. Keduanya kini mengendap-endap meninggalkan ruangan. Kitsune sempat memandang takjub pekerjaan rapi rekan kerjanya tersebut. Beberapa penjaga dtelah dilumpuhkan tetapi tidak ada tetesan darah sedikitpun di sekitarnya. Tubuh mereka diposisikan seperti orang yang sedang duduk. Dalam hati kini ia paham mengapa Tanuki selalu menjadi anggota terpilih untuk kasus-kasus yang pelik semacam ini.
Langkah kakinya mengikuti langkah kaki Tanuki menuju ke sebuah lorong yang sebelumnya tidak ia lewati. Seolah tahu bahwa Kitsune akan mengucapkan sebuah pertanyaan, Tanuki mengangkat sebelah tangannya. Memintanya untuk diam. Kemudian keduanya mendekat ke arah pintu sebuah ruangan yang lain. Kitsune memasang telinganya menempel ke dinding sementara Tanuki tengah mengamati lubang kunci pada pintu tersebut.
Suara tawa terbahak memenuhi pendengaran Kitsune membuatnya mengumpat sebelum sebuah teriakan kesakitan memasuki selaput telinganya. Iris mata biru itu membelalak.
'Neko' gumamnya.
Tangannya mengepal erat di kedua sisi tubuhnya dan giginya bergemeletuk menahan amarah yang membuncah. Sebelum ia sempat bergerak, Tanuki menepuk bahunya pelan, menatap matanya dan memberikan anggukan.
Keduanya menerobos masuk ke dalam bilik dengan cepat. Sungguh menyakitkan pemandangan di hadapan mata mereka kini. Beberapa pria dalam keadaan mabuk tengah mempermainkan rekan mereka. Tanuki mengedarkan pandangan datarnya ke segala arah, berusaha menemukan sesuatu yang dicarinya sementara Kitsune sudah tidak berpikir lagi. Tanpa Tanuki sempat mencegah, ayunan sebuah katana tengah mendominasi gerakan di dalam bilik tersebut. Darah bermuncratan dan tubuh-tubuh kekar tergeletak tak berdaya.
Tanuki menggeram pelan menyaksikan ulah brutal kawan rubahnya yang kini harus menghadapi serangan dari empat pria bertubuh besar. Berbeda dengan Kitsune yang mengedepankan insting, Tanuki cenderung memilih logika sebagai dasar untuk berpijak. Merasa bahwa posisi Kitsune sudah terpojok, Tanuki mengeluarkan katananya dan membantu melumpuhkan lawan.
Waktu terus berjalan, kini ketiga remaja bertopeng tersebut tengah terduduk dengan nafas tersengal-sengal. Tidak seperti biasanya ketika mereka harus bergerak dan melumpuhkan lawan secara diam-diam, kini mereka justru harus berhadapan langsung dengan lawan yang jumlah dan ukurannya jauh lebih besar.
"Kita harus cepat. Sebentar lagi target utama kita akan meninggalkan tempat ini. Jika sudah berada di luar, akan lebih sulit bagi kita untuk menangkapnya." Ujar Tanuki sambil berusaha mengatur kembali nafasnya.
Setelah mendapat anggukan dari kedua temannya, Tanuki memimpin kembali perjalanan mereka kembali ke ruang utama. Kondisi ketiganya tidak bisa dibilang baik-baik saja terlebih Neko, setelah mendapat luka tembak di lengannya, ia harus mendapat siksaan bertubi-tubi yang membuat bagian bawah tubuhnya kesakitan. Kitsune sempat takjub dengan kekuatan sang gadis yang masih bisa bangun meski jalannya sedikit tertatih. Mungkin benar kata orang bahwa kucing memiliki sembilan nyawa.
Kini ketiganya telah sampai di dinding pembatas ruang utama. Rupanya mereka menurunkan penjagaan di sekitar ruang utama ini. Setelah mendapat sinyal dari Tanuki, mereka menerobos masuk dengan perlahan.
Hanya ada tiga orang di dalam sana. Nagato, seorang pria tua berrambut gelap yang tidak mereka kenal dan...
Kepala Kepolisian
Kitsune membelalakkan matanya lebar-lebar, meski sudah tahu bahwa pria tua itu adalah targetnya, namun ia masih merasa kaget dengan kenyataan yang ada di hadapannya. Karena terlalu lama terkejut, Kitsune tidak menyadari bahwa kedua temannya kini telah melakukan serangan kepada ketiga orang tersebut. Seketika Kitsune tersadar dan berlari menuju ke target utama. Namun naas karena ternyata tidak hanya mereka bertiga yang ada dalam ruangan tersebut. Beberapa penjaga yang beberapa saat lalu tidak terdeteksi, kini muncul dari arah depan, membuat para anggota Anbu kewalahan.
Kitsune mampu meloloskan diri dan melompat menggunakan pilar sebagai tumpuan. Posisinya kini berada di belakang target utama sehingga ia dengan cepat menghunuskan katananya ke leher target. Ia menyeret mundur tubuh pria tua itu hingga punggungnya sendiri berbenturan dengan tembok. Entah apa yang terjadi hingga kini matanya menatap nanar kedua rekannya yang tengah disandera.
"Lepaskan Sumisu-sama atau kedua temanmu akan mati!" teriak Nagato. Kitsune hanya terdiam, matanya menatap nyalang pada Tanuki dan Neko.
Tanuki hanya menggelengkan kepalanya pelan seolah berkata:
'Selesaikan misi ini dan jangan pedulikan kami! Kami bisa melepaskan diri!'
Kitsune yang hendak mengangguk menyetujui perintah Tanuki, justru dibuat terdiam oleh Otsutsuki.
"Ck! Tak kusangka anak buah Sarutobi benar-benar merepotkan."
Ketiga remaja tanggung itu membelalakkan mata di balik topeng mereka. Jadi Otsutsuki Hamura tahu tentang keberadaan Anbu? Bagaimana bisa? Bukankah Asuma pernah mengatakan bahwa hanya dirinya dan seorang anggota kepolisian lain yang mengetahui operasi rahasia Anbu?
"Jangan remehkan aku!" ucap Hamura seolah mengerti apa yang ada dalam pikiran mereka.
"Kau pikir aku begitu bodoh hingga tidak mengetahui apa yang dilakukan bawahanku?"
Mereka semua terdiam. Kitsune mengeratkan pegangan pada katananya. Ia tidak peduli lagi, tujuannya saat ini adalah membawa pria tua ini kepada sang kapten. Namun, kembali ia dihadapkan dengan sesuatu yang sama sekali tidak ia duga.
"Aku tidak akan menukar tubuhku dengan nyawa dua kucing jalanan itu! Tapi kau mungkin tertarik jika aku menukar tubuh tua ini dengan nyawa seorang Hyuuga Hinata!"
.
.
.
TBC
.
.
.
Whoaaa... bagaimana chapter ini? Mengecewakan? Semoga tidak yaa. Terimakasih untuk yang setia menunggu kelanjutan L&K ini, terimakasih juga untuk yang sudah review, follow dan fav. Maaf belum sempat dibalas satu persatu.
RnR yaa.. Arigato.
