Pria kuning itu memandang deretan huruf disebuah kertas kecil dengan tatapan yang sulit diartikan. Pikirannya fokus melayang pada sosok yang sampai saat ini masih menguasai hatinya.
"Neji Hyuuga memilih tinggal disebuah apartement dibandingkan tinggal dikediaman keluarganya, dari yang kudapat dia ingin hidup mandiri" Seru sosok pria berambut nanas dan terkesan malas, namun jangan salah semua info yang dia dapat adalah info actual yang tajam terpercaya dan yang pastinya real.
Kalau dikatakan merindukan, Naruto akui ia sangat merindukan seseorang yang dulu pernah menjadi bodyguardnya itu. Ia ingin sekali menemuinya, namun ia sadar bahwa itu malah akan membuatnya semakin dalam jatuh kelubang yang gelap.
"Terima kasih atas bantuannya. Kau boleh keluar" Perintahnya kepada bawahannya itu. Pria berambut nanas yang diketahui bernama Shikamaru itu mengangguk lalu keluar dari ruangan itu meninggalkan atasannya yang kembali berkutat dengan pikirannya.
'Aku merindukanmu' batinnya menahan pilu.
..
..
Naruto By Masashi Kishimoto
Genre: Romance-Drama
Rated: T+
Pairing: NaruHina
Warning: AU, Typo, OOC, This part full with Author POV
Beautiful Boy By Justkatherine
..
..
..
..
Hinata POV
Ini baru hari kedua kulalui di Konoha, setelah selama beberapa tahun aku meninggalkan tempat ini. Sekarang aku sudah kembali. Aku sangat merindukan banyak hal pada tempat ini terutama teman-temanku disini. Walaupun yang kumaksud teman hanyalah Sakura, Ino, Kiba dan lainnya namun itu menyenangkan jika kamu memiliki alasan untuk kembali. Kemarin aku sudah bertemu dengan Ino, namun rasanya kurang jika aku belum bertemu dengan yang lainnya. Aku ingin sekali bertemu mereka, aku merindukan mereka. Sakura, Kiba, Shino, Sasuke dan emmm yah Naruto.
Dia juga temanku jadi wajar aku merindukannya seperti aku merindukan yang lainnya. Namun untuk bertemu dengannya kurasa aku masih membutuhkan banyak pertimbangan. Aku bingung, bahkan aku ingin menunjukkan diriku yang sebenarnya kepada yang lainnya. Tapi entah kenapa kepada Naruto aku masih ragu, apalagi setelah mengetahui ternyata Naruto mempunyai perasaan pada diriku saat masih menyamar sebagai laki-laki. Sebenarnya itu sedikit mengerikan untukku.
Aku berjalan memasuki sebuah restorant seperti yang Ino berikan lewat sms. Aku mengedarkan pandanganku kesekeliling karena didalam sangat ramai. Sampai aku menemukan Ino melambaikan tangannya padaku, aku segera menuju kearahnya. Belum sepenuhnya sampai disana aku merasakan terjangan tubuh seseorang kearahku. Ternyata Sakura
"Hinata, ini sungguh kau?" Aku tersenyum mendengarnya. "Ya, ini aku" Sakura makin mengencangkan pelukannya membuatku sedikit kesulitan menarik nafas. "Sakura, kau berniat membunuhku?" Mendengar rengekanku Sakura melepaskan pelukannya lantas tersenyum kearahku menampakkan deretan giginya.
Ino melangkah kearah kami dan merangkul kami berdua "Akhirnya kita bisa berkumpul lagi tanpa harus canggung memelukmu Hinata didepan banyak orang" Aku hanya bisa tersenyum mendengarnya.
"Sudah reuninya? Kalian melupakan kami, huh?" Seruan seseorang menyentak kami bertiga. Disana kulihat Kiba, Sasuke dan Shino sedang duduk dikursi sambil menatap bosan kearah kami. Aku meneguk ludahku menatap mereka.
"Hai Kiba, Shino, Sasuke" Sapaku pada ketiganya. Mereka menatapku dengan tatapan meneliti, dari atas hingga kebawah lalu keatas lagi membuatku merasa risih. Sedikit kekecewaan hadir difikiranku apa mungkin mereka marah karena aku telah membohongi mereka? Bahkan Ino dan Sakura pun juga sudah memasang tampang cemas menatap ketiganya. Ya ampun memikirkannya saja aku sudah tidak sanggup.
"Ternyata, kau cantik" Celetukkan dari Kiba membuat pikiran negative yang sempat menari-nari dikepalaku musnah seketika. Sebagai gantinya wajahku sekarang sudah menampilkan ekspresi sweatdrop. "Saat menjadi pria saja kau sudah terlihat menarik, dan sekarang saat menjadi wanita kau sangat cantik" Kali ini Shino yang berbicara membuatku menggaruk tengkukku yang sebenarnya tidak gatal sedikit dengan gumaman terima kasihku. "Hn, pantas saja Naruto bisa jatuh hati padamu" Perkataan Sasuke sontak membuat pipiku menghangat.
"Kau benar Sasuke-kun, aku yakin setelah Naruto bertemu dengan Hinata yang sekarang dia akan semakin jatuh cinta padanya" Sekarang Sakura ikut-ikutan mengoceh, uhh kenapa jadi membicarakan tentang perasaan Naruto sih?
"Hmm. Aku harap Hinata juga memiliki perasaan yang sama pada Naruto, karena mereka akan cute sekali jika menjadi pasangan" Kali ini giliran Ino ikut nimbrung, ya ampun mereka berbicara seolah-olah aku tidak ada disana saja, menyebalkan.
"Bisakah kalian tidak berbicara seolah-olah aku tidak ada didepan kalian?" Sahutku dengan wajah yang sudah memerah. Perpaduan antara malu dan kesal.
"Baiklah baik maafkan kami" Seru Kiba menatapku sambil tersenyum "Senang melihatmu kembali.. Hinata" Lanjutnya. Aku tersenyum menatap semuanya "Aku lebih dari senang bisa bertemu kalian kembali".
"Ahh. Kebetulan aku sedang bersama kalian. Aku ingin mengundang kalian semua dalam acara pertunangan kakakku"
Hinata POV End
..
..
..
..
..
Author POV
Sebuah Ferrari hitam metalik yang terlihat mencolok diantara kendaraan yang lainnya terlihat terparkir dipinggiran jalan. Didalamnya seorang pria dewasa berambut pirang, iris sapphirenya memandang tajam sebuah gedung diseberang jalan yang ternyata adalah gedung apartement. Pria itu terlihat sekali tengah berpikir keras, entah apa yang dipikirkannya terlihat dari kerutan didahinya.
Akhirnya setelah beberapa menit Ferrari itu bergerak memasuki pelataran halaman apartement mewah yang berada dikawasan Konoha Hills itu. Pria itu memarkirkan Ferrarinya sebelum masuk kedalamnya.
Ia merogoh sakunya mengeluarkan secarik kertas yang sudah sedikit lecek dan membaca tulisan yang tertulis dikertas itu 'Konoha Hills, lantai 9 No. 30, Atas nama Neji Hyuuga'.
Ia memantapkan hatinya sebelum melangkah menuju lift. Sambil menunggu lift terbuka ia merogoh sakunya untuk mengambil handphonenya yang berbunyi menandakan ada pesan masuk.
.
Dilain tempat, seorang perempuan berambut indigo panjang baru keluar dari dalam sebuah apartement. "Nii-san, aku keluar sebentar membeli makanan di restorant diseberang sana" Teriaknya sebelum menutup pintu. Ia berjalan memasuki lift. Di dalam lift yang hanya ada dirinya itu ia sedikit bersenandung pelan sembari merapikan helaian rambut indigonya.
'Ting'
Lift berdenting menandakan sudah sampai dilantai satu. Dengan perlahan pintu lift itu terbuka, Hinata sudah bersiap akan keluar ketika manik lavendernya menatap sosok seseorang yang sangat ia kenali. Tiba-tiba jantungnya berdetak cepat, keringat dingin tiba-tiba membanjiri pelipisnya, kakinya bergetar tak kuasa melanjutkan langkah. Dilihatnya seseorang yang tidak jauh dari pintu lift itu tengah menunduk menatap ponselnya, bisa dipastikan ia belum melihat Hinata.
Menyadari lift yang sudah terbuka pria itu segera menutup ponselnya dan menaruhnya kembali kedalam sakunya. Hinata kelabakan melihat pria itu akan segera mengangkat wajahnya, ia kemudian menutupi wajahnya dengan tasnya selain itu dengan gerakan yang kelewat cepat Hinata menekan tombol untuk menutup kembali lift.
Naruto menatap heran pada perempuan didalam lift itu, ia menutup wajahnya dengan tas. Namun sadar pintu lift perlahan mulai tertutup Naruto segera melangkah mendekati lift. Semakin dekat jaraknya dengan lift itu Naruto dapat melihat helaian perempuan itu yang ternyata berwarna indigo yang seketika mampu mengingatkannya pada seseorang. Namun semuanya buyar ketika pintu lift sudah tertutup ketika ia sampai didepannya.
Naruto makin mengerutkan dahinya heran, kenapa perempuan tadi menutup kembali liftnya? Batinnya bertanya-tanya, namun deringan di ponselnya lagi-lagi menginterupsinya. Ia mengangkat ponselnya terdengar suara seseorang dari seberang sana.
"Kubilang aku akan segera kesana" Desis Naruto kesal pada seseorang ditelepon. Setelah mengalami percakapan yang tidak terlalu panjang, Naruto mematikan sambungannya dengan perasaan dongkol. Dia tak habis pikir dengan tingkah teman-temannya itu. Lalu dengan berat hati Naruto berbalik melangkah meninggalkan tempat itu. Sepertinya niatnya untuk menemui seseorang harus tertunda untuk beberapa saat.
Author POV End
..
..
..
..
Hinata POV
Lift ini kembali sampai kelantai Sembilan, aku keluar dari lift masih dengan jantung yang berdegup cepat dan kaki yang lemas. Aku menyenderkan punggungku pada dinding tidak jauh dari lift lalu dengan perlahan memerosotkan tubuhku hingga aku terduduk. Ya Tuhan tadi itu hampir saja dia melihatku. Entahlah apa jadinya jika tadi aku tidak sempat menghindar.
Tapi kenapa dia ada disini dan mau apa? Aku menggigit kuku jemariku dalam perasaan bingung. Apakah Naruto berniat bertemu dengan diriku yang dulu dikiranya Neji Hyuuga? Kalau iya itu berarti cepat atau lambat Naruto akan kemari lagi, dan bertemu dengan Neji Hyuuga asli yang tidak lain adalah kakakku. Dan semuanya akan semakin lebih kacau.
Ya ampun memikirkannya saja sudah mampu membuatku frustasi apalagi jika nanti sudah terjadi? Aku harus menceritakan semuanya pada Neji sebelum terlambat.
'cklekkk'
Tubuhku menegang akibat kekagetanku pada suara pintu yang tiba-tiba menginterupsiku. Sial! "Apa yang kau lakukan disana" Diambang pintu Neji nii-san menatapku aneh. Aku menatapnya intens membuat Neji makin menatapku aneh.
Benar, aku harus menceritakannya pada Neji nii-san, mau bagaimana lagi karena nama Neji nii-san mau tak mau juga ikut terseret dalam hal ini. Aku segera bangun dari posisi ku dan menghampiri Neji nii-san.
"Nii-san.. Aku… A-Aku…." Aku masih bingung apakah aku harus menceritakannya pada Neji nii-san?
"Aku apa Hinata?" Desak Neji nii-san tidak sabar, mau tidak mau aku harus menceritakan hal itu pada Nii-san. Demi dunia dan seluruh isinya, namun itu sama saja aku menceritakan aib Naruto, pasti nii-san akan langsung berfikir bahwa Naruto adalah laki-laki gay, aku tidak tega. Ya walaupun semua itu hanya kesalahpahaman.
"ta"
"nata"
"Hinata.. Apa kau mendengarku?"
Aku tersentak bingung menatap Neji nii-san "Ahhh iya. Aku mendengarkan kok" Sahutku buru-buru. "Lalu apa yang ingin kau katakan tadi? Lalu bagaimana dengan makanannya, bukankah kau bilang akan membeli makanan? Kenapa kau kembali lagi? Dan lalu tadi kenapa kau seperti orang yang frustasi di samping lift?"
Aku menatap tidak percaya padanya, sumpah itu adalah kalimat terpanjang yang pernah ia katakan. Ingin rasanya meledeknya namun ini bukan good timing.
"Tadi itu aku… engg aku cuma mau bilang kalau tadi dompet ketinggalan. Dan karena itu tadi aku sempat frustasi karena harus bolak-balik" Aku nyengir lebar kearah Neji nii-san menampakkan deretan gigiku. Sepertinya ia sweatdrop melihatku, yah terserahlah. Kali ini saja aku terlihat tampak bodoh, maksudku bodoh dalam arti yang sebenarnya.
"Kau bodoh" Kata nii-san dengan wajah datarnya yang demi apapun ingin sekali ku cakar wajahnya itu saat ini juga. "Yasudah, hari ini aku akan makan malam diluar bersama Tenten" nii-san mulai melangkah keluar, namun baru beberapa langkah ia kembali terhenti "Dan jangan menggangguku".
Aku terperangah mendengarnya, segera saja aku memasang wajah sebalku. Mulutku tak henti-hentinya menyumpah serapahi kakakku yang bodoh itu. Jadi malam ini aku makan sendiri?
Terkadang nii-san dan Tenten-nee bisa membuatku iri. Ya ampun beginikah rasanya nyesek yang sering dirasakan para jomblo ngenes?
Hinata POV End
..
..
..
..
Author POV
"Sampai kapan aku harus membiarkan cacing-cacing diperutku konser?" Seru seorang pria bertato segitiga dipipinya itu, dengan kepala yang ditelungkupkan di meja. "Tunggu sampai Naruto datang Kiba, bersabarlah" Seru Sakura. Kiba mengangkat kepalanya, terlihat raut wajahnya seperti seseorang yang sudah tidak makan berhari-hari "Tapi sampai kapan? Aku sudah lapar. Setidaknya pesankan dulu makanannya".
"Tingkahmu itu sudah seperti tidak makan beberapa hari saja Kiba" Sahut pria berkaca-mata yang ternyata adalah Shino. Sedangkan Sasuke "Hn" Hanya itu saja tanggapannya.
"Ah lihat, Naruto sudah datang" Seru Ino menunjuk kearah pria berambut pirang yang sedang berjalan kearah mereka. Mata Kiba berkaca-kaca "Oh Naruto akhirnya kau datang juga" Naruto hanya memandang Kiba datar lalu duduk ditempat kosong disamping Kiba.
Sakura menatap Naruto heran "Kau kenapa Naruto? Apa kau tidak suka makan malam bersama kami?" Naruto menatap gadis bersurai pink itu masih dengan wajah datarnya "Apakah aku bilang aku tidak suka" Suara baritone Naruto terdengar datar namun errr sexy.
Sakura menundukkan wajahnya sedih "Wajahmu terlihat tidak suka. Kupikir kau akan senang jika makan malam bersama kami sahabatmu". Sasuke yang melihat itu segera mengelus pundak kekasih pinknya itu namun tak mencoba member i tanggapan. Sasuke mengerti perasaan Naruto, pria raven itu tau pasti kemana pria pirang sahabatnya ini sebelum kemari.
"Aku senang berkumpul dengan sahabat-sahabatku. Namun kalian memanggilku diwaktu yang tidak tepat. Jujur saja membuatku sedikit kesal" Seru Naruto dengan sedikit intonasi membuat yang lainnya menatap Naruto tidak percaya dan Sakura yang langsung mengangkat kepalanya.
"Be-begitukah? A-ah kalau begitu maafkan aku yang tadi memaksamu Naruto" Jawab Sakura canggung, sebab tadi ia yang menelpon Naruto dan memaksa pria pirang itu untuk datang. "Tapi memang sebelumnya kau sedang apa?" Lanjutnya ingin tahu begitu juga yang lain. "Kalian tidak perlu tau. Ini sama sekali tidak penting bagi kalian" Tapi sangat penting untukku. Naruto melanjutkan dihatinya.
"Yosh. Sekarang waktunya kita makan. Ayo kita pesan" Seru Kiba lantang mengibas-ngibas tangannya untuk memanggil pelayan membuat yang lain sweatdrop. Tapi tidak untuk Naruto, ia melihat sesuatu yang dipegang Kiba sedari tadi, seperti sebuah undangan. Naruto makin mengernyit begitu samar-samar ia melihat ada kata 'Hyuuga' diundangan itu. Akibat Kiba yang mengibas-ngibas benda itu membuat Naruto jadi susah untuk membaca.
Lalu dengan gerakan cepat Naruto merebut benda itu dari tangan Kiba dan mulai melihatnya. "E-Eh Naruto?" Kiba yang kaget menghentikan kegiatannya yang sedari tadi berusaha memanggil pelayan namun tak satupun pelayan yang melihatnya, mungkin factor rame.
'Neji Hyuuga & Tenten'
Entah kenapa Naruto seperti merasakan sesuatu dihatinya terasa sakit seperti tertusuk sebilah pedang yang tajam saat membacanya. "I-Ini….." Sinar disafirnya perlahan mulai redup kembali setelah butuh waktu yang lama untuk mengembalikannya.
"Naruto" Ino memandang sepupunya itu khawatir. "hhh jadi berapa lama lagi kita harus menunda makan?" desah Kiba dengan raut wajah super duper kelaparan "Ne, Naruto. Kau tidak usah sedih begitu karena Neji yang selama ini kau ketahui itu sebenarnya ada..hmppp" Sasuke dengan sadis membekap mulut Kiba membuat pria pecinta anjing itu mencak-mencak minta dilepaskan.
Sedangkan Naruto masih diam menatap sendu undangan ditangannya. "Naruto, kau tau kau tidak perlu merasa sedih, seharusnya kau ikut bahagia jika Neji bahagia. Kau juga harus melanjutkan hidupmu kembali dengan normal" Seru Sakura menatap Naruto.
Naruto tersenyum miris sembari tangannya dengan perlahan meremas undangan ditangannya. "Ini tidak semudah yang kau bayangkan Sakura. Kau dan yang lainnya pasti sudah beranggapan bahwa aku pria gay bahkan diriku pun juga tidak mencoba membantahnya karena memang itulah yang kurasakan" Naruto menunduk "Awalnya aku juga sangat berat menerimanya, aku mencoba menyangkal untuk mencoba menolaknya tapi tidak bisa. Pada akhirnya aku menerima dengan lapang dada bahwa aku gay, aku tidak masalah karena yang kucintai adalah dia".
Naruto mengangkat kepalanya menatap Sakura terlihat iris sapphirenya yang sudah berkaca-kaca "Aku sudah mencoba untuk jatuh cinta lagi pada perempuan namun tak bisa. Bahkan dengan gila aku pernah mencobanya dengan pria namun tetap tidak bisa. Jika aku gay kenapa aku tidak bisa melihat pria lain, kenapa hanya Neji saja yang bisa aku lihat walau sudah bertahun-tahun lamanya aku tak melihatnya? Kenapa begini Sakura, ini sangat menyiksaku" Seru Naruto dengan suara yang tercekat, sebulir air mata mungkin akan jatuh dari sapphirenya namun Naruto buru-buru mengusapnya dan berbalik pergi meninggalkan teman-temannya yang hanya bisa memandang punggung Naruto dengan sendu.
"Seharusnya kau tidak membekap mulutku Sasuke. Kau tidak lihat bagaimana tersiksanya Naruto tadi? Andai saja tadi aku berhasil bilang dia tidak akan seperti ini" Omel Kiba menatap Sasuke tajam. "Hanya Hinata yang berhak memberitahunya" Jawab Sasuke santai yang lainnya mengangguk setuju. Kiba hanya memutar kedua bola matanya "Terserahlah. Aku lapar cepat pesan makanan".
..
..
..
Suara musik berdentum kencang disebuah apartement dikawasan Konoha Hills lantai Sembilan hingga terdengar sampai keluar. Terlihat seorang gadis berambut indigo panjang sedang menari-nari sambil menenggak wine dari botolnya langsung. Gadis itu sibuk menari sambil sesekali meminum wine nya, surai indigo nya beberapa kali terkibas kesana-kemari.
'dok dok dokkk'
Ketukan pintu atau lebih tepatnya gedoran karena suaranya yang sangat kencang menginterupsi gadis itu membuat ia sontak menghentikan kegiatannya. Alisnya berkedut bingung siapa gerangan yang mengetuk pintu apartement kakaknya dengan kencang. Tanpa pikir panjang Hinata berjalan menuju pintu dan membukanya tanpa mematikan musiknya.
Dengan perlahan Hinata membuka pintunya, untuk sesaat nafas Hinata tercekat. Ternyata orang itu adalah Neji Hyuuga kakaknya. Neji menatap Hinata tajam "Kau meminum wine lagi?" Hinata meringis menerima tatapan tajam dari kakaknya "Hanya sedikit kok lagipula sudah tiga minggu aku tidak meminumnya".
Neji masih menatap adiknya itu tajam "Ayolah nii-san jangan begitu. Sebentar lagi kau bertunangan dengan Tenten-nee, kau harus belajar tersenyum"
..
..
..
..
…..
Rumah kediaman Hyuuga hari ini tampak ramai tepatnya di balerium, karena hari ini adalah hari pertunangan Neji dan dilaksanakan di rumah kediaman Hyuuga. Hinata melangkah memasuki sebuah ruangan yang merupakan tempat mendandani calon kakak iparnya. Hinata tersenyum menatap Tenten yang melihatnya.
"Kenapa harus pakai acara pertunangan sih? Kenapa tidak langsung menikah saja?" Goda Hinata membuat Tenten tersipu malu "Neji itu kan masih harus mengurus perusahaan, karena dia yang harus meneruskan perusahaan Tou-san nya. Dan Neji berfikir sebelum dia bisa melakukannya ia ingin kami bertunangan dulu" Hinata hanya manggut-manggut mendengar penjelasan calon kakak iparnya itu.
"Tapi kalau kau nanti langsung menikah saja Hinata" Hinata tersentak kaget atas penuturan Tenten "E-Ehh kenapa jadi aku sih?" Tenten hanya terkekeh geli melihat wajah Hinata yang mulai memerah.
Tiba-tiba ponsel Hinata berbunyi dilayarnya menampakkan nama Sakura. Hinata langsung menekan tombol untuk menjawab panggilan dan meletakkannya ditelinga, namun belum sempat Hinata menyapa gadis itu sudah dikejutkan oleh suara histeris Sakura.
"Hinata. Hinata. Hinataaaaaaaaa…." Ya ampun telinga Hinata hampir tuli mendengarnya. "Berhenti berteriak Sakura ada apa?"
"Naruto, Hinataaaaaaaa" Seru Sakura disebrang sana
"Iya Naruto kenapa?"
"Naruto saat ini sedang menuju kerumahmu, ingin bertemu Neji tapi sebelum pergi tadi ia bilang kalau dia ingin menggagalkan pertunangan kakakmu itu" Perkataan Sakura sukses membuat Hinata terperangah.
"Kau harus melakukan sesuatu Hinata, kali ini dia benar-benar bertindak gila" Seru Sakura lagi membuat Hinata kembali kedunianya. "I-Iya. Terima kasih informasinya Sakura" Hinata menutup sambungannya.
"Tadi siapa yang menelpon Hinata? Kenapa kau begitu panic?" Tanya Tenten. Oh sial saking gelisahnya Hinata sampai lupa kalau masih ada Tenten didekatnya.
"Tidak apa-apa Tenten-nee. Sebaiknya kita segera turun karena acara akan dimulai"
..
..
..
..
Pria pirang itu berjalan tergesa memasuki rumah kediaman Hyuuga yang terlihat ramai, kali ini tekadnya sudah bulat, ia datang ingin melihat Neji untuk terakhir kalinya sebelum ia benar-benar akan mengubur perasaannya itu. Hanya ingin sekedar melepas rindu bukan hal lain, mungkin ada benarnya juga tentang kalimat 'Bahagia jika melihat orang yang kita cinta bahagia walaupun bukan kita alasan bahagia itu'. Ya saat ini Naruto sudah mulai menerima pertunangan Neji, karena inilah kebahagiaan Neji dibanding jika seandainya Neji bersamanya bisa dipastikan mereka berdua tidak akan pernah bahagia dalam arti bebas.
Naruto akhirnya sampai di ballroom tempat dimana acara pertunangan itu akan dilangsungkan. Dilihatnya dua pasangan didepan sana yang ia yakini adalah Neji dan tunangannya yang sedang berdiri disana bersama seorang pria paruh baya yang tidak lain adalah Hiashi Hyuuga.
Namun ada yang aneh dimata Naruto, Neji Hyuuga yang disana tidak seperti Neji yang ia kenal dulu. Apa mungkin Neji telah berubah hingga berbeda seperti itu, tapi kenapa Naruto tidak menemukan ciri spesifik yang lainnya seperti misalnya rambut indigonya. Kenapa Neji yang didepan sana memiliki rambut berwarna hitam?
Apakah orang itu benar-benar Neji-nya dulu?
Dengan perlahan Naruto melangkahkan kakinya mendekat kearah pria yang katanya adalah Neji Hyuuga itu. Namun semakin jelas Naruto melihat semakin yakin pula bahwa pria itu adalah bukan Neji Hyuuga yang pernah ia kenal. Ini membuatnya semakin bingung. Apakah orang itu Neji Hyuuga yang lain? Memang ada berapa Neji Hyuuga didunia ini? Naruto semakin bingung.
'greppp'
Seseorang menahan lengannya membuat Naruto menghentikan langkahnya. Saat Naruto menoleh terlihatlah sesosok gadis berambut panjang indigo, yang terlihat lebih seperti bodyguardnya Neji. Disusul teman-temannya dibelakang gadis itu.
..
..
..
Sapphire Naruto tak pernah lepas memandangi Hinata yang sedang berdiri mendampingi Kakaknya yang akan segera saling memasangkan cincin dengan pasangannya. Cara gadis itu tersenyum, berbicara, bahkan lekuk garis wajahnya dan postur tubuhnya benar-benar mirip dengan Neji yang dulu pernah menjadi bodyguardnya namun yang ini dalam wujud perempuan.
Naruto ingin sekali meminta penjelasan namun acara keburu dimulai sehingga setelah gadis itu menahannya dengan begitu saja ia meninggalkannya untuk segera menghampiri kakaknya yang akan bertunangan. Naruto tadinya bingung, sangat bingung. Namun berkat penjelasan singkat dari teman-temannya tadi Naruto sedikit mengerti, namun tentu saja ia masih butuh penjelasan dari orangnya langsung.
Setelah mengetahui yang sebenarnya Naruto merasa lega namun juga marah, ia merasa dirinya dipermainkan oleh mantan bodyguardnya itu yang ternyata menyamar menjadi pria bernama Neji Hyuuga yang ternyata adalah kakaknya.
Author POV End
.
.
.
Hinata POV
Aku ikut senang melihat Neji nii-san dan Tenten nee-san yang tersenyum bahagia, aku ingin tersenyum dengan bebas namun perasaan ini masih terasa. Ya Tuhan sampai sekarang pun jantungku masih berdegup kencang, aku tau dia sedang mengawasiku saat ini. Dan aku tau dia pasti akan marah padaku karena telah menipunya
Ya Tuhan tolong bantu aku, sedikitpun aku tak berani meliriknya. Ya ampun kenapa jadi deg-degan begini sih?
Sekarang memasuki acara berdansa, tanpa buang-buang waktu Neji nii-san dan Tenten nee-san turun bergabung dengan tamu yang lain dilantai dansa. Huh dasar pasangan yang sedang dimabuk asmara.
"Ne, Hinata jangan melihat mereka dengan tatapan menyedihkan seperti itu" Aku tersentak begitu suara seseorang berada disampingku yang ternyata adalah Kiba "Mau berdansa denganku?" Tawar Kiba memberikan tangannya.
Yah mau bagaimana lagi, aku tak punya pasangan jadi kuterima tawaran kiba. Akhirnya kami ikut bergabung dilantai dansa. "Kenapa kau malah mengajakku, kenapa kau tidak ajak saja Ino. Aku tau kau menyukai Ino" Goda ku
"e-ehh kenapa kau bisa tau" Aku terkikik geli melihat wajahnya yang mulai memerah "Aku hanya asal bicara saja dank au meng-iyakannya" ejekku. "Sial kau Hinata" Maki Kiba. "Hey Hinata kau lihat Naruto, matanya sudah berkilat-kilat marah menatap kita, kurasa ia mulai cemburu".
Sekilas aku menatap Naruto yang sedang duduk dikursinya, benar ia sedang memandang kami, dan walaupun sekilas aku bisa melihat tatapan tidak sukanya. Sedetik kemudian aku baru sadar "Kau sengaja mengajakku berdansa untuk membuatnya cemburu?" Tuduhku pada Kiba, dan dia hanya menyengir sebagai jawaban iya.
Aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku, namun aku cukup bersyukur juga Kiba yang mengajakku berdansa bukan Naruto. Karena kalau Naruto, aku belum siap, belum bertemu secara langsung saja aku sudah gugup begini.
Selama beberapa menit aku menikmati dansaku bersama Kiba, ketika MC yang menjadi pemandu acara mengumumkan bahwa setiap orang yang berdansa harus mengganti pasangan dengan cara sang pria akan memutar si gadis dan pria lainnya akan menangkap siapapun gadis yang berputar kearahnya, maka ialah yang akan menjadi pasangannya.
Aku dan Kiba menyatukan salah satu lengan kami, lalu aku memutar kearah Kiba dengan tangan yang masih menyatu hingga aku berada dipelukannya "Kau siap" Tanyanya, Aku mengangguk lantas memutar tubuhku menjauhi Kiba dan melepaskan tautan tangan kami.
Tubuhku terus berputar hingga seseorang menangkap pinggangku. Kalau boleh jujur sebenarnya ini pusing, sungguh. Namun rasa pusing itu hilang begitu saja ketika mengetahui pasangan dansaku selanjutnya adalah…. NARUTO?! Sejak kapan ia ada disini?
..
..
..
To Be Continue
..
..
Saya tau ini makin gak jelas, saya tau kok ;(( Tapi ide saya memang lagi mentok, ini saya berusaha lanjut dengan kapasitas otak pas-pasan. Mohon maaf kalau mengecewakan ;( Terima kasih untuk yang sudah mereview
Mind To Review
